Oleh: Bambang Q. Anees

REPUBLIK ini punya Preambul: Pembukaan UUD 1945. Sakral sekali. Pasal-pasalnya boleh diamandemen dan sudah berkali-kali diubah. Tapi jangan coba-coba menyentuh Preambul-nya.
Kenapa?
Sebab Preambul adalah nyawa. Tanpa itu, UUD 1945 tak ubahnya seonggok zombie. Berjalan tanpa ruh.
Nahdlatul Ulama (NU) juga punya yang seperti itu. Namanya: Muqaddimah Qānūn Asāsī. Sama sakralnya. Sama-sama menjadi nyawa yang menentukan hidup-mati dan arah pertumbuhan organisasi.
Konon, teks legendaris ini dibacakan langsung oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari pada tahun 1926. Tepat saat keran organisasi NU pertama kali dibuka.
Luar biasa memukau. Begitu teks itu didengar, para ulama dari berbagai penjuru langsung kepincut. Mereka berbondong-bondong merapatkan barisan, menyatukan hati ke dalam NU.
NU KTP, NU Pragmatis
Tapi itu dulu. Hampir seabad yang lalu.
Sekarang? Keadaannya sudah jauh berubah. Muqaddimah itu kian sayup-sayup terdengar. Makin tidak dikenal.
Hari ini, orang menjadi NU bukan lagi karena terpesona oleh isi Muqaddimah-nya. Macam-macam alasannya. Ada yang ikut-ikutan karena kiai panutannya NU. Ada yang karena faktor genealogis—bapak-ibunya, kakek-neneknya, buyutnya adalah orang NU.
Bahkan, ada juga yang masuk NU karena mencium aroma keuntungan pragmatis. Demi posisi. Demi panggung. Demi jaringan ekonomi dan politik.
Muncullah fenomena baru: NU KTP. Atau NU Pragmatis.
Akibatnya bisa ditebak. NU memang terus membesar. Secara kuantitas luar biasa raksasa. Tapi pertumbuhannya melenceng dari spirit awal sang pendiri. Rumahnya makin megah, tapi penghuninya lupa di mana fondasinya ditanam.
Jangan Berdaun Sirih
Mari kita bayangkan Muqaddimah itu sebagai benih.
Hukum alamnya sederhana. Kalau benih yang ditanam adalah mangga, maka yang tumbuh haruslah pohon mangga. Buahnya pun pasti mangga.
Tidak mungkin dari benih mangga tiba-tiba berbuah durian. Apalagi sampai berdaun sirih—seperti lirik lagu lawas Broery Marantika: …jangankan untuk bertemu, memandang pun tak boleh… Eh, bukan, itu lagu yang lain. Maksudnya, …tak mungkin tebu berdaun sirih…
Idealnya, setiap orang yang masuk NU bertugas menyirami benih awal tersebut. Agar pohon NU tumbuh rindang dan berbuah lebat sesuai dengan cetak biru (blueprint) aslinya.
Masalahnya, saat ini banyak orang masuk NU tanpa peduli apa benih awalnya. Mereka bawa pupuk sendiri, bawa air sendiri, lalu menyiramnya secara serampangan. Hasilnya? Pohon NU itu memang membesar, tinggi menjulang, tapi bentuk dan buahnya sudah tidak karuan lagi. Sudah tidak mirip benih aslinya.
Rangkaian Mutiara Hadratusy Syaikh
Karena itu, mari kita tengok lagi. Mari kita kenali kembali Muqaddimah Qānūn Asāsī itu.
Tentu, saya tahu diri. Saya sama sekali tidak punya kapasitas untuk menafsirkan gagasan-gagasan langit di balik teks besar tersebut. Tulisan ini hanyalah sebuah pembacaan awal. Sekadar ecek-ecek dari seorang hamba amatir.
Syukur-syukur, tulisan pendek ini bisa memicu Anda semua—para pembaca yang jauh lebih pintar—untuk meneruskannya. Menjadikannya sebuah wacana yang lebih canggih, lebih ilmiah, dan lebih membumi.
Teks Muqaddimah itu dibuka dengan untaian Taḥmīd yang indahnya bukan main. Hadratusy Syaikh mengutip beberapa ayat al-Qur’an dan Hadis, lalu merangkainya dengan begitu rapi. Seperti jemari terampil yang sedang merangkai kalung mutiara.
