Oleh: Bambang Q. Anees

WARNING! KEMBRUKAN YANG DIABAIKAN
Kali ini, saya harus menggabungkannya. Teks ke-16, 17, dan 18. Sekaligus. Tiga-tiga-nya. Tidak bisa ditawar.
Kenapa?
Ini urusan gawat. Urusan hidup mati kita: perpecahan. Kalau diecer satu-satu, dicicil per bab, efek kengeriannya hilang. Daya gedornya menguap.
Manusia itu konon makhluk penakut. Manusia akan sangat peduli jika merasa takut. Begitu mendengar ada sesuatu yang mengancamnya, kita akan segera cari selamat secara psikologis.
Kecuali, tentu saja, mereka yang memang sudah mati rasa. Yang hatinya sudah jadi batu.
Maka tiga teks ini harus ditembakkan bersamaan. Biar efek kejutnya maksimal. Biar kita tahu, sedalam apa jurang yang sedang menganga di depan kaki kita.
Bacalah rentetan ini tanpa jeda.
Mari, membaca dengan tenang. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari sedang tidak ingin berbasa-basi. Beliau seperti sedang menembak tepat di batok kepala kita.
Terpecah itu Mengusir Tangan Tuhan
Teks 16:
فَالتَّفَرُّقُ سَبَبُ الضُّعْفِ وَالْخِذْلَانِ، وَالْفَشَلِ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الْفَسَادِ، وَمَطِيَّةُ الْكَسَادِ، وَدَاعِيَةُ الْخَرَابِ وَالدَّمَارِ، وَدَاهِيَةُ الْعَارِ وَالشَّتَّار
Maka perpecahan adalah sebab kelemahan dan kehinaan, serta kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan, ia adalah pengundang kerusakan, kendaraan menuju kemerosotan dan kebangkrutan, penyeru pada kehancuran dan kebinasaan, sekaligus petaka aib dan kenistaan.
Fa al-tafarruq sababu al-dhuʿfi wa al-khidzlāni
Itu pembuka Teks ke-16. Dahsyat sekali. Perpecahan itu, kata beliau, adalah sabab. Sumber dari segala sumber petaka. Ada tujuh rangkaian bencana yang antre di belakangnya.
Pertama, al-dhuʿf—lemah.
Saya merenungkan kata itu lama sekali. Mengapa lemah? Mengapa bukan gagal dulu? Atau hancur dulu?
Di sinilah geniusnya Hadratusy Syaikh. Beliau tahu persis anatomi sebuah gerakan. Al-dhuʿf itu seperti penyakit autoimun dalam tubuh organisasi. Dia tidak langsung membunuh. Dia mematikan fungsi pertahanan dulu.
Bayangkan sebuah perusahaan. Atau partai. Atau organisasi sosial apa saja. Begitu di dalamnya mulai ada faksi, mulai ada kubu-kubuan, energi organisasi itu langsung tersedot habis. Habisnya ke mana? Ke dalam. Bukan ke luar.
Harusnya energi itu dipakai untuk ekspansi, untuk inovasi, atau untuk melayani umat. Tapi karena ada friksi, energi itu habis dipakai untuk rapat-rapat gelap. Untuk saling intip. Saling jegal. Saling mengamankan posisi masing-masing.
Akibatnya? Organisasi itu mendadak kehilangan daya pukulnya. Al-dhuʿf bekerja secara perlahan tapi pasti lewat tiga gejala klinis.
Pertama, kelumpuhan eksekusi. Di organisasi yang terjangkit al-dhuʿf, keputusan sederhana bisa memakan waktu berbulan-bulan. Kenapa? Karena setiap kebijakan tidak lagi dinilai berdasarkan “ini bermanfaat atau tidak”, melainkan “ini menguntungkan kubu mana”. Semua orang saling curiga. Pemimpin mau melangkah, takut dijegal dari belakang. Anggota mau bergerak, takut salah faksi. Organisasi menjadi penakut.
