UIN ADALAH “RUMAH KITA”: REFLEKSI 20 TAHUN FST UIN BANDUNG

Oleh: Bambang Q. Anees

UIN ADALAH “RUMAH KITA”: REFLEKSI 20 TAHUN FST UIN BANDUNG

Adakah kita masih berjalan dengan mimpi yang sama? Seseorang mungkin berkata demikian padamu setelah 20 tahun berjalan bersama. Bisa jadi Anda telah lupa pada mimpi masa lalu, lelah melewati waktu yang panjang, serta luka dan beban yang mengharuskannya berhenti bermimpi. Mungkin saja Anda masih ingat itu samar-samar, lalu teringat lagi setelah seseorang menanyakan mimpi itu kembali. Atau, mungkin saja Anda masih mengingat betul semua mimpi itu dan masih menjalani hidup untuk merealisasikan mimpi yang sama.

Paulo Coelho mengisahkan ihwal mimpi ini secara indah pada The Alchemist, novel perjalanan spiritual seorang muda bernama Santiago yang bermimpi menemukan harta karun. Ia menghidupi mimpi itu, karena kemungkinan mimpi menjadi kenyataan itulah yang membuat hidup jadi menarik, pikirnya. Ia percaya alasan hidup semua orang bermula dari mimpi untuk mengejar “Legenda Pribadi”-nya.

“Setiap orang, ketika mereka masih muda, tahu apa Legenda Pribadi mereka,” seorang peramal tua berkata pada Santiago, “Pada titik itu dalam hidup mereka, segalanya jelas dan segalanya mungkin terjadi. Mereka tidak takut untuk bermimpi, dan merindukan segala hal yang ingin mereka lihat terjadi dalam hidup mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, sebuah kekuatan misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil bagi mereka untuk mewujudkan Legenda Pribadi mereka.” Banyak orang berhenti bermimpi, hanya sedikit orang yang mengikuti saran kuno, “Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda-pertanda … Karena, ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta bahu-membahu membantumu untuk mencapainya,” itulah yang disampaikan Coelho lewat Raja Tua pada novel legenaris itu.[i]

 Mimpi UIN, Mimpi Peradaban

UIN dibangun didasarkan “mimpi”, sebagian masih mengingatnya, sebagian lagi sudah digantikan dengan mimpi baru yang lebih instan. UIN didirikan untuk mengembalikan kejayaan Islam yang menguasai sains dan peradaban. Lalu kejayaan membuat orang-orang malas berpikir dan abai ketika menghadapi peradaban modern yang datang dengan kolonialisme Eropa. “Islam kalah dalam peradaban modern karena menolak sains”, begitu salah satu diagnosa Ahmad Khan dan Jamaluddin al-Afghani. “Karena itu kuasai sains!”, lanjutnya. Khan mendorong perombakan sistem pendidikan Islam yang memotivasi generasi muda Islam belajar sains modern, sementara Afghani lebih kritis lagi: “kuasai filsafatnya agar menerima sains lebih kritis!”.[ii]

Mimpi itu dimulai dari tahun 2002. Dimulai dari IAIN Jakarta bertransformasi menjadi UIN dengan mimpi integrasi ilmu. Lalu menyusul IAIN Malang, Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Mimpinya masih sama, namanya saja yang berbeda. Ada yang “pohon ilmu”, “integrasi-interkoneksi”, “roda ilmu”, “wahyu memandu ilmu”, dan lainnya. Nama-nama paradigma tersebut bukan sekadar slogan, namun spirit bersama—atau bahkan visi—bahwa dari UIN akan muncul ilmuwan Islam komprehensif (tak cuma menguasai ilmu agama, tapi sekaligus menguasai ilmu umum) dan ilmu komprehensif (ilmu berbasis riset akademis serta berbasis iman).

Sains harus juga dikuasai oleh generasi muda Islam, sains adalah milik peradaban Islam yang terlepas dan terlupa. Pada awal Indonesia merdeka, terbawa oleh penolakan panjang terhadap apapun yang berbau kolonial, sebagian besar generasi muda Islam masih tertinggal di bilik-bilik pesantren. IAIN didirikan agar kaum santri memiliki pola pikir modern dan dapat memberikan kontribusinya pada dunia modern. Anak muda Islam, saat itu identik dengan hanya menguasai ilmu agama. Sejumlah Madrasah Aliyah masih dipenuhi jurusan Agama dan asing terhadap jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam).

