Oleh: M. Rachmatullah Arken

“Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman oleh hawa dingin menusuk. Cahaya kuning emas membawa kehangatan, keindahan, penghidupan itu mengusir halimun tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran embun yang kini menjadi penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bunga-bunga yang beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar dan berseri-seri.”
Begitulah Kho Ping Hoo membuka serial Bu Kek Siansu. Satu serial legendaris yang kemudian menjadi belasan judul cersil yang bersambung hingga entah generasi ke berapa. Judul yang saya ingat setidaknya adalah Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Istana Pulau Es, Pendekar Bongkok, Pendekar Super Sakti, Sepasang Pedang Iblis, dan seterusnya. Lalu ada serial pendekar sakti Bu Pun Su, Pedang Harum, hingga berbagai cersil lepas yang saya tak lagi bisa menghitungnya. KPH, kita sebut saja demikian, di tahun 2006, ya saya memang telat membacanya, pernah membuat ruang waktu dan dunia saya berhenti.
Kamar kos empat kali lima meter, kasur busa tipis, laptop butut yang baterainya sudah habis fungsi, dan ebook KPH adalah dunia kecil saya saat itu. Saya lupa berapa minggu tepatnya, dua minggu? tiga minggu? Entahlah, yang saya ingat selama itu pula saya tidak keluar kamar kecuali ke kamar mandi dan warung sebelah buat beli indomie. Teman-teman sekosan banyak yang khawatir melihat tingkah tanduk saya. Ada yang bilang saya sakit, ada yang mengira lagi patah hati parah, ada yang diam-diam mengetuk pintu sambil membawa obat flu. Padahal di ruang sempit dan bau lembab itu saya justru sedang tenggelam dalam narasi Kwa Sin Liong yang belajar silat di Pulau Es, ikut pendekar sadis yang tanpa ampun menghabisi musuh-musuhnya, dan sesekali tertawa ketika ketika muncul tokoh-tokoh aneh yang hanya mungkin lahir dari kepala KPH sendiri. Raja pengemis dengan nama kesaktian yang aneh, tongkat pemukul anjing, atau ada pendekar yang hanya muncul kesaktiannya saat mabuk berat.
KPH bisa jadi tak banyak menyisipkan nada humor dalam ceritanya. Bagaimanapun konvensi sastra silat saat itu memang kurang mengijinkan masuknya elemen-elemen begitu. Tapi ya bukan berarti KPH tak bisa. Yang jelas, dahaga imajinasi saya tentang sosok pahlawan waktu itu bisa terpenuhi dengan karya-karya KPH ini. Keinginan saya di saat muda sederhana. Ada orang-orang yang sanggup berdiri tegak meski dunia sedang miring. Orang-orang yang mampu menegakkan kebenaran meski hidup lebih banyak memberikan opsi kekecewaan. Orang-orang yang punya jurus pamungkas dan senjata sakti, tapi dalam pertarungan lebih sering memakai hati nurani.
Oh, saya ingat Joseph Campbell dalam The Hero with a Thousand Faces pernah menulis bahwa setiap manusia, di mana pun ia dilahirkan, membawa di dalam dirinya pola perjalanan yang sama. Ia meninggalkan dunia biasa, melewati ujian, bertemu guru, menghadapi bayangan diri sendiri atau musuh yang sakti, mungkin kalah dulu, lalu bangkit dan kembali membawa sesuatu yang berguna bagi yang lain. Di tangan Kho Ping Hoo, pola itu berubah menjadi pendekar-pendekar yang berdarah, berkeringat, kadang bodoh, kadang sakti, tapi sekali lagi, mereka semua tetap manusia (kecuali Bu Kek Siansu mungkin, saya sulit membayangkannya masih manusia).
Saya masih membacanya di beberapa tahun setelahnya. Entah untuk mengobati kerinduan imajinasi ataupun melepaskan diri dari beban dunia dan diri yang tak pernah ada liburnya. Beberapa karya cersil lainnya juga tak luput sebagai ruang pelarian itu. Selain KPH, karya Huang Yin dan Wen Rui An mungkin yang paling sering saya baca. Terlepas dari semua itu, bulan ini, ketika genap seabad Kho Ping Hoo lahir, saya masih ingat segala kepenuhan dan rasa kenyang aneh setelah menamatkan satu serial. Rasanya seperti baru saja pulang dari perjalanan jauh. Seperti mendapatkan wahyu ilahi meski tak lantas saya menjadi Nabi. Dan karena itu pula, saya perlu merayakannya di usianya yang seabad ini.
