Oleh: M. Rachmatullah Arken

Tulisan ini cukup panjang dan penuh dengan berbagai istilah teknis dalam perkuliahan Filsafat Ilmu. Maksud awalnya memang menjadikan ini sebagai tulisan reflektif dan ringkasan atas materi perkuliahan yang saya sampaikan pada mahasiswa. Jadi, jika entah kebetulan atau dengan sadar Anda kesasar kesini, siapkan kopi dan cemilan, lalu bacalah perlahan atau mungkin per dua bagian. Lalu jika bosan, berhentilah, dan kembalilah suatu hari nanti melanjutkan bagian yang lainnya.
Pertanyaan yang Jarang Diajukan
Perkuliahan Filsafat Ilmu di semester terakhir ini memang sudah usai. Saya sudah dalam posisi bara’ah min al-dzimmah alias lepas kewajiban. Meski demikian, dalam pikiran saya tetap saja ada persoalan-persoalan yang mengganjal. Saya masih belum sepenuhnya bisa sampai pada jawaban yang memuaskan, setidaknya untuk satu pertanyaan penting terkait ilmu pengetahuan itu sendiri. Pertanyaan yang, buat saya terlalu penting untuk dibahas, namun sepertinya jarang sekali muncul di pengajaran mata kuliah lain yang berhubungan dengan Filsafat Ilmu itu sendiri (entah itu Metode Penelitian, Epistemologi, atau mata kuliah lainnya). Pertanyaan ini seringkali terlupa karena memang menuntut jawaban yang kompleks dan saya harus menyatakan ia tidak nyaman untuk dibahas sejak awal. Pertanyaannya kira-kira begini, apa sebenarnya yang membuat ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan?
Saya tentu saja tidak sedang bertanya apa yang telah ditemukan ilmu. Saya juga tidak sedang bertanya tentang produk ataupun kontribusi dari ilmu pengetahuan, karena itu jelas adanya. Kita bisa dapat vaksin di saat wabah terjadi, kita bisa menggunakan berbagai perangkat teknologi terbaru untuk berkomunikasi, kita bisa mengetahui teori relativitas umum, atau sesederhana penjelasan mengapa hujan itu harus air, bukan emas. Semua itu jelas kontribusi nyata dari ilmu pengetahuan. Nah, pertanyaan saya lebih menukik ke akar dari semua itu, yakni atas dasar apa suatu pernyataan dianggap ilmiah? Siapa yang memutuskan prosedur mana yang sah? Apakah ilmu benar-benar objektif seperti yang selalu diklaim, atau ada sesuatu di balik klaim objektivitas itu yang perlu kita periksa?
Kebanyakan orang yang saya temui, baik mahasiswa maupun dosen, akan menjawab pertanyaan pertama dengan cara yang kurang lebih sama. Ilmu harus berbasis data. Ilmu jelas harus bisa diuji. Ilmu objektif harus berkesesuaian dengan realitasnya dan tidak bergantung pada pandangan pribadi peneliti. Jawaban-jawaban itu tidak salah memang. Tapipun begitu, ia sangat tidak lengkap. Dan ketidaklengkapan itulah yang selama setidaknya satu abad terakhir menjadi bahan perdebatan keras di antara para filsuf, sejarahwan sains, sosiolog pengetahuan, dan sejumlah pemikir feminis yang tidak puas dengan cara ilmu menjelaskan dirinya sendiri.
Saya bilang perdebatan ini keras, karena memang keras. Ia bukan jenis obrolan di pos ronda di mana orang bisa berbeda opini sambil berkelakar berbagi kopi. Atau di ruang seminar dan diskusi kelas yang masih beradab dan berempati. Perdebatan itu justru layaknya perdebatan ulama klasik yang saling tuding, saling hina, saling kritik, bahkan saling memberi label kekufuran satu dan lainnya. Karl Popper dan Thomas Kuhn misalnya, keduanya berantem serius dan sampai akhir hayat mereka tidak pernah benar-benar berdamai.
Lalu nama penting berikutnya, Paul Feyerabend, berulangkali dituduh sebagai provokator oleh banyak rekannya sendiri. Sandra Harding sempat dicibir oleh ilmuwan-ilmuwan yang merasa pemikiran Harding ini memiliki ancaman serius untuk sains dari dalam. Alan Sokal bahkan menipu satu jurnal ilmu-ilmu sosial untuk membuktikan bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka terbitkan (hampir semua jurnal terakreditasi Sinta seperti ini sih). Nah, tulisan ini pada dasarnya mencoba merangkum semua perdebatan itu, sambil sesekali berpendapat tentang siapa yang menurut saya lebih mendekati kebenaran untuk menjawab berbagai pertanyaan yang mengganggu.
Ambisi Wina dan Ketika Filsuf Merasa Perlu Menyatukan Semua Ilmu
Untuk memahami mengapa perdebatan ini terjadi, kita perlu kembali ke Wina pada awal tahun 1920-an. Di sana, di sebuah lingkaran diskusi mingguan yang kemudian dikenal sebagai Wiener Kreis atau Lingkaran Wina, berkumpul sejumlah ilmuwan dan filsuf membahas satu proyek yang sangat ambisius. Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, Hans Hahn, dan kemudian A. J. Ayer (yang terakhir ini tadinya cuma tamu dari Oxford dan setelah ngopi sambil diskusi di sana, ia pulang membawa gagasan-gagasan itu ke Inggris), semuanya sepakat pada satu keyakinan dasar. Bahwa filsafat selama ini terlalu banyak membuang waktu untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermakna. Apa makna dari jawaban atas pertanyaan bagaimana yang ada itu ada? Hah, apa coba?
Para filsuf ini sedemikian serius menyapakati itu. Sampai, sebagian besar pernyataan metafisik, etis, teologis, yang selama berabad-abad dipersoalkan oleh para filsuf itu dianggap bukanlah bentuk pernyataan yang bisa diverifikasi benar atau salahnya. Ia hanya pernyataan yang tidak bermakna secara kognitif. Kenapa? Ya karena memang tidak ada cara untuk memverifikasinya secara empiris.
Lalu dari prinsip bahwa kebermaknaan ini berakar pada keharusan bisa dibuktikan, maka muncul prinsip verifikasi untuk semua jenis klaim ilmu. Bahwa suatu pernyataan hanya bermakna jika ia bisa diverifikasi secara empiris atau benar secara analitis (dalam artian benar berdasarkan logika definisi, seperti “semua bujangan adalah lelaki yang belum menikah”, “tidak ada lingkaran yang persegi”, dan lainnya). Darinya, pernyataan-pernyataan seperti “Tuhan itu ada”, “kecantikan adalah ekspresi harmoni universal”, atau “jumlah Malaikat yang wajib dihafal namanya ada 10”, jelas merupakan pernyataan-pernyataan yang tak bermakna. Obrolan ruang keluarga. Tidak salah, tidak juga benar. Ia tidak bermakna secara kognitif, seperti bunyi pernyataan “Gajah yang bersembunyi di pom bensin, namun tertidur di sela kenaikan harga BBM” yang secara gramatikal oke saja, tapi memang tidak mengatakan apa-apa.
