Messi, Chiacchiera, dan Semiotika GOAT yang Tak Kunjung Selesai

Oleh: M. Rachmatullah Arken

Messi, Chiacchiera, dan Semiotika GOAT yang Tak Kunjung Selesai

Messi, Sepakbola, dan Chiacchiera

Lusail, empat tahun yang lalu.

Jam menunjukkan larut malam waktu Qatar. Negara yang belum lama berubah dari padang pasir sunyi menjadi gemerlap dan hingar. Saya kembali menonton klip lama yang hari ini, di momen Piala Dunia 2026 ini, bermunculan di feed X saya. Tentang Lionel Messi yang sedang mencium trofi. Sosoknya yang kecil dan hampir tertutup bisht, jubah yang disematkan langsung Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani sebagai tanda penghormatan tertinggi, berjalan pelan sambil sedikit menari menuju kerumunan pemain timnas Argentina. Mereka tak sabar, saya juga. Lalu trofi emas itu diangkat dengan kedua tangan yang seolah melepas beban dan dosa. Ada sesuatu yang janggal di momen itu. Messi, dengan tubuh tak seberapa, La Pulga (si kutu) ditinggikan oleh sorak berjuta orang yang sebagian besar dari mereka saya yakin bahkan tak pernah menyentuh bola sepanjang hidupnya.

 

Ruang Gubes, kopi baru dibikin.

Piala Dunia kembali bergulir. Empat tahun berlalu sejak terakhir Messi mengangkat trofi itu. Tapi perdebatan yang sama masih terjadi. Siapakah sosok ‘kambing’ sebenarnya di sepakbola? Tak peduli apakah Messi sudah mengkhatamkan semua kejuaraan yang mungkin diraih pialanya, tak peduli Ronaldo sudah hampir berusia 42, pokoknya di Piala Dunia kali ini, mari kita berdebat lagi. Lalu pikiran saya ingat pada tulisan Umberto Eco.

Di “Sports Chatter” yang terselip di kumpulan tulisan Travels in Hyperreality, Eco menyebut bahwa sepakbola, dan mungkin juga olahraga lainnya, oleh kita para penontonnya (dengan kemampuan analisis tak seberapa), dibicarakan dalam tiga lapisan. Mungkin Eco bermaksud satir, tapi mukanya tak bisa membuat orang menganggap ia sedang bercanda. Tiga lapis obrolan itu kata Eco, adalah main bola sendiri, yang menurutnya sudah cukup sia-sia. Orang cuma membuang energi yang bisa dipakai untuk hal lainnya (main gapleh atau cari pinjol biar bisa punya dapur MBG sendiri misalnya, teuing ah). Lalu menonton pertandingan bola, yang lagi-lagi menurut Eco, justru lebih sia-sia lagi. Sebab penontonnya tak terlibat langsung di lapangan, cuma diam dan menyerahkan tubuhnya pada gairah orang lain, tapi bisa jadi paling emosi dan paling siap untuk berkelahi. Lalu lapisan terakhir, adalah obrolan tentang bola. Tulisan wartawan tentang siapa lebih hebat dari siapa, analisis pengamat baik ahli ataupun amatir di berbagai podcast dan wawancara, opini fans yang memenuhi ruang publik dan dunia maya. Semua itulah yang menurut Eco paling hampa dari ketiganya.

Alasan Eco cukup unik. Obrolan biasa disebutnya sebagai phatic discourse, sebuah obrolan yang tujuannya sekadar menjaga kontak sosial. Di dalamnya kita bisa merasa kosong tanpa berpura-pura jadi sesuatu yang lebih. Tapi obrolan olahraga, kata Eco, justru berbeda. Ia tetap phatic, tetap kosong secara substansi, tapi menyamar seolah-olah kita sedang membicarakan hal-hal penting menyangkut masyarakat dan tujuan besar kehidupan bersama. Eco menyebutnya sebagai “the City and its Ends.” Nah, kepura-puraan itulah yang membuatnya lebih hampa dari obrolan biasa. Obrolan tentang bola itu tidak hanya kosong, tapi juga penuh tipuan yang kita jalani secara sadar seolah ia penting untuk dibicarakan. Dan diperdebatkan. Eco, dengan gayanya yang memang begitu, menulis bahwa “sports chatter is the glorification of waste.” Obrolan olahraga itu sebenarnya adalah bentuk pemujaan atas hal-hal yang percuma.

