Oleh: Rachmatullah Arken

A Raven from Citadel: Kabar Kalām di Ujung Hari
Entah berapa tahun ajaran berlalu sudah dengan mata kuliah Ilmu Kalām atau pengajaran tauhid yang saya ampu. Seharusnya seperti hari-hari yang biasa, saya tak banyak mempersoalkan tentang apapun, kecuali gundah sesaat di akhir bulan karena kosongnya rekening yang memang tak pernah penuh itu. Saya ingat lelucon yang pernah saya baca pada story entah siapa: apa yang tersisa di akhir bulan hanyalah imanku, jika kau pinjam itu, atheis-lah sudah diriku.
Tapi iman di akhir bulan, yang setipis tisu di hadapan beban kehidupan, kali ini mengingatkan saya pada persoalan yang lebih subtil. Tentang mengapa tradisi Kalām yang pernah disebut banyak ahli sebagai pilar peradaban Islam, kini sudah banyak terlupakan. Bahkan mahasiswa tingkat akhir di UIN saja seringkali tak paham atas dasar apa mereka memilih iman dengan ajaran Islam. Jangankan menjawab pertanyaan tentang teori Ahwāl Abu Alī al-Jubbā’ī atau occasionalism al-Asy’arī, perkara mengapa ia (dhamir “ia” ini bisa merujuk pada siapapun, pada mahasiswa itu, pada saya, anda, atau mantan yang jadi istri ketiga seorang pejabat di Jakarta), percaya bahwa Allah itu Esa saja tak mampu dijelaskannya. Ah, saya mah begitu imannya!
Pikiran seperti ini membuat saya harus menguji ulang keyakinan saya, bahwa iman di usia bumi yang semakin tua ini seperti sudah selesai. Bahwa tembok tebal yang pernah didirikan para maester kalām dulu— Abū al-Ḥasan al-Asyʿarī, al-Juwaynī, al-Ghazālī, Fakhruddin al-Rāzī—sudah cukup kokoh untuk menahan segala badai. Saya mengira burhān ‘aqlī, dalil hudûts al-‘ālam, atau qānûn al-tamānu’ itu akan berdiri abadi, seraya melindungi umat dari serbuan skeptisisme, anthropomorphisme, dan segala bentuk kekacauan metafisika diri. Ternyata saya salah. Tembok itu sudah retak sejak lama. Dan sebagai pengajar kalām, saya berkontribusi juga pada retakan itu. Padahal dari barat dan utara, ada angin yang membawa musim dingin kejumudan manusia untuk mengenal Tuhannya.
Apakah yang salah? Adakah diskursus kalām itu terlampau rumit sehingga soal iman dianggap bisa selesai dengan pemaksaan orang untuk percaya Tuhan itu ada, Malaikat juga, kitab-kitab dan Nabi-nabi mewartakan ajaran-Nya, hari akhir itu nyata, lalu qadha dan qadarnya harus diterima secara buta? Atau karena sebenarnya di hari-hari akhir bumi ini, umat memang pada semua itu sudah tak lagi peduli? Lalu saya tersadar juga, pengajaran aqidah saat ini sudah menjadi semata konten dan hafalan. Umat bahkan sudah selalu disuguhi nasihat singkat tentang bahaya kalām sebab Tuhan tak perlu diperdebatkan. Umat hanya harus dihidangkan kalimat motivasi untuk berbangga diri dengan iman yang hakiki sesuai teks suci. Dan karena teks suci itu pastilah berdayung sampan setujuan dengan warasnya pikiran, maka tak perlu orang berpikir yang terlalu dalam. Cukup yakini, bahwa iman dan rasionalitas itu memanglah saling melengkapi.
