Oleh: Arip Budiman

Pertemuan Pertama: Selayang Pandang
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh, teman-teman mahasiswa sekalian, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Di hari kelima puasa ini (atau keenam bagi yang mulai berpuasa di tanggal 18 Februari 2026), semoga teman-teman sekalian tetap diberikan kekuatan untuk istiqomah dalam meluruskan niatnya untuk berpuasa. Ibadah ini, sudah barang tentu bukan hanya sekedar menahan hawa nafsu seperti amarah, rasa lapar, dan dahaga semata. Lebih dari itu, puasa menjadi semacam pendidikan jiwa kita, agar kelak kita tidak terbelenggu oleh aspek-aspek material yang selama ini memperbudak kita. Tidak jarang kita jumpai ada manusia yang seperti “srigala”, menerkam yang lainnya hanya untuk membuat perutnya kenyang. Tidak jarang juga kita dapati, ada orang lain yang kelaparan, namun irama garpu dan sendok makan kita telah membuat telinga menjadi tuli, mata menjadi buta, dan hati hilang peduli. Dengan puasa, kita belajar untuk menunda kenikmatan material sesaat, demi meraih kenikmatan spiritual yang tiada terukur kadar kenikmatannya. Dari makhluk yang terlalu asik dengan materi, menjadi sang perindu untuk merengkuh cinta Ilahi.
Tanpa bertele-tele, baik kita akan langsung ke pembahasan. Hari ini pertemuan pertama kita, diawali dengan pembahasan tentang satu pertanyaan dasar; “apa itu filsafat Islam? Apa perbedaan mendasar antara filsafat Islam dengan Barat? Apakah filsafat Islam itu adalah filsafat Yunani yang diubah dalam narasi teks Arab? Jika demikian, adakah filsafat dalam Islam?”. Tentu, rentetan pertanyaan bisa diajukan secara tidak terbatas. Akan tetapi, sebelum kita melangkah lebih jauh pada tema-tema yang lebih luas, kiranya kita perlu membatasinya pada status ontologis dari filsafat Islam itu sendiri.
Upaya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di atas, kita akan dibawa pada suatu petualangan untuk menyelami kekayaan tradisi intelektual di dunia Islam. Sudah barang tentu kita tidak hanya menyelami sejarahnya saja, lebih dari itu kita akan bertemu dengan gagasan-gagasan hebat para Ulama kita yang telah membentuk peradaban Islam selama ratusan tahun. Filsafat Islam adalah satu frasa yang menurut saya lebih pas, tinimbang tuduhan orang-orang yang tidak menyukai Islam yang menuduh bahwa filsafat Islam tidak lebih dari filsafat Yunani yang di-Islamkan. Kenapa demikian? Karena cakupan dari filsafat Islam ini lebih luas. Seperti yang dikemukakkan oleh Oliver Leaman, salah seorang professor yang ahli bidang filsafat Islam di Amerika Serikat menyatakan:
“Pada masa yang lampau, saya sempat menganggap (tasawuf dan mistisisme yang banyak mewarnai filsafat Islam, khususnya pasca Ibnu Rusyd) sebagai bukan filsafat sama sekali, dan lebih erat terkait dengan teologi dan pengalaman religius yang subjektif. Saya menganggap bentuk-bentuk pemikiran ini sebagai indikasi-indikasi bentuk schwarmerei atau keliaran, yang saya pandang sebelah mata dengan gaya pelecehan Kantian. Saya sekarang berpikiran bahwa pada masa lampau pendekatan saya terhadap cara-cara berfilsafat ini terlalu terbatas. (Sesungguhnya, bahkan teologi dan tasawuf) memiliki kaitan yang jauh lebih banyak dengan tradisi peripatetik (yang lebih rasional dan analitik)” (Oliver Leaman, 2002).
