Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [14]

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah [14]

 

TEKS #14
ILUSI KERAMAIAN

 

Tulisan kali ini harus saya mulai dengan sebuah pengakuan: saya ngeri membaca teks keempat belas dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari ini. Ini bukan lagi sekadar wejangan fikih atau kalam ulama biasa. Ini adalah sebuah pisau bedah sosial. Sebuah diagnosis psikologi massa yang amat akurat, tajam, dan menghujam langsung ke jantung penyakit komunitas modern di tahun 2026 ini.

لِأَنَّ الْقَوْمَ اِذَا تَفَرَّقَتْ قُلُوْبُهُمْ ولعِبَتْ بِهِمْ أَهْوَائُهُمْ فَلَا يَرَوْنَ لِلْمَنْفَعَةِ الْعَامَّةِ مَحَلاًّ وَلاَ مَقَامَا وَلاَ يَكُوْنُوْنَ اُمَّةً مُتَّحِدَةً بَلْ اَحَادًا مُجْتَمِعِيْنَ اَجْسَادًا مُفْتَرِقِيْنَ قُلُوْبًا وَاَهْوَاءً تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى.

Sebab jika suatu bangsa tidak bersatu dan lebih menuruti hawa nafsu, maka tidak ada tempat untuk kebaikan bersama di dalamnya. Mereka bukanlah umat yang satu, melainkan hanya individu-individu yang berkumpul secara fisik, namun hati dan keinginan-keinginan mereka saling berselisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati mereka terpecah belah.

Itulah teks keempat belas. Sebuah diagnosis psikologi massa yang sangat akurat dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Teks ini sedang membedah isi perut dari sebuah komunitas yang sakit. Kalimat Arabnya sangat ritmis, tapi rasanya ngilu kalau diresapi: Li-anna al-qawma idzā tafarraqat qulūbuhum wa la‘ibat bi-him ahwā’uhum. Karena jika suatu kaum hatinya sudah bercerai-berai, dan mereka sudah dipermainkan oleh hawa nafsu, maka runtuhlah seluruh tatanan sosialnya.

Mari kita bedah pelan-pelan dengan kacamata filsafat sosial. Akar masalahnya ada pada dua frasa itu: Tafarraqat qulūbuhum (hati yang bercerai-berai) dan la‘ibat bi-him ahwā’uhum (dipermainkan hawa nafsu).

Secara sosiologis, perpecahan fisik itu tidak pernah terjadi secara mendadak seperti petir di siang bolong. Dia selalu punya masa inkubasi. Ada proses pembusukan yang senyap. Dan masa inkubasi itu mulainya selalu dari dalam dada: hilangnya rasa saling percaya, munculnya prasangka, lalu runtuhnya ikatan batin.

Itulah alasan kuat mengapa di teks-teks awal kitabnya, Hadratusy Syaikh menaruh konsep ta’āluf (keterikatan hati) di tempat yang sangat terhormat. Beliau paham betul sosiologi manusia. Ketika ta’āluf itu menguap dari sebuah organisasi, maka ruang kosong yang ditinggalkannya tidak akan pernah dibiarkan kosong begitu saja. Hukum alam sosial berlaku: ruang kosong itu akan langsung diinvasi dan dikuasai oleh hawa nafsu. Ego. Kepentingan pribadi. Sifat serakah.

Kalau nafsu sudah menjadi sutradara dalam panggung sosial, manusia-manusia di dalamnya akan bertindak tidak logis. Kekanak-kanakan. Gampang tersinggung. Sulit diajak kompromi.

Dampaknya? Langsung terasa pada kalimat berikutnya: fa-lā yarawna li al-manfa‘ah al-‘āmmah maalla wa lā maqāma. Mereka tidak akan lagi memberikan ruang, tempat, ataupun panggung bagi yang namanya kepentingan umum (al-manfa‘ah al-‘āmmah).

Urusan hajat hidup orang banyak, urusan kemaslahatan umat, urusan masa depan organisasi, semua itu akan dianggap sepi. Terbengkalai. Kenapa? Karena setiap orang di dalamnya sudah berubah menjadi egois, sibuk menyelamatkan diri masing-masing, atau sibuk berburu keuntungan pribadi di tengah air keruh.

Filsafat Organisasi dan Rombongan Bus Mogok

Sekarang, mari kita bawa analisis ini ke ranah filsafat organisasi. Saya punya metafora yang paling pas, yang sangat nyata dan sering kita lihat di jalanan kita hari ini.

Bayangkan ada sebuah bus kota yang mendadak mogok di tengah jalan. Asap mengepul dari kap mesinnya. Di dalam bus itu, ada banyak sekali penumpang. Penuh sesak.

Dalam kondisi yang ideal—kondisi ketika batin para penumpang masih sehat dan terikat satu sama lain—mereka semua akan kompak. Secara sukarela mereka akan turun, melipat lengan baju, lalu bersama-sama mendorong bus tersebut agar bisa berjalan lagi. Mereka memikirkan kepentingan bersama: biar semua bisa cepat sampai ke tujuan.

Tapi, bayangkan skenario sebaliknya. Skenario ketika penumpang di dalam bus itu hatinya sudah saling benci (tafarraqat qulūbuhum) dan pikiran mereka sudah disetir oleh ego masing-masing (la‘ibat bi-him ahwā’uhum).

Begitu bus mogok, tidak ada satu pun yang mau menggerakkan badannya. Ada penumpang yang pura-pura tidur. Ada yang asyik main game di ponselnya sambil pasang earphone rapat-rapat. Ada yang mengomel menyalahkan sopir. Dan ada yang sibuk memaki kenek. Mereka sama sekali tidak mau peduli dengan nasib bus tersebut. Mereka mengisolasi diri dalam tempurung kenyamanan sesaat mereka.

