Oleh: Rachmatullah Arken

Dua puluh tahun yang lalu, seorang kawan, yang sampai hari ini masih menjadi pendengar setia atas cerita hidup saya, memberi kado ulang tahun yang tak perlu dirayakan itu. Sebuah buku karya Pramoedya Ananta Toer, dengan judul yang masih saya ingat dengan baik pula: Percikan Revolusi Subuh. Saya ingat membuka kado itu dengan hati-hati dan perasaan yang sulit dijelaskan. Barangkali, karena semangat komunal kawan-kawan saat itu sedang menggandrungi sastra realis, saya juga akhirnya larut dalam arus yang sama. Dalam anggapan diri, ini adalah karya penting, yang harus saya baca, saya ambil pesannya, saya tampilkan dalam gagah bicara, dan jika perlu, saya gelorakan dalam pergerakan masa muda yang penuh nafsu ingin mengubah segalanya.
Lalu, saya pun mulai membacanya. Namun, ada bahasa yang berbeda memang antara harapan dan kenyataan. Antara semangat awal membaca dan nuansa yang saya dapat ketika berhadapan dengan teks di dalamnya. Saya ternyata tidak bisa menikmatinya. Di hadapnya, diri seperti ingin lekas-lekas menamatkannya lalu meletakkannya di bawah meja. Selusin cerita pendek yang ada dalam novel Pram tersebut, sepertinya memang bukan narasi untuk saya. Bukan salah Pram tentu saja. Karya-karya beliau begitu dalam dan bersahaja. Kadang juga begitu lugas menggambarkan peristiwa. Dalam bahasa yang jauh dari kesan mendayu-dayu, tak megah, meski tetap sarat dengan nilai susila. Hanya saja, jenis sastra seperti ini memang bukan untuk saya.
Setiap kali membaca karya tertentu, ada harapan tertentu tentang petualangan di dalamnya. Ada gelora harapan bahwa apa yang terbaca bisa mengajak saya ke alam imaji yang melampaui realitas ini. Sebab, bagi saya, membaca seharusnya bukan sekadar menyaksikan dunia yang sudah ada, melainkan melompat keluar dari dunia itu sendiri. Saya ingin narasi yang ada membawa saya ke tempat di mana realitas bukan yang itu-itu lagi. Ke ruang di mana bahasa bukan sekadar cermin utuh atas yang hidup dan yang nyata; tapi cermin yang retak oleh kata-kata yang memaksa imajinasi untuk bekerja lebih keras daripada sekadar mengenali.
Realisme, dengan segala ketepatan dan kejujurannya, justru terasa seperti penjara yang terlalu sempit untuk saya. Ia tidak menawarkan pintu keluar dari realitas yang menjemukan untuk tidak saya katakan menyedihkan ini. Ia justru serupa dinding yang sama dengan yang apa saya saksikan setiap harinya. Saya tidak menolaknya karena tidak mengerti, tapi justru karena saya terkadang terlalu mengerti (dan mengalami) pelbagai tragedi di dalamnya. Sementara saya ingin tualang baru yang lebih dari sekadar menemukan makna yang sudah mengendap dalam peristiwa nyata.
Sejumlah Alasan Tak Penting untuk Pembelaan Diri Saya
Dua puluh tahun berlalu, tapi saya masih ingat malam itu: buku Pram yang tergeletak di meja, halaman terakhir yang sudah terbuka, meski hati dan pikiran saya sudah terlanjur pergi entah kemana. Di luar jendela, gerimis sedang mengguyur kota. Saya duduk tercenung dengan perasaan yang aneh: bukan kecewa, tapi lega. Lega karena akhirnya saya berani mengakui bahwa sastra tidak wajib mencerminkan hidup saya untuk bisa berarti. Lega karena pada akhirnya saya tersadar: realisme memang bukan musuh, tapi juga bukan rumah untuk saya.
Rumah tempat saya kembali itu ada di antara kecoak raksasa Kafka, di kota hujannya García Márquez, di pulau Raftel dengan harta karun One Piece yang menunggu untuk ditemukan karya Eiichiro Oda, atau di gua Plato yang tak pernah benar-benar selesai saya pahami maknanya. Dan sejak malam itu, setiap kali orang bertanya, “Kenapa kamu tidak suka sastra realis?”, saya sesekali akan menjelaskan itu bukan rumah, atau dalam banyak kesempatan akan menampilkan mimik seperti ingin meludah. Bukan karena saya tidak menghargai, tapi karena saya sudah memilih untuk terbang tinggi, tidak semata terseok di narasi tentang tragedi yang itu-itu lagi.