Dari apa yang diuraikan oleh Oliver Leaman, di sini kita dapat menarik beberapa kesimpulan; pertama, filsafat Islam bisa disebut demikian (bukan sekedar filsafat Muslim atau Arab), karena dalam tradisi filsafat Islam terdapat sipat-sipat yang sudah tentu dari konteks ajaran Islam di dalamnya. Meskipun demikian, filsafat Islam tidak kehilangan karakter filosofisnya yang bersipat rasional dalam segenap prosedur beripikirnya. Kedua, meskipun karakter ajaran Islam telah mewarnai dalam tradisi filsafat Islam, pada kenyataannya ia telah menyumbangkan banyak tema baru dalam khazanah filsafat, termasuk dalam epistemologi dan ontologi. Tentu, catatan ringkas ini bukanlah tempatnya untuk menjelaskan lebih terperinci. Yang jelas, tuduhan-tuduhan orang lain yang menyatakan bahwa filsafat Islam merupakan “contekan” dari filsafat Yunani, saya kira dapat dipastikan orang yang menuduh itu adalah orang yang sama sekali tidak akrab dengan filsafat Islam.
Cakpuan dalam tradisi filsafat Islam itu sangatlah luas, ia bukanlah milik dari satu agama saja, melainkan milik semua orang yang hidup pada era itu dan saat ini. Pada masa kejayaan Islam, tradisi filsafat Islam meliputi dan membentang dari Andalusia (Spanyol), sampai ke benua Hindia di Timur. Tradisi intelektual lahirnya filsafat Islam ini melibatkan para pemikir yang berlatar belakang tidak dari satu agama saja. Misalnya teman-teman pernah mendengar nama penterjemah filsafat Yunani pertama, selain al-Kindi seperti Hunayn Ibn Ishaq (873 M), adalah seorang Kristen yang sangat piawai berbahasa Arab dan Yunani. Bahkan dalam sejarah, konon diceritakan ia pernah berkunjung langsung ke Yunani. Hunayn menterjemahkan 20 buku Galen ke dalam bahasa Syiria dan 24 buku lainnya ke dalam bahasa Arab (Harun Nasution, 1990). Selain itu, ada juga beberapa nama yang melakukan penterjemahan pada era Khalifah Harun Arrasyid (masa Abbasiyah) melalui wadah baitul falsafah, seperti Ishaq (anak dari Hunayn) (910 M). Thabit Ibn Qurra (825-901 M), ia merupakan seorang penyembah bintang. Ada juga Abu Bishr Matta Ibn Yunus (939 M) yang juga seorang Kristiani.
Mereka semua menerjemahkan sebagian dari karangan-karangan Aristoteles (yang nantinya disebut sebagai filsafat peripatetik), karya Plato, neo-Platonisme, Galen yang sebagian karyanya dipelajari sebagai rujukan awal ilmu kedokteran dan dikembangkan oleh Ibnu Sina yang sering dirujuk sebagai bapak kedokteran Modern. Karya-karya yang sudah diterjemahkan ini menarik perhatian kalangan Mu’tazilah yang sejak dari awal, dalam diskurus teologi menggunakan pendekatan akal atau rasional (logika). Mereka (Mutazilah) banyak membaca karya-karya filsafat Yunani, sehingga tidak mengherankan jika corak pemikirannya sangat rasional dan liberal.
Tidak lama setelah itu, lahirlah di kalangan umat Islam para filsuf dan orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama dalam konteks kedokteran, seperti Abul Abbas al-Syarkasi (abad ke-9), al-Razi (abad ke-10), dan lain-lain. Filsuf Islam yang pertama (yang dikenal sebagai guru pertama) adalah al-Kindi, lalu kemudian al-Farabi, Ibn Sina. Ketiga filsuf awal Islam ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles, Plato, dan Plotinus (di pertemuan berikutnya kita akan membahas ini lebih luas).
Dengan menelusuri sejarah seperti tadi, akhirnya kita mengetahui titik balik berdirinya peradaban Islam dalam bidang filsafat, para pemikirnya bukanlah dari Islam belaka, tentu ada juga yang dari Kristen dan Yahudi. Filsuf-filsuf non-Muslim juga memiliki peran yang cukup krusial, terutama dalam menerjemahkan karya-karya Yunani. Bahkan, dari proses penerjemah ini lahirlah salah satu filsuf Yahudi terhebat sepanjang masa bernama Maimonides yang menulis pemikiran filsafatnya dalam dunia Islam. Karya-karya yang mereka tulis diterjemahkan dalam bahasa Suryani, Arab, Ibrani dan Persia (Peter Adamson, 2015). Tentu ini benar-benar dialog pengetahuan lintas budaya yang kaya dan sangat keren.
