Oleh: Bambang Q. Anees

“Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali”
Ini pepatah yang akhir-akhir ini jadi relevan dalam kehidupan kita, paling tidak untuk kehidupanku.
Dulu ada seorang anak muda miskin yang belajar menjadi pengrajin mangkok teh. Ia miskin, tangannya kasar. Setiap hari ia punya mimpi: suatu hari karyanya akan dilihat oleh banyak orang. Lalu suatu hari ia dapat membuat mangkok teh yang indah, ia girang dan membayangkan ada banyak pujian atas karyanya itu. Dengan berdendang ia membawa mangkok indahnya ke pasar. Sialnya di tengah jalan, ia tersenggol dan mangkok indahnya jatuh, pecah. Ia kecewa. Ia pulang dengan hati yang kosong.
Namun gurunya mengambil pecahan-pecahan karya muridnya, lalu menyambungnya dengan pecahan-pecahan emas. Anak itu bertanya, “Guru kenapa bagian rusaknya malah ditonjolkan?”; Sang Guru menjawab, “karena luka yang disembunyikan hanya melahirkan malu, tapi luka yang diterima dapat menjadi keindahan.”
Keesokan harinya mangkok rusak yang sudah direkat itu dibawa ke pasar beserta mangkok lain yang indah dan masih utuh. Anehnya, mangkok yang rusak itu justru dibeli dengan harga yang mahal. Kenapa demikian? Rupanya orang-orang menilai mangkok yang rusak itu merupakan bukti bahwa sesuatu yang pernah hancur masih memiliki nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Mungkin Tuhan tidak sedang menghukum kita dengan kegagalan dan kekalahan, mungkin Tuhan sedang menyentuh bagian dari diri kita yang papa dengan sesuatu yang lebih berharga daripada ego dan rencana kita sendiri. Mungkin kekalahan adalah cara Tuhan untuk memanggil kita kembali pada-Nya, belajar lagi untuk kemudian bertarung dengan cara yang lebih baik dan indah.
Tajdid dan Cita-Cita Kebangkitan Kedua
Kisah ini saya jadikan frame untuk memaknai kekalahan ummat Islam pada abad modern dan upaya kita hari ini. Terserah Anda mana yang dijadikan simbol bagi peradaban Islam, mangkuk pecah atau emas yang mengikatnya. Yang pasti, kisah ini mendorong kita untuk menerima luka sejarah lalu mengemasnya menjadi keindahan yang baru.
Jika kita amsalkan peradaban umat Islam adalah mangkuk teh yang sudah pecah berkeping-keping, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: apakah mangkuk retak dan pecah itu kita buang saja?
Pilihan pertama, hiduplah dengan cara pragmatis (sesuatu benar sejauh ada guna), karena itu mangkuk yang pecah lebih baik dibuang saja–ganti yang baru. Pilihan kedua, rawat mangkuk itu, simpan di tempat sakral, lalu buatlah kisah kekalahan masa lalu dengan mitos-mitos agung bahwa umat Islam tak pernah kalah namun sengaja mengalah demi kemaslahatan bersama.
Pengemasan barang lama agar tetap digunakan di masa kini sebenarnya kurang tepat juga. Ada istilah yang lebih tepat untuk kasus umat Islam, yakni tajdid. Secara sederhana kata tajdid diambil dari kata j-d-d (baru) sehingga bermakna “pembaruan”. Jika modern artinya ‘baru’, maka tajdid berarti ‘modern’ pula. Namun j-d-d juga berarti pemugaran, atau pengembalian sesuatu pada kondisi prima. Bila saya punya pisau pusaka dari masa lalu yang tidak dirawat, keris itu tidak berfungsi lagi bahkan untuk sekadar mengiris buah-buahan. Pisau itu tak boleh dibuang, ia tak berfungsi karena ada karat tebal menempel pada bilahnya. Lakukan tajdid, asah sampai hilang karatnya, niscaya ia akan kembali berfungsi seperti semula. Dari sinilah, secara leksikal, kata j-d-d bermakna proses tashhih (koreksi) terhadap apa yang terdegradasi atau usang.