Saya tidak ingat kapan mulanya cerita-cerita yang bernuansa fantasi, epik, romantis, lebih bisa saya nikmati dibanding cerita-cerita realis seperti karya Pram itu. Tapi jika harus mengingat momen tertentu, saya masih bisa ingat apa yang saya rasakan ketika membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Tubuh yang rebahan, kamar kos tua dengan lampu temaram, mata saya yang tak lepas dari rangkaian aksara, dan tiba-tiba: Eureka! Saya ada di sana! Di antara kegelapan hutan Jepang masa lalu, memegang pedang kayu dengan nafas yang memburu, merasakan angin malam yang tersesat di antara daun-daun bambu. Saya merasakan detak irama nadi sebelum duel hidup-mati yang akan saya jalani. Saya tidak lagi di kamar ini, melainkan masuk ke portal imaji tentang situasi itu.
Saya adalah Musashi yang menyadari pasti bahwa satu tebasan yang akan saya ayunkan pada waktunya, akan menentukan kelanjutan tualang samurai saya. Momen ini barangkali yang disebut sebagai transportasi. Suatu bentuk imersi total diri yang masuk ke dalam narasi seraya melepaskan dari kenyataan hidup yang dijalani. Itulah yang ingin saya dapati ketika membaca, yang tak kunjung saya temukan dalam narasi realis ala Pram atau novel-novel realis lainnya. Saya tidak ingin ketika berhadapan dengan buku, hanya ada saya, aksara, dan dunia yang sama.
Saya tidak mengada-ada sejujurnya. Apa yang saya ungkapkan tadi sebenarnya didukung oleh Green dan Brock (2000), yang hasil riset keduanya membuktikan ungkapan saya itu bukan semata keluhan. Keduanya menyampaikan bahwa cerita yang hanya menjadi cermin utuh (baca: terlalu mirip) realitas, justru akan menurunkan tingkat imersi pembacanya. Sebab pada narasi seperti itu, otak tidak perlu bekerja keras untuk membuat imajinasinya sendiri karena semuanya sudah terlalu jelas di depan mata.
Lain cerita untuk narasi yang aneh, absurd, epik, dan fantastis, yang semua itu justru mendorong otak ini untuk membangun dunia yang sepenuhnya baru dan berbeda. Barangkali itu yang membuat saya bisa hidup dalam kecoak ketika membaca Kafka, menjadi Musashi dalam Yoshikawa, menjadi Sonea dalam trilogi The Black Magician-nya Canavan. Hal yang berbeda akan saya temukan saat membaca novel realis tentang buruh dengan rutinitas hidup dan tragedi yang pasti. Saya seolah hanya membaca tentang orang lain yang hidup seperti saya. Tidak ada petualangan. Hanya penegasan bahwa kamu bukan siapa-siapa. Cik atulah..
Sebab otak manusia cenderung bosan dengan apa yang sudah diketahui, seperti hasil riset Raichle dan rekan-rekannya (2001) tentang Default Mode Network (DMN). Jaringan otak yang aktif saat orang bermimpi, merenung, atau membayangkan dunia yang berbeda, justru akan mati suri ketika ia hanya disuguhi narasi yang terlalu biasa. Saat membaca karya-karya realis, otak saya seperti komputer yang masuk mode tidur: Tak ada nyala di sana. Tak ada percikan, tak ada retakan. Dalam realisme hanya ada kejenuhan yang berulang untuk pembacaan hidup yang tak menawarkan jalan lain atas nasib diri.
Alasan tak penting lainnya, adalah bahwa karya sastra realis seringkali tidak membuat saya berada dalam ikatan dengan cerita. Saya justru dipaksa untuk lelah, seperti melihat cermin yang terlalu dekat dengan mata. Saya kira inilah kekalahan empati. Karakter yang saya baca terlalu familiar dan itu membuat otak saya tidak lagi mampu bekerja membangun empati. Padahal yang absurd-lah yang justru membangunkan empati, sementara yang terlalu biasa justru mematikannya.