Jadi, setelah kita tahu sejarahnya, tuduhan bahwa filsafat dalam dunia Islam itu tidak lebih dari filsafat Barat yang di-Arabkan, apalagi yang di-Islamkan, sangatlah tidak tepat. Karena fakta sejarah menunjukkan bahwa filsafat Islam milik semua golongan yang tidak terbatas pada arti Islam secara sempit. Dengan demikian, kita kembali ke inti pembahasan dengan petanyaan “apa itu filsafat Islam?”. Untuk menjawabya, kita perlu melihat para tokoh filsafat Islam dalam mendefinisikan apa itu filsafat Islam.
Definisi Filsafat Islam
Di antara teman-teman sekalian mungkin ada yang memiliki unek-unek tentang apa itu filsafat dan bagaimana perbedaannya dengan agama. Di mata kuliah filsafat Ilmu, kita pernah membahasnya secara singkat (kalau teman-teman tidak lupa), dimana filsafat bermula dari keraguan, sedangkan agama berawal dari kepastian atau keimanan. Jawaban klasik seperti ini, rasanya cukup memuaskan. Namun kalau bicara rasa, tentu sangat subjektif, karena pada kenyataannya agak lebih kompleks. Alasannya adalah pertama, tidaklah benar bahwa agama Islam menganjurkan kepada penganutnya bermula dari iman semata. Iman itu sendiri haruslah rasional, karena seperti yang Nabi Dawuhkan bahwa “agama adalah akal. Tak ada agama bagi orang yang tidak berakal” (Haidar Baghir, 2020).
Kedua, sama tidak benarnya bahwa filsafat Islam sepenuhnya berangkat dari keragu-raguan. Seperti yang akan kita lihat nanti pada definisi filsafat Islam menurut para tokoh Filsafat Islam, ciri berpikir dalam dunia Islam tidaklah dimulai dari sikap skeptisisme seperti yang dilakukan oleh Rene Descartes. Corak yang membedakan filsafat Islam dan Barat dapat dilihat dari epistemologinya (pendekatan atau cara mengetahui) yakni bersipat ta’abudi (tradisional) dan teologis adalah pada metode yang digunakannya. Maksudnya adalah, metode penggalian pengetahuan dalam filsafat Islam lebih bersipat demonstrasional (burhani). Para filsuf Muslim membangun argumentasi filosofisnya melalui pijakan apa yang dipercayai dan disepakati secara umum (bukan dari hal yang skeptis) dalam Islam. Jadi, para filsuf Muslim tidak pernah lepas dari bayang-bayang nilai-nilai kebenaran dalam Islam. Nuansa religius inilah yang menjadi pembeda dari corak pemikiran filsafat Barat. Dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam lahir dari gabungan antara pemikiran liberal dan agama (Haidar Baghir, 2020). Dengan demikian, epistemologi Islam lebih bahkan pada corak yang peripatetik sekalipun, tetap selalu melibatkan Tuhan: seperti adanya tingkatan aql (rasio-intelek, intuisi atau ilham). Ketiga jenis aql ini akan dijelaskan pada pertemuan berikutnya. Yang jelas, akal tidak semata-mata dipahami sebagai rasio yang berkaitan dengan otak belaka.