Di sini, saya kira, perdebatan tentang siapa GOAT alias sosok kambing dalam sepakbola, adalah bukti paling telanjang dari tesis Eco itu. Dari pemain aktif, mantan pemain, legenda hidup, analis yang tak pernah nendang bola, hingga penonton dengan berbagai profesinya, terlibat dalam perdebatan itu. Ketika Messi mencetak hattrick melawan Aljazair, atau ketika CR7 mencetak dua gol melawan Uzbekistan dan berteriak I’m back! I’m back!. Ribuan cuitan di X mengomentari kedua sosok itu, menawarkan persepektif dan kehadiran. Lalu ratusan podcast membicarakannya lebih lanjut. Kolom opini di media berita mengomentari kolom yang menganalisis ujaran yang lain. Lalu pembicaraan di forum yang juga ikut mengomentari statistik yang sudah dikomentari ribuan kali sebelumnya. Itu semua dilakukan sampai pertandingan yang sebenarnya tenggelam di bawah tumpukan obrolan tentang obrolan.

Saya tentu tak mendukung Eco dan menyatakan pendapatnya benar. Meski tak juga awak berani bilang dia salah. Ada memang kesadaran tentang kesia-siaan di sana. Tapi bukankah juga ada kesenangan tersendiri, juga kepuasan yang aneh ketika bisa membantah selera subjektif lainnya tentang sosok kambing di sepakbola? Lagipula apa itu makna hidup jika tak membuat kita bisa menikmati momen usia yang tak seberapa. Cuhh!! Bukankah orang juga bisa bertanya bahwa jika obrolan tentang sepakbola ini memang cuma chiacchiera, obrolan kosong yang berputar tanpa tujuan, kenapa ia justru begitu hiidup terasa? Kenapa orang begitu bersemangat untuk memperdebatkan lagi dan membuat meme tentang jenderal Mbappe misalnya? Dan chiacchiera ini tak hanya ada di warung kopi (tempat yang memang banal), tapi bahkan merasuk di ruang kelas filsafat sekalipun!

“Ah, barangkali chiacchiera ini, meski hampa menurut Eco, adalah satu-satunya cara kita untuk bahagia tanpa harus repot mencari makna” (dapat ilham tiba-tiba).”

 

Messi dan Anomali Kode dalam Semiotika Sepakbola

Rosario, 1998.

Seorang anak lelaki berusia sebelas tahun tengah menggocek bola. Tubuhnya yang mungil meliuk di antara anak-anak lainnya, melewati satu, dua, tiga, empat pemain, sebelum mencetak gol. Tubuhnya memang berhenti tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya. Hormon yang diperlukan untuk pertumbuhannya kurang. Keluarganya pun tak mampu membayar suntikan yang harganya setara sewa rumah setahun. Lalu cerita berlanjut yang saya yakin Anda yang membaca ini sudah tahu bagaimana akhirnya, anak kecil bernama Messi itu menjadi sosok anomali di sepakbola. Ia menjadi ikon Barcelona. Menjadi setara dewa di Argentina. Menjadi Guevara industri sepakbola di Amerika. Menjadi sosok kambing bagi jutaan penggemar sepakbola di seluruh dunia. Tapi.. Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang janggal di sana. Pada Messi, ada sesuatu yang tak cocok dengan cara kita biasa membaca pahlawan olahraga.

 

Ruang Gubes, entah jam berapa.

Roland Barthes, dalam esainya tentang permainan gulat di “The world of wrestling” (dalam Mythologies, 1957), pernah berujar bahwa penonton gulat tak butuh hasil pertandingan yang adil. Mereka hanya butuh tanda yang jelas. Siapa tokoh jahat, siapa tokoh baik, siapa yang pantas menang. Dan tanda yang jelas ini terlihat pertama kali dari tubuh si pegulat. Dus, tubuh itu sudah jadi bahasa sebelum pertandingan dimulai. Otot yang menggunung, tinggi badan yang menjulang, semuanya adalah kode yang harus dipenuhi lebih dulu sebelum penonton mau percaya pada kepahlawanan yang akan dipertontonkan.