Secara umum, umat Islam meyakini tak ada yang keliru dari ajaran Islam. Kalaupun gagap dan kalah saat berhadapan dengan peradaban modern, itu karena ajarannya sudah berkarat–banyak tambahan baru yang membuatnya tidak tajam lagi. Lakukan tajdid, hantam dan gesek-gesekkan secara teratur pisau berkarat itu pada batu asahan. Pada titik tertentu di masa depan, ketajamannya akan kembali muncul dan siap untuk menghadang kolonial. Inilah yang jadi spirit para pembaharu dan ormas keagamaan Islam pada awal abad modern. Setelah 7 abad berlalu, spirit tajdid itu menguap bersama udara. Beberapa pisaunya mungkin sudah mengkilap dan tajam, namun tak digunakan untuk mengurusi hal-hal hidup bersama. Ada juga pisau yang sepertinya diasah, namun tak pernah tajam.
Di manakah tempat pisau itu diasah?
Di Perguruan Tinggi Islam tempatnya. Ormas keagamaan Islam sibuk menjaga umat agar tidak terlempar dari ajaran keIslaman. Ide-ide baru dan para pendekar berdiam di Perguruan Tinggi. Para pendekar inilah yang memegang pisau, menilai derajat ketajamannya, mengujinya dengan cara digesekkan dengan pikiran-pikiran yang bertentangan, memperbaikinya lagi, demikian seterusnya sampai pisau itu tajam. Itulah yang dibayangkan Ahmad Khan dan Afghani. Itulah juga dasar dari pendirian UIN yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu sains modern. Ilmu agama adalah pisau yang digesekkan pada permukaan kasar ilmu umum demi mendapatkan ketajaman baru.
Ini sebenarnya tulisan yang sia-sia, mubazir dalam banyak hal. Karena itu mungkin saja, sudah tak ada lagi yang ingat dan peduli pada kekakalahan umat Islam pada abad awal modern. Setelah kekalahan, ada ragam tanggapan. Ada yang mengeluhkan kekalahan sambil terus menyimpan benci pada kolonial Barat dan peradaban modern, ada yang menyerah lalu mengadaptasikan diri untuk hidup secara modern, dan ada juga yang melakukan negosiasi (Modern diambil sebagian untuk menambal luka cacat pada yang Islam miliki). Kebanyakan dari kita, termasuk saya, memilih untuk abai.
Pada saat IAIN berubah menjadi UIN, ada spirit untuk kebangkitan kedua. UIN harus melahirkan Ibn Sina baru, program studi umum akan melahirkan ilmuan sains yang berbasis Islam, dinaungi dan dibimbing wahyu. Di sini ada logika pisau berkarat dari Islam yang terus-menerus diasah, diadu, diuji, disakiti, dikelupas karatnya melalui perdebatan diskursif dengan sains modern agar menjelma menjadi ilmu Islam yang tajam untuk peradaban kedua.
Setelah 20 tahun UIN berdiri, gema itu masih adakah?
Fakultas Saintek tentu bukan penanggungjawab utama proyek ini. Semua Fakultas dan program studi memiliki tanggung jawab yang sama. Jika menggunakan pernyataan yang diduga dari Einstein, baik Fakultas Ilmu Alam dan Ilmu-Ilmu KeIslaman ini memiliki tugas yang sama berat, “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Agar ilmu-ilmu sains tidak menghasilkan produk yang membabibuta seperti robot Frankenstein perlulah dipandu oleh ilmu agama. Sebaliknya agar ilmu agama tidak lumpuh, tidak asyik iseng sendiri, perlulah dipandu oleh ilmu-ilmu umum dari sains modern. Itu artinya, ilmu umum memberikan roda bagi ilmu agama, sementara ilmu agama memberikan ‘kacamata’ baru.
Filsafat Ilmu yang Usang
Ada dua paradigm besar yang berkembang saat IAIN berubah menjadi UIN: Islamisasi Ilmu dan Ilmuisasi Islam. Ismail Razi Faruki mengusulkan Islamisasi Sains, atau mengislamkan aspek-aspek ilmu sains. Caranya dengan meneliti aspek-aspek sains modern kemudian membuatnya menjadi Islam dengan memberikan eviden baru dari pengalaman kaum Muslim, atau dari ayat suci juga pemikiran ulama terdahulu. Kuntowijoyo mengusulkan kebalikannya, Ilmuisasi Islam atau menjadikan apa yang dimiliki dalam Islam menjadi ilmu baru. Caranya dengan mengobjektivasikan ajaran Islam ke ranah ilmiah, diformulasikan, diuji, dan dibuktikan secara akademis.
