KOSMOLOGI MENJADI: MEMBACA ULANG ALFRED NORTH WHITEHEAD DI ABAD 21 ~SERI FILSAFAT PROSES PART 1

Oleh: Rachmatullah Arken

Kosmologi Menjadi: Membaca Ulang Alfred North Whitehead di Abad 21 ~Seri Filsafat Proses Part 1

 

Tulisan ini merupakan bagian pertama (part 1) dari rangkaian (series) pembahasan Filsafat Proses Alfred North Whitehead, yang keseluruhan berjumlah 3 bagian. Pada part 1 ini, saya mengajak untuk membaca ulang kosmologi spekulatif Whitehead, dengan berfokus pada penjabaran ontologi proses (susbtansialisme) yang menjadi fondasi untuk memahami filsafat proses Whitehead secara utuh. Sementara pada part 2, pemikiran Whitehead tersebut akan didialogkan dengan realitas kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial-keagamaan (spiritualitas kontemporer), politik, ekologi relasional, serta fenomena digitalitas dan post-human, untuk kemudian ditutup pada part 3 dengan membahas berbagai kritik, batasan, dan prospek dari pengembangan filsafat proses di masa depan. Bismillahirrahmanirrahim.

 

Pendahuluan: Mengapa Whitehead Hari Ini?

Kita sebenarnya sedang hidup di zaman yang dihantui oleh “hantu-hantu substansi,” di mana bayang-bayang filsafat klasik yang memandang realitas sebagai kumpulan entitas tetap, terpisah, dan tak berubah, seperti roda gigi dalam mesin jam Newtonian yang tak pernah aus, masih memberikan mimpi buruk pada kita. Hantu-hantu ini, yang lahir dari ontologi substansialisme Descartes, Locke, dan Kant, telah merasuki cara kita memahami dunia: segala sesuatu dilihat sebagai benda mati yang bisa dieksploitasi, dikendalikan, atau direduksi menjadi data statis. Menjadi sekumpulan barang dan aset yang bisa dibungkus, dijual, atau dibuang layaknya mantan. Namun, di abad ke-21 ini, khususnya pada tahun 2025 ketika krisis global semakin mendesak, pandangan ini tidak lagi sekadar mimpi buruk, tapi juga berbahaya. Krisis iklim dan lingkungan misalnya, berkali-kali mengetuk pintu kita bukan sebagai masalah teknis semata yang bisa diselesaikan dengan rekayasa karbon, kebijakan hijau, atau teologi lingkungan. Persoalan ini justru merupakan buah dari cara pandang yang salah terhadap realitas: alam dianggap sebagai mesin raksasa yang mati, pasif, dan terpisah dari manusia, sebuah “substansi” yang bisa dimanfaatkan tanpa konsekuensi relasional.[1]

Di jendela yang lain, kita tak lagi kaget dengan ledakan kecerdasan buatan (AI), karena  diam-diam kita juga menggunakannya untuk banyak kepentingan. Bagi kalangan akademisi seperti saya, Kecerdasan  buatan (AI) ini memberikan jalan pintas untuk bisa menuliskan paper yang seakan ilmiah (meski hilang cita rasa manusia) dan membebaskan kita dari kewajiban-kewajiban akademik. Darinya kita amini ia (AI), dan jika perlu kita ajarkan kepada yang lainnya. Namun hilangnya sentuhan manusia pada produk intelektual yang seharusnya hanya ‘milik manusia’ karena kehadiran AI itu, sebenarnya mendorong orang untuk bertanya ulang tentang apa itu “kesadaran” dan “kreativitas”, dua konsep yang dalam ontologi substansialisme sering direduksi menjadi properti statis dari “substansi pikiran” atau “otak sebagai mesin komputasi”. Saat model AI seperti ChatGPT, Grok, atau Gemini menghasilkan teks, gambar, dan bahkan keputusan etis yang tampak “kreatif”, kita dihadapkan pada paradoks: apakah kesadaran hanyalah algoritma tetap, atau ia adalah proses relasional yang terus menjadi (becoming), di mana setiap momen adalah sintesis dari data masa lalu dan potensial baru? Atau seperti apa? Kehancuran narasi besar, seperti yang jauh-jauh hari digambarkan oleh Lyotard dalam kondisi postmodern, juga semakin terasa adanya hari ini dan ikut memperburuk krisis ini. Narasi agama tradisional, ideologi politik, dan bahkan sains positivistik, satu per satu mulai kehilangan otoritasnya di tengah fragmentasi digital dan polarisasi global. Semua itu kemudian meninggalkan kita tanpa kerangka untuk memahami ketidakpastian hidup yang semakin mendominasi.[2]