Proyek besar lingkaran diskusi Wina ini, jika boleh saya rangkum secara kasar, adalah upaya penyatuan (unifikasi) seluruh ilmu dalam satu bahasa logis yang bersih. Fisika dijadidkan fondasi. Lalu Biologi, psikologi, sosiologi, dan berbagai bidang ilmu lainnya itu, semuanya harus bisa direduksi atau diterjemahkan ke dalam pernyataan-pernyataan fisika, pada akhirnya. Tidak ada pembagian antara ilmu alam dan ilmu manusia yang tidak bisa dijembatani. Semua bisa disatukan dalam satu sistem pengetahuan yang koheren, terverifikasi, dan bebas dari apa yang mereka sebut sebagai kemubaziran metafisik. Carnap bahkan punya proyeknya sendiri untuk membuat bahasa logis universal itu secara formal dalam karyanya Der logische Aufbau der Welt (1928). Sebuah upaya untuk membangun seluruh pengetahuan empiris dari fondasi data inderawi yang paling dasar.
Saya pertama kali membaca kisah ini sempat terkesima. Karena proyek ini memang sangat rapi. Terlalu rapi bahkan. Namun keterkesimaan yang tergesa-gesa itu memang tak cukup untuk menyembunyikan masalah yang ada. Masalah pertama yang muncul, adalah masalah yang memang inheren, alias dari dalam. Bahwa prinsip verifikasi sendiri sebenarnya tidak lolos tes yang ia tetapkan. Pernyataan tentang “sebuah pernyataan hanya bermakna jika bisa diverifikasi secara empiris” jelas bukan merupakan pernyataan empiris. Tidak juga pernyataan itu adalah manifestasi dari kebenaran analitis. Ia adalah klaim normatif yang terasa wah tentang bagaimana bahasa seharusnya bekerja. Dengan kata lain, ia tidak bisa memverifikasi dirinya sendiri.
Para anggota Lingkaran Wina memang menyadari masalah ini. Lalu mereka mencoba berbagai cara untuk menambalnya. Sebagian mencoba memperkenalkan berbagai modifikasi teknis dengan melemahkan prinsip “verifikasi” menjadi semata “konfirmabilitas”. Tapi ban itu sudah bocor, dan tambalan yang ada tetap membuatnya tak elok dan berpotensi bocor lagi.
Selain masalah inheren itu, muncul juga pertanyaan yang keras dari luar. Apakah ilmu memang bekerja dengan cara verifikasi seperti yang dibayangkan Lingkaran Wina? Apakah ilmuwan di laboratorium sesungguh-sungguhnya cuma mengumpulkan data, lalu menginduktifikasikannya (jir, rumit kali ini istilah) menjadi hukum umum, seperti yang tampak dalam buku teks metodologi? Seseorang yang belajar sejarah sains dengan serius (seperti yang bukan saya), dan tidak hanya membaca rekonstruksi idealnya, pasti akan segera meragukan gambaran itu. Dan seseorang yang bukan saya itu, dan yang paling keras suaranya, adalah tokoh bernama Karl R. Popper.
Karl Popper dan Kenapa Ilmu yang Bagus Justru Harus Siap Salah
Karl Raymond Popper lahir di Wina tahun 1902. Ia tumbuh di kota yang sama dengan para anggota Lingkaran Wina lainnya. Karena itu, ia mengenal perdebatan mereka dari dekat, wong tetangga. Popper ini, meski pada akhirnya tidak setuju dengan banyak kesimpulan mereka, ia berbagi keprihatinan yang sama tentang kerigidan metafisika yang tak penting itu.
Ada satu momen yang ia ceritakan sendiri dalam otobiografinya, Unended Quest (1976), yang menurutnya menjadi titik awal pemikirannya. Tahun 1919, ia menghadiri ceramah-ceramah Alfred Adler tentang psikologi individual, kuliah tentang teori Marx, dan mengikuti konfirmasi teori relativitas umum Einstein oleh Arthur Eddington melalui pengamatan gerhana matahari di Pulau Principe. Dari ini semua, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ketiga teori itu, marxisme-nya Marx, psikoanalisis Freud dan Adler, serta relativitas Einstein, sama-sama terlihat “bisa menjelaskan apa saja.” Tapi ada perbedaan mendasar di antara ketiganya yang Popper pikir sangat penting dalam konteks ilmu pengetahuan yang baik.
Teori relativitas Einstein, dibanding kedua teori lainnya, adalah satu-satunya teori yang berani dan siap untuk salah. Einstein bahkan menyatakan secara eksplisit, jika pengamatan Eddington menghasilkan angka tertentu, maka teorinya ini salah. Einstein, seperti James Bond dalam Casino Royale, menaruh semua taruhannya di atas meja bahkan sebelum kartu dibuka. Nah, marxisme dan psikoanalisis, sebaliknya, tidak pernah benar-benar berani dan siap untuk salah. Keduanya selalu punya cara untuk menjelaskan apapun yang terjadi. Keduanya selalu bisa berkelit ketika ditunjukkan fakta yang berbeda dari teorinya. Jika gerakan buruh berhasil, itu karena materialisme historis bekerja. Jika gagal, itu karena kesadaran kelas belum cukup matang, atau ada pengkhianatan dari agen borjuis. Tidak ada kondisi X yang, jika terjadi, akan memaksa pengikutnya mengakui bahwa teorinya salah. Pun demikian dengan psikoanalisis. Jika pasien membaik, terapi berhasil. Jika tidak membaik, ada resistensi yang perlu diatasi. Teori tidak pernah kalah. Teori tak salah.
Saya seringkali menjelaskan soal ini pada mahasiswa dengan contoh pernyataan “semua angsa berwarna putih”. Bagi Popper, ini adalah contoh pernyataan teoritis yang baik, karena berani dan siap untuk salah. Kesiapannya ditunjukkan oleh fakta bahwa kita hanya perlu satu saja angsa yang tak berwarna putih untuk menggugurkan pernyataan itu. Garis pemutusnya jelas dan tegas. Jika ternyata terbukti ada angsa yang berwarna hitam (seperti kasus angsa hitam Australia), maka dengan sendirinya pernyataan awal tersebut adalah salah, dan karenanya harus direvisi. Tegas, tak perlu alasan ini itu, tak perlu berkelit. Revisi dan beres.