Saya bisa iba pada Gregor Samsa yang berubah menjadi kecoak dalam Metamorfosis Kafka, karena keabsurdan itu memaksa saya untuk membayangkan ulang rasa sakitnya. Namun pada karakter realis, empati saya seperti baterai yang cepat habis. Ia terlalu dekat, terlalu lumrah, terlalu biasa. Saya bak pembaca yang sudah tahu akhir cerita bahkan sebelum ia dituturkan pada saya. Tak ada kejutan, tak ada jembatan ke barunya pengalaman. Realisme, bagi saya, tak menyalakan empati, tapi justru memadamkannya. Saya menjadi kebal, bukan peka.
Lalu sejenak terdiam, saya ingat Plato itu. Filsuf dialogis ini dulu pernah menawarkan konsep tentang yang “ineffable”, hal-hal yang tak terucapkan. Seperti benih ereignis yang melampaui bahasa. Karena itu, ketika saya membaca One Hundred Years of Solitude karya García Márquez, saya merasa ada yang lebih besar daripada kata-kata: hujan yang tak mengenal perhentian, kutukan keluarga yang tak bisa dijelaskan, semuanya membawa saya ke misteri hidup yang tak tergambarkan.
Tapi saat membaca karya-karya realis, saya hanya diajak untuk merasa kecil, terkungkung dalam dunia yang dibatasi oleh deskripsi lugas. Realisme seolah gagal menangkap yang ineffable, karena hanya berusaha menekankan segalanya. Sedang hidup penuh dengan hal-hal yang tak terduga. Realisme adalah kebohongan yang terlalu jujur, karena ia berpura-pura bisa menjelaskan segalanya tanpa meninggalkan ruang untuk yang tak sekadar kata-kata. Di dalamnya saya seolah diajak untuk mengamini pelan-pelan ungkapan tak jelas itu: “intinya hari ini kita belum beruntung, bersabarlah, siapa tahu besok hari tambah buntung.”
Membaca: Mencipta Dunia?
Barangkali karena saya terlanjur tumbuh di era sesudah realis. Ketika dunia sudah terlalu kompleks untuk dikisahkan secara lugas dan sederhana. Sehingga hidup yang dipotret hitam dan putih itu tak lagi menarik buat saya. Pengalaman saya membaca karya-karya realis itu terasa hambar begitu saja. Karena itu pula, jika ada orang bertanya, apakah karya sastra harus mengulang dunia, atau mencipta dunia yang lainnya? Jawabannya jelas. Saya tidak membaca untuk melihat cermin dengan bayangan dunia yang sama setiap saatnya. Saya membaca untuk melihat retakan pada benggala, yang memantulkan dunia dan takdir imaji diri yang tak saya dapati sebelumnya.
Realisme, dengan segala ketepatannya, adalah cermin yang terlalu jernih untuk realitas yang berkarat. Saya akan terus merasa kotor karena mengerti karat itu adalah saya. Adalah dunia yang saya alami setiap harinya. Cermin seperti itu tidak membiarkan saya melihat apa pun di balik narasi yang ditampilkan. Ia tidak memberi ruang bagi imajinasi saya untuk bermain dan merayakan dunia di mana saya bisa berlari. Sementara imajinasi adalah napas sastra itu sendiri.
Dus, ketika saya menolak realisme, saya bukan menolak kebenaran. Saya hanya menolak kebosanan. Saya menolak jenis-jenis narasi yang membuat saya hanya bisa berdiri, bukan melayang tinggi. Saya ingin narasi yang saya baca bisa membawa saya menjauhi doxa, pergi ke luar gua, menemukan cahaya, lalu menyadari ada yang lebih dari semata peristiwa. Saya tidak ingin narasi yang yang membuat saya terus terjebak dalam gua dan bayangan sendiri. Imaji saya dirancang untuk terbang, bukan untuk terjebak dalam bayang.
Pilihan saya adalah cermin yang retak, yang bisa mengajak saya mengitari seribu hidup dengan buku di telapak. Yang membuat saya mengerti bahwa apa yang berbahaya dari buku adalah kekalahan diri oleh imaji yang rusak. Dengan cermin itu saya ingin mengerti: kata-kata adalah batas peristiwa. Sedang rindu ini terus bergetar sepanjang usia. Lalu pada lembar terakhir yang terbaca, saya bisa berdoa: semoga usai pecah jiwa, susutlah rasa percuma, dan kembali hidup yang sewajarnya.