Saya kira, sepakbola punya punya kode serupa meski lebih halus. Sosok “pahlawan” (hero), meski di lapangan bola, biasanya datang dengan citra yang sama di pikiran kita. Ia adalah sosok dengan tubuh yang bagus dan utuh. Tubuh yang menegaskan dominasinya sejak sebelum bola disentuh. Cristiano Ronaldo mengisi kode itu nyaris sempurna. Ia tinggi semampai, atletis dan berotot di setiap inci tubuhnya meski sudah mau menginjak usia 42 (saya di usia yang tak juah beda sudah tak jelas bentuknya), paras muka yang bisa jadi iklan kosmetik, kedisiplinan dan kerja keras yang ditampilkan di setiap postingannya, atau cara bicara yang makin menegaskan ego-nya. Ya, tubuhnya sendiri sudah berkata dialah yang pantas menang, dialah sang juara. Siuu!!

Messi justru tak begitu. Ia pendek, bahunya tak lebar. Langkahnya kecil seperti orang yang buru-buru menyeberang jalan atau kutu yang menghindar. Jika berbicara pun selalu dengan nada normatif, generik, tak menarik, persis dosen saya di UPI dulu yang ngajar Statistik. Kalaupun ia menang dan menjadi juara, maka itu dilakukan tidak dengan memenuhi kode ‘pahlawan’ itu. Messi seolah membongkar kode itu dari dalam. Saya juga tak yakin sepenuhnya sadar sedang menyaksikan pembongkaran itu. Kita barangkali, terus berpikir sedang menonton keajaiban biologis. Tentang sosok yang membuat setiap kali agenda hate watch Argentina gagal adanya. Padahal bisa jadi yang runtuh di sana adalah satu sistem tanda tentang kepahlawanan yang sudah dipercaya sejak lama. Bahwa tubuh dan muka yang nyaman di mata, tak sama dengan hak untuk jadi juara.

Barangkali ini pula yang membuat perdebatan tentang kambing tak pernah selesai. Ronaldo gampang dibaca karena tubuhnya sendiri sudah jadi argumen. Messi lebih sulit dibaca, dan tampilannya kadung mencederai gambaran tentang sosok ‘pahlawan’ di pikiran kita. Messi menang dengan cara yang tak seharusnya menang menurut kode lama. Dan tanda yang sulit dibaca itu, seperti kata Eco, adalah tanda yang terus menjadi muara untuk chiacchiera.

 

GOAT, Tanda yang Sengaja Diperdebatkan

The Overlap, Stick to Football, dan The Rest is Football

Lampu studio menyala sedikit terlalu terang. Gary Neville dan Roy Keane, di studio itu berdebat soal cara Inggris seharusnya menghadapi Messi di podcast “The Overlap.” Lalu di “Stick to Football” bersama Ian Wright juga meributkan tentang keharusan man-marking terhadap Messi. Pertandingan semi final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina ini sedari awal memang menuai banyak pembicaraan. Akankah ia menjadi proses untuk football is coming home bagi Inggris atau justru menjadi awal untuk back to back juara dunia bagi Argentina. Joe Cole, di “The Rest Is Football” bersama legenda sepakbola Gary Lineker, berucap bahwa Inggris akan “put Messi to sleep” dan memenangkan pertandingan itu.

Lalu setelah pertandingan selesai, dan Argentina ternyata berhasil comeback (yang lagi-lagi lewat kontribusi Messi dengan memberikan dua assist untuk gol Enzo Fernández dan Lautaro Martinez), kembali para legenda legenda hidup sepakbola itu berhadapan dengan perdebatan yang senada. Lalu pertanyaan yang sama diulang untuk kesekian ribu kalinya. Apakah Messi layak disebut yang terhebat sepanjang sejarah sepakbola karena kontribusinya? Bagaimana dengan yang satunya? Analisis dikeluarkan satu per satu. Kontribusi, jumlah gol dan assist, visi, mental, kemampuan membaca permainan, atau angka-angka lainnya. Roy Keane bahkan dengan nada yang saya tak bisa pastikan apakah ini ledekan atau apa, bilang bahwa jikapun kita bisa menganggap Messi sudah melampaui Pele dan Maradona, tetap saja ia berada di belakang Ronaldo.