Intuisi Popper pada titik ini cukup tajam. Kekuatan eksplanatif yang dimiliki oleh marxisme atau psikoanalisis, yang tampaknya tak terbatas itu, bagi Popperlah tidak menunjukkan bahwa teorinya canggih dan sempurna. Ia justru menjadi tanda kelemahannya secara epistemologis. Lalu saya ingat ungkapan yang seringkali dinisbatkan pada Imam Syafi’i bahwa orang yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan pada dirinya, sebenarnya adalah tanda bahwa ia bodoh atau gila. Lupakan. Nah, dari intuisi kritis inilah Popper kemudian membangun kritiknya terhadap positivisme para filsuf Lingkaran Wina. Popper kemudian menuangkan kegelisahannya ini dalam karyanya Logik der Forschung (1934) (kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris berjudul The Logic of Scientific Discovery tahun 1959).
Popper memang setuju dengan para pemikir Lingkaran Wina terkait pentingnya memisahkan ilmu dari non-ilmu. Pemisahan itu perlu, Popper tak menolak itu. Apa yang dipersoalkan oleh Popper adalah kriterianya. Verifikasi (logis dan empiris), bagi Popper, adalah standar yang salah untuk pemisahan tersebut. Alasannya berkaitan dengan masalah yang sudah dari dua abad lalu muncul dan tidak pernah benar-benar terjawab. David Hume, filsuf Skotlandia abad ke-18, menunjukkan bahwa generalisasi induktif, yaitu cara kita menyimpulkan hukum umum dari serangkaian kasus tertentu, tidak bisa dijustifikasi secara logis. Kita bisa mengamati seribu angsa putih di Eropa, dan atas dasar itu kita simpulkan bahwa semua angsa berwarna putih. Tapi satu angsa hitam di Australia sudah cukup untuk meruntuhkan kesimpulan itu. Dan jelas tidak ada jumlah konfirmasi sebelumnya yang bisa menjamin tidak ada angsa berwarna non-putih lain di tempat yang belum kita kunjungi.
Induksi tidak pernah memberikan kepastian. Ia hanya memberikan probabilitas. Lalu, sebanyak apapun penambahan jumlah kasus, tetap tak bisa membuat probabilitas itu menjadi kebenaran universal.
Popper menerima argumen Hume ini. Tapi responsnya berbeda dari mereka yang mencoba menyelamatkan induksi dengan berbagai cara. Popper sebaliknya, justru beranggapan bahwa jika kita memang tak bisa membuktikan teori secara penuh (karena kasus selalu spesifik dan parsial), bukankah bisa membantahnya? Bukankah kita bisa membuktikan kesalahannya? Lalu merevisinya. Dan itulah yang seharusnya menjadi kriteria ilmu.
Inilah yang disebut oleh Popper sebagai falsifikasionisme. Sebuah teori ilmiah harus dengan tegas bisa menyatakan kondisi apa yang, jika terjadi, akan membuktikan dirinya salah. Semakin spesifik larangan yang ditetapkan teori (semakin banyak hal yang dinyatakan “tidak akan terjadi”), dan semakin besar kandungan empirisnya, maka semakin ilmiah teori itu. Teori yang bisa menjelaskan apapun tentang dunia, jelas sebenarnya tidak mengatakan apa-apa tentang dunia.
Implikasinya bagi cara kita memahami ilmu cukup besar. Popper mengajukan modus tollens sebagai logika dasar sains. Jika teori T benar, maka harus ada prediksi P yang mengikutinya. Jika P tidak terjadi, T harus ditolak. Kita tak perlu mengkonfirmasi berulangkali soal P, karena itu tidak menambah kepastian apapun. Ilmu maju dan berkembang tidak bisa dibayangkan sebagai tumpukan kebenaran. Ilmu berkembang harus dilihat sebagai medan di mana kesalahan disisihkan. Soal ini nantinya menjadi argumen utama Popper dalam karyanya yang lain, Conjectures and Refutations (1963). Bahwa ilmu bergerak melalui siklus masalah, hipotesis spekulatif, upaya pemfalsifikasian, lalu muncul teori yang lebih baik. Ilmu bukan akumulasi kebenaran, tapi eliminasi kebohongan.
Melalui kriteria baru ini, Popper kemudian menyatakan hal yang mengejutkan banyak orang pada masanya. Marxisme dan psikoanalisis Freud itu tak bisa kita sebut sebagai ilmu. Keduanya tak salah, karena tidak ada kondisi yang bisa membuktikan mereka salah. Pernyataan Popper ini tidak bermaksud mengejek Marx atau Freud tentu saja. Tapi tetap saja, di kalangan intelektual kiri Eropa tahun 1930-an, pernyataan itu dianggap sebagai genderang perang. Pukulan telak yang harus dibalas dengan pukulan bertubi.
Oke, lupakan nasib Popper bagaimana setelah itu. Sekarang, apa masalahnya dengan Popper? Setidaknya ada dua hal yang terpikirkan ketika menyusun berbagai materi untuk perkuliahan Filsafat Ilmu di awal semester ini.
Pertama, falsifikasi dalam praktiknya tidak sesederhana dan semulus dalam bayangan Popper. Dan saya kira, Pierre Duhem sudah menunjukkan ini bahkan sebelum Popper. Argumennya kemudian dikenal sebagai masalah Duhem-Quine. Menurut Duhem, ketika prediksi dari teori T tidak atau belum terkonfirmasi oleh observasi, kita tidak langsung tahu mana yang salah. Apakah teorinya, atau salah satu dari sekian banyak asumsi tambahan yang kita gunakan untuk menghubungkan T dengan observasi itu, atau faktor lainnya. Jika buah Apel yang kita lempar tidak jatuh dengan akselerasi yang diprediksi, apakah gravitasinya yang salah, alat ukurnya yang bermasalah, ada pengaruh angin yang tidak diperhitungkan, atau mengikuti al-Ghazali Tuhan menghendakinya demikian? Dalam eksperimen nyata, situasinya hampir selalu seperti itu. Teori tidak pernah berdiri dan diuji sendirian.
Kedua, dan dalam hemat terbatas saya ini paling penting, gambaran Popper tentang ilmuwan yang terus-menerus berusaha membantah teorinya sendiri tidak pernah sesuai dengan cara ilmuwan sesungguhnya bekerja dalam sejarah. Ilmuwan yang “baik” tidak datang ke laboratorium atau ke ruang-ruang akademik setiap harinya dengan niat menyalahkan teorinya sendiri atau memfalsifikasi hipotesis yang mereka percayai. Mereka datang untuk memecahkan masalah dalam bingkai teoritis yang sudah ada (dan sudah banyak terbukti). Fakta inilah yang kemudian dilihat oleh Thomas Kuhn sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan dan membantah Popper tersebut.
