KETIKA PENDIDIKAN TIDAK LAGI MENEMUKAN NILAI FILOSOFISNYA

Oleh: R. Ahla Firdausi

Ketika Pendidikan Tidak Lagi Menemukan Nilai Filosofisnya

“Lalu apa yang dimaksud dengan pendidikan? Dan bagaimana seharusnya kita mendidk?” pertanyaan ini hingga sekarang belum menemukan jawaban yang disepakati bersama. Sebab manusia masih berbeda pendapat mengenai apa yang sebaiknya diajarkan kepada generasi muda. Sebagian orang beranggapan bahwa tujuan pendidikan ialah membentuk keterampilan yang sempurna, sementara sebagian lainnya melihat sebagai jalan menuju kehidupan yang baik. Ada yang menekankan pentingnya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi ada pula yang mengutamakan pembentukan kecerdasan emosinya. Bahkan, masih ada perdebatan tentang cara bagaimana mencapainya. Apakah melalui latihan yang menumbuhkan kebajikan? Ataukah keterampilan yang berguna untuk kehidupan sehari-hari? Atau justru dengan ilmu pengetahuan murni yang bersifat abstrak?

Terdengar seolah baru diucapkan hari ini, padahal kata-kata itu berasal dari Aristoteles. Ia mengingatkan kita betapa dunia pendidikan ibarat Menara Babel yang dipenuhi suara-suara berbeda, saling bersahutan tanpa mencapai kesepakatan. Dalam situasi seperti ini, zaman tidak lagi membutuhkan suara baru yang lantang dari yang lain, melainkan pandangan yang jernih dan tenang. Di mana sebuah visi mampu menyingkap tabir kebenaran yang sangat mendasar sehingga membnuat orang berhenti sejenak untuk memperhatikannya.

Ada pesan sederhana yang tersirat dalam hati saya untuk para kelompok-kelompok yang sedang berisik: damailah melalui persatuan! Sebab dalam praksisnya pembentukan sistem pendidikan sering kali berlangsung sangat riuh di zaman kita, sementara pertumbuhan alami dari kehidupan yang terdidik justru berjalan senyap tidak bersuara. Teringat pada puisi Rumi: “Ssst! Diamlah dan lampaui setiap kata”.

Dalam peradaban manusia, rumah menjadi titik awal dari segala hal; ialah unit dasar peradaban, tempat di mana seluruh potensi kehidupan hadir dalam bentuk paling murni dan belum tersentuh. Di dalamnya, tersembunyi benih-benih kekuatan yang akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Sekolah pada mulanya, merupakan perpanjangan dari rumah. Ia tumbuh secara perlahan, kemudian berkembang menjadi institusi mandiri yang tetap membawa semangat rumah sebagai sumber awalnya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila guru kerap dianggap sebagai sosok yang mengambil peran orang tua.

Di sekolah, ide pokok yang utama adalah perkembangan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk duduk dan menulis, tetapi juga ruang untuk mengasah tubuh sebagai alat ekspresi jiwa. Pikiran diasah sebagai pengarah yang bijaksana bagi tubuh sekaligus sebagai penunjang terbangunnya sebuah tujuan hidup rasional. Apa yang dilakukan sekolah bagi seorang anak mencerminkan perjalanan panjang umat manusia dalam mengembangkan potensi tubuh dan jiwa menuju kematangan.

Di dunia kerja, di mana setiap orang mengejar panggilan dari dalam hati dan membuktikan diri sendiri melalui usaha dan keringat, ada satu gagasan utama yang menjadi dasar dari semuanya, yaitu ketergantungan antarsesama. Tidak ada orang modern yang bisa memenuhi semua kebutuhan hidipnya sendirian, dan tidak ada pula yang hanya memanfaatkan hasil kerja sendiri. Setiap hari, manusia terus-menerus saling terhubung melalui pekerjaan yang terdiri atas berbagi hasil, tugas, serta tanggung jawab. Mereka saling mewariskan dan melanjutkan pekerjaan dalam siklus yang tak pernah berhenti.

