Oleh: Bambang Q. Anees
![Muqaddimah [13]](https://valuesinstitute.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-17-at-09.33.32-1024x543.jpeg)
TEKS #13
HUKUM ALAM YANG TIDAK BISA DITAWAR
Tulisan kali ini agak berat. Tapi harus ditulis. Supaya kita tidak terus-menerus mengigau di siang bolong.
Tulisan ini berasal dari ikhtiar saya belajar membaca teks ketiga belas dalam kitab Muqaddimah Qanūn Asāsī karya Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Pendek. Tapi efeknya tidak sederhana. Hadratusy Syaikh mengutip ucapan manusia cerdas, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallāhu wajhah:
اِنَّ اللهَ لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا بِالْفِرْقَةِ خَيْرًا لاَ مِنَ اْلأَوَّلِيْنَ وَلاَ مِنَ اْلْآخِرِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak pernah memberikan kebaikan kepada siapa pun karena perpecahan, baik kepada orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang belakangan.”
Titik. Tidak pakai koma. Tidak ada catatan kaki untuk pengecualian.
Ini bukan sekadar nasihat moral penyejuk hati menjelang tidur. Bukan. Ini adalah sebuah vonis sejarah. Sebuah hukum besi peradaban yang ditarik oleh sang “Pintu Gerbang Ilmu”. Hadratusy Syaikh sengaja meletakkan kutipan ini di bagian akhir seperti sebuah pukulan pamungkas. Beliau ingin membangunkan umat yang sedang asyik bertengkar.
Filsafat sejarah modern sering kali sibuk mencari alasan rumit mengapa sebuah peradaban runtuh. Ada yang menyalahkan faktor ekonomi, geopolitik, hingga perubahan iklim. Tapi Ali bin Abi Thalib menyederhanakannya menjadi satu kata kunci: perpecahan (al-firqah).
Perhatikan frasanya: Al-Awwalīn (orang-orang terdahulu) sampai Al-Ākhirīn (orang-orang belakangan).
Artinya, rumus ini bersifat mutlak dan abadi. Berlaku universal. Berlaku sejak zaman batu, zaman Firaun, zaman Romawi kuno, zaman kolonial, hingga zaman algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di tahun 2026 ini. Karakteristik kehancuran itu polanya selalu sama. Pola itu tidak pernah berubah, hanya aktor dan teknologinya saja yang berganti pakaian.
Semua bangsa besar, kerajaan raksasa, atau organisasi perkasa yang tercatat runtuh dalam buku sejarah, kalau dilacak ke belakang, penyakitnya bukan karena diserang musuh dari luar. Biasanya, kehancuran itu dimulai dari pembusukan di dalam. Dimulai dari pertengkaran, saling sikut, dan dengki di dalam tubuh mereka sendiri.
Anatomi Pembusukan dari Dalam
Mari kita bedah secara filsafat sejarah. Bagaimana sebuah bangsa yang besar bisa punah?
Sejarah mencatat, kerajaan raksasa seperti Romawi Barat atau Dinasti Abbasiyah di Baghdad tidak betul-betul hancur hanya karena serangan dari luar. Bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan atau suku-suku Jermanik dari utara hanyalah “petugas pemakaman”. Mereka hanya datang untuk mengubur mayat yang sudah membusuk.
Pembusukan itu selalu dimulai dari dalam.
Ketika ego kelompok sudah di atas segalanya, ketika para elitenya sibuk saling sikut, saling dengki, dan membentuk kubu-kubuan, saat itulah peradaban tersebut sebenarnya sudah mati secara klinis. Mereka pecah di dalam ruang ganti sebelum bertanding di lapangan.
Logika ini sama persis dengan sebuah tim sepak bola bertabur bintang. Katakanlah semua pemainnya berlabel dunia, gajinya selangit, skill-nya dewa. Tapi kalau striker enggan mengoper ke gelandang karena dendam pribadi, bek sibuk menyalahkan kiper saat kebobolan, dan sang kapten hobi memaki anggotanya sendiri, tim itu pasti hancur. Mereka tidak akan pernah memenangkan piala. Mereka justru akan dipermalukan oleh tim kecil yang modalnya pas-pasan tapi kompaknya minta ampun.
Kalimat Sayyidina Ali itu menggunakan penegasan yang luar biasa kuat: Inna Allāh lam yu’ti aḥadan bil-firqati khayran. Sesungguhnya Allah tidak pernah—dan tidak akan pernah—memberikan kebaikan kepada siapa pun karena jalur perpecahan (firqah).
Mari kita cari satu saja contoh di dunia ini, dari sektor apa saja.
Adakah satu keluarga di muka bumi ini yang bisa sukses, ekonominya maju, dan anak-anaknya berpendidikan tinggi, jika di dalam rumah itu suami dan istri setiap hari cakar-cakaran, lalu anak-anaknya saling bermusuhan? Tidak ada. Rumah seperti itu akan berubah menjadi neraka jahanam sebelum waktunya.
Adakah sebuah perusahaan multinasional yang bisa melakukan inovasi dan meraup untung besar jika di dalam kantornya para direksi saling menjatuhkan, manajernya hobi menyebar fitnah, dan karyawannya sibuk membentuk kubu-kubuan untuk saling boikot? Tidak ada. Perusahaan itu tinggal menghitung hari menuju meja kebangkrutan.
Maka, bagi Hadratusy Syaikh, mendirikan dan merawat Nahdlatul Ulama itu adalah upaya menjauhkan umat dari kutukan perpecahan ini.
