SKIZOFRENIA UNIVERSITAS MODERN GUGATAN FRITJOF CAPRA ATAS KRISIS EPISTEMOLOGI

Oleh: Saeful Anwar

Di koridor-koridor agung universitas Eropa pada pertengahan abad ke-20, seorang fisikawan muda bernama Fritjof Capra berjalan dengan kegelisahan yang bisu. Di dalam laboratorium yang hening, melalui jalinan rumus fisika kuantum, ia telah menyaksikan tarian kosmis di mana materi meluruh menjadi pola-pola probabilitas dan energi murni. Di sana, di level fundamental realitas, ia menemukan bahwa alam semesta adalah jaringan hubungan yang tak terputus (web of relationships). Namun, begitu ia melangkah keluar dari laboratorium dan memandang struktur universitas tempat ia bernaung, ia melihat sebuah dunia yang justru di sekat secara kaku.

Gedung Fisika berdiri angkuh terpisah dari Gedung Biologi; Fakultas Pendidikan mendidik calon guru di dalam kotak beton untuk memisahkan pikiran siswa dari tubuh buminya; Fakultas Ilmu Sosial membedah struktur masyarakat seolah-olah manusia adalah spesies istimewa yang tidak bergantung pada biosfer; Fakultas Komunikasi mengajarkan teknik penyampaian pesan digital namun abai pada putusnya koneksi batin manusia dengan alam nyata; Fakultas Ekonomi beroperasi seolah-olah ekosistem tidak ada; dan Filsafat terisolasi di menara gadingnya sendiri. Capra merasakan sebuah disonansi kognitif yang tajam: bagaimana mungkin institusi yang menamakan dirinya Universitas—yang menyiratkan keutuhan dan kesemestaan—justru menjadi arsitek utama dari fragmentasi pemikiran?

Bagi Capra, universitas modern tidak lagi tampak sebagai katedral kebijaksanaan, melainkan sebuah pabrik yang memproduksi kebutaan sistemik. Ijazah-ijazah yang dicetak bukan lagi tanda penguasaan atas kehidupan, melainkan sertifikat konformitas terhadap sebuah pandangan dunia yang telah usang. Dari titik inilah, perjalanan intelektual Capra berubah arah; dari meneliti partikel subatomik menjadi meneliti patologi institusi pengetahuan yang gagal membaca tanda-tanda zaman.

 

Runtuhnya Ilusi Objektivitas dalam Fondasi Cartesian

Untuk memahami kritik Capra, kita harus menggali akar arkeologis dari struktur universitas modern. Capra mengidentifikasi bahwa cetak biru perguruan tinggi saat ini masih bertumpu pada fondasi abad ke-17, paradigma Cartesian-Newtonian. René Descartes, dengan diktum Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada), membelah realitas menjadi dua entitas yang terpisah secara ontologis: res cogitans (pikiran) dan res extensa (materi).

Pemisahan ini, menurut Capra, adalah dosa asal akademi Barat. Universitas dibangun di atas keyakinan bahwa untuk memahami dunia, subjek (peneliti/mahasiswa) harus mengambil jarak objektif dari objek (alam/masyarakat). Sikap ini menciptakan ilusi bahwa manusia adalah pengamat luar yang tidak terlibat, yang dapat membedah alam tanpa merasakan sakitnya.

Di ruang-ruang kuliah, paradigma ini termanifestasi dalam kurikulum yang kering dan mekanistik. Alam semesta diajarkan sebagai mesin jam raksasa yang deterministik. Konsekuensinya, pendidikan tinggi menjadi proses alienasi. Mahasiswa diajarkan untuk menumpulkan sensitivitas mereka hanya demi mengejar angka-angka. Genealogi keterasingan ini menghasilkan sarjana-sarjana yang cerdas secara intelektual namun terputus secara emosional dan spiritual dari jaring kehidupan yang menopang mereka. Universitas menjadi tempat di mana kepala dipisahkan dari hati, dan sains dipisahkan dari etika.

 

Krisis Persepsi dan Hegemoni Fragmentasi Ilmu

Kritik Capra menukik lebih tajam pada struktur operasional universitas— departementalisasi ilmu pengetahuan. Ia menyebut fenomena ini sebagai Krisis Persepsi. Dalam pandangan sistemik Capra, masalah-masalah utama zaman kita adalah masalah yang saling terkait (interconnected). Namun, universitas mencoba memecahkannya dengan logika spesialisasi (silo).

Capra berargumen bahwa spesialisasi yang berlebihan menciptakan ilusi kompetensi. Ini adalah keyakinan semu bahwa para ahli telah menguasai bidangnya, padahal mereka hanya menguasai fragmen yang terputus dari realitas utuh. Ilusi ini terlihat jelas pada wajah-wajah universitas.

Jurusan Ekonomi Syariah, sering terjebak dalam formalisme legalistik, di mana para ahli sibuk membedah akad keuangan agar bebas riba (bunga), namun buta terhadap dampak ekologis destruktif dari industri tambang atau sawit yang mereka danai. Mereka mengejar label syariah namun melupakan prinsip thayyib (keberlanjutan/kebaikan) alam semesta, menciptakan ekonomi yang halal secara teks namun haram secara ekologis. Fakultas Ushuluddin, kerap kali tenggelam dalam teologi abstrak tentang Tuhan yang Transenden di atas langit, namun gagal mendengar jeritan Tuhan yang Imanen dalam kerusakan biosfer. Mereka memisahkan ayat qauliyah (teks) dari ayat kauniyah (alam), menghasilkan agamawan yang saleh secara ritual namun ateis secara ekologis karena membiarkan wajah Tuhan di bumi dirusak.