Kedua proyek ini belum maksimum hasilnya. Mungkin upayanya terdistraksi oleh pelbagai tuntutan administrasi yang semakin menggunung, atau jangan-jangan mimpi tajdid sudah tak lagi dimiliki oleh komunitas UIN. Mungkin juga karena filsafat ilmu yang diajarkan adalah filsafat ilmu yang usang.
Secara diskursif, saat paradigma Integrasi-Interkonteksi dari UIN Yogyakarta dan Wahyu Memandu Ilmu dari UIN Bandung digulirkan, muncul keraguan dialog antara ilmu agama versus ilmu sains. Sebagian menyatakan ilmu itu bebas nilai, karena itu jika “diislamkan” akan membuat ilmu menjadi mandek membeku. Sebaliknya ada juga yang menyatakan bahwa ilmu agama itu jika dibuktikan berdasar paradigm sains akan habis karena tak mampu melewati saringan logico-hypotetico-verifikasi.
Saringan itu berasal dari abad ke-20. Namanya postivisme Logis. Kelompok ini memang menganggap sains itu seperti matematika: kalau tidak bisa dibuktikan lewat angka atau observasi langsung (fakta keras), berarti itu sampah/bukan ilmu. Saringan ini menegaskan bahwa ilmu itu harus masuk akal (logico), dapat diprediksi kejadiannya (hypoetico) bukan seperti mukjizat yang sekali terjadi, dan dapat dibuktikan secara empiris (verification). Positivisme logis sederhananya menyatakan, “Kalau nggak ada datanya, nggak usah bicara ilmu. Titik!”.
Positivisme logis ini seperti orang yang mengukur segala sesuatu dengan penggaris. Kalau panjang dengan penggaris, tentu saja bisa. Namun jika penggaris digunakan untuk mengukur panas tubuh, detak jantung, kemarahan massa, dan sejenisnya, hasilnya akan kocak. Hidup ini terlalu kompleks buat cuma diukur pakai penggaris. Banyak hal penting (seperti moral, agama, atau seni) yang akhirnya mereka buang karena nggak bisa difoto atau dihitung.
Sebenarnya saringan positivisme logis sudah dikritik oleh Karl Popper (1902-1994). Popper datang dan bilang, “Cara kalian salah!”. Menurut dia, sains bukan soal membuktikan teori itu benar, tapi soal mencoba membuktikan teori itu salah. Popper seperti bilang “Teori kamu itu keren, tapi coba kasih tahu gue: gimana caranya biar teori kamu terbukti salah?”. Kalau teori kamu nggak bisa disalahkan, berarti itu cuma bualan. Kalau mau beneran disebut sains, bukan dogma agama, bersiaplah untuk dapat disalahkan. Masalahnya, ilmuwan itu manusiawa juga, yang sering denial. Kalau teorinya salah, mereka biasanya malah cari alasan, bukan langsung buang teorinya.
Popper memang tidak memandang ilmu agama sebagai sains, tapi Popper sedang meruntuhkan asas keterbuktian (verifikasi) dari sains. Tak semua yang dikemukakan sains dapat diverifikasi kok!. Misalnya, pada kasus matematika: “Apakah 2 + 2 = 4 dapat difalsifikasi atau diverifikasi?”, jawabannya adalah tidak. Dalam sistem aksioma aritmatika Peano, 2 + 2 = 4 adalah kebenaran analitik yang definisinya melekat pada simbol itu sendiri. Ini bukan klaim tentang dunia fisik yang bisa diuji dengan eksperimen; ini adalah deduksi logis. Karena angka-angka ini bersifat a priori (mendahului pengalaman), mereka tidak tunduk pada falsifikasi Popperian. Anda tidak bisa “menemukan” dua tambah dua sama dengan sempat dengan pergi ke laboratorium.
Lalu ada juga Thomas Kuhn (1922-1996) yang membuka mata semua orang bahwa penemuan ilmu itu bukan soal verifikasi (bisa dibuktikan benar) atau falsifikasi (bisa dibuktikan salah), kebenaran ilmu pada akhirnya soal kesepakatan komunitas ilmiah. Kuhn sadar kalau ilmuwan itu manusia biasa yang punya ego dan komunitas. Dia bilang sains nggak gerak secara lurus, tapi lewat “lompatan” yang disebut Paradigm Shift. Kuhn seperti bilang, “Sains itu kayak game yang lagi di-update total.” Saat paradigma lama (cara pandang lama) sudah terlalu banyak bug, komunitas ilmuwan bakal “reboot” sistem dan pindah ke cara pandang baru yang radikal. Ini bukan soal benar/salah, tapi soal “ganti kacamata”.
