PERJALANAN NAIK GUNUNG DALAM PANDANGAN TÖNNIES DAN DURKHEIM

Oleh: Arip Budiman

Seperti biasa, saya akan memulai tulisan ini dengan perkenalan. Saya adalah orang desa yang sangat betah tinggal di pedesaan. Meski pekerjaan mengharuskan saya untuk hijrah ke kota, tapi urusan tempat tinggal, saya tetap memilih di desa. Selain karena udaranya sejuk dan asri, rumah di desa harganya masih terbilang cukup murah. Saking cintanya saya pada suasana desa, seringkali saat seorang teman yang belajar di luar negeri, saya mintai foto-foto tentang suasana desa di sana. Namun, yang dikirim oleh teman saya malah foto-foto gedung pencakar langit yang ada di New York, tulisan “Hollywood” yang ada di California. Karena tidak puas dengan foto-foto yang diberikan oleh teman, akhirnya saya mencoba untuk berselancar di internet, hasilnya sama yaitu, ternyata sulit sekali untuk mendapatkan foto-foto suasana desa.

Selain orang desa, saya juga memiliki satu hobi yakni naik gunung. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari hobi ini, melainkan karena dampaknya yang mempengaruhi pada pola hidup sehat. Karena naik gunung, saya menjadi punya kebiasaan untuk olah raga lari, angkat beban, dan menjaga pola makan. Yang istimewa dari hobi naik gunung bagi saya adalah pemandangan Masyarakat desa, yang serba teratur, menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, dan lain sebagainya, suatu pemandangan yang tidak didapatkan di kota. Namun, apakah perbedaan kota dan desa hanya sebatas suasana dan panorama saja? Tulisan ini berupaya untuk membincang tentang spirit yang membedakan keduanya, dalam pengalaman saya saat mendaki gunung.

Dalam wacana sosiologi klasik (bukan bermaksud melakukan simplifikasi atasnya), sekurang-kurangnya terdapat dua cara pandang dalam memahami perbedaan dinamika Masyarakat desa dan kota. Pertama, datang dari sosok Ferdinand Tönnies dengan konsep Gemeinschaft dan Gesellschaft (Tönnies, 2012). Kedua, datang dari tokoh yang cukup terkenal dan bisa dibilang sebagai bapak sosiologi modern, Emile Durkheim dengan teorinya “Solidaritas Mekanik dan Organik”.

Sebelum lebih jauh membaca suasana desa dan kota dalam sudut pandang kedua tokoh tersebut, izinkan saya untuk menjelaskan terlebih dahulu konsep kuncinya. Gemeinschaft bisa diartikan sebagai “Paguyuban”. Gemeinschaft merupakan satu konsep yang menggambarkan hubungan masyarakat yang didasarkan pada ikatan batin, kekeluargaan, dan kesetiaan yang kuat (seperti keluarga dan desa). Sedangkan gesellschaft (Patembayan) yaitu hubungan masyarakat yang didasarkan pada pertimbangan rasional, kepentingan pribadi, dan perjanjian kontrak (seperti dalam dunia kerja). Kedua kata kunci yang dikemukakan oleh Ferdinand Tönnies, digunakan untuk menganalisis perbedaan masyarakat tradisional dan modern.

Emile Durkheim dalam bukunya yang berjudul The Division of Labour in Society (Durkheim, 2019), menjelaskan masyarakat terbagi dalam dua bentuk kohesi sosial; mekanik dan organik. Solidarité mécanique (solidaritas mekanik) adalah kohesi sosial yang lahir karena adanya keseragaman. Sedangkan solidarité organique (solidaritas organik) tercipta karena adanya pembagian kerja yang disebabkan karena keragaman fungsi yang dihasilkannya. Kiranya cukup sebagai gambaran umum untuk penjelasan lebih lanjut tentang perbedaan suasana kota dan desa dari pengalaman yang saya amati saat mendaki gunung.

