Oleh: Bambang Q. Anees

Era modern, ummat Islam kalah dalam pelbagai aspek. Kekhalifahan Utsmaniyah yang semula menguasai 3 benua (Asia, Afrika, dan Eropa), menjadi The Sick Man of Europe. Turki kalah perang dari Rusia pada 1877, superioritas militer Utsmaniyah runtuh. Setelah itu 1839 hingga 1876, Turki melakukan Tanzhimat (penataan kembali) seluruh aspek kehidupan. Biar gampang dibayangkan, Tanzhimat ini seperti upgrade total—mulai dari sistem hukum, militer, pendidikan, hingga gaya hidup—agar bisa bertahan di dunia modern yang saat itu didominasi oleh kekuatan Barat. Namun, upaya itu gagal. Puncaknya terjadi ketika terjadi pendudukan Inggris atas Mesir pada 1882. Setelah itu kekhalifahan Turki benar-benar tidak berdaya, sampai kemudian kekhalifahan dibubarkan pada 1924.
Di belahan lain, di Iran, Dinasti Qajar mengalami kemunduran. Negara terjebak dalam lingkaran utang akibat gaya hidup boros penguasa. Di Anak Benua India, ada kerajaan Mughol yang mulai hancur total. Pasca 1857, Mughal hanya tinggal sisa-sisa. Umat Islam terus disalahkan atas segala peristiwa negatif yang terjadi di tengah masyarakat. Umat Islam di India dipaksa beradaptasi dalam struktur kolonial yang menempatkan mereka pada posisi subordinat secara politik dan marginal secara ekonomi. Jauh sebelum itu, Portugis sudah menguasai Malaka sejak tahun 1515.
Kenapa Umat Islam kalah dalam segala aspek? Padahal sebelumnya Islam menjadi penguasa dunia? Muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti ini.
Krisis Epistemologis
Pertanyaannya bisa berkembang menjadi: “Apakah janji Al-Quran seperti pada Surat Ali ‘Imran ayat 139: Antum a‘lawna in kuntum mu’minun (kamu lebih unggul dari siapapun kalaulah kamu beriman) itu salah? Bukankah umat Islam mendasari kehidupannya dengan iman, tetapi kenapa tidak unggul? Apakah Tuhan ingkar janji? Atau memang untuk unggul dalam kehidupan ini, tak usah menggunakan iman?”
Di sinilah terjadi krisis epistemologis.
Krisis epistemologis adalah kondisi ketika sistem pengetahuan, metodologi, dan stok pengetahuan yang dimiliki tidak lagi dapat digunakan untuk menjelaskan, menganalisis, maupun menyelesaikan persoalan-persoalan baru yang muncul di zamannya. Orang yang mengalami krisis epistemologis akan merasa linglung dan gagap: mereka menghadapi kenyataan hari ini, tetapi isi pikiran dan sudut pandangnya masih tertinggal di masa lalu.
Krisis epistemologis seperti ini pernah muncul dalam sejarah umat Islam saat bertemu dengan peradaban modern. Semua gelisah.
Kaum tradisionalis mendiagnosa ketidaktaatan sebagai penyebab kemunduran umat Islam. Mereka kira-kira berkata, “Dulu Islam menguasai peradaban karena taat pada ajaran, sekarang kita kalah karena ajaran Islam tidak dilakukan secara murni dan konsekuen”. Kaum tradisional pun menyerukan gerakan kembali pada ajaran murni dan menolak segala yang modern.
