Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [15]

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah [15]

 

TEKS #15
TRAGEDI DI PADANG PASIR

 

Tulisan ini adalah kelanjutan dari kegelisahan saya. Kali ini, teks kelima belas dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari benar-benar membuat saya semakin merinding. Beliau tidak lagi sekadar menegur atau menasihati. Beliau sedang menyodorkan sebuah alegori layaknya cermin retak yang sedang memperlihatkan akhir dari sebuah tragedi.

وَصَارُوا كَمَا قِيلَ: غَنَمًا مُتَبَدِّدَةً فِي صَحْرَاءَ. قَدْ أَحَاطَتْ بِهَا أَنْوَاعُ السِّبَاعِ، فَبَقَاؤُهَا مُدَّةً سَالِمَةً؛ إِمَّا لِأَنَّ السِّبَاعَ لَمْ يَصِلْ إِلَيْهَا – وَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ يَصِلَ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا – وَإِمَّا لِأَنَّ السِّبَاعَ أَدَّتْهُ الْمُزَاحَمَةُ إِلَى الْقِتَالِ بَيْنَهَا. فَيَغْلِبُ فَرِيقٌ فَرِيقًا، فَيَصِيرُ الْغَالِبُ غَاصِبًا وَالْمَغْلُوبُ سَارِقًا. فَتَقَعُ الْغَنَمُ بَيْنَ غَاصِبٍ وَسَارِقٍ
Mereka telah menjadi seperti kata orang-orang:
(Bagaikan) sekawanan domba yang tercerai-berai di padang pasir. Berbagai macam binatang buas telah mengepung mereka. Maka, keberhasilan domba-domba itu bertahan hidup (selamat) untuk sementara waktu; entah karena binatang-binatang buas itu belum mencapai mereka—suatu saat nanti pasti akan mencapai mereka—atau karena binatang buas itu saling berebut sehingga berujung pada perkelahian di antara mereka sendiri. Kemudian, satu kelompok mengalahkan kelompok lainnya. Pihak yang menang bertindak sebagai perampas, sedangkan pihak yang kalah menjadi pencuri. Pada akhirnya, domba-domba itu jatuh dan terjepit di antara perampas dan pencuri.”

Itulah teks kelima belas. Sebuah alegori yang luar biasa tajam. Jenius sekaligus mengerikan.

Hadratusy Syaikh tidak lagi sekadar menegur. Beliau sedang menyodorkan sebuah cermin retak yang memperlihatkan akhir dari sebuah tragedi. Tragis sekali. Beliau menggambarkan nasib sebuah bangsa, sebuah jam‘iyyah, atau komunitas apa pun yang memilih jalan egois dan gemar memelihara permusuhan batin, dengan sebuah istilah: Ghanaman mutabaddidatan. Domba-domba yang kocar-kacir.

Mari kita bayangkan fragmen itu di dalam kepala kita.

Ada sekawanan domba. Mereka terpisah dari gembalanya. Kehilangan kawalan. Tidak punya pemimpin yang ditaati. Mereka panik, lalu berlarian tanpa arah di atas sebuah padang pasir yang mahaluas dan gersang (shaḥrā’a).

Di padang pasir yang sunyi itu, mereka tidak sendirian. Di sekeliling bukit pasir, ada Anwā‘us Sibā’i. Berbagai macam binatang buas. Singa, serigala, macan tutul, semua sudah memasang mata. Menatap lapar. Mengepung dari segala penjuru angin.

Gejala Entropi Organisasi

Mari kita bedah fragmen ini dengan Teori Organisasi Modern. Dalam ilmu manajemen dan sosiologi organisasi, apa yang digambarkan oleh Hadratusy Syaikh ini adalah contoh sempurna dari gejala Entropi Organisasi (Organizational Entropy). Dalam hukum fisika dan teori organisasi, entropi adalah kecenderungan alami sebuah sistem untuk bergerak menuju kekacauan, disintegrasi, dan kematian, jika tidak dirawat dengan energi yang positif.

Ketika sebuah organisasi—apakah itu korporasi, jam‘iyyah, atau sebuah negara—kehilangan ta’āluf (keterikatan batin) dan tidak lagi patuh pada satu komando, sistem di dalamnya otomatis rusak. Struktur luluh lantah. Mereka kehilangan arah.

