Oleh: Arip Budiman

Pada Mulanya, Bacalah
Sebenarnya, perkenalan saya dengan “makhluk” yang bernama hermeneutika ini sudah berlangsung cukup lama, kurang lebih saat pertama kali menjajaki bangku perkuliahan. Sebagai seseorang yang datang dari desa terpencil dan tidak terlalu menyukai baca, tentu ia (hermeneutika) ibarat semacam “makhluk asing” yang mau tidak mau harus berkenalan dengannya. Saya memasuki jurusan yang dikutuk oleh banyak orang karena ketidakjelasan masa depan setelah lulus, yakni filsafat. Pada akhirnya hermeneutika pulalah yang menyelamatkan saya untuk menjawab ketidak jelasan suatu Nasib dari kutukan memasuki jurusan filsafat.
Sejak pertamakali berkenalan dengan hermeneutika (yang sering saya lafalkan dengan tuturan Bahasa Sunda), saya mulai sedikit memahami tentang arti hidup yang penuh misteri. Meskipun, setelah saya telaah ulang, pemahaman tentang apa itu hermeneutika masih banyak salahnya. Saya masih memandang bahwa hermeneutika adalah semacam metode dalam menafsirkan; mencari makna yang menjembatani antara penulis-teks-pembaca. Sebagai sebuah metode, tentu untuk menemukan makna yang tepat diperlukan semacam “aturan penafsiran yang ketat”.
Buku yang diberikan oleh Prof. Bambang Sugiharto, memberikan semacam imajinasi baru dalam memahami apa itu hemeneutika, apakah ia hanya sebatas metode penafsiran saja? Ataukah lebih dari itu, seperti sebuah kacamata (paradigma) yang membuat kita melihat sesuatunya menjadi hijau, apabila lensanya berwarna tersebut? Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit bercerita tentang makna pengalaman dalam memahami hermeneutika, mulai dari awal sampai pada akhirnya sedikit mendekati pemahaman tentangnya.
Pada Akhirnya, Sedikit Mendekati Faham
Awal mula saya memahami hermeneutika tidak datang dari ruang kuliah yang penuh istilah, melainkan dari pengalaman kecil yang sangat biasa, terutama saat sebuah contoh apel disajikan dalam pengantar buku “Hermeneutics an Introduction to Interpretative Theory” karya kenamaan S.E. Poter dan J.C. Robinson, yang memberikan ruang reflektif bagi saya, bahwa hermeneutika adalah kehidupan sehari-hari kita. Seperti analoginya tentang buah “Apel”, hampir semua orang tahu cara mengenalinya—warna merahnya, kilau kulitnya, sensasi renyah ketika digigit. Tetapi suatu saat saya tersentak oleh pertanyaan sederhana yang jauh lebih sulit: bagaimana saya tahu apa yang saya tahu tentang apel itu? Apa yang sebenarnya terjadi ketika pengalaman begitu “jelas” datang menghampiri saya? Dari sini, saya mulai membaca hermeneutika sebagai undangan untuk menyelami lapisan-lapisan pengalaman: bukan hanya pancaindra dan proses kognitif, melainkan cara makna terbentuk di dalam perjumpaan yang kita alami sehari-hari. Ketika apel itu berwujud manisan di pasar malam—dengan lampu berpendar dan riuh suara orang—yang hadir bukan sekadar rasa manis, melainkan nyala kenangan, emosi, dan makna yang khas. Di titik inilah saya merasakan hermeneutika bekerja: pemahaman bukan deteksi netral atas objek, melainkan keterlibatan eksistensial antara diri, pengalaman, dan dunia yang kita hayati.
Sejak itu, saya melihat betapa setiap pemahaman selalu dipijakkan di tanah konteks. Sejarah pribadi, peristiwa yang menyertai, bahkan “dunia mikro” yang mungkin hanya saya ketahui—semua itu menyiapkan kacamata yang membentuk cara saya mengalami sesuatu, termasuk bagaimana kenangan itu kelak diingat kembali. Maka, membaca, misalnya, tak pernah sekadar memegang buku dan mencerap rangkaian kalimat; ada lensa-lensa yang menyusup: pengalaman, keinginan, imajinasi, emosi. Karena itu, pemahaman tak pernah seragam, tak pernah sepenuhnya universal; ia selalu tertanam dalam situasi dan keberadaan kita yang konkret.
