MENGURAI DIRI DALAM ADA BERSAMA YANG-LAIN (MITSEIN)

Oleh: Saeful Anwar

Narasi eksistensi diri kerap kali dimulai dengan seruan kuno yang bersifat imperatif—Kenalilah dirimu sendiri (gnothi seauton). Namun, hasrat untuk menelanjangi kedirian ini segera berhadapan dengan sebuah realitas filosofis yang brutal, hakikat subjek kesadaran—yang oleh Martin Heidegger disebut Dasein (Keberadaan-di-sana)—bukanlah entitas yang terisolasi yang di andaikan Descartes (res cogitans), melainkan secara fundamental adalah keberadaan yang temporal dan relasional. Intuisi awal yang mendesak Dasein untuk membakar buku-buku petuah dan mengubur teori tentang rumusan diri, demi mencari otentisitas, pada akhirnya hannyalah permulaan untuk menyadari bahwa kegagalan mengenal diri sejati bersumber dari sebuah lupa-diri yang jauh lebih dalam. Ini adalah keterjatuhan (Verfallen) ke dalam anonimitas publik. Kita teramat mudah menemukan kesalahan pada diri yang-lain—sebuah tindakan penelisikan yang mudah tetapi tak membawa kita kemana-mana—namun lupa, sesungguhnya kitalah yang salah, sebab lupa-diri ini adalah fungsi dari keterperangkapan kita di dalam Das Man (orang kebanyakan) yang mendikte cara kita menjadi otentik.

Tesis alternatif yang diajukan oleh hermeneutika eksistensial adalah, hakikat diri ditemukan bukan dalam isolasi rasional yang berawal dari kepastian cogito ergo sum, melainkan dalam struktur ontologis Ada Bersama (Mitsein) yang merupakan prasyarat mutlak bagi keberadaan Dasein. Diri individu adalah suatu sosok yang kompleks dan pelik, tetapi kerumitan ini bukan semata-mata tumpukan pengalaman pribadi yang sadar. Ia merupakan percampuran misterius antara pengalaman personal, pengalaman kolektif, hingga pengalaman kosmik yang sudah dihayati secara pra-sadar dan pra-reflektif. Inilah Lebenswelt—dunia yang langsung dihayati dan dijalani begitu saja—sebuah domain Ada-di-dunia (In-der-Welt-Sein) yang ditandai oleh kesiapsediaan (Zuhandenheit) alat-alat dan keterlibatan praktis, bukan oleh kehadiran (Vorhandenheit) objek statis. Epistemologi tradisional gagal karena menuntut subjek yang terisolasi untuk mengumpulkan pengetahuan tentang diri yang sesungguhnya sudah lampau dan usang—teramat usang untuk dijadikan pedoman—alih-alih memulai pembelajaran di sini dan sekarang. Diri sejati hanya dapat ditemukan sebagai sebuah gerak yang berlangsung terus menerus (process of becoming), yang menuntut pikiran yang bebas, tidak menyetujui atau menegasikan, melainkan hanya mengamati gerak pikiran dan hati dengan mata batin yang terbebas dari prasangka jerat pengetahuan dan kepentingan.

Justifikasi ontologis atas tesis ini menuntut dekonstruksi total terhadap pandangan lama. Kegagalan pendekatan rasionalistik terletak pada asumsinya tentang individu yang mandiri; Heidegger menunjukkan bahwa Mitsein bukanlah sekadar fakta sosiologis tambahan (addition), melainkan adalah struktur ontologis Dasein yang paling mendasar. Kita ada sebagai keberadaan-yang-bersama, keberadaan kita sudah terbagi dengan yang lain. Logika ini lebih kuat karena ia menjelaskan fenomena ketidakotentikan (Uneigentlichkeit) Dasein menghindari beban otentisitas dengan meleburkan diri ke dalam Das Man, di mana “Aku” tidak perlu mengambil keputusan karena “mereka” sudah memutuskan. Das Man adalah bentuk inotentik dari Mitsein, di mana keterhubungan dengan yang lain justru mengaburkan kedirian, mengubah diri menjadi subjek impersonal yang didikte oleh opini publik (Gerede), keingintahuan tak berdasar (Neugier), dan ambiguitas (Zweideutigkeit). Konsep ini menjelaskan mengapa mudah menelisik kesalahan orang lain, sebab saat itu kita tengah beroperasi di bawah otoritas Das Man yang selalu menempatkan kesalahan di luar diri, melupakan sesungguhnya akulah yang salah karena lupa-diri.