Lalu, masuklah pada bagian inti. Tepat setelah kalimat Ammā Ba’du, Hadratusy Syaikh langsung menghentak dengan sebuah pernyataan yang sangat bertenaga:
فَإِنَّ اْلاِجْتِمَاعَ وَالتَّعَارُفَ وَاْلاِتِّحَادَ وَالتَّآلُفَ هُوَ اْلاَمْرُالَّذِيْ لَا يَجْهَلُ اَحَدٌ مَنْفَعَتَهُ
“Inna al-Ijtimā‘, al-Ta‘āruf, wal Ittihāda, wat Ta’ālufa, huwa al-amru alladzī lā yajhalu aḥadun manfa‘atahu…”
Artinya dahsyat: Sesungguhnya berkumpul (berorganisasi), saling mengenal, bersatu, dan saling berkasih-sayang, adalah hal yang tidak ada satu orang pun yang tidak tahu apa manfaatnya.
Itulah magnet pertamanya. Sebuah seruan untuk bersatu di tengah carut-marutnya dunia. Sederhana kalimatnya, tapi menghunjam dalam ke hulu hati.
Apakah kita masih ingat ruh itu? Ataukah kita sudah terlalu sibuk bertengkar di dalam rumah yang dibangun oleh benih yang mulai kita lupakan itu?
Teks #1:
Berorganisasi itu Bukan Sekadar “Ngumpul”
Teks pertama berbunyi: “Inna al-Ijtimā‘, al-Ta‘āruf, wal Ittihada, wat Ta’ālufa, huwa al-amru alladhī la yajhalu aḥadun manfa’atahu…”
Artinya dahsyat: Sesungguhnya berkumpul (berorganisasi), saling mengenal, bersatu, dan saling berkasih-sayang, adalah hal yang tidak ada satu orang pun yang tidak tahu apa manfaatnya. Sama sekali tidak bisa dibantah.
Kalau dirumuskan dalam persamaan matematika, bunyinya sederhana: A + B + C + D = Pasti Bermanfaat.
A itu Ijtimā‘. B itu Ta‘āruf. C itu Ittihād. Dan D itu Ta’āluf.
Mari kita bedah satu per satu. Sambil santai.
A – Ijtimā‘: Wadah Kosong yang Penting
Ijtimā‘ itu artinya berkumpul. Mengumpulkan yang tadinya tercerai-berai. Momen ketika hal-hal yang tadinya terpencar, tiba-tiba berada di satu tempat yang sama. Pada waktu yang sama.
Ini langkah paling dasar. Sangat awal. Belum ada ikatan batin di sana. Belum ada kesepakatan apa-apa. Bahkan, mungkin belum saling kenal. Contoh paling gampangnya: Anda naik bus. Atau sedang antre di ruang tunggu rumah sakit. Anda dan orang-orang di sana sedang melakukan Ijtimā‘. Fisik berkumpul di satu ruang, meski aslinya saling asing. Tidak ada hubungan apa-apa. Maka, Ijtimā‘ ini sebenarnya baru berupa “wadah kosong”.
Tetapi, jangan sepelekan wadah kosong ini. Pentingnya luar biasa. Tanpa ada titik temu, tidak akan pernah ada interaksi. Bagaimana bisa saling kenal kalau tidak pernah ketemu? Tidak mungkin. Jadi, Ijtimā‘ adalah pintu masuknya. Syarat paling awal agar yang tercerai-berai bisa saling bersentuhan.
Singkatnya: sebelum jadi teman, sebelum jadi rekan kerja, atau jadi keluarga, Anda harus “ketemu” dulu. Nah, “ketemu” itulah Ijtimā‘.
B – Ta‘āruf: Pembunuh Prasangka
Kalau Ijtimā‘ itu titik temu, maka Ta‘āruf adalah titik kenal. The Recognition.
Bayangkan! Ijtimā‘ baru membuat kita tahu ada orang di sebelah kita. Ta‘āruf-lah yang membuat kita menoleh. Benar-benar melihat siapa dia. Ijtimā‘ baru memperlihatkan wujud fisik. Ta‘āruf membuka esensinya. Apa yang ada di dalam dirinya. Dari situ kita mulai paham: bagaimana pola pikirnya, apa kesukaannya, apa keresahannya, dan apa yang sedang dia perjuangkan.