Sebaliknya, kaum liberal menyerukan adopsi terhadap pemikiran modern. Mereka mendiagnosa, “Kita kalah karena memang cara berpikir dan cara hidup kita sudah usang, ganti dulu cara berpikir dan cara hidupnya barulah bisa menang”, begitu kira-kira inti pemikiran mereka. Kaum liberal yang ekstrem benar-benar mengadopsi cara berpikir modern dan “meninggalkan” cara hidup Islami. Cara hidup Islam hanya tersisa pada ibadah personal seperti shalat, sementara cara berpikir dan gaya hidup sudah mengadopsi cara hidup modern.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ahmad Khan menyatakan umat Islam mengidap Jahiliyyat (kebodohan yang jumawa) berulang, untuk itu kembalilah pada Jaddidiyat yang ditawarkan Nabi Muhammad. Ahmad Khan menyeru, “Kuasai ilmu modern dan bahasa Barat melalui pendidikan mutakhir, bersihkan pikiran dari takhayul lama dengan nalar yang rasional, dan setialah pada aturan hukum agar umat Islam tidak punah dan tergilas oleh zaman.” Untuk kepentingan itu Khan mengadopsi pendidikan modern, baginya Islam saat itu tidak akan bisa bangkit melawan kolonialisme jika masih buta huruf dan buta sains modern. Kemudian agar umat Islam mendapatkan akses pendidikan, hak-hak sipil, dan tidak habis dibantai kolonial, umat Islam harus memilih jalur damai dan kooperatif dengan penguasa.
Afghani: Umat Islam Kalah, karena Bodoh!
Selain Ahmad Khan, ada Jamaluddin al-Afghani (1838–1897). Tokoh yang satu ini juga menyatakan diagnosa yang sama: kekalahan umat Islam di zaman modern disebabkan oleh kebodohan. Diagnosanya sama, namun cara pengobatan yang ditawarkan agak berbeda. Mari kita lihat!
Afghani hidup di abad ke-19, masa ketika dunia Islam sedang dijajah, ditekan, dan dikepung oleh kekuatan Barat. Di mata Afghani, krisis terbesar umat Islam saat itu bukan sekadar kalah perang atau miskin harta, melainkan karena umat sedang tertidur pulas dalam kemalasan, kebodohan, dan kejumudan berpikir.
Afghani mengkritik keras para ulama tradisional pada zamannya. Afghani mengibaratkan ulama tradisional seperti orang yang matanya tertutup oleh buku-buku lama, sibuk mendebatkan masalah-masalah sepele yang tidak ada ujungnya, tetapi menutup mata dari realitas dunia yang sedang berubah.
Afghani menantang umat Islam untuk menjawab dengan pertanyaan mendasar: Kenapa kita bisa menjadi sehina dan semiskin ini, dan bagaimana cara menyembuhkannya?
Salah satu sumbangan terbesar Afghani adalah usahanya meruntuhkan sekat pemikiran umat tentang sains. Ia sangat marah pada kelompok yang membagi ilmu menjadi dua: “Ilmu Islam” dan “Ilmu Eropa/Barat”, lalu melarang umat mempelajari sains modern (seperti fisika Newton atau astronomi Galileo) karena dianggap sebagai ilmu kafir. Bagi Afghani, pembagian itu adalah kebohongan yang merusak agama. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan bukti nyata itu tidak punya agama atau bangsa; sifatnya universal. Handphone-mu itu, juga cahaya listrik, serta ilmu yang mendasari penciptaannya tidaklah memiliki agama. Orang yang melarang sains dengan alasan menjaga iman, bagi Afghani, sebenarnya adalah musuh sejati dari agama itu sendiri, karena Islam adalah agama yang paling dekat dengan ilmu pengetahuan.
[Atas dasar spirit inilah UIN didirikan. Umat Islam harus belajar ilmu agama sekaligus Ilmu Sains modern. Dulu saat menjadi IAIN, yang disajikan hanya ilmu agama (Ilmu Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, Adab, dan Dakwah). Saat menjadi UIN, umat Islam memiliki kesempatan untuk juga belajar Sains dan Teknologi, Psikologi, Ilmu Sosial dan Politik, Ekonomi, Manajemen, Kedokteran, dan sejenisnya]
Afghani memiliki kebencian mendalam terhadap sikap taqlid (ikut-ikutan secara buta) dan stagnasi berpikir. Ketika orang-orang di zamannya mendewakan pendapat ulama masa lalu seolah-olah itu adalah teks suci dari langit, Afghani mengingatkan bahwa para ulama terdahulu pun menggunakan akal mereka sendiri untuk menjawab tantangan di zaman mereka.
