Filsafat Sudah Selesai, Saya Belum

Oleh. M. Rachmatullah Arken

Filsafat Sudah Selesai, Saya Belum

Hari ini kembali tersesat di Gramedia. Mata saya terpaku pada jajaran buku-buku filsafat yang entah kenapa masih bisa bersaing dengan beragam buku motivasi dan susastra itu. Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Filosofi Teras, Filsafat Kecemasan, Filsafat Kematian, Mliestone: Filsafat Praktis untuk Kemajuan Karir, Merleau-Ponty dan Kebertubuhan, Para Filsuf Muslim Paling Berpengaruh, Pengaruh Ibn Rusyd terhadap Pemikiran Eropa, lalu tak lupa karya sang legenda Tan Malaka yang sudah dicetak dan direproduksi entah untuk yang ke berapa kalinya, Madilog: Materialisme Dialektika & Logika. Ini aneh, bukankah sejak 1964, beberapa dasawarsa yang lalu, si empunya eksistensialisme, Pak Heidegger justru sudah memproklamirkan kematian filsafat? Kenapa tiba-tiba rame lagi dengan segala bentuk publikasinya?

“Philosophy is ending in the present age. It has found its place in the scientific attitude of socially active humanity,” ujar Heidegger, dalam artikelnya yang terkenal, “The end of philosophy and the task of thinking.” Filsafat udah habis. Ia digantikan oleh sains-sains khusus yang mengajarkan sikap ilmiah pada seluruh warga. Semua persoalan, mulai dari sakit gigi, produktivitas di tempat kerja, kebijakan MBG yang belum dievaluasi juga, sampai pertanyaan aneh tentang makna hidup, kenapa saya, anda, atau mantan yang tak pernah salah itu ada di sini, hanya harus didekati dengan metode, verifikasi, dan berbagai kategori kerja yang bisa diuji secara nyata saja.

Sekarang udah ga zaman buat duduk merenung memikirkan nasib dunia, kecuali situ bapak bapak yang sedang kejerat pinjol dan butuh waktu sejenak menatap tembok tetangga berharap ada harta karun di baliknya. Zaman ini, orang hanya harus menyusun detil rencana, dan dengan segenap doa menjalankan rencana itu sampai ada hasilnya. Jika sukses, berarti perhitungannya tak meleset, jika gagal, berarti belum sowan ke mama Ghufron semua faktor diperhitungkan di dalamnya. Apa itu eksistensi dan apakah ia ada lebih dulu dibanding esensi, adalah pertanyaan konyol yang membuat para filsuf itu tak pernah memiliki profesi dengan kerja nyata (ga segitunya juga sih).

Ah, tapi ya Heidegger terlanjur bilang gitu. Lalu, entah kenapa ia kemudian melanjutkan bahwa: “But the fundamental characteristic of this scientific attitude is its cybernetic, that is, technological character. The need to ask about modern technology is presumably dying out to the same extent that technology more definitely characterizes and regulates the appearance of the totality of the world and the position of man in it.” Singkatnya, filsafat udah beres, dan cybernetic adalah gantinya. Kenapa cybernetic? Saya curiga karena ia adalah wajah utama teknologi tertinggi pada masa artikel ini ditulis pak Heidegger. Tak harus cybernetic mungkin, intinya pada teknologi. Nah, teknologi di manapun, bekerja dengan logika yang sama, yaitu lewat input, prediksi, kontrol, umpan balik, optimalisasi. Logika inilah yang menurutnya mendasari berbagai bidang ilmu lainnya, dari Fisika hingga Jarh Ta’dil (ini dari saya).

Apa yang mungkin tak kita sadari dari logika teknologi ini adalah bahwa untuk bertanya pun kita pada akhirnya harus bertanya melalui sejumlah kategori. Tak ada lagi spontanitas di sana. Tak ada lagi keinginan untuk bertanya tentang hal-hal yang mendasar, karena semua sudah dianggap benar. Bertanya tentang mengapa hadis, qur’an, atau sifat Allah didefinisikan begitu, itu pertanyaan yang ga efektif untuk pengembangan ilmu. Sialnya, semua bidang ilmu dengan kurikulum terbaru yang diwajibkan rezim justru menuntut agar ia bermanfaat secara nyata bagi kehidupan. Percuma situ hafal Bulughul maram kalo ndak bisa bikin jembatan.