Tapi itulah masalah lainnya, rasionalitas iman yang terlanjur “dipaksakan” ini membuat sebagian besar umat sulit membaca al-Ijī, enggan membuka Taftazānī, malas mengkaji al-Juwaynī, atau malu mengakui bahwa ia tidak mengerti bagaimana merumuskan alasan yang tepat mengapa Allah itu pasti mukhālafah lil-hawādisi. Lalu saya, dengan segenap keterbatasan ruang, juga ikut berkontribusi membiarkan generasi baru Islam ini tumbuh dengan keyakinan bahwa iman cukup diukur dengan frekuensi menonton kajian agama, bukan dengan kekuatan argumen yang nyata. Saya ikut berkontribusi karena terlalu ber-husnuzhon bahwa mereka yang saya ajar selama ini, suatu saat akan kembali memperdalam semua itu dan karenanya—lebih mengerti. Saya lupa bahwa kalām itu memang sudah dianggap monuman mati, yang tak lagi bisa mengusir para pejalan putih (eh, itu bukan terjemah dari white walkers?) yang kini berbaris rapi. Dengan obor skeptisisme, dengan jubah literalisme, dengan pedang atheisme, dengan kuda dendam atas akal budi.
The Wall Has Fallen: Retakan yang Kita Buat Sendiri
Barangkali itu yang mengganggu pikiran saya kali ini. Saya pernah begitu terpesona dengan tembok tebal yang dibangun oleh para maester kalām. Tembok yang saya jumpai dalam ribuan karya tebal yang menegaskan pentingnya nazhar yang bernas atas iman. Namun, tembok itu retak pun sudah dan angin dingin menelusup ke balik pintu. Perlahan tembok itu runtuh karena kita sendiri yang mencabut batu-batunya, satu per satu. Lalu menjualnya dengan harga murah demi membeli lampu untuk panggung dakwah yang lebih terang dan menjanjikan kemurnian iman tanpa ragu.
Padahal kala dulu, di utara benua keilmuan Islam, tembok kalām berdiri megah. Oleh maester Asy’ariyah, Tuhan pernah diimani dengan atribut penjelas yang mewah: nafsiyah, salbiyah, ma’āni dan ma’nawiyah. Manusia bukanlah semata penerima takdir yang buta, melainkan punya kemampuan kasb yang nyata. Tuhan dijelaskan bekerja di dunia dengan cara yang menolak arti causa efficient Aristoteles yang hari ini justru membuat kita melupakan-Nya. Tembok kalām bukan semata dinding yang mencatat debat tentang status pendosa. Kalām adalah bangunan aman untuk memastikan iman bisa tidur nyenyak tanpa dihantui keraguan. Itu mengapa, al-Rāzī bahkan harus menulis empat puluh jilid kitab hanya untuk menjelaskan satu ayat. Bukan karena ia memang lihai membuka tempurung, tapi karena ia mengerti bahwa satu celah kecil di tembok itu bisa membawa seluruh umat ke dalam malam yang tak berujung.
Tapi tembok terlanjur retak sudah. Di sebagian halaqah pendidikan Islam, Jawharat al-tawhid hanya dibaca sepintas di kelas tiga tingkat ‘Ali, untuk kemudian diganti dengan buku-buku yang berbicara “Fiqih Prioritas Zaman” dan “Dakwah: Suatu Inovasi”. Di fakultas-fakultas Ushuluddin negeri, mata kuliah Ilmu Kalām tinggal 2 SKS, sama dengan mata kuliah hasil MBKM yang tak jelas arah dan fungsi. Bahkan rekan-rekan saya, mahasiswa doktoral bidang keagamaan pun banyak yang memutuskan untuk menulis disertasi ringkas tentang Islam dan budaya, tanpa pernah membaca satu halaman pun dari turats kalām yang begitu kaya. Tapi bisa jadi aturan-aturan diskursif akademik hari ini memang memaksa kami untuk tak lagi merasa penting membaca al-Irsyad-nya al-Juwaynī ataupun Matālib al-‘āliya al-Rāzī. Bukankah yang penting kami lulus cum laude, lalu dengan ijazah doktor kami bisa mengisi pengajian agama? Apa pentingnya meperdalam kalām, hah? Tanpa kalām sekalipun banyak orang bisa mengisi seminar Islam rasional dalam arus globalisasi, meski seraya siap-siap bersembunyi jika ada yang bertanya: “Apa bedanya jawhar dan ‘aradh menurut Abu Hasyim al-Jubba’ī?”
