Oleh: Bambang Q. Anees

Negeri ini dibangun dengan tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, begitulah yang kerap saya sampaikan pada perkuliahan Kebijakan Pendidikan. Lalu saya menegaskan bahwa seperti organisasi, Negara diukur dari upayanya untuk mengejar tujuan. Keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi ditentukan dari realisasi tujuan. Jadi jika NKRI ini gagal “mencerdaskan kehidupan bangsa”, negara ini dapat disebut gagal.
Uraian ini biasanya saya gunakan untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dan studi Kebijakan Pendidikan. Tanpa pendidikan yang baik, rakyat negeri ini tidak akan menjadi “cerdas”. Namun pendidikan membutuhkan sejumlah kebijakan (policy) yang berpihak pada pencerdasan, untuk itulah dibutuhkan studi kebijakan pendidikan yang kritis.
Tulisan ini tidak akan membicarakan kebijakan pendidikan. Saya akan membicarakan “kebodohan” sebagai penyakit yang harus diperjuangkan negeri ini demi mencapai kecerdasan bangsa. Sudah banyak orang membicarakan metode menjadi cerdas, seperti cara cepat menulis jurnal ter-SCOPUS atau cara tepat lulus ujian dengan metode quantum learning, namun sangat sedikit yang membicarakan soal “kebodohan”.
Jika filsafat membicarakan cara hidup yang mencintai kebenaran, kebalikannya adalah morosophy. Morosophy adalah kebodohan yang menyamar jadi kebijaksanaan. Secara harfiah morosophy berarti “kebodohan yang merasa bijaksana”, hal ini terjadi saat pikiran dangkal dibungkus pakai bahasa keren atau teknologi canggih. Akibatnya, pelakunya merasa paling tercerahkan dan paling benar. Padahal, mereka cuma sedang merayakan kebodohan yang terstruktur.
Kondisi morosophy inilah yang diidap umat Islam pada abad ke-19. Begitulah diagnosa Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), teolog Islam Modern dari India. Mari kita lihat!
Jahiliyat versus Jaddidiyat
Sir Sayyid Ahmad Khan pada 1857 mengemukakan tesis menarik mengenai situasi umat Islam yang porak-poranda oleh EIC (East India Company [VOC-nya Inggris]): “musuh terbesar umat Islam bukanlah kolonialisme Inggris, melainkan Jahiliyyah intelektual mereka sendiri”. Kekalahan dunia Islam, bagi Khan, bukan karena kalah diserang oleh kolonial, tapi karena memang layak untuk kalah. Bahkan, jika tak ada serangan EIC pun, Islam di India sudah membusuk pada abad itu.
Di masa lalu, kaum Jahiliyyat digambarkan sebagai orang-orang yang super keras kepala, hobi ngamuk, dan paling anti kalau disuruh berubah. Mereka malas mengeksplorasi ilmu baru dan cuma mau meniru apa pun yang dilakukan nenek moyang mereka (blind-taqlid).
Menurut Sayyid Ahmad Khan, kalau Anda hidup di zaman sekarang tapi malas belajar hal baru, malas riset, doom-scrolling tanpa filter, dan langsung cancel orang yang punya opini beda tanpa diskusi sehat, Anda sebenarnya lagi memelihara sifat Jahiliyyat itu. Jahiliyyat adalah kondisi ketika otak dan mentalnya mogok untuk move on dan berkembang.
Anak muda zaman Jahiliyyat dulu punya pandangan yang super gelap tentang waktu (dahr). Mereka merasa waktu itu kayak monster yang bakal menghancurkan segala hal, jadi hidup itu fana dan gak ada artinya. Karena menganggap gak ada hari pembalasan atau akuntabilitas transenden, prinsip hidup mereka jadi sejenis YOLO (You Only Live Once) yang kebablasan: “Hari ini hura-hura minum anggur, besok mati ya udah jadi debu”. Orang Jahiliyyat menjalani hidup secara instan tanpa peduli dampak jangka panjang, lari dari tanggung jawab moral (taklif), dan menganggap hidup cuma buat menuruti instinct hewani belaka.