Thomas Kuhn dan Ilmuwan Tidak Membaca Buku Teks Metodologi
Karya masterpiece Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions terbit pada 1962 dalam seri International Encyclopedia of Unified Science, sebuah proyek positivis warisan Lingkaran Wina. Saya membaca versi Indonesianya waktu kuliah dulu. Terbitan Rosda, The Structure of Scientific Revolutions: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, meski tak banyak yang bisa saya pahami pada masa itu. Oke, sebelum membahas Kuhn, saya pikir ada ironi yang cukup lucu di sini. Entah mengapa buku-buku yang paling banyak menantang gambaran positivis tentang ilmu justru muncul dari dalam proyek positivis itu sendiri. Termasuk karya Thomas Kuhn ini.
Kuhn tadinya adalah seorang fisikawan yang kemudian beralih profesi menjadi sejarahwan sains. Pergeseran karir Kuhn ini penting untuk diingat. Karena itu artinya Kuhn tidak menulis sebagai filsuf yang berargumen tentang bagaimana ilmu seharusnya bekerja secara normatif. Ia menulis sebagai orang yang sudah pernah berada di sana. Ia sudah menghabiskan bertahun-tahun dari hitungan usianya membaca catatan laboratorium, surat-menyurat ilmuwan, dan kontroversi-kontroversi yang terjadi dalam sejarah fisika dan astronomi. Karena itu pula, ia mengerti dengan baik bahwa pengalamannya selama ini justru tidak cocok dengan gambaran positivis maupun gambaran Popper tentang ilmu yang bersih dan rasional tersebut.
Salah satu contoh yang sering ia bahas adalah Revolusi Kopernikan. Dalam narasi populer, Copernicus datang dengan sejumlah bukti A, B, C, dan seterusnya tentang kemungkinan matahari sebagai pusat tata surya. Sejumlah bukti itu meyakinkan komunitas ilmiah, dan singkatnya, model heliosentris kemudian menggantikan model geosentris secara mulus. Gambaran klasik pergantian paradigma itu begitu mulus dan rapi. Tapi kenyataannya sebenarnya sangat berbeda.
Sistem heliosentris Copernicus pada awalnya tidak lebih akurat dalam memprediksi posisi planet dibanding sistem Ptolemaeus yang sudah lama ada dan dipercaya. Copernicus bahkan dalam beberapa hal lebih rumit, karena ia tetap menggunakan epicycle. Ilmuwan yang menolak Copernicus pada masanya juga bukanlah orang-orang yang bodoh atau keras kepala. Mereka punya sejumlah alasan yang cukup masuk akal berdasarkan bukti yang tersedia saat itu untuk menolaknya. Bagi Kuhn, pergeseran terjadi tidak sesederhana bayangan Popper bahwa karena ada satu bukti yang bisa memfalsifikasi sistem lama, lalu terjadi perubahan dengan segera. Pergeseran itu terjadi secara perlahan dan seiring kesiapan komunitas ilmiah dalam membangun keyakinan baru yang lebih sanggup menampung fenomena yang makin sulit dijelaskan oleh sistem lama.
Dari pengamatan-pengamatan historis atas sains seperti inilah Kuhn membangun konsepnya yang paling terkenal (dan sekaligus paling sering disalahpahami) tentang paradigma. Paradigma dalam pengertian Kuhn yang teknis sebenarnya tidak bisa dinyatakna sebagai “kerangka pikir” sebagaimana istilah ini berulangkali dipakai hari ini (termasuk dalam banyak buku teks metodologi penelitian kita). Bagi Kuhn, paradigma adalah konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dan terutama exemplars, yaitu contoh-contoh teladan tentang bagaimana memecahkan masalah, yang diterima dan dipakai bersama oleh komunitas ilmiah tertentu. Konstelasi ini tidak hanya berisi teori. Ia juga mencakup cara kita melihat masalah, cara memutuskan apa yang dihitung sebagai solusi yang sah, instrumen yang dianggap relevan, dan standar penjelasan yang baik.
Bayangkan begini, Fisika Newtonian yang dipercaya penuh pada masanya tidak hanya soal teori gravitasi atau mekanika. Belajar Fisika berarti juga belajar tentang cara para mahasiwa fisika abad ke-18 belajar membaca dunia melalui mekanika Newton, contoh-contoh soal yang mereka kerjakan, dan asumsi-asumsi metafisis tentang ruang, waktu, dan kausalitas yang menopang semuanya. Nah, dengan definisi seperti itu, Kuhn kemudian menggambarkan dua mode kerja ilmu yang sangat berbeda satu dan lainnya.
Mode pertama adalah apa yang ia sebut sebagai normal science (sains normal). Dalam mode ini, komunitas ilmiah beroperasi dalam bingkai paradigma yang sudah diterima secara luas. Ilmuwan pada akhirnya tidak lagi menguji paradigma itu (buat apa juga kan?). Mereka menggunakannya untuk memecahkan masalah yang ada. Kuhn menyebut ini sebagai puzzle-solving. Jika eksperimen tidak menghasilkan hasil yang diprediksi, yang pertama dipertanyakan bukan paradigmanya, tapi eksperimennya, alat ukurnya, atau kemampuan penelitinya. Bagi para ilmuwan, cara ini adalah cara yang sangat efisien untuk mengakumulasi pengetahuan dalam bingkai yang sudah ada. Dan inilah yang sebenarnya mengisi sebagian besar waktu ilmuwan sepanjang sejarah.
Saya mencontohkan begini biasanya pada mahasiswa Prodi IAT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) yang saya ajar. Bayangkan jika anda sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi). Anda memutuskan untuk meriset tafsir ayat-ayat tertentu dari tokoh mufassir tertentu. Jika dalam penelitian itu, yang entah bagaimana caranya, tiba-tiba Anda menemukan ada yang tak sesuai antara penafsiran sang mufassir dengan kaidah-kaidah tafsir yang selama ini Anda pelajari di bangku kuliah, apa yang pertama kali Anda lakukan? Hampir pasti bukan mempertanyakan kaidahnya bukan? Mustahil juga Anda mempertanyakan kebenaran ayatnya.
Apa yang pertama Anda lakukan mungkin adalah mempertanyakan diri sendiri. Mungkin saya salah baca. Mungkin edisi kitab yang saya gunakan berbeda dengan edisi yang dimaksud pembimbing. Mungkin saya kurang memahami konteks maqam al-kalam-nya. Mungkin ada kata dalam teks Arab itu yang saya keliru menerjemahkannya. Anda akan kembali ke teks, memeriksa ulang transliterasi, mencocokkan dengan edisi lain, bertanya kepada pembimbing, membaca literatur sekunder yang membahas mufassir yang sama. Semua itu Anda lakukan sebelum sampai pada kesimpulan bahwa ada yang bermasalah pada kaidahnya. Nah, begitulah kita-kira bayangan Kuhn tentang perkembangan ilmu.
