SIFU KHO PING HOO DAN CICILAN

 

SAYA baca buku Sifu Kho Ping Hoo [Asmaraman Sukowati, 1926-1994] ini di sekitar tahun 2013 sampai 2016 an [ini mau saya coba baca lagi]. Mendiskusikannya sebagai salah satu kitab hikmah dalam kehidupan yang kerap kali datang dalam bentuk yang bajingan dan brengsek. Bertemu dengan para pembaca Sifu Kho Ping Hoo yang rata-rata kemampuan Ginkang dan Khikangnya sudah repot [baca: tua] dan mulai tahu bahwa CV Gema masih ada dan pembaca cersil [akronim untuk cerita silat] sampai hari ini masih sangat banyak namun berserakan di pelbagai reading club kecil. Artinya, bicara soal Sifu Kho Ping Hoo adalah bicara soal kesusastraan marginal namun penting yang membentuk watak kesusastraan kita hari ini secara luas. Bayangkan, seraya bacaan saya dibentuk Sifu Kho Ping Hoo, saya juga mulai membaca kitab Senopati Pamungkas [saya baca edisi lima jilid lengkap] Arswendo, Anak Bajang Menggiring Angin, Motinggo Busye dan Sifu Seno Gumira Adjidarma melalui seri Nagabuminya yang raksasa itu. Bahkan implikasi Sifu Kho Ping Hoo sampai pula pada Manusia Harimau dan Cantik Itu Luka Eka Kurniawan. Artinya, Sifu Kho Ping Hoo adalah prinsip dari sastra dalam genrenya sendiri. Mundur dari Sifu Kho Ping Hoo saya baca O.K.T, dan Kwee Tek Hoay dan lanskap sastra Tionghoa sebagaimana dipetakan oleh Myra Sidharta [jika saya tak salah nisbat].[1]

Bulan lalu kita memasuki 100 tahun Sifu Kho Ping Hoo. Kalau kata GM barangkali redaksinya: 100 tahun terakhir. Karena itu angka ini adalah angka cantik, jika tidak dianggap angka jimat. Ini suatu penanda penting betapa kesusastraan Indonesia mulai masuk pada tahap kematangan tertentu. Saya pernah mengatakan bahwa Sifu Kho Ping Hoo itu eklektik dalam sastra. Tapi asumsi itu sepertinya tidak cocok bagi KPH [selanjutnya akan ditulis begini saja supaya enak]. Pasalnya, KPH toh pernah nulis dalam bentuk yang bermacam ragam. Dia nulis cerpen, nulis novelet, novel dan banyak lagi bentuknya. Untuk sampai pada kematangan bentuk KPH menjajaki berbagai macam gaya dan pendekatan, khas perkembangan Bildungsroman seseorang yang berkembang. Maka bukan perkara ajaib ketika KPH menegaskan dirinya sebagai penulis cersil dan mendapat sambutan luas. Tapi apa yang dilakukan oleh KPH sebelum disambut.

 

Sastra cicilan

Cersil [yang jelas bukan akronim ‘cerita cicilan’, melainkan ‘cerita silat’] yang dibawa oleh KPH bukan bentuk pertama. Akarnya sudah tertanam dari kesusastraan Cina [Tiongkok] kuna. Saya ingat saya pernah baca Cerita Tepi Air oleh Shi Naian yang menjadi modal daripada cerita silat, cerita rakyat, masyarakat Cina.[2] Modal itu digunakan betul oleh KPH dan dengan alami dia menginternalisasinya jadi model lain yang tumbuh. Saya juga ada baca Kisah Klasik Dinasti Ming, dan sebagaimana direportasi Myra Sidharta bahwa sang Sifu terpengaruh oleh cerita-cerita silat dari akar primordialnya. Yang menarik dari KPH adalah fakta bahwa dia, konon, tidak terlalu cakap dalam bahasa Cina dan karenanya proses internalisasi—atau inkubasi—model ceritanya lebih banyak diambil dari khazanah yang sudah tersedia ketimbang menariknya dari sumber yang belum banyak beredar.