Inilah bagian yang paling krusial: Ta‘āruf adalah pembunuh prasangka. Saat tidak kenal, kita ini paling jago memberi label. “Ah, dia orangnya sombong”, atau, “dia cuek sekali”. Begitu Ta‘āruf, label-label itu hancur berantakan. Ternyata dia bukan sombong, cuma pemalu. Dia bukan cuek, tapi pikirannya lagi penuh. Di dalam bus tadi, sebelum Ta‘āruf, orang-orang hanya dianggap “massa”. Sekadar penumpang lain. Setelah Ta‘āruf, mereka berubah menjadi “subjek”. Menjadi manusia yang punya nama, cerita hidup, dan impian.
Ta‘āruf itu seperti membuka segel. Tanpa Ta‘āruf, kita akan terus terisolasi seperti pulau kecil. Kita tidak tahu kelebihan rekan kita, tidak tahu kelemahan mereka. Lalu, bagaimana bisa saling bantu? Menolong saja tidak bisa, wong tidak tahu kalau temannya lagi kesulitan. Kalau berkumpul tanpa saling kenal, komunikasi pasti dangkal. Isinya cuma urusan administratif, bukan visi. Lalu mulailah tebak-tebakan niat orang: “Dia diam saja, pasti malas”, padahal dia cuma bingung cara memulai; “Dia banyak tanya, pasti cari muka”, padahal dia ingin memastikan tugasnya benar. Prasangka pun tumbuh subur. Mengisi celah yang kosong.
Organisasi yang sehat butuh Ta‘āruf. Bukan sekadar kumpul-kumpul rapat. Sulit mempercayai orang yang tidak kita kenal. Akibatnya, kerja sama jadi kaku. Semua orang pasang badan. Takut salah, takut dikritik. Kantor berubah jadi tempat yang dingin dan penuh kecurigaan. Anda mungkin merasa sudah bekerja keras karena ada rapat rutin, ada absensi, ada laporan. Tapi tanpa Ta‘āruf, orang-orang di ruangan itu cuma jadi pajangan.
Fisik duduk bersama, jiwa terbang entah ke mana. Rapat begitu tidak akan menghasilkan energi. Kalau begini keadaannya namanya “kerumunan”, bukan “organisasi”.
C – Ittihād: Banyak Kepala, Satu Tujuan
Sekarang yang C: Ittihād, “Penyatuan Visi”. The Alignment.
Ini proses meleburnya yang banyak menjadi satu. Kalau Ta‘āruf tadi mengenali keunikan, Ittihād adalah kesepakatan untuk membawa keunikan itu ke satu tujuan yang sama. Di tahap ini, ego individu harus tunduk. Harus mau diatur oleh satu kata yang sama (kalimatun wāḥidah).
Ittihād adalah titik sepakat.
Ibarat sebuah orkestra. Ada biola, drum, seruling, piano. Mereka berkumpul (Ijtimā‘). Mereka tahu fungsi masing-masing (Ta‘āruf). Tapi, kalau masing-masing pemain musik egois memainkan lagu kesukaan sendiri-sendiri, apa yang terjadi? Bising. Rusak.
Ittihād adalah momen ketika mereka sepakat main satu lagu yang sama. Irama sama. Di bawah satu konduktor yang sama. Hasilnya? Indah.
Di dalam Ittihād, ego kita tidak mati. Kita hanya “menitipkannya” di bawah payung tujuan bersama. Kita berhenti bertanya: “Apa maunya saya?” Kita mulai bertanya: “Apa yang dibutuhkan tim agar tujuan besar ini tercapai?” Ada kompas yang sama.
Ittihād ini bukan cuma janji di atas kertas. Harus selaras antara niat dan aksi. Kalau sudah Ittihād, semua orang bergerak ke arah yang sama. Tidak saling tabrak. Tidak buang-buang bensin untuk hal tidak penting. Banyak kepala, satu tujuan. Banyak tangan, satu gerakan.
Tapi ingat, Ta‘āruf tidak otomatis melahirkan Ittihād. Kadang, karena sudah terlalu kenal dan akrab, yang muncul justru rasa “tidak enak hati” yang berlebihan. Mau bersikap tegas, sungkan. Mau ambil keputusan berat, ragu-ragu. Takut kalau bersikap tegas nanti merusak keakraban. Akhirnya? Organisasi jadi lembek. Setuju untuk tidak setuju. Tidak ada keputusan berani yang diambil. Kalau sudah berkumpul (Ijtimā‘) dan saling kenal (Ta‘āruf), tapi tidak punya kesatuan arah (Ittihād), organisasi itu sedang mengalami disintegrasi tujuan dan orientasi.