Mode kedua adalah scientific revolution (revolusi ilmiah). Mode ini terjadi ketika sejumlah anomali menumpuk sampai tidak bisa lagi diabaikan atau diatasi dengan penyesuaian kecil. Komunitas ilmiah harus masuk ke fase krisis. Para ilmuwan, seringkali yang lebih muda dan belum terlalu berinvestasi pada paradigma lama, lalu mulai mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang sebelumnya tidak tersentuh karena dianggap benar begiitu saja. Lalu, jika kondisinya tepat, maka terjadilah pergeseran (shifting). Pada mode ini, kita tidak bisa membayangkan pergeseran tersebut sebagai perbaikan bertahap dari paradigma lama, karena faktanya tidak begitu. Pergeseran ini menurut Kuhn adalah pergantian total. Fisika Newtonian tidak “diperbaiki” oleh fisika Einstein. Ia digantikan oleh cara melihat ruang, waktu, dan gravitasi yang secara fundamental memang sangat berbeda.
Pada titik ini pula Kuhn kemudian membicarakan sesuatu yang membuat banyak para filsuf ilmu tidak nyaman. Satu konsep bernama incommensurability alias ketakterbandingan. Dua paradigma yang berbeda tidak bisa dibandingkan secara langsung menggunakan standar netral yang sama-sama diakui keduanya. Sebab standar itu sendiri adalah bagian dari paradigma. Ilmuwan dalam keyakinan atas fisika Newtonian dan ilmuwan dalam iman pada relativitas umum Einstein, tidak hanya punya teori berbeda tentang gravitasi. Mereka menggunakan berbagai istilah konseptual yang dipahami secara berbeda, entah itu “massa,” “ruang,” “waktu”, dan lainnya. Perdebatan di antara keduanya tidak bisa diselesaikan dengan mengacu pengandaian tentang “fakta” yang netral, karena apa yang dihitung sebagai fakta, cara mengamatinya, dan standar eksplanasi yang diterima, sedari awalnya sudah merupakan produk dari masing-masing paradigma.
Kondisi ini jelas memiliki konsekuensi yang besar pada anggapan tentang rasionalitas ilmu yang netral dan objektif. Jika tidak ada standar netral untuk memilih antara dua paradigma yang berkompetisi, apakah pilihan itu rasional? Atau ia pada akhirnya lebih menyerupai konversi, sebagaimana pernah dinyatakna oleh Kuhn sendiri? Kuhn menulis bahwa pergantian paradigma ini menyerupai “pergeseran gestalt,” seperti gambar yang bisa dibaca sebagai bebek atau kelinci tergantung dari sudut mana Anda melihatnya, dan tidak ada cara untuk melihat keduanya sekaligus dari dalam satu bingkai. Buat yang tak percaya coba googling gambar “ilusi bebek kelinci” tersebut.
Para filsuf ilmu, terutama yang berada dalam tradisi Popperian, jelas bereaksi keras. Imre Lakatos, seorang kolega dan murid dari Popper, menulis bahwa gambarn Kuhn tentang sains terasa seperti mob psychology. Jika suatu paradigma dipilih tidak berdasar alasan rasional, tapi karena komunitas ilmiah secara kolektif beralih padanya, maka ilmu tidak berbeda jauh dari perpindahan agama secara massal. Itu tuduhan yang cukup pedas memang. Tapi saya memahami kekhawatiran ini. Jika ilmu semata persoalan penerimaan komunitas, atau jika suatu teori menjadi benar hanya tatkala ada yang mendukungnya, maka di mana sisi ilmiahnya?
Kuhn memang sempat menjawabnya. Kuhn berargumen bahwa ia tidak mengatakan pilihan antara paradigma itu irasional, tapi memang tidak ada algoritma yang bisa memutuskannya secara mekanis. Lagipula, bukankah soal menerima itu seringkali sangat subjektif? Apa alasan Anda memilih si dia yang mirip kura-kura itu dibanding yang lainnya? Betul bahwa ada pertimbangan-pertimbangan yang secara umum diakui, seperti akurasi, konsistensi internal, lingkup, kesederhanaan, dan produktivitas. Tapi bagaimana pertimbangan-pertimbangan itu ditimbang terhadap satu sama lain, dan kapan sebuah anomali dianggap cukup serius untuk memulai krisis, itu melibatkan penilaian komunal, bukan logika deduktif yang bersih dari penilaian subjektif.
Apapun itu, karya Thomas Kuhn tersebut sudah menjadi salah satu buku paling banyak dikutip di luar bidang aslinya sepanjang abad ke-20. Dan istilah “paradigma” menjadi kata yang dipakai semua orang untuk menggambarkan hampir apa saja hari ini. Paradigma pendidikan baru, paradigma kepemimpinan, paradigma pemasaran digital. Di Manisi, belakang kampus UIN itu, paradigma bahkan menjadi nama kos-kosan (dan saya pernah jadi salah satu penghuninya). Saya membayangnkan bahwa Kuhn sepertinya sulit untuk bergembira dengan perkembangan ini. Tapi ya itulah risiko menulis buku yang terlalu berpengaruh.
Bedford College, 1965. Satu Ruangan dan Empat Filsuf yang Bertengkar
Tiga tahun setelah karya Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions terbit, Imre Lakatos mengorganisir sebuah kolokium di Bedford College, London. Tema yang diangkat cukup bombastis. Criticism and the Growth of Knowledge. Pesertanya antara lain Popper, Kuhn, Lakatos sendiri, Feyerabend, John Watkins, dan beberapa nama besar lainnya. Prosidingnya kemudian diterbitkan pada 1970 dalam volume dengan judul yang sama, di mana buku ini nantinya menjadi salah satu dokumen paling penting dalam sejarah filsafat ilmu abad ke-20. Sialnya, buku ini penting karena perdebatannya justru belum selesai di sana.
Sebelum masuk ke apa yang terjadi di kolokium itu, ada baiknya saya ceritakan sedikit tentang Lakatos, karena ia adalah tokoh yang paling banyak bekerja di balik layar acara itu, dan nanti di bagian berikutnya saya akan mengulas pemikirannya lebih jauh.