Sudah sejak lama muncul keyakinan semu bahwa ilmu agama Islam hanya melulu soal ibadah dengan orientasi akhirat. Kitab kuning menjadi sumbernya. Mata pelajaran seperti Aljabar bukanlah milik Islam, itu ilmu fardu kifayah—tak semua orang harus menguasainya, cukup beberapa orang saja yang menguasai. Ada sejarah yang terputus di sini, yang mengira Aljabar bukanlah ilmu dari kitab kuning. Ada sejarah yang tak sampai ke bilik-bilik pesantren bahwa seorang Muslim bernama Al-Khawārizmī menulis kitab kuning berjudul al-Kitāb al-Mukhtasar fi Ḥisab al-Jabr wal-Muqābala.[iii] Kitab ini ditulis pada tahun 820 M, lebih tua dari kitab-kitab al-Ghazali. Lebih tua, berarti lebih kuning: lebih kuning kitabnya, seharusnya lebih pesantren.

Ya, Al-Khawārizmī menulis kitab matematika yang dibutuhkan manusia dalam kasus warisan, wasiat, pembagian harta, gugatan hukum, dan perdagangan, serta dalam semua urusan satu sama lain, atau dalam hal pengukuran tanah, penggalian saluran air, perhitungan geometris, dan objek-objek lain dari berbagai macam dan rupa. Untuk kepentingan itu al-Khawārizmī menawarkan metode al-jabr yang berarti “melengkapkan” atau “memulihkan”—misalnya tindakan menyambung atau memosisikan kembali tulang yang patah. Dalam istilah matematika, ini berarti memindahkan kuantitas negatif dari satu sisi persamaan ke sisi lainnya dan “memulihkan” tandanya menjadi positif. Jadi, jika kita memiliki persamaan 5x – 2 = 8, kita dapat memindahkan angka ‘2’ dari di sisi kiri ke sisi kanan sehingga angka tersebut ditambahkan terhadap angka 8. Notasinya menjadi: 5x = 8 + 2, atau 5x = 10.

Kata kedua dalam kitab Al-Khawārizmī Adalah muqābala. Kata muqābala berarti menempatkan sesuatu saling berhadapan, berseberangan, atau membandingkan. Dalam istilah matematika, ini berarti menyeimbangkan persamaan, atau melakukan hal yang sama pada kedua sisi. Jadi, jika kita memiliki persamaan 3x + 1 = y + 1, kita dapat mengurangkan angka ‘1’ dari kedua sisi untuk menyederhanakan hubungan tersebut sehingga menjadi 3x = y.

Kedua hal inilah yang dituliskan al-Khawārizmī. Keduanya adalah ilmu Islam yang kemudian memberikan pengaruh pada perkembangan ilmu matematika dunia. Eropa mengembangkan pemikiran Al-Khawārizmī melalui tangan-tangan seperti François Viète (Abad ke-16)—Bapak Aljabar Modern yang memperkenalkan notasi huruf untuk mewakili konstanta dan variable; René Descartes (Abad ke-17) yang menyempurnakan notasi Aljabar dengan memperkenalkan konvensi x, y, z untuk variabel yang tidak diketahui dan a, b, c, dan ilmuwan lain seperti Évariste Galois, George Boole, Emmy Noether, dan lainnya. Ironisnya dunia Islam, khususnya di Indonesia, menganggap Aljabar sebagai sesuatu yang tidak penting untuk dikuasai.

Jadi wajarlah bila tahun 2000-an muncul mimpi agar kaum santri juga dapat mengakses Sains, belajar Matematika, Kimia, Robotik, Psikologi, Kedokteran, dan ilmu umum lainnya. Mimpinya jelas: mengembalikan generasi Muslim pada gelanggang peradaban dunia yang tidak hanya bertengkar soal mubtada’-khabar, atau bid’ah-khurafat, melainkan soal-soal Sains. Ini bukan tidak mungkin. Pada masa kejayaan Bayt al-Hikmah[iv] zaman Abbasiyah pada 815 M, umat Islam melakukannya, tak hanya melakukan penerjemahan teks-teks ilmiah, namun ada upaya mengkritik dan melengkapi temuan ilmiah sebelumnya. Salah satunya yang dilakukan al-Farabi seperti terbaca pada kitab Maqalah fi al-Khala.[v]

Awalnya dilakukan penerjemahan dan ditemukanlah teori mengenai al-khala (ruang hampa) yang dikembangkan saintis Yunani. Al-Khala adalah ruang hampa (vacuum). Saintis Yunani seperti Demokritos meyakini kemestian adanya ruang hampa untuk pergerakan atom-atom, sementara Aristoteles meyakini sebaliknya bahwa alam semesta menolak kehampaan (horror vacui), sehingga mustahil ada ruang hampa. Teori-teori ini dibaca al-Farabi, semakin memikirkannya semakin terasa ada kejanggalan pada teori ini. Ia tertantang untuk melakukan pembuktian. Eksperimen pun dilakukan.