Lalu saya ingat seorang teman yang membilang: “Kalām terlalu rumit untuk zaman sekarang.” Mungkin. Saya menyahut ragu dalam hati. Tapi apakah benar? Rasa-rasanya yang rumit itu bukan kalām. Yang rumit itu (kamu) adalah hidup di dunia dengan keberlimpahan informasi yang berlomba memasarkan ilusi tawhid yang murni. Yang rumit itu adalah perasaan seolah mengerti iman, sedang oleh satu tweet Dawkins orang langsung kepanasan. Lalu kita takut anak-anak kita bosan, dari pelajaran tawhid kemudian dicukupkan dengan video animasi tentang 5 alasan kenapa Allah sayang orang yang beriman. Kita takut orang tak paham occasionalism, lalu kita bilang saja: “Terjadinya segala sesuatu, karena maunya Allah begitu.” Dus, tembok itu pun semakin lekas runtuhnya. Bukan karena serangan white walkers Barat, tapi karena kita sebagai night’s watch yang tak lagi peduli dengan segenap burhāniyat dan dilalat.
Pada umat yang kini kosong argumen itu, mantra white walkers mulai diperdengarkan. Para wights (mayat hidup) yang sempat kita bunuh dengan kalām sudah bangkit dari kuburnya. Mereka datang tanpa perlu mengetuk pintu. Mereka datang karena gerbang sudah kita buka tanpa penghalang. Lalu dengan bangga kita ucapkan: “Selamat datang, ini zaman inklusif. Bangkai kuburan pun boleh duduk dan makan, asal jangan bikin orang takut dengan istilah ‘taklîf bi al-muhâl’ atau ‘burhān’.” Di dalam kota, sayup-sayup saya seolah mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya: “Ayah, kenapa kita percaya Tuhan itu ada?” Ayahnya menjawab: “Karena al-Qur’an bilang Tuhan itu ada.” Anak itu mengangguk. Tapi di dalam hatinya, musim dingin kesangsian baru saja tiba.
The Faith of the Seven and the Lord of Light: Dua Ajaran yang Lahir dari Reruntuhan
Ketika sebagian tembok itu akhirnya ambruk, dua kuil baru didirikan di atas reruntuhannya. Satu kuil beratap tujuh menara berkilau, satu lagi hanya memiliki tungku api yang menyala-nyala di tengah kegelapan. Keduanya mengaku sebagai pewaris sejati dari ajaran Tuhan yang sebenarnya. Keduanya membenci weirwood–weirwood tua yang dulu kita hargai dengan nazhar dan burhān. Namun anehnya, laris manis berkah rahayu jaya sentosa pula keduanya.
Yang pertama kita sebut saja The faith of the seven. Ajaran ini datang dengan doktrin yang begitu mudah menyentuh nurani: “Iman hanya butuh hati yang pasrah, bukan hati yang gelisah.” Para pendakwahnya berlomba membangun septs di kota-kota besar, di Instagram, di podcast-podcast, di kampus-kampus. Tak seperti konstruksi sifat ma’āni al-Juwaynī, tujuh sifat Tuhan yang mereka tawarkan adalah: Tuhan yang inklusif, yang feminis, yang ekologis, yang suportif terhadap identitas apapun, yang tidak pernah marah, yang tidak menghukum dengan amarah, dan yang paling penting tidak pernah meminta umatnya membaca kitab al-Mawāqif atau Syarh al-ushul al-khamsah.
Para pendakwah dengan jubah modern ini kemudian berbisik: Kalām itu hanyalah toksik maskulinitas abad pertengahan. Al-Ghazalī terlalu kaku, al-Rāzī terlalu bertele-tele, dan al-Sanusī terlalu teu kaharti. Mereka kemudian mengganti dalil burhāni ala Maturidi dengan kutipan Rumi yang diedit sedemikian rupa agar cocok untuk story. Mereka mengganti keniscayaan iman melalui nazhar dengan afirmasi pagi: “Kamu cukup. Kamu berharga. Kamu adalah manifestasi Tuhan yang sedang mengalami dirinya sendiri.” Dan ketika ada yang bertanya, “Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang berbicara sifat qahr, ‘azâb, dan ghadbah Allah?” Mereka menjawab dengan senyum paling ramah: “Itu hanya metafora. Jangan dibawa harfiah.”