Hasil dari internalisasi itu saya kira yang membuat cersil KPH unik. Jika cerita berlatar sejarah, atau geografi tertentu lazimnya didasarkan pada observasi dan ketelitian faktual, sebaliknya, dalam cersil KPH poros itu bergeser. Cersil KPH didasarkan nyaris sepenuhnya pada data kepustakaan—yang sudah barang tentu tidak memiliki cantolan dan konfirmasi kuat pada ranah riil. Cantolannya ada pada dua poros: kreativitas imajinasi dan perkembangan cerita. Dalam cantolan pertama, eksplorasi geografis berlatar sejarah menjadi sesuatu yang diterima secara swabukti. Tapi cersil KPH juga tidak bisa dikategorikan sebagai fiksi fantasi meski memiliki komponen fantasi yang kuat. Artinya daya tarik poros pertama ini saling bergantung pada poros kedua: perkembangan plot. Racikan ini menghasilkan petualangan tekstual yang, pada masanya, menghasilkan kimiawi yang memikat, membuat ketagihan.

Buktinya, cersil KPH bisa membuat teman-teman saya yang kebanyakan tidak doyan buku, rela menghabiskan waktu berjam-jam menghabiskan ceritanya. Masa kami sudah mulai baca cersil di laptop. Saya sendiri baru belakangan punya edisi cetak dalam bentuk buku saku terbitan lama CV Gema, koleksi Pedang Kayu Harum. Lain-lain dari itu, belum berjodoh lagi. Nah, kimiawi seperti itulah yang membuat cersil KPH memiliki tempat tersendiri. Menurut salah seorang ahli KPH di grup-grup baca cersil, apa yang diceritakan KPH acap kali melenceng dari fakta sejarah atau bahkan melenceng secara geografis dari apa yang digambarkannya di dalam cerita. Barangkali memang melenceng. Tapi apa boleh dikata, saya sebagai pembacanya yang penting terhibur dan bisa terlibat secara seru ketika baca ceritanya.

Di era gawai seperti hari ini, saya kira pembaca KPH baru juga akan sama terpukaunya dengan para pembaca lama. Soalnya, keseruan cerita dari buku punya kesan tersendiri jika dibandingkan dengan cerita film. Menurut pengakuan KPH sendiri saat masih hidup dan karyanya beberapa mulai dialihwahanakan ke dalam pertunjukan dan film, merasa tidak puas dengan alihwahana seperti itu. Ini wajar karena bagaimanapun materi dan bentuk tertentu akan ikut pada identitas si materi itu. Katakanlah cersil dalam media buku tidak akan sama ketika disajikan dalam bentuk yang lain. Bukan soal yang terlalu besar dalam soal alihwahana.

Yang menarik dari cersil KPH, selain isi ceritanya, adalah bagaimana cerita itu diproduksi. Zaman KPH, koran belum sebanyak akhir abad 20, demikian pula dengan penjual buku. Alhasil KPH bekerja secara solo. Selain secara berkala mengirim tulisan ke surat kabar yang ada, dia sendiri membuat surat kabar. Atau yang semacam surat kabar pada masanya. Dia ajak sejawatnya untuk mengisi rubrik cerita terjemahan sementara dia nulis secara dicicil. Saya punya bayangan KPH kerepotan menghadapi dirinya dalam menulis. Kalau kirim tulisan ke luar, maksudnya ke surat kabar yang ada, proses kreativitasnya terhambat. Sementara di dalam benaknya ada banyak modal cerita yang antri untuk dikeluarkan. Di sini KPH memilih jalan kreativitas yang ngreatif banget: membuat surat kabar sendiri. Sempat berjalan beberapa waktu saat dia tinggal di Tasikmalaya tapi tidak lanjut. Tau lah ya kerja kreatif uangnya sering angin-anginan. Masa-masa itu, orang-orang Tionghoa mendapat tekanan sosial signifikan, sampai KPH pindah ke Solo. Di sana dia mendirikan penerbit Gema dan dimulailah proses kreatif yang melahirkan serial-serial panjang cerita silat paling dinanti para pembacanya.

Saya pernah baca satu kliping yang diunggah Hasan Aspahani. Di dalam kliping itu [sepertinya di pertengahan abad 20] terdapat surat permohonan pemuatan cerita. Jadi begini, untuk bisa mendapat rubrik sendiri, KPH bahkan mengajukan diri ke surat kabar untuk pemuatan cerita. Uniknya, plot cerita boleh diajukan oleh surat kabar itu sendiri. Jadi semacam cerita pesanan. Model penulisan cerita yang menjadi proto-susastra digital sebagaimana terjadi hari ini dalam media-media daring di mana sejumlah penulis menawarkan jasa menulis cerita tapi plotnya dari si pembaca sendiri. Hal ini menunjukkan bukan saja untuk menjadi seorang maestro cerita seseorang harus menembus pakem, melainkan juga kesiapan imaji dalam mengembangkan cerita.