Akhirnya apa yang terjadi? Bus tetap mogok. Jalanan macet total. Dan semua orang di dalamnya terjebak dalam kesengsaraan yang sama. Itulah gambaran dari organisasi yang kehilangan ta’āluf.

Komunitas seperti itu, kata Hadratusy Syaikh, akan menjelma menjadi ahādan mujtami‘īna ajsādan, muftariqīna qulūban wa ahwā’an. Mereka bukan lagi umat yang bersatu. Mereka hanyalah sekumpulan individu yang kebetulan berkumpul fisiknya saja, namun batinnya berantakan.

Ini yang saya sebut sebagai “Kekompakan Palsu”.

Secara kuantitas, kalau dilihat dari luar, wadah itu kelihatan ramai sekali. Gedung kantornya megah, ruang rapatnya selalu penuh, anggotanya jutaan. Siapa pun yang melihat dari kejauhan akan terkecoh dan mengira mereka sangat solid.

Tapi begitu kita masuk ke dalam, aslinya garing. Di belakang panggung, mereka saling sikut, saling curiga, saling menjatuhkan, dan tidak memiliki satu rujukan kompas yang sama.

Tahun 2026 dan Kutukan Kerumunan Kosmetik

Hadratusy Syaikh kemudian mengunci analisis sosial ini dengan amat telak. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an, Surah Al-Hasyr ayat 14: Tasabuhum jamī‘an wa qulūbuhum syattā. Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berbeda-beda.

Pada ayat ini, Allah tidak menggunakan kata tarāhum (kamu melihat mereka), melainkan tasabuhum (kamu mengira/menyangka).

Ada beda besar antara “melihat” dan “mengira”.

Kalau melihat, itu murni fakta mata. Tapi kalau “mengira”, itu berarti ada sebuah pencitraan yang begitu rapi. Sebuah kalkulasi visual yang sengaja diciptakan agar orang luar salah paham.

Secara fisik, mereka kelihatan kompak. Seragamnya sama. Slogannya sama. Duduknya berjejer rapi. Kalau dalam konteks asbābun nuzūl, ini menggambarkan koalisi kaum munafik dan Yahudi Bani Nadhir di Madinah. Dari luar, mereka tampak seperti benteng yang kokoh, siap menggempur apa saja.

Namun, Al-Qur’an menggunakan kata tasabu. Mengapa? Karena kekompakan itu cuma fatamorgana. Kosmetik belaka.

Perhatikan struktur kalimatnya yang begitu ritmis tapi mematikan. Ada kata jamī‘an lalu syattā. Jamī‘an, berasal dari kata al-jam‘u, artinya terkumpul, menyatu secara fisik. Mereka bisa kumpul dalam satu ruangan, satu organisasi, atau satu grup WhatsApp.

Syattā, ini yang menarik. Menurut analisis linguistik, syattā itu bukan cuma berbeda, tapi bertebaran, pecah berantakan ke segala arah tanpa arah jarum kompas yang jelas. Bayangkan sebuah kaca yang dilempar ke lantai. Pyar! Serpihannya terbang ke mana-mana. Itulah syattā.

Jadi, visualnya begini: badannya berdempetan (jamī‘an), tapi hatinya—arah kepentingannya, ketakutannya, egoismenya—saling menjauh berantakan (syattā). Mereka hanya disatukan oleh satu hal: kepentingan sesaat atau musuh yang sama. Begitu kepentingan itu bergeser, atau begitu tekanan datang, tamatlah “persatuan” itu. Mereka akan saling sikut, saling menyalahkan, dan saling menyelamatkan diri masing-masing.

Ayat ini adalah peringatan keras bagi kita semua yang hidup di tahun 2026 ini.

Hari ini, di zaman ketika semua hal bisa dimanipulasi oleh pencitraan digital, “Kekompakan Palsu” itu diproduksi secara massal. Kita sering tertipu oleh angka-angka. Kita tertipu oleh jumlah followers, jumlah peserta rapat akbar, atau jumlah massa yang berkumpul di lapangan.

Filsafat organisasi modern mengajarkan bahwa kekuatan sebuah kelompok atau sebuah bangsa sama sekali tidak bisa dinilai dari seberapa ramai orang yang berkumpul dalam satu ruang atau lapangan terbuka. Bukan. Itu hanya statistik kosmetik.

Kekuatan sejati itu diukur dari hal yang tak tampak: seberapa menyatunya hati mereka dalam memperjuangkan satu nilai kebaikan bersama. Kesamaan visi batiniah.

Fisik yang kumpul itu sama sekali tidak ada gunanya jika hatinya saling bermusuhan. Keramaian tanpa kesatuan batin hanyalah sebuah ilusi. Hanya kerumunan kosmetik yang akan langsung bubar berantakan begitu ditiup angin badai ujian yang kecil. Mereka akan langsung sibuk menyelamatkan ego masing-masing, melupakan kapal besar yang sedang mereka tumpangi bersama.

Maka, lewat tulisan ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk kontemplasi. Periksalah kembali organisasi Anda. Periksalah kembali perusahaan Anda. Periksalah kembali komunitas Anda, bahkan negara kita tercinta ini.

Apakah kita ini benar-benar sebuah barisan yang kokoh dengan hati yang terpaut? Atau, jangan-jangan, kita ini hanyalah rombongan penumpang bus mogok yang sedang sibuk dengan ego dan ponsel kita masing-masing, sementara kendaraan yang kita tumpangi perlahan-lahan mulai terbakar?

Jawabannya, seperti biasa, ada di dalam kejujuran hati Anda sendiri. Anda sudah tahu kelanjutannya.