Afghani menegaskan bahwa pintu ijtihad (berpikir kreatif dan mandiri) tidak pernah tertutup. Menyesuaikan prinsip Al-Qur’an dengan masalah zaman sekarang bukan cuma hak, tapi kewajiban setiap generasi Muslim. Al-Qur’an tidak mungkin bertentangan dengan sains modern, ekonomi, atau teori politik jika ditafsirkan dengan nalar yang segar.
Untuk itu, semangat Filsafat harus dihidupkan kembali.
Bagi Afghani, filsafat adalah alat bagi manusia untuk keluar dari kegelapan takhayul dan perilaku kebinatangan menuju cahaya kecerdasan alami. Sains dan teknologi memang penting, tetapi sains butuh induk yang bisa mengaturnya, dan induk itu adalah filsafat. Filsafatlah yang memandu manusia untuk tahu bagaimana menempatkan ilmu pengetahuan pada porsinya yang adil dan benar.
Apakah Afghani menyuruh umat Islam meniru Barat secara total? Sama sekali tidak.
Afghani memilih jalan tengah (the middle path): umat Islam harus mengambil sains, teknologi, dan kekuatan militer Barat sebagai alat untuk memperkuat diri (self-strengthening), tetapi menolak mentah-mentah budaya, gaya hidup, dan cara pandang teologis Barat.
Meniru Barat secara buta hanya akan membuka pintu bagi penjajahan fisik dan mental. Inspirasi kemajuan harus tetap digali dari teks suci sendiri, karena nilai-nilai kemajuan itu sebenarnya sudah ada di dalam Islam sejak awal.
Selain berpikir kritis, Afghani menyerukan pentingnya persatuan umat Islam secara politik untuk melawan penjajahan. Konsep ini dikenal sebagai Pan-Islamisme. Afghani pun berkeliling dari Iran, Afghanistan, India, Turki, hingga ke Eropa untuk menyebarkan pesan ini..
Uniknya, tujuan persatuan Afghani ini lebih bersifat politik praktis daripada perdebatan agama. Ia meminta umat Islam menurunkan ego kelompok dan mengabaikan perbedaan mazhab (seperti perselisihan antara Sunni dan Syiah) demi menghadapi musuh bersama, yaitu imperialisme Barat. Baginya, rasa solidaritas (ta’assub) adalah lem yang menjaga masyarakat agar tidak hancur, selama dijalankan dengan prinsip keadilan dan moderasi.
Jamal ad-Din Afghani adalah “alarm” yang membangunkan dunia Islam di abad ke-19. Pesan utamanya sangat sederhana: Kejar ketertinggalan ilmu dan teknologi, buka kembali ruang berpikir kritis, dan bersatulah, atau kita akan selamanya dijajah.
Morosophy dalam Kacamata Hannah Arendt
Biar tambah asyik, saya akan gunakan teori kondisi manusia dari Hannah Arendt.
Filsuf Hannah Arendt membagi hidup manusia ke dalam dua cara besar: Vita Activa (hidup yang aktif bergerak di dunia luar) dan Vita Contemplativa (kontemplasi atau hidup dalam pikiran).
Yuk kita mulai dari VITA ACTIVA (Mode Aktif/ Dunia Luar). Pada mode ini, kamu tidak cuma diam di kamar. Arendt membagi level aktivitasmu menjadi tiga tingkatan: labour, work, dan action.
