Oleh: Alif Jabal Kurdi

Logika Al-Qur’an tentang Tuhan dan Makan
Jika membaca al-Qur’an dengan seksama maka akan dijumpai bahwa Allah SWT. mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan dengan menyodorkan fakta yang terkesan sederhana yaitu perihal “makan”. Pada Q.S. al-An‘am [6]: 14, Allah SWT. berfirman:
قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَسْلَمَ وَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah selain Allah, Pencipta langit dan bumi serta Dia memberi makan dan tidak diberi makan, akan aku jadikan sebagai pelindung?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi orang pertama yang berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.”
Selain menunjukkan kemampuan-Nya yang tidak bisa ditiru siapa pun yang ada di bumi maupun di langit, dengan menciptakan bumi dan langit itu sendiri, Allah SWT. juga menunjukkan faktor lain yang membedakan-Nya dengan makhluk-Nya. Melalui redaksi ayat, “Dia memberi makan dan tidak diberi makan”, Allah SWT. memberi logika yang tegas bahwa Tuhan ialah pemberi makan dan tidak bisa disebut Tuhan jika ia diberi maupun mengonsumsi makanan.
Rumus logika itu yang kemudian dijadikan senjata oleh al-Qur’an untuk membantah penyematan status “Tuhan” pada siapa saja yang dikuduskan. Sebagaimana dijumpai pada fenomena Maryam dan Isa as. yang dipertuhankan oleh salah satu firqah (sekte) maupun sekelompok (firaq) Nasrani yang kemudian melahirkan teologi Trinitas—perdebatan tentang siapa kaum Nasrani yang dimaksud begitu menarik ditelusuri dalam tafsir-tafsir klasik.
Al-Qur’an mendokumentasikannya pada Q.S. al-Maidah [5]: 73:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗوَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Sungguh, telah kufur orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa azab yang sangat pedih.
Menindaklanjuti dan membantah keyakinan yang menyimpang tersebut, pada dua ayat selanjutnya, Q.S. al-Maidah [5]: 75, al-Qur’an mengeluarkan rumus logika sebelumnya,
مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlulkitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran).
Al-Qur’an tidak hanya memberikan fakta bahwa Isa as. merupakan salah satu rasul/ utusan Tuhan dan Maryam ialah seorang wanita pilihan Tuhan yang diberi keteguhan mempertahankan kebenaran. Tetapi, al-Qur’an juga meruntuhkan pemberlakuan status “Tuhan” pada keduanya dengan mengatakan secara sederhana bahwa “keduanya itu mengonsumsi makanan”. Jika Isa as. dan Maryam juga makan seperti halnya manusia pada umumnya, maka bagaimana mungkin, alias mustahil, keduanya bisa berstatus sebagai “Tuhan”.
Berdasarkan logika ketuhanan yang dibangun al-Qur’an melalui “makan” sebagai premisnya, pembaca dapat melihat bahwa Allah SWT. ingin manusia menyadari bahwa hakikat eksistensial Tuhan itu bisa dipahami melalui hal-hal sederhana yang dijumpai dan dialami setiap hari. Mencari dan memahami keterbatasan diri kita sebagai makhluk dan superioritas Tuhan tidak harus melulu melalui fenomena luar biasa yang kadang tidak terbesit dalam pikiran orang-orang yang tidak dekat dari wacana akademik, apalagi astronomi seperti penciptaan langit dan bumi.
Lantas, apa hubungan penjelasan di atas dengan puasa?
Puasa dan Kesadaran Identitas Manusia
Semua mazhab bersepakat bahwa puasa merupakan syariat yang di dalamnya manusia-manusia beriman diberikan kewajiban untuk menahan dirinya dari apa saja yang bisa membatalkannya, terutama makan, minum dan berhubungan suami istri. Kesepakatan ini diperoleh karena secara jelas dalil al-Qur’an menyatakannya pada Q.S. al-Baqarah [2]: 187.
Para ‘ulama juga menyatakan bahwa tujuan puasa ialah melahirkan pribadi yang bertakwa, sebagaimana dijumpai di penggalan akhir Q.S. al-Baqarah [2]: 183, la‘allakum tattaqūn. Namun, perihal bagaimana definisi muttaqīn itu sendiri, ada ragam elaborasi yang hadir menjelaskan karakteristiknya. Ada yang mengurai karakteristiknya berdasarkan al-Qur’an dan dapat dijumpai pada pengutipan Q.S. al-Baqarah [2]: 177, Ali Imran [3]: 133-135, maupun ayat-ayat lain yang serupa dan didukung dengan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. yang senada.