Fakultas Pendidikan, berubah menjadi pabrik kepatuhan yang mencetak guru dengan obsesi pada administrasi dan standar nilai kognitif, namun lupa mengajarkan akar kehidupan. Mereka mendidik siswa di dalam kotak beton, memutus hubungan batin anak dengan tanah airnya, dan menghasilkan generasi yang cerdas secara teknis namun buta huruf terhadap bahasa alam. Fakultas Hukum, Masih memegang teguh antroposentrisme, di mana hukum ditegakkan demi melindungi properti manusia dan korporasi, sementara alam diperlakukan sebagai objek bisu tanpa hak. Mereka mengajarkan keadilan bagi manusia, namun melegalkan ketidakadilan sistemik terhadap spesies lain dan ekosistem.

Inilah patologi spesialisasi: universitas melatih mahasiswa untuk melihat pohon secara mikroskopis, tetapi membuat mereka buta terhadap hutan yang sedang terbakar. Capra menegaskan bahwa kecerdasan analitis (memecah bagian) tanpa diimbangi kecerdasan sintesis (melihat pola hubungan) adalah bentuk cacat kognitif.

 

Mesin Reproduksi Kebodohan Sistemik

Dalam fase kritiknya yang lebih sosiologis, Capra menyoroti transformasi universitas menjadi pelayan industri neoliberal. Ia melihat bahwa otonomi moral akademi telah tergadaikan. Universitas tidak lagi berfungsi sebagai penjaga hati nurani peradaban (guardian of civilization), melainkan tereduksi menjadi pemasok tenaga kerja terampil bagi mesin ekonomi ekstraktif.

Capra menggunakan istilah Kebodohan Sistemik (systemic stupidity) untuk menggambarkan fenomena ini. Perguruan tinggi dipenuhi oleh individu-individu yang brilian, namun secara kolektif institusi tersebut bertindak bodoh. Riset-riset akademis semakin didikte oleh agenda korporasi yang mendanainya. Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti Apakah teknologi ini baik untuk kehidupan? digantikan oleh pertanyaan pragmatis Apakah teknologi ini menguntungkan pasar?.

Akibatnya, universitas memproduksi apa yang disebut David Orr, rekan sepemikiran Capra, sebagai “orang barbar yang terpelajar”. Mereka adalah lulusan cum laude yang mampu merancang instrumen derivatif keuangan yang menghancurkan ekonomi global, atau merancang pestisida yang membunuh ekosistem tanah, tanpa sedikitpun rasa bersalah karena pendidikan mereka telah sukses memisahkan kompetensi teknis dari tanggung jawab moral. Bagi Capra, industrialisasi pengetahuan ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap misi suci pendidikan.

 

Menuju Epistemologi Ekologis dan Universitas Kehidupan

Skeptisisme Capra tidak jatuh pada nihilis. Di balik kritik tajamnya, ia menawarkan visi rekonstruktif yang radikal. Ia menyerukan sebuah Metanoia Akademik—sebuah pertobatan dan perubahan pola pikir yang mendasar. Visi ini tertuang dalam konsep Ecoliteracy (Melek Ekologis) dan The Systems View of Life.

Capra membayangkan universitas masa depan yang meniru prinsip organisasi organisme hidup (biomimikri), bukan meniru struktur pabrik. Pertama, Kurikulum Terintegrasi. Tidak ada lagi ekonomi tanpa ekologi, atau hukum tanpa etika lingkungan. Setiap disiplin ilmu harus diajarkan dalam konteks keterhubungannya dengan jaring kehidupan. Kompetensi inti setiap mahasiswa, baik dari Ushuluddin maupun Teknik, adalah pemahaman tentang prinsip-prinsip keberlanjutan. Kedua, Pedagogi Partisipatif. Proses belajar bukan lagi transfer informasi satu arah, melainkan proses autopoiesis (penciptaan diri) melalui dialog dan interaksi langsung dengan komunitas dan alam. Kampus harus menjadi laboratorium hidup keberlanjutan. Dalam visi ini, universitas bertransformasi menjadi komunitas pembelajar yang sadar bahwa pengetahuan adalah properti dari kehidupan itu sendiri. Tujuan pendidikan tinggi bergeser dari penaklukan alam menjadi penyelarasan dengan alam.

 

Di Ujung Tebing Peradaban

Perjalanan pemikiran Fritjof Capra membawa kita kembali ke tepi tebing tempat peradaban modern kini berdiri. Di bawah kita, jurang krisis ekologis dan sosial menganga lebar. Universitas, institusi yang seharusnya menjadi pemandu jalan, justru seringkali menjadi pihak yang mendorong kita lebih dekat ke tepi jurang tersebut dengan peta-peta navigasi yang salah.

Gugatan Capra adalah sebuah ultimatum. Kita tidak lagi memiliki kemewahan waktu untuk melakukan reformasi kosmetik pada kurikulum. Yang kita butuhkan adalah revolusi ontologis. Jika perguruan tinggi—dari Fakultas Ekonomi hingga Pendidikan—gagal meruntuhkan menara gadingnya dan gagal menanamkan kesadaran bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh bumi yang hidup, maka institusi ini akan kehilangan relevansinya.

Sejarah akan mencatat, apakah universitas abad ke-21 berhasil menjadi rahim bagi kelahiran peradaban ekologis baru, ataukah ia hanya akan dikenang sebagai fosil intelektual yang sibuk berdebat tentang catatan kaki sementara atap rumah manusia sedang runtuh? [].