Sama seperti sekawanan domba yang terpisah dari gembalanya di tengah padang pasir yang mahaluas (falātin minal ardhi). Mereka panik, berlarian tanpa arah, dan egois menyelamatkan diri masing-masing. Di sekeliling mereka, Anwā‘us Sibā’i—berbagai macam binatang buas—sudah mengepung dari segala penjuru angin.

Secara teori Strategic Management, domba-domba ini sudah kehilangan apa yang disebut sebagai Kelebihan Kompetitif (Competitive Advantage) dan Kapabilitas Dinamis (Dynamic Capabilities). Mereka tidak punya daya tahan lagi. Secara logika organisasi, nasib mereka sudah selesai. Tamat. Mereka hanyalah santapan berjalan yang menunggu waktu untuk dikunyah.

Ilusi “Aman” di Tengah Teori Ekologi Organisasi

Pada teks ini ada satu pertanyaan menarik yang sering muncul dalam analisis organisasi: Kalau sebuah organisasi di dalamnya sudah pecah kongsi, penuh konflik batin, dan manajemennya amburadul, kok anehnya mereka hari ini masih bisa tegak berdiri? Kok belum hancur juga?

Di sinilah letak kejelian Hadratusy Syaikh. Beliau membongkar fenomena itu dengan dua alasan yang sangat ilmiah jika kita bedah menggunakan Teori Ekologi Organisasi (Organizational Ecology).

Mengapa organisasi yang retak masih bisa bertahan hidup sementara waktu?

Faktor Pertama: lam yaṣil ilaihā—wa-lā budda min an yaṣila ilaihā yawman mā (Belum Terjangkau). Binatang buas atau kompetitor di luar sana kebetulan saja belum sampai atau belum menjangkau titik tempat organisasi itu berada. Ini murni masalah waktu. Padang pasir itu luas, tapi sekuat apa pun domba bersembunyi, cepat atau lambat sang predator pasti akan mencium baunya. Keselamatan sementara itu sifatnya hanyalah menunda kehancuran.

Dalam dunia bisnis tahun 2026, ini seperti perusahaan konvensional yang manajemen internalnya sudah bobrok, tapi masih bertahan karena disrupsi teknologi belum masuk ke ceruk pasar mereka yang terpencil. Hanya masalah waktu. Begitu algoritma baru atau kompetitor agresif mencium baunya, habis!

Maka, jika hari ini kita—baik sebagai keluarga, pengurus organisasi, maupun sebagai komponen bangsa—memilih untuk cerai-berai, egois, dan asyik bertengkar sendiri, kita sebenarnya sedang mengubah diri kita menjadi domba yang lemah itu. Kalau hari ini bisnis kita masih jalan, atau organisasi kita dirasa masih “aman-aman saja” dalam perpecahan, itu bukan karena kita kuat. Bukan karena kita hebat. Melainkan hanya karena tantangan zaman yang ganas atau pihak asing yang ingin menerkam kita kebetulan sedang belum sempat saja. Kita sedang memelihara bom waktu di dalam rumah sendiri.

Faktor Kedua: Al-Muzāḥamah (Persaingan Antar-Predator). Ini lebih satir lagi. Binatang-binatang buas di luar sana itu belum sempat memangsa domba karena mereka sedang sibuk cakar-cakaran sendiri. Mereka sedang berkelahi secara brutal, berebut kapling dan berebut siapa yang berhak makan duluan. Domba-domba itu selamat semata-mata karena para predatornya sedang sibuk berantem. Tapi babak akhir dari perkelahian para predator itu sudah bisa ditebak. Pasti akan ada satu kelompok binatang buas yang keluar sebagai pemenang, dan ada kelompok yang kalah.

Dalam Teori Ketergantungan Sumber Daya (Resource Dependence Theory), kondisi ini disebut sebagai environmental hostility yang sedang terbagi fokusnya. Kelangsungan hidup organisasi yang pecah itu bukanlah hasil dari kinerja internal mereka yang hebat. Bukan karena mereka kuat. Bukan karena mereka visioner. Melainkan, itu hanyalah sebuah “Keberuntungan Palsu”. Keselamatan sementara itu sifatnya hanyalah menunda hari kematian. Mereka sedang memelihara bom waktu di dalam rumah mereka sendiri, sementara di luar rumah, para pemangsa sedang bersiap-siap selesai berkelahi.