P;ato dalam karyanya yang bertajuk Republik, menempatlan keadilan sebagai pusat dari negara ideal. Ia memahami bahwa keadilan, dalam segala cabangnya, adalah tema utama dari keberadaan negara. Berabad-abad kemudian Hegel seoran Platonis modern, menggambarkan negara sebagai perwujudan tertinggi dari sebuah Ide Abadi dalam bentuk organisasi politik. Dalam negara, manusia secara nyata dapat mengalami dan sadar apa yang disebut sebagai keadilan.

Setiap manusia ditakdirkan untuk secara bertahap menyadari pandangan-pandangan yang semakin luas mengenai hakikat dirinya. Ia tumbuh dan berkembang melalui unsur sosial yang membentuknya. Namun, pertumbuhan ini tidak terjadi begitu saja; manusia harus membuka diri untuk belajar, menghayati nilai-nilai yang diwakili oleh setiap Lembaga, dan melatih dirinya agar hidup selaras dengan prinsip-prinsipn tersebut. Hanya dengan cara ini lah manusia dapat bertumbuh menuju kesadaran yang utuh tentang siapa dirinya.

Di masa kini, kita terbiasa memahami organ tubuh manusia melalui Sejarah evolusi mahkluk hidup. Kita melihat bentuk dan fungsinya dalam konteks Sejarah kehidupan hewan. Namun, ada pemikiran lain yang tidak kalah penting bahwa seluruh aktivitas manusia, sebagaimana tercermin dalam Lembaga-lembaga sosial, juga harus dipahami dalam kerangka sejarah serupa. Di balik kompleksitas Masyarakat modern, tersembunyi jejak dunia hewan, sebuah jejak sejarah panjang perjuangan untuk hidup yang membentuk cara manusia hidup bersama hari ini. Rumah, sekolah, pekerjaan, negara, juga ditenukan, dalam bentuk lebih sederhana, pada hewan-hewan Tingkat rendah. Mereka berpasangan, membangun sarang atau tempat tinggal, mengajar anak-anaknya melalui teladan, membentuk komunitas sosial, memiliki pemimpin kawanan, dan menunjukan keterikatan pada makhluk yang lebih tinggi yang memperlakukan mereka dengan baik serta menjadi sandaran hidup mereka.

Tinjauan atas pengaruh sosial alami yang membentuk kehidupan manusia membawa kita pada dua pengertian pendidikan: satu yang luas, dan satu lagi yang sempit. Dalam pengertian luas, seluruh kehidupan adalah pendidikan, dan hidup itu sendiri, dalam segala aspeknya. Tidak ada satupun keadaan dalam hidup yang tidak meninggalkan pengaruh pada diri seseorang. Setiap sarana peradaban adalah bentuk pendidikan. Dari sudut pandang ini, pendidikan dapat dipahami sebagai hasil dari seluruh pengaruh kehidupan yang membentuk individu. Setiap keadaan yang dihadapi manusia adalah kesempatan untuk belajar, tempat kita berkembang dari yang kurang menuju yang lebih.

Namun dalam arti lebih sempit, pendidikan adalah pengaruh yang diberikan sekolah kepada seorang individu. Sekolah adalah Lembaga yang secara sadar menugaskan dirinya untuk mengembangkan kesadaran diri dan potensi anggotanya hingga mencapai suatu kelengkapan. Walaupun Lembaga-lembaga sosial lainnya memang turut mendidik secara tidak langsung melalui pelaksanaan fungsinya masing-masing, sekolah melakukannya dengan tujuan jelas: berupaya membentuk unsur paling lentur dalam masyarakat, yakni para pemuda, agar mereka memiliki kendali penduh atas dirinya dan kesadaran utuh atas hubungan serta tanggung jawab sosialnya.

WhatsApp
Facebook
Email
Print