Lebih jauh lagi, elaborasi filosofis menunjukkan bahwa jalan untuk merumuskan diri secara otentik harus ditempuh melalui paradox radikal—Dasein hanya mampu mengenali diri sejati dalam antar hubungan dengan yang lain, namun otentisitas hanya dicapai dalam kesendirian eksistensial (Jemeinigkeit). Aku hanya mampu mengenali diri dalam antar hubungan dengan yang lain, aku tak mampu meniadakan yang lain, dan kesendirian adalah cara aku merumuskan diri. Diri yang otentik harus melepaskan diri dari tuntutan Das Man yang membelenggu. Kesendirian ini tidak bersifat sosiologis melainkan ontologis, dan suasana hati yang menyingkapnya adalah Kecemasan (Angst). Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme ontologis yang memisahkan Dasein dari keterlibatan praktis dunia (Zuhandenheit) dan dari anonimitas Das Man, memaksa Dasein untuk berhadapan dengan Ada Menuju Kematian (Sein zum Tode). Kematian adalah batas yang paling mungkin dan tidak terlampaui, yang sepenuhnya merupakan milikku. Justru melalui kesediaan untuk menerima Sein zum Tode inilah, Dasein mencapai Ketegasan (Entschlossenheit)—suatu keterbukaan otentik terhadap kemungkinan diri yang paling mungkin, yang menuntut Dasein menjadi guru sekaligus murid bagi diri sendiri. Ini menghendaki keraguan terhadap segala sesuatu yang sudah bulat diterima, sebab iman adalah gerak, dan yakin adalah poros-proses kemenjadian.

Aktualisasi dari ontologi ini teramat penting dalam konteks modern. [Kegelapan] zaman ini adalah hipertrofi dari Das Man yang disalurkan melalui media sosial, opini publik yang terfragmentasi, dan budaya konsumerisme yang secara terus-menerus mendikte cara menjadi yang inotentik. Realitas adalah bentukan dari serangkaian hasrat untuk menguasai dan meniru yang lain, dan Keterjatuhan (Verfallen) kontemporer adalah keterperangkapan di dalam pandangan-pandangan, kesimpulan-kesimpulan, dan nilai-nilai yang ditawarkan oleh publik. Dalam pusaran ini, Dasein terlahir sebagai Animal symbolicum—manusia tidak menyentuh dunia secara langsung, dan cara kita ber-eksistensi mengandaikan keberadaan yang lain yang disimbolkan. Oleh karena itu, perubahan mendasar menghendaki Kesadaran Otentik yang terlahir dari Keapaadaan (Geworfenheit) Diri, bukan menuntut orang lain untuk sadar. Hiduplah dengan keapaadaan, bukan membayangkan realitas sebagaimana dibayangkan. Pandangilah sesuatu dengan sederhana; bersikaplah apa adanya, berani jujur pada diri sendiri. Keheningan malam adalah saat dimana Dasein akan berpapasan dengan diri dan terbuka untuk menyingkapnya menjadi bening. Tak ada yang aku takutkan di semesta ini selain berjumpa dengan diriku sendiri. Jika aku ingin mengenali diri-sendiri, maka hancurkanlah segala otoritas yang membelenggu karena itu mengganggu.

Maka, dalam menghadapi horison yang tak terhindarkan, setiap individu harus memutuskan pergerakan eksistensinya. Bunuhlah semua hasrat untuk bersenang-senang dan bersihkan pikiran dari harapan sia-sia akan kebebasan. Bergembiralah dalam goresan-goresan kekecewaan, karena mencintai hidup—meski dengan cara menderita—adalah pengakuan otentik atas Geworfenheit. Terimalah panggilan hati nurani (Ruf des Gewissens) yang memanggil Dasein keluar dari anonimitas Das Man, dan jadilah jelmaan diri-yang-otentik melalui Ketegasan (Entschlossenheit) yang menerima Ada Menuju Kematian. []

 

 

Bacaan:

Heidegger, Martin. (1962). Being and Time (Sein und Zeit). Translated by John Macquarrie and Edward Robinson. New York: Harper & Row.