Al-Farabi melakukan dua percobaan. Pertama, al-Farabi melakukan eksperimen menggunakan alat bejana air raksa/air biasa (Clepsydra) yang dibalik. Pada eksperimen pertama, ia memasukkan wadah kosong itu secara terbalik ke dalam air. Air tidak bisa masuk ke dalam wadah tersebut. Al-Farabi menyimpulkan bahwa “ruang kosong” di dalam wadah itu sebenarnya diisi oleh udara yang menahan air untuk masuk. Jadi, udara memiliki volume dan menempati ruang. Pada eksperimen kedua, ia memanaskan wadah tersebut. Ketika udara di dalamnya memanas, sebagian udara keluar (memuai). Saat wadah didinginkan kembali di atas air, air tiba-tiba tersedot naik ke dalam wadah.

Dari dua eksperimen di atas, al-Farabi membuktikan bahwa apa yang dianggap orang sebagai “ruang kosong” sebenarnya penuh dengan partikel udara yang memiliki sifat fisik, tekanan, dan volume yang bisa berubah. Temuan Al-Farabi ini menjadi cikal bakal hukum gas ideal dan teori kinetik gas yang 500 tahun kemudian baru dikembangkan di Eropa Barat pada abad ke-18 dan 19 oleh Daniel Bernoulli, Ludwig Boltzmann, dan James Clerk Maxwell.

Lihatlah pada 850 Masehi, ulama Muslim telah melakukan penelitian ilmiah sedemikian rupa dan menantang teori ilmiah yang saat itu dominan. Jika dahulu mungkin dilakukan, maka sekarang dan masa depan pun dapat dilakukan. Maka pada tahun 2006, Fakultas Sains dan Teknologi (selanjutnya FST) didirikan di UIN Sunan Gunung Djati sebagai penanda mulainya upaya merealisasikan mimpi lama. Rumusannya masih sederhana, yakni “Wahyu Memandu Ilmu” dengan simbol “Roda Pedati” yang membayangkan keterpusatan disiplin ilmu yang berbeda (jari-jari roda) pada poros wahyu (as roda) untuk menjalankan kehidupan (melalui ban luar) di tengah peradaban dunia.

Tak terasa, mimpi itu sudah direalisasikan selama 20 tahun. Hari Jumat 12 Juni 2026, civitas akademika FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung merayakan ulang tahunnya. Bagi saya, perhelatan itu bukan sekadar ulang tahun FST melainkan pengingat bahwa UIN didirikan atas dasar mimpi peradaban. Maka, bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan: sampai di manakah kita?

Al-Khawārizmī sebagai Ikon Sains Islam

Tahun 2021-an ada disertasi tentang penerapan “Wahyu Memandu Ilmu” di Fakultas Sainstek.  Hasil riset pertama pada tahap sidang tertutup melaporkan ‘kurang’-nya penerapan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu” di fakultas tersebut. Salah seorang Oponen Ahli yang juga dosen Fakultas Saintek mempertanyakan hasil riset itu, seraya ia menunjukkan data-data penerapan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu”. Pada sidang terbuka, disertasi itu menunjukkan temuan menarik bahwa di antara fakultas yang ada, Fakultas Sainstek ternyata paling serius menerapkan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu”.

Ini dapat dilihat dari presentasi dekan FST, Prof. Dr. Hasniah Aliah. “Wahyu Memandu Ilmu” dengan Roda ilmunya masih ditampilkan dengan jelas dan dijadikan landasan pengembangan fakultas. Sebagai pengingat, lambang “Roda Ilmu” terdiri dari as, jari-jari, velg, dan ban luar. As atau Poros Roda adalah wahyu yang memberi arah pengembangan ilmu; Jari-Jari melambangkan kerja sama antar pelbagai disiplin ilmu; Velg menunjukkan integrasi seluruh bidang ilmu; lalu Ban Luar adalah dampak ilmu pada kehidupan. Saya bersyukur melihat presentasi ini, mimpi peradaban masih dijadikan pijakan. Lebih bersyukur lagi setelah Prof. Hasniah memunculkan sejumlah prestasi luar biasa: 548 Prestasi Mahasiswa dalam lima tahun terakhir, 23 Paten, 289 Publikasi Internasional, dan yang paling prestisius ialah penerjemahan sejumlah kitab turats sains dilakukan secara serius.

Tak hanya itu, ada juga teknologi terapan yang dihasilkan FST berupa sejumlah robot. Pertama, Qibla Finder Robot (sistem robotik pengukur arah kiblat) yang terinspirasi dari Astrolabe yang digunakan al-Biruni. Kedua, Electronic Nose and Halal Technology, teknologi sensor dan kecerdasan buatan yang mengintegrasikan ilmu kimia, teknologi sensor dan sains data untuk memastikan keamanan dan kehalalan pangan. Ketiga, Islamic Humanoid Robot, robot cerdas  menyerupai manusia difungsikan untuk edukasi keIslaman anak muslim yang interaktif dan menyenangkan.

Di sini, saya bergumam, mimpi itu setelah direalisasikan dapat juga mencipta “Legenda Pribadi”.