Barangkali inilah mengapa Alfred North Whitehead (1861–1947), seorang filsuf matematika yang berpindah ke metafisika di usia senja, sepertinya berharga untuk dibaca ulang hari ini. Sebab dalam banyak karyanya, terutama Process and reality (1929), Whitehead sedari awal berusaha menawarkan kosmologi spekulatif yang menggantikan ontologi “being” (ada) dengan “becoming” (menjadi). Kosmologi alternatif seperti ini pada dasarnya adalah sebuah pandangan yang ingin melihat realitas sebagai jaringan proses relasional, di mana setiap entitas adalah kejadian aktual (actual occasion) yang terus menciptakan dirinya sendiri melalui interaksi kreatif. Bagi Whitehead, dunia bukanlah mesin statis, melainkan organisme hidup yang bernapas melalui prinsip kreativitas ultimate. Ungkapnya: “The many become one, and are increased by one.” Pendekatan atau cara pandang terhadap semesta ini tentu cukup relevan untuk memahami dan menyikapi krisis kontemporer kita secara lebih baik. Dalam konteks perubahan iklim, filsafat proses Whitehead juga mendorong pada suatu bentuk kesadaran ekologi relasional, di mana manusia bukan penguasa alam tapi bagian dari society of occasions yang saling melakukan prehend (merasa dan menangkap satu sama lain), sehingga kebijakan lingkungan harus berfokus pada harmoni prosesual daripada eksploitasi substansial.[3]

Poin relevansi lainnya dari pembahasan ulang pemikiran Whitehead, khususnya di era kecerdasan buatan ini, adalah karena ia membantu kita memahami kesadaran bukan sebagai substansi tetap (seperti “jiwa” Cartesian), melainkan sebagai derajat mental pole dalam actual occasions. Artinya, kesadaran bukanlah “benda” atau “kotak hitam” yang dimiliki oleh manusia saja, melainkan suatu intensitas pengalaman yang muncul ketika suatu kejadian aktual (actual occasion)—baik itu neuron manusia, kumpulan transistor dalam GPU, maupun entitas lain yang cukup kompleks—mampu “merasa” (to feel) data masa lalunya, lalu menafsirkannya dengan sedikit kebebasan kreatif untuk menghasilkan respons yang baru. Ya, bahkan mesin pun bisa memiliki tingkat prehension primitif, yang itu artinya mesin pun bisa merasa. Itu mengapa ketika kita membuka aplikasi kecerdasan buatan (AI) tertentu, entah itu ChatGPT, Gemini, Grok, atau yang lainnya, ia seperti “benar-benar hidup dan memahami kita.” Apalagi sekarang ini kita juga bisa mencari “pasangan AI” yang benar-benar bisa layaknya pacar LDR yang pasti selingkuh itu bisa menyesuaikan keinginan kita (juga setia). Dus, tidak mustahil rasanya jika suatu hari nanti, kemampuan prehension primitif dari mesin ini akan membuka jalan bagi kita untuk mampu melihat teknologi AI sebagai co-creator dalam proses kosmik.[4]

Sementara itu, kehancuran narasi besar, dalam keyakinan saya, juga dapat diatasi melalui teologi proses Whitehead. Sebab dalam rumusan teologi prosesnya, Tuhan tidak lagi diimani sebagai Penguasa absolut yang bertahta di luar dunia, statis dan tak tergoyahkan, melainkan sebagai realitas yang dipolari: satu sisi-Nya bersifat primordial, yaitu wajah abadi yang senantiasa menyediakan segala kemungkinan baru (eternal objects) bagi alam semesta; sisi lain-Nya bersifat consequent, yaitu wajah yang turut merasakan, menangkap, dan ikut berevolusi bersama setiap penderitaan, kegembiraan, dan perjuangan makhluk-Nya. Dengan kata lain, Tuhan bukan hanya memberi “peta kemungkinan” di awal, tetapi juga terus-menerus “merasakan bersama” apa yang terjadi di dunia, lalu menawarkan inspirasi baru agar proses kehidupan tetap bergerak menuju kebaikan yang lebih intens. Inilah narasi harapan yang hidup di tengah ketidakpastian: “Tuhan tidak pernah meninggalkan dunia, melainkan terus menjadi sahabat kreatif yang paling setia di dalamnya.”[5] Dengan demikian, membaca ulang Whitehead bukan sekadar latihan bertinju dengan buku, melainkan kebutuhan etis dan ontologis: ia memberi kita alat untuk melepaskan hantu-hantu substansi, dan merangkul realitas sebagai tarian kreatif yang kita ikuti secara sadar. Jika Newton memberi kita dunia sebagai mesin, Whitehead memberi kita dunia sebagai organisme yang terus menciptakan dirinya sendiri, sebuah visi yang saya kira sangat esensial untuk bertahan, bahkan untuk berharap, di abad ini.