Punya kumpulan orang yang akrab, tapi tidak bisa bergerak ke mana-mana. Ini “jebakan Batman” yang paling sering terjadi. Kumpulnya semangat, akrabnya luar biasa, tapi tidak ada aksi nyata bersama. Organisasi pun berubah fungsi: menjadi tempat nongkrong atau klub curhat. Sangat nyaman, memang. Sangat akrab, kekeluargaan. Tapi produktivitasnya? Nol. Rapatnya diskusi terus. Saling memahami keresahan. Tahu siapa yang pintar dan siapa yang tidak. Tapi karena tidak ada Ittihād, diskusi itu cuma berhenti sebagai dialog intelektual di menara gading. Ide brilian menumpuk di meja, tidak ada yang mengeksekusi.
Lama-lama, muncul sub-kelompok. Karena sudah saling kenal, orang hanya mau berkelompok dengan yang paling cocok saja. Terjadilah fragmentasi. Organisasi terkotak-kotak. Isinya jadi geng-geng kecil. Akrab di dalam gengnya masing-masing, tapi lepas dari tujuan besar organisasi.
Bahaya terbesarnya adalah: Illusion of Progress. Ilusi kemajuan. Anda merasa organisasi sehat karena tidak ada konflik. Semua orang ramah, senyum, komunikasi lancar. Padahal, organisasi itu sedang sekarat di dalam kenyamanan. Kalau sering ketemu, sering ngobrol, tapi tidak bisa membuat keputusan bersama untuk mengubah keadaan, itu namanya cuma membuang waktu, dan juga, membuang potensi.
D – Ta’āluf: Lem Perekat Hati
Terakhir: Ta’āluf, “Keterpautan Hati”. The Harmony.
Ini kondisi ketika hati antar-manusia sudah serasi, rukun, dan terpaut. Keintiman batin. Inilah kemenangan emosional. Puncak dari semuanya. Sebab, walau visi sudah sama (Ittihād), gesekan personal itu pasti tetap ada. Namanya juga manusia. Ta’āluf inilah obatnya. Dia adalah lem. Membuat kerja sama tidak lagi sekadar profesional di atas kertas kontraktual, tapi sudah merasuk ke hati. Inilah kerukunan sejati. Bukan rukun karena takut aturan, tapi karena hati memang sudah merasa cocok. Sudah betah satu sama lain.
Kalau Ijtimā‘ itu titik temu, Ta‘āruf titik kenal, dan Ittihād titik sepakat, maka Ta’āluf adalah titik nyaman. Hubungan kerja tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berubah menjadi hangat. Seperti keluarga atau sahabat karib. Dalam tim, sejelas apa pun visinya, pasti ada hari di mana kita jengkel. Pasti ada salah paham. Pasti ada beda pendapat. Itu lumrah. Tapi kalau sudah ada Ta’āluf, retakan akibat gesekan itu gampang ditambal. Kita jadi lebih mudah memaafkan. Lebih sabar menghadapi kekurangan teman. Tidak mudah baper.
Singkat kata: kalau Ittihād membuat kita bisa berbaris rapi karena aturan, maka Ta’āluf membuat kita berjalan beriringan dengan senang hati. Karena di dalam batin, sudah ada rasa saling sayang dan saling percaya.
Teori U Otto Scharmer
Konsep Ijtimā‘, Ta‘āruf, Ittihād, dan Ta’āluf ini mengingatkan saya pada teori U dari Otto Scharmer, profesor dari MIT (Massachusetts Institute of Technology).
Teori U ini menjawab satu problem mendasar: Mengapa kita (manusia, organisasi, negara) terus-menerus menciptakan hasil yang sebenarnya tidak kita inginkan? Kita ingin bumi yang hijau, tapi kita terus merusaknya. Kita ingin organisasi yang solid, tapi kita terus menciptakan konflik internal. Kita ingin bisnis yang inovatif, tapi kita terus mengulang cara-cara lama yang usang.