Pada tahun 2023 saya diundang mengisi kegiatan Ramadan di Fakultas ini. Acaranya siang hari, memberikan pencerahan mengenai al-Quran, Ramadan, dan Sains. Acaranya daring, dilakukan di ruang podcast mereka yang sangat rapih dan canggih. Sebelum acara talkshow dimulai, seluruh peserta daring mengaji al-Quran terlebih dahulu. ODOJ: 1 hari dalam Ramadan, harus mengaji 1 Juz, begitu kata dosen pembimbing program ini. Setelah itu barulah acara talkshow dilangsungkan. Ternyata kebiasaan memulai acara dengan mengaji al-Quran tak hanya saat acara Ramadan, beberapa dosen Ushuludin yang mengajar di Fakultas ini memberikan kesaksian bahwa semua perkuliahan dimulai dengan mengaji al-Quran. Inilah salah satu cara mereka menerapkan paradigma “Wahyu Memandu Ilmu” dalam perkuliahan. Tentu, sangat mungkin, masih banyak lagi yang lain.

Sudah mafhum bahwa paradigma “Wahyu Memandu Ilmu” bukan dimaksudkan untuk mengaji sebelum perkuliahan, orientasi “Wahyu Memandu Ilmu” lebih dari itu. Tapi mengaji al-Quran sebelum perkuliahan adalah strategi pembelajaran yang cukup menarik. Wahyu (dalam hal ini lantunan ayat-ayat al-Quran) menjadi spirit para mahasiswa dan dosen dalam belajar Ilmu. Ini juga yang dilakukan al-Khawārizmī. Muhammad Jebara dalam The Life of The Qur’an (2025) membuat kisah reflektif tentang Al-Khawārizmī sebagai ilmuwan yang dipandu al-Quran dalam merumuskan ilmu Aljabar dan astronominya. [vi]

Acara puncak ulang tahun Sainstek adalah talkshow. Pembicaranya: Prof. Dr. Imam Suprayogo (mantan penggagas paradigma “Pohon Ilmu” UIN Malang) dan Dr. Mada Sanjaya WS., Ph.D. (salah satu dosen produktif di Fakultas Sainstek). Setelah Prof. Imam menceritakan awal pencetusan integrasi ilmu agama dan ilmu umum dalam paradigma ‘Pohon Ilmu’, Mada Sanjaya menampilkan power point “Dari Al-Khawārizmī Ke Artificial Intelligence: Rekonstruksi Integrasi Keilmuan di Era Transformasi Digital”. Mada menunjukkan spirit Integrasi Ilmu Agama dan Umum dengan menunjukkan sumber-sumber Sainstek dari khazanah Islam seperti Kitab al-Jabr wal Muqabalah karya al-Khawārizmī, Kitab Kimiya al-‘Itr wa al-Tas’idat karya al-Kindi, Kitab al-Hiyal karya al-Jazari, Kitab al-Qanun al-Tibb karya ibn Sina, Kitab Nihayat al-Amakin karya al-Biruni, dll. Kitab-kitab inilah, ujar Mada, yang dijadikan spirit integrasi keilmuan di Fakultas Saintek. Pada titik ini, sainstek UIN Bandung menunjukkan—seperti yang diucapkan Mada, “Integrasi bukan sekadar menempelkan ayat, integrasi adalah proses menghubungkan wahyu, akal, observasi, sains, teknologi dan kemaslahatan dalam satu ekosistem pengetahuan yang utuh”.[vii]

Talkshow itu terlalu singkat sehingga tak dapat mengeksplorasi semua gairah mimpi yang dimiliki civitas akademika FST. Misalnya, Mada Sanjaya mengambil judul presentasinya “Dari Al-Khawārizmī Ke Artificial Intelligence: Rekonstruksi Integrasi Keilmuan di Era Transformasi Digital” tapi lupa mengemukakan relasi al-Khawārizmī dengan AI, waktunya sibuk menceritakan pencapaian mimpi peradaban melalui kerja akademisnya.

AI (Kecerdasan Buatan) memang terkait dengan algoritma, dan algoritma terkait dengan ilmuwan Muḥammad ibn Mūsā al-Khawārizmī (sekitar 780–850 M), seorang polymath dari Khwarezm. Transformasi dari nama tokoh menjadi entitas matematis terjadi melalui proses latinisasi pada abad ke-12. Ketika karya-karya Al-Khawārizmī diterjemahkan ke dalam bahasa Latin (seperti Algoritmi de numero Indorum), para penerjemah Eropa mengira Al-Khawārizmī adalah istilah teknis, bukan nama orang, sehingga lahirlah kata algorismus sebagai konsep.[viii] Kemudian, saat ini, algoritma menjadi mesin penggerak dasar yang menyusun logika di balik kecerdasan buatan (AI) agar dapat meniru kemampuan kognitif manusia dalam mengolah informasi.

Pergeseran dari Aljabar versi Al-Khawārizmī menjadi algoritma modern tentu bukanlah sulap. Ada proses panjang di dalamnya, namun yang pasti semuanya bermula dari al-Khawārizmī.

