Oleh: Bambang Q. Anees

Januari 2026 ini bertepatan dengan bulan Rajab, bulan istimewa karena ada perjalanan suci Rasulullah Muhammad ke langit dalam peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwanya seperti kisah dongeng, manusia yang berdarah-daging dapat melakukan perjalanan dalam satu malam menempuh jarak yang jauh dari Masjid Haram di Makkah menuju Masjid Aqsha di Palestina. Tak hanya itu, perjalanan dilanjutkan menembus lapis-lapis langit sampai langit ketujuh dan ‘bertemu’ dengan Tuhan. Bagi orang modern, kisah ini hampir seperti dongeng. Tetapi, Al-Quran merekam perjalanan ini pada QS. al-Isrā’: 1 dan QS. al-Najm: 4-18, lalu biografer awal seperti Ibn Isḥāq (wafat 768 M.), perawi Hadits seperti al-Bukhārī (wafat 870 M.), sejarawan seperti Ibn Sa’d (wafat 845 M.), dan sejarawan-penafsir seperti al-Ṭabarī (wafat 923 M.) juga memberikan catatan tentangnya. Jadi, walaupun otak modern meragukannya, peristiwa ini tetap diyakini oleh orang-orang beriman sebagai jejak yang harus diikuti.
Apakah bulan Rajab sekadar nama bulan yang lewat begitu saja? Apakah peristiwa Isra Mi’raj bagi kita hanyalah dongeng belaka? Jika iya, tulisan ini mungkin ada gunanya untuk dibaca.
Ayat-Ayat Mi’raj
Dalam QS. al-Isrā’: 1, Allah berfirman: “Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid suci (al-masjid al-ḥarām) ke tempat ibadah terjauh (al-masjid al-aqṣā) yang sekelilingnya telah Kami berkati, agar Kami dapat memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Sebagian besar penulis menafsirkan ayat ini sebagai indikasi perjalanan Muhammad dari Mekah ke tempat yang jauh (al-aqṣā), yang dipahami sebagai Yerusalem,yaitu tempat persinggahan yang diperlukan Muhammad dalam perjalanannya menuju surga. Pada pergantian abad kedelapan, istilah masjid al-aqṣā ini identik dengan “tempat suci” (al-ḥaram al-sharīf) di Yerusalem. Sebagai akibat dari faktor-faktor historis ini, QS. al-Isrā’: 1 sering dijelaskan sebagai bagian perjalanan malam Muhammad yang bersifat lateral dan duniawi, yang membawa dari Mekah ke Yerusalem sebelum kenaikannya yang vertikal dan surgawi menuju langit.
Rangkaian ayat lain dari QS. al-Najm: 4-18 menggambarkan kedatangan Nabi di cakrawala yang sangat tinggi (ufuk) di bawah bimbingan Jibril yang menampakkan rupa aslinya (ayat 6), kemudian sampai ke ufuk tertinggi (ayat 7), yang ditandai dengan sebatang pohon, sidrat al-muntahā (ayat 14). Perjalanan tersebut semakin memperdekat pertemuan Nabi dengan dengan Tuhan—bahkan begitu dekatnya sehingga hanya tersisa jarak dua busur (qāba qawsayn, ayat 9). Lalu, Tuhan melimpahkan wahyu kepada Nabi yang, karena begitu dekatnya, membuat Nabi dapat mengamati tanda-tanda terbesar Tuhan (ayat 18). Ketakjuban yang menghampiri Nabi saat pertemuan itu lantas digambarkan dengan ungkapan, mā zāgha al-baṣar wa mā thaghā, pandangan Nabi tak menyimpang dan tak melampaui apa yang dilihatnya (ayat 17). Peristiwa demikian berada di ‘dunia lain’ karena lokasi sidra al-muntahā itu berada di dekat surga/indaha jannatul ma’wa (ayat 15) terjadi pada ‘waktu lain’/nazalatan ukhra (ayat 13), dan ditangkap oleh piranti ruhani terhalus, yakni fu’ad yang tak mungkin berdusta/mâ kadzabal-fu’âdu mâ ra’â (ayat 11).