Anti-virus Jadidiyyat memasukkan konsep Yaum al-Qiyama (Hari Kiamat/Peradilan). Ini bukan buat nakut-nakutin, tapi bertindak sebagai pengingat akuntabilitas: bahwa setiap tindakan lho di dunia ini ada impact-nya dan bakal dipertanggungjawabkan. Prinsip ini mengubah cara pandang manusia tentang waktu. Waktu bukan lagi musuh yang menghancurkan, melainkan panggung bagi manusia untuk mengukir sejarah dan melakukan aksi-aksi kebaikan (praxis). Hidup Anda jadi punya purpose yang jelas.
Dulu, masyarakat Jahiliyyat terpecah-pecah ke dalam kubu-kubu suku (asabiyyat) yang hobi tawuran dan saling serang demi ego kelompok. Sayyid Ahmad Khan bilang, Islam datang membawa konsep tauhid bukan cuma buat bilang “Tuhan itu satu”, tapi buat menyatukan segala yang terpecah-pecah (tatbi’a).
Di tangan Nabi, Tauhid itu gak cuma konsep teologis “Tuhan itu satu”, tapi sebuah gerakan sosial untuk menyatukan yang rusak dan terfragmentasi (tatbi’a). Anti-virus ini menghapus sekat-sekat kasta dan kesukuan, lalu membuat satu komunitas baru (umma) yang super egaliter, tempat semua orang punya value yang sama sebagai manusia di hadapan Tuhan. Pada diri umat, tak ada lagi cerita rasisme atau diskriminasi berbasis latar belakang.
Sifat orang Jahiliyyat itu suka memisah-misahkan hal yang harusnya bersatu. Contohnya: bikin kubu-kubuan yang toxic, atau memisahkan antara ilmu sains dan iman. Kalau Anda merasa orang pintar sains gak boleh religius, atau orang religius gak boleh percaya sains, Anda lagi terjebak di pola pikir Jahiliyyat yang memecah realitas.
Jahiliyyat itu bukan soal lho hidup di tahun berapa atau secanggih apa gadget lho. Jahiliyyat adalah kondisi ketika Anda berhenti berpikir kritis, malas menguji kebenaran lewat diskusi, hidup cuma buat konsumsi, dan membiarkan diri Anda dikontrol oleh ego kelompok.
Virus Jahiliyyat yang paling merusak adalah bikin orang malas mikir dan cuma bisa copy-paste kelakuan nenek moyang mereka (taqlid). Respons mereka selalu: “Ya dari sananya udah begini, mau gimana lagi?” Nabi Muhammad datang dan langsung mengaktifkan fitur Ijtihad—yaitu perintah untuk berjuang keras menggunakan akal pikiran (‘aql) demi mencari kebenaran. Jadidiyyat memaksa manusia untuk keluar dari zona nyaman intelektual. Nabi mengajarkan bahwa kebenaran itu tak turun dari langit secara instan untuk semua urusan teknis duniawi; manusia harus riset, mengamati alam, dan berani berdiskusi secara terbuka. Ini adalah anti-virus paling ampuh melawan hoaks, dogma buta, dan brainwash kelompok.
Di masa Jahiliyyat, kalau ada orang beda pendapat, pilihannya cuma dua: diperangi atau dicuekin. Mirip dengan fenomena cancel culture di media sosial sekarang. Nabi Muhammad lewat Jadidiyyat-nya membangun ruang publik pertama di Madina (berupa masjid dan majelis syura). Di sana, orang-orang dari berbagai latar belakang—bahkan kelompok non-Muslim sekalipun lewat Piagam Madinah—bisa duduk bareng, berdiskusi, dan bernegosiasi secara sehat. Sayyid Ahmad Khan menegaskan bahwa esensi dari kebebasan yang dibawa Islam adalah kebiasaan untuk mendengarkan argumen dua belah pihak secara adil. Anti-virus ini mengajarkan enlarged mentality: kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain sebelum lho membuat penilaian.
Sudah Jaddidiyat malah Jahiliyat lagi
Bagi Khan, Jadidiyyat yang dibawa Nabi Muhammad adalah definisi asli dari menjadi manusia modern yang progresif. Menjadi “modern” atau Jadid itu bukan soal seberapa keren pakaianmu atau seberapa viral kontenmu, tapi seberapa berani Anda menggunakan akal sehat untuk mendobrak kebodohan, menyatukan perbedaan, dan hidup penuh tanggung jawab moral.