Pada mulanya, algoritma tidak bermakna “pemrosesan data,” melainkan prosedur hitungan aritmatika. Dalam kitab al-Jabr, algoritma adalah serangkaian instruksi sistematis yang terbatas (finite steps) untuk menyelesaikan masalah distribusi harta, perdagangan, dan waris. Secara ontologis, algoritma adalah al-jabr yang menjelma menjadi tindakan. Algoritma versi ini berlangsung dalam tiga tahap: diskritisasi, iterasi, dan koreksi. Pada tahap diskritisasi dilakukan proses memecah masalah kompleks (seperti sengketa waris) menjadi unit-unit numerik. Tahap kedua, iterasi, yakni menjalankan langkah-langkah prosedural secara berulang hingga tercapai hasil yang benar. Lalu pada tahap ketiga, koreksi, yakni menghilangkan residu yang tidak relevan (al-muqābala) untuk memastikan hasil yang presisi.

Perkembangan algoritma hari ini telah mengalami pergeseran paradigma radikal dari “alat bantu manusia” menjadi “agen otonom.” Pada tahun 1843, Ada Lovelace menuliskan algoritma pertama yang melampaui visi Charles Babbage dalam Analytical Engine. Jika Babbage melihat mesinnya hanya sebagai kalkulator mekanis, Lovelace menyadari bahwa mesin tersebut dapat memanipulasi simbol-simbol (bukan sekadar angka) berdasarkan aturan logis. Lovelace memahami bahwa algoritma dapat memproses musik, logika, dan bahasa. Lovelace meletakkan fondasi bagi pemahaman bahwa mesin dapat melakukan “perhitungan kreatif,” yang merupakan akar konseptual bagi AI generatif hari ini.[ix]

Kemudian, pada tahun 1936, Alan Turing menerbitkan makalah krusial, On Computable Numbers, with an Application to the Entscheidungsproblem. Ia memperkenalkan konsep Mesin Turing, sebuah model teoretis yang mendefinisikan apa yang secara matematis bisa “dihitung” oleh algoritma. Turing menciptakan “Universalisme” dalam komputasi. Tanpa konsep Universal Turing Machine, kita tidak akan memiliki komputer modern yang serbaguna, karena algoritma tidak lagi terikat pada satu tugas spesifik tetapi dapat diprogram ulang untuk tujuan apa pun.[x]

Jika Lovelace memberikan “jiwa” pada algoritma dengan menyadari potensi simboliknya untuk melampaui matematika murni, Turing memberikan “tubuh” matematis yang memungkinkan algoritma tersebut dijalankan secara fisik oleh mesin. Lalu jadilah AI seperti yang saat ini nikmati.

Ala kulli hal, Mada Sanjaya, sebagai wakil dari civitas academica  FST UIN Bandung, sedang menunjukkan satu sikap bahwa al-Khawārizmī adalah ikon integrasi sains dan agama yang mereka pilih. Al-Khawārizmī adalah saintis peletak al-jabr modern yang namanya menjadi algoritma, ia cerdas, saleh, dan tidak ambil pusing soal Filsafat. Karena itu Mada menyatakan bahwa pengembangan sains di FST ada di wilayah epistemologi dan aksiologi saja, bukan di wilayah ontologi. Soal ontologi memang rumit, biarkanlah itu menjadi tugas para filsuf. Itulah sikap al-Khawārizmī, itu juga sikap yang dipilih civitas akademika FST: menggunakan perkembangan sains untuk memberikan maslahah umat.

Model Pembelajaran Fogarty

Ada satu hal menarik dari presentasi Mada Sanjaya, yakni model pembelajaran yang dikembangkan di Sainstek. Untuk ‘menuju Integrasi yang semakin mendalam’, dikembangkan model pembelajaran dari Robin Fogarty. Ada empat model yang dikemukakan Mada, yakni Connected (menghubungkan), Nested (menyarangkan), Shared (berbagi), dan Integrated (menggabungkan). Model-model ini merupakan 4 dari 10 model yang dikembangkan Robin Fogarty.

Robin Fogarty menulis How to Integrate the Curricula[xi] pada tahun 1991. Pada buku dijelaskan 10 cara atau metode untuk mengintegrasikan kurikulum di sekolah. 10 metode ini sering disebut sebagai Fogarty’s Ten Models of Integrating the Curriculum menjadi sebuah kerangka kerja memecahkan masalah “kurikulum yang terfragmentasi” dan membantu peserta didik melihat keterkaitan antar-ilmu. Fogarty membagi 10 model integrasi ini ke dalam 3 kelompok besar berdasarkan fokus hubungannya, yakni integrasi dalam satu mata pelajaran (Within Single disciplines), Integrasi Antar Mata Pelajaran (Across Several Disciplines), dan Integrasi di Dalam Diri Pembelajar (Within and Across Learners).