Terlepas dari podcast sepakbola yang mana, pembicaraan dengan analisis seperti apa, rasanya tak ada satu pun kepastian yang benar-benar menutup perdebatan tentang siapa sang kambing sebenarnya. Bahkan ketika baik si kutu ataupun bang Dodo sudah berada di penghujung karirnya. Jika Messi berhasil membawa Argentina ke final Piala Dunia yang kesekian kalipunya pun, selalu ada angka lain dari fans Dodo yang menandinginya dari arah berbeda. Lagipula, memenangkan Euro itu kan sudah setara Piala Dunia.

 

Ruang Gubes, saya hampir terlewat shalat Ashar

Pikiran saya ingat pada tokoh Semiotika lainnya. Charles Sanders Peirce. Seorang filsuf yang tak pernah menonton sepakbola, tapi entah kenapa dan tanpa sengaja teorinya sepertinya bisa menjelaskan kenapa perdebatan tentang GOAT ini abadi. Dalam salah satu tulisannya ia menyatakan bahwa setiap tanda memiliki kemampuan untuk menciptakan tanda lain di benak orang yang menafsirkannya. “That sign which it creates I call the interpretant of the first sign,” ucap Peirce. Sebagai mantan pengajar Semiotika, saya sih sepakat. Setiap tanda memang memanggil tanda lain untuk menafsirkannya, dan tanda penafsir itu memanggil tanda penafsir berikutnya, lalu yang berikutnya, dan berikutnya, tanpa henti. Peirce menyebutnya interpretant. Tak pernah berakhir suatu tanda di satu makna final. Ia hanya berhenti sementara, lalu bergerak lagi begitu ada yang bertanya lagi. Berubah lagi ketika ada yang membicarakannya lagi.

Nah, perdebatan tentang GOAT, sang kambing, juga bekerja persis begitu. Seseorang bisa menunjuk jumlah gol Ronaldo, lalu ada yang membalas dengan jumlah gol dan assist Messi. Jikapun ada yang merasa kalah argumen dari sisi statistik, maka ia pindah ke argumen soal kompetisi mana yang lebih berat. Yang kalah di lahan itu, bisa pindah ke argumen soal keindahan permainan, lalu ke argumen soal siapa kualitas lawan yang dihadapi, lalu ke argumen soal siapa yang lebih dicintai rekan setimnya, lalu ke argumen tentang siapa yang jadi anak FIFA, bahkan ke argumen siapa di antara keduanya yang benar-benar mendukung Palestina. Tak ada titik henti yang disepakati semua orang. Setiap kali satu pintu argumen ditutup, pintu lain terbuka di sebelahnya.

Saya pada akhirnya harus berpikir bahwa ini memang dirancang begitu, meski tak ada yang merencanakannya secara sengaja. Pertanyaan tentang GOAT tidak harus disimpulkan jawabannya. Dan memang tak bisa seperti cara kerja tanda menurut Peirce sebelumnya. GOAT adalah tanda yang terus menunggu interpretasi baru. Bahan bakarnya adalah kita dan segenap alasan yang tak perlu dan terus kita ulang dengan redaksi yang dipoles sesuai perlu. Kita tahu persis kalimat mana yang penting untuk dibagikan, argumen mana yang akan memancing emosi lawan, tafsir mana yang harus sengaja dibengkokkan.

Di dunia digital apalagi. Algoritma tak peduli pada kebenaran argumen. Ia hanya peduli pada berapa lama orang berhenti menggulir layar untuk marah. Lalu lahirlah generasi baru penafsir tanda. Generasi yang paham betul bahwa perdebatan GOAT adalah tambang untuk meraih view, like, dan semakin dalam ia digali, semakin banyak pula yang bisa dikeruk. Sial memang, perdebatan omong kosong itu ternyata sudah menjadi lahan rejeki.