Level Labour adalah saat kita survival. Ini adalah aktivitas paling dasar demi bertahan hidup secara biologis, seperti makan, tidur, beres-beres kamar, atau bekerja sekadar buat bayar kosan dan beli makan. Sifatnya berputar-putar kayak lingkaran setan (cyclical)—kamu lapar, makan, kenyang, besoknya lapar lagi. Di level ini kamu tidak menghasilkan karya apa pun yang bertahan lama, cuma sibuk memenuhi kebutuhan fisik. Kalau hidupmu cuma habis buat rutinitas labour, itu artinya kamu belum merdeka.
Level Work adalah saat kamu gak cuma bekerja tapi mulai mencipta. Inilah Homo Faber. Di level ini, kamu mulai membuat sesuatu yang punya wujud nyata dan bertahan lama, seperti bikin meja, membangun rumah, memprogram aplikasi, atau menulis undang-undang. Aktivitas ini jelas ada garis start dan garis finish-nya. Hasil karyamu inilah yang membuat dunia punya infrastruktur stabil, yang membedakan kehidupan manusia dari hutan liar. Bahayanya, kalau kamu terlalu fokus di sini, kamu bakal melihat segala hal (termasuk teman sendiri) cuma dari fungsi dan kegunaannya saja (utilitarian).
Level Action adalah saat kamu mengurusi urusan hidup-bersama. Ini adalah kasta tertinggi dari kehidupan aktif manusia. Action adalah momen ketika kamu berani keluar ke ruang publik untuk menyuarakan ide gila yang orisinal (speech) dan mengambil tindakan nyata (action) di tengah masyarakat. Di sini, kamu tidak butuh perantara benda; kamu langsung berinteraksi dengan pluralitas (kenyataan bahwa orang lain itu beda-beda pikiran). Di level inilah kebebasan sejati berada, ketika kamu punya kekuatan untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru dan mengubah sejarah
Sekarang kita pahami apa itu VITA CONTEMPLATIVA?
Vita Contemplativa adalah ranah saat kamu log out dari keramaian dunia luar dan masuk ke dalam pikiranmu sendiri untuk merenung, berpikir mendalam, dan menilai sesuatu secara moral. Inilah cara hidup yang melulu berpikir (thinking), menilai (judging), dan menghendaki (willing).
Menurut Arendt, Vita Contemplativa tidak boleh diposisikan sebagai tempat pelarian yang melulu berpikir, merenung, mengeluarkan kata-kata bijak yang asyik iseng sendiri. Berpikir harus diposisikan sebagai aktivitas keduniawian yang tetap mengakar pada pengalaman empiris manusia. Kontemplasi harus selalu terkait dengan kehidupan keseharian, bukan teisolasi diri yang membuat pemikir menjadi kuper dan asing terhadap masyarakatnya.
Sayangnya, ujar Arend, banyak orang pintar yang takut menghadapi realitas politik luar yang kacau dan penuh debat. Akhirnya, mereka melarikan diri ke dalam “gua pikiran” mereka sendiri, merumuskan teori-teori mutlak di atas kertas, lalu mencoba memaksakan ide itu secara sepihak ke dunia luar. Ini adalah awal dari pemikiran diktator (totalitarian).
Ketika hasil kontemplasi diposisikan sebagai aturan mutlak yang harus dipatuhi oleh semua orang tanpa melalui proses debat dan konsensus di ruang publik, maka pikiran telah berubah menjadi benih totalitarianisme konseptual. Arendt menegaskan bahwa kontemplasi tidak boleh mendikte atau menggantikan kebebasan bertindak manusia; ia tidak boleh memperlakukan masyarakat seperti kayu yang dipahat oleh seorang tukang (Homo Faber) demi mencetak utopia tertentu.