Kedua, hilangnya kompetensi. Ini yang paling berbahaya. Ketika faksionalisme merajalela, indikator kinerja utama (KPI) tidak berlaku lagi. Yang dipakai adalah indikator loyalitas kubu. Orang yang hebat, yang pintar, yang punya integritas, pelan-pelan disingkirkan atau memilih mundur karena tidak tahan dengan politik praktis di dalam rumah sendiri. Tempat mereka digantikan oleh orang-orang yang “Asal Bapak Senang (ABS)”, yang penting satu faksi. Kualitas organisasi langsung merosot ke titik nadir.
Ketiga, kehilangan daya tahan eksternal. Organisasi yang lemah di dalam, otomatis menjadi sasaran empuk dari luar. Kompetitor tidak perlu bersusah payah menghancurkan Anda. Mereka cukup menonton Anda menghancurkan diri sendiri dari dalam. Begitu ada tekanan sedikit saja dari luar—entah itu perubahan regulasi, disrupsi teknologi, atau persaingan pasar—organisasi yang mengidap al-dhuʿf akan langsung tumbang. Persis seperti pohon besar yang batangnya terlihat kokoh, tapi dalamnya sudah keropos dimakan rayap.
Hadratuys Syaikh kemudian meneruskan warning-nya. Perpecahan itu menghadirkan al-khidzlān. Dalam kamus, kata al-khidzlān ini diterjemahkan sebagai kekalahan. Tapi ini bukan kekalahan biasa di medan tanding. Bukan sekadar kalah skor di papan pertandingan. Al-Khidzlān adalah kondisi paling tragis ketika pertolongan Allah telah angkat kaki. Pergi. Meninggalkan kita.
Anda tahu hadis yadullāh ma‘a (‘alā) al-jamā‘ah? Hadits ini menjadi teks ke-2 dari Muqaddimah Qanūn Asāsī. Tangan Allah di atas jamaah. Tangan Allah akan memberkati kita jika kita bersatu dalam organisasi.
Nah, kalau pecah, kalau saling bermusuhan, saling menyalahkan: tangan itu diangkat. Tangan Allah itu pergi. Silakan berjuang sendiri. Rasakan. Tanpa bantuan “langit”. Itulah situasi al-khidzlān. Bayangkan organisasi atau bangsa yang harus bertarung menghadapi kerasnya zaman, tapi mereka berjuang sendirian. Tanpa rida Tuhan. Tanpa pasokan energi spiritual. Itulah khidzlān. Mereka dibiarkan ringsek oleh kebebalan mereka sendiri.
Karena itu, jangan terpecah. Please! Kecuali jika sudah tidak butuh lagi “Tangan Allah”
Lalu apa?
Al-fasyali fī jamīʿi al-azmān. Gagal total sepanjang masa. Mau zaman batu, zaman kerajaan, sampai zaman AI (kecerdasan buatan) sekarang, rumusnya sama: pecah berarti kalah.
Fī jamīʿi al-azmān (di setiap zaman) rumusnya masih sama, berlaku abadi. Hukum besinya tidak pernah bergeser satu milimeter pun: Pecah sama dengan kalah.
Belum pernah ada dalam sejarah dunia, sebuah komunitas mencapai puncak kesuksesan jika anggotanya sibuk cakar-cakaran di dalam rumah sendiri. Tidak pernah ada.
Belum cukup. Hadratusy Syaikh menggunakan dua kosakata yang arsitektural sekali: Majlabatu al-fasād dan Mathiyyatu al-kasād.
Ongkos Mahal Kendaraan Kebangkrutan
Hadratusy Syaikh pada teks ini menggunakan dua istilah sosiologis yang sangat presisi: Majlabatu al-fasād dan Mathiyyatu al-kasād.
Perhatikan kata majlabah. Artinya magnet. Penarik.
Perpecahan itu digambarkan seperti magnet raksasa. Sifat dasar magnet niscaya menarik besi-besi di sekitarnya. Begitu pula dengan perpecahan, dia otomatis menjadi magnet yang menarik segala jenis kerusakan. Di mana ada elite bertengkar, di situ kekacauan, fitnah, intrik kotor, dan degradasi moral datang mendekat.
