KETIKA NAFAS MENGAJARKAN KITA HADIR

Oleh: Neng Hannah

Pagi ini, semua anggota keluarga sudah berangkat ke sekolah dan kampus. Tinggal saya duduk di dapur yang sunyi, menunggu air mendidih untuk kopi. Menunggu membuat saya diam, dan dalam diam itu saya mulai mendengar ritme nafas sendiri. Suara bisu dari dalam tubuh itu terasa seperti ketukan lembut dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Di dapur ini, saya mulai menyadari denting halus dari napas, sesuatu dalam diri perlahan terbuka. Kesadaran yang muncul bukan sekadar kesadaran akan tubuh, melainkan kesadaran akan “yang mengamati” di balik tubuh. Ritme napas itu berubah menjadi jembatan halus antara diri sebagai manusia yang terbatas dan sesuatu yang lebih luas yang memeluk keberadaannya. Kesadaran bukan hanya urusan otak, tetapi ruang sunyi tempat diri dan Yang Ilahi saling bertemu. Napas menjadi saksi, tubuh menjadi medium, dan kesadaran, sebagaimana ia telaah dalam renungan filsafat, menjadi titik temu antara manusia yang mengalami dan Sang Sumber yang memungkinkan pengalaman itu terjadi.

Kesadaran manusia terhadap dirinya sering kali tumbuh melalui pengalaman eksistensial yang sederhana tetapi mendasar. Pengalaman tersebut dapat muncul melalui perubahan emosional, kejernihan batin, atau bahkan melalui perjumpaan dengan aktivitas tubuh yang paling elementer: bernafas. Tulisan ini mencoba mengamati seorang manusia yang tampak tengah mengalami transisi kesadaran dari kondisi pasif menuju posisi sadar-diri yang lebih utuh.

Pada tahap awal pengamatannya, manusia tersebut tampak berada dalam situasi kesadaran yang baru terbangun. Ia menyadari stabilitas emosinya meningkat dan penerimaannya terhadap realitas, baik yang menyenangkan maupun yang tidak diinginkan, menjadi lebih utuh. Kondisi ini mencerminkan apa yang oleh Heidegger disebut sebagai Befindlichkeit atau “ter-jumpa-diri,” yaitu momen ketika manusia menemukan bahwa dirinya telah berada dalam-dunia dan merasakan atmosfer emosional baru yang membuka kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas keberadaannya.[1]

Kesadaran itu kemudian mengarah pada penghayatan terhadap nafas. Manusia tersebut memahami bahwa kemampuan melihat, mendengar, atau merasakan bukan berasal dari organ indrawi semata, melainkan karena adanya nafas yang menghidupi tubuh. Kesadaran ini secara teoretis bersesuaian dengan pandangan Merleau-Ponty dalam Phenomenology of Perception, bahwa tubuh bukanlah objek biologis, melainkan medium utama yang memungkinkan manusia mengalami dunia.[2] Melihat bukan hanya fungsi mata; ia adalah tindakan tubuh yang hidup (living body). Dengan demikian, nafas dapat dipahami sebagai kondisi primer yang memampukan subjek menghadirkan dunia ke dalam kesadarannya.

Pandangan Abram juga memberikan lapisan refleksi tambahan dalam dimensi ekologis dan spiritual. Dalam The Spell of the Sensuous, Abram menjelaskan bahwa nafas merupakan jembatan paling intim antara tubuh manusia dan kosmos.[3] Nafas memungkinkan pertukaran terus-menerus antara dunia luar dan interior tubuh manusia. Dalam konteks manusia yang diamati, setiap tarikan nafas tampak dipahami sebagai masuknya energi kosmik, sedangkan setiap hembusan menjadi cara tubuh melepaskan ketegangan dan keterbatasan. Kesadaran akan pertukaran ini menandai pemahaman spiritual baru bahwa manusia adalah bagian dari keseluruhan yang lebih besar, bukan entitas yang berdiri sendiri.

Kesadaran yang tumbuh tersebut tampak masih rapuh. Saya mengibaratkannya sebagai lilin kecil yang baru dinyalakan. Kerapuhan ini selaras dengan konsep Heidegger tentang potensi authenticity (Eigentlichkeit), yakni bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara keterjagaan eksistensial dan kemungkinan hanyut kembali ke ketidaksadaran sehari-hari. [4] Karena itu, manusia tersebut tampak berusaha menjaga konsentrasi batinnya dan memelihara kehadiran yang lebih penuh, meski ia sadar bahwa badai kehidupan sewaktu-waktu dapat mengguncangnya.

Hmm… nafas yang terus keluar masuk ini  ternyata bukan hanya sebagai mekanisme biologis.  Melainkan  sebagai locus spiritual, tempat manusia merasakan kehadiran Allah sebagai sumber kehidupan yang tak terbatas. Ini mengantarkan kesadaran dan membuka kemungkinan bagi manusia untuk mempertahankan kejernihan batin dan kekuatan spiritual ketika menghadapi tantangan hidup. Maka, nafas ini bukan sekadar gerak fisiologis, tetapi merupakan pengalaman fundamental yang menghubungkan manusia dengan realitas yang lebih tinggi: Cahaya-Nya.

 

***

[1] Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie & Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), hlm. 172–178.

[2] Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London: Routledge, 2002), hlm. 203–211.

[3] David Abram, The Spell of the Sensuous (New York: Vintage Books, 1996), hlm. 55–70.

[4] Heidegger, Being and Time, hlm. 182–190.

 

WhatsApp
Facebook
Email
Print