Oleh: Bambang Q. Aness

Alif itulah hal pertama yang diajarkan ibuku saat membaca al-Quran. Bentuknya lurus, menjulang ke atas, seperti tombak yang menembus langit. Jika garisnya ditarik lurus ke bawah, mungkin bisa menembus bumi; jika ditarik ke atas, mungkin dapat menjulur ke angkasa tak terbatas .Mungkinkah alif yang menjulur ke atas dapat menjadi sulur tumbuhan yang dapat jadi jembatan menuju Dunia atas sana? Ah itu sih dongeng “Jack and the Beanstalk” (dongeng yang dipopulerkan Benjamin Tabart pada 1807).
Aliflah asal muasal segala huruf, begitu ibuku mengajariku. Saya semula tak mengerti, mungkin maksudnya semua huruf berasal dari garis: ada yang dilengkungkan, dibuat-melingkar, … pokoknya semua berasal dari garis.
Setelah mengembara dari halaman ke halaman buku saya bertemu dengan Hakim Tirmidhi yang menyebut setiap huruf ada maknya, tak sekadar tanda dari suara. Hakim Turmudzi menyeburnta ilmu huruf (‘ilm al-huruf) seuatu ilmu milik para sahabat Allah (‘ilm al-awliya). Syaikh Ibn al-‘Arabi memberikan perhatian khusus padanya dengan menulis tentang hal itu dalam bab kedua dari karya besarnya “Futuhat al-Makiyyah” menyebutkan makna huruf alif. Huruf alif saat ia ditulis di awal, harus terpisah –tak bisa disambungkan. Itu artinya, ujar Ibn Arabi, Alif melambangkan esensi transenden yang tak terdefinisi. Garis bawah alif melambangkan manifestasi universal dari keadaan tertinggi Keberadaan hingga yang terendah.
Menurut Sufi Ibn ‘Ata Allah Abbas (w. 1309): “nama ini (alif) berasal dari ulfa (pergaulan yang baik), karena ia menyatukan dan menyepakati (ta’lif) dengan huruf-huruf lainnya”. Lalu Syaikh Harith al-Muhasibi pernah menulis: “Ketika Allah menciptakan huruf-huruf, Dia memerintahkan mereka untuk taat. Semua huruf berbentuk alif, tetapi hanya alif yang mempertahankan bentuk dan gambarnya setelah diciptakan“.
Lalu saya menemukan Borges dan Paulo Coelho, keduanya menulis kisah fiksi berjudul alif. Borges menulis cerpen Aleph pada tahun 1945, Coelho menulis Novel pada 2011. Cerpen Borges, The Aleph menceritakan kisah seorang pria, narator, yang pada awalnya berduka atas kematian Beatriz Viterbo, wanita yang dicintainya. Setiap tahun ia kembali pada hari ulang tahunnya untuk menghormatinya. Ia mengenal sepupu pertamanya, Carlos Argentino Daneri, yang menganggap dirinya sebagai penyair yang baik. Tujuan hidup Daneri adalah menulis puisi epik yang menggambarkan setiap tempat di Bumi secara detail. Suatu ketika, sebuah bisnis di kota harus menggusur rumah Daneri. Daneri marah, ia tak terima. Kenapa?, tanya narrator. “Aku tak mau kehilangan ruang bawah tanah!”
Narator menganggap Daneri gila karena Danieri mempertahankan ruang bawah tanah “Di sana ada aleph, ia membantuku menulis puisi!”, ujar Danieri. Aleph?” “Ya, satu-satunya tempat di bumi di mana semua tempat ada—diliihat dari setiap sudut, masing-masing berdiri jelas, tanpa kebingungan atau percampuran.[…] Jika semua tempat di alam semesta ada di Aleph, maka semua bintang, semua lampu, semua sumber cahaya juga ada di dalamnya,” ujar Danieri.