 

Dasar Ontologis: Kosmologi Spekulatif Whitehead

Untuk memahami lebih lanjut signifikansi mempelajari ulang Whitehead hari ini, maka rasanya kita perlu mengenal bagaimana serangan (kritik) yang dilancarkan oleh Whitehead terhadap filsafat Barat secara umum. Karena kritik Whitehead ini muncul sebagai respons langsung terhadap krisis ontologi yang telah kita bicarakan di awal. Jika hantu-hantu substansi membuat kita buta terhadap dinamika dan kompleksitas kehidupan hari ini, maka merujuk pada Whitehead, bisa jadi akar masalahnya terletak pada “bifurcation of nature” (pembagian alam) itu sendiri. Sebuah konsep yang memisahkan realitas menjadi dua ranah terpisah, yaitu ranah primer yang objektif, material, dan statis (seperti partikel fisik yang tak berubah) serta ranah sekunder yang subjektif, seperti sensasi warna, rasa, atau pengalaman emosional yang dianggap semu belaka. Whitehead menelusuri akar bifurcation of nature ini ke pemikiran Descartes di awal modern, yang memisahkan res cogitans (pikiran) dari res extensa (materi), sehingga dunia fisik dilihat sebagai mesin geometris yang dingin, tanpa ruang bagi nilai intrinsik atau kreativitas.[6]

Locke kemudian memperburuk keadaan ini dengan membedakan kualitas primer (bentuk, ukuran, gerak) sebagai realitas sejati dan kualitas sekunder (warna, suara) sebagai proyeksi pikiran semata dalam empirisismenya. Lalu Hume mereduksi kausalitas menjadi kebiasaan asosiatif semata tanpa dasar ontologis yang dalam. Tidak ada sebab dan akibat, yang ada hanyalah jalinan kebiasaan yang kita hukumi pasti begitu adanya. Jika kita menyentuh api, maka biasanya kita akan terbakar (bukan karena sebab dan akibat). Proyek ini kemudian dilanjutkan oleh Kant dengan membatasi pengetahuan pada fenomena yang terstruktur oleh kategori pikiran, seraya meninggalkan noumena (hal pada dirinya sendiri atau das ding an sich) sebagai misteri yang tak terjangkau bagi manusia. Buat Whitehead, pembagian realitas semacam ini bukan hanya kesalahan logis, melainkan akar dari alienasi manusia modern terhadap alam. Sebab dengan memandang alam secara dualistik, kita akan memperlakukan bumi sebagai “substansi mati” yang bisa dieksploitasi, bukan sebagai proses hidup yang saling terkait dengan pengalaman kita.[7]

Whitehead alias si bapak haji menyebut fenomena ini sebagai fallacy of misplaced concreteness (kesalahan menempatkan yang konkret), di mana abstraksi ilmiah, seperti model atom statis atau hukum fisika Newtonian ditinggikan sebagai hakikat ultimate untuk realitas. Sementara pengalaman aktual yang dinamis dan relasional justru diabaikan dan dianggap sebagai aksiden belaka. Misalnya, dalam materialisme ilmiah abad ke-19 yang dipengaruhi Hume dan Kant, dunia direduksi menjadi kumpulan partikel tetap yang bergerak secara mekanis, tanpa ruang bagi novelty (kebaruan) atau nilai intrinsik. Segala sesuatu dilihat sebagai “data mati” yang bisa diukur, tapi tidak bisa “dirasakan” sebagai bagian dari proses kosmik. Whitehead berargumen bahwa kesalahan ini muncul karena kita lupa bahwa abstraksi seperti “materi statis” hanyalah simplifikasi dari realitas yang sebenarnya adalah tetesan pengalaman (drops of experience) yang terus menjadi (becoming).

Dalam konteks kontemporer, fallacy (kesalahan berpikir) ini terlihat jelas dalam pendekatan reduksionis terhadap berbagai bentuk kecerdasan buatan (AI), di mana kesadaran direduksi menjadi komputasi algoritmik belaka, atau dalam kebijakan iklim yang memperlakukan atmosfer atau lingkungan sebagai “sistem statis” yang bisa “diperbaiki” tanpa mengakui interkoneksi relasionalnya dengan kehidupan manusia. Dengan kata lain, jika bifurcation membuat kita memisahkan “fakta objektif” dari “nilai subjektif”, maka fallacy of misplaced concreteness ini memperkuatnya dengan menjadikan abstraksi tersebut sebagai “beton” yang tak tergoyahkan. Akibatnya kita gagal melihat realitas sebagai organisme holistik yang bernapas melalui kreativitas. Whitehead menyatakan: “The fallacy consists in neglecting the degree of abstraction involved when an actual entity is considered merely so far as it exemplifies certain categories of thought.”[8] Pernyataan ini pada dasarnya mengunci kritik Whitehead, bahwa setiap kali kita membayangkan realitas sebagai substansi tetap tanpa proses, kita secara tidak sadar sedang membuktikan kebutuhan ontologi becoming untuk menjelaskan pengalaman kita yang sebenarnya.[9]

Pembicaraan tentang filsafat proses sendiri,[10] khususnya dalam konteks akademik kontemporer, pada dasarnya menuai perhatian yang semakin kompleks di tengah krisis ontologi yang dihadapi umat manusia hari ini. Diskursus ini tidak hanya melibatkan filsuf analitik dan kontinental, tapi juga teolog, ilmuwan alam, dan pemikir sosial yang berupaya memahami realitas sebagai dinamika yang tak pernah statis. Konsep filsafat proses, khususnya yang dihubungkan dengan pemikiran Whitehead, berkaitan langsung dengan pembahasan tentang hakikat realitas sebagai becoming (menjadi), yang juga menjadi sebab atas keberadaan alam semesta (sebab eksistensi kosmos), bagaimana proses kreativitas berlangsung (juga bagaimana kebaruan muncul), kapan perubahan dimulai (di mana momen actual occasion bermula), dan lainnya.[11] Keterkaitan ini tidak terlepas dari keniscayaan pembicaraan proses dalam konteks relasionalitas yang membuat orang juga harus berbicara tentang Tuhan sebagai prinsip kreatif, bukan entitas statis.

