Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [9]

Oleh: Bambang Q. Anees

Muqaddimah [9]

Teks #9

Cetak Biru dari Madinah

Lagi-lagi saya terkejut membaca teks kesembilan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari ini.

Teks ke-9 menyajikan bukti sejarah tentang pentingnya organisasi yang berbasis ta’āluf, ikatan antar hati. Tidak nanggung-nanggung, sejarah yang disodorkan adalah Nabi Muhammad saw saat di Madinah.

وَقَدْ أَخَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ حَتَّى كَأَنَّهُمْ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ جَسَدٌ وَاحِدٌ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah mempersaudarakan para sahabatnya, hingga dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menjalin hubungan, mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan dengan demam dan tidak bisa tidur.

Pikiran saya langsung melompat ke zaman modern. Ke meja-meja rapat para CEO, menteri, atau kepala daerah yang baru dilantik. Biasanya, apa proyek pertama mereka saat menduduki kota baru? Bikin infrastruktur. Bikin jalan. Bikin gedung megah. Atau, kalau mereka menggunakan manajemen modern saat ini, mereka akan sibuk bikin birokrasi baru. Bagi-bagi bantuan sosial (Bansos). Membentuk dinas-dinas khusus.

Nabi Muhammad SAW tidak melakukan itu semua!

Begitu menginjakkan kaki di Madinah, proyek pertamanya bukan semen dan batu. Bukan benteng pertahanan. Bukan pula pasar. Langkah pertamanya adalah sesuatu yang tidak ada di buku menu manajemen Barat: Akhkha (Ta’khiyyah). Mempersaudarakan.

Inilah teks yang memberikan bukti kenabian (prophetic evidence) atas ke-8 teks sebelumnya.

Di teks sebelumnya, beliau menyodorkan bukti-bukti makro. Bukti universal. Bahwa persatuan itu bisa memakmurkan negeri, memajukan tanah air, dan membangun jalan-jalan. Sifatnya umum. Siapa saja yang bersatu, mau Muslim atau bukan, pasti akan mendapatkan kemajuan fisik itu. Sudah hukum alam.

Tapi di teks kesembilan ini, beliau membawa kita pada dokumen sejarah yang paling autentik. Sejarah peradaban Islam. Beliau ingin menegaskan: keberhasilan luar biasa dari peradaban yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah, itu fondasi utamanya bukan militer yang hebat. Bukan pula strategi ekonomi yang canggih.

Jeniusnya “Social Capital” ala Nabi

Langkah pertama yang dilakukan Nabi Saw adalah Akhkha (Ta’khiyyah). Mempersaudarakan. Ini bukan sekadar berteman biasa. Bukan sekadar bikin klub hobi. Ini adalah sebuah ikatan batin yang sangat erat, yang sengaja didesain oleh Nabi SAW.

Bayangkan benturannya. Ada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah. Mereka ini, meminjam istilah sekarang, adalah “pengungsi politik”. Mereka miskin mendadak demi mempertahankan keyakinan. Datang sebatang kara, tanpa aset, tanpa modal kerja.

Di seberang meja, ada kaum Ansar. Penduduk asli Madinah. Pemilik tanah, pemilik bisnis, tuan rumah yang mapan. Dua kelompok ini punya latar belakang suku yang beda. Tradisi beda. Budaya ekonomi juga jauh panggang dari api. Ruang gesekan sosialnya sangat lebar. Potensi konflik horizontalnya luar biasa tinggi.

Nabi menukik langsung ke akar masalah manusia: ego dan identitas.

Nabi tidak membuat regulasi yang berbelit-belit. Beliau mempertemukan mereka satu per satu. Head to head. Person to person. Orang Muhajirin dipasangkan dengan orang Ansar. Lalu diumumkan: “Kalian sekarang adalah saudara kandung.”

Dalam teori kontemporer, ini disebut Bridging Social Capital—menjembatani dua kelompok yang berbeda total menjadi satu jaringan yang solid.

Hasilnya?

