Oleh: Syihabul Furqon

/1/
KRISIS DUNIA MODERN (The Crises of The Modern World), merupakan buku yang telah menjadi klasik dalam kapasitasnya mengkritik dunia modern. Klasik di sini tidak lantas membut isi dari eksposisi filosofis pengarangnya menjadi tidak relevan. Sebaliknya, sekarang adalah abad ke-21 di mana sejumlah proyeksi krisis telah terjadi. Terlemparnya manusia modern (bahkan, posmodern) hari ini ke dalam ruang dan waktu yang semakin bergegas dan tergesa membuatnya nyaris terputus secara total dari tatanan tradisi dan dari kebenaran Universal. Yang material telah menjadi isme dan agama telah dipandang sebagai bagian yang setali tiga uang dengan sumber masalah itu sendiri. Sains/ilmu—dalam pengertian reduktif dan umumnya hari ini—telah menjadi pseudo dan terjangkiti waham megalomania dengan ngotot menawarkan solusi.
Tradisi dalam pengertian kata yang hakiki telah tergeser dan disusupi oleh mental modern. Sesuatu yang belum terjadi di masa Réne Guénon dan baru di kemudian hari tesis-tesisnya dimajukan oleh Seyyed Hossein Nasr. Bahkan, dalam pandangan kami, tradisi dalam pengertian “terhubung dengan Tuhan melalui Agama” dari mana kata Latin untuk Religio berasal dan menjadi pusat lindung tradisi sakral dan sains sakral sekaligus, sedikit demi sedikit telah diisi oleh manusia Barat modern dalam pengertiannya yang pejoratif. Mental Barat (metafisis di mana secara geografis Barat adalah tempat tenggelamnya matahari/cahaya kebenaran Al-Haqq) dalam diri manusia Timur (di sini kata Timur tidak hanya berarti tempat di mana tradisi dipelihara—terutama dalam Agama—melainkan secara geografis dan metafisis Timur berarti tempat terbitnya cahaya kebenaran Al-Haqq) menciptakan gerhana tradisi dan gerhana sains sakral. Oleh karena itu, apa yang dikatakan Réne Guénon mengenai krisis dan bagaimana cara menuntaskannya menemukan gemanya kembali dan senantiasa selama subjek-subjek semakin termodernkan. Dalam hal inilah penyajian ulang terjemah The Crises of The Modern World, dalam bahasa Indonesia, untuk masyarakat yang, dilihat dari Eropa, adalah Timur dan rumah bagi tradisi-tradisi dan tempat dibudayakannya sains sakral, demikian mendesak.
/2/
Dalam Krisis Dunia Modern, Réne Guénon menawarkan tesis-tesis penting mengenai dunia modern. Dalam pandangannya, masyarakat Barat Modern dengan tendensi kuat pada yang material telah menjorokkan dirinya pada dekadensi. Suatu dekaden intelektual dan material. Dekaden ini dalam pandangan tradisional menandai siklus terakhir yang dalam tradisi Hindu disebut sebagai Kali-Yuga. Padanan Islam atas siklus ini adalah akhir zaman. Suatu masa di mana realitas mengalami kemerosotan hebat akibat terputusnya manusia dari pleroma samawi. Zaman di mana cahaya pengetahuan mengenai prinsip-prinsip abadi terselubungi ego manusia dari dalam. Réne Guénon menyebutnya ‘zaman kegelapan’.
Kendati demikian, dilihat dari sudut pandang tradisi Timur, zaman kegelapan sebenarnya hanyalah suatu simptom di mana percepatan dan pertumbuhan dimensi sapiensial manusia dapat dilakukan. Tawaran Guénon, jika Barat Modern mengalami dekadensi akibat materialismenya, maka yang dapat mengungkit dan mengembalikan Barat Modern dari keterpurukannya adalah Tradisi Timur. Dalam terang ini Guénon memberikan ilustrasi mengenai apa yang terjadi di Barat dan bagaimana Timur akan senantiasa menjaga sikap tradisinya. Barat barangkali mengalami kemajuan sangat pesat dalam aspek material. Hanya saja kemajuan ini meninggalkan anomali: pertama, pertumbuhan material tidak diimbangi dengan pertumbuhan subjek secara psikologis dan terutama spiritual. Triad yang diusung abad-abad lalu dalam dunia tradisi sebagai: tubuh, pikiran dan jiwa nyaris tidak lagi mendapat tempat dalam dunia Barat Modern yang hanya cenderung mengakselerasi tubuh—atau dalam hal ini jisim material semata.
