Oleh: Rachmatullah Arken

Rasanya ada yang salah dalam pengajaran yang selama ini berjalan. Itu yang terpikirkan ketika dalam satu sesi pertanyaan, saya mendapati ada mahasiswa semester tiga dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang tidak hafal Rukun Iman. Saya tidak mengerti. Bukankah hal-hal ini seharusnya sudah selesai di tingkat SD? Bukankah mahasiswa yang saya tanya ini adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi dengan label Islam yang tertera pasti? Bahkan jikapun mahasiswa bersangkutan, bukanlah mahasiswa yang mengambil program studi keagamaan, tetap saja ada tuntutan untuk mengemban label Islam tersebut. Seharusnya ia bisa menjawabnya.
Saya sempat berpikir, bisa jadi ini kealpaan sementara karena rasa gugup ketika ditanya. Tapi masa iya untuk pertanyaan semata Rukun Iman? Bahkan ponakan saya yang masih TK pun sudah mampu menjawab pertanyaan itu tanpa kesalahan urutan. Atau barangkali, ada sebagian dari generasi didik di Perguruan Tinggi Islam ini yang memang terputus dari tradisi? Lalu mereka tak lagi memiliki fondasi yang dengannya mereka bisa berdiri kukuh menyatakan Islam sebagai identitas diri? Sementara tradisi justru krusial dalam beragama, karena ia disebut oleh Hanafi atau Asad, merupakan tali yang menyambungkan iman hari ini dengan ajaran awal sang Nabi. Tradisi pula yang membuat kita bisa memandang agama ini, Islam ini, sebagai rumah yang kita huni.
Barangkali itu juga persoalannya. Memeluk agama tertentu tidak lantas bisa membuat seseorang bisa menyatakan dirinya sudah menghuni rumah (baca: agama) itu. Sebab menghuni, atau dalam bahasa Heidegger disebut dengan dwelling, sedari awal memang tidak sesederhana bertinggal dan bertempat di satu hal yang kita sebut rumah. Bagi Heidegger, dwelling adalah cara manusia berada, yang memungkinkan benda-benda dan ruang “menjadi apa adanya” melalui keterlibatan penuh kesadaran dirinya. Dalam esainya, Building Dwelling Thinking, Heidegger menulis:
“To dwell, to be set at peace, means to remain at peace within the free sphere that safeguards each thing in its nature. The fundamental character of dwelling is this sparing and preserving. It pervades dwelling in its whole range. That range reveals itself to us as soon as we reflect that human being consists in dwelling and, indeed, dwelling in the sense of the stay of mortals on the earth.”
Apa yang disebut sebagai dwelling, bukan sekadar menempati ruang fisik, melainkan menjaga/mengampuni (sparing) dan melindungi (preserving) esensi segala hal yang ada di dalamnya—baik itu bumi, langit, sesama manusia, maupun yang ilahi (fourfold). Rumah bukanlah sekadar dinding dan atap, melainkan ruang di mana kita “berada, dibawa, dan menetap dalam damai” (wohnen) sambil membiarkan alam semesta terungkap dalam keasliannya. Dus, jika Islam itu adalah rumah, maka tidak bisa ia kita perlakukan hanya semata dinding, atap, atau jendela. Islam dan segenap ajaran di dalamnya bukanlah identitas yang kita tempelkan ke wajah atau kita sematkan dalam form identitas warga negara. Jika kita tak menjaga, tak melindungi, tak merasa damai di dalamnya, maka itu artinya kita bukanlah penghuni, melainkan hanya penyewa sementara.
Tradisi dan Kesadaran ‘Menghuni’ di Dunia
Jika menghuni bukan semata bertinggal seraya sesekali membersihkan debu jendela, tapi juga berupaya secara gigih menemukan damai dari setiap sudut rumah dan segenap hal yang ada di dalamnya, maka apa yang ada di rumah itu tentu saja perlu kita kenali ada-nya. Bahwa apa yang terlanjur ada di rumah itu harus pula kita yakini datang dari suatu ketika kita pertama kali menempatinya. Ada ingatan yang tersimpan pada setiap jengkal ubin yang membentuk cara kita berlaku dan beperangai di rumah itu. Sebab menghuni dalam kondisi primordialnya, seperti disebutkan Heidegger, sudah selalu menetap bersama benda-benda, beserta dengan ingatan dan segenap hal yang tersimpan pada benda-benda tersebut. Bahkan ketika kita bukanlah peletak fondasi pertama, begitu kita memutuskan berada di dalamnya dan ikut membersihkan debu jendela, kita sejatinya sudah membiarkan diri kita mendiami—dan karenanya, menghuni (letting-dwell). Lalu, dengan menghuni bersama yang lain, kita semacam menyatakan aku ada (ich bin), dan kamu pun ada (du bist).
