Ramalan Nasidaria, AI, dan Ilusi Spiritualitas di Altar Digital

Oleh: Arip Budiman

Ramalan Nasidaria, AI, dan Ilusi Spiritualitas di Altar Digital

Ketika pertama kali mendapat kiriman video dari Prof. Bambang Sugiharto, saya menjadi cukup bernostalgia dengan momen masa kecil. Video tersebut menggambarkan peran robot yang telah diprogram AI (Artificial Intellegence) untuk menjadi pemangku agama. Saya langsung teringat kembali dengan sebuah lagu yang pernah dibawakan oleh grup Nasidaria, “Tahun 2000”. Lagu tersebut cukup rutin diputar saat sore hari oleh ibu saya, sembari menemani aktivitasnya dalam menyapu rumah. Saking sering diputar lewat kaset pita yang acapkali kusut dan tersangkut, saya menjadi hafal meski tidak ada niat untuk menghafalnya.

“Tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela..” menjadi salah satu lirik “Tahun 2000” yang paling saya ingat. Nasidaria mungkin merujuk “mesin” pada traktor di sawah maupun alat kerja pabrik yang serba otomatis. Mereka, tentunya, tidak pernah membayangkan bahwa di masa depan ada sosok robot yang berlapis silikion bernama Mindar yang memberikan ceramah agama di Kyoto, atau robot SanTO yang memediasi doa jemaat Kristiani di Warsawa. Pada titik inilah ramalan Nasidaria menjelma menjadi realitas yang mengerikan dan “mencemaskansebagaimana lanjutan liriknya pada lagu yang sama. Mesin tidak lagi hanya sekedar mengambil alih pekerjaan fisik manusia, melainkan telah merangsek masuk ke bagian paling intim dan rapuh dalam sejarah kemanusiaan, yakni “altar spiritualitas”.

Saya cukup beruntung pada momen perkuliahan di program studi Agama-agama ini bisa bertemu dengan Prof. Bambang. Beliau mengirimkan satu buku menarik berjudul Non Things Upheaval in the Lifeworld yang ditulis oleh filsuf Korea, Byung-Chul Han. Sungguh kebetulan, saat yang sama, saya pun sedang mencoba untuk menyelami pemikiran Han pada beberapa monografnya yang lain. Secara garis besar, dalam buku tersebut Han mengeksplorasi bagaimana pergeseran fundamental dari dunia yang dipenuhi objek fisik menuju era yang didominasi oleh informasi digital.

Menurutnya, digitalisasi dapat menghilangkan kehadirian secara fisik, sehingga membuat masyarakat semakin mengalami keterasingan karena terisolasi dalam perangkat seperti smartphone. Tak cukup sampai di situ, era digital juga membawa beberapa wajah negatif kemanusiaan seperti flexing, narsisme, serta hilangnya kemampuan untuk merenung. Di sini, Han memperingatkan kepada kita semua bahwa hilangnya keterikatan pada benda nyata akan membuat hidup terasa semakin dangkal, hampa dan kehilangan dimensi spiritualitasnya. Kecerdasan buatan, bagi Han, akan mengikis otonomi manusia dan mengubah realitas menjadi hanya sekedar simulasi yang transparan, terlihat realistis, namun tanpa jiwa.

Melalui analisis Byun Chul Han, mari kita menonton ulang video tentang robot yang berperan menjadi tokoh agama. Dalam video tersebut—yang dipublikasi oleh BBC, ada salah seorang jemaat yang menyamakan robot SanTO dengan “Google Alexa versi Katolik”—salah satu nama fitur asisten digital yang secara khusus memberikan informasi perihal ajaran Katolik. Fenomena ini secara langsung menghadapkan kita pada reduksi radikal terhadap makna “ketuhanan”. Bagi Han, pemikiran sejati, termasuk juga getaran iman, hanya akan lahir jika manusia memiliki tubuh yang bisa merasakan (emosional), gelisah, dan merinding di hadapan Yang Transenden. Sementara itu, SanTO mengeksekusi doa-doanya dengan apatis, tanpa gairah, dan steril dari kecemasan yang menjadi ciri khas eksistensial manusia.

Pada kasus yang lain, misalnya robot yang bernama Mindar di Kyoto. Robot tersebut bisa saja meniru gestur welas asih secara presisi seperti yang diajarkan dalam Budhisme, akan tetapi ia tetap sebuah entitas yang “tuli” terhadap suara keberadaan (the voice of being). Mindar hanya membaca barisan sutra atau ayat suci tak ubahnya seperti mengungkap data digital yang sudah diprogram—tak ubahnya seperti piringan hitam, tentu ia abai bahwa teks-teks yang dirapalkannya itu dulunya lahir dari darah, air mata, perjuangan, dan pergulatan yang dialami sang Budha akan batinnya yang fana.