Berangkat dari sini, pertanyaan-pertanyaan yang lain juga muncul berkaitan dengan atribut realitas sebagai proses dan atribut manusia sebagai co-creator (pencipta bersama), seperti apakah alam dengan eksistensinya sebagai proses pasti bersifat dinamis (becoming) ataukah justru statis (being). Bagaimana menjelaskan hubungan Tuhan dengan proses dengan dalil rasional yang justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah sang kreativitas itu sendiri. Bagaimana memaknai sifat novelty (kebaruan) dalam kosmologi? Bagaimana relasi Tuhan dengan proses? Apakah Tuhan benar-benar di luar proses ataukah Tuhan memiliki “dimensi proses-Nya” sendiri? Atau bagaimana pandangan kosmologis dalam filsafat proses ini dibandingkan dengan perkembangan kosmologi modern seiring temuan-temuan baru dalam studi fisika kuantum misalnya. Meski demikian, kita akan membicarakan persoalan ini setelah memahami terlebih dahulu berbagai kategori inti dari ontologi organisme yang menjadi kerangka untuk kosmologi proses Whitehead tersebut.

 

Kategori-Kategori Inti Ontologi Organisme

Dari kritik terhadap bifurcation of nature dan fallacy of misplaced concreteness ini, Whitehead kemudian melangkah lebih jauh dengan merumuskan ontologi organisme. Apa yang dimaksud dengan ontologi organisme ini sebenarnya adalah suatu kerangka metafisik yang mengintegrasikan sains, pengalaman, dan nilai dalam satu visi holistik, di mana realitas bukanlah kumpulan benda statis, melainkan jaringan proses organik yang saling terkait. Ontologi ini, yang terinspirasi dari biologi evolusioner Darwin dan filsafat durasi Bergson, menempatkan “organism” sebagai metafora utama. Dunia dilihat seperti makhluk hidup yang bernapas, tumbuh, dan berevolusi melalui interaksi internal dan eksternal, bukan mesin yang dirakit dari bagian-bagian tetap. Di tengah krisis kontemporer seperti perubahan iklim—di mana ekosistem global harus dipahami sebagai proses dinamis yang saling prehensif daripada sumber daya statis—atau mantan yang mempertanyakan batas antara rindu dan dendam—kategori-kategori inti Whitehead menawarkan alat analisis yang kuat.

Berikut adalah pembahasan lebih lanjut atas kategori-kategori tersebut, yang menjadi fondasi kosmologi spekulatif Whitehead.