Barangkali itu sebabnya orang tak pernah benar-benar ingin perdebatan ini selesai. Sebab begitu selesai, apa yang memberi kebahagiaan dari sepakbola ini pun ikut usai. Saya kira, tak satu pun dari kita yang benar-benar siap membiarkan itu terjadi.

 

Piala Dunia sebagai Teks Terbuka

Metlife, Minggu nanti.

Spanyol dan Argentina sudah memastikan akan bertemu di final Piala Dunia 2026 ini. Saya tak tahu siapa yang akan mengangkat trofi itu Minggu nanti. Saya menulis esei tak jelas ini dua hari sebelum final itu terjadi. Saya kira, pada titik ini pula soal teks terbuka Eco dapat bekerja. Bahwa cerita kita, pembicaraan kita, omong kosong kita memang benar-benar belum selesai. Siapa pun yang membaca esai ini bisa jadi sudah tahu jawabannya duluan daripada saya yang menulisnya sekarang.

Jika Argentina menang, narasinya saya kira akan dibaca sebagai penegasan tak terbantahkan, bahwa Messi adalah GOAT yang mengangkat trofi kedua di usia yang seharusnya sudah tak bisa lagi juara. Kalau kalah, narasinya akan dibaca sebaliknya, bukti bahwa bahkan alien sekalipun pun akhirnya harus menyerah oleh usia. Tapi keduanya, menang atau kalah, sama-sama akan diperdebatkan seolah hasilnya membuktikan sesuatu yang final tentang siapa Messi sebenarnya. Padahal yang sebenarnya terjadi bisa jadi Messi tak peduli. Baginya bisa jadi itu cuma satu pertandingan sepakbola, yang dimainkan tanpa mengubah apapun dari pencapaiannya.

Entah kenapa saya kembali ingat video klip wawancara reporter televisi Argentina, Sofia Martinez, yang mewawancarai Messi setelah kemenangan Argentina di semifinal atas Kroasia, 2022. Ia bilang ke Messi, apa pun hasil finalnya nanti, “you made your mark in everyone’s life,” dan itu katanya lebih berarti dari sekadar mengangkat trofi piala dunia. Suaranya memang lebih dulu bergetar daripada milik Messi sendiri. Saya pikir, ungkapan ini pula yang membedakan gelar “pahlawan” dari gelar juara. Juara bisa ditentukan oleh satu pertandingan, satu adu penalti, satu keputusan wasit yang bisa berbeda seandainya bola menggelinding sedikit lebih miring. Sedang “pahlawan,” seperti di mata reporter itu, sudah selesai ditentukan jauh sebelum peluit final dibunyikan. Final melawan Spanyol di Metlife nanti mungkin akan menambah satu bab lagi ke legenda Messi. Atau justru mengakhirinya dengan kekalahan yang bisa menjadi bumbu baru untuk perdebatan hari nanti.

Barangkali ketika sosok “pahlawan” sudah ditetapkan seperti pada ungkapan reporter itu, opera aperta Eco menemukan batasnya. Teks boleh terus terbuka, penonton boleh merumuskan maknanya sendiri-sendiri, perdebatan terus menemukan alasan yang baru. Tapi ada satu baris yang sudah ditutup lebih dulu oleh sebagian mereka yang mendukung Messi, begitupun Ronaldo, keduanya sudah jadi pahlawan. Menang atau kalah, juara atau pulang kampung ke Solo. Bagi saya, itu juga satu-satunya aspek dari cerita ini yang tak lagi terbuka untuk ditafsirkan ulang.

Begitu peluit final berbunyi nanti, menang atau kalah, chiacchiera ini saya yakin tidak akan berhenti. Ia hanya akan berganti wujud di generasi yang baru. Di generasi Haaland, Mbappe, Yamal, Gordon (Barca kenapa beli pemain ini sih), Beckham Putra. Bisa jadi pula nantinya itu bukan kesia-siaan seperti yang dikhawatirkan Eco. Sebab sepakbola barangkali adalah satu-satunya alasan untuk sebagian kita tetap bergembira di tengah beban hidup yang rumit menjadi rakyat Indonesia.

 

Bandung, 2026