Oleh: Syihabul Furqon

SAINS, dalam peradaban Islam, bukan tema asing. Jika sains diasosiasikan sebagai ‘ilmu’, maka ia memiliki akar yang kuat dalam Islam. Sebab, anasir dalam Quran mendorong dengan tegas semangat observasi saintifik. Bahkan semangat ini identik dengan fitrah manusia dan bila hal ini ditingkatkan sedemikian rupa, orang yang melakukan itu akan sampai pada kebenaran.
Ilmu, dalam hal ini sains, erat kaitannya dengan kebenaran. Satu persamaan sederhana selalu dituntut untuk benar, tidak saja konklusinya, melainkan juga sejak dari premis-premis awal. Persamaan matematis manapun bila premis awalnya keliru maka konklusinya keliru. Demikian pula, satu persamaan atau modifikasi premis, akan selalu menggiring kita pada konklusi benar.
Dalam pencarian kebenaran, sains (ilmu) dan agama, saling berbagi misteri. Islam yang didasarkan pada aspek pengetahuan dan Iman, bertujuan mencapai kebenaran mutlak. Sains membahasakan ‘mutlak’ sebagai benar. Sebab setiap yang benar pasti benar dan ia akan menolak kondisi sekunder. Artinya, kebenaran adalah kebenaran. Inilah yang diupayakan sains dalam Islam di banyak aspeknya.
Penerjemahan kitab Umar Khayyâm dalam bidang Al-jabar ini tentu saja merupakan sebuah upaya menjembatani jurang yang kadung memisahkan agama (Islam) dengan sains. Padahal dalam perkembangan awal, saat peradaban Barat Eropa dalam masa kelam, Islam bekerja mentransmisikan iluminasi sains, filsafat dan sakralitas serta memajukan studi-studi ilmiah. Semua disiplin ilmu ditanak dalam tungku Islam, menghasilkan spektrum pengetahuan yang luas dan integral. Matematika, filsafat dan logika menjadi disiplin yang sangat populer di samping teologi (Kalam) dan yurisprudensi Islam (Fiqh). Kitab Euclid, Aristoteles, Plato dan banyak korpus utama diterjemahkan, didiskusikan dan dikombinasikan dengan watak Islam. Memunculkan sejumlah ilmuwan polymath Islam agung serupa Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Khawarizmi, Abu Raihan Al-Biruni. Dalam diskusi teologi, logika dan yurisprudensi muncul As-Syafi’i, Al-Ghazali, Asy’ariy. Disiplin mistisisme Islam (tasawuf/sufisme) dengan kombinasi estetika iluminasi Islam disemarakkan nama Jalaluddin Rumi, Jami’, Sa’di, Hallaj, Hâfiz. Bahkan tokoh kita dalam kitab terjemahan ini memiliki posisi unik sebagai polymath yang cakap dalam kesusastraan, sufisme sekaligus saintis. Tentu saja namanya lebih sering dikutip sebagai penyair tinimbang direkognisi sebagai saintis.
Kecakapan integratif dan ensiklopedis menjadi ciri dari muslim sejati. Sebab, motif pengetahuannya adalah motif transenden. Allah, Kebenaran Mutlak Al-Haqq merupakan pusat konsentrasi keilmuan dalam Islam. Mustahil memisahkan relasi kausal antara pengetahuan seorang muslim dengan kesadaran bahwa di mata Allah, pengetahuannya kecil belaka. Dengan pemusatan konsentrasi itu, bila dicermati dengan sabar, seluruh pencapaian peradaban Islam diletakkan dengan rendah hati di hadapan Yang Ilahi. Sayangnya pengetahuan integral ini disapu peradaban Barat modern. Akibatnya tradisionalisme menjadi terisolir dan hubungan manusia dengan Tuhan kian pudar.
Disintegrasi, putusnya akses manusia pada realitas transenden, sikap jumawa atas pengetahuan, mengakibatkan desakralisasi dan pengeroposan batin. Misteri pengetahuan mulai putus dari pusat Ilahiahnya. Dalam tahap ini, sains seakan bersifat fixed dan final. Sehingga pemerian realitas diserahkan pada semacam kemenyerahan mekanika, sehingga realitas tidak lebih dari sejumlah gerak mekanis. Dampak selanjutnya adalah alienase identitas: hari-hari manusia jadi tanpa isi. Motif religius, agama, lantaran dianggap tidak cocok dengan sains dan kehidupan masa kini kemudian ditinggalkan. Era Modern menciptakan ilah-ilah (baca: tuhan-tuhan) lain, yakni ketundukkan manusia pada ego diri dan pada impuls-impuls sesaat.
Upaya memulihkan fragmentasi realitas, yang terpotong, terkelupas, terkeroposkan oleh karenanya dirasa perlu—melalui jalur intelektual murni. Urgensinya kini adalah memontase fragmentasi, menyambung yang terpotong, merekatkan yang lekang dan memberikan bobot pada saban kekeroposan.[]