Tentang siapa Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Saya baru tahu detail hidup Kho Ping Hoo belakangan, jauh setelah saya selesai menamatkan berbagai judul karyanya. Waktu itu saya cuma kenal namanya yang tertera di sampul, Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Bunyinya memang sudah seperti pendekar dalam ceritanya sendiri. Baru kemudian, dari obrolan dengan penjaga toko buku bekas dan sedikit bacaan di sana-sini, saya mulai menyusun potongan-potongan hidupnya. Oh, tidak lupa dari obrolan singkat dnegan seorang pembaca KPH legendaris di Jawa Timur itu, yang mampu menyusun silsilah keluarga pulau es, murni dari ingatannya saja. Salut mas-e!
Lahir di Sragen, 17 Agustus 1926. KPH adalah anak kedua dari dua belas bersaudara. Keluarga peranakan yang hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang, ibunya lebih sering bercerita daripada mengeluhkan situasi. Sekolahnya putus di tengah jalan. Umur empat belas tahun sudah harus kerja jadi pelayan toko, lalu jadi penjaja obat keliling dari Kudus sampai Surabaya. Bayangkanlah wahai pembaca, KPH saat itu adalah anak muda yang harus menjajakan obat di tengah pendudukan Jepang, tidur di mana saja, makan apa saja, sambil terus mendengar cerita-cerita dari orang-orang yang dijumpainya di jalan. Saya sih ndak sanggup menjalani cerita hidupnya, entahlah.
Saya sering membayangkan dia duduk di pinggir jalan, menunggu pembeli yang menawar dagangannya, sambil mengamati orang lalu-lalang di hadapnya. Mungkin dari situ dia belajar bahwa manusia itu aneh dan rumit. Ada yang sombong, ada yang polos, ada yang kejam, ada yang tiba-tiba baik hati tanpa alasan. Semua tipe manusia itu nanti muncul di bukunya, lengkap dengan jurus-jurus yang tak sanggup saya list di sini nama-namanya.
Sesudah kemerdekaan, hidupnya tetap bergolak. Usaha rokoknya di Sragen hancur karena aksi militer Belanda. KPH kemudian pindah ke Tasikmalaya, kerja di perusahaan angkutan, jadi juru tulis. Di sana, di sela-sela pekerjaannya, dia mulai menulis. Awalnya cerita pendek, roman, tentang detektif, kurang laku. Baru kemudian, entah karena desakan atau dorongan sendiri, dia masuk ke dunia silat. Karya pertamanya, Pedang Pusaka Naga Putih, langsung diterima oleh masyarakat pembaca dengan baik. Sejak itu pula pintu karir kepenulisan, khususnya cersil, terbuka lebar baginya. Dan di sana pula sepertinya bakat KPH yang sesungguhnya.
Tahun 1963 kerusuhan rasial di Tasikmalaya memaksa keluarganya pindah lagi. Kali ini ke Solo. Di Mertokusuman KPH mendirikan CV Gema, penerbit dan percetakan miliknya sendiri. Dari situ pula nantinya keluar ratusan judul cersil, meski yang sampai pada saya cuma pdf-nya. Setiap bulan ada jilid baru. Pembaca saat itu menunggu di depan toko buku atau di tempat persewaan. Saya membayangkan antrian orang yang ribut memperebutkan jilid terbaru, sama seperti saya dulu yang rela tidak mandi berhari-hari demi menamatkan satu serial.
Joseph Conrad pernah bilang bahwa penulis sejati memang menulis dengan seluruh hidupnya, tidak hanya dengan kepalanya. Kho Ping Hoo kelihatannya melakukan itu. Kemiskinan, pengungsian, diskriminasi, penjajahan, kerja keras, semua itu masuk ke dalam ceritanya. Pendekar-pendekarnya sering berasal dari kalangan bawah, bukan keturunan ningrat atau pejabat istana, sering diuji berkali-kali, sering harus memilih antara dendam dan pengampunan, sering patah hati. Saya tidak heran kalau banyak petuah di bukunya terasa berat, terasa sangat filosofis bahkan bagi saya seorang mahasiswa Filsafat. Orang yang sudah berjalan kaki terlalu jauh seperti KPH, memang biasanya bicara lebih pelan, tapi dengan makna yang lebih dalam.