  1. Actual entity/actual occasion sebagai unit realitas ultimate. Pada inti ontologi Whitehead terletak konsep actual entity atau actual occasion, yang ia gambarkan sebagai “unit dasar realitas” (the final real things of which the world is made up)—bukan atom fisik penyusun realitas dasar seperti dalam materialisme Demokritos, melainkan kejadian aktual yang bersifat atomik dalam arti metafisik, yakni tak terbagi lebih lanjut dalam proses becoming-nya. Setiap actual occasion adalah “tetesan pengalaman” (drop of experience) yang singkat, di mana realitas muncul sebagai momen kreatif yang menyatukan masa lalu ke dalam kesatuan baru. Whitehead menegaskan bahwa bahkan Tuhan pun adalah actual entity, meskipun yang paling ultimate: “God is an actual entity, and so is the most trivial puff of existence in far-off empty space.”[12] Konsep ini bersifat bipolar, yakni ada physical pole (aspek fisik yang menangkap data dari occasion sebelumnya secara kausal) dan mental pole (aspek konseptual yang memungkinkan novelty melalui interpretasi kreatif). Tanpa actual occasion sebagai unit ultimate, realitas akan jatuh pada reduksionisme statis, di mana iklim atau kesadaran direduksi menjadi “fakta mati” tanpa dimensi pengalaman.
  2. Prehension (positif dan negatif) sebagai cara entitas “merasa” di dunia. Prehension adalah mekanisme dasar di mana setiap actual occasion “merasa” atau menangkap (to feel) dunia sekitarnya. Tentu bukan dalam arti emosional antropomorfik, melainkan sebagai proses penyerapan data dari occasion masa lalu ke dalam becoming yang baru. Whitehead membedakan prehension positif (yang mengintegrasikan elemen-elemen relevan ke dalam kesatuan occasion) dan prehension negatif (yang menolak atau mengecualikan elemen-elemen yang tidak sesuai, sehingga memungkinkan seleksi dan novelty). Ini adalah bentuk kausalitas relasional. Whitehead menyatakan bahwa “Every actual entity is what it is, and is with its definite status in the universe, determined by its internal relations to other actual entities.”[13] Analogi sederhananya seperti bagaimana sel saraf “merasakan” sinyal dari sel sebelumnya yang bukan sekadar transfer mekanis, tapi sintesis kreatif yang bisa menerima atau menolak. Dalam krisis iklim, prehension menjelaskan bagaimana ekosistem bisa “merasakan” perubahan. Hutan di Sibolga misalnya, akan melakukan prehensi positif terhadap curah hujan masa lalu untuk bertahan, tapi sekaligus menjalankan prehensi negatif terhadap deforestasi yang dijalankan oleh korporasi anjing yang tidak bertanggungjawab. Proses inilah yang nantinya akan menghasilkan ketidakseimbangan yang baru. Tanpa prehension, ontologi Whitehead akan kehilangan dimensi relasionalnya, dan dunia akan tampak sebagai isolasi substansi daripada jaringan perasaan kosmik. Ya, sama seperti mantan yang terus terbayang wajahnya.
  3. Concrescence atau proses menjadi satu, yang terdiri dari empat fase, yaitu: datum, subjective aim, subjective form, dan satisfaction). Dalam penjelasan Whitehead, concrescence adalah tahap inti di mana actual occasion menyatukan dirinya sendiri. Tahap ini, bisa digambarkan sebagai sebuah proses internal yang mengubah kemungkinan menjadi aktualitas, melalui empat fase utama yang disebutkan sebelumnya, yang mencakup: (i) datum atau kumpulan data objektif dari prehension masa lalu; (ii) subjective aim atau tujuan subjektif yang diberikan oleh Tuhan sebagai lure (godaan) menuju nilai maksimal; (iii) subjective form atau bentuk subjektif di mana data diintegrasikan dengan perasaan dan keputusan; dan (iv) satisfaction atau kepuasan akhir di mana occasion menjadi settled dan menjadi data bagi occasion Whitehead menggambarkannya sebagai “the production of novel togetherness,” di mana yang banyak menjadi satu melalui kreativitas.[14] Proses ini bukanlah proses yang linier dan mekanis, melainkan proses organik, layaknya benih tumbuh menjadi pohon melalui sintesis nutrisi (datum), panduan genetik (subjective aim), adaptasi lingkungan (subjective form), dan akhirnya buah matang (satisfaction) untuk kemudian dipetik oleh tetangga sebelah yang brengsek itu. Dalam konteks perubahan iklim misalnya, ini menjelaskan adaptasi spesies yang terjadi, di mana datum dari kondisi lingkungan lama disintesis menjadi bentuk baru, dengan aim evolusioner menuju kelangsungan hidup. Concrescence inilah yang menjamin novelty di alam semesta, sekaligus mencegah realitas jatuh pada repetisi statis.
  4. Nexus dan Dari actual occasions yang singkat, Whitehead kemudian membangun struktur yang lebih besar. Dalam hal ini, nexus adalah kumpulan occasions yang saling terkait secara longgar tanpa pola tetap. Sementara societies adalah nexus yang stabil dan berpola, seperti atom, molekul, sel, atau masyarakat manusia, yang mempertahankan karakteristiknya melalui warisan prehension dari masa lalu. Societies ini bersifat hierarkis, di mana seorang manusia misalnya bisa dilihat sebagai society of societies (tubuh sebagai society sel, sel sebagai society molekul, dan seterusnya). Whitehead menyatakan: “A society is a nexus with social order; and an enduring object, or enduring thing, is a society whose social order has taken the special form of personal order.”[15] Analoginya adalah bahwa nexus seperti kerumunan acak di pasar, lalu societies seperti komunitas terorganisir dengan aturan bersama. Dalam konteks ekologi, biosfer adalah society besar yang mencakup nexus hutan, sungai, dan spesies. Jika salah satu nexus terganggu (entah oleh pemanasan global atau pembalakan liar korporasi anjing), maka society keseluruhan berisiko runtuh. Konsep ini, dengan demikian menekankan relasionalitas. Tanpa nexus dan societies, ontologi Whitehead akan terfragmentasi dan gagal menjelaskan kestabilan di tengah becoming.
  5. Eternal objects dan prinsip kreativitas. Eternal objects atau objek-objek abadi dalam filsafat Whitehead adalah potensial murni, seperti warna merah, bentuk lingkaran, atau nilai keindahan, yang tak berubah dan tak temporal, yang berfungsi sebagai “bahan baku” bagi actual occasions untuk diaktualkan. Objek-objek abadi ini semacam Plato’s forms yang direvisi. Ia bukan realitas ultimate, tapi kemungkinan yang dipilih dalam proses. Prinsip kreativitas, sebagai ultimate principle, adalah dorongan kosmik yang memastikan “creative advance into novelty,” di mana eternal objects diintegrasikan ke dalam occasions Whitehead merumuskannya: “Creativity is the universal of universals characterizing ultimate matter of fact. It is that ultimate principle by which the many, which are the universe disjunctively, become the one actual occasion, which is the universe conjunctively.”[16] Dalam analogi, eternal objects seperti cat palet, kreativitas seperti tangan pelukis yang menciptakan lukisan baru. Dalam konteks iklim misalnya, eternal objects adalah pola potensial cuaca, sementara kreativitas adalah proses adaptasi yang menghasilkan ekosistem baru. Prinsip ini menjamin bahwa dunia bukan chaos yang acak, tapi advance yang terarah menuju intensity dan beauty, sehingga ontologi Whitehead tetap optimis di tengah ketidakpastian.