Narator kemudian ingin melihat Aleph sendiri. Sendirian ia masuk ke ruang bawah tanah yang gelap. Awalnya ia takut Daneri ingin membunuhnya, tetapi kemudian ia mengalami Aleph. Narator menceritakan penglihatannya seperti ini:
“Di bagian belakang anak tangga, ke arah kanan, aku melihat bola kecil berkilauan dengan kecerahan yang hampir tak tertahankan. Awalnya aku mengira bola itu berputar; kemudian aku menyadari bahwa gerakan itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh dunia yang memusingkan di sekitarnya. Diameter Aleph mungkin tidak lebih dari satu inci, tetapi seluruh ruang ada di sana, nyata dan tidak berkurang. Setiap benda (misalnya, permukaan cermin) adalah tak terhingga benda, karena saya melihatnya dengan jelas dari setiap sudut alam semesta. Saya melihat laut yang ramai; saya melihat fajar dan senja; saya melihat kerumunan Amerika; saya melihat jaring laba-laba perak di tengah piramida hitam; saya melihat labirin yang hancur (itu adalah London); […] saya melihat di halaman belakang Jalan Soler ubin yang sama yang tiga puluh tahun sebelumnya saya lihat di pintu masuk rumah di Fray Bentos; Saya melihat anggur, salju, tembakau, tambang logam, uap; saya melihat gurun ekuator yang cembung dan setiap butir pasirnya; saya melihat seorang wanita di kota Inverness yang takkan pernah saya lupakan; saya melihat rambutnya yang kusut, tubuhnya yang tinggi, saya melihat kanker di dadanya; saya melihat cincin lumpur yang dibakar di trotoar, di mana sebelumnya ada pohon; Saya melihat sebuah rumah musim panas di Adrogué dan salinan terjemahan Inggris pertama Pliny – karya Philemon Holland – dan pada saat yang sama melihat setiap huruf di setiap halaman (sebagai anak kecil, saya terpesona bahwa huruf-huruf dalam buku tertutup tidak berantakan dan hilang semalaman); saya melihat matahari terbenam di Querétaro yang seolah-olah memantulkan warna mawar di Bengal; Saya melihat kamar tidur saya yang kosong; Saya melihat di lemari di Alkmaar sebuah globe bumi di antara dua cermin yang memperbanyaknya tanpa henti; Saya melihat kuda-kuda dengan rambut yang berkibar di tepi Laut Kaspia pada fajar; Saya melihat struktur tulang yang halus dari sebuah tangan; Saya melihat para penyintas pertempuran mengirimkan kartu pos bergambar; Saya melihat di etalase di Mirzapur sebuah set kartu remi Spanyol; Saya melihat bayangan miring pakis di lantai rumah kaca; Saya melihat harimau, piston, bison, pasang surut, dan pasukan; Saya melihat semua semut di planet ini; Saya melihat astrolab Persia; Saya melihat di laci meja tulis (dan tulisan tangannya membuat saya gemetar) surat-surat yang tak terbayangkan, cabul, dan detail, yang ditulis Beatriz kepada Carlos Argentino; Saya melihat monumen yang saya sembah di pemakaman Chacarita; Saya melihat debu dan tulang yang telah membusuk, yang pernah menjadi Beatriz Viterbo yang lezat; […] Saya melihat wajah Anda; dan saya merasa pusing dan menangis, karena mata saya telah melihat objek rahasia dan tak terduga itu, yang namanya umum bagi semua orang tetapi tidak ada yang pernah melihatnya – alam semesta yang tak terbayangkan.”
Setelah mengungkapkan esensi Aleph kepada pembaca, narator kemudian mengatakan bahwa tidak ada Aleph. Ia berpura-pura tidak melihat apa-apa Dalam posskrip, ia meyakinkan kita bahwa Aleph memang ada, bahkan mungkin ada banyak tempat di mana ia akan menampakkan diri. Salah satunya, berdasarkan laporan Kapten Burton, aleph ada Masjid Amr di Kairo, di masjid itu konon ada tiang batu yang mengandung seluruh alam semesta; Aleph ini tidak dapat dilihat, tetapi didengar.
Coelho dalam novelnya Aleph, menceritakan perjalanan si pencerita ke Afrika, lalu ke Eropa, dan melalui Kereta Api Trans-Siberia ke Asia, dalam perjalanan untuk menemukan kembali energi dan gairah. Dalam perjalanannya, ia bertemu Hilal, yang tidak hanya seorang pemain biola muda berbakat, tetapi juga ternyata adalah wanita yang dicintai dan dikhianati penulis lima ratus tahun yang lalu. Pengkhianatannya di masa lalu mencegahnya menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup ini. Hilal dan penulis menjalani perjalanan mistis melintasi waktu dan ruang, mengajarkan mereka cinta, pengampunan, dan keberanian untuk mengatasi tantangan hidup.