Lalu kata mathiyyah. Artinya kendaraan. Tunggangan.
Perpecahan di dalam sebuah bangsa atau organisasi adalah mathiyyatul kasād—kendaraan menuju kemerosotan dan kebangkrutan. Orang-orang di organisasi yang hobi konflik itu sebenarnya sedang mematok nasib mereka di atas jok sebuah kendaraan yang rute satu-satunya adalah menuju kehancuran total. Baik bangkrut secara ekonomi, sosial, maupun budaya.
Efek dominonya berjalan seperti mesin bertenaga tinggi. Begitu magnet perpecahan menarik fasād (kerusakan moral) dan menaiki kendaraan kasād (kelesuan, kebangkrutan), maka ujung jalan itu sudah pasti: Al-Kharāb wad-Dimār. Keruntuhan dan kebinasaan. Perusahaan gulung tikar, organisasi tinggal papan nama, atau negara hancur lebur.
Yang paling menyakitkan adalah lahirnya Al-ʿĀri wasy-Syattār. Aib dan kehinaan yang mencolok mata. Kelompok yang hobinya bertengkar memperebutkan remah-remah kekuasaan pribadi akan kehilangan harga diri. Mereka mudah disetir, didikte, dan dijadikan alat permainan pihak luar. Pihak asing yang cerdas akan datang memanfaatkan situasi itu demi meraup keuntungan di atas penderitaan domba-domba yang sedang cakar-cakaran.
Dalam organisasi modern, kita sering melihat “magnet perpecahan” ini menyamar sebagai “politik kantor”. Awalnya cuma diskusi di lorong, lalu jadi kubu-kubuan, akhirnya menjadi sabotase pasif. Di dunia nyata, ini fatal. Anda bisa melihat bagaimana sebuah partai politik, koperasi, atau perusahaan besar di tanah air tiba-tiba hilang dari peredaran. Bukan karena tidak punya modal, tapi karena organisasi itu sendiri sudah “bubar” di dalam pikiran para anggotanya.
Hadratusy Syaikh tidak sedang memberikan nasihat moral yang lembek. Beliau sedang memberikan peringatan keras seorang komandan.
Al-khidzlān adalah kondisi deadlock. Ketika organisasi tidak lagi punya akses pada rida Tuhan, secara sosiologis, organisasi tersebut kehilangan legitimasinya di mata anggota dan publik. Kepercayaan (trust) runtuh. Tanpa kepercayaan, struktur hanyalah cangkang kosong.
Seringkali, kita merasa konflik internal adalah tanda “dinamika”. Itu salah fatal. Dalam teori organizational behavior, konflik yang sehat adalah konflik ide, bukan konflik ego. Konflik ego adalah majlabatul fasād—penarik kerusakan. Ia seperti rayap. Rumah kelihatan berdiri gagah dari luar, tapi tiang-tiangnya sudah dimakan habis dari dalam. Begitu ada guncangan sedikit saja, gedung itu runtuh. Itulah yang disebut kehinaan: aib yang terpampang nyata.
Pelajaran dari teks Hadratusy Syaikh ini adalah tentang efisiensi spiritual.
Persatuan bukan hanya soal etika berorganisasi, melainkan soal efisiensi energi. Jika anggota organisasi bisa bersatu, mereka menghemat 90% energi yang biasanya terbuang untuk saling menjatuhkan. Energi itu kemudian bisa difokuskan untuk menghadapi tantangan eksternal yang jauh lebih buas daripada kompetitor manapun.
Banyak pemimpin organisasi hari ini—di perusahaan maupun lembaga sosial—terlalu fokus pada output dan angka. Mereka lupa menjaga “magnet” organisasi agar tetap menarik hal-hal positif. Mereka membiarkan ego pribadi merajalela hingga organisasi menjadi mathiyyatul kasād, kendaraan yang menuju jurang.