Dalam proses kreatifnya sendiri, berdasarkan rekapan para peneliti, cersil KPH terbit secara berkala. Jika hari ini proses terbit sebuah karya itu melewati tahap editorial dan banyak tahap lain, dalam kasus KPH cerita silatnya terbit nyaris tanpa sentuhan editorial [eksternal]. Bahkan diterbitkan dan disebarkannya pun oleh penerbit sendiri CV Gema itu. Sesuatu yang dalam konteks hari ini baru bisa dibawa ke bawah terang cahaya melalui fenomena penulisan di ruang internet. Lambat laun, pembaca KPH berdatangan dan bahkan beberapa menunggu dengan antusias setiap rilisan seri baru, atau bahkan jilid baru dari seri tertentu. Dalam skala yang semakin meluas seperti itu maka tidak heran jika kemudian Seno Gumira dan para kampiun susastra belakangan mendorong dan nyaris menghapus batas demarkasi antara sastra arus utama dengan sastra marginal.[3] Karena, marginal dan bukan, dalam skala KPH jadi tidak relevan. Bagaimana tidak, berdasarkan kesaksian banyak tokoh publik hari ini yang di masanya tersentuh bahkan terbentuk masa kecilnya melalui kisah-kisah cersil KPH itu. Cerita silat cicilan yang lunas membawa serta generasi Indonesia ke tingkat ideal tertentu. Bahkan, menurut penuturan guru saya yang memperkenalkan saya pada KPH, Baba Ahmad Gibson Albustomi dan Prof Bambang Qomaruzzaman serta Farid Yusup, cersil KPH pada dasarnya adalah ajaran filsafat itu sendiri. Sebelum saya membacanya sendiri, tentu terdapat keraguan. Setelah membaca satu serial cersil KPH baru saya bisa mafhum apa yang mereka katakan tentang hujah itu. Makanya, terdapat juga waham sebaliknya bagi para Boomer, bahwa filsafat itu tidak lain adalah cerita silat yang mengawang-awang dan khayali—tidak memiliki pertalian dengan kehidupan riil. Awas pedang!

Cerita yang menyebar secara nyaris stensil seperti itu membawa keuntungan bagi cersil KPH. Pertama, prosesnya sebagai penulis-penjual lebih ringkas, karena cerita yang ditulisnya tidak harus melewati proses editorial yang kerap tidak menentu. Bayangkan, penulis adalah mereka yang berprofesi dan menghasilkan uang dari tulisan. Dalam hukum produksi hari ini, hilirisasi menjadi penting. Makanya para penulis lepas di platform digital semakin menjamur. Pada saat yang sama surat kabar dan media arus utama semakin ditinggalkan. Yang bisa dipertahankan yang terakhir adalah idealisasi sastra utama dan sastra margin, atau istilah populernya: sastra tinggi dan sastra rendah.

Di antara dua dikotomi itu, saya kira, KPH memilih masa bodoh. Ini bukan tanpa alasan. Demikian karena sampai sesaat sebelum hari jadi keseratus KPH, tidak ada karyanya yang dibeli atau dikontrak oleh penerbit mayor—sekalipun, saya bisa bertaruh atas nama tumbler dan kereta roda anak saya—bahwa para penerbit ini tidak ada yang tidak mengenal kebesaran karya KPH. Ini nyaris sama seperti nasib karya Pramoedya—tapi saya tidak mau ambil bagian dalam gosip tentang Pram. Baru dalam hari jadi ke-100 tahun Kho Ping Hoo-lah salah satu karyanya diterbitkan ulang oleh penerbit dengan nama aneh: binatangpress. Selain itu ada beberapa terbitan cerita-cerita semacam novel oleh penerbit Elex, anak penerbit Gramedia. Bagaimana dengan karya-karya utamanya? Masih dibaca tapi dalam lingkaran kecil penikmat cerita silat dan untuk mendapatkan edisi cetaknya semakin sulit karena kesimpangsiuran nasib CV Gema yang menerbitkan karya KPH.