Kalau ditarik ke ranah praktis (perusahaan, organisasi, atau umat), Teori U menjawab 3 penyakit akut ini. Pertama, Penyakit “Pemadam Kebakaran” (Re-enacting). Pemimpin yang kalau ada masalah, cuma menyelesaikan gejalanya saja di permukaan (reaktif), bukan akar masalahnya. Akibatnya, tahun depan masalah yang sama muncul lagi. Kedua, Penyakit “Siloisasi” (Ego Sektoral). Orang-orang di dalam satu organisasi yang kerjanya kotak-kotak. Orang Keuangan tidak mau tahu urusan Orang Lapangan. Orang Marketing musuhan dengan Orang Produksi. Teori U menjembatani ego ini agar mereka bisa melihat gambaran besarnya bersama-sama. Ketiga, Kematian Inovasi. Perusahaan yang bangkrut karena gagal melihat masa depan (seperti kasus Kodak atau Nokia dulu). Mereka terlalu asyik memutar “kaset lama” kesuksesan masa lalu (downloading), sampai tidak sadar zaman sudah berubah total.
Otto Scharmer menyatakan, kualitas hasil yang kita capai itu sangat tergantung dari kualitas perhatian (attention) dan kesadaran (consciousness) yang kita berikan. Kalau kesadaran kita masih pakai cara lama, hasilnya pasti masalah lama. Nah, Teori U memecahkan masalah ini dengan membawa kita berjalan menyusuri sebuah rute berbentuk huruf U. Bayangkan huruf U dengan dua tiang dan satu cekungan lembah. Tiang pertama adalah masalah, tiang kedua adalah solusinya. Kita tidak boleh melompat langsung dari masalah ke solusi. Kita bergerak dari tiang pertama, menerimanya sebagai masalah, lalu harus “turun” dulu ke bawah cekungan itu, baru “naik” ke permukaan dengan solusi baru.
Ada 3 gerakan utama bagaimana Teori U memecahkan kebuntuan tersebut.
Gerakan 1: Turun ke Bawah (Mengamati, Mengamati, Mengamati). Di sinilah kita memecahkan masalah kebutaan kolektif. Kita dipaksa turun dari menara gading ego kita dengan cara membuka pikiran dan hati. Kita harus membuka pikiran (Open Mind) dengan cara menghentikan kebiasaan downloading (memutar kaset lama). Kita mulai mendengarkan fakta-fakta baru di lapangan, meskipun fakta itu pahit dan menyakitkan telinga kita. Setelah itu, kita harus membuka hati (Open Heart). Kita tidak cuma melihat data angka, tapi merasakan langsung penderitaan atau masalah di lapangan (sensing). Kalau Anda seorang bos perusahaan yang omsetnya turun, Anda tidak cuma baca laporan keuangan, tapi duduk dan mendengarkan keluhan konsumen atau buruh Anda sampai Anda bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Gerakan 2: Berada di Dasar U (Meresapi Kebeningan). Ini adalah fase paling krusial, namanya Presencing (perpaduan antara presence dan sensing). Di dasar huruf U ini, kita memecahkan masalah ego sektoral dan kebutaan spiritual. Di titik ini, semua peserta yang terlibat dalam masalah melepaskan identitas, pangkat, jabatan, dan prasangka mereka. Kita masuk ke ruang sunyi untuk merenung: Siapa diri saya yang sebenarnya? Apa kerjaan/kontribusi saya yang ingin saya dedikasikan untuk masa depan?
Di dasar U inilah ide-ide segar—yang selama ini tersumbat oleh ego kita—tiba-tiba muncul sebagai intuisi yang jernih. Kita tidak lagi berpikir “apa yang menguntungkan bagi kelompok saya”, tapi, “apa yang terbaik untuk ekosistem kita bersama”.
Gerakan 3: Naik ke Atas (Mewujudkan yang Baru secara Cepat). Setelah mendapatkan pencerahan di dasar U, kita tidak boleh cuma jadi pemikir atau sufi yang diam. Kita harus mendaki U ke atas untuk memecahkan masalah kelumpuhan aksi. Ada dua cara gerakan ke atas ini yakni crystallizing dan prototyping. Crystallizing adalah mengkristalisasi ide-ide abstrak di dasar U tadi mulai dirumuskan menjadi visi dan energi bersama yang konkret. Sementara Prototyping adalah membuat purwarupa. Ini kuncinya. Teori U memecahkan masalah dengan prinsip “Fail fast, learn faster” (gagal dengan cepat, belajar lebih cepat). Kita tidak bikin seminar atau rapat bertahun-tahun untuk menguji ide. Kita langsung bikin contoh kecilnya (prototipe) di lapangan dalam skala kecil. Kalau salah, langsung diperbaiki hari itu juga.