Hati-hati Ada Kalajengking di Rumahmu
Teks 17:
فَكَمْ مِنْ عَائِلَاتٍ كَبِيرَةٍ كَانَتْ فِي رَغَدٍ مِنَ الْعَيْشِ، وَبُيُوتٍ كَثِيرَةٍ كَانَتْ آهِلَةً بِأَهْلِهَا، حَتَّى إِذَا دَبَّتْ فِيهِمْ عَقَارِبُ التَّنَازُعِ، وَسَرَى سُمُّهَا فِي قُلُوبِهِمْ، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَّيْطَانُ مَأْخَذَهُ، تَفَرَّقُوا شَذَرَ مَذَرَ، فَأَصْبَحَتْ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوشِهَا
Maka betapa banyak keluarga besar yang tadinya hidup dalam kemakmuran dan kelimpahan. Rumah yang dulu ramai, penuh sesak tawa, tiba-tiba sunyi. Hening. Bukan karena ditinggal penghuni merantau, tapi karena mereka hancur dari dalam. Kalajengking pertikaian mulai merayap. Pelan. Senyap. Begitu racunnya menjalar ke hati, setan pun mengambil alih kemudi.
Ngeri sekali.
Itulah teks ketujuh belas dari Muqaddimah Qanūn Asāsī. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dengan sangat cerdas sedang membenturkan dua kondisi batin dan fisik yang ekstrem. Kondisi yang berbalik 180 derajat.
Di awal kalimat, beliau melukiskan sebuah potret keindahan: Raghadin minal ‘Aisy. Sebuah fase kehidupan yang makmur, nyaman, tenteram, hangat, dan serba berkecukupan. Bayangkan sebuah keluarga besar atau sebuah organisasi raksasa yang sangat kaya. Sukses besar. Rumahnya megah. Tiap hari halamannya ramai dipenuhi tawa dan obrolan hangat anggotanya. Dari luar, siapa pun yang memandang pasti akan geleng-geleng kepala. Rasanya mustahil kelompok ini bisa hancur. Fondasi ekonominya kuat, jaringan sosialnya menggurita. Istilahnya: sudah mapan senapan. Namun, sejarah sering kali punya cerita lain. Mengapa imperium atau “istana” semapan itu tiba-tiba bisa roboh berantakan dalam waktu singkat?
Jawabannya telak: karena mereka bukan diserang oleh meriam dari luar, melainkan dimasuki oleh “kalajengking” dari dalam rumah sendiri. Tadinya sebuah keluarga besar hidup makmur. Raghadin minal ‘aisy. Rumahnya ramai, hangat, penuh tawa (āhilah). Ekonomi kuat. Fondasi sosial kokoh. Rasanya mustahil bangkrut.
Tapi, mendadak hancur berantakan. Syadzara madzara. Kocar-kacir tak tersisa. Kenapa?
Apa diserang musuh dari luar?
Bukan.
Ada kalajengking yang merayap dari dalam rumah. Dabbat fīhim ʿaqāribu al-tanāzuʿi.
Pertikaian itu persis kalajengking. Jalannya pelan. Senyap. Awalnya hanya rasa iri kecil. Salah paham yang dibiarkan. Saling sindir di grup WhatsApp. Lalu, sarā summuhā fī qulūbihim—racunnya merayap masuk ke hati.
Saat hati sudah terkena racun, ego memuncak. Semua merasa paling benar. Saat itulah setan mengambil alih setir kemudi: akhadza minhumu al-syaithānu maʾkhadzahu. Setan tidak bekerja di depan. Dia hanya memanfaatkan racun yang sudah kita sebar sendiri.
Berhentilah sejenak, nikmati keruntutan logika yang digunakan Hadratusy Syaikh.
Fase 1: Dabbat fīhim ʿAqāribu al-Tanāzuʿi (Kalajengking Pertikaian Mulai Merayap). Ini awal mulanya. Munculnya gesekan-gesekan kecil yang dianggap sepele. Rasa iri hati yang tipis, kesalahpahaman yang didiamkan tanpa tabayun, gosip-gosip kecil antar-pengurus, atau mulai munculnya syahwat berebut jabatan. Itu semua seperti kalajengking (ʿaqārib) yang merayap di bawah karpet ruang tamu. Tidak kelihatan, tapi ada.