Namun Islam ini, sedari awal memang sudah terlanjur rumah yang besar. Beragam penghuninya seolah menciptakan sekat ruang yang justru membuat damai itu sulit terasa. Akibatnya, kita memilih untuk sekadar beridentitas di sini, dan berdiam diri di ruang lainnya. Kita lupa bahwa ketika ber-Islam, maka sejatinya kita sudah memutuskan untuk ‘menghuni’ sebagai cara ber-ada di bumi, di dunia fana ini. Ritual yang melambangkan keislaman, kita kerjakan semata kultivasi dan konstruksi, bukan esensi. Dalam sekat yang sempit itu, kita juga terbiasa memandang penghuni lainnya dengan tatapan curiga. Jika sedikit saja kita menemukan celah yang berbeda, kita akan menganggapnya debu dan karat yang harus dihapus secepat sangka. Ampunan dan perlindungan (sparing and preserving) hanyalah riwayat usang yang berlaku pada kelompok kita, golongan kita. Sebab kita harus mengolah (cultivate) dan mendirikan (construct) ruang (baca: tradisi) kita sendiri, maka menghuni (baca: beragama) adalah bagaimana menjadi secepatnya lupa.
Lupa pada sejarah dan tradisi yang membentuk berbagai unsur penunjang penting dari rumah bersama itu pada akhirnya membuat kita tak menganggap ‘menghuni’ sebagai cara ber-Ada yang benar di dunia. Tak ada ikatan dan rasa memiliki, tak ada rasa rindu yang memanggil kita setelah lelah bertikai dengan pelbagai urusan di luar rumah untuk segera kembali. Kita terlepas dari tradisi yang selama ini menjadi fondasi dan berbagai elemen rumah yang kita huni. Kita pada akhirnya tak lagi bisa merasa sebagai ‘penghuni’ di rumah itu, karena tak lagi ada friede yang membebaskan kita dari prasangka, kebencian buta, dan beban imajinasi tentang Tuhan yang penuh amarah atas semua yang salah. Padahal tradisi itu seharusnya yang membuat kita sadar tentang menghuni sebagai cara berada di dunia. Bagaimana menyatakan diri kita ada jika tak ada tradisi sebagai penjelas eksistensi?
Tradisi, dalam kerangka dwelling Heidegger, bukanlah sekumpulan aturan kaku yang diwariskan secara mekanis dari masa lalu, melainkan letting-be dari masa lalu yang terus-menerus membentuk keberadaan kita hari ini. Ia adalah ingatan kolektif yang menjaga dan mengampuni (sparing) segenap perbedaan dan keragaman yang menjadi esensi Islam itu sendiri. Tradisi ini yang membuat setiap generasi baru yang masuk ke dalam rumah itu tidak harus memulai dari nol, tapi dari fondasi yang telah terbukti kokoh. Tanpa tradisi, setiap kita layaknya penyewa yang lupa di mana pintu masuk rumah itu berada. Kita berkeliaran di teras depan rumah tanpa pernah benar-benar mendiami. Namun kita bangga mengucap kita adalah penghuni. Itu juga yang barangkali membuat Heidegger harus mengingatkan bahwa dwelling memerlukan “pengakuan atas yang telah ada sebelumnya.” Itu berarti kita seharusnya mengakui bahwa ada sanad, silsilah, dan sejarah sebagai elemen yang menyatukan kita dengan yang ruh dari agama ini.
Lalu, jika tradisi adalah merupakan praktik yang menuntut upaya pelestarian (preserving), maka beragama berarti menjadikan iman dan ajaran sebagai cara hidup yang hakiki. Ketika saya atau anda diajarkan mengucap basmalah sebelum bekerja, maka ia bukan hanya tentang mengucapkan formula, melainkan ajakan untuk menyadari dan meresapi rahmat Allah dalam hidup yang nyata. Dan karenanya kita menghuni. Ketika saya atau anda belajar tentang sosok Muhammad dan warisannya, maka itu berarti kita sedang melestarikan ruang pertama yang dibangun oleh sang Nabi. Dan sekali lagi, karenanya kita menghuni. Menyadari tradisi sebagai syarat untuk menghuni, akan mencegah kita memperlakukan Islam sebagai “kontrakan” yang kita bisa keluar atau terusir kapan saja. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk “kembali pulang” setiap saatnya, bukan hanya secara fisik ke ritual shalat, puasa, atau haji, tapi secara eksistensial ke dalam rumah yang kita huni.