Memberi komentar yang berbeda, tulisan ini ingin memberikan sebuah perspektif bahwa puasa merupakan ritual yang dapat membawa manusia meneguhkan kesadaran bahwa ia terbatas, dibatasi dan tidak akan pernah bisa melampaui statusnya sebagai “makhluk”. Kesadaran yang secara otomatis juga membawanya pada pemaknaan yang lebih dalam tentang “Khaliq”. Melalui upaya mensyarahi gagasan Imam Gazali, yang diartikulasikan dalam Iḥyā’ ‘Ulūmuddīn, yang membagi puasa pada tiga tingkatan: ‘umūm, khuṣūs dan khuṣūs al-khuṣūs, pembaca bisa menjadikan tulisan ini sebagai media kontemplasi lanjutan untuk memahami buah ma‘rifat yang bisa dipetik dari ritual tahunan ini.
Pada tingkatan pertama, ṣaum al-‘umūm—kalangan ‘awwām, al-Gazali ingin mengingatkan bahwa puasa tidak hanya dijalankan untuk menggugurkan kewajiban rutin tahunan di bulan Ramadan. Puasa yang dikerjakan hanya untuk menahan dari lapar, dahaga dan syahwat seksual. Sekalipun secara fiqh keabsahannya tidak teranulir, namun al-Gazali seperti menginginkan agar umat Islam dapat menaikkan status puasanya di level yang lebih tinggi yaitu puasa para ṣāliḥīn di tingkatan kedua.
Tingkatan kedua atau yang disebut juga puasa para ṣāliḥīn, ṣaum al-khuṣūs, dijelaskan sebagai puasa yang tidak hanya dilakukan untuk menahan diri dari penyebab batalnya puasa seperti halnya pada ṣaum al-‘umūm. Akan tetapi, setiap mukmin diharapkan juga mampu menjaga dirinya, setiap anggota tubuhnya, dari aktivitas yang berpotensi menjerumuskannya pada dosa. Sekali saja ia terjerumus, maka pada tingkatan ini, puasanya akan dinilai gugur, sehingga menghindari setiap jenis syubhāt dan makrūhāt yang dapat mendorong lompatan syahwat dan nafsu menjadi utama.
Tingkatan terakhir ialah ṣaum khuṣūs al-khuṣūs, puasa yang dikerjakan oleh orang-orang yang tidak lagi memusatkan penataan serta pengelolaan dirinya yang melibatkan faktor eksternal. Puasa pada levelitas ini ditujukan untuk mengaktivasi hati, bagian terdalam diri manusia, untuk terus mampu menjaga kesadarannya untuk tetap terkoneksi dengan Tuhan serta melepas segala hasrat duniawinya. Bagi al-Gazali, sedetik saja pikiran seorang ṣāim di tingkat puasa tertinggi ini memutuskan relasinya dengan Tuhan atau membayangkan gemerlap kehidupan dunia, puasanya tidak dianggap memenuhi syarat untuk masuk pada kategori ini.
Mengikuti dan mengamini narasi al-Gazali, puasa yang dilakukan oleh muslimin memang idealnya mampu mencapai tingkatan tertinggi. Puasa yang mampu membawa manusia yang menjalaninya memahami hakikat Rabb-nya. Puasa yang mengantarkannya pada hakikat khaliq dan makhluq serta hubungan keduanya. Maka dari itu, pemahaman atas logika al-Qur’an yang telah diurai pada bagian pertama tulisan ini menemukan titik temunya.
Melalui puasa, idealnya manusia semakin menyadari bahwa hal sesederhana “makan” dapat mencipta konsekuensi eksistensial yang berbeda. Kesadaran atas kebergantungan manusia pada “makan” akan semakin meneguhkan keterbatasan dirinya. Kebutuhannya menunaikan sahur, kebahagiaannya ketika berbuka, dan perayaan semarak yang digelar menyambut ‘Idul Fithri semestinya bisa menjadi pukulan telak terhadap obsesinya untuk bertransformasi menjadi “Tuhan” di dunia yang bahkan tidak bisa dicipta melalui kedua tangannya.
Manusia-manusia yang sukses mengilhami logika al-Qur’an tentang “Tuhan dan makan” dapat menjadikan puasa sebagai lokus kontemplatif yang sangat bermakna. Perang, penindasan, kecongkakan, supremasi rasial yang hari ini banyak dipertontonkan adalah hasil dari imajinasi manusia atas ketidakterbatasan dirinya dan kedigdayaan dirinya di atas manusia yang lain. Sampai kapan pun manusia akan terus menjelma Iblis, hingga akhirnya ia sadar bahwa “aku” pada dirinya hanyalah proyeksi semu dari “Aku” sejati nan murah hati yang mau membagikan setitik cahaya-Nya.