Ciri-ciri pertemuan pada rangkaian ayat ini digambarkan dengan sangat puitis sehingga agak sulit dipahami sekaligus membuka ruang bagi kebebasan kreatif dalam penceritaan. Terjemahan di Indonesia menafsirkan pertemuan tersebut dalam pandangan yang penuh takjub terhadap pertemuan antara Nabi dan Jibril, sementara para sufi justru meyakini perstiwa itu sebagai pertemuan Nabi dengan Tuhan. Tidak hanya itu, perselisihan sengit juga terjadi mengenai sifat penglihatan Muhammad tentang Tuhan. Yang paling sering, para penulis cenderung sepakat bahwa penglihatan (ruʾyā) Muhammad tentang kehadiran Ilahi adalah penglihatan yang terjadi semata-mata di dalam hatinya (fī qalbihī) dan bukan merupakan penglihatan mata inderawi (fī baṣarihi).
Penggabungan Al-Qur’an QS. al-Isrā’: 1 dan QS. al-Najm: 4-18, serta sejumlah hadits dari al-Bukhārī, catatan Ibn Isḥāq, Ibn Sa’d, dan al-Ṭabarī menghasilkan kisah kisah mi’raj Nabi. Sebelum al-Bukhari dan catatan para sejarawan itu, ada satu karya independen dan lengkap berjudul Kitāb al-Mi’rāj (Kitab Kenaikan) yang dikaitkan dengan sepupu Nabi, Ibn ʿAbbās (wafat 688) sebagai dasar bagi penulisan kisah tersebut. Atas dasar itu, para orientalis menduga bahwakisah Mi’raj yang beredar saat merupakan hasil racikan dari para qushash (para pendongeng), sejawaran, dan para perawi hadits. Lagi-lagi, cara pandang orientalis tentu saja didasarkan pada perspektif rasional-empiris yang modern yang amat terbatas.
Kisah Mi’raj dalam Kitab Dardir
Beberapa pesantren di Indonesia merayakan Isra Mi’raj dengan membaca Kitab Dardir Mi’raj. Kitab ini dikarang oleh seorang ulama al-Azhar, yakni Imam Abū al-Barakāt Aḥmad Ibn Muḥammad Ibn Aḥmad al-Adawī al-Malikī al-Khalwatī (w. 1715 M.). Kitab Dardir tersebut merupakan kitab syarah atau penjelas terhadap Kitab Qiṣṣah al-Mi’rāj Karya Imam Najmuddin al-Ghoiṣī (w 984 M.). Keduanya merupakan ulama Mesir yang berdedikasi penuh terhadap khazanah keislaman. Kitab ini biasanya dibaca selama tiga malam oleh sejumlah kiai mulai malam ke-25, malam ke-26, dan dikhatamkan pada malam ke-27 bulan Rajab.
Pada kitab tersebut dikisahkan alur Isra dan Mi’raj secara rinci. Kisah Isra dimulai dari keberadaan Nabi Muhammad SAW. yang didatangi Malaikat Jibril, Mikail, dan satu malaikat lain datang membawa zamzam. Lalu, ketiga malaikat itu melakukan ‘operasi’ dalam menyucikan hati Nabi dari berbagai keburukan dengan air zamzam tersebut dan memenuhinya dengan berbagai kebaikan, mulai dari pengetahuan, keyakinan, hingga keislamannya. Setelah itu, Nabi Muhammad menaiki kendaraan Buraq yang kecepatannya secepat kilat menuju ke masjid al-Aqṣā. Selama perjalanan dari masjid al-Ḥarām ke masjid al-Aqṣā ini ada sejumlah peristiwa yang dihadapi nabi Muhammad, seperti menghadapi kejaran Jin Ifrit, menemukan para mujāhid fi sabīlillah, merasakan keharuman amal saleh Masyithah (penyisir putri Firaun), melihat gambaran siksa bagi yang enggan melakukan shalat dan pelaku riba, menemukan perumpamaan yang haus jabatan, kehinaan pezina dan pelaku ghibah, sindiran bagi penceramah pecinta dunia dan penolak zakat, hingga melihat Lembah surga dan neraka. Semuanya penuh perumpamaan, dan yang dijadikan pelajaran pentingn bagi pembaca Kitab Dardir adalah bagaimana mereka menjaga perilaku.