KPH meninggal di Solo, 22 Juli 1994, karena komplikasi jantung dan ginjal. Umur enam puluh delapan Ketika menutup mata. Jenazahnya dikremasi, abunya ditebar di pantai selatan. Ribuan orang datang melayat. Saya baca berita itu belakangan, dan sempat terdiam lama. Rasanya aneh, orang yang sudah menemani saya berminggu-minggu di kamar kos yang pengap, ternyata sudah lama pergi. Tapi di atas kertas, dia masih terus berjalan di dunia persilatan, masih menurunkan ilmu, masih menertawakan berbagai karakter manusia lewat mulut tokoh-tokoh anehnya. Kadang saya berpikir, kalau dia masih hidup dan melihat saya dulu yang mengunci diri di kamar demi bukunya, mungkin dia hanya tersenyum kecil. Lalu bilang, “Sudah, makan dulu. Dunia persilatan tidak akan lari.”
Peranakan yang Menulis Indonesia
Seperti umumnya pembaca pemula KPH lainya, saya pada awalnya mengira beliau dari China yang kebetulan merantau atau lahir di sini. Dan karenanya, sangat fasih bercerita tentang negeri tirai bambu yang menjadi usulnya. Tapi saya baru sadar betapa “lokal”nya KPH justru setelah membaca beberapa karyanya yang berlatar Jawa (meski saya tak bisa menikmatinya sebagaimana saya menikmati cersilnya yang berlatar mandarin). Karena itu Ketika tiba-tiba muncul keris, muncul bahasa Jawa halus, muncul istilah-istilah yang terasa seperti diucapkan orang Solo, saya sempat bilang dalam hati, “Lho, ini orang kok tiba-tiba serius njawani?”
KPH memang peranakan. Darah Tionghoa dari ayah, jiwa Jawa dari ibu dan lingkungan. Bahasa Jawanya fasih. Sangat fasih malah. Bahkan pernah menulis satu judul dalam bahasa Jawa. Di rumah, konon keluarganya lebih dekat dengan wayang dan kebatinan daripada tradisi Tionghoa yang kaku. Ah, saya jadi membayangkan dia kecil duduk di dekat ibunya yang sedang bercerita, mendengar petuah-petuah yang kemudian muncul lagi di mulut Bu Kek Siansu atau pendekar-pendekar tua lainnya. Tapi yang menarik, dia tidak memaksa dua dunia itu bertabrakan. Dia justru membiarkan keduanya hidup berdampingan di dalam cerita. Ada serial yang penuh dengan nama-nama Tionghoa, jurus-jurus yang terdengar asing, dan latar istana atau gunung di negeri seberang. Lalu ada juga Darah Mengalir di Borobudur, Keris Pusaka Nogo Pasung, Badai Laut Selatan, cerita-cerita yang berbau dan berlatar tanah Jawa, penuh dengan konflik lokal, dan terasa lebih dekat dengan napas sehari-hari pembacanya.
Saya agak sulit untuk tidak tertawa ketika menemukan dialog yang tiba-tiba “medok”. Pendekar sakti yang baru saja mengalahkan lawan dengan jurus tingkat tinggi, lalu berbicara dengan logat yang sangat Jawa. Rasanya seperti melihat orang berpakaian lengkap pendekar, tapi duduk lesehan sambil minum teh manis. Lucu, tapi justru itu yang membuat ceritanya terasa hidup. Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara dunia imajinasi dan dunia yang saya kenal. Pramoedya Ananta Toer pernah bilang bahwa seorang penulis yang baik adalah orang yang mampu menjadikan pengalaman pribadinya sebagai milik bersama. Kho Ping Hoo, tanpa banyak teori, melakukan itu. Dia membawa pengalaman sebagai peranakan yang hidup di antara dua budaya, lalu mengubahnya menjadi jembatan. Pembaca Tionghoa merasa diwakili, pembaca Jawa merasa akrab, pembaca dari etnis lain tetap bisa masuk karena ceritanya tentang manusia yang sedang berjuang, selumrahnya saya, anda, kita.
Saya, sebagai orang yang tidak punya darah Tionghoa sama sekali, tidak pernah merasa jadi orang luar ketika membaca bukunya. Malah sering merasa seperti mengelilini negeri sendiri. Pegunungan Kunlun, Tiansan, Wudang, Emei, itu terasa dekat saja. Nama Asmaraman Sukowati yang dia pakai di depan nama Tionghoanya juga pada akhirnya terasa seperti pernyataan diam-diam: “Saya orang sini juga.” Kadang saya berpikir, mungkin justru karena dia berdiri di dua kaki itu, dia bisa melihat lebih jernih. Dia tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang “agak lain”, dan dari situ dia menulis tentang keadilan, tentang dendam, tentang pengampunan, dengan cara yang tidak menggurui. Hanya menceritakan. Dan kita yang membaca, tanpa sadar, ikut belajar berdiri di jembatan yang sama.