Sayyid Ahmad Khan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad datang membawa sebuah “anti-virus” super canggih yang disebut Jadidiyyat (artinya: pembaruan atau modernitas yang sejati). Jadidiyyat ini bukan cuma soal bikin agama baru, tapi sebuah upgrade total pada “sistem operasi” mental dan sosial manusia supaya gak gampang crash.
Sayangnya, ujar Khan, umat Islam di zaman kolonial terkena lagi virus Jahiliyyat. Mereka secara sukarela me-uninstall anti-virus Jadidiyyat yang dibawa Nabi, lalu kembali ke cara berpikir purba yang kaku dan malas berkembang. Jadi, menurut Khan, wajar banget kalau akhirnya mereka kalah telak dan dijajah oleh bangsa kolonial. Bangsa kolonial menang bukan cuma karena punya senjata lebih banyak, tapi karena umat Islam sendiri yang memilih mematikan fungsi otaknya.
Setelah Jadidiyyat yang seharusnya menghapus Jahiliyyat, ummat Islam pada zaman kolonial justru kembali pada Jahiliyyat. Ciri pertama, mengidap penyakit “Safe Zone” dan “Males Update”. Umat Islam merasa sudah paling benar hanya karena memegang warisan masa lalu. Umat menolak belajar sains modern dan teknologi baru, menganggap ilmu dari luar itu haram atau kafir. Respons umat persis kayak kaum Jahiliyyat kuno: “Pokoknya dari dulu aturan nenek moyang udah begini, gak usah diubah!”
Ciri kedua, kehilangan kemampuan berpikir kritis. Umat terjebak dalam blind taqlid (ikutan tanpa mikir). Alih-alih menggunakan akal (‘aql) untuk memecahkan masalah baru, mereka cuma copy-paste fatwa-fatwa abad pertengahan yang sudah tak relatable sama kondisi dunia yang sudah berubah. Ketiga, Kabur dari Realitas (Mentalitas Korban). Saat kalah secara politik dan ekonomi dari kolonial, sebagian umat Islam malah memilih menarik diri ke dalam gua (isolasi mandiri secara kultural), atau malah bikin gerakan pemberontakan emosional tanpa persiapan matang. Umat menyalahkan takdir tanpa mau introspeksi bahwa “sistem operasi” internal mereka sendiri yang sudah corrupted.
Yuk Instal Ulang Jaddidiyat
Supaya umat Islam gak selamanya jadi pecundang di panggung sejarah, Khan menawarkan beberapa solusi konkret untuk melakukan reboot total:
Pertama, Instal Ulang Sains Modern (Jangan Alergi Teknologi). Khan menegaskan bahwa hukum alam (work of God) dan wahyu Al-Qur’an (word of God) itu berasal dari sumber yang sama, jadi gak mungkin tabrakan. Solusi pertamanya: umat Islam wajib belajar sains, matematika, filsafat, dan bahasa asing (waktu itu bahasa Inggris). Belajar ilmu modern bukan berarti lho mau jadi Barat, tapi itu adalah cara lho mengaktifkan kembali perintah Nabi untuk terus mencari tahu kebenaran tentang alam semesta.
Kedua, Bangun “Community of Discourse” (Ruang Diskusi, Bukan Ruang Nge-Hate). Khan gak suka sama gerakan politik yang cuma bisa marah-marah atau bikin kubu yang toxic. Solusinya, dia mendirikan Muhammadan Anglo-Oriental (MAO) College di Aligarh. Tempat ini didesain kayak kampus modern tempat anak muda bisa tinggal bareng, belajar sains Barat sekaligus mendalami esensi Islam, dan berdebat secara sehat. Khan pengen lho punya enlarged mentality: bisa mendengar opini orang lain secara adil tanpa langsung pengen cancel atau nge-war.