Fase 2: Sarā Summuhā fī Qulūbihim (Racun Meresap ke Dalam Hati). Karena kehadiran kalajengking tadi diremehkan, maka sengatan pun terjadi. Racun perpecahan itu perlahan tapi pasti mulai mengalir ke dalam pembuluh darah batin para anggotanya. Begitu hati sudah terinfeksi racun benci, cara pandang langsung berubah. Sifat husnuzhan lenyap, digantikan oleh rasa curiga yang akut.
Fase 3: Akhadza minhumu Al-Syaithānu Maʾkhadzahu (Setan Mengambil Alih Setir). Nah, di sinilah menariknya teks ini. Setan ternyata bukan aktor utama di awal cerita. Setan baru masuk di babak akhir, ketika hati manusia sudah penuh dengan racun benci dan ego. Begitu pertahanan batin jebol, setan langsung mengambil alih kemudi. Orang-orang di dalamnya mendadak tidak bisa lagi diajak bicara baik-baik. Semua merasa paling benar, semua ingin menang sendiri, dan semua menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan saudaranya.
Begitu tiga fase ini lengkap, terjadilah apa yang disebut Syadzara Madzara. Bercerai-berai tak bersisa. Kocar-kacir ke segala arah.
Bisnis raksasa yang dibangun puluhan tahun tiba-tiba bangkrut. Organisasi yang tadinya dihormati mendadak pecah menjadi faksi-faksi kecil yang saling lapor ke pengadilan. Rumah megah itu mendadak sunyi, kosong, dan terbengkalai.
Hasil akhirnya? Hadratusy Syaikh meminjam ayat Al-Quran: Khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā (QS. Al-Baqarah: 259 dan Surah Al-Kahfi: 42)
Ini istilah dahsyat. Khawa itu kosong, melilit sampai runtuh. Sebuah bangunan kalau hancur normal, biasanya dindingnya dulu yang retak. Tapi khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā tidak begitu. Ini kehancuran total yang sempurna.
Atapnya (ʿursy) ambruk duluan ke tanah. Baru kemudian tembok-tembok penyangganya yang tinggi ikut roboh, menimpa di atas puing atap yang sudah hancur tadi. Saling mengunci. Rumah itu menjadi kuburan bagi dirinya sendiri.
Di dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 42, frasa khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā ini dipakai untuk menghukum karakter Ashḥābul Jannatain—si pemilik dua kebun yang luar biasa kaya dan subur. Dia dihancurkan oleh badai malam hari karena kesombongannya, karena merasa hartanya abadi, dan karena suka merendahkan temannya yang miskin.
Tetapi perhatikan kejeniusan Hadratusy Syaikh. Di teks ketujuh belas ini, beliau meminjam akibat yang sama (khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā), namun ditarik untuk mendiagnosis penyakit hati yang berbeda: perpecahan.
Hadratusy Syaikh menggunakan frasa khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā—kosong dan runtuh rontok bersama atap-atapnya. Ini adalah potret total system failure. Dalam teori sistem, jika satu komponen vital gagal dan tidak segera diisolasi, ia akan memicu kegagalan berantai (cascade failure). Atap ambruk, tembok ikut jatuh. Semuanya rata dengan tanah.
Beliau ingin membuat sebuah persamaan hukum spiritual yang sangat tegas: Ngerinya dampak perpecahan di dalam organisasi atau keluarga itu, tingkat kerusakannya sama persis dengan ngerinya dosa kekufuran, kesombongan, dan sikap merendahkan sesama manusia. Sama-sama berujung pada kehancuran yang rata dengan tanah.
Sampai titik ini mari berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kita akan tetap terpecah dalam organisasi ini?