Dalam kerangka Kuhn, Ilmu-ilmu agama memiliki struktur yang sangat mirip dengan sains: ia memiliki paradigma (cara pandang khas fiqh, al-Quran, hadits, Kalam, Filsafat, dsb), komunitas (lembaga keagamaan/ulama/teolog), dan problem solving (menjawab persoalan umat berdasarkan teks suci). Namun, teologi terjebak dalam kondisi normal science yang kronis. Jarang terjadi revolusi ilmiah karena “inti” paradigma dianggap sakral dan tak boleh diganti. Ketika anomali muncul (seperti sekularisasi atau krisis moral), ilmuan Islam biasanya melakukan ad hoc penafsiran tanpa pernah benar-benar melakukan pergeseran paradigma (paradigm shift) yang radikal. Tapi orang seperti Ahmad Khan tidak demikian, ia mau mengubah inti paradigmanya. Ilmuwan UIN sebenarnya dapat memainkan peran komunitasnya untuk menghidupkan ilmu agama dengan pendekatan Kuhn.
Biasanya Filsafat Ilmu diajakan hanya sampai pada Kuhn sehingga ilmu-ilmu Agama tetap saja dianggap ilmu palsu. Kalaupun dikuatkan bahwa proposisi tertentu merupakan kesepakatan jumhur ulama (hasil komunitas ilmiah), para saintis yang memiliki komunitas berbeda tetap tidak percaya. Jika filsafat ilmu berhenti di sini, tak mungkin terjadi integrasi-interkoneksi ilmu. Proyek Wahyu (atau ilmu agama) saling menuntun ilmu umum juga tak mungkin terjadi, karena derajatnya sudah berbeda. Padahal filsafat ilmu terus berkembang dan menyajikan pemikir seperti Lakatos, Feyerabend, dan Quine.
Imre Lakatos (1922-1974) secara tegas menolak falsifikasi Popper, “Nggak setiap yang terbukti salah dapat menggugurkan satu teori, lihat dulu bagian mananya yang tidak terbukti”. Seraya Lakatos mengajukan model program riset bagi sains. Gampangnya, program riset itu seperti bungkus dan isi, jika bungkusnya yang terbukti salah oleh falsifikasi yaa nggak apa-apa, toh isinya masih benar. Tinggal perbaiki saja bungkusnya agar lebih kuat. Lakatos membayangkan setiap Program Riset punya dua bagian penting: hard core dan protective belt.
Di pusat setiap program riset, ada ide-ide dasar yang “haram” untuk disalahkan. Komunitas Ilmuwan sepakat untuk tidak menyentuh bagian ini. Inilah hard core. Contoh, dalam astronomi Newton, “hukum gravitasi” adalah inti kerasnya. Jika ada planet yang jalurnya melenceng sedikit, ilmuwan tidak langsung membuang hukum gravitasi Newton. Mereka akan mencari cara lain untuk menyelamatkannya.
Lalu, di sekeliling inti atau hard core tadi, ada lapisan hipotesis pendukung yang berfungsi sebagai tameng. Kalau muncul data aneh atau eksperimen yang gagal (anomali), ilmuwan tidak menyerang Hard Core-nya, tapi mereka akan mengutak-atik Protective Belt ini. Contohnya, kalau pengamatan menunjukkan planet tidak sesuai perhitungan, mereka akan bilang, “Mungkin ada planet lain yang belum terdeteksi yang menarik orbitnya,” atau “Mungkin teleskop kita kurang tajam.” Mereka terus menambah “tameng” supaya inti teorinya tetap aman.