Efeknya instan dan masif. Tanpa paksaan hukum, orang Ansar merobek ego kepemilikannya. Mereka membagi dua rumahnya, membagi dua tanahnya, bahkan membagi dua modal usahanya untuk saudara barunya.

Inilah proses ittiḥād melalui jalur pemersaudaraan yang radikal. Efeknya luar biasa. Sejarah mencatat, orang Ansar dengan sukarela membagi dua rumahnya, membagi dua tanahnya, bahkan membagi dua modal usahanya untuk saudara barunya dari Makkah. Tanpa paksaan. Tanpa regulasi yang berbelit-belit.

Semua itu lahir karena batin mereka sudah disatukan.

Itulah proyek pertama di kota baru. Fondasi batin disuntikkan terlebih dahulu, sebelum fisik kota dibangun.

Organisasi itu Organisme!

Pemersaudaraan yang dilakukan Nabi Saw itu bukan jargon. Bukan sekadar penandatanganan memorandum of understanding (MoU) di atas kertas perjanjian yang setelah itu masuk laci. Nabi Saw mewujudkannya dalam tiga tindakan konkret: tawādud (saling mencintai), tarāum (saling menyayangi), dan tawāshul (saling menyambung hubungan).

Pertama, tawādud. Saling mencintai. Asal katanya dari Al-Wudd. Ini bukan cinta monyet yang cuma ada di angan-angan. Ini adalah cinta tulus yang mewujud dalam tindakan sehari-hari. Bentuknya sederhana: rajin tersenyum saat berpapasan, atau suka memberi hadiah tanpa alasan.

Kedua, tarāum. Saling menyayangi dan mengasihi. Ini sifat peduli yang muncul dari rasa iba yang paling dalam di dalam dada. Ketulusan hati untuk langsung bergerak membantu sesama ketika melihat mereka sedang kesusahan. Tidak pakai mikir dua kali.

Ketiga, tawāshul. Saling menyambung hubungan. Menjaga silaturahmi agar tidak putus. Tidak ada cerita di Madinah saat itu sesama Muslim saling boikot, saling mendiamkan (tadābur), atau bersikap cuek bebek. Komunikasi dijaga tetap cair setiap hari.

Tiga kombinasi inilah—mencintai, menyayangi, menyambung hubungan—yang mereduksi segala perbedaan ego.

Walhasil, manusia yang tadinya berpencaran, berbeda suku, berbeda strata sosial, mendadak melebur menjadi satu entitas baru: Jasadun Wāid. Satu tubuh.

Di sini Hadratusy Syaikh meminjam hadis populer riwayat Bukhari dan Muslim untuk menggambarkan betapa indahnya konsep satu tubuh ini.

Saya tertarik dengan ulasan Gareth Morgan dalam bukunya yang monumental, Images of Organization (1986). Organisasi itu tak selamanya hanya organon (alat) seperti yang dibayangkan Taylor dan Fayol. Mesin birokratis yang kaku dan mekanis. Organisasi adalah organisme, ka-l-jasad al-id. Sistem hidup yang bernapas, tumbuh, beradaptasi, dan berinteraksi secara konstan dengan lingkungannya agar bisa bertahan hidup (survive).

Metafora organisme ini, menurut Morgan, meminjam konsep-konsep sosiologi lingkungan dan biologi untuk menjelaskan perilaku organisasi.

Sama seperti makhluk hidup yang butuh makan, minum, dan oksigen, organisasi juga memiliki “kebutuhan dasar” yang harus dipenuhi untuk tetap hidup. Morgan mengaitkan hal ini dengan teori motivasi (seperti hierarki kebutuhan Maslow).

Organisasi yang sehat tidak hanya fokus pada tujuan teknis, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, dan aktualisasi anggotanya agar seluruh sistem berjalan optimal. Inilah yang dilakukan Nabi Saw saat di Madinah, meretas jarak yang saling mengasingkan antara pendatang dan pribumi dengan mempersaudarakan. Yang berbeda-beda dipersatukan menjadi satu tubuh. Satu organisme.