Imre Lakatos lahir di Hungaria pada 1922 dengan nama Imre Lipsitz. Ia mengubah namanya dua kali. Pertama namanya menjadi Molnár untuk menyembunyikan identitas Yahudi-nya selama pendudukan Nazi, lalu menjadi Lakatos, yang dalam bahasa Hungaria berarti “tukang kunci.” Agaknya nama ini diambil karena ia memang orang yang senang membuka sesuatu yang terkunci. Ia bergabung dengan Partai Komunis (jir, PKI), kemudian ditangkap oleh rezim Stalinis Hungaria dan dipenjara selama tiga tahun tanpa pengadilan. Setelah keluar penjara, ia terlibat dalam Revolusi Hungaria 1956, melarikan diri ke Barat ketika revolusi itu dihancurkan, dan akhirnya mendarat di Cambridge, lalu London, di mana ia menjadi murid Popper yang paling produktif sekaligus paling sering mendebatnya.
Saya ceritakan ini tidak bermaksud untuk mendramatisir sejarah kehidupan Lakatos agar seperti Malaka yang dikutip banyak aktivis ungkapannya, tapi tak diteladani idealismenya. Lakatos adalah orang yang sudah mengalami sendiri bagaimana keyakinan yang awalnya kokoh secara intelektual bisa runtuh ketika berhadapan dengan realitas yang tidak mau masuk ke dalam kerangka teorinya. Komunisme itu mengalir dalam darahnya, sebagaimana NU yang mengalir di darah kawan saya (pengakuan langsung Ali Mifka). Dan pengalaman itu penting, karena menurut saya, justru sangat mempengaruhi cara Lakatos berpikir tentang bagaimana teori bertahan atau binasa.
Oke, kembali ke Bedford College.
Popper datang ke pertemuan itu dengan posisi yang sudah jelas. Baginya, falsifikasionisme adalah cara yang benar untuk memahami rasionalitas ilmu. Ilmu bisa berkembang ketika seperti Parcok, siap salah. Kuhn juga datang dengan gagasan revolusi dan incommensurability yang mengancam rasionalitas itu. Lalu Watkins, seorang murid Popper, datang dengan niat mengkritik Kuhn, atau paling tidak dengan tuduhan bahwa gambaran Kuhn tentang sains normal pada dasarnya adalah gambaran tentang dogmatisme yang dilembagakan.
Dalam pertemuan itu, Kuhn mempertahankan diri. Ia berargumen bahwa ia sedang mendeskripsikan bagaimana ilmu benar-benar bekerja dalam senyatanya (das sein). Ia tidak sedang memberikan gambar bagaimana seharusnya ilmu bekerja (das solen). Sains normal itu bukan berarti cacat. Sains normal adalah mode ketika ilmuwan bisa bekerja secara efisien. Ilmuwan yang menghabiskan seluruh waktunya mempertanyakan asumsi-asumsi dasar paradigmanya jelas tidak akan pernah menyelesaikan apapun sepanjang hayatnya. Persis seorang rekan yang menghabiskan hari-harinya membaca pdf tafsir Syiah, tapi kelabakan begitu laptopnya bermasalah. Ada pembagian kerja epistemologis yang masuk akal antara mereka yang bekerja dalam bingkai suatu paradigma dan mereka yang sesekali mempertanyakannya.
Lalu kemudian datang juga Feyerabend dengan posisi yang, seperti biasa, paling sulit ditaruh di mana-mana. Ia setuju dengan Kuhn bahwa gambaran Popper terlalu idealis, tak realistis. Tapi ia juga sepakat dengan Popper bahwa Kuhn tidak cukup normatif (apa dah orang ini maunya). Dari posisi yang terasa seperti setuju dengan semua orang itu, Feyerabend justru bergerak menuju kesimpulan yang paling aneh dan radikal dari semua orang yang hadir di ruangan, yaitu bahwa tidak ada metode tunggal yang bisa, atau bahkan seharusnya, menentukan cara ilmu bekerja. Meskipun kesimpulan itu baru ia tulis secara sistematis satu dekade kemudian.
Apa yang menarik dari kolokium ini sebenarnya adalah nada pertengkarannya dan sejumlah argumennya. Dalam prosiding yang diterbitkan kemudian, kita bisa membaca komentar-komentar yang cukup tajam. Popper merasa Kuhn telah salah membacanya. Kuhn merasa Popper tidak benar-benar mengerti apa yang ia katakan. Lakatos mencoba menjembatani keduanya sambil mengembangkan posisinya sendiri yang berbeda dari keduanya. Tidak ada yang pulang dengan merasa pihak lain sudah teryakinkan. Ada bibit dendam yang disimpan oleh semua orang.
Tiga pertanyaan utama yang tidak terjawab di Bedford College, dan yang kemudian menjadi warisan intelektual dari pertemuan itu, kira-kira seperti ini. Pertama, apa kriteria rasional untuk memilih antara dua teori atau dua paradigma yang berkompetisi, jika kriteria itu tidak bisa bersumber dari salah satu teori yang sedang berkompetisi? Kedua, seberapa jauh komunitas ilmiah boleh mempertahankan sebuah teori di hadapan anomali sebelum itu dianggap tidak rasional? Ketiga, apakah ada perbedaan yang bermakna antara menyebut perubahan besar dalam ilmu sebagai “revolusi” dan menyebutnya “kemajuan”? Pertanyaan ini penting karena Kuhn cenderung menggunakan istilah “revolusi.” Popper lebih suka istilah “pertumbuhan pengetahuan.” Dan perbedaan kata itu mencerminkan perbedaan yang sungguh-sungguh tentang apakah ilmu bergerak menuju kebenaran atau hanya bergerak menjauh dari kesalahan.
Lakatos keluar dari kolokium itu dengan satu keyakinan bahwa baik Popper maupun Kuhn tidak sepenuhnya benar, tapi keduanya menangkap sesuatu yang penting. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah sintesis antara keduanya. Dan inilah yang ia kerjakan dalam beberapa tahun berikutnya sampai ia meninggal nantinya.
Imre Lakatos dan Ketika Research Programme Lebih Penting dari Teori Tunggal
Bayangkan Anda adalah fisikawan di abad ke-18. Anda sedang bekerja dalam kerangka mekanika Newton. Suatu hari, pengamatan terhadap orbit planet Uranus (nama planet ini dalam bahasa Inggris memang tak enak dibaca), menghasilkan angka yang tidak cocok dengan prediksi teorinya si Newton. Jika Anda mengikuti resep Popper secara ketat, maka jelas teori Newton harus segera difalsifikasi dan dibuang. Tapi itu yang terjadi bukan seperti itu bukan? Sebab para ilmuwan malah mengajukan hipotesis bahwa ada planet lain yang belum ditemukan yang gravitasinya mengganggu orbit Uranus. Mereka menambahkan hipotesis bantu, mempertahankan Newton, dan pada 1846 Neptunus kemudian ditemukan persis di tempat yang diprediksi. Newton selamat dan bahkan teorinya tampak lebih kuat dari sebelumnya.