Ketiga kelompok tersebut terletak pada di mana posisi “jembatan” atau proses integrasi itu terjadi, serta siapa yang paling aktif melakukan dekorasi atau menghubungkan ilmu-ilmu tersebut. Robin Fogarty membaginya menjadi tiga level evolusi: mulai dari dalam satu ruang kelas dengan arena subjek tertentu Within Single Disciplines, meluas antar-departemen Across Several Disciplines, hingga akhirnya melebur di dalam kognitif siswa itu sendiri, Within and Across Learners. Pada level awal digunakan metode Fragmented, Connected, Nested; pada level kedua digunakan metode Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, Integrated; lalu pada level ketiga digunakan Immersed, dan Networked.

Civitas akademisi FST, menurut Mada, memilih 4 metode saja yakni connected, nested (dari level pertama, Within Single Disciplines) dan  dua lagi: shared, dan integrated (dari dari level kedua Across Several Disciplines). Itu artinya pada FST dilakukan dua model pembelajaran integrasi, yakni Integrasi Dalam Satu Mata Pelajaran (Within Single Disciplines) dan Integrasi Antar Mata Pelajaran (Across Several Disciplines). Pada integrasi pertama, dosen fokus pada mata kuliahnya agar kompetensinya dikuasai mahasiswa. Di sini, ilmu umum dan ilmu agama dibiarkan terpisah untuk dikuasai. Pada integrasi kedua, perbedaan ilmu agama dan ilmu umum yang bisa jadi tumpang tindih diracik sedemikian rupa untuk diajarkan secara bersamaan. Pilihan metode ini menggunakan prinsip: kuasai dulu kompetensi ilmu masing-masing, lalu integrasikan sehingga menghasilkan bentuk kompetensi baru.

Tentu saja, pilihan model Fogarty ini menarik. Tapi dalam model Fogarty, level ketiga (Integrasi di dalam diri Pembelajar, Within and Across Learners)  merupakan kasta tertinggi dari integrasi kurikulum. Di level ini, integrasi tidak lagi dipaksakan oleh kurikulum atau dijadwalkan oleh dosen. Proses integrasi terjadi secara internal dan personal di dalam kepala mahasiswa karena mereka didorong oleh rasa ingin tahu, hobi, atau riset yang sedang mereka tekuni. Mahasiswa secara aktif mencari, menyaring, dan menghubungkan ilmu apa saja (baik dari dalam kampus maupun dari luar kampus/para ahli) yang relevan bagi mereka. Level ketiga ini akan menghasilkan pembelajar seumur hidup (lifelong learners) dan para ahli/pakar sejati karena ilmunya sudah mendarat pada tataran aksi nyata untuk memecahkan masalah. Level ketiga ini tidak disebutkan oleh Mada Sanjaya, namun saya percaya level ini sudah dipraktikkan FST mengingat ada banyak karya Inovatif yang dihasilkan mahasiswa FST selama ini.

Pembicaraan ihwal model pembelajaran ini perlu dikemukakan terkait meredupnya diskusi strategi pembelajaran “Wahyu Memandu Ilmu” pada beberapa tahun terakhir. Pilihan menggunakan Fogarty cukup menarik karena integrasi tidak lantas mengaburkan batas-batas ilmu, karena itu layak untuk dipertimbangkan digunakan disiplin ilmu lain di fakultas lain. Tidak hanya ilmu umum, pembelajaran ilmu-ilmu agama pun harus mempertimbangkan model pembelajaran integrasi. Kenapa? Karena kata ‘ilmu’ pada jargon ‘Wahyu memandu ilmu’ itu dapat dimaknai sebagai ilmu umum dan ilmu agama. Itu berarti semua ilmu (entah umum atau agama) memiliki kewajiban yang sama untuk melakukan integrasi.

Integrasi ilmu di UIN sering kali terjebak pada format formalitas administratif: sekadar “menempelkan” mata kuliah agama pada kurikulum sains, atau sebaliknya. Jika kita mereguk hikmah dari al-Khawārizmī, kita bisa menggunakan strategi berbasis al-jabr dan al-muqābala menuntut pergeseran dari integrasi pasif (berdampingan) menuju sintesis operasional (menyatu secara struktural). Al-jabr hadir untuk “memaksa” bagian yang retak agar bersatu kembali. Strategi jabr mengakui adanya kekosongan seraya mengisinya agar mencapai keutuhan yang diinginkan oleh syariat, Itulah makna al-jabr, restorasi. Lalu al-muqābala atau konfrontasi adalah keberanian untuk mengurangi atau mengeliminasi elemen-elemen yang berlebih atau tidak relevan, memastikan bahwa keseimbangan yang dicapai tidak didasarkan pada penumpukan yang tidak sah.