Bagi Arendt, Vita Contemplativa yang sehat harus berjalan beriringan dan saling menguji dengan Vita Activa. Kontemplasi bertugas memberikan kedalaman, makna, dan batas moral bagi tindakan manusia. Sementara itu, tindakan (Action) bertugas membawa hasil pemikiran tersebut ke ruang publik yang plural untuk diuji, didebat, dan dirajut bersama menjadi permulaan-permulaan baru yang emansipatoris bagi peradaban. Manusia yang paripurna adalah mereka yang mampu berpikir secara mendalam, namun memiliki keberanian eksistensial untuk bertindak nyata di panggung dunia
Sebaliknya, jika manusia hanya sibuk bergerak di dunia aktif (Vita Activa) tanpa menyertakan Vita Contemplativa, mereka akan terjebak dalam thoughtlessness (kematian berpikir atau kedunguan fungsional). Inilah morosophy versi Arendt: thoughtlessness.
Thoughtlessness adalah “Males Mikir”. Orang yang terkena gejala ini sebenarnya pintar, otaknya encer, dan punya skill hebat. Tapi, mereka kehilangan kemampuan untuk merenung, mempertanyakan sistem, atau memikirkan dampak moral dari tindakan mereka sendiri terhadap orang lain. Mereka cuma jadi robot yang menjalankan perintah sistem tanpa memakai hati nurani. Thoughtlessness itu adalah kondisi ketika kamu pintar secara fungsi, tapi mati secara rasa dan nalar kritis. Kamu membiarkan diri kamu disetir oleh aturan luar, algoritma, atau perintah bos tanpa pernah berani menoleh ke dalam diri sendiri (Vita Contemplativa) untuk bertanya: “Apakah tindakan gue ini sudah adil dan benar?”
Peradaban atau diri kamu bakal rusak kalau batas ketiga Vita ini berantakan. Misalnya, dunia politik (Action) malah dijalankan kayak mode Labour (politikusnya cuma sibuk cari uang buat isi perut dan bertahan hidup), atau kamu punya pikiran yang genius (Contemplativa) tapi kuper dan penakut untuk mempraktikannya di dunia nyata.
Krisis Ummat Islam dari Kacamata Hannah Arendt
Lalu apa hubungannya dengan kondisi Umat Islam pada zaman modern?
Afghani dan Ahmad Khan sama-sama melihat kondisi umat Islam yang terjebak pada tahap labour saja: hidup untuk sekadar bertahan secara biologis. Labour adalah kondisi tunduk pada keniscayaan alam, hanya sibuk berputar-putar dalam siklus bertahan hidup tanpa menciptakan perubahan sejarah. Afghani melihat umat Islam di abad ke-19 berada persis di level nestapa ini: tenggelam dalam kemiskinan, kemalasan, kelumpuhan intelektual, dan kepasrahan reaktif terhadap kolonialisme Barat. Ada juga sih yang melakukan vita activa di level work, hidup untuk mencipta karya hanya untuk kepentingan pribadi.
Atas dasar itu Afghani berteriak kepada para ulama India untuk “mengangkat mata dari buku-buku lama” dan mempertanyakan “apa penyebab kemiskinan, kesengsaraan, dan ketidakberdayaan umat”. Di sini Afghani sedang mendorong agar umat Islam tidak terjebak pada Vita Contemplativa murni: sibuk mikir doktrin lama tanpa memikirkan persoalan umat. Bagi Afghani, umat tidak boleh menerima kemunduran ini sebagai garis takdir biologis yang tak bisa diubah. Kemunduran dan kekalahan adalah undangan untuk Vita Activa di level action (bertindak untuk mengubah keadaan).
Afghani dan Ahmad Khan sama-sama menemukan umat Islam yang asyik berkontemplasi dan menjauhi kehidupan bersama. Muncullah dari kontemplasi murni ini keluhan-keluhan dan tuduhan-tuduhan bahwa Islam mundur karena umatnya brengsek dan tidak taat ajaran, Islam mundur karena kutukan, dan sejenisnya. Inilah yang bagi Arendt sebagai gejala thoughtlessness: kematian berpikir akibat patuh buta pada sistem. Inilah yang disebut Afghani dan Khan sebagai fenomena taqlid (stagnasi berpikir).