 

Penulis Sebagai Figur

Dari cerita proses kreatif KPH, saya mendapat sejumlah hal yang bisa diterapkan—dan hal itu sudah dilakukan secara bertahap. Pertama, memecah beban menulis sesuatu yang besar dengan cara dicicil. Tapi bukan tanpa ikatan. Jika sekadar dicicil, maka cicilan itu seringkali jatuh tempo dan mangkrak. Cara KPH, saya kira terbukti juga dilakukan penulis cerita generasi berikutnya. Jika KPH menyicil tulisan menggunakan medium surat kabar dan terbitan berkala melalui rumah penerbitannya sendiri, maka sejumlah penulis melakukan hal yang sama. Arswendo Atmowiloto menulis Senopati Pamungkas yang durasi edisi buku sakunya sampai 20-an jilid, kemudian edisi dua jilid segede-gede bantal dinasti Ming, terakhir dalam edisi boxset 5 jilid unesco, dicicil melalui terbitan berkala surat kabar. Kemudian Remy Sylado menulis Sam Po Kong yang juga sebesar bantal dinasti Ming, juga dengan dicicil melalui surat kabar di Surabaya [kalau saya tidak salah ingat]. Goenawan Mohamad menulis Catatan Pinggir sampai berdurasi 15 jilid, hanya mungkin terjadi melalui tuntutan surat kabar yang dipimpinnya—meski Caping tentu bukan cersil. Kemudian, Seno Gumira juga melakukan hal yang sama dengan Nagabumi. Saya tidak akan menarik contoh dari Bastian Tito yang prolifik dengan Wiro Sablengnya, dan Saini K.M, yang juga menulis trilogi cerita silat berlatar Sumedang, karena rasanya kurang cocok saja.

Artinya, proyek-proyek kesusastraan besar bisa diratakan dengan cara dicicil. Jangan-jangan hal ini juga berlaku untuk kasus karya akademik. Tapi dengan catatan si penulis punya otot intelektual yang mumpuni untuk melakukan kerja maraton—seumur hidup—seperti itu. Ya, seperti Ibn Sina saja menulis Asy-Syifa dengan durasi manuskrip konon sampai ratusan ribu halaman itu karena desakan al-Juzjani, muridnya, yang setia menagih naskah pada Syekh Rais itu.[4] Dalam model seperti itulah saya kira KPH menjadi exemplar yang par, alias tiada duanya, tapi bisa direplikasi menjadi mode kerja praktis hari ini.

Berdasarkan catatan personal ini, saya kira tidak berlebihan jika 100 tahun Sifu Kho Ping Hoo mesti dirayakan. Bahkan bila perlu ditekankan ulang betapa pentingnya nyicil dalam wadak korpus intelektual kita. Hidup nyicil!

 

Ruang Guru Besar

Ushuluddin

UIN SGD Bandung

2026

[1] Untuk pemetaan lanskap kesusastraan Melayu-Tionghoa ini, lihat Myra Sidharta, “Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (b. 1926): Writer of Cloak-and-dagger Stories in Indonesia,” Archipel 48 (1994): 157–176; Myra Sidharta, Dari Penjaja Tekstil sampai Superwoman: Biografi Delapan Penulis Peranakan (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2004); Claudine Salmon, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography (Paris: Éditions de la Maison des Sciences de l’Homme, 1981); dan Leo Suryadinata, Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia (Jakarta: Grasindo, 1996).

[2] Cerita Tepi Air merupakan terjemahan Shuihu zhuan (Water Margin), salah satu dari Em

 

pat Karya Klasik Agung sastra Tiongkok yang secara tradisional dinisbatkan kepada Shi Nai’an (abad ke-14). Edisi Indonesia yang saya baca terbitan BIP dalam empat jilid ukuran Unesco.

[3] Seno Gumira Ajidarma, “Kho Ping Hoo dan Indonesia,” dalam Kho Ping Hoo & Indonesia (bunga rampai peringatan 86 tahun kelahiran Kho Ping Hoo, Solo dan Bali, 2012). Seno menyimpulkan bahwa cerita silat berbahasa Indonesia berlatar sejarah Tiongkok adalah bagian yang sah dari kebudayaan Indonesia, dan bahwa mempersoalkan karya Kho Ping Hoo sebagai susastra atau bukan-susastra sudah tidak relevan.

[4] Murid yang dimaksud adalah Abū ʿUbayd al-Jūzjānī, yang mendorong penyusunan asy-Syifāʾ dan setia menagih naskah Ibn Sina. Lihat William E. Gohlman, The Life of Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation (Albany: SUNY Press, 1974); dan Dimitri Gutas, Avicenna and the Aristotelian Tradition, edisi kedua (Leiden: Brill, 2014).

WhatsApp
Facebook
Email
Print