Dalam kerangka UIN, al-jabr harus dipahami sebagai upaya mengembalikan keutuhan ilmu yang telah terpecah oleh dikotomi sekuler-religius. Integrasi tidak boleh berhenti pada narasi “filosofis” yang abstrak. Al-jabr menuntut kita untuk memperbaiki “keretakan” dalam kurikulum ketika sains diajarkan tanpa mempertimbangkan implikasi etis-teologisnya. Strategi ini mengharuskan dosen untuk melakukan restorasi: setiap temuan sains (fisika, biologi, sosial) harus ditarik kembali ke akar ontologisnya (tanda-tanda kebesaran Tuhan/ ayatullah).

Jika Al-Khawārizmī merestorasi persamaan yang timpang, universitas harus merestorasi subjek didik agar tidak menjadi teknokrat yang teralienasi dari spiritualitas. Ini berarti membangun sistem yang menempatkan nalar ilmiah (reason) sebagai kelengkapan dari nalar wahyu (revelation), bukan sebagai entitas yang saling menegasikan.

Al-muqābala dalam konteks UIN bukan sekadar diskusi lintas disiplin, melainkan konfrontasi dialektis terhadap residu pemikiran yang merusak. Kurikulum sains modern sering membawa “residu” berupa materialisme reduksionis yang memandang dunia sebagai mesin mati. Strategi al-muqābala berarti kita harus secara aktif mengonfrontasi asumsi-asumsi tersebut di ruang kelas. Misalnya, ketika membahas teori evolusi atau algoritma AI, dosen harus melakukan “pemangkasan” terhadap kesimpulan nihilistik yang sering menyertainya.

Mahasiswa harus dilatih untuk melakukan muqābala (konfrontasi) antara teori sains dan nilai Islam. Ini bukan berarti menolak sains, tetapi menimbang “bobot” kebenaran empiris di hadapan nilai-nilai etis. Jika sebuah teori ilmiah mengarah pada perendahan martabat manusia (seperti determinisme biologis), maka teori itu harus “dikurangi” atau “dikoreksi” agar kembali pada nilai-nilai Wahyu.

Strategi jabr wa muqābala tidaklah mudah, apalagi jika ada keengganan untuk melakukan konfrontasi. Banyak pihak memilih “jalan damai” (sinkretisme dangkal) daripada melakukan al-muqābala yang tajam. Akibatnya, integrasi sering hanya menjadi kosmetik. Kurangnya keberanian untuk mempertanyakan fondasi sains modern di satu sisi, dan keengganan membedah tradisi keislaman yang sudah beku di sisi lain, menyebabkan UIN gagal melahirkan model peradaban baru. Strategi ini menuntut intelektual yang tidak hanya mahir membaca kitab klasik, tetapi juga mampu melakukan coding dan memahami mekanika kuantum, lalu berani mengonfrontasi keduanya demi melahirkan paradigma yang lebih utuh.

Angklung “Rumah Kita”

Satu hal yang lebih menarik lagi adalah pementasan angklung. Setelah pembukaan, MC mengumumkan adanya pementasan angklung oleh civitas akademika FST UIN Bandung. Beberapa orang mulai menaiki tangga panggung. Terlihat beberapa dosen, pejabat struktural fakultas, tenaga administrasi, mahasiswa, lalu terakhir dekan—semuanya memegang angklung di tangan. Satu dirigen berdiri memberikan arahan, lagu “Rumah Kita” dimainkan oleh angklung bambu.

Saya penyuka Godbless, saya senang mendengarkan lagu ini: “lebih baik di sini, rumah kita sendiri”. Sesekali saya ikutan menyanyi, walaupun peserta perhelatan itu sebagian masih malu-malu atau ragu: apakah boleh ikutan berdendang. Saat ikut menyanyi itu, saya tiba-tiba merasa mendengarkan satu pernyataan sikap dari atas panggung sana bahwa Ilmu Sainstek bukan lagi pendatang apalagi “orang asing”, ilmu-ilmu sainstek adalah penghuni resmi UIN Bandung. Lagu itu seperti menegaskan, “UIN adalah rumah kita sendiri”. Apapun kekurangannya, “Namun semua itu punya kita, Memang semua itu milik kita”. Karena di rumah UIN ini: “segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada”.

Pernyataan ini memang tak terdengar lantang, karena dibunyikan melalui bambu-bambu angklung yang digetarkan. Tapi, pernyataan itu terasa jelas. Terlebih jika membayangkan dengan situasi 20 tahun yang lalu, saat pertama kali fakultas ini didirikan. Sejumlah dosen baru bermunculan dari kampus-kampus umum, bidang ilmu mereka adalah ilmu-ilmu yang tak terkait dengan ilmu agama. Dosen-dosen ini bukan alumni IAIN, mereka ditempa di kampus-kampus umum yang berbeda vibe-nya. Pastilah ada rasa “aneh” menjadi bagian dari kampus agama, dengan iklim dan tradisi akademik yang berbeda dari kampus asal kuliah. Sebaliknya, para penghuni lama merasa kedatangan “tamu” atau pendatang. Ada kejutan budaya, beberapa menyesuaikan lalu bertahan sampai 20 tahun lamanya.