Sesampainya di masjid al-Aqṣā, Nabi Muhammad menjadi imam salat para nabi, dilanjutkan perjalanan Mi’raj ke langit-langit bertemu para nabi sebelumnya. Pada langit pertama ia bertemu Nabi Adam, pada langit kedua ia bertemu Nabi Isa & Nabi Yahya, pada langit ketiga ia bertemu Nabi Yusuf, pada langit ke-4 ia bertemu Nabi Idris, pada langit ke-5 ia bertemu Nabi Harun, pada langit ke-6 ia bertemu Nabi Musa, dan ia bertemu Nabi Ibrahim di langit 7. Perjalanannya kemudian diteruskan hingga ke Sidrah al-Muntahā untuk menerima wahyu terkait salat 5 waktu. Setelah itu, Nabi Muhammad kembali ke bumi dengan berbagai hikmah salat. Biasanya, para kyai menyisipkan hadits “Ash-shalatu Mi’raj al-Mu’minin” (Shalat itu mi’raj-nya orang beriman), oleh karena itu, jagalah salatmu agar kamu mengalami kenaikan menuju pengalaman Ilahiah.
Mengejar Perjalanan Mi’raj
Kisah ini bukan isapan jempol belaka, namun sangat diimani oleh komunitas beriman sebagai betul-betul terjadi. Tak hanya terbatas pada pribadi nabi Muhammad, orang-orang setelahnya pun dikisahkan telah melalui perjalanan ruhani yang serupa. Kisah Isra Mi’raj ini rupanya memantik keyakinan bahwa manusia dapat mengalami perjalanan spiritual menembus langit, sehingga banyak orang-orang saleh yang mengupayakan diri untuk mengalami ulang perjalanan Nabi tersebut. Para sufi menyebutnya sebagai perjalanan spiritual dari kondisi terkurung pada materi menjadi terlepas menuju alam ruhani. Beberapa Sufi menulis buku tentang kenaikan spiritual mereka sendiri. Banyak dari karya-karya ini yang melukiskan seseorang yang terpisah dari alam surgawi dan terperangkap dalam sangkar tubuh serta pengalamannya dalam perjalanan kenaikan spiritual kembali ke alam surgawi, di mana asketismenya diuji oleh jebakan nafsu duniawi dan ragam cobaan lainnya.
Kisah mi’raj telah menjadi sumber bagi banyak karya Sufi tentang pendakian ke alam metafisika. Peristiwa mi’raj, kisah tentang bagaimana Nabi mencapai hadirat Ilahi dengan melampaui tingkatan langit, dijadikan prototipe bagi perjalanan spiritual (sair wa sulūk) bagi para Sufi dan filsuf dalam pemikiran taṣawwu. Dalam hal ini, mereka mengadopsi metode dan prinsip mi’raj Nabi untuk jalan mereka sendiri. Sayr wa sulūk didefinisikan sebagai perjalanan dalam fase keberadaan seseorang, dan perjalanan ini melibatkan tahapan pendakian spiritual (urūj, mi’raj) dan penurunan/kembali ke bumi (nuzūl, rujū’). Meskipun istilah “kenaikan” dan “penurunan” dalam karya-karya Sufi bersifat alegoris, banyak Sufi telah menceritakan tentang ʿurūj/kenaikan mereka sendiri.
Orang pertama yang menuliskan catatan Mi’rajnya adalah Bāyazīd Bisṭāmī (w. 848 M.) yang kemudian diikuti oleh banyak sufi setelahnya. Bisṭāmī menceritakan bahwa ia bermimpi naik ke langit, dan ketika mencapai cakrawala duniawi, seekor burung hijau yang membentangkan sayap untuknya terbang hingga mencapai tempat para malaikat. Meskipun setiap tempat itu diungkapkan kepadanya dalam bentuk yang paling spektakuler, ia juga diuji dengan ilusi ketika ia naik melalui alam surga. Setelah melintasi alam para malaikat dan tiran serta lautan cahaya, Bisṭāmī mencapai “Kaki Tuhan” seusai naik ke tingkat ketujuh surga. Saat tiba di ʿArsy, ia pun bertemu Rasulullah. Kenaikannya berakhir dengan nasihat yang ia terima dari Rasulullah tentang kewajiban menasihati dan menyeru umatnya kepada Tuhan saat kembali.
