
Idul Fitri dan Paradoks Pemaafan: Ingatan, Kerentanan, dan Kelahiran Kembali Agensi Moral
Oleh: Fakhri Afif Membaca Idul Fitri sebagai Ethical Event Idul Fitri sering hadir sebagai peristiwa yang terasa akrab, padahal di dalamnya tersimpan persoalan etis yang tidak sederhana. Tamu berdatangan, sandal berserakan di teras, ruang tamu penuh, anak-anak berlarian, sementara orang-orang dewasa mengulurkan tangan sambil mengucapkan, “mohon maaf lahir dan batin.”

MENGENANG ALI LARIJANI: SEORANG FILSUF DEKOLONIAL (BAGIAN 1)
Oleh: Bambang Q-Anees Ali Larijani bukanlah Homo Sacer (Silakan klik di sini untuk memahami istilah

Harapan Setelah Idul Fitri: Menolak Menjadi Homo Sacer dan Manusia Kedaluwarsa
Oleh: Bambang Q-Anees Takbir Setelah Kemenangan Setelah bergembira menyambut kemenangan Idul Fitri, kita kembali berhadapan

Logika Ilahiah Qur’an, Puasa, dan Peneguhan Status Manusia Sebagai Makhluk
Oleh: Alif Jabal Kurdi Logika Al-Qur’an tentang Tuhan dan Makan Jika membaca al-Qur’an dengan

JILBAB SEBAGAI SISTEM SIMBOL: MEMBACA CLIFFORD GEERTZ LEWAT DANIEL L. PALS
Oleh: Arip Budiman Membaca pemikiran Cilford Geertz melalui buku Seven Theories of Religion karya Daneil

AKU TERINDEKS, MAKA AKU ADA: KRITIK ATAS DEHUMANISASI PENDIDIKAN TINGGI
Oleh: Saeful Anwar Bayangkan sebuah ruangan tanpa jendela pada pukul tiga pagi, di mana waktu

AMBIVALENSI SUBJEKTIVITAS: HERMENEUTIKA DAN DISKURSUS ISLAM REVOLUSIONER IRAN PRA-1979 (Bagian II)
Oleh: Fakhri Afif Konsep kebebasan menempel erat dengan konsep keadilan yang bagi Motahhari merupakan salah

SANG PERAGU DARI HERAT: JEJAK SUNYI TEOLOGI RASIONAL FAKHR AL-DIN AL-RĀZĪ ~SERI AL-RĀZĪ PART 1
Oleh: Rachmatullah Arken Tulisan ini merupakan rangkaian (series) pembahasan tokoh mutakallim yang tidak banyak

AMBIVALENSI SUBJEKTIVITAS: HERMENEUTIKA DAN DISKURSUS ISLAM REVOLUSIONER IRAN PRA-1979 (Bagian I)
Oleh: Fakhri Afif Subjek Muslim Iran di Ambang Revolusi Apabila kita mendengar “Revolusi Iran 1979”,

FALSAFAH SUNDA DALAM MERAWAT ALAM: SERI PATANJALA 1
Oleh: Arip Budiman Prolog Mungkin di antara para pembaca sekalian, masih kurang terdengar familiar tentang

HEIDEGGER, “LUPA-AKAN-ADA”, DAN GOODHART’S LAW
Oleh: Bambang Q. Anees Satu pemikiran Heidegger yang saya suka adalah “Lupa-akan-Ada”. Konsep ini rumit, tapi bisa disederhanakan. Ambil contoh saja dari pertanyaan “apa itu manusia?”. Terhadap pertanyaan ini ada banyak jawaban, “manusia adalah makhluk berpikir,” “manusia adalah makhluk sosial”, “manusia adalah serigala bagi yang lainnya”, “manusia adalah makhluk pelupa,”

JEJAK DASEIN DALAM LINGKARAN EKSEGESIS ONTOLOGIS “HERMENEUTIKA YANG SAYA PAHAMI”
Oleh: Saeful Anwar Essay saudara Arip Budiman yang berjudul “Hermeneutika yang Saya Pahami” bukan sekadar memoar intelektual seorang mahasiswa filsafat—Ia adalah sebuah testimoni fenomenologis yang murni tentang pergerakan eksistensial Dasein dalam menemukan cara beradanya di dunia (In-der-Welt-sein). Penulis, yang menarasikan dirinya sebagai subjek yang berangkat dari pinggiran—desa terpencil dan ketidaksukaan

HEIDEGGER DI ISLAM-KU: TENTANG TRADISI, DWELLING, DAN MENGAPA TUHAN YANG MENGETUK PINTU ITU PERLU
Oleh: Rachmatullah Arken Rasanya ada yang salah dalam pengajaran yang selama ini berjalan. Itu yang terpikirkan ketika dalam satu sesi pertanyaan, saya mendapati ada mahasiswa semester tiga dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang tidak hafal Rukun Iman. Saya tidak mengerti. Bukankah hal-hal ini seharusnya sudah selesai di tingkat

POSTMODERNISME DALAM LANSKAP AGAMA: RENUNGAN FILSAFAT, TEOLOGI DAN KEHIDUPAN KAUM BERIMAN
Oleh: Radea Juli A. Hambali Prolog Ada masa ketika manusia percaya bahwa kebenaran seumpama “menara tunggal”. Ia menjulang tinggi, berdiri

HERMENEUTIKA YANG SAYA PAHAMI
Oleh: Arip Budiman Pada Mulanya, Bacalah Sebenarnya, perkenalan saya dengan “makhluk” yang bernama hermeneutika ini sudah berlangsung cukup lama, kurang

HIKAYAT 100 PERAK: PADA SUATU KETIKA
Oleh: Rachmatullah Arken Manusia, ibarat pohon ini, semakin ia naik ke ketinggian dan menuju cahaya, semakin mantap akarnya menembus bumi,

MEKARLAH! BERANILAH MEKAR!
Oleh: Bambang Q. Anees Pada senja hari pertengahan Maret tahun 610 M, kegelapan melingkupi Mekah saat kota itu tertidur dalam