Konsep Ijtimā‘, Ta‘āruf, Ittihād, dan Ta’āluf mirip dengan teori U ini. Untuk bisa menghadapi persoalan umat Islam, Hadratusy Syaikh harus mengubah cara-cara lama dan mencoba hal-hal baru dalam menjawab masalah.
Prinsip pertama ini yang paling sulit. Manusia itu makhluk kebiasaan. Kalau ada masalah, respons kita biasanya otomatis: pakai pengalaman lama. Scharmer menyebut ini Downloading. Isi kepala kita langsung memutar kaset lama. “Ah, dulu pada zaman kejayaan Islam cara ini berhasil”. Prinsip pertama Teori U adalah: stop mendengarkan kaset lama itu. Kita harus punya keberanian untuk menangguhkan (suspend) prasangka dan penilaian instan kita. Kalau keran masa lalu ini tidak
Teori U dimulai dari downloading. Mengosongkan isi kepala dari prasangka lama. Di sinilah Ijtimā‘ (berkumpul) dimulai. Orang kalau mau berkumpul, syarat pertamanya harus mau duduk bareng dulu. Menaruh ego masa lalunya di pintu luar. Kalau berkumpul tapi kepalanya masih penuh dengan “siapa saya” dan “siapa kamu” yang penuh sekat, itu bukan Ijtimā‘. Itu cuma kerumunan orang egois. Downloading adalah proses meruntuhkan tembok pembatas agar badan bisa saling mendekat.
Setelah duduk bareng, mata harus mulai melihat. Seeing. Melihat realitas apa adanya, bukan apa maunya kita. Di sinilah Ta‘āruf (saling mengenal) mengambil bentuknya yang paling dasar. Anda tidak bisa mengenal seseorang hanya dari warna kulitnya, atau dari kelompok mana dia berasal. Anda harus melihat datanya. Fakta objektifnya. Oh, dia begini. Oh, latar belakangnya begitu. Seeing memaksa kita melihat orang lain sebagai manusia seutuhnya, bukan sebagai label.
Setelah seeing, lakukan sensing (merasakan) atau melakukan Ta‘āruf secara lebih dalam lagi. Dari kepala turun ke hati. Dalam Teori U, sensing berarti kita mengaktifkan mata hati (open heart). Kita menaruh diri kita di sepatu orang lain. Dalam konteks Ta‘āruf, ini bukan lagi sekadar tahu nama dan alamat. Tapi tahu apa gelisahmu, apa penderitaanmu, dan apa mimpimu. Tanpa sensing, Ta‘āruf itu kering. Hanya seperti membaca KTP orang lain.
Itulah gerakan pertama, dari masalah menelusuri tiang U pertama.
Sekarang kita lihat apa yang dilakukan di cekungan lembah U. Lakukanlah Presencing (Hadir Utuh). Presencing adalah perpaduan antara presence (hadir) dan sensing (merasakan). Kita melepaskan semua identitas kelompok yang kaku. Kita berserah pada kehendak masa depan yang mau hadir dengan tujuan yang sama. Di sinilah Ittihād lahir. Ini proses meleburnya yang banyak menjadi satu. Kalau seeing dan sensing melahirkan Ta‘āruf yang mengenali keunikan, Ittihād adalah kesepakatan untuk membawa keunikan itu ke satu tujuan yang sama. Di tahap ini, ego individu harus tunduk. Harus mau diatur oleh satu kata yang sama (kalimatun wāḥidah).
Ittihād tidak bisa dipaksakan lewat instruksi organisasi. Dia harus lahir dari ruang sunyi di mana ego sudah mati, dan yang ada hanyalah rasa satu nasib, satu jiwa. Hati yang tadinya keras, melunak di titik presencing ini.
Begitu hati sudah terikat dalam kalimatun wāḥidah, kita mulai mendaki kurva U ke atas bersama-sama. Tidak sendirian. Prinsip kelima adalah crystallizing. Menjelmakan keterikatan tadi menjadi sebuah visi bersama yang jernih dengan penuh kasih sayang. Inilah inti Ittihād yang dibungkus dengan Ta’āluf. Persatuan itu tidak boleh buta. Harus mengkristal dalam bentuk kesepakatan arah: kita ini mau ke mana sama-sama? Visi Ittihād yang mengkristal penuh keterikatan hati inilah yang membuat barisan menjadi kokoh.