Setelah Bistami, filsuf Ibn Sina (w. 1037 M.) juga menuliskan kisah perjalanan spiritual ini dalam kitab Ḥayy b. Yaqẓān, Risalat at-thayr, Salāmān dan Absāl, dan Mi’raj-nama. Kisah Ḥayy b. Yaqẓān menggambarkan kerangka umum perjalanan spiritual, lalu Risāla al-Ṭayr menunjukkan kisah aktualisasi perjalanan ruhani. Kisah perjalanan spiritual dalam Ḥayy b. Yaqẓān dirancang berdasarkan sumbu horizontal timur-barat atau menurut koordinat arah, sementara pada Risālah al-Ṭayr menunjukkan perjalanan vertikal burung yang keluar dari sangkarnya dan melarikan diri dari dunia material. Tak sekadar keluar dari sangkar materi, burung-burung melewati sembilan gunung dan mencapai istana Raja Yang Maha Kuasa. Tema perjalanan dalam kedua kisah tersebut kemudian digabungkan dengan tema serupa dalam kisah Salāmān dan Absāl. Pada kitab Mi’raj-nama dikisahkan perjalanan horizontal (pada sumbu timur-barat) sekaligus vertikal (naiknya burung-burung ke langit), menggabungkan narasi simbolis sang filsuf dengan narasi tentang naiknya Nabi. Mi’raj-nama Ibn Sina dengan demikian menggabungkan perjalanan horizontal dan vertikal sekaligus, yaitu perjalanan isrā’ dari Mekah ke Yerusalem dan kenaikan mi’rāj dari Yerusalem ke alam langit.
Setelah itu ada karya Abū alʿAlā al-Ma’arrī (w. 1057 M.), Risālah al-Ghufrān, yang menceritakan pendosa yang mengalami perjalanan ruhaniah. Lalu muncul kitab Sayr al-ʿibād ilā Ma’ād (Perjalanan Hamba ke Tempat Kembalinya) karya Ḥakīm Sanā’ī Ghaznawī (w. 1130 M.), sebuah kumpulan puisi pendek dengan tema filosofis dan sufistik. Dalam karya tersebut, penyair menceritakan perjalanan jiwa melalui berbagai fase dan akhirnya kembali ke esensinya. Setelah menggambarkan tingkatan jiwa, Sanā’ī menjelaskan secara rinci menguraikan penglihatan yang dialami dalam perjalanan spiritual ini, ketika jiwa bertemu dengan penuntun spiritual akal budi (ʿaql-i pīr). Pemandu tua yang ditemui penyair dalam perjalanannya adalah wujud terselubung dari akal budi universal (ʿaql-i kull). Akal budi lantas membimbingnya ke jalan yang paling terang menuju tempat ma’ād, atau kepulangan. Menurut Sanā’ī, kenaikan tidak lain adalah kembalinya diri dari alam kegelapan yang telah menangkap jiwa ke sumber ilahi atau tempat terakhir.
Karya Sanā’ī, pada gilirannya, menginspirasi karya-karya besar lainnya yang ditulis di bidang ini, seperti Mantiq al-Ṭayr karya Farīd al-Dīn ʿAṭṭār (wafat 618/1221). Dalam karya ini, ʿAṭṭār menceritakan perjalanan yang menarik dan sulit dari burung-burung di Kerajaan Burung di luar puncak Gunung Qaf untuk menemukan Simurgh, burung legendaris para raja. Tema utama dalam Manṭiq al-Ṭayr adalah perjalanan jiwa dan sang pengembara yang maju melalui maqām atau stasiun tertentu menuju tujuan akhir fanā fī al-ḥaq (penghancuran diri dalam realitas) atau fanā fī Allah (penghancuran diri dalam Tuhan). Kritikus Eropa juga berpendapat bahwa karya Attar merupakan salah satu inspirasi Dante (w. 1321 M.) dalam menulis Divine Comedy. Risalah tentang burung semacam itu terus ditulis oleh para sarjana Islam, terutama pada Abad Pertengahan, misalnya Risāla al-Ṭayr (Risalah tentang burung) karya Syihāb al-Dīn Suhrawardī (w. 1191 M.) dan Ṣafīr-i Sīmurgh (Panggilan Simurgh), dan kemudian Risālah al-Ṭuyūr karya Najm al-Dīn Rāzī (wafat 654/1256) dan ʿAnqa Mughrib (Kitab tentang griffin yang menakjubkan) karya Ibn al-ʿArabī (wafat 638/1240). Selain itu, contoh perjalanan spiritual simbolis yang paling unggul adalah narasi simbolis dan didaktik Suhrawardi, ʿAql-i Surkh (Kecerdasan Merah) dan Āwāz-i Par-i Jebrail (Nyanyian Sayap Jibril). Semua kisah ini menggambarkan kenaikan kembali seseorang dari sangkar tubuhnya ke alam surgawi dari mana ia sebelumnya berangkat, dan petualangan yang dialaminya dalam perjalanan kembalinya.