Jangan Naif, yang Benar Belum Tentu Menang
Teks 18:
إِنَّ الْحَقَّ يَضْعُفُ بِالِاخْتِلَافِ وَالِافْتِرَاقِ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَقْوَى بِالِاتِّحَادِ وَالِاتِّفَاقِ
Inna al-ḥaqqa yadhʿufu bi al-ikhtilāfi wa al-iftirāqi, wa inna al-bāthila qad yaqwā bi al-ittiḥādi wa al-ittifāqi.
Sesungguhnya kebenaran menjadi lemah oleh perselisihan dan perpecahan, dan sesungguhnya kebatilan bisa saja menjadi kuat oleh persatuan dan kesepakatan.
Teks kedelapan belas ini membawa kita pada kutipan Sayyidina Ali Karramallāhu Wajhah yang sangat menampar ego.
Kita ini sering kali polos. Terlalu naif. Mengira kalau niat kita sudah baik, tujuan kita sudah benar, otomatis kita akan menang. Jalannya akan mulus.
Belum tentu! Dunia nyata tidak bekerja seperti itu.
Bayangkan ada sekelompok orang baik. Ingin membangun desa. Niatnya mulia sekali. Tapi di dalam tim, mereka hobi berantem. Egois. Saling curiga. Energi habis untuk perang saudara. Niat baik itu otomatis layu sebelum berkembang. Lemah.
Sebaliknya, bayangkan komplotan mafia atau perampok. Mereka tahu tindakan mereka batil. Salah. Tapi mereka punya satu komando. Disiplin. Kompak bagi tugas. Hasilnya? Kebatilan mereka menjadi kekuatan raksasa yang terorganisir.
Persis seperti kalimat hikmah yang terkenal itu: Al-ḥaqqu bilā nizhāmin yaghlibuhul-bāthilu bin-nizhām. Kebatilan yang terorganisir dengan baik akan menggilas kebenaran yang acak-acakan.
Kesimpulannya jelas: menjadi orang benar saja tidak cukup. Kebenaran harus diperjuangkan dengan kompak, bersatu, dan berorganisasi.
Kalau orang-orang baik memilih egois dan jalan sendiri-sendiri, mereka sebenarnya sedang menggelar karpet merah untuk kemenangan kebatilan.
Bagaimana dengan kita sekarang? Masih betah memelihara kalajengking di dalam rumah?
Ketika Semua Menjadi Kalajengking
Artikel ini sengaja diberi judul: Warning. Peringatan keras dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Fungsinya memang untuk memberikan peringatan: jangan sampai kita terpecah-pecah.
Tapi ada sifat dasar manusia yang bikin cemas: sering menganggap remeh warning.
Padahal rumusnya sederhana saja.
Kalau warning ini tidak diperhatikan, dia akan naik kelas menjadi ramalan. Dan kalau ramalan itu tetap saja diabaikan, dia akan menjelma menjadi kenyataan. Tinggal tunggu waktu.
Kita ini sering kali picik. Merasa aman karena rombongan kita besar. Merasa kebal karena umur organisasi sudah panjang. “Sudah satu abad, misalnya”. Mana mungkin ambruk? Begitu pikir kita.
Itu salah besar.
Sejarah tidak pernah peduli seberapa besar nama Anda. Sejarah juga tidak peduli seberapa tua umur Anda. Begitu fondasi persatuan itu digerogoti dari dalam, nasibnya akan sama: ambruk. Khāwiyatan ʿalā ʿurūsyihā. Atapnya rontok duluan, dindingnya menyusul menimpa puing-puingnya sendiri. Rata dengan tanah.
Kepicikan kita itu biasanya berdurasi panjang. Ketika keambrukan itu belum terjadi, tidak ada satu pun yang percaya. Yang mengingatkan justru dianggap pengacau, atau dianggap terlalu sensitif.
Lalu, apa yang terjadi saat tanda-tanda keambrukan itu mulai terasa?