 

Melalui lima kategori ini, yakni: actual occasion, prehension, concrescence, nexus-societies, serta eternal objects yang dihidupkan oleh prinsip kreativitas, Whitehead sudah menyelesaikan fondasi ontologi organismenya. Semesta dalam visi Whitehead adalah sebuah dunia yang bukan sekadar bergerak, melainkan terus-menerus menciptakan dirinya sendiri melalui relasi, perasaan, dan kebaruan. Realitas, dalam pandangan ini, bukan lagi kumpulan benda mati yang terpisah-pisah, melainkan satu organisme kosmik yang bernapas bersama—di mana setiap elektron, setiap neuron, setiap tetes hujan, setiap debu di jendela dan pelataran, setiap nama yang teringat di pikiran, dan setiap keputusan manusia adalah simpul dalam jaringan pengalaman yang sama. Namun, jika kreativitas adalah prinsip ultimate yang menggerakkan segala becoming, lalu di manakah letak Tuhan dalam kosmologi yang begitu radikal ini? Apakah Tuhan masih bertahta di ‘arsy-Nya sebagai Penguasa transenden yang menciptakan semua ini dari ketiadaan, atau justru Tuhan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses itu sendiri? Bisakah kita melihat-Nya sebagai seorang sahabat kreatif yang turut merasakan, menderita, dan berevolusi bersama dunia yang diundang-Nya untuk terus menjadi? Pertanyaan inilah yang akan kita jelajahi pada bagian berikutnya, sebab Whitehead menawarkan salah satu rekonstruksi teologi paling berani dalam sejarah pemikiran Barat.

 

Konsep Tuhan dalam Kosmologi Proses Whitehead

Dari kategori-kategori inti ontologi organisme yang telah dibahas sebelumnya, di mana realitas muncul sebagai jaringan actual occasions yang kreatif dan relasional, Whitehead melanjutkan visinya ke ranah teologi, dengan merumuskan konsep Tuhan yang radikal berbeda dari tradisi klasik. Dalam kosmologi spekulatifnya, Tuhan bukan lagi Pencipta “ex nihilo” (pencipta dari ketiadaan) seperti dalam teologi Abrahamik tradisional, di mana Tuhan dilihat sebagai entitas transenden yang menciptakan dunia dari luar secara koersif, dengan kekuasaan absolut yang tak tergoyahkan. Sebaliknya, Whitehead memandang Tuhan sebagai realitas dipolari yang integral dengan proses kosmik, yakni: (1) primordial nature sebagai sifat primordial yang menyediakan kemungkinan tak terbatas (eternal objects) bagi segala becoming, dan (2) consequent nature sebagai sifat konsekuen yang turut berubah, merasakan, dan berevolusi bersama dunia melalui prehension atas setiap actual occasion. Konsep ini bukanlah penolakan terhadap Tuhan, melainkan rekonstruksi yang membuat-Nya lebih relevan dengan pengalaman manusia. Tuhan adalah prinsip kreatif paling utama yang persuasif, bukan seperti Thanos atau diktator kosmik yang memaksakan kehendak dari kejauhan. Whitehead menyatakan: “God is not to be treated as an exception to all metaphysical principles, invoked to save their collapse. He is their chief exemplification.”[17]

Tuhan dalam primordial nature-Nya, adalah sumber kemungkinan tak terbatas. Tuhan menjadi aspek tak berubah yang menyediakan eternal objects sebagai “lure” (godaan) bagi setiap actual occasion untuk mencapai nilai maksimal, seperti keindahan, harmoni, atau intensitas pengalaman. Ini adalah wajah Tuhan yang abadi, non-temporal, dan persuasif. Tuhan pada dimensi-Nya yang ini tidak memaksa, melainkan mengundang dunia untuk berevolusi menuju yang lebih baik melalui subjective aim yang diberikan pada setiap proses concrescence. Analogi sederhananya seperti seorang komposer yang menyediakan not-not musik tak terbatas, tapi membiarkan orkestra (dunia) memainkannya dengan improvisasi kreatif. Sementara itu, consequent nature adalah sifat Tuhan yang temporal dan responsif. Tuhan “merasakan” (prehends) setiap satisfaction dari actual occasions di dunia, sehingga Tuhan turut berubah, bukan dalam esensi-Nya, tapi dalam pengalaman-Nya yang semakin kaya. Dengan kata lain, Tuhan “menderita bersama” dunia. Ketika hutan terbakar akibat perbuatan manusia atau perubahan iklim, Tuhan merasakan penderitaan itu sebagai bagian dari consequent nature-Nya; Whitehead menjelaskan: “The consequent nature of God is his judgment on the world. He saves the world as it passes into the immediacy of his own life. It is the judgment of a tenderness which loses nothing that can be saved.”[18] Dengan kata lain, Tuhan bukan pengamat pasif, melainkan partisipan aktif yang menyelamatkan nilai-nilai dunia melalui prehension, sehingga teologi proses ala pak haji Whitehead ini menawarkan visi Tuhan yang empati dan inklusif, bukan otoriter.

