Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [10]

Oleh: Bambang Q. Anees

Muqaddimah [10]

Teks #10
Sistem Menaklukkan Raksasa

 

Saya tertegun lama membaca kelanjutan teks kesepuluh dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari ini. Teks ini sebenarnya terusan dari  teks ke-9, tentang apa yang dilakukan Nabi Saw setelah mempersatukan. Yakni penguasaan strategi dan kerjasama.

Pikiran saya teringat pada semangat para pelaku organisasi di abad ke-21. Di sana, orang selalu mendewakan satu hal: Scale. Skala. Kuantitas.

Kalau mau bikin start-up, harus bakar duit dulu demi mengejar jutaan pengguna. Kalau mau menang pemilu, jumlah pasukan siber harus berjubel. Kita, manusia modern ini, sudah menjadi penyembah angka yang akut.

Hadratusy Syaikh, pada teks ke-10 ini, datang membawa sebuah frasa dari masa lalu yang rasanya seperti tamparan keras di pipi kita. Bukan itu. Kuncinya adalah ini :

 فَبِذٰلِكَ كَانَتْ نُصْرَتُهُمْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ مَعَ قِلَّةِ عَدَدِهِمْ، فَدَوَّخُوا الْمَمَالِكَ، وَافْتَتَحُوا الْبِلَادَ، وَمَصَّرُوا الْأَمْصَارَ، وَمَدُّوا ظِلَالَ الْعُمْرَانِ، وَشَيَّدُوا الْمَمَالِكَ، وَسَهَّلُوا الْمَسَالِكَ

Maka dengan penguasaan strategi dan kerja sama itulah, kemenangan mereka atas musuh-musuhnya bisa diraih, sekalipun jumlah mereka sedikit. Maka mereka mampu menundukkan kerajaan-kerajaan, menaklukkan berbagai negeri, membangun kota-kota besar, membentangkan payung peradaban, memperkokoh kekuasaan, serta mempermudah jalan-jalan akses kehidupan.

Kuncinya adalah ittiād berbasis ta‘āluf yang disertai penguasaan strategi dan terus-menerus kerja sama.

Kualitas Menang, Kuantitas Tumbang

Persatuan yang kokoh itu melahirkan buah pertama yang paling manis: nuṣratuhum ʻalā ʻaduwwihim. “Kemenangan atas musuh-musuh mereka”.

Mengapa urusan menang atas musuh ditaruh di nomor satu oleh Hadratusy Syaikh?

Ini taktik penulisan yang jenius. Beliau ingin menunjukkan bahwa kalau sebuah bangsa, militer, atau organisasi sudah solid di dalam, maka ancaman dari luar (external threat) sekuat apa pun pasti bisa ditekuk. Menariknya, ada frasa yang bikin kita merenung: ma‘a qillati ‘adadihim. Meskipun jumlah mereka sedikit.

Teks ini seperti ingin menampar mentalitas modern kita yang sering mendewakan angka. Kita sering berpikir, kalau mau menang, jumlah pasukan harus jutaan. Kalau mau sukses, anggota organisasi harus berjubel.

Hadratusy Syaikh mematahkan logika itu. Modal utama kemenangan itu bukan kuantitas. Bukan soal berapa banyak jumlah kepala. Melainkan soal kualitas manajemen dan tingkat soliditas batin.

Sejarah dunia mencatat empat kemenangan beruntun yang diraih oleh persatuan kaum mukmin generasi awal.

Pertama: fa dawwakhū al-mamālik, wa iftataḥū al-bilād. “Menundukkan kerajaan dan membebaskan negeri”. Dua imperium raksasa dunia saat itu—Romawi di barat dan Persia di timur—runtuh. Padahal secara logika militer, dua raksasa itu tidak mungkin kalah oleh pasukan dari gurun pasir yang miskin fasilitas. Tapi mereka tumbang!

Kedua: wa maṣṣarū al-amṣār. “Membangun kota-kota besar”. Umat Islam awal itu ternyata bukan cuma jago bertempur di medan perang. Begitu perang selesai, mereka menjelma menjadi arsitek tata kota yang piawai. Lahirlah kota-kota urban baru yang teratur seperti Kufah, Basrah, dan Fustat.

Ketiga: wa maddū ẓilāla al-ʻumrān. “Membentangkan payung peradaban”. ʻUmrān itu artinya pembangunan fisik yang dibarengi kemakmuran sosial. Membuat hidup manusia menjadi lebih manusiawi, lebih aman, dan lebih sejahtera di bawah naungan sistem yang adil.

Keempat: wa sahhalū al-masālik. “Mempermudah jalan-jalan dan akses kehidupan”. Ini urusan konkret. Rute perdagangan yang tadinya rawan perampok dibikin aman. Birokrasi yang berbelit disederhanakan. Urusan hidup orang banyak dipermudah.

Bukan Penjajah, tapi Arsitek Peradaban Fisik

Ada satu kesalahpahaman besar dalam sejarah modern yang hari ini berhasil dibongkar oleh teks kesepuluh.