Di sinilah drama komedi yang tragis itu dimulai. Semua pihak mendadak menjadi detektif. Semua jari menunjuk ke luar. Kelompok sana menuduh kelompok sini sebagai pembawa sial. Kelompok sini menuding kelompok sana sebagai biang kerok.
Semua pihak sibuk mencari siapa “kalajengking” yang membawa racun pertikaian itu.
Padahal, ada satu kebenaran yang pahit. Kebenaran yang membuat kita harus mengelus dada: saat semua pihak saling menuduh lawannya sebagai kalajengking, itu artinya mereka semua memang sudah menjadi kalajengking.
Tidak ada lagi yang bersih. Semuanya sudah ketularan racun. Semuanya telah menjadi pembawa virus perpecahan.
Yang satu menyengat dengan ambisi. Yang satu menjepit dengan dendam. Akhirnya, isi rumah itu bukan lagi manusia-manusia yang mau bekerja sama, melainkan sekumpulan kalajengking yang sibuk saling adu sengat di dalam kegelapan.
Sungguh disayangkan jika itu sampai terjadi. Warisan besar yang dibangun dengan darah, keringat, dan air mata selama seratus tahun, harus musnah hanya karena penghuninya tidak bisa menahan diri.
Pertanyaannya sekarang: mau sampai kapan saling tuduh? Atau kita mau menunggu sampai atap rumah ini benar-benar menimpa kepala kita sendiri?
Siapa Nahkoda Kapal Besar Itu?
Saya memang sengaja. Menulis komentar sederhana atas Muqaddimah Qanūn Asāsī ini berturut-turut. Momennya pas: peringatan satu abad NU.
Eh, ndilalah. Kok ya pas betul. Situasi di dalam NU sendiri ternyata lagi gonjang-ganjing. Agak hangat. Bahkan cenderung panas.
Saya melihatnya dari agak jauh. Dan yang tampak adalah pemandangan ini: semua orang mendadak merasa jadi nahkoda. Semua merasa punya hak memutar kemudi. Akibatnya jelas: kapal besar ini bisa pecah arah. Penumpang di dalam bingung, kompasnya mau dihadapkan ke mana.
Jangan-jangan. Ini baru jangan-jangan.
Jangan-jangan semua kegaduhan ini terjadi karena satu hal yang sepele tapi mendasar: kita sudah lupa pada Muqaddimah Qanūn Asāsī. Kita sibuk dengan urusan ekor, sampai lupa kepalanya.
Atau, jangan-jangan semuanya justru sudah merasa paling mengerti, paling paham, paling khatam di luar kepala—tanpa pernah lagi benar-benar duduk tenang untuk merenungkan apa sebenarnya isi Muqaddimah Qanun Asasi itu.
Tapi itu hanya dugaan saya saja. Dugaan seorang pengamat dari pinggir jalan.
Dugaan saya ini pun sebenarnya tidak kuat-kuat amat. Rapuh. Buktinya apa? Sederhana saja: sedikit sekali yang berkomentar atau merespons artikel serial Muqaddimah Qanūn Asāsī ini. Sepi. Sunyi. Kalah ramai dengan isu-isu politik atau perebutan posisi yang riuh rendah itu.
Mungkin tulisan begini dianggap terlalu remeh. Atau dianggap tidak menarik. Tidak ditulis oleh Gus. Tidak bermakna apa-apa.
Tapi ya sudahlah. Biarkan saja.
Tugas saya toh hanya satu: mengingatkan. Mengetuk pintu rumah yang sedang berisik. Menyalakan lilin kecil di tengah malam yang mulai gerimis.
Selebihnya? Mau didengar atau tidak, mau direnungkan atau dilewati begitu saja, itu sudah bukan urusan saya lagi. Urusan saya sudah selesai begitu tulisan ini terbit.
Bagaimana dengan Anda? Masih ingat di mana menyimpan kitab Qanūn Asāsī itu? Atau diam-diam Anda tidak pernah punya Kitab Qanūn Asāsī?
Ah, sudahlah saya tak akan menggiring bagaimana Anda menyimpulkannya.