Afghani kecewa melihat para ulama tradisional yang kehilangan “semangat filosofis” (philosophical spirit) dan hanya menghafal kesimpulan pemikiran masa lalu seolah-olah itu teks suci mutlak. Bagi Afghani, Vita Contemplativa (proses berpikir mendalam) tidak boleh berwujud pelarian kuper dari zaman now, melainkan harus menjadi mesin ijtihad yang dinamis. Filsafat harus dipulihkan sebagai induk ilmu pengetahuan untuk memandu umat memahami arah zaman dan membongkar takhayul serta kejumudan konseptual.
Agar filsafat menjadi Vita contemplativa yang berorientasi action, Afghani mengajukan proyek pan-Islamisme. Ia meminta umat untuk mengabaikan perbedaan sekte (seperti Sunni-Syiah) demi aksi solidaritas (ta’assub) politik yang moderat dan adil untuk melawan penjajahan. Di sini Afghani sedang mencoba membangun kembali sebuah “ruang publik bersama” (public realm) bagi dunia Islam yang telah dihancurkan oleh imperialisme. Ia mengajak umat untuk kembali memegang kendali sebagai main character di panggung sejarah dunia melalui reformasi konstitusional, supremasi hukum, dan kebebasan berpendapat.
Bagaimana Kondisi Umat Islam Saat ini?
Pertanyaan ini sebenarnya dapat Anda jawab sendiri. Apakah hidup Anda, ormas keagamaan, dan perguruan tinggi Islam sudah pada Vita Contemplativa yang Action atau masih di tahap labour? Atau bahkan tidak berkontemplasti sama sekali, hanya berebut hidup agar lebih kaya dan makmurbahkan dengan membuat orang lain sengsara.
Morosophy adalah kedunguan yang mengira dirinya bijaksana, atau foolish wisdom.
Ketika individu, ormas keagamaan, dan perguruan tinggi Islam kehilangan kemampuan untuk mengawinkan berpikir mendalam dengan tindakan emansipatoris (Vita Contemplativa yang Action), mereka otomatis jatuh ke dalam perangkap Morosophy. Morosophy dalam konteks ini adalah delusi kolektif ketika merasa dirinya sangat religius, moralis, dan berpengetahuan (merasa bijaksana), padahal tindakan nyata mereka di lapangan justru mencerminkan kedunguan fungsional (thoughtlessness) yang destruktif.
Jika ormas dan institusi akademik sering kali “merasa bijaksana” karena menguasai teks-teks kuno, khotbah moral, dan ritual yang megah. Namun, eksistensi mereka sebenarnya diturunkan kastanya menjadi sekadar animal laborans di level Labour: terjebak dalam rutinitas birokrasi, reaktif terhadap stigma, dan sibuk mempertahankan hidup institusi itu sendiri tanpa pernah melahirkan permulaan baru (natalitas) yang merombak ketidakadilan dunia. Ini adalah kedunguan yang dibungkus jubah kesalehan: Morosophy.
Ketika perguruan tinggi Islam dan ormas keagamaan, yang seharusnya menjadi benteng nalar kritis (qalb/ʿaql), justru saling berebut modal, kekuasaan, dan kemakmuran material–, bahkan jika harus mengorbankan dan menyengsarakan manusia dan lingkungan di sekitarnya. Mereka pintar secara hitung-hitungan kalkulatif (skill teknis), tetapi mati secara moral karena otak mereka berhenti merefleksikan dampak kehancuran yang mereka timbulkan. Ini juga Morosophy.
Berkaca dari semua itu, secara pribadi saya merasa telah menjadi morosopher: merasa memiliki “stok pengetahuan” suci peninggalan masa lalu, tetapi gagap dan linglung menghadapi realitas kemiskinan dan ketimpangan konseptual zaman now. Saya merasa telah membimbing mahasiswa menuju kebenaran, padahal saya hanya sedang mengawetkan fosil teologis teoretis yang terputus dari kompas moral dunia yang dihadapi mahasiswa saya.
Ya, saya ternyata morosopher!