Banyak sejarawan Barat sekuler menggambarkan ekspansi Islam awal sebagai gerakan penaklukan militer semata. Geregetan saya kalau membaca analisis dangkal seperti itu.

Hadratusy Syaikh memotong narasi miring itu dengan sangat elegan melalui tiga frasa kunci: wa maṣṣarū al-amṣār (membangun kota besar), wa maddū ẓilāla al-ʻumrān (membentangkan payung peradaban), dan wa sahhalū al-masālik (mempermudah jalan-jalan akses kehidupan).

Peradaban Islam itu memberikan rahmat bagi semuanya. Saat Islam berkembang di suatu tempat:  kota berkembang, peradaban jadi maju, dan akses terbuka ke pelbagai arah. Islam membuka jalan dan peluang. Bukan menutupnya.

Yang terjadi adalah apa yang dalam sosiologi modern disebut ʻUmrān—pembangunan fisik yang berjalan beriringan dengan kemakmuran sosial. “Mereka datang untuk membuat hidup manusia menjadi lebih manusiawi, lebih aman, dan lebih sejahtera di bawah naungan sistem yang adil”.

Mereka mempraktikkan sahhalū al-masālik. Urusan konkret rakyat dipermudah. Rute perdagangan yang tadinya dikuasai bandit dan rawan perampokan dibikin aman total. Birokrasi yang dulunya berbelit-belit di bawah kaki tangan kaisar Romawi disederhanakan menjadi sangat transparan.

Inilah esensi sejati dari peradaban: ketika kehadiran sebuah organisasi mampu mempermudah hajat hidup orang banyak di atas tanah yang mereka pijak. Ini juga yang diam-diam diharapkan Hadratusy syaikh dari organisasi yang sedang dibangunnya.

Artinya apa?

Beragama dan berorganisasi itu goals-nya harus membumi. Harus terasa manfaatnya di atas tanah yang kita pijak. Harus menciptakan kemakmuran sosial, membantu fasilitas umum, dan mempermudah urusan hidup orang banyak.

Dari 1926 ke 2026: Membuang Mentalitas Minder

Sebenarnya, untuk apa Hadratusy Syaikh menuliskan kilas balik sejarah kejayaan masa lalu ini? Apakah beliau cuma ingin kita bernostalgia? Mengajak kita bangga pada masa lalu sambil duduk manis tanpa berbuat apa-apa?

Bukan. Sama sekali bukan. Itu gaya bernostalgia yang keliru.

Beliau sedang melakukan terapi psikologi massa. Beliau ingin menghancurkan penyakit inferiority complex: mentalitas minder yang akut yang saat itu menjangkiti kaum pribumi di bawah penjajahan Belanda. Beliau ingin menegaskan bahwa keterbatasan modal, minimnya fasilitas, atau sedikitnya personel itu sama sekali bukan alasan sah untuk kalah.

Mari kita tarik sejarah ini ke tahun 1926, saat Nahdlatul Ulama pertama kali didirikan di Surabaya. Saat itu, jumlah anggotanya masih bisa dihitung dengan jari. Modalnya cekak. Tantangannya raksasa: berhadapan dengan moncong senjata dan kelicikan politik etis Belanda.

Hadratusy Syaikh menuliskan kalimat pembakar semangat ini justru untuk para pengurus di tingkat bawah. Di ranting-ranting. Di desa-desa terpencil. Pesan beliau jelas: “Jangan minder melihat jumlahmu yang sedikit. Ingatlah kakek moyangmu di Madinah. Dengan modal kompak dan manajemen yang rapi, mereka mengguncang dunia.”

Tantangan Kita Hari Ini

Kini, waktu sudah berjalan jauh hingga tahun 2026 ini. Tepat satu abad sejak organisasi ini berdiri. Tantangan kita hari ini tentu sudah berubah total. Kita tidak lagi menghadapi musuh berbaju militer atau membawa meriam.

Musuh kita hari ini adalah kebodohan, kemiskinan ekstrem, ketimpangan ekonomi, dan potensi disintegrasi bangsa akibat ego kelompok yang telanjur mengeras.

Maka, resep kuno dari Madinah itu harus kita ambil kembali dari dalam laci sejarah. Kita tata kembali organisasi kita dengan manajemen modern yang rapi. Kita terjemahkan sahhalū al-masālik di era digital ini:

Pertama, mempermudah akses pendidikan berkualitas lewat jalur pesantren dan sekolah.

Kedua, mempermudah akses ekonomi umat lewat penguatan badan usaha yang riil.

Ketiga, mengikis birokrasi sosial melalui aksi santunan yang cepat dan tepat sasaran.

Biar berkah dari persatuan ini tidak menguap menjadi sekadar bahan pidato di podium-podium. Biar ia menjelma menjadi payung kedamaian yang konkret, yang membentang luas di seluruh bumi Nusantara.

Kalau mereka di zaman gurun pasir dulu bisa melakukannya, kenapa kita di era modern ini harus ragu?

Kalau masih juga ragu: keterlaluan!