Kisah yang agak berbeda, ditemukan pada Miṣbāḥ al-arwāḥ, karya Awḥad al-Dīn Kirmānī (w. 1238 M.) dan Shams al-Dīn Muḥammad Bardsīrī. Kisah ini bukan perjalanan melintasi langit, melainkan melintasi kota-kota. Dalam karya tersebut, para penulisnya menggambarkan perjalanan seorang penyair dan seorang pīr tua yang mengajarinya ilmu pengetahuan dan perjalanan mereka melalui wilayah, kota, dan stasiun (maqām) tertentu. Sang penyair berangkat dari Kirman dan menuju Mesir. Didampingi oleh penuntun ilmu, penyair mencapai kota-kota al-nafs alammāra (jiwa yang memerintah/nafs yang membangkitkan), al-nafs al-lawwāma (jiwa yang menyalahkan diri sendiri), dan al-nafs al-muṭma’innah (jiwa yang damai), dan, akhirnya, stasiun Sidrat al-Muntahā. Sang musafir, yang harus melanjutkan perjalanan sendirian setelah titik ini, melanjutkan perjalanannya melalui kota-kota al-nafs al-rāḍıyya (jiwa yang puas/nafs yang senang), al-nafs al-marḍiyyah (jiwa yang menyenangkan), dan nafs alʿāshiqa (jiwa yang penuh kasih). Penyair lalu bertemu Nabi Muhammad di kota nafs al-faqr (jiwa kemiskinan) dan memasuki kota terakhir, yang disebut nafs al-fāniyya (jiwa kehancuran), dan narasi diakhiri dengan deskripsi kota ini.
“Kota-kota” ini merupakan adaptasi dari konsep Sufi tentang tujuh tingkatan (al-aṭwār al-sabʿa) yang harus dilalui jiwa untuk disucikan dari sifat-sifat jahat dan dihiasi dengan sifat-sifat ilahi: al-nafs alammāra (jiwa yang memerintah/nafs yang menghasut), al-nafs al-lawwāma (jiwa yang memperingatkan/nafs yang menyalahkan diri sendiri), al-nafs al-mulhima (jiwa yang menginspirasi/nafs yang terinspirasi), al-nafs al-muṭmaʾinna (jiwa yang tenang/nafs yang damai), al-nafs al-raḍīyya (jiwa yang puas/nafs yang senang), al-nafs al-marḍīyya (jiwa yang diterima/nafs yang senang), dan al-nafs al-kāmila/al-nafs al-ṣāfīyya (jiwa yang sempurna/disucikan).
Al-Suhrawardī al-Maqtūl (w. 1191 M.) menulis Al-Qiṣṣah al-Ghurba al-Gharbiyya (Kisah Pengasingan Barat) untuk mengungkapkan kebenaran yang diyakininya tersembunyi dalam riwayat-riwayat simbolis Ibn Sīnā. Perjalanan dimulai di dunia material dan kegelapan yang menjebak individu, dan berakhir di “Timur cahaya” (tempat kelahiran sejati seseorang), yang mewakili tempat tinggal fundamental pencerahan, dan kebenaran spiritual. Karya ini merupakan salah satu dari sembilan karya simbolis yang ditulis oleh Suhrawardī, yang sebagian besar merupakan kisah pengejaran seseorang yang tergoda dari alam spiritualitas (kerajaan cahaya timur) ke dunia jasmani/materi (alam kegelapan barat).