Seperti organisme memiliki kemampuan menjaga keseimbangan tubuh (misalnya, berkeringat saat panas agar suhu tubuh turun). Organisasi juga melakukan homeostasis. Jika ada perubahan regulasi, penurunan pasar, atau krisis teknologi, organisasi akan melakukan penyesuaian internal (restrukturisasi, inovasi produk) untuk mengembalikan keseimbangan operasionalnya.

Jika organisasi mekanis cenderung menutup diri dan fokus pada internal. Organisasi sebagai organisme adalah sistem terbuka. Ada input, proses atau transformasi, dan output.  Inputnya  organisasi menerima energi, informasi, modal, dan bahan baku dari lingkungan luar. Lalu organisasi melakukan transformasi, memproses input tersebut secara internal. Hasil atau  outputnya mengembalikan hasil proses ke lingkungan (berupa produk, jasa, atau dampak sosial).

Ini soal jasadun wāid. Satu tubuh. “Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

Teori Identity Fusion dalam Praktik Nyata

Suatu hari, Anda sedang berjalan santai. Tiba-tiba, jempol kaki Anda tidak sengaja tersandung batu yang keras. Pertanyaannya: apakah hanya jempol kaki itu saja yang menderita dan merasakan sakit?

Tentu tidak. Begitu jempol kaki membentur batu, mata Anda akan refleks terpejam dan menangis. Mulut Anda spontan berteriak kesakitan. Tangan Anda langsung bergerak cepat memegangi jempol kaki yang terluka. Dan puncaknya, malam harinya Anda mungkin tidak bisa tidur nyenyak. Seluruh badan Anda mendadak menggigil. Meriang karena demam.

Padahal yang kena batu cuma jempol kaki. Kenapa seluruh badan ikut meriang?

Sebab mereka berada di dalam satu sistem biologis yang sama. Mereka saling terhubung. Mereka satu tubuh.

Dalam psikologi sosial kontemporer, fenomena ini disebut Identity Fusion (Peleburan Identitas). Sebuah kondisi ketika batas-batas ego individu telah melebur ke dalam identitas kelompok. Ketika identitas sudah menyatu seperti ini, kesejahteraan orang lain dipandang sama pentingnya dengan kesejahteraan diri sendiri.

Di Madinah, komunikasi dijaga tetap cair setiap hari (tawāshul). Tidak ada cerita sesama Muslim saling boikot atau bersikap “cuek bebek”. Kalau Anda ingat, saat di Madinahlah muncul hadits mengenai pahala besar bagi yang pertama kali mengucapkan salam.

Ini adalah teguran keras bagi kehidupan kita di era modern ini. Hubungan antar-sesama manusia, atau sesama anggota organisasi, idealnya tidak boleh egois. Tidak boleh menganut paham individualisme yang buta. Jika ada satu orang di dalam komunitas Anda yang sedang kesusahan, sedang sakit, sedang terluka, atau tertimpa musibah, maka anggota yang lain tidak boleh diam saja. Anda harus ikut peduli. Ikut merasa sedih. Dan yang paling penting: bergerak konkret untuk membantunya.

Kita ini satu kesatuan. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita. Dan kesedihan mereka harus menjadi kesedihan kita juga.

Jangan sampai terjadi: ada bagian organisasi yang sedang sekarat karena beban kerja yang over, sementara bagian lain asyik bertepuk tangan dan merasa itu bukan urusannya. Itu namanya tubuh yang sedang lumpuh.

Ini tamparan keras bagi organisasi modern kita hari ini. Kita sering melihat ada divisi atau bagian dalam satu kantor yang sedang sekarat karena beban kerja yang overload, sementara divisi lain asyik bertepuk tangan, pulang tenggo, dan merasa itu bukan urusan mereka.

Itu bukan satu tubuh. Itu namanya tubuh yang sedang lumpuh sebelah!

Nabi berhasil mendidik para sahabat sampai pada level psikologis tertinggi: jika Anda susah, saya ikut susah. Kebahagiaan Anda adalah kebahagiaan saya.

