Qur’an, Kant, dan Hegel: Liturgi Dostoevsky di Siberia

Oleh: Rachmatullah Arken

Qur’an, Kant, dan Hegel: Liturgi Dostoevsky di Siberia

“Send me the Quran, and Kant’s “Critique of Pure Reason”, and if you happen to be sending secret mail, then be sure to send Hegel – but particularly Hegel’s “History of Philosophy.” Upon that depends my whole future.” —Surat Dostoevsky untuk saudaranya, Feb 22, 1854.

Di titik nol garis bujur Omsk, di ruang ketika udara membeku sebelum sempat menjadi nafas, saya membayangkan Fyodor Mikhailovich Dostoevsky berdiri layaknya sebatang besi yang menolak lapuk. Tubuhnya serupa mayat tapi tak membusuk. Empat tahun ia habiskan dalam penjara. Orang hanya mengenalinya sebagai angka. Tapi Dostoevsky menolak mengkhianati kesadarannya. Ia tak ingin lupa. Karena itu ia menulis, meski dengan pesan yang singkat, sederhana.

Surat itu sampai kepada Mikhail pada Februari 1854. Di dalamnya, Dostoevsky meminta amunisi untuk perang sunyi yang tak disaksikan siapa-siapa kecuali dirinya. “Kirimkan aku Al-Qur’an,” tulisnya. Di Omsk, di balik hamparan salju yang putihnya menghina kejernihan pikiran manusia, Dostoevsky sedang berjuang merebut ‘ada’-nya. Saya membayangkan itu jelas bukan untuk ketenangan. Dostoevsky sepertinya sedang mencari kemutlakan. Sebab al-Qur’an bisa jadi adalah representasi dari yang “liyan”. Kitab suci itu bagi Dostoevsky, sang pesakitan, adalah tawaran otoritas transenden yang tidak butuh pembenaran dari birokrasi Tsar ataupun silogisme Eropa yang perlahan pudar. Ia melihat dalam teks itu ketulusan. Sebuah kehendak tanpa kehendak, yang jika diamini dengan benar mampu menyulam jiwa yang koyak.

Namun Dostoevsky tidak berhenti pada kitab itu saja. Ia juga menuntut Kant, entah kenapa. Ia memilih Critique of Pure Reason, satu traktat filsafat tentang batas akal manusia. Saya tak mengerti mengapa Dostoevsky merasa perlu untuk membedah otaknya sendiri. Kant, sang jam dinding dari Königsberg, memang agak sinis pada kemampuan akal murni. Manusia memang disuruhnya untuk berani berpikir sendiri. Sapere aude! Tapi toh tetap saja Kant membisikkan agar kita tetap berhati-hati. Sebab indera, nalar, dan intuisi, hanya terhenti di fenomena luaran. Kita tak pernah sampai di kedalaman, ucap Kant. Barangkali Kant melihat bahwa tetangganya tak sedisiplin dirinya. Karena itu, ia tetap merasa perlu curiga pada akal manusia.

Tapi traktat rumit Kant inilah yang dipilih Dostoevsky. Apakah dalam perjuangannya melawan lupa, Dostoevsky merasa perlu untuk mengenali batas kognisi? Sekali lagi saya tak mengerti. Saya hanya bisa membayangkan bahwa Dostoevsky, dalam kemelaratan eksistensialnya, ingin memastikan bahwa Tuhan dan kebebasan bukan kesalahan logika. Kebebasan manusia itu jelas absurd di mata mereka yang kering di balik jeruji, dan karenanya ia jelas berada di luar jangkauan nalar murni. Dan Dostoevsky menggunakan Kant untuk menghancurkan kesombongan para intelektual liberal Rusia yang percaya bahwa sains menjanjikan keselamatan. Pesan yang sama pula nantinya bisa dibaca dalam pengakuan Ivan Karamazov kepada Alyosha, dalam novel yang ditulisnya selepas dari penjara. “I can’t expect to understand about God. I acknowledge humbly that I have no faculty for settling such questions, I have a Euclidean earthly mind, and how could I solve problems that are not of this world?” Ya, bagaimana manusia bisa begitu pongah, merasa mampu menjawab semua masalah, sedang akalnya terbatas oleh geometri sejarah?

Fragmen dalam surat itu memang ditutup dengan nada murung. Dan jika sempat, ucap Dostoevsky, kirimkanlah traktat filsafat Hegel. Sebuah nama yang harus dibisikkan dalam surat rahasia. Tapi Hegel bagi saya cukup aneh. Pikirannya terlalu optimis untuk dibaca dari balik penjara. Hegel adalah arsitek dari opini tentang idealisme absolut dengan klaim bahwa sejarah adalah sebuah proses logis menuju kebebasan dan kesempurnaan manusia. Betapa ironisnya! Bayangkan Dostoevsky, sang pesakitan dengan kaki terbelenggu rantai besi meminta buku tentang sejarah sebagai proses pembebasan diri. Tapi barangkali Dostoevsky dengannya ingin melumatkan kegelisahan. Jika Hegel benar bahwa sejarah memiliki tujuan (telos), maka penderitaannya di Siberia jelas bukan kesialan. Ia adalah jalan, dialektika yang diperlukan. Dostoevsky tampaknya ingin percaya ide Hegel tentang pentingnya derita untuk mencapai tujuan yang lebih mulia. Lukanya harus dilihat sebagai tesa, yang harus dibenturkan dengan rasa kalah sebagai antitesa, untuk nantinya menjadi kebebasan sebagai sintesa. Muluk memang, tapi itu yang mungkin dibutuhkan oleh Dostoevsky untuk menolak lupa.

Surat Dostoevsky hari ini memang dibaca sebagai ontologi luka. Darah dalam fiksi, meski lahir dari sebenarnya tragedi. Dostoevsky mengajarkan bahwa penderitaan tanpa narasi intelektual adalah neraka. Namun penderitaan yang berkawan dengan filsafat adalah senjata. Dostoevsky menolak kalah. Ia memilih menjadi subjek yang membentuk sejarah. Di Omsk, Dostoevsky membangun kembali “Aku” yang berkali-kali dihancurkan oleh negara. Status quo selalu menginginkan individu yang patuh atau hancur. Dostoevsky tak ingin terjebak pada salah satunya. Ia menegaskan bahwa kita bisa menjadi monumen yang hidup dengan akal sunyinya. Batas sistemik berupa sel penjara, sensor, kelaparan, baginya hanyalah fenomena. Ia bisa memaksa dirinya untuk menembus kedalaman jiwa yang tak bisa dikekang oleh apapun, termasuk batas akalnya. Manusia modern bisa jadi kenyang dengan informasi, namun lapar akan makna. Sebab ia tidak lahir dari tragedi. Jikapun menderita, ia memilih kalah dan lupa.

Saya membaca surat Dostoevsky hari ini dengan haru. Dari Siberia, Dostoevsky mengajarkan bahwa hanya melalui perjuangan menghadirkan Tuhan dengan pasrah, memahami batas nalar diri, atau menemukan optimisme sejarah, manusia bisa melampaui jeruji eksistensinya.

WhatsApp
Facebook
Email
Print