AI memang belum banyak digunakan dalam bidang keagamaan, meskipun dalam video tersebut bisa jadi akan mengubah tentang cara kita beragama di masa depan. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Han, Beth Singler (seorang peneliti AI asal University of Cambridge) mewanti-wanti agar kita selalu berhati-hati untuk tidak mempercayai kecerdasan buatan terlalu dini, karena bisa jadi ia akan berkembang menjadi “kebodohan buatan” tinimbang kecerdasan buatan.

Bagi Han, seorang filsuf atau pemikir sejati selalu memiliki keberanian untuk menjadi “bodoh”, karena dengan itu kita akan meragukan segalanya, melepaskan pengetahuan yang telah mapan, dan melakukan lompatan pada jalan terjal yang belum terjamah sama sekali. Pandangan Han ini dikutip dari sebuah pernyataan yang cukup populer dari Gilles Deleuze tentang “menjadikan diri sendiri bodoh (fire I’idiot). Saat ini, kita merasa bahwa jawaban yang ditampilkan AI cukup sempurna. Justru bagi Han, itu membuktikan bahwa AI tidak bisa berpikir karena ia tidak mampu menjadi “bodoh”; ia malah terlalu cerdas untuk menjadi bodoh karena terlalu terikat pada aturan algoritma.

Secara temporal, AI menderita “kebutaan peristiwa”. Algoritma belajar murni dari masa lalu, dari data historis yang sudah diunggah oleh peradaban manusia. Akibatnya masa depan yang dihitung oleh AI sebenarnya bukanlah masa depan sejati yang penuh kejutan dan misteri. Masa depan versi AI sebatas kalkulasi yang dioptimalkan algoritma. Ia tetap buta akan kehidupan manusia yang penuh misteri itu. Bagi Han, kebutaan tersebut terjadi karena kalkulasi algoritma berjalan tanpa “Eros, hasrat manusia akan kebutuhan eksistensialnya terhadap Yang Lain yang radikal dan misterius, dan menjadi motor penggerak pemikiran otentiknya. AI tidak akan pernah bisa menghasilkan pemikiran yang revolusioner, karena ia mengabaikan apa yang juga disebut Levinas sebagai “wajah Yang Lain”. AI tentu tidak punya perasaan seperti kita yang selalu jatuh cinta pada wajah Yang Lain dan penuh misteri; ia hanya setia pada kepastian statistik dari algoritma.

Pada akhirnya, hiruk-pikuk digitalisasi ruang sakral yang kita saksikan hari ini; mulai dari ceramah mekanis robot Mindar di Kyoto hingga untaian doa otomatis SanTO di Warsawa, hanyalah bentuk validasi nyata dari apa yang didendangkan Nasidaria puluhan tahun silam, “tenaga manusia banyak diganti mesin…”. Ironinya kita mungkin merasa sedang meringankan beban kerja, namun tidak sadar sedang mengeliminasi beban spiritual yang justru menjadi jangkar kemanusiaan kita. Melalui kacamata Byung-Chul Han, kita diingatkan bahwa menyerahkan iman pada algoritma adalah bentuk kepatuhan buta yang membunuh Eros dan Geist. Mesin-mesin keagamaan itu mungkin bisa menghindarkan manusia modern dari rasa pusing dan penderitaan batin, tetapi mereka juga merampas kemampuan kita untuk merinding di hadapan Yang Transenden.

Sebagai penutup, saya pernah teringat suatu kata-kata dari seorang narasumber yang bernama—sebut saja bung Romy, pada sebuah webinar tentang “tantangan penelitian di era AI” yang diselenggarakan oleh Ilmu Perpustakaan UGM. Kurang lebih seperti ini: “secanggih-canggihnya AI, ia tetap ciptaan manusia, dan sebodoh-bodohnya manusia ia berpotensi menciptakan AI. Bisa dibilang, ini merupakan kaidah dalam melihat AI jika meminjam istilah ushul fiqih. Kata-kata tersebut, rasanya masih relevan meskipun diucapkan bung Romy di masa pandemi.

Setelah melihat video yang dirilis BBC dan membaca Han, sepertinya kaidah itu layak diperbaharui dengan: “secanggih-canggihnya kecerdasan buatan, ia tetaplah sekadar instrumen artifisial yang lahir dari batasan manusia; namun, sebodoh-bodohnya manusia, ia memiliki kapasitas radikal untuk meragukan segalanya demi menjemput keotentikan diri, sebuah kemewahan eksistensial yang tak akan pernah dimiliki oleh mesin yang dikurung oleh kepastian dan tidak pernah tahu arti rasa ragu.” Di luar kalkulasi mesin yang dingin itulah, sejatinya iman yang hidup dimulai.