Daya Ledak “Proyek Baru” di Panggung Dunia

Lalu, apa hasil akhir dari proyek pemersaudaraan raksasa yang berbasis satu tubuh ini? Daya ledak apa lagi yang kemudian lahir di panggung sejarah dunia?

Jika kita menggunakan analisis Francis Fukuyama dalam bukunya Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, keberhasilan ekonomi dan politik sebuah negara sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakatnya (high-trust society).

Madinah, lewat tangan dingin Nabi Muhammad SAW, mendadak menjelma menjadi High-Trust Society paling ekstrem dalam sejarah umat manusia.

Implikasinya: biaya transaksi nol persen!

Ketika tingkat kepercayaan antar-warga sudah berada di level Jasadun Wāid, maka transaction cost (biaya transaksi) dalam ekonomi menjadi sangat murah. Bahkan bisa dibilang nol.

  • Tidak perlu kontrak hukum yang tebal dan rumit untuk memulai bisnis antara Muhajirin dan Ansar.
  • Tidak perlu biaya pengawasan yang mahal untuk mencegah penipuan.
  • Tidak ada waktu yang terbuang untuk mencurigai motif satu sama lain.

Kombinasi antara kompetensi dagang kaum Muhajirin (yang aslinya memang pedagang ulung dari Makkah) dan modal serta lahan dari kaum Ansar langsung memicu ledakan ekonomi di Madinah. Pasar Madinah yang baru dibangun mampu menandingi dan akhirnya menumbangkan dominasi pasar Yahudi yang selama bertahun-tahun memonopoli kota tersebut.

Secara politik dan militer, stabilitasnya menjadi tidak tergoyahkan. Bagaimana mungkin musuh bisa menembus sebuah kota yang masyarakatnya saling merasakan demam jika salah satu warganya disakiti? Setiap spionase patah. Setiap upaya adu domba dari luar mental dengan sendirinya.

Persatuan (Ittiḥād)  bukan lagi sekadar konsep moral yang muluk-muluk di Madinah. Ia telah berubah menjadi mesin penggerak peradaban yang paling efisien, paling tangguh, dan paling dinamis.

Itulah yang dimaksudkan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari pada teks ini. Kemajuan fisik, jalan-jalan yang bagus, makmurnya negeri, itu hanyalah akibat logis. Hukum alam. Siapa saja yang bersatu pasti akan mendapatkannya.

Pasti Anda ingin mencapai kejayaan yang sama untuk organisasi Anda. Boleh saja. Bahkan harus. Tapi fondasi utamanya  harus diselesaikan  dulu. Apa itu? Selesainya ego individu demi melahirkan satu tubuh yang utuh. Jika masih rebut soal siapa yang paling berhak memegang palu siding, mana bisa disebut satu tubuh.

Jika masih harus teriak-teriak agar idenya dianggap penting, mana mungkin disebut satu tubuh dalam cinta. Satu tubuh itu dibangun oleh  tawādud (saling mencintai), tarāum (saling menyayangi), dan tawāshul (saling menyambung hubungan). Teriak-teriak menunjukkan Anda tidak percaya bahwa yang diajak bicara itu punya telinga. Anda sedang tidak terhubung karena Anda tidak dicintai dan mencintai lawan bicara.

Saya ingat dengan pertanyaan sederhana, “Kenapa pasangan yang bertengkar harus berteriak padahal jarak antar mereka sangat dekat?” Jawabannya: “hati mereka tidak tersambung. Cinta mereka sedang luntur”.

Ketika mereka terhubung, dan cintanya meluap. Pasangan itu saling mengerti harus melakukan apa yang mereka senangi bahkan tanpa sepatah kata pun. Bahkan hanya dengan melihat kedipan mata.

Ah, tulisan ini jadi melantur.

Inti teks ini sederhana: ittiḥād yang didasarkan ta’āluf itu pernah dilakukan dan terbukti. Pelakunya adalah Nabi Saw. Jika Anda masih ngeyel, terserah. Itu urusanmu!