Teks lain tentang kenaikan (naik ke surga) adalah Laṭāʾif al-Miʿrāj yang ditulis oleh al-Sulamī (w. 1021 M.). Teks lainnya adalah Kitāb al-Miʿrāj (Kitab Kenaikan) karya al-Qushayrī (w. 1072 M.). Kemudian Kashf al-Maḥjūb (Wahyu yang Terselubung), karya al-Hujwirī (w. 1072 M.?), Maʿārij al-quds fī madārij maʿrifa al-nafs, yang dinisbahkan kepada Ḥujjat al-Islām al-Ghazzālī (w. 1111 M.), Al-Sirāj alWahhāj fī Layla al-Miʿrāj, yang disusun dari bagian-bagian tentang miʿrāj dalam Al-Ghunya karya ʿAbd al-Qādir al-Gaylānī (w. 1165–66 M.). Adaptasi alegoris dan tasawwufī yang paling bersemangat dan menarik mengenai kenaikan dalam pemikiran Sufi muncul dalam karya-karya Muḥyi al-Dīn ibn al-ʿArabī (w. 638/1204): Futūḥāt al-Makkiyya, Fuṣūṣ alḤikam, Risāla al-Anwār (Risalah cahaya), dan Shajara al-Kawn (Pohon keberadaan). Lalu ʿAlā al-Dawla Simnānī (wafat 736/1336), seorang cendekiawan, penyair, dan pendiri tarekat Rukniyya Iran, menggambarkan pendakian dalam karyanya Sirr bāl al-bāl li dhaw al-ḥāl. Penulis lain, ʿAbd al-Karīm al-Jīlī (wafat 832/1428), mengaitkan mi’raj dengan tangga pendakian dan menggambarkan pendakian sebagai perjalanan dari alam fisik ke alam ilahi, kemudian, Imām Rabbānī (wafat 1034/1624) menulis Mabdaʾ wa Maʾād. Lalu ada juga Shah Walī Allah al-Dihlawī (wafat 1176/1762) dalam Ḥujjat Allah albāligha (Bukti mendalam tentang Allah).
Ada banyak karya yang lahir dari kisah Mi’raj, tak hanya karya namun juga semangat kaum beriman untuk mengalami perjalanan spiritual semirip Nabi Muhammad. Bagi para pengikut Rasulullah, kisah Mi’raj adalah jejak yang meminta untuk dilalui. Tak hanya Nabi yang dapat mengalami mi’raj, manusia lainpun dapat mengalami pengalaman spiritual dengan keterbatasan dirinya. Mi’raj bukan hanya dongeng, melainkan undangan untuk mengalami perjalanan serupa. Tentu saja Isra mi’raj pun bukan sekadar momen untuk diperingati secara seremonial, melainkan satu pengingat bahwa hidup tak dapat dibiarkan terjebak dalam sangkar daging. Hidup yang baik harus mau keluar dari dalam diri menuju penemuan sejati.
Apakah Kita akan Mi’raj?
Sekarang kita berada pada pertengahan bulan Rajab, entah apa yang ada dalam pikiran kita. Mungkin Isra Mi’raj hanyalah tanggal merah di kalender baru, tanda untuk berlibur dari kerja, atau sekadar tanda untuk mendengarkan ceramah sejumlah mubaligh yang lebih banyak bercandanya daripada maknanya. Boleh jadi, kita sudah tak mengimani perjalanan mi’raj sebagai perjalanan yang mungkin dilakukan dan dibutuhkan oleh semua manusia. Manusia yang sadar akan merasa bosan berada dalam jebakan materi yang terus-menerus memberi masalah, lalu mengidamkan satu kebebasan diri yang merdeka dari segala ikatan dan kemelekatan.
Al-Bushiri menanggapi peristiwa Mi’raj dengan sukacita, Lammaa da‘aaLlaahu daa ‘ iinaa li thoaa’atihi Bi Akramir Rusli kunna akramal umami (Saat Allah memanggil Rasul Mulia kita karena ketaatannya dengan panggilan termulia itu, jadilah kita umat yang paling mulia). Bushiri mengharap dan ke-ge-eran spiritual bahwa karena Nabinya sedemikian dimuliakan maka ummatnya pun akan dimuliakan. Ada harapan di sini bahwa umat Muhammad akan mengalami perjalanan spiritual yang serupa, pengalaman yang membebaskan diri dari keterkungkungan hidup yang hina ini. Ke-ge-er-an seperti ini seharusnya menjadi milik kita juga saat ini agar mi’raj tak berlalu begitu saja, namun sebagai pengingat bahwa hidup bukan sekadar menunggu mati.
Muhammad Iqbal, filsuf dari Pakistan, terus-menerus mendorong agar beragama itu didasarkan pada pengalaman, bukan sekadar konsep. Iqbal meyakini bahwa pengalaman ruhaniah akan membuat manusia modern terlecut untuk dapat menulis sejarahnya sendiri, bukan dituliskan orang lain. Maka, selanjutnya saya akan menuliskan kisah Mi’raj versi Muhammad Iqbal, yakni javidnama.
Mudah-mudahan hati kita tak mati untuk mengimani mi’raj.