Sebab Tuhan Terus Mengetuk Pintu . . .
Menghuni, dengan demikian, adalah perkara melepaskan diri dari kelupaan akan arti memiliki rumah. Bahkan ketika kita tengah tertidur di dalamnya. Tentu saja ini bukan perkara mudah. Sebab Heidegger sendiri menekankan bahwa manusia cenderung jatuh ke dalam kelupaan. Tidak setiap saat kita sadar di dunia ini sedang menghuni. Kelupaan akan hakikat menghuni ini pula yang membuat manusia harus terdampar dalam kesengsaraan sejati mendiami (real plight of dwelling). Kita lupa akan masalah eksistensial yang mendasar: ketiadaan tempat tinggal (homelessness). Kondisi ini persis seperti mereka yang beragama, tapi tak mengerti apa yang diimani, apa yang diamini. Ia hanya singgah sementara untuk kembali pada tualang entah kemana; tanpa arah nyata.
Lupa akan rumah yang dihuni bisa jadi adalah persoalan sebenarnya dari mahasiswa yang tak bisa menjawab rukun iman itu apa saja. Tapi ini adalah persoalan eksistensial banyak manusia beragama (termasuk saya). Tidak setiap saat saya merasa bahwa ada Tuhan di hidup saya. Untuk banyak urusan, akal budi terlanjur cukup sebagai jawaban. Tuhan hanya (di)hadir(kan) ketika kaki terlampau letih berjalan. Kita menganggap rumah (Islam) hanya ruang persinggahan, yang akan kita tinggalkan begitu doa selesai dipanjatkan. Itu juga yang barangkali membuat mengapa Tuhan berulang kali mengetuk pintu. Mengingatkan diri bahwa kita adalah penghuni di dalamnya. Namun ketukan itu tak setiap saat kita dengar. Joseph Roux benar: “Tuhan seringkali mengunjungi kita, tetapi kita sedang tak berada di rumah.”
Ketukan Tuhan, dalam bahasa Heidegger, adalah panggilan Gewissen. Suara nurani yang membangunkan kita dari Verfallenheit, kejatuhan ke dalam rutinitas duniawi yang membuat Being terlupakan. Padahal di rumah ini, ketukan itu datang berkali-kali. Melalui azan yang terlantun lantang lima kali sehari, melalui doa yang dipanjatkan seorang ibu untuk anaknya yang lupa padanya, atau melalui semata pertanyaan tentang rukun iman di sesi kelas siang itu. Namun, kita “tidak di rumah” karena sedang sibuk memenuhi ambisi. Kita memiliki rumah namun tetaplah tuna wisma. Kita memiliki kunci, tapi lupa cara membukanya. Persis seperti yang dulu diucapkan Nabi: “Islam dimulai dalam keasingan, dan akan kembali ke keasingan seperti semula.” Sebagai penghuni sejati kita harusnya mendengar ketukan itu sebagai undangan untuk dwelling kembali, bukan sebagai gangguan di sela kesibukan hari.
Pada kondisi ini Heidegger akan bilang: “Mortals dwell in that they save the earth… receive the sky… await the divinities.” Menghuni agama ini berarti menjaga amanah ajaran sebagai cara berada di dunia yang sejati. Ketika kita akhirnya mendengar ketukan itu dan membuka pintu, Tuhan bukan masuk sebagai tamu, melainkan sebagai Pemilik yang selama ini menunggu. Masalahnya, berapa banyak tanda yang telah dihamparkan oleh-Nya, namun lupa kita baca? Berapa sering kita dengarkan ketukan-Nya yang kita acuhkan begitu saja? Kita seolah sibuk dan sulit bergerak. Urusan kita terlampau banyak. Kita keluar rumah berkali-kali, tak lagi sebenarnya menghuni. Dan ketika ketukan itu datang, kita membiarkan Tuhan menunggu sendiri.
* Diilhami dari tulisan Martin Heidegger, Building Dwelling Thinking, dalam Poetry, Language, Thought, (translated by Albert Hofstadter), Harper Colophon Books, New York, 1971.