Lakatos melihat episode ini sebagai ilustrasi yang sangat baik tentang mengapa unit analisis yang tepat untuk memahami ilmu tidaklah berangkat dari teori tunggal. Tapi melalui apa yang ia sebut sebagai research programme alias program riset. Program riset ini secara ringkas terdiri dari dua lapisan. Lapisan dalam adalah hard core (inti keras), yang merujuk pada sekumpulan asumsi fundamental yang tidak boleh disentuh oleh kritik dalam bingkai program itu. Dalam mekanika Newton, hard core-nya adalah tiga hukum gerak Newton dan hukum gravitasi universal. Ia dilindungi dari falsifikasi langsung oleh apa yang disebut Lakatos sebagai protective belt (sabuk pelindung), yakni kumpulan hipotesis bantu yang bisa dimodifikasi, disesuaikan, atau diganti ketika menghadapi anomali. Ketika orbit Uranus tidak cocok, yang disesuaikan dan atau diubah jelas bukanlah hard core-nya. Justru sabuk pelindungnya yang diperluas dengan hipotesis tentang planet yang belum ditemukan.
Dengan kerangka ini, Lakatos kemudian merasa bisa menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara memuaskan oleh Popper, khususnya tentang mengapa ilmuwan yang rasional tidak membuang teori begitu ada satu anomali. Mereka tidak membuangnya karena mereka sedang mempertahankan sebuah program riset yang lebih besar dari satu teori, dan program itu dinilai tidak berdasarkan apakah ia lolos satu uji tertentu (falsifikasi), tapi berdasarkan trajektori perkembangannya secara keseluruhan. Nah, di sinilah Lakatos kemudian memperkenalkan perbedaan yang paling penting dalam sistemnya, yakni antara program riset yang progresif dan yang degeneratif.
Suatu program riset disebut progresif jika modifikasi pada sabuk pelindungnya menghasilkan prediksi baru yang sebelumnya tidak terantisipasi, dengan syarat prediksi itu kemudian bisa terkonfirmasi secara empiris. Prediksi para ilmuwan tentang keberadaan planet di balik Uranus (Neptunus) adalah contoh klasiknya. Program mengembang, menangkap fenomena baru, dan memandu penemuan. Namun program riset disebut degeneratif jika modifikasi pada sabuk pelindungnya hanya bersifat ad hoc, atau ia hanya menyesuaikan diri dengan fakta yang sudah ada tanpa menghasilkan prediksi baru yang bisa diuji. Program tidak maju karena ia hanya bertahan. Dan program yang terus-menerus degeneratif, kata Lakatos, layak untuk ditinggalkan, meski keputusan itu tidak bisa dilakukan secara mekanis berdasarkan satu momen falsifikasi.
Program riset ini adalah konsep penting karena ia membedakan posisi Lakatos dari Popper secara cukup tajam. Popper sepertinya bisa kita bayangkan menginginkan keputusan yang cepat. Teori muncul, lalu difalsifikasi, jika salah, maka buang, dan orang tinggal cari teori yang lebih baik. Namun Lakatos mengatakan bahwa ilmuwan rasional boleh mempertahankan teori untuk waktu yang lama, bahkan di hadapan sejumlah anomali, selama program risetnya secara keseluruhan memang masih progresif. Kemajuan ilmu tidak diukur per teori, tapi per program, dan tidak per momen, tapi per trajektori.
Lakatos dengan cara ini akhirnya berhasil mempertahankan sesuatu yang sangat ia pedulikan, yakni rasionalitas ilmu. Perubahan teori dalam ilmu bagi Lakatos tidak boleh dibayangkan sebagai semata pergantian kepercayaan komunal seperti yang tampak dalam gambaran Kuhn. Ada sejumlah kriteria rasional yang bisa diterapkan secara retrospektif. Poin ini cukup penting meskipun Lakatos juga mengakui bahwa kadang kita baru bisa menilai setelah kejadian untuk mengevaluasi apakah sebuah program riset layak dipertahankan atau ditinggalkan.
Tapi sekali lagi, tak ada satu artis yang semua menjadi fansnya. Selalu ada hater. Saya misalnya tetap sirik sama Ariel. Begitu juga dengan teori ilmiah. Pada Lakatos pun, tetap ada masalah yang cukup serius, dan Lakatos sendiri tidak pernah benar-benar menyelesaikannya.
Masalahnya, kapan tepatnya sebuah program riset dinyatakan degeneratif secara definitif? Lakatos tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Ia berkata bahwa kita tidak bisa pernah sepenuhnya yakin bahwa sebuah program tidak akan bangkit kembali. Program riset yang tampaknya mati bisa saja direvitalisasi oleh penemuan baru. Dan tentu saja ini bisa benar. Tapi konsekuensinya adalah bahwa metodologi Lakatos tidak pernah bisa memberi tahu ilmuwan kapan saatnya berhenti dan beralih ke program lain. Dalam praktiknya, keputusan itu tetap bergantung pada penilaian komunal yang tidak jauh berbeda dari apa yang digambarkan Kuhn.
Feyerabend, teman lama Lakatos (keduanya pernah memiliki rencana untuk menulis buku bersama dalam format debat, namun tidak pernah terwujud karena Lakatos keburu meninggal), mengkritik ini dengan sangat keras. Ia berargumen bahwa kriteria “progresif versus degeneratif” ala Lakatos ini adalah rasionalisasi retrospektif dari keputusan yang sudah dibuat atas dasar pertimbangan lain. Bagi Feyerabend, kita menyebut program riset Newton “progresif” karena terbukti berhasil, dan kita menyebut yang lain “degeneratif” karena mereka kurang berhasil. Tapi pada saat keputusan itu dibuat, tidak ada cara yang pasti untuk mengetahui mana yang akan menjadi mana.
Lakatos tidak sempat menjawab kritik itu secara tuntas. Ia meninggal mendadak karena aneurisma otak pada Februari 1974, di usia 51 tahun, dan meninggalkan proyek sintetisnya dalam keadaan yang, bisa dikatakan, masih dalam program riset yang progresif tapi ya belum selesai.