Distingsi antara Timur dan Barat terletak pada bagaimana ekuilibrium triad ini dijaga. Pengetahuan (sebagai bagian penting dari kontemplasi) dan tindakan juga memberikan ilustrasi bagaimana dunia Barat modern lebih condong pada tindakan (semata) dan meninggalkan perenungan-perenungan filosofis. Bagaimana dunia modern (posmodern hari ini) mempercepat manusia dalam banyak hal material dan meninggalkan perenungan yang kerap memiliki konotasi lambat. Seakan-akan dunia Modern hari ini tidak memberi lagi tempat bagi manusia untuk bertungkuslumus dengan proposisi-proposisi dan kearifan. Bahkan dalam lingkup dunia inteletktual hari ini, sebagaimana Réne Guénon kritik, mengalami gering intelektual di mana hasil-hasil intelektual tidak lagi duduk sebagai yang mengoreksi dan memberikan bobot falsafi dalam kehidupan manusia. Intelektualitas hari ini adalah intelektualitas semu, karena yang menjadi porosnya bukan lagi perenungan mendalam atau bagaimana kearifan dalam dipertimbangkan ulang. Alih-alih, intelektualitas hari ini setali tiga uang dengan industri dan hasilnya adalah produk intelektual yang diakui adalah yang hanya sejalan dengan visi material—atau bahkan visi industri semata. Gering ini, menurut hemat Guénon paling akan disadari oleh kalangan intelektual sendiri. Bagi kita, di abad ke-21, paradoks-paradoks dalam dunia intelektual semakin terasa dan tajam.
Gering intelekual dan seluruh kemerosotannya inilah yang mengakibatkan apa yang disebut Guénon sebagai “Sains Profan”. Suatu sains (baca: ilmu) yang tidak lagi memiliki jantung proposisi universal absolut dan karenanya tidak memiliki poros. Ilmu tanpa poros seperti jari-jari pada roda yang acak. Akibat langsungnya: kaos intelektual. Bayangkan suatu geometri tanpa sumbu tapi kekeuh mendaku diri sebagai ‘yang paling kompatibel dengan pelbagai soal hidup manusia’. Sains profan memaksakan proposisi nisbinya hendak jadi universal. Di sinilah letak contradictio in tirminisi yang melanggar prinsip metafisika sejati yang terletak di jantung sains sakral.
Gejala-gejala kemerosotan ini menimbulkan banyak implikasi, mulai dari individualisme, disekuilibrium sosial, peradaban mata kuda dan reduktif dan terciptanya manusia promethean. Di mana realitas di tingkat sosial—tidak hanya di tingkat individu—melakukan diskontektivitas masal dengan tradisi. Barat Modern pada tingkat ini tidak lagi mengacu pada dikotomi geografis, melainkan statusnya sudah maju menjadi Barat Modern metafisis. Barat Modern dengan mental penerpbosannya ini menciptakan borok-borok yang tak teratasi kecuali oleh penyembuhan Timur Tradisional. Suatu Timur yang bukan lagi semata geografis, melainkan Timur di mana pleroma samawi tetap menjadi pertimbangan utama, di mana metafisika dan seluruh visi tradisionalnya terjaga lengkap dengan maratib al-wujud (the great chain of being) yang tugur di jantung doktrinnya.
Tinjauan Réne Guénon dalam Krisis Dunia Modern lebih dari sekadar wanti-wanti, atau tanbih sepintas. Jika dunia yang dihuni manusia abad ke-21 ini sedemikian maju, maka apakah tanbih Réne Guénon dan para empu tradisional abad lalu dan sekarang tidak relevan? Jawabannya solid dan valid, persis seperti kirisis yang mengintai manusia abad ke-21 hari ini yang, alih-alih berkurang, justru kian bersimaharajalela.[]