
Saya hanya ingin menggerutu kali ini.
Ya, impian saya adalah membeli sarung tinju yang segede rambut keriting Marx dan seberat buku Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russell, itu cukup karena jika seberat kitab tafsir al-Qammasyi yang 840 jilid itu saya tak bisa ngangkatnya. Lalu saya kumpulin orang-orang sok keren, sok tau, yang suka sekali komentar untuk semua persoalan, mengira dirinya paling ahli, paling bijak, paling heueuh, paling mengerti kehidupan dan segala macam isinya, paling merasa dekat dengan Tuhan, paling segalanya, di satu ruangan dan saya tinju mukanya satu satu sambil saya teriakin lu punya otak ga pernah dipake buat refleksi ke dalam atau emang ga punya otak. Jika mereka masih menjawab dan protes kelakuan saya yang tak bermoral, tak sesuai dengan rukun iman, maka saya tinju lagi saja sampe muncul benjolan di dahi, di hidung, biar muka mereka berubah jadi kodok habis kejedot batu kolam, lalu saya tinju lagi, sambil saya omelin lagi, lu anak siapa sih kok bebal sekali. Kelakuan sebelas dua belas sama Ryan Jombang, ga ada seujung kukunya Immanuel Kant, kok ngaku Muhammad jadi teladan?!! Lalu saya tinju lagi, buk, buk, buk, buk, buk, buk, buk, buk, buk, buk. Mampus lu!
Habis ninjuin muka orang-orang itu, saya mau pergi ke Gramedia, nyari komik terbaru One Piece atau Jujutsu Kaisen atau apalah. Persetan itu jajaran buku terlaris yang ada di sana. Ga bermutu sebenarnya. Novel yang sok nyeramahin buat bersabar dengan kenyataan. Cik bangsat, baca Kafka, novel yang baik itu yang nyadarin kehidupan. Apa itu buku filosofi teras isi-nya reduksi blas stoisisme jadi cuma soal dikotomi kendali. Penulisnya modal numpang di bahu buku motivasi Irvine, bacot sia jadi bikin orang bersedia bungkam ditindas kenyataan pahit yang dibuat rezim dan para elit yang ga peduli lu makan apa kaga besok hari, tapi harus bersabar dengan kebijakan tak berpihak hari ini.
Tapi ini sebenarnya cuma suara di pikiran saya saja, yang bisa jadi itu bukan murni kesadaran saya. Lagipula soal kesadaran ini terlanjur rumit adanya. Bisa jadi ada banyak suara di kepala, yang baik dan bermoral seperti tampilan luar banyak manusia. Atau yang jahat dan liar yang cuma ditunjukin setelah ga kelihatan sama tetangga atau rekan kerja. Dan yang berusaha netral, tapi ga tahu harus mutusin apa. Tapi bisa juga kesadaran itu cuma ilusi, hasil kerja kimiawi dalam otak. Yang riil ya cuma materi. Apa ada sesuatu di balik materi? Ada, materi lagi. Lalu materi lagi. Lalu materi lagi, yang terkecil, dan tak ada apa-apa lagi. Apa situ berharap saya bilang ada noumena aneh yang menggerakkan materi. Bisa jadi sih, tapi siapa yang pernah membuktikan siapa. Situ mau saya tinju juga?
Sebenarnya saya hanya menyayangkan kenapa sih Dian Sastro masih tetap bikin saya jatuh cinta, padahal usia udah mau masuk antrian TPU. Hmmm, mungkin ada baiknya juga ke TPU, ruang di mana eksistensi lenyap kecuali suara jangkrik di malam hari. Saya kesana lalu saya omelin juga kenapa mereka yang sudah pergi itu mewariskan generasi anak, cucu, cicit, yang hanya bergantung pada AI dan ga bisa pakai otak mereka sendiri. Kalopun gaptek dan ga bisa pakai AI, tetap saja mereka terlanjur bebal dan ga mau membuka diri untuk pengetahuan baru, dikiranya pengetahuan berhenti di tahun mereka diangkat jadi PNS. Aaarghhh, sial, saya ingin meninju orang lagi. Atau barangkali saya masuk grup WA apapun itu lalu ikut komentar segala hal dan ditutup dengan umpatan, bubar kalian semua, bubaarr!!
Astaghfirullah.. Saya ingin shalat dzuhur saja.