Dunia “Keluarga Pulau Es”, Serial yang Menjadi Legenda
Oke, mari kita fokus pada salah satu karyanya. Saya dulu butuh waktu cukup lama untuk menamatkan seluruh serial Kisah Keluarga Pulau Es. Tujuh belas judul. Setiap kali selesai satu judul, saya sudah tidak sabar membuka yang berikutnya, padahal semuanya tak akan hilang kecuali laptop butut ini ngehang atau kena virus. Kadang saya bilang pada diri sendiri, “Besok saja.” Tapi sepuluh menit kemudian mata saya sudah standby pada layer dan membaca lagi.
Semuanya berawal dari Bu Kek Siansu. Kwa Sin Liong, anak ajaib yang kemudian menjadi manusia setengah dewa di Pulau Es. Saya masih ingat betul bagaimana dia belajar di bawah bimbingan “pangeran” Han Ti Ong, bagaimana dia harus menahan diri berkali-kali, bagaimana dia akhirnya menjadi guru bagi generasi berikutnya. Dari situ cerita terus mengalir ke anak-anak, cucu, dan orang-orang di sekitar mereka. Dendam yang diwariskan, cinta yang rumit, pengkhianatan yang datang dari orang terdekat, dan usaha terus-menerus untuk tetap berdiri di pihak yang benar. Apa yang membuat saya betah bukan hanya jurus-jurus atau senjatanya. Memang ada Pedang Naga Sakti, ada suling sakti, ada ilmu yang terdengar mustahil, ada pertarungan yang berlangsung sampai beberapa halaman. Tapi yang barangkali lebih sering membuat saya diam adalah percakapan di antara mereka. Bu Kek Siansu jarang marah. Dia lebih sering berbicara pelan, tapi setiap katanya terasa berat. Saya sering menutup layer sebentar, menatap dinding kamar kos yang kusam, lalu menghela napas dalam.
Di tengah ketegangan itu, Kho Ping Hoo selalu berhasil pula menyisipkan tokoh-tokoh aneh. Ada yang sombong luar biasa, ada yang polos sampai bikin geli, ada yang tiba-tiba muncul dengan nama jurus yang terdengar seperti lelucon. Di serial ini, saya merasa seluruh keluarga Pulau Es terus-menerus mengulang perjalanan yang sama: pergi, diuji, hampir hancur, lalu kembali dengan pemahaman baru tentang keadilan dan pengampunan. Seperti dalam kisah-kisah epik lama yang dibicarakan Northrop Frye, cerita semacam ini tidak pernah benar-benar selesai. Setiap generasi membawa luka dan pelajaran dari generasi sebelumnya, lalu menambahkannya dengan luka dan pelajaran mereka sendiri. Saya membaca sambil kadang mengangguk, kadang ketawa kecil, kadang diam lama.
Setelah menamatkan semuanya, saya sempat duduk di tengah kamar yang berantakan. Buku-buku lain berserakan. Perut keroncongan. Tapi di kepala masih terasa dinginnya salju di Pulau Es. Saya kemudian melanjutkan pada serial lain, Pendekar Super Sakti, Pendekar Bodoh, Pedang Harum, Jodoh Rajawali, dan beberapa lagi. Semuanya enak. Tapi Kisah Keluarga Pulau Es tetap yang paling sering saya ingat. Mungkin karena saya terlalu lama tinggal di dalamnya. Atau karena di situ saya menemukan semacam rumah yang luas, dengan banyak kamar, dan setiap kamar menyimpan cerita yang berbeda, tapi semuanya masih satu keluarga. Dan Bu Kek Siansu adalah tokoh pertama yang menjadi patokan saya untuk menilai kesaktian tokoh yang lainnya. Ah, beliau masih tanpa tanding sih.
Generasi Pembaca Baru, Masih Adakah?