Orang-orang yang tidak suka boleh saja mempersoalkan kemurnian sipat “filosofis” filsafat Islam. Pada kenyataannya dalam stiap metode penggalian pengetahuannya sangat mendalam seperti yang telah dikemukakkan oleh Oliver Leaman di atas. Sekarang, mari kita lihat atau selami beberapa definisi filsafat Islam menurut para tokoh Filsuf Muslim yang pemikirannya akan kita bahas dalam satu semester ini. Berikut adalah deskripsi tentang definisi dan ruanglingkup filsafat Islam:
Definisi Filsafat Islam Filsafat Islam (falsafah atau hikmah) bukanlah sekadar kelanjutan dari filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, melainkan sebuah tradisi filosofis yang mandiri dan berkembang di bawah naungan realitas kenabian dan wahyu Islam (Seyyed Houssen Nashr, 2006; Masimmo, 2008). Filsafat dalam konteks Islam tidak dipandang sekadar sebagai aktivitas rasional sekuler yang terputus dari Yang Sakral, melainkan sebagai sebuah “filsafat tradisional” yang pencarian kebenarannya diterangi oleh cahaya Intelek Ilahi dan wahyu (Seyyed Housen Nashr, 2006). Beberapa tokoh besar dalam tradisi ini memberikan definisi spesifik mengenai filsafat Islam:
- Al-Kindi
Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang realitas segala sesuatu sesuai dengan ukuran kapasitas manusia. Tujuan teoretis dari seorang filsuf adalah untuk memperoleh kebenaran, dan tujuan praktisnya adalah untuk bertindak atau berperilaku sesuai dengan kebenaran tersebut (Majid Fakhry, 2009). Filsafat pertama (metafisika) baginya adalah pengetahuan tentang Yang Pertama dan Yang Benar (Tuhan) yang merupakan sebab dari segala kebenaran (Majid Fakhry, 2009).
- Al-Farabi
Ia mendefinisikan filsafat secara ontologis sebagai “pengetahuan tentang yang-ada sebagai yang-ada” (the knowledge of existents qua existents) (Seyyed Hossein Nasr, 2009).
- Ibnu Sina (Avicenna)
Baginya, hikmah (filsafat) adalah upaya penyempurnaan jiwa manusia melalui konseptualisasi segala sesuatu dan penilaian atas kebenaran teoretis maupun praktis sesuai dengan batas kemampuan manusia (Seyyed Hossein Nasr, 2009).
- Mulla Sadra
Ia mendefinisikan filsafat sebagai upaya menyempurnakan jiwa manusia (sejauh kemungkinan manusia) melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu, guna memberikan tatanan yang dapat dipahami pada dunia agar manusia menyerupai Sang Pencipta (Seyyed Hossein Nasr, 2009).
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakkan oleh para tokoh filsafat Islam di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam merupakan sebuah disiplin intelektual yang berupaya memahami hakikat realitas dan eksistensi (ontologi) secara mendalam sesuai dengan batas kapasitas manusia, di mana pengetahuan tersebut tidak berhenti pada tataran “teoretis” semata, namun berorientasi pada penyempurnaan jiwa dan tindakan “praktis”. Esensi dari berfilsafat dalam tradisi ini adalah sebuah perjalanan transformatif untuk meraih kebenaran sejati –yang puncaknya adalah pengenalan terhadap Tuhan sebagai Sebab Pertama– sehingga manusia mampu menata kehidupannya dengan bijaksana dan merefleksikan sifat-sifat luhur Sang Pencipta dalam dirinya.
Ruang Lingkup Filsafat Islam
Mengulang mata kuliah yang pernah sama-sama kita pelajari di semester lalu, yakni filsafat Ilmu, saya ingin kembali untuk mengingat teman-teman tentang objek formal dan objek material. Hal demikian sangatlah penting untuk diulas kembali, mengingat agar kita dapat melihat ruang lingkup kajian filsafat Islam seperti apa, apa yang membedakan antara filsafat Islam dan filsafat Ilmu. Objek material, seperti namanya adalah sesuatu yang sifatnya material ialah apa yang kita bisa lihat secara materil dari fokus kajian filsafat Islam. Jika semester lalu saya memberikan contoh tentang manusia sebagai objek material, jika dilihat dalam kacamata biologi, secara formal ia hanya akan melihat manusia pada aspek organismenya saja. Jika dilihat dalam kacamata Psikologi, meski materinya sama adalah manusia, yang dilihat tentu berbeda seperti biologi melihat organismenya, lebih dari itu psikologi akan melihat bagian kejiwaan manusia, dan seterusnya.