Ketiga, Aktifkan Fitur “Ijtihad” (Berani Berpikir Mandiri). Stop jadi generasi yang cuma bisa manut tanpa paham esensinya. Khan menuntut umat Islam untuk berani melakukan ijtihad—yaitu menggunakan rasionalitas untuk menafsirkan ulang nilai-nilai agama agar sesuai dengan tantangan zaman baru (zaman-i-jadid). Agama itu dinamis dan fleksibel, bukan kaku kayak batu. Kebenaran Islam justru bakal makin bersinar kalau lho berani mengujinya lewat diskusi terbuka, bukan dengan cara menyembunyikannya dari kritik.
Keempat, Fokus Jadi Subjek Sejarah, Bukan Korban Keadaan. Daripada sibuk menyalahkan kaum kolonial atau meratapi masa lalu, Khan pengen lho fokus membangun kapasitas diri. Lho harus menguasai ekonomi, administrasi, dan literasi. Kebebasan sejati (liberty) adalah hak natural dari Tuhan, tapi lho baru bisa merebutnya kalau lho punya kualitas mental dan intelektual yang diakui dunia. Jadilah pemain (subjek), jangan cuma jadi penonton atau korban (objek) dari perkembangan zaman.
Kata Sayyid Ahmad Khan, kalau lho kalah di sekolah, di karier, atau di kehidupan, jangan buru-buru menyalahkan sistem eksternal atau menyalahkan takdir. Coba cek internal lho: jangan-jangan lho lagi memelihara malware Jahiliyyat (malas, kaku, hobi nge-hate kelompok lain).
Sejarah Berulang: Hadirnya Jahiliyyat baru
Banyak dari cara hidup anak Gen Z zaman sekarang ternyata diam-diam sudah me-uninstall anti-virus Jadidiyyat dan kembali crash ke dalam malware Jahiliyyat baru.
Ingat, Jahiliyyat itu bukan soal lho hidup di goa atau gak punya teknologi. Ini adalah soal vibe mental, cara pandang terhadap waktu, dan bagaimana lho memperlakukan otak lho.
Nih, bukti-bukti autentik kalau lifestyle Gen Z hari ini makin mirip dengan masyarakat Jahiliyyat kuno, Khurram Hussain mencatat beberapa hal yang mengindikasikannya:
Pertama, dari Asabiyyat (Suku Kuno) ke Tribalism Algoritma (Kubu Medsos). Dulu, malware Jahiliyyat bikin orang Arab terkotak-kotak ke dalam klan atau suku (asabiyyat) yang hobi perang demi membela ego kelompoknya, peduli amat kelompoknya salah atau benar.
Gen Z hari ini melakukan hal yang sama persis lewat Tribalism Digital. Terjebak di dalam echo chamber algoritma, lho bikin kubu-kubu ekstrem di timeline: Fandom A vs Fandom B, Sekte Politik X vs Sekte Politik Y, atau perdebatan tanpa akhir di X (Twitter). Kebenaran gak lagi penting; yang penting adalah membela “suku digital” lho dan menyerang kelompok lain. Ini adalah kebangkitan insting asertif hewan kuno yang merusak ruang publik.
Kedua, Efek Dua Savages: Ketika Cancel Culture Menghabisi Nalar Moral. Ingat cerita Khan tentang dua orang savage yang membunuh cewek yang mereka taksir demi menyelamatkan persahabatan mereka? Mereka bertindak pakai instinct mentah, bukan pakai pertimbangan moral yang matang. Fenomena ini reborn dalam bentuk Cancel Culture di medsos. Cuma modal potongan video 15 detik tanpa tahu konteks utamanya, netizen Gen Z bisa langsung nge-war, nge-doxing, dan menghancurkan hidup seseorang. Alih-alih mengaktifkan fitur Ijtihad (riset, tabayyun, dengar argumen kedua belah pihak secara adil), lho langsung main cancel asal kelompok lho senang. Membunuh karakter orang lain demi validasi kelompok adalah definisi murni dari kebaikan ala savage (Wahshiyānah Nekī).
Ketiga, Doomscrolling dan Kebangkitan Nihilisme Dahr (YOLO yang Salah Kaprah). Penyair Jahiliyyat dulu frustrasi banget sama waktu (dahr) yang dianggap gak punya arah moral dan cuma bisa menghancurkan manusia jadi debu kuburan. Respons mereka? Hidup instan, konsumtif, dan cari kesenangan inderawi murni: “Wine today! Tomorrow affairs will show their face”.