Contoh Kasus: Nokia
Ini contoh paling klasik. Paling telanjang. Tentang bagaimana sebuah raksasa dunia bisa roboh bukan karena dihantam meteor atau diserang musuh dari luar, tapi karena penyakit akut dari dalam: Nokia.
Siapa yang tidak tahu Nokia di awal tahun 2000-an? Mereka adalah rajanya ponsel. Penguasa mutlak. Istilahnya, kalau Anda pegang ponsel saat itu, hampir pasti mereknya Nokia. Uangnya tak berseri. Laboratorium risetnya diisi oleh manusia-manusia paling jenius di bumi.
Tapi, apa yang terjadi kemudian? Hanya dalam hitungan tahun, raksasa itu limbung, tersungkur, dan akhirnya mati secara klinis di pasar smartphone. Tragis.
Banyak analis abal-abal mengatakan Nokia hancur karena telat mengantisipasi lahirnya iPhone di tahun 2007. Itu salah. Keliru besar.
Nokia sejatinya sudah tahu tren masa depan akan bergeser ke layar sentuh. Mereka punya teknologinya. Mereka punya modalnya. Tapi kenapa mereka gagal total? Jawabannya ada di dalam ruang rapat mereka sendiri: perpecahan batin akibat ketakutan dan ego sektoral.
Para sosiolog dan peneliti bisnis kemudian membongkar apa yang sebenarnya terjadi di internal Nokia saat itu. Suasananya mengerikan. Di dalam kantor, yang terjadi bukan kolaborasi, melainkan perang dingin antar-departemen.
Ada faksi sistem operasi Symbian, ada faksi MeeGo, dan ada faksi perangkat keras. Mereka tidak bersatu sebagai satu tim Nokia. Mereka justru saling sikut. Saling menjatuhkan. Saling menyembunyikan informasi penting demi menyelamatkan muka dan anggaran departemen masing-masing.
Budaya organisasinya berubah menjadi culture of fear—budaya ketakutan.
Para manajer menengah tahu betul bahwa sistem operasi yang mereka miliki sudah kalah jauh dibanding iOS atau Android. Tapi mereka tidak berani melaporkan kebenaran itu kepada jajaran direksi. Kenapa? Takut dipecat. Takut dianggap tidak becus. Akhirnya, yang dilaporkan ke atas hanyalah laporan “asal bapak senang”. Semua data dipercantik, padahal di lapangan produk mereka sudah berdarah-darah.
Direksinya hidup di dalam menara gading, disuapi oleh laporan palsu akibat perpecahan batin para bawahannya. Di saat Apple dan Samsung berlari kencang dengan kekompakan tim yang solid, para elite Nokia justru sibuk berpolitik di dalam kantor. Mereka pecah di dalam ruang ganti sebelum bertanding.
Hukum alam tidak pernah bisa dilawan. Ketika sebuah korporasi sudah kehilangan kesatuan visi, ketika ego kelompok lebih tinggi dari tujuan bersama, kejatuhan tinggal menunggu waktu.
Nokia tidak dihancurkan oleh Steve Jobs. Nokia hancur karena bunuh diri dari dalam.
Sejarah lagi-lagi membuktikan ucapan Sayyidina Ali: tidak ada kebaikan—dan tidak akan pernah ada kemajuan—yang lahir dari jalur perpecahan. Sebesar apa pun nama Anda, sekaya apa pun perusahaan Anda.
Nokia sudah memberikan contohnya secara nyata. Tinggal kita sekarang: mau belajar dari sejarah, atau sibuk mengulangi kehancuran yang sama?
Cermin Abadi dan Pilihan Kita
Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari memahami betul filsafat sejarah ini ketika beliau membidani lahirnya Nahdlatul Ulama. Beliau sadar, jika umat Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 terjebak dalam fanatisme kelompok yang buta—saling mengafirkan hanya karena urusan cabang (furu’iyah) yang tidak substansial—maka bangsa ini akan terus menjadi santapan empuk yang mudah dikunyah oleh penjajah.
Kini, pesan dari masa lalu itu mendarat tepat di depan muka kita hari ini. Menjadi cermin besar di tahun 2026.
Hari ini kita melihat perpecahan tidak lagi membutuhkan medan perang fisik. Perpecahan diproduksi massal setiap detik di kolom komentar media sosial. Dendam politik dipelihara, kebencian dirawat, dan ego pribadi diagungkan demi pengikut digital. Kita sedang mengulangi kesalahan Al-Awwalīn dengan teknologi Al-Ākhirīn.
Jalur kemajuan sebuah bangsa sudah dikunci oleh sejarah. Kuncinya bukan dengan memelihara konflik, melainkan dengan menurunkan ego demi maslahat yang lebih besar. Perbedaan pendapat itu legal, bahkan indah. Namun, ketika perbedaan batin sudah berubah menjadi perpecahan fisik (firqah), maka saat itulah keberkahan akan langsung diangkat oleh Allah dari atas kepala kita.
Jika hari ini kita masih memilih jalan perpecahan, bertengkar memperebutkan hal-hal sepele, kita sebenarnya sedang menantang hukum alam yang sudah teruji ribuan tahun. Dan ingat: sejarah tidak pernah salah dalam menghukum mereka yang bebal.
Jadi, pilihannya sangat sederhana. Mau terus bertengkar sampai kita semua habis dan menjadi puing sejarah, atau mau bersatu untuk menang?
Pilihan itu, seperti biasa, ada di tangan Anda sendiri. Kesimpulannya Anda sudah tahu.