Ketika saya menengok akar-akar gagasan ini, saya menemukan bahwa hermeneutika memiliki riwayat panjang dan berubah—dari Yunani Kuno sampai ke pembicaraan modern tentang bagaimana manusia memberi makna terhadap teks, karya seni, arsitektur, bahkan gerak tubuh dan sayup percakapan. Di sisi asal-usul bahasa, istilah “hermeneutika” bertaut dengan kata kerja Yunani hermēneuein—menafsirkan, menerjemahkan—dan sosok Hermes, sang “perantara” para dewa, yang bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mengolahnya agar sampai pada manusia dalam konteks yang dapat dipahami. Imaji itu membuat saya paham mengapa hermeneutika sejak mula bersifat mediatif: ia berada “di antara”, menempatkan pemahaman sebagai jembatan yang mesti dibangun ulang setiap kali arti hendak menyeberang. Betapa luar biasanya J. Garder saat menulis novel dunia Shopi, Hermes diceritakan sebagai nama “anjing” yang ditugaskan untuk menghantarkan surat-surat dari Alberto Knock kepada pembaca yang bernama Shopi.
Di masa kini, hermeneutika tak lagi tinggal di wilayah sempit metode tafsir; ia telah melebar menjadi cara berpikir lintas bidang—dari ilmu-ilmu sosial hingga sains alam—yang berusaha menjernihkan kondisi-kondisi dasar dari semua bentuk pemahaman manusia. Ini bukan disiplin normatif yang memerintah “bagaimana seharusnya” kita berpikir, melainkan deskripsi fenomenologis tentang struktur pemahaman yang telah ada. Anehnya, justru lewat deskripsi itu kita kerap bertransformasi: kita menjadi lebih sadar akan keterbatasan diri, kadar historis dan linguistik dari cara kita mengerti, serta lebih terbuka pada pluralitas makna dan pengalaman.
Perubahan ini membuat saya menilai ulang “sentrumsentris” yang dulu saya bawa: bahwa penulis, teks, dan pembaca—tiga serangkai klasik—cukup untuk menjelaskan proses memahami. Kini saya mendengar keberatan: intensi penulis sering tak dapat diakses penuh, teks hidup sebagai entitas otonom di setiap pembacaan, dan pembaca membawa horizon pengalaman sendiri yang turut “membentuk” makna. Di tahap yang lebih radikal, hermeneutika bahkan menolak ilusi bahwa ada sumber ideal pemahaman yang bisa dicapai lewat prosedur objektif dan pasti; tugasnya bergeser dari merumuskan metode menuju menyadari bahwa memahami adalah cara manusia berada di dunia—lingkaran yang tak terelakkan, di mana metode dan objektivitas hanyalah instrumen tambahan.
Dari sini, saya sampai pada tiga tanya yang semakin akrab: apa itu pemahaman? Bagaimana menjelaskannya secara memadai? Dan bagaimana memahami dengan lebih baik? Hermeneutika, buat saya, bukan upaya menyingkirkan penjelasan ilmiah, melainkan langkah untuk menelusuri kedalaman makna di balik pengalaman memahami itu sendiri—sebuah penolakan halus terhadap reduksi pemahaman menjadi proses elektrokimia semata. Karena manusia adalah simpul sosial, historis, linguistik, teologis, sekaligus biologis, maka keberhasilan hermeneutika diukur oleh seberapa luas ia merangkul unsur-unsur kemanusiaan itu tanpa menyingkatnya.
Akhirnya saya kembali pada apel tadi. Kini saya menyadari: setiap kali saya menggigitnya, saya tidak sedang “mengambil” makna yang sudah jadi dari sebuah benda bisu; saya sedang memasuki peristiwa di mana dunia dan diri saling menyapa, mengundang, menafsir. Kenangan yang datang, rasa yang menempel, emosi yang bangkit—semuanya adalah jejak dari sebuah perjumpaan yang tak pernah sepenuhnya selesai. Hermeneutika mengajarkan saya untuk rendah hati di hadapan kenyataan itu: bahwa memahami bukanlah menaklukkan, melainkan merawat jarak, mendengarkan konteks, dan terus bersedia berjalan di jembatan yang mesti dibangun ulang setiap kali makna hendak menyeberang […]