Lihatlah pembagian hardcore dan protective belt ini! Bukankah ilmu-ilmu agama juga punya dua bagian ini? Sayangnya kita sering menganggap protective belt sebagai hard core sehingga ilmu agama alih-alih progresif malah jadi degeneratif. Suatu ilmu dianggap Progresif, jika ilmu itu mampu memprediksi hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita tahu, dan prediksi itu terbukti benar. Ilmu yang sehat terus “beranak pinak” menghasilkan pengetahuan baru. Sebaliknya, suatu ilmu disebut Degeneratif (Sakit/Mati), jika ilmu itu hanya sibuk membela diri—hanya bisa membuat alasan-alasan (ad hoc) untuk menjelaskan kegagalannya, tapi tidak pernah menemukan sesuatu yang baru. Ilmuwan yang bertahan di sini cuma sedang “merawat bangkai.”
Sampai titik Lakatos ini, ilmu-ilmu agama dapat berdampingan dengan ilmu-ilmu umum karena keduanya ternyata memiliki inti yang “tak tersentuh”. Itu berarti integrasi-interkoneksi atau wahyu memandu ilmu dapat dilangsungkan. Ilmuisasi Islam dan Islamisasi Ilmu dapat dilakukan ketika ilmu-ilmu agama bersedia untuk progresif, bukan degenaratif.
Mari kita lanjutkan pada tokoh Filsafat Ilmu lain seperti Feyerabend dan Quine.
Anything Goes dan Web of Belief
Paul Feyerabend (1924-1994) adalah “si anak nakal” dalam dunia filsafat ilmu. Kalau filsuf lain sibuk mencari “metode paling sakti” untuk membuat sains terlihat sangat tertib, Feyerabend malah datang dan berteriak, “Bebaskan sains dari aturan!”. Feyerabend berpendapat bahwa tidak ada satu metode pun yang berlaku untuk semua. Tidak ada “cara ilmiah” yang baku. Kalau ilmuwan mau maju, mereka tidak boleh dikekang oleh prosedur kaku. Kadang, ilmuwan yang paling hebat justru mereka yang bertindak “ngawur”, melanggar aturan, dan menggunakan imajinasi liar untuk menemukan sesuatu yang besar. Karena itu Anything Goes, apapun itu jalan aja.
Feyerabend memang mengkritik cara ilmu dipercayai di dunia modern. Di dunia modern, sains sering dianggap sebagai satu-satunya cara benar untuk melihat dunia. Feyerabend tidak setuju. Dia bilang sains itu cuma salah satu bentuk cara manusia memahami realitas—setara dengan seni, mitos, agama, atau tradisi kuno. Feyerabend marah ketika sains merasa paling benar dan memaksakan diri kepada tradisi lain. Bagi Feyerabend, memaksa masyarakat untuk percaya hanya pada sains adalah bentuk penindasan intelektual.
Feyerabend ingin kita punya “kebebasan berpikir”. Bayangkan sebuah pasar ilmu pengetahuan, Di sana ada Sains, ada Astrologi, Ilmu Falak Abu Mahsyar, ada kearifan lokal, ada filsafat, dan banyak lagi. Feyerabend adalah kawan terbaik ilmuwan agama. Ia akan mengatakan: “Siapa bilang sains adalah satu-satunya standar kebenaran?” Jika sains bisa menjadi otoritas, maka teologi pun berhak atas klaim kebenarannya sendiri sebagai tradisi pengetahuan yang berbeda. Bagi Feyerabend, memaksa ilmu agama agar “ilmiah” menurut standar Popper atau Positivis adalah bentuk imperialisme metodologis. Ia akan mendukung ilmu agama untuk terus berkembang dengan metodenya sendiri, selama ia tidak memaksakan diri menjadi satu-satunya kebenaran yang menindas bentuk pengetahuan lain.
Feyerabend ingin kita menjadi manusia yang merdeka di dalam kepala kita sendiri. Dia mengajak kita untuk melihat dunia dengan banyak mata, bukan cuma dengan satu mikroskop yang sudah di-setting oleh sistem. Dia adalah “pemberontak” terakhir. Dia melihat semua aturan di atas cuma bikin sains kaku. Feyerabend berkata, “Anything goes!” Nggak ada metode yang paling sakti. Sains itu cuma salah satu cara melihat dunia, nggak usah sok eksklusif. Kalau mau pakai imajinasi, mitos, atau cara ngawur pun, kalau hasilnya bagus, ya gas saja!
Willard Van Orman Quine (1908-2000) adalah filsuf yang membongkar anggapan bahwa sains itu seperti susunan batu bata yang kokoh. Jika filsuf lain menganggap pengetahuan itu seperti bangunan, Quine menganggapnya sebagai Web of Belief atau jaring keyakinan.