Di seberangnya, berdiri kuil yang lain: The lord of light. Tungku apinya terang menyala, membakar segala yang berbau filsafat dan logika. Pengikutnya memakai jubah hitam-putih dengan ekspresi marah yang permanen. Mantra mereka sederhana: “Api itu panas dan karenanya tidak berdusta. Teks itu jelas dan karenanya tidak berdusta. Akal itu berbahaya dan sudah pasti ia berdusta.” Kelompok ini membenci kalām lebih dari ibu tiri pada anaknya. Dalam dakwah tanpa ragu mereka akan menyebut al-Juwaynī pelaku bid’ah, al-Ghazalī banyak menggunakan hadis yang lemah, dan ar-Rāzī jelas-jelas musuh Allah. Mereka membakar buku-buku aqidah di halaman kuil itu, lalu menggantinya dengan fatwa satu: “Siapa yang bertanya bagaimana Allah berbicara tanpa suara dan aksara, maka dia telah kafir secara nyata.”
Saya membayangkan kedua ajaran ini, yang tampak berseberangan, sebenarnya adalah saudara kandung dari rahim ketakutan yang sama. Ketakutan menghadapi pertanyaan. Yang satu lari ke dalam dekap perasaan, yang satu lari ke pelukan teks tanpa konteks. Yang satu membunuh akal dengan cinta, yang satu membunuh akal dengan tinta. Mantra keduanya akhirnya melahirkan umat yang tidak lagi punya daya tahan iman ketika datang musim dingin keraguan. Di tengah dua kuil ini, saya bersama pengajar-pengajar kalām lainnya layakny weirwood–weirwood tua yang berdiri limbung di hutan utara. Wajah saya memerah menangis getah darah. Mengapa umat ini tak ada lagi yang menyembah Tuhan dengan nazhar sebagai sajadah? Mengapa tak ada lagi persembahan syukur atas anugerah fakultas diri terbesar (akal) yang harusnya dalam citadel kalām ia diasah? Dalam bayangan itu, sesekali terlinta anak muda yang tersesat, matanya nanar membaca nama-nama yang terpahat: “al-Asy’arī, al-Juwaynī, al-Ghazalī, al-Rāzī, al-Taftazānī, . . .” lalu ia bertanya: “Mereka ini siapa? Sejenis Roblox baru?”
Malam semakin gelap. Api lord of light semakin membara, tapi tidak menghangatkan dunia. Kerlip lilin the faith of the seven semakin menyala, tapi tidak menerangi jiwa. Barangkali inilah yang saya takutkan. Ketika kalām dilupakan, manusia bukan menjadi tidak bertuhan. Mereka hanya menciptakan tuhan-tuhan baru yang lebih mudah disembah, dan lebih mudah berubah. Hasilnya pun sudah bisa kita lihat. Generasi ini adalah generasi yang bisa jadi hafal 99 asmā al-husnā, tapi tak bisa menjelaskan kenapa Allah bukan jism, tanpa hayyiz, tanpa jihat. Generasi yang bisa dengan cerdas meng-quote Nietzsche, tapi blank saat ditanya dalil hudūts al-ajrām.
The Red Wedding of Reason: Pengkhianatan Akal dengan Kerelaan
Di antara reruntuhan tembok kalām dan dua kuil baru yang berisik itu, sebuah perjamuan besar lainnya digelar. Lampu-lampu dan musik beradu. Gelas-gelas berlabel Islam sejati disuguhkan. Para cendekiawan kontemporer datang berduyun dengan jubah doktor dari Barat, sorban dari Timur, dan keyakinan yang sama: malam ini mereka akan menyelamatkan Islam dari dirinya sendiri. Pikiran saya membayangkan inilah the red wedding versi akal budi. Pesta riuh dengan agenda penting untuk membuat Islam lebih relevan, modern, dan yang terpenting rasional. Tepuk tangan terdengar pasti seiring kamera yang merekam: Satu, dua, tiga, live Instagram dimulai.
