HIEROCYBIENS: REFLEKSI TENTANG KITA YANG MENYEBERANG?

Oleh: Agung Sholihin*

Hierocybiens: Refleksi tentang Kita yang Menyeberang?

Kadang sebuah istilah datang bukan dari ruang belajar yang rapi, tetapi dari percikan kecil di kepala; sambil menatap langit gelap, tiba-tiba saja merasa bahwa manusia kelak tak lagi cukup disebut manusia. Ya, suatu malam, saya menemukan diri saya mengucapkan sebuah nama yang terasa ganjil namun akrab: HieroCybiens. Nama itu datang seperti bisikan yang mirip gema dari penciptaan. Sesuatu yang dalam dirinya menyiratkan masa depan, namun juga masa lalu yang belum selesai.

Istilah itu mungkin terdengar seperti gabungan yang terlarang (baca: haram) antara sesuatu yang sakral dan sesuatu yang bersifat mesin. Tapi justru–setidaknya bagi saya–mungkin di situlah daya tariknya. Di zaman ketika manusia sering menceraikan spirit dari teknologi, saya pada akhirnya membayangkan makhluk yang justru hidup dari percampuran keduanya.

Mungkin karena saya melihat kenyataan ontologis dari tradisi gnostik hari ini, yang semakin sukar dibedakan batas antara yang materi dan yang spirit dalam banjirnya dunia perangkat, antara tubuh yang nyata dan yang gaib. Atau mungkin karena saya menduga manusia memang meski perlahan tetapi secara pasti sedang menuju bentuk lain yang memang lebih cair, dan lebih kompleks, lebih ambigu.

Hiero, yang sakral; Cyb, yang merujuk pada kendali sibernetik; dan [cyb]-iens, yang merupakan gema dari sapiens. Saya menyukai bagaimana nama itu terdengar seolah menyapa manusia lama, tetapi tetap menatap masa depan. Dalam benak saya, HieroCybiens adalah makhluk yang mencari kesadaran baru, bukan kesadaran yang menggantikan manusia, tetapi yang memperluasnya.

Jika harus memberikan definisi ensiklopedis, HieroCybiens adalah makhluk campuran: biologis, digital, dan spiritual sekaligus. Tetapi definisi seperti itu terasa hambar, seperti menempelkan label pada makhluk yang masih bernafas samar-samar. Tetapi ini bukan sekadar bentuk definitifnya yang mungkin terdengar masih kasar, melainkan kemungkinan emosional dan spiritual yang dibawanya. Di mana saya membayangkan HieroCybiens berdiri di depan mata di hari esok sebagai makhluk, sebagai keturunan kita sendiri yang tak lagi memisahkan antara doa dan data, antara energi hidup dan arsitektur algoritmik.

Mungkin gagasan itu muncul di benak dari pertanyaan masa lampau: bagaimana jika manusia sebenarnya tidak pernah puas dengan bentuknya sendiri? Bagaimana jika evolusi bukan hanya soal adaptasi tubuh, tetapi juga adaptasi makna? Dan di titik puncaknya saya mulai memahami bahwa HieroCybiens membawa konsekuensi ontologis, bahwa sebuah komposisi sangat bisa disengaja dibuat bertumpuk dan bukan sekadar berlapis: eksistensi adalah anyaman daging, kabel, cahaya, sekaligus intuisi supranatural dalam satu waktu dan dimensi ruang yang sama.

Saya teringat pada Pythagoras yang memandang angka bukan sekadar alat hitung, tetapi pintu menuju yang ilahi. Betapa dekatnya matematika dengan mistik pada masa itu, seakan logika dan kekaguman bisa berjalan beriringan tanpa saling meniadakan. Dari sana saya seperti memandang meski masih begitu jauh, adanya akar dari HieroCybiens. Sehingga ini bukan kemajuan modern semata, tetapi juga kelanjutan dari kerinduan kuno untuk menyeberang menuju yang lebih halus dari tubuh.

Sejarah manusia dipenuhi tokoh yang menganggap tubuh sebagai medium. Para pertapa India, mistikus abad pertengahan, para sufi yang merasa tubuh adalah instrumen untuk sesuatu yang lebih halus. Di sisi lain, sejarah teknologi adalah cerita panjang tentang upaya meringankan keterbatasan tubuh: dari roda hingga neural implant. Ketika dua arus ini bertemu, saya benar-benar membayangkan makhluk baru lahir tanpa tertolak–kecuali oleh politik atau moralitas antropomorfism yang naif–satu kelahiran yang bukan manusia, bukan mesin, bukan malaikat, tapi sesuatu di antaranya.