Implikasi teologi proses ini saya kira sangat penting, khususnya dalam konteks hari ini di mana narasi agama tradisional sering terasa kaku di tengah ketidakpastian global. Bebrapa hal yang terpikirkan, di antaranya: Pertama, konsep Tuhan yang “menderita bersama” dunia (the suffering God who understands), seperti yang dikembangkan lebih lanjut oleh Jürgen Moltmann, menekankan bahwa Tuhan bukan imun terhadap penderitaan (seperti korban banjir di Sumatera), melainkan turut merasakannya melalui consequent nature-Nya, sehingga agama menjadi panggilan untuk ko-kreasi yang empati. Cara pandang seperti ini membalik teologi klasik di mana Tuhan seolah sangat berjarak dan tak tersentuh, dan karenanya tidak mengerti kita. Kedua, kekuasaan Tuhan bersifat persuasif (luring through value), bukan koersif (memaksa melalui kekuatan). Whitehead berargumen bahwa Tuhan mempengaruhi dunia melalui godaan nilai (subjective aim yang mengarahkan occasion menuju beauty dan intensity), bukan melalui intervensi supernatural yang melanggar proses alami dan mencederai rasionalitas. Dalam konteks lingkungan misalnya, cara pandang seperti ini harusnya dapat mendorong kebijakan yang menginspirasi perubahan perilaku melalui nilai bersama, bukan paksaan regulasi semata. Whitehead menyatakan: “The power of God is the worship He inspires.”[19]

 

Waktu, Kreativitas, dan Advance of Novelty

Pada kosmologi proses Whitehead ada satu keyakinan radikal bahwa waktu adalah real, tak terulang, dan tak terbalikkan. Whitehead menolak keras apa yang kini kita sebut block universe atau pandangan Einsteinian-Parmenidean bahwa masa lalu, kini, dan masa depan sudah “ada sekaligus” dalam satu blok empat-dimensi yang statis. Dalam pandangan block universe ini, kreativitas seringkali hanya dilihat sebagai ilusi subjektif dan segala sesuatu pada dasarnya telah selesai. Bagi Whitehead, pandangan ini adalah bentuk akhir dari fallacy of misplaced concreteness sebelumnya. Kita mengambil abstraksi matematis ruang-waktu Minkowski, lalu menganggapnya sebagai hakikat konkret realitas, padahal yang konkret justru adalah aliran becoming yang tak pernah berhenti. Dalam ungkapan Whitehead, “The ancient doctrine that ‘time is a moving image of eternity’ is here reversed.” Dengan kata lain, “Eternity is the mirror of time.”[20] Dalam visi Whitehead, bukan waktu yang menjadi bayangan pucat dari kekekalan statis, melainkan kekekalan (eternal objects dan primordial nature Tuhan) yang hanya memperoleh makna ketika diaktualkan dalam irama waktu yang kreatif. Tanpa becoming temporal, segala yang potensial akan tetap mandul.

Di sini pula rumus kosmik Whitehead yang terkencal itu muncul: “The many become one, and are increased by one.” Rumus ini bukan sekadar slogan, melainkan hukum ontologis yang menggerakkan seluruh alam semesta. Setiap actual occasion mengambil “the many” (segala data masa lalu yang di-prehend) menjadi “one” (satisfaction baru yang terpadu), lalu menambahkan satu nilai baru (novelty) yang tidak pernah ada sebelumnya. Novelty atau kebaruan ini bisa sekecil fluktuasi kuantum, seintens perubahan iklim yang memaksa spesies berevolusi, atau sebesar munculnya kesadaran reflektif pada Homo sapiens. Semua itu adalah peningkatan (increase) yang irreversibel (tidak dapat dibalik). Proses ini akan berulang tanpa henti, sehingga alam semesta bukanlah sistem tertutup yang bergerak menuju entropi dan kematian panas, melainkan creative advance into novelty, atau sebuah organisme kosmik yang terus bertumbuh dalam kedalaman pengalaman, keindahan, dan kompleksitas.[21]

Dalam konteks abad ke-21, implikasi rumus kosmik Whitehead ini sangat tajam. Misalnya, terkait krisis iklim dan lingkungan, pandangan block universe membuat kita selama ini terbiasa pasrah. Kita terpasung oleh pandangan kuno bahwa semuanya sudah ditentukan oleh hukum Fisika, dan manusia hanya penumpang dalam semesta yang bergerak dengan hukum tersebut. Ontologi Whitehead pada titik ini justru menegaskan bahwa setiap keputusan manusia, setiap kebijakan hijau, setiap emisi karbon yang dikurangi, adalah aktualisasi novelty yang benar-benar dapat mengubah arah sejarah kosmik. Masa depan bukan sudah tertulis, ia masih terbuka untuk dipersuasi oleh tindakan kita sendiri. Kita bisa memilih untuk menjaga alam ini, atau merusaknya. Visi Whitehead juga bisa berdampak asyik terhadap kehampaan eksistensial postmodern. Ketika narasi besar dianggap runtuh, maka rumus “the many become one, and are increased by one” dapat menawarkan narasi baru yang tak pernah usai. Bahwa setiap penderitaan, setiap perjuangan, setiap momen kecil di mana seseorang memilih kebaikan, adalah kontribusi nyata bagi pertumbuhan Tuhan, diri, dan kosmos. Waktu tidak membawa kita menuju ketiadaan; ia membawa kita menuju pada kebaruan yang semakin kaya. Whitehead sendiri merangkumnya dengan kalimat yang tegas: “It belongs to the nature of every ‘being’ that it is a potential for every ‘becoming’.”[22] Ontologi proses Whitehead pada akhirnya memberikan alasan penting untuk kita tetap berharap, bertindak, dan mencipta. Karena setiap detik, kosmos sedang menunggu satu novelty baru yang hanya bisa lahir melalui tangan kita sendiri.