Dan jamuan dimulai dengan sejumlah kutipan tentang pentingnya beragama sesuai semangat zaman. Ini adalah era digital, era di mana kecerdasan artifisial bisa memberikan argumen pasti ketika ia dibutuhkan. Era di mana kalām hanya harus dilihat seperti mantan yang tak lagi ada harganya. Ia berjasa dan hebat pada zamannya, tapi tak memberi dampak pada kehidupan secara nyata. Penguasaan teknologi jauh lebih penting bagi kehidupan dibandingkan mengkaji sesuatu yang abstrak dan malah membawa pada pengingkaran. Apa hebatnya memahami konstruksi 20 sifat Allah yang niscaya jika Anda masih sulit untuk diterima bekerja?
Iman tak harus rumit dan beralasan, sebab Allah sendiri sudah berfirman menyukai kemudahan. Saya membayangkan itulah kondisi umat hari ini. Kita sedang berpesta merayakan senjakala kalām dan rasionalitas baru yang membuat Islam tampak gagah berdialog dengan modernitas. Entah mengapa dari sudut ruangan, sayup terdengar seseorang yang bertanya: “Jika kita memang, seperti doktrin modern Kantian, hanya harus beriman tanpa harus membuktikan Tuhan dalam pikiran, bukankah itu yang sudah dijawab oleh al-Ijī dalam al-Mawāqif delapan abad silam?” Pesta mendadak hening. Tapi seseorang menjawabnya: “Kamu jangan khawatir, itu cuma teks klasik yang ga relevan. Kita sudah move on karena beda zaman.”
Saya membayangkan pesta perjamuan itu selesai, di mana semua orang bersorak ramai tentang kebahagiaan melaksanakan misi suci menyelamatkan Islam dari kalām. Kalām sepertinya memang harus mati. Bukan karena ia tak penting lagi di hadapan sains dan teknologi. Tapi karena umat ini (dan saya bisa jadi termasuk di dalamnya), sudah dengan rela mengkhianati akal budi. Akal harus dijalankan hanya untuk urusan duniawi. Sedang soal iman, orang cukup berangkat dengan modal keyakinan hati.
Senjakala Kalām dan Ilusi Terang Rasionalitas Modern
Bayangan kelam di pikiran saya sudah berteriak tentang musim dingin yang barangkali tidak saja sudah datang tapi juga telah menetap di sini. Itu membuat langit tradisi ini tak lagi terang; ia hanya gelap pekat, seperti halaman-halaman kitab kalām yang tak pernah lagi dibuka dan dirawat. Namun saya seperti dipaksa untuk membayangkan kondisi ini dari kejauhan, dengan suara naga dan derap kaki white walkers sudah tak lagi terdengar sebagai ancaman. Mereka telah menjadi tuan rumah, lalu kita (saya, anda, dan mantan yang sekali lagi sudah jadi istri ketiga seorang pejabat di Jakarta) hanyalah tamu yang lupa jalan pulang.
Kalām sudah mengalami senjakala yang hanya bisa kita lihat pantulannya lewat kaca keruh mereka yang teguh menyerangnya. Umat sudah terlanjur merayakan kematian kalām yang dianggap tak lagi relevan. Namun itulah masalahnya. Sebagai pengajar kalām saya kecewa. Sebab kita telah memuji cahaya baru yang ternyata hanya fatamorgana. Rasionalitas yang kita junjung tinggi hari ini bukanlah rasionalitas para maester kalām yang mampu menembus tabir metafisik hingga bertemu yang ilahi. Ia hanya ilusi terang, seperti lampu neon yang menyilaukan mata, tapi tak mampu menembus kegelapan jiwa. Ia membuat kita merasa “berpikir”, padahal kita hanya mengulang mantra-mantra Barat dengan logat Arab, atau mengulang ayat-ayat suci seraya mematikan kemampuan untuk menafsirkannya dengan akal budi.
Senjakala kalām dan ilusi rasionalitas ini, buat saya bukanlah akhir dari sebuah disiplin ilmu di perguruan tinggi. Ia adalah senjakala dari sebuah peradaban yang pernah berani menempatkan akal di tempat yang tinggi. Ketika kalām mati, yang mati bukan hanya argumen-argumen tentang sifat atau jawhar dan a’radh, tapi juga keberanian kita untuk bertanya: “Mengapa aku percaya?”. Mayoritas kita sudah terlanjur mendapati kabar kematian kalām itu, dan dipaksa untuk menerima bahwa iman tanpa nazhar ini sebagai rumah yang baru. Winter is coming.