Sang Perampas, Sang Pencuri, dan Hilangnya Kedaulatan

Babak akhir dari perkelahian para predator di luar sana sudah bisa ditebak dalam teori organisasi. Pasti akan ada konsolidasi pasar. Pasti akan ada satu atau dua kekuatan besar yang keluar sebagai pemenang tunggal.

Ketika konstelasi luar itu selesai, perhatikan apa yang ditulis di ujung teks oleh Hadratusy Syaikh. Sangat ngeri. Lahirlah dua karakter predator baru yang mengerikan: Ghāshibun dan Sāriqun. Perampas dan pencuri.

Binatang buas yang keluar sebagai pemenang akan menjelma menjadi Ghāshib. Perampas yang terang-terangan. Mereka akan mendatangi domba-domba yang kocar-kacir tadi dengan pongah. Menyerang secara brutal di siang bolong, menjajah, dan mencaplok apa saja yang tersisa tanpa rasa malu.

Sementara itu, binatang buas yang kalah tidak akan tinggal diam. Mereka akan menjelma menjadi Sāriq. Pencuri yang mengendap-endap di malam hari. Mereka akan menyelinap dalam kegelapan, mencuri domba-domba itu satu demi satu secara sembunyi-sembunyi melalui tipu daya yang halus.

Jika kita baca dengan teori organisasi modern kita menemukan padanannya:

Sang Perampas (Ghāshib). Dalam teori korporasi, ini adalah bentuk Hostile Takeover atau akuisisi paksa. Kekuatan luar yang menang akan mendatangi organisasi yang lemah dan kocar-kacir tadi dengan pongah. Mereka melakukan penetrasi secara brutal di siang bolong, mencaplok aset, dan mendikte kebijakan tanpa rasa malu karena internal kita tidak punya daya tawar.

Sang Pencuri (Sāriq). Ini jauh lebih halus. Ini adalah bentuk Institutional Isomorphism yang negatif atau infiltrasi senyap. Mereka masuk dalam kegelapan, mencuri kader-kader terbaik kita satu demi satu, menggembosi kekuatan dari dalam melalui tipu daya dan kompensasi material yang menggiurkan.

Akhirnya?

Domba-domba itu tetap saja habis. Habis tak tersisa. Mereka terjebak dan binasa di antara dua kutub: dirampas oleh si kuat yang menang, atau dikitari oleh si licik yang kalah. Inilah hukum besi sejarah yang ingin ditanamkan oleh Hadratusy Syaikh ke dalam dada para santri dan pengurus NU: jika sebuah organisasi sudah tercerai-berai, kehilangan persatuan batinnya, maka ia otomatis akan kehilangan kedaulatannya.

Organisasi yang kocar-kacir itu tetap saja punah. Mereka kehilangan hal paling sakral dalam teori organisasi: Kedaulatan Strategis (Strategic Autonomy).

Ketika sebuah komunitas atau bangsa kehilangan kedaulatannya akibat perpecahan batin, mereka tidak akan pernah lagi menjadi aktor utama dalam sejarah. Mereka diturunkan kasta menjadi objek. Menjadi penonton. Dan puncaknya: menjadi santapan empuk bagi kepentingan-kepentingan besar di luar sana yang jauh lebih solid.

Tantangan di tahun 2026 ini begitu nyata dan bergerak dalam kecepatan cahaya. Arus kapitalisasi global, kecerdasan buatan yang mengancam lapangan kerja, hingga benturan ideologi transnasional berkelebat seperti binatang buas di sekeliling kita.

Mewujudkan ittiād (persatuan) itu memang berat. Butuh pengorbanan ego yang luar biasa besar.

Tetapi, alternatif dari persatuan itu jauh lebih mengerikan: menjadi kawanan domba yang kebingungan di tengah padang pasir, menunggu giliran untuk diterkam.

Jadi, pilihannya kini terpampang sangat jelas di hadapan kita: mau tetap mempertahankan ego kelompok masing-masing lalu habis menjadi mangsa, atau mau merapatkan barisan di bawah satu komando demi keselamatan bersama?

Sebelum binatang buas di luar sana selesai berkelahi, sebaiknya internal kita sudah selesai bersatu. Pilihan kini ada di tangan Anda.