Visi tanpa aksi itu halusinasi. Teori U mengajarkan prototyping. Bikin contoh kecil yang bisa langsung dipraktikkan. Jangan berwacana terus. Ittihād dan Ta’āluf diuji di sini. Persatuan bukan cuma jargon “kita satu”. Tapi tercermin dari bagaimana kita bekerja sama membuat proyek percontohan. Entah itu bikin koperasi bersama, aksi sosial bersama, atau mengelola institusi bersama. Saling melengkapi kelemahan masing-masing dalam kerja nyata.
Inilah puncak Teori U: Performing. Ketika semua sistem sudah berjalan secara makro. Pada tahap ini, Ijtimā‘ (perkumpulan) yang di awal tadi sudah berubah wujud. Bukan lagi sekadar perkumpulan fisik orang-orang yang mengobrol, melainkan sebuah ekosistem baru yang hidup, solid, bergerak,
Kita tidak akan pernah bisa mencapai Ittihād (persatuan) yang kokoh, kalau kita tidak mau melewati proses presencing—menundukkan ego untuk mengikat hati (Ta’āluf). Dan semua itu harus dimulai dari kemauan untuk duduk bareng (Ijtimā‘) sambil membuka mata dan hati (Ta‘āruf).
Arsitektur Organisasi Islami
Kalau keempat istilah tadi diletakkan dalam satu alur logika, jadinya keren sekali. Menjadi sebuah “Arsitektur Organisasi Islami”. Alurnya begini: Pertama, Ijtimā‘. Kita memutuskan untuk berada di ruang yang sama. Ini urusan fisik. Urusan spasial. Kedua, Ta‘āruf. Kita memutuskan untuk membuka diri. Saling memahami. Ini urusan intelektual. Urusan kognitif. Ketiga, Ittihād. Kita memutuskan menyatukan langkah. Menuju satu tujuan. Ini urusan strategis. Urusan teleologis. Keempat, Ta’āluf. Kita memutuskan untuk saling mencintai. Menjaga keharmonisan. Ini urusan emosional. Urusan afektif.
Lengkap!
Tapi, coba lihat sekeliling kita. Sering kali, organisasi modern itu kering. Mereka hanya berhenti pada Ijtimā‘ dan Ittihād. Hanya sekadar hadir. Sekadar isi absen. Lalu, sekadar setuju pada aturan baku. Sudah. Begitu saja. Mereka abai pada Ta‘āruf. Tidak benar-benar mau mengenal potensi anggota lain. Mereka juga lupa pada Ta’āluf. Tidak ada ikatan batin sama sekali.
Kenapa banyak organisasi gagal?
Ya itu tadi. Mereka mencoba memaksakan Ittihād. Memaksakan kesepakatan administratif. Padahal, mereka belum pernah melewati proses Ta‘āruf. Belum tahu apa keresahan masing-masing anggotanya. Lebih bermasalah lagi, banyak organisasi yang tanpa Ta’āluf—tanpa mau membangun ikatan batin. Mana bisa jalan. Maka, tepat sekali apa yang dinyatakan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau menyebut keempat hal ini—Ijtimā‘, Ta‘āruf, Ittihād, dan Ta’āluf—sebagai al-amru alladhī la yajhalu ahadun manfa’atahu. Artinya: sebuah gerakan yang tidak ada seorang pun yang meragukan manfaatnya. Manfaat itu mutlak. Lahir dari rumus pertambahan tadi.
Jika orang per-orang sudah mau bertemu, lalu saling mengenali, kemudian bersepakat, dan akhirnya rukun karena saling nyaman—semuanya niscaya akan mendapatkan manfaat kebaikan. Pasti. Menariknya, pada teks ini, Hadratusy Syaikh belum berbicara soal jam’iyyah. Belum bicara soal organisasi formal.
Kalimat pertama pada Muqaddimah ini sebenarnya adalah fondasi. Asas dari organisasi yang akan didirikan. Maka jelaslah sudah. Jam’iyyah NU itu bukan sekadar kumpulan massa (Ijtimā‘). Bukan sekadar ramai. Dia harus Ta‘āruf. Harus Ittihād. Dan, wajib Ta’āluf.
Bagaimana kondisi NU saat ini? Andalah yang menilainya!