Ruang lingkup filsafat Islam sangat komprehensif. Sejarah filsafat Islam menolak pembatasan hanya pada tradisi falsafa (aliran rasional yang dipengaruhi Helenistik), karena pemikiran filosofis juga terjalin kuat dan merangkum diskursus dalam teologi rasional (Kalam), mistisisme/tasawuf (Sufisme atau ‘irfan), tata bahasa Arab, hingga prinsip-prinsip yurisprudensi (ushul fikih) dan tafsir Al-Qur’an (Richard C. Taylor, Luis Xavier López-Farjeat, 2015). Dari sini kita bisa melihat, yang menjadi objek materialnya mencakup tiga pilar besar (tiga realitas): Tuhan (Al-Haqq): Mengenai esensi-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hubungan-Nya dengan alam semesta (Teologi/Metafisika). Alam Semesta (Al-Kawn): Mengenai asal-usul alam (kosmologi), keteraturan, dan kedudukannya sebagai manifestasi kebesaran Pencipta. Manusia (Al-Insan): Mengenai hakikat jiwa, potensi akal, etika, dan tujuan akhir manusia atau eskatologi (Ma’ad). Sedangkan objek formal Filsafat Islam adalah: Akal Budhi (‘Aql): Penggunaan rasio secara mendalam, radikal (sampai ke akar), dan sistematis untuk mencari hakikat kebenaran. Harmonisasi Wahyu dan Rasio: Berbeda dengan filsafat Barat modern yang seringkali memisahkan agama, objek formal filsafat Islam melihat realitas melalui “lensa” akal yang disinari oleh cahaya wahyu. Tujuannya bukan untuk mendebat wahyu, melainkan untuk membuktikan kebenaran wahyu melalui argumentasi rasional yang kokoh.
Secara klasik, filsafat Islam membagi ilmu-ilmu intelektual menjadi dua cabang utama: Teoretis (meliputi metafisika, fisika, matematika, dan logika) dan Praktis (meliputi etika, politik, dan ekonomi) (Seyyed Hossein Nasr, 2009).
Dikarenakan saat saya menulis materi ini sudah pukul 03.15 WIB, jadi terpaksa harus saya akhiri. Pastinya, dalam pertemuan pertama ini kita baru membahas pengantar; definisi dan ruang lingkup filsafat Islam, dengan tujuan agar kita memiliki pemahaman dasar dari materi yang akan kita kaji lebih lanjut. Harapannya, kita tidak terjebak lagi pada kesalahan dari yang orang lain tuduhkan bahwa filsafat Islam merupakan contekan dari Filsafat Yunani, jelas itu keliru. Catatan ini sengaja saya buat, karena alasan beberapa hal, di antaranya untuk mengikat ilmu yang saya baca dan berikutnya untuk mengcover materi perkuliahan, bagi teman-teman yang tidak bisa hadir secara offline. Bagi saya, perkuliahan online itu terlalu banyak distraksinya, entah itu dengan rasa ngantuk karena kebiasaan tidur setelah subuh, atau bahkan tidak jarang beberapa teman-teman hanya hadir saja di ruang meeting tanpa memperhatikan. Harapannya, meskipun temen-temen terkendala dalam mengikuti perkuliahan, setidaknya materi perkuliahan bisa sampai ke teman-teman sekalian. Tentu, masih banyak kekurangan pada diri saya, besar harapan saya agar teman-teman membaca lebih lanjut dari buku-buku rujukan yang saya rekomendasikan pada silabus perkuliahan ini. Salam []
*Disampaikan pada perkuliahan Filsafat Islam Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung [Bandung, 23 Februari 2026].
Daftar Pustaka
Adamson, P. (2015). Philosophy in the Islamic World: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press
Bagir Haidar, (2020), Mengenal Filsafat Islam: Pengantar Filsafat yang Ringkas, Menyeluruh, Praktis, dan Transformatif, Bandung: Mizan, 2020
Campanini, M. (2008). An Introduction to Islamic Philosophy (C. Higgitt, Penerj.). Edinburgh: Edinburgh University Press
Fakhry, M. (2009). Islamic Philosophy: A Beginner’s Guide. Oxford: Oneworld Publications
Nasution, Harun (1973), Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973
Nasr, S. H. (2006). Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. Albany, NY: State University of New York Press
Taylor, R. C., & López-Farjeat, L. X. (Eds.). (2016). The Routledge Companion to Islamic Philosophy. New York: Routledge