 

Hutan Lebat dan Lapangan Terbuka

Tentu saja pak Heidegger ga sesederhana dan sedramatis itu menyebut akhir filsafat. Yang dramatis itu dari saya, biar situ ga perlu terpesona sama filsafat. Heidegger sendiri sedari awal memang mewanti-wanti agar orang tidak menganggap bahwa akhir filsafat itu sebagai keusangan, keberhentian, ketidakberdayaan, kemunduran, apalagi kekalahan filsafat oleh apapun itu, sains, agama, seni, Messi, halah.. Sebab kata Heidegger, “what we say about the end of philosophy means the completion of metaphysics.” Akhir filsafat itu karena metafisika udah selesai. Meski bukan berarti ia sempurna dibicarakan atau sudah ada jawaban final tentang apa itu ada, meng-ada, ber-ada, adaan, adapun, adalah, ada band, ada-ada saja. Bagaimanapun, Heidegger ngelanjutin, “we lack any criterion which would permit us to evaluate the perfection of an epoch ofmetaphysics as compared with any other epoch.” Kita ga punya kriteria tertentu untuk menilai bahwa epos metafisika yang satu lebih unggul dibanding yang lain.

Ringkasnya, karena tak ada kriteria penlaian itu, dan karena filsafat ya memang segitu-gitunya, yang cuma seperti burung hantu, datang telat ketika pembicaraan sudah lewat, maka akhir filsafat, lanjut Heidegger, harus dilihat sebagai ruang di mana seluruh sejarah filsafat dikumpulkan dan kita lihat satu-satu. Heidegger sih bilang setelah melihat satu-satu wajah filsafat itu, metafisika ya muaranya adalah Platonisme, yang kemudian disusun terbalik oleh Nietzsche, dan dijungkirkan secara serius oleh Marx. Nah, karena semua kemungkinan metafisika yang paling ekstrim sekalipun sudah muncul, berarti tugas kita membicarakan itu selesai. Emang situ mau nawarin alternatif metafisika yang gimana lagi? Yekan? Kalopun masih harus dibicarakan lagi, orang hanya akan terjebak pada apa yang disebut belio sebagai “epigonal renaissance” (renaisans epigon, cuma ngulang yang sudah ada saja).

Lalu gimana? Ya ga gimana gimana sih. Filsafat sedari awal menyebut dirinya sebagai induk pengetahuan. Filsafat alam melahirkan Fisika, Filsafat jiwa melahirkan Psikologi, Filsafat sosial melahirkan Sosiologi. Maka ketika anak-anaknya sudah besar dan sudah mandiri, ya filsafat tinggal di rumahnya sendiri. Istirahat menunggu mati. Pertanyaan yang mungkin kita munculkan kata Heidegger, jika filsafat yang sedari awal mengajarkan manusia bagaimana bertanya, bagaimana mendapatkan jawaban yang tepat, atau singkatnya bagaimana menggunakan pikiran dengan benar, lantas apa tugas pikiran selanjutnya?

Dengan cara ajaib tiba-tiba Heidegger menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Manusia selama ini dengan filsafat sudah menggunakan pikirannya untuk mencari jawaban atas pertanyaan tentang apapun yang ada di semesta. Tugas yang kemudian dilanjutkan sains seraya membuang induknya. Tapi, ada satu hal yang selama ini terlewat dari filsafat, juga sains, padahal keduanya sangat bergantung padanya, yaitu lichtung. Istilah yang diterjemahkan secara berbeda oleh dua edisi terjemahan artikel Heidegger tersebut. Yang satu bilang ini artinya “opening”, yang satu ini artinya “clearing.” Oke, lupakan perbedaan itu.

Saya hanya bisa memahami bahwa apa yang dimaksud Heidegger dengan lichtung ini sebagai ruang terbuka. Ruang di mana cahaya bisa masuk dan membuat apa yang tadinya tersembunyi bisa terlihat mata. Dalam bahasa Jermah sendiri, setelah cek kamus dan nanya google, lichtung itu artinya “tempat terbuka di hutan.” Bayangkan hutan lebat, di mana cahaya matahari sampai tak bisa masuk, sehingga kita tidak bisa lihat apa-apa. Apa di depan sana ada ular, kaki seribu, atau rusa, kita ga tahu. Semuanya tersembunyi. Lalu di tengah hutan yang lebat itu ada satu lapangan tanpa pohon, tanpa rumput, tanpa apapun. Ruang terbuka di mana cahaya matahari bisa masuk. Lichtung itu adalah itu.