Saya dulu membaca Kho Ping Hoo di kamar kos yang pengap, dengan lampu yang redup dan layar monitor yang sedikit bergaris. Jauh sebelum saya, orang-orang dari berbagai lapisan sebenarnya sudah lebih dulu tenggelam di dunia yang sama. Di era 1960-an sampai 1990-an, cerita silat KPH benar-benar jadi bacaan bersama. Anak sekolah baca di persewaan buku. Pegawai kantor baca di perjalanan pulang. Ibu rumah tangga baca sambil menunggu nasi matang. Orang Tionghoa, Jawa, Sunda, Batak, semuanya ikut. Tak ada sekat. Para pembaca itu bukan cuma orang biasa seperti saya. Gus Dur pernah bilang dia suka cersil KPH. B.J. Habibie juga. Jokowi mengaku pernah membacanya. Iwan Fals bahkan memasukkan nama KPH ke dalam lagunya: “Kacamata tebal, maklum kutu buku… banyak baca Kho Ping Hoo.” Suciwati, istri almarhum Munir, juga penggemar berat. Oh, saya memang tak sendirian. Bayangkan, orang-orang yang biasa dibicarakan di koran dan televisi, ternyata dulu juga pernah duduk diam, menahan napas menunggu jurus pamungkas, sama seperti saya.
Bagi banyak generasi, karya-karya KPH itu bukan sekadar hiburan. Mereka membentuk cara orang membayangkan keadilan, keberanian, dan harga sebuah janji. Saya sendiri masih sering menangkap petuah-petuah lama itu muncul di kepala ketika menghadapi pilihan sulit. KPH berhasil mengajari saya dan mereka, dengan cara yang tidak menggurui, bahwa pendekar sejati tidak harus yang paling sakti, tapi yang paling mampu menahan diri.
Sekarang buku-buku itu sudah mulai dicetak ulang. Ada yang digabungkan, ada yang dijual dalam bentuk digital. Di media sosial, masih ada komunitas yang saling berbagi kenangan, saling tanya jilid mana yang paling berkesan, saling mengingatkan dialog-dialog lama. Sesekali muncul kabar tentang rencana adaptasi, meski belum banyak yang benar-benar jadi. Tantangannya jelas. Anak muda sekarang lebih akrab dengan Wattpad, Webtoon, dan novel web yang update setiap hari. Tempo cerita lebih cepat, visual lebih kuat, cliffhanger lebih sering. Dunia KPH yang pelan, penuh petuah, dan kadang berputar-putar di konflik keluarga, jelas terasa berbeda. Bisa jadi tak menarik lagi bagi generasi pembaca kini.
Tapi bisa juga justru di situ peluangnya. Gaya berceritanya yang kuat pada karakter dan konflik batin masih bisa diangkat ulang. Apa yang mungkin perlu dilakukan hanyalah menyesuaikan tempo, tentu saja tanpa menghilangkan napas aslinya. Penulis masa kini bisa belajar banyak dari KPH. Disiplin menulis hampir setiap minggu, kemampuan menjaga konsistensi serial panjang, dan keberanian menyelipkan nilai moral tanpa terasa menggurui. Karena itu, bagi saya pribadi, sampai habis nafas diri, KPH tidak akan benar-benar pergi. Dia hanya menunggu dibaca ulang. Saya yakin bahwa di tengah hiruk-pikuk konten cepat, masih ada ruang untuk cerita yang mau duduk lama, berbicara pelan, dan meninggalkan sesuatu di kepala pembacanya.
Seratus tahun. Angka yang besar untuk seorang penulis. Kho Ping Hoo lahir 17 Agustus 1926. Hari ini kita berdiri di tahun yang sama dengan usianya yang genap satu abad. Apa arti seratus tahun bagi orang yang sudah lama tiada? Mungkin tidak banyak. Tapi bagi orang yang karyanya masih dibaca, masih dikenang, masih membuat seseorang tertawa sendiri di kamar yang pengap, angka itu jelas terasa hidupnya. Dan bagi anda yang mau bernostalgia seperti saya, mari kita rayakan satu abad KPH ini dengan membacanya lagi.
Bandung, September 2026
Bacaan Lanjut:
Campbell, J. (1949). The hero with a thousand faces. Pantheon Books.
Cousineau, P. (Ed.). (1990). The hero’s journey: Joseph Campbell on his life and work. Harper & Row.
Frye, N. (1957). Anatomy of criticism: Four essays. Princeton University Press.
Conrad, J. (1897). Preface. Dalam The nigger of the ‘Narcissus’: A tale of the sea. Heinemann.
Myra Sidharta, “Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (b. 1926): Writer of Cloak-and-Dagger Stories in Indonesia,” Archipel 48/1 (1994): 157–176.