 

Pustaka

Latour, B. (2017). Facing Gaia: Eight Lectures on the New Climatic Regime. Polity Press.

Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition: A report on knowledge. University of Minnesota Press.

Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. Macmillan.

Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press.

Cobb, J. B. (1995). Becoming a thinking Christian. Abingdon Press.

Tegmark, M. (2017). Life 3.0: Being human in the age of artificial intelligence. Knopf.

Griffin, D. R. (2001). Reenchantment without supernaturalism: A process philosophy of religion. Cornell University Press.

Whitehead, A. N. (1920). The concept of nature. Cambridge University Press.

[1] Kita menyaksikan pemanasan global bukan sebagai proses dinamis yang melibatkan interaksi holistik antara manusia, ekosistem, dan atmosfer, tapi sebagai “gangguan” eksternal yang bisa “diperbaiki” tanpa mereformasi ontologi kita sendiri. Latour misalnya mengkritik bifurcation of nature seperti ini serupa dengan Whitehead, di mana alam dipisah dari subjek manusiawi. Lihat Latour, B. (2017). Facing Gaia: Eight Lectures on the New Climatic Regime. Polity Press, hlm. 45-67.

[2] Dalam situasi seperti ini, ontologi substansialisme terlihat gagal memberikan jawaban, karena ia mengasumsikan dunia sebagai blok tetap yang bisa diprediksi, bukan sebagai alur dinamis yang penuh novelty (kebaruan). Lihat Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition: A report on knowledge. University of Minnesota Press, hlm. xxiv-xxv. Whitehead melihat hal ini secara berbeda dengan Lyotard, di mana Whitehead memprediksi krisis ini sebagai akibat dari abstraksi ilmiah yang salah tempat. Lihat Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. Macmillan, hlm. 80-85.

[3] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 21. Lihat juga Cobb, J. B. (1995). Becoming a thinking Christian. Abingdon Press, hlm. 112-130.

[4] Tegmark, M. (2017). Life 3.0: Being human in the age of artificial intelligence. Knopf, hlm. 250-265.

[5] Griffin, D. R. (2001). Reenchantment without supernaturalism: A process philosophy of religion. Cornell University Press, hlm. 140-160.

[6] Kritik ini sebenarnya muncul sebagai respons terhadap mekanisme Newtonian yang kaku, di mana dunia dilihat sebagai mesin jam yang bergerak tanpa kreativitas intrinsik. Lihat Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. Macmillan, hlm. 55-56.

[7] Whitehead secara eksplisit menyebut konsep bifurcation ini sebagai “the most disastrous doctrine in the history of modern thought.” Lihat Whitehead, A. N. (1920). The concept of nature. Cambridge University Press, hlm. 26-48.

[8] Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. Macmillan, hlm. 51-60,

[9] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 7-8.

[10] Namun demikian, sebagai disclaimer yang terlambat, tulisan ini menggunakan istilah ‘proses’ bukan dalam pengertian sehari-hari sebagai urutan mekanis, melainkan dalam konteks metafisik Whitehead untuk menggambarkan pandangan bahwa realitas adalah rangkaian kejadian relasional yang dinamis, bukan substansi tetap.

[11] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 21.

[12] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 18.

[13] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 60.

[14] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 21-22; 249-252.

[15] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 34-35.

[16] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 21.

[17] Pernyataan ini pada dasarnya mengunci posisi Whitehead, sebab Tuhan bukan “pengecualian” dari proses, melainkan pemenuhan tertinggi dari prinsip kreativitas, di mana primordial nature-Nya adalah gudang tak terbatas bagi potensial (seperti palet tak berujung bagi pelukis kosmik), sementara consequent nature-Nya adalah kanvas hidup yang terus dimodifikasi oleh karya seni dunia itu sendiri. Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 343.

[18] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 346.

[19] Implikasi ini membuat teologi proses Whitehead lebih relevan untuk dialog antaragama yang kita perlukan juga hari ini. Tuhan bukan monopoli satu tradisi, melainkan prinsip kreatif universal yang “menderita bersama” semua makhluk, sekaligus menawarkan harapan di tengah kehancuran narasi besar. Lihat Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. Macmillan, hlm. 191.

[20] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 320.

[21] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 21-22.

[22] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). The Free Press, hlm. 22.