![]()

Oleh: Syihabul Furqon
![]()
SERATUS tahun telah berlalu sejak Seikh Abdul Wahid Yahya (Réne Guénon) menerbitkan Timur & Barat (East and West, 1924). Sebuah karya yang mendahului The Crisis of the Modern World, yang terjemah Indonesianya telah diterbitkan kami tahun lalu di bawah tajuk Krisis Dunia Modern. Buku ini menandai tinjauan Réne Guénon atas distingsi esensial dan aktual antara peradaban Timur dan Barat. Suatu tinjauan kualitatif yang premis-premisnya didudukkan di atas etos logika tradisional dan seluruh kerangka kerja intelektualnya. Hasilnya adalah karya yang bergema—bahkan dalam pandangan kami, setelah seratus tahun ini—gema dari pandangan Réne Guénon relevan baik panjang maupun lebarnya.
Karya ini terbagi ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama bicara mengenai ilusi-ilusi intelektual dan praktis yang diciptakan peradaban Barat. Dimulai dari proyek-proyek intelektual yang melenceng (bukan salah) dari poros doktrin, poros prinsip (metafisika tradisional). Proyek-proyek intelektual yang dikuliti dan dibuang isinya sehingga tercipta apa yang disebut sikap intelektual eklektik yang naif. Percepatan di bidang pengetahuan praktis (artifisial dan karenanya terestrial) mendorong manusia menemukan poros materialnya dalam produksi dan kecepatan. Pengetahuan digeser ke guna. Atau lebih tepatnya: pengetahuan dilucuti rantai-rantai hierarkinya sehingga pengetahuan praktis tidak lagi terhubung dengan pengetahuan teoretis, dan karena yang terakhir tidak menjadi poros, akibatnya yang pertama terjangkiti waham sebagai satu-satunya pengetahuan yang dapat menyandang nama “sains” dalam bentuknya yang memaksakan diri untuk menduduki rantai pengetahuan yang lebih tinggi.
Bidang pengetahuan yang lebih tinggi, yakni yang bersifat murni intelektual, teoretis—yang merupakan satu-satunya pusat meditasi sapiensial dan jalan penghubung pada prinsip metafisika, akhirnya terisolasi dan ditinggalkan. Pengetahuan dalam dunia modern tidak lagi bermatarantai dan berhierarkis, melainkan fragmentaris. Ilusi-ilusi terjadi, atau, dalam bahasa Guénon sebut sebagai takhayul. Pengetahuan material yang semakin dipercepat ini menciptakan gering mental kalangan intelektualnya sendiri. Dari semua gering, gering mental inilah yang—dalam pembacaan kami—mula-mula menjangkit. Namun, kalangan sarjanalah yang mula-mula, atau paling akan terdampak dari gering mental intelektual ini. Akan tetapi kemerosotan intelektual yang menjurus pada gering mental ini bukan gering material. Nalar material, instrumental dan utilitarian justru menampakkan vitalitas yang luar biasa. Di balik itu gering intelektual dan mental yang bersifat batin menggerogoti dari dalam.
Sekali lagi, dampak dari takhayul ini akan paling terasa di kalangan intelektual hari ini, atau di institusi intelektual. Di mana sekolah mulai tidak menyediakan pendidikan, di mana meditasi (berpikir mendalam) mulai menguap. Perenungan mendalam diganti dengan percepatan. Prinsip yang abadi dan universal diganti dengan logika angin-anginan yang hanya menawarkan ‘kebenaran’ namun kosong dari ‘kepastian’ primordial. Para sarjana di abad 21 ini mengejar kebaruan bagai kerbau yang dicucuk hidungnya tanpa memeriksa ulang apa itu kebaruan. Inflasi nalar material ini, singkatnya, tidak diimbangi dengan pertumbuhan intelektualitas sejati. Kata ‘ilmu pengetahuan’ direduksi jadi sekadar ‘sains’ dan dengan angkuh atas nama ‘sains’ ini semua mode pengetahuan mesti tunduk pada perspektifnya semata. Gerhana yang terjadi di aras sarjana ini pada gilirannya akan menciptakan mental pengecut, pembangkang dan hipokrit; gejala geringnya, jemawa, self-centered, dan megalomaniak—bahasa halusnya Guénon sebut sebagai ‘anarki’ secara epistemik. Bahwa pengkhianat pertama yang akan melawan ‘langit’ intelektual sejati adalah kalangan sarjana. Lihat bagaimana para sarjana hari ini mengelirukan antara kesarjanaan dengan gelar, antara kerja-kerja intelektual sejati dengan ocehan sampah yang memicu perdebatan publik demi memicu gelombang kebingungan masal—jauh dari perenungan mendalam, jauh dari meditasi intelektual, jauh dari prinsip. Di titik ini hak dan batil di depan mata tapi luput, tapi lepas selalu.
Bagian kedua dari buku ini—bagi mereka yang melampaui pandir (beyond fool)—dikatakan tidak menawarkan apa pun. Terutama bagi mental yang telah termaterialkan dengan pertanyaan-pertanyaan sampah serupa: lantas apa yang harus dilakukan? Apa yang telah dilakukan para sarjana tradisional dalam keruntuhan manusia di tengah modernisme? Terutama pertanyaan melampaui dangkal: apa ‘produk’ yang telah dibuat para tradisionalis terkait hal itu? Pertanyaan seperti ini bukan saja tidak elegan, melainkan menunjukkan level intelektual. Lihat, manusia ini sangat canggih dan maju dalam pengetahuan zamannya tapi bahkan tidak mengerti secara mendalam relasi antara substansi dan aksiden. Pencarian akan ‘kenapa’ (why) yang ditembakkan ke luar kerap ditemukan jawabannya di dalam (within). Persis di sinilah tawaran sekaligus antidot Guénon: diagnosis dari perspektif tradisional.
‘Ala kulli hal, seratus tahun telah berlalu, bahkan ribuan tahun berlalu sejak teks-teks sakral menyapa manusia. Hari ini, baik Timur dan Barat telah mengalami kemerosotan sekaligus titik baliknya di beberapa segi kehidupan. Gravitasi Barat Modern tetap sama, menarik segalanya ke bawah; dan hanya pertolongan Intelek sejati dari langit yang bisa menyelamatkan manusia.