Bayangkan seluruh apa yang Anda tahu—dari hukum fisika, logika matematika, sampai keyakinan agama—sebagai jaring laba-laba yang saling terhubung atau jari-jari sepeda yang terhubung ke pusat as. Nah, pusat as itu adalah keyakinan yang paling dalam dan sulit diganggu, misalnya hukum logika (“A adalah A”). Kalau ini dicabut, seluruh jaring akan berantakan. Tepiannya adalah observasi atau data empiris dari luar (apa yang kita lihat lewat mata). Dari sini Quine mengemukakan konsep ilmu. Kalau Anda melihat sesuatu yang tidak sesuai (misal: eksperimen gagal), Anda tidak harus merobek jaring itu. Anda hanya perlu menarik-ulur benang di bagian tertentu agar jaringnya tetap rapi. Kita punya pilihan untuk merevisi bagian mana pun, selama jaring itu tetap masuk akal secara keseluruhan.
Bagi Quine semua saling terhubung, tak saling terpisah. Sebelum Quine, orang percaya ada dua jenis kebenaran yang terpisah seperti analitik (benar karena definisi) dan sintetik (benar karena fakta). Kebenaran Analitik adalah pernyataan yang kebenarannya sudah terkunci di dalam arti kata-katanya sendiri. Kita tidak perlu melihat dunia luar untuk tahu itu benar. Contoh: “Bujangan adalah orang yang tidak menikah”. Pernyataan ini benar karena definisi katanya logis. Kebenaran Sintetik adalah pernyataan yang kebenarannya bergantung pada apa yang terjadi di dunia luar (empiris). “Bujangan itu kesepian”—ini perlu cek lapangan. Quine bilang: “Ini omong kosong!” Baginya, semua kebenaran itu saling terkait. Tidak ada definisi yang 100% kebal dari revisi dunia nyata, dan tidak ada fakta dunia yang bisa dipahami tanpa bahasa dan logika. Semuanya adalah satu paket besar yang saling terhubung.
Lebih dari itu Quine menolak mentah-mentah saringan logic0-hipotetico-verifikasi. Positivis bilang, kalau eksperimen gagal, maka teori itu pasti salah. Quine bilang: Tidak selalu! Ketika sebuah data bertabrakan dengan teori, kita punya “hak istimewa” untuk memilih apa yang harus dikorbankan. Kita bisa saja mempertahankan teori utama dan menyalahkan alat ukurnya, atau menyalahkan kondisi lab-nya, atau mengubah sedikit asumsi logika kita. Kita menyelamatkan “jaring” kita sebisa mungkin.
Bagi Quine, Sains bukan soal menemukan kebenaran yang “paling benar” di luar sana, melainkan soal memilih sistem jaring yang paling berguna dan rapi untuk menavigasi hidup. Jika jaring keyakinan kita bisa menjelaskan dunia dengan stabil, itulah yang kita pakai.
Refleksi Akhir
Dulu, orang mengira sains itu “Tuhan” yang punya jawaban pasti. Sekarang, kita tahu sains itu proses negosiasi yang terus-menerus. Tidak ada kebenaran mutlak yang jatuh dari langit; yang ada adalah jaring argumen yang paling kuat dan paling membantu kita menavigasi realitas saat ini. Di dunia yang penuh hoaks dan algoritma, memahaminya seperti ini bikin kita nggak gampang fanatik sama satu klaim, tapi juga nggak terjebak dalam nihilisme yang bilang “semua fakta itu bohong”. Sains adalah tentang cara kita menyusun jaring keyakinan yang paling masuk akal, tanpa lupa kalau jaring itu bisa dan harus diperbaiki kapan saja. Berdasarkan konsepsi ini, semestinya tak ada lagi hambatan untuk mengintegrasikan ilmu agama dan sains.
Tapi, hidup kita terlalu sibuk untuk mencari makan (homo labor), jadi tak penting juga menjaga ingatan bahwa umat Islam pernah jaya lalu kalah oleh kebodohannya sendiri. Bagi homo labor seperti saya, mudah-mudahan Anda bukan homo labor, bisa bertahan hidup saja merupakan keajaiban, karena itu suatu kemewahan jika masih memikirkan kebangkitan umat Islam via integrasi sains seperti artikel ini.
Anything Goes, Gaskeun!