Dalam novel Coelho, kita dapat masuk ke Aleph di kereta, di lorong kecil antara dua gerbong. Paulo dan kemudian Hilal juga akan menemukan Aleph di ruang kecil ini, terutama pada malam hari yang gelap, Paulo menulis:
Saya melihat cahaya, di tempat suci, dan gelombang datang menghampiri saya, mengisi saya dengan kedamaian dan cinta, meskipun kedua hal ini jarang bersama-sama. Saya dapat melihat diriku sendiri, tetapi pada saat yang sama aku juga dapat melihat gajah-gajah di Afrika dengan belalai mereka terangkat tinggi di udara, dan ada unta-unta di gurun, orang-orang yang berbicara satu sama lain di bar di Buenos Aires […] – semuanya begitu jelas dan begitu besar, dan pada saat yang sama begitu kecil dan begitu berharga. Inilah Aleph, titik di mana segala sesuatu ada di satu tempat pada saat yang sama. Aku berada di jendela yang terbuka ke dunia dan ke tempat-tempat rahasia, ke puisi yang hilang dalam waktu dan ke kata-kata yang terlupakan dalam ruang. […] Saya berdiri di depan pintu-pintu yang terbuka sebentar lalu segera tertutup, tetapi memperlihatkan kepada kami apa yang tersembunyi di baliknya: harta karun, jebakan, jalan-jalan tak dikenal, dan perjalanan melampaui imajinasi. (Coelho 2011, 81-82)
Wow, alif yang semula saya anggap hanya kisah para sufi menjadi fiksi yang menarik. Saya mengambil pinsil dan menuliskan alif yang lurus. Merasakan pergerakan garis dari atas ke bawah, meluncur, meluas, dan menjadi huruf-huruf lain, lalu jadi semesta. Saya jadi teringat lagi pada puisi Khawja Hafiz (penyair Sufi Persia) yang menulis:
Di atas meja hati tidak ada selain alif dari postur kekasihku:
Apa yang harus aku lakukan? Guruku tidak memberi aku huruf lain untuk dihapal!
Alif yang memiliki nilai numerik satu dalam abajadun, ia mandiri, terisolasi namun aktif, menjadi huruf ilahi yang paling utama. Mengetahui alif berarti bagi para sufi untuk mengetahui kesatuan ilahi. Guru Sufi-nya Hafidz mungkin berbisik” Jika kamu mengingat huruf sederhana ini, maka tidak perlu mengingat hal lain”. Syaikh Ibn al-‘Arabi mengisahkan pengalamannya dengan Alif: “Aku mengangkat kepalaku dan aku melihat, sesungguhnya alif terdapat di segala sesuatu. Ia melakukannya sebagai respons terhadap perintah ilahi ini: ‘Angkatlah kepalamu dan lihatlah,’ kata-Nya. ‘Kamu akan menemukannya tertulis di segala sesuatu’”.
Syaikh Ibn al-‘Arabi meneruskan bocoran pengalamannya: “Kemudian Dia berkata kepadaku: ‘Alif diam sementara huruf-huruf berbicara. Alif mengartikulasikan huruf-huruf, tetapi huruf-huruf tidak mengartikulasikan alif. Huruf-huruf diatur oleh alif dan alif selalu menyertai mereka, tanpa mereka menyadarinya. Huruf-huruf adalah Musa dan alif adalah tongkatnya.’” Tongkat itu hening, meskipun hening, keajaiban ilahi terwujud dalam tongkat Musa. Demikian pula, tanda/ayat (aya) terdapat dalam alif, bukan dalam huruf-huruf, karena hanya Allah yang dapat menghasilkan efek.
Syaikh Al-Akbar lalu berbisik: “jika kamu diam, segala sesuatu akan dipandu olehmu dan jika kamu berbicara, segala sesuatu akan tersesat melalui kamu. Naiklah melampaui dan kamu akan menemukan”.
Heninglah!