Paul Feyerabend dan Anarki yang Lebih Jujur dari Metodologi
Seperti saya bilang sebelumnya, Paul Feyerabend dan Imre Lakatos adalah teman dekat. Keduanya pernah berencana menulis buku bersama dan berdebat di dalamnya. Lakatos mempertahankan rasionalitas ilmu, dan Feyerabend menyerangnya. Judulnya pun sudah disiapkan, yakni For and Against Method. Tapi Lakatos meninggal sebelum proyek itu bisa diselesaikan. Feyerabend kemudian melanjutkan bagiannya sendiri dan menerbitkannya setahun kemudian dengan judul Against Method (1975), yang didedikasikan untuk Lakatos. Ia menulis di kata pengantarnya bahwa buku itu seharusnya menjadi perdebatan yang menyenangkan dengan seorang teman yang sekarang sudah melanjutkan program risetnya di alam yang berbeda.
Argumen utama Feyerabend dimulai dari pertanyaan yang terkesan sederhana. Jika kita mempelajari sejarah ilmu yang sesungguhnya sebagaimana ada dalam kenyataannya, apakah ada satu metode yang secara konsisten diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan yang paling berhasil sepanjang sejarah? Jawaban Feyerabend, setelah ia menelusuri kasus-kasus historis secara sangat rinci, adalah tidak.
Kasus yang paling banyak ia bahas dalam bukunya itu adalah Galileo. Dalam narasi populer, Galileo digambarkan sebagai pahlawan sains yang membela fakta empiris melawan dogma gereja dan keyakinan masyarakat yang bersandar pada ajaran Aristoteles. Tapi ketika Feyerabend memeriksa catatannya lebih teliti, kenyataannya jauh lebih rumit. Galileo misalnya mempertahankan teori heliosentris Copernicus pada saat bukti empiris yang tersedia sebenarnya tidak cukup untuk mendukung teori tersebut secara meyakinkan. Teleskop yang ia gunakan masih tak sebanding dengan kamera iphone 17 atau Samsung S26. Belum pula teleskop tersebut cukup dipercaya sebagai alat ilmiah oleh komunitas pada masanya (karena tidak ada teori optik yang memadai untuk menjelaskan mengapa ia bisa dipercaya). Argumen tentang paralaks bintang yang seharusnya bisa mengkonfirmasi heliosentrisme juga tidak bisa dideteksi dengan instrumen yang ada saat itu.
Tapi apa yang dilakukan oleh Galileo dalam kondisi tersebut, ujar Feyerabend, adalah kombinasi dari retorika yang sangat unik, suatu propaganda ilmiah dalam pengertian yang tidak sepenuhnya bisa dianggap negatif, dan sekaligus keberanian untuk mempertahankan teori melawan bukti yang ada sambil menunggu bukti yang lebih baik datang kemudian. Ia melanggar hampir semua prinsip dan resep metodologis yang dirumuskan oleh Popper maupun Lakatos jauh setelahnya. Dan Galileo benar.
Dari kasus Galileo ini, Feyerabend menyimpulkan sesuatu yang cukup aneh dan jelas menjadi serangan terhadap seluruh proyek epistemologi yang diyakini oleh para filsuf. Bahwa satu-satunya prinsip metodologis yang tidak menghambat kemajuan ilmu adalah anything goes. Apa saja boleh. Pek, kumaha dia. Meski terkesan anarkis, Feyerabend sendiri sebenarnya sangat spesifik tentang apa yang ia maksud dengan semboyan tersebut. Semboyan ini tidak berarti bahwa semua teori sama baiknya atau bahwa tidak ada perbedaan antara Astrologi dan Fisika kuantum. Apa yang dimaksud oleh Feyerabend adalah bahwa tidak ada satu aturan metodologis pun yang tidak pernah, dalam situasi tertentu, “perlu” dilanggar oleh ilmuwan yang ingin menghasilkan kemajuan yang sesungguhnya. Dan ini, dalam bayangan saya, membuat Lakatos dari dalam kubur juga akan tidak nyaman mendengarnya, termasuk aturan-aturan yang ditetapkannya.
Feyerabend melangkah lebih jauh dengan memperkenalkan apa yang ia sebut dengan counter-induction (kontra-induksi). Menurutnya, dalam kondisi tertentu, ilmuwan harus mempertahankan teori yang bertentangan dengan bukti yang ada dan dengan teori yang sudah mapan. Sebab mempertahankan alternatif yang tampaknya kalah sebenarnya adalah cara untuk menjaga proliferasi teori yang diperlukan bagi kemajuan ilmu. Ilmu yang hanya mempertahankan satu teori dominan dan menyingkirkan semua pesaingnya sebelum mereka sempat berkembang, pada dasarnya adalah ilmu yang miskin secara epistemologis. Terlepas dari fakta bahwa teori dominannya secara kebetulan memang benar.
Nah, di titik inilah Feyerabend mengambil langkah yang cukup kontroversial, dan akibatnya sering disalahpahami. Ia berargumen bahwa jika tidak ada metode tunggal yang bisa dijustifikasi sebagai kriteria pembeda antara ilmu dan non-ilmu, maka klaim bahwa ilmu secara epistemologis unggul dari bentuk-bentuk pengetahuan lain seperti mitos, dogma, pengetahuan adat, astrologi, atau ceramah Ghufron, adalah klaim yang tidak bisa dipertahankan secara konsisten. Tentu saja saya yakin Feyerabend juga tidak bermaksud menyatakan bahwa teori bumi datar itu benar adanya. Feyerabend terlalu cerdas untuk membuat argumen sebodoh itu. Yang ia persoalkan adalah klaim bahwa ilmu harus mendapat status istimewa dalam kebijakan publik dan pendidikan, sehingga bentuk-bentuk pengetahuan lain secara otomatis dianggap inferior dan tidak perlu diperhitungkan.
Sebab dalam salah satu karya pentingnya, Science in a Free Society (1978), Feyerabend beralasan bahwa negara demokratis seharusnya tidak memberikan privilege khusus pada ilmu dalam pembuatan kebijakan publik, sama seperti negara demokratis perlu untuk memisahkan diri dari gereja. Masalahnya, pernyataan Feyerabend tersebut, bagi banyak ilmuwan, adalah provokasi yang dianggap sudah melewati batas. Sementara bagi Feyerabend, ini adalah konsekuensi logis dari komitmen terhadap kebebasan dan pluralisme.
Saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan Feyerabend. Ada perbedaan yang harus dipahami antara mengatakan “tidak ada satu metode universal yang bisa dijustifikasi” dengan pernyataan “semua cara mengetahui adalah setara.” Obat medis dan mantra dukun memang dihasilkan dan menggunakan “cara mengetahui” yang berbeda. Tapi tetap saja ada alasan yang sangat konkret dan lebih manuk aqli mengapa salah satunya lebih bisa diandalkan ketika kita sakit. Yang jelas, Feyerabend menangkap sesuatu yang penting, yakni bahwa klaim superioritas epistemik ilmu sering kali menyembunyikan klaim kekuasaan tertentu, yang memang perlu diperiksa.
Bersambung ke Part ~2