Coba bandingkan sama tren Gen Z sekarang: doomscrolling berjam-jam sampai kena mental breakdown, meratapi masa depan yang suram (nihilisme), lalu lari ke gaya hidup YOLO dan Hedonisme instan yang corrupted. Memanjakan self-reward berlebihan pakai duit yang gak ada, hidup tanpa akuntabilitas jangka panjang, dan menganggap hidup gak punya purpose transenden selain konsumsi adalah cara tercepat buat lho turun kasta dari manusia (viva activa) menjadi sekadar animal laborans (makhluk yang cuma hidup buat makan, tidur, dan beranak pinak).
Keempat, Blind Taqlid Versi Premium: Tunduk pada Influencer dan Tren TikTok. Kaum Jahiliyyat dulu dikritik Al-Qur’an karena kalau dikasih tahu kebenaran, mereka selalu beralasan: “Gak bisa, kita harus ikutan tren dan cara hidup nenek moyang kita”. Sekarang, nenek moyang lho sudah digantikan oleh Influencer, Selebgram, dan Algoritma FYP. Lho kehilangan kemampuan self-reflection (berkaca pada diri sendiri). Lho beli barang bukan karena butuh, tapi karena “racun TikTok”. Lho ikut-ikutan opini publik atau tren dance tertentu cuma karena takut dibilang gak gaul (FOMO). Ketika lho menelan mentah-mentah apa yang viral tanpa berani bersikap kritis secara mandiri, lho lagi mematikan fungsi ‘aql (intelek) lho dan menjadi budak taqlid paling paripurna dalam sejarah manusia.
Jahiliyyat itu Morosophy
Jika mau dibedah semua tren destruktif di atas pakai kacamata filsafat, fenomena Jahiliyyat Baru yang menjangkiti Gen Z saat ini sebenarnya adalah sebuah morosophy—alias kebodohan yang terstruktur (jahil murakkab), dikemas dengan bahasa ilmiah, dan dirayakan seolah-olah sebagai kebijaksanaan tinggi.
Di era digital ini, manusia tidak kekurangan informasi, melainkan kehilangan kemampuan untuk merefleksikan diri (self-reflection) karena nalar instrumental telah mengambil alih ruang publik. Seseorang bisa merasa sangat progresif saat melakukan doxing atas nama keadilan, merasa paling merdeka saat menganut nihilisme YOLO, atau merasa sangat tercerahkan saat menelan mentah-mentah opini influencer di FYP mereka. Padahal, apa yang mereka sebut sebagai “kebebasan berpendapat” hanyalah luapan emosi instan (emotivisme) yang sudah disetir oleh kapitalisme algoritma. Ini adalah puncak dari morosophy: ketika kedangkalan berpikir dilegitimasi oleh teknologi mutakhir, membuat manusia merasa menjadi subjek yang paling tahu, padahal mereka hanyalah objek yang sedang dikontrol oleh kenyamanan semu.
Kondisi terjebak dalam morosophy ini terjadi justru karena manusia modern dengan sengaja memisahkan antara akumulasi pengetahuan (‘ilm) dengan kebijaksanaan moral (hilm). Akibatnya, alih-alih melahirkan generasi yang kritis (ijtihad), ekosistem digital kita justru memproduksi masyarakat savage versi premium yang kaku, reaktif, dan penakut terhadap diskusi terbuka. Mereka mengira telah mencapai puncak pencerahan, padahal mereka sedang mereproduksi ego kesukuan kuno (asabiyyat) ke dalam bentuk faksi-faksi digital yang toxic.
Sayyid Ahmad Khan mengingatkan bahwa kebenaran sejati tidak pernah takut pada perdebatan fair dan pengujian nalar secara mendalam. Ketika Gen Z menolak tradisi berpikir mandiri dan lebih memilih berlindung di balik kenyamanan cancel culture serta kepuasan konsumsi instan, mereka secara sukarela sedang menginstal kebodohan kolektif yang akut—sebuah jahiliyyat baru yang berjalan dengan sombong di bawah narasi palsu kemajuan zaman.