Adanya lapangan terbuka inilah yang memungkinkan segala hal yang dibicarakan dalam metafisika bisa dihadirkan. Adanya lapangan terbuka inilah yang memungkinkan cahaya untuk masuk ke sela hutan sekitarnya dan memberitahu kita bahwa di sana ada ular, ada kaki seribu, ada rusa. Tapi lichtung bukanlah keberadaan atau Being itu sendiri. Ia semacam syarat untuk keberadaan, yang membuat kita bisa bayangin, mikirin, dan ngomongin yang ada. Selama ini kita sudah terlalu sibuk mikirin isi hutan, tapi kita lupa menoleh ke lapangan terbuka yang membuat isi hutan itu bisa kita terlihat adanya. Saya kira, poin Heidegger itu kira-kira begini. Seluruh pemikiran para filsuf, mulai dari Plato sampai Hegel misalnya, juga sebenarnya termasuk kita, diam-diam sudah selalu berjalan di lapangan terbuka itu, di lichtung itu, tanpa pernah menyadarinya. Tugas pikiran berikutnya setelah berakhirnya filsafat adalah menoleh ke lapangan di tengah hutan itu. Rumit ndak?

 

Tentang Dua Bentuk Berpikir dan Mengapa untuk Beberapa Waktu ke Depan Saya Malas ke Gramedia Lagi

Kalo rumit, saya perumit lagi deh. Di eseinya yang lain, “Discourse on Thinking,” pak Heidegger ini sempat berbicara tentang dua bentuk berpikir, yang ia sebut dengan berpikir kalkulatif (calculative thinking) dan berpikir meditatif (meditative thinking). Beda keduanya saya kira cukup jelas, berpikir kalkulatif itu ya berpikir secara efisien, berpikir dalam kategori teknologi, berpikir dengan perhitungan untung rugi, modal dan potensi pendapatan, berpikir untuk menghasilkan, untuk produktif. Sedang berpikir meditatif ya mikir saja secara alamiah, tanpa harus buru-buru nyimpulin, tanpa target, berpikir dengan cara bertanya dan menunggu sampai sesuatu itu membuka dirinya.

Nah, tugas pikiran untuk menoleh lichtung, tempat terbuka di hutan itu, saya kira adalah dengan berpikir secara meditatif ini. Persoalannya, berpikir secara meditatif aka alamiah ini ndak bisa dibuat prosedur tetapnya. Ndak bisa dibuat SOP mikir yang benar jadi lima langkah misalnya. Karena kalo sudah dibuat prosedur, dibuat SOP, ia bukan meditatif lagi. Malah jadi kalkulatif. Lalu ngapain? Ya persis seperti saya di depan rak buku-buku filsafat ini, bengong tapi mikir, mikir tapi bengong. Ga tahu harus gimana, saya kenapa di sini, habis ini baiknya ngopi apa tidur lagi apa beresin disertasi apa ngajak mantan kelahi, apa gimana, misi hidup saya sebenarnya apa?

Mbuhlah, sepertinya pertanyaan-pertanyaan aneh yang terus muncul dalam diri seperti saya sekarang ini yang membuat buku-buku filsafat ndak jelas ini masih dijual, masih ada yang beli. Saya beranjak seraya meletakkan buku terakhir yang saya pegang tanpa sempat membaca apapun di dalamnya. Wajah kasir yang seolah jemu itu menoleh sekilas pada saya. Saya yakin ia menggerutu dalam hati, orang ini lagi, datang, ngacak-ngacak buku tapi jarang beli.  Ya maaf mbak, saya kesini terkadang hanya ingin menyelesaikan pertanyaan dalam pikiran, dan seperti hari-hari yang lain, saya pulang tanpa jawaban.

Filsafat sudah mati, tugas pikiran cuma bernyanyi.

Immanuel Kant was a real pissant
Who was very rarely stable.
Heidegger, Heidegger was a boozy beggar
Who could think you under the table.
David Hume could out-consume
Wilhelm Freidrich Hegel,
And Wittgenstein was a beery swine
Who was just as schloshed as Schlegel.

There’s nothing Nietzsche couldn’t teach ya’
‘Bout the raising of the wrist.
Socrates, himself, was permanently pissed…

John Stuart Mill, of his own free will,
On half a pint of shandy was particularly ill.
Plato, they say, could stick it away;
Half a crate of whiskey every day.
Aristotle, Aristotle was a bugger for the bottle,
Hobbes was fond of his dram,
And Rene Descartes was a drunken fart: “I drink, therefore I am”
Yes, Socrates, himself, is particularly missed;
A lovely little thinker but a bugger when he’s pissed!

 

Monty Python — Bruce’s Philosophers Song

 

WhatsApp
Facebook
Email
Print