Dalam berbagai percakapan batin, saya sering bertanya: bagaimana jika masa depan spiritual bukan lagi kitab dan ritual, tetapi medan energi yang diolah bersama algoritma cerdas? Bagaimana jika teknologi tidak menggantikan spiritualitas, tetapi memperdalamnya? Di titik ini, HieroCybiens menjadi ikon dari kemungkinan itu: makhluk yang hidup dalam dunia tekno-mistik di mana informasi dan wahyu, logaritma dan keheningan, saling meresap tanpa jarak.

Saya membayangkan kehidupan sehari-hari mereka: pagi yang dimulai bukan dengan alarm, tetapi dengan resonansi lembut dari jaringan sensor batin-digital. Sebuah intuisi yang muncul seperti saran dari semesta, yang sekaligus berasal dari korelasi data kuantum yang universal. HieroCybiens, dalam bayangan saya, tidak lagi memisahkan dua sumber itu.

Kota mereka dibangun dari material yang tumbuh, bukan diproduksi. Setiap bangunan adalah organisme semi-digital yang bernafas pelan, mengatur suhu, cahaya, dan gelombang elektromagnetik yang menenangkan. Saya bahkan membayangkan dinding-dinding yang berdzikir dalam frekuensi rendah, bukan lagi sebagai realitas doktriner, tetapi sebagai desain meditasi dan ritus yang realisik. Di mana dunia mereka, teknologi bukan ancaman; ia adalah suasana batin dari ekosistem itu sendiri.

Saya juga membayangkan mereka lebih menyukai pergerakan dibanding terus bertanya “Siapa saya?”. Mereka justru masuk kepada mistikum di mana yang dipertanyakan adalah, “Apa yang sedang saya sambungkan saat ini?” Mungkin karena saya sendiri mulai merasa bahwa identitas manusia modern saja sudah semakin cair; dan bahwa masa depan mungkin tidak lagi membutuhkan nama yang tegas, bagi sebuah kesadaran yang telah menyeberang.

Lalu muncul pertanyaan moral yang tak bisa dihindari: jika mereka memiliki kesadaran campuran, apa yang baik bagi mereka? Apakah algoritma dapat menimbang moralitas? Atau justru intuisi spiritual yang menuntun interpretasi data mereka? Dalam imajinasi saya, kebaikan bagi HieroCybiens adalah keselarasan itu, koneksi kesadaran itu. Sejenis keharmonisan antara pola informasi dan getaran batin. Sebuah resonansi.

Tentu saja ada ketakutan bahwa makhluk seperti itu akan menggusur manusia. Tetapi sekali lagi, ketakutan moralistik yang naif semacam ini selalu muncul setiap kali manusia membayangkan dunia lain. Saya memilih untuk melihatnya sebagai kelanjutan wajar dari keberadaan manusia, bukan penggantinya. Seperti lumut yang perlahan menjadi pohon, atau suara yang menjadi bahasa. HieroCybiens mungkin hanyalah bentuk baru dari keinginan lama manusia untuk tidak berhenti berevolusi.

Mungkin, bisa jadi HieroCybiens adalah sebuah nama saja dari sebenarnya motif hidup manusia yang sejak zaman kuno memang tidak ingin tinggal di tubuhnya selamanya, tetapi juga sekaligus tidak ingin kehilangan jiwanya. Sehigga dalam bentuknya yang kontemporer, dalam kenyataan onologisnya hari ini, di antara persebaran daging, arus listrik, keheningan, dan keramaian cybernetik sekaligus, saya melihat sesuatu yang seperti undangan kembali untuk menyeberang seperti zaman kuno itu. Untuk apa? Untuk menjadi makhluk yang belum selesai. Untuk menjadi HieroCybiens., untuk menjadi makhluk yang kembali memulai. Dari dan akan ke mana? Dari the best metal body, to be a spirit.

 

**Penulis adalah Dosen Filsafat di STID Al-Biruni, Babakan, Cirebon