Tahun 2018 saya pernah membuat survei kecil-kecilan tentang budaya share knowledge. Saya membagi kuesioner pada dosen umum dan dosen agama. Ada tiga hal yang ditemukan, pertama banyak dosen ilmu umum yang melakukan sharing knowledge, tapi dosen ilmu agama sedikit yang mau melakukan sharing knowledge; ini yang kedua. Temuan ketiga, sharing knowledge para dosen ilmu umum itu lebih banyak dilakukan antar dosen umum juga. Itu artinya dosen ilmu umum dan ilmu agama masih saling “asing”, mungkin saat bertemu saling senyum namun belum mau bekerja sama. Delapan tahun kemudian, tahun ini, semuanya melebur dalam “Rumah Kita Sendiri”.

SELAMAT BERULANG TAHUN FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI, UIN ADALAH RUMAH KITA!

 

ENDNOTES

[i] Paulo Coelho, The Alchemist (O Alquimista, 1988), terj. Tanti Lesmana, Sang Alkemis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).

[ii] Jamaluddin al-Afghani (1838–1897) adalah pemikir dan aktivis Islam pan-Islamisme; Sayyid Ahmad Khan (1817–1898) adalah pemikir muslim modernis India, pendiri Aligarh Muslim University. Lihat: Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age 1798–1939, edisi pertama 1962 (Cambridge: Cambridge University Press, 1983), Bab V: “Jamal al-Din al-Afghani”, hlm. 103–129.

[iii] Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, al-Kitab al-Mukhtasar fi Ḥisab al-Jabr wa al-Muqābala, terj. Frederic Rosen, The Algebra of Mohammed Ben Musa (London: Printed for the Oriental Translation Fund and sold by J. Murray, 1831). Lihat juga: Roshdi Rashed, The Development of Arabic Mathematics: Between Arithmetic and Algebra (Dordrecht: Kluwer Academic Publishers, 1994).

[iv] Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) mulai berdiri di era Harun al-Rasyid dan berkembang pesat di era al-Ma’mun (813–833 M). Lihat: Jim Al-Khalili, The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance (New York: Penguin Press, 2011).

[v] Al-Farabi, Maqalah fi al-Khala’ (Risalah tentang Ruang Hampa), teks Arab dan terjemahan Inggris dalam: Necati Lugal & Aydin Sayili, “Maqala fi l-Khala”, Belleten (Türk Tarih Kurumu), Vol. 15 (1951), hlm. 1–16 & 21–36; analisis: Aydin Sayili, “Al-Farabi’s Article on Vacuum”, Belleten, Vol. 15 (1951), hlm. 151–174. Diterbitkan juga sebagai buku: Farābī’s Article on Vacuum (Ankara: Türk Tarih Kurumu Basımevi, 1951).

[vi] Muhammad Jebara, The Life of the Qur’an: From Eternal Roots to Enduring Legacy (New York: St. Martin’s Essentials, 2024).

[vii] Al-Kindi, Kimiya al-‘Itr wa al-Tas’idat (Kimia Wewangian dan Distilasi), abad ke-9 M. Al-Jazari, Kitab al-Hiyal (Kitab Mesin-Mesin Cerdik), abad ke-12 M. Ibn Sina, Kitab al-Qanun fi al-Tibb (Kanon Kedokteran), abad ke-11 M. Al-Biruni, Kitab Nihayat al-Amakin (Kitab Penentuan Batas-Batas Wilayah), abad ke-11 M.

[viii] Algorismus berasal dari latinisasi nama al-Khawarizmi. Lihat: Donald Knuth, The Art of Computer Programming, Vol. 1 (Reading, MA: Addison-Wesley, 1968), hlm. 1–2; dan J.J. O’Connor dan E.F. Robertson, “Abu Ja’far Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi,” MacTutor History of Mathematics, University of St Andrews, 1999.

[ix] Ada Lovelace, “Notes by the Translator,” dalam Luigi Menabrea, “Sketch of the Analytical Engine Invented by Charles Babbage,” Scientific Memoirs, Vol. 3 (1843), hlm. 666–731. Lihat juga: Walter Isaacson, The Innovators: How a Group of Hackers, Geniuses, and Geeks Created the Digital Revolution (New York: Simon & Schuster, 2014), hlm. 7–52.

[x] Alan Turing, “On Computable Numbers, with an Application to the Entscheidungsproblem,” Proceedings of the London Mathematical Society, Series 2, Vol. 42 (1937): 230–265.

[xi] Robin Fogarty, How to Integrate the Curricula (Palatine, IL: Skylight Publishing, 1991). Lihat juga: Robin Fogarty dan Judy Stoehr, Integrating Curricula with Multiple Intelligences: Teams, Themes, and Threads (SAGE Publications, 2007).