 

Ferdinand Tönnies: dari Pengalaman naik Gunung melihat Paguyuban ke Patembayan

Pada suatu pagi yang cerah, dengan suhu pegunungan yang dingin di desa Thekelan, saya bersama teman-teman pendakian sedang mengemasi perbekalan dan perlengkapan yang akan dibawa dalam pendakian. Desa Thekelan adalah salah satu wilayah perkampungan yang terletak di bawah lereng gunung Merbabu, bagian sisi yang termasuk daerah administrasi Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Awalnya kami mengira, dalam soal keyakinan desa ini seragam, yakni menganut agama Islam. Di pagi itu, seorang teman merasa kaget, karena di depan rumah tempat kami menginap terdapat semacam setupa, tempat suci (sakral) bagi penganut agama Budha. Biasanya setupa juga berbentuk kecil, memfasilitasi ruang dialog sakral, tempat abu dari dupa yang dibakar. Setupa juga secara simbolik memiliki makna yang menggambarkan perjalanan sang Budha menuju nirwana, dan seringkali digunakan sebagai sarana konemplasi masyakat yang menganut agama Budha. Maklum kaget, karena saat kami datang ke desa tersebut dalam keadaan malam, jadi kami tidak melihat benda itu. Justru yang kami lihat saat malam, hanyalah bangunan masjid yang cukup megah dan besar. Jadi, awalnya kami mengira bahwa masyarakat di desa ini menganut Islam.

Meskipun dalam soal keyakinan masyarakat di desa Thekelan cukup beragam, nampaknya keragaman keyakinan yang mereka anut ini, tidak mengeliminasi ikatan sosialnya. Terlihat saat pemandangan pagi tiba, menampakan keramahan dan saling tegur masyarakat yang akan memulai aktivitasnya untuk bertani, berdagang, dan ngojek. Perbedaan tersebut lebur dalam ikatan yang disebut Fedidinand Tönnies sebagai gemeinschaft. Bagi Tönnies, masyarakat desa adalah contoh nyata dari gemeinschaft, yakni kehidupan sosial yang organik, alami, dan penuh dengan kedekatan emosional, meskipun mungkin keragaman keyakinan menjadi faktisitas. Dalam sudut pandang Tönnies, saya memaknai bahwa ikatan sosial di desa lahir dari hubungan kekeluargaan, adat, dan kebersamaan yang dianggap sebagai kodrat. Orang-orang desa terikat satu sama lain bukan karena perhitungan rasional (rasionalitas), melainkan karena perasaan memiliki dari desa tersebut. Desa adalah ruang dimana nilai kebersamaan, solidaritas, dan tradisi membentuk tatanan sosial yang stabil.

Pada sisi yang lain, dimana kami yang pada saat itu mendatangi desa Thekelan, rata-rata berasal dari kota. Bisa dibilang, kami merupakan masyarakat perkotaan. Dalam kacamata Fedidinand Tönnies kehidupan kota disebut sebagai gesellschaft. Maksudnya adalah bentuk kehidupan yang terbangun karena adanya hubungan antar individu yang bersipat kontraktual, impersonal, dan didorong oleh kepentingan. Tönnies menegaskan bahwa gesellschaft dapat dipahami sebagai kumpulan orang-orang yang secara mandiri satu sama lain, tinggal bersama di satu wilayah. Kebersamaan yang terjadi di perkotaan, terbangun dan bahkan dibangun dengan perhitungan rasional. Misalnya saja saya bisa mengambil contoh dari organisasi buruh, yang terbangun karena ada perhitungan rasional untuk bersama-sama memperjuangkan upah yang layak. Mereka bersatu, karena ada kesamaan identitas dan kesamaan perasaan atas ketidak adilan soal upah. Dengan kata lain, dalam konsep Tönnies, kota bukanlah wilayah atau rumah alami, melainkan hasil kesepakatan rasional di antara orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan dan memperjuangkan kebutuhan masing-masing.

 

Durkheim: Mekanik dan Organik dalam Kohesi Sosial

Durkheim menyebutkan bahwa yang membentuk solidaritas sosial adalah karena adanya kesamaan kesadaran. Jika melihat harmonisasi sosial yang kami amati di desa Thekelan, dalam sudut pandang Durkhemian, disebut sebagai komunitas homogen. Kohesi sosial mereka terbentuk karena adanya nilai yang sama, baik dalam soal peran dan kyakinan. Yang unik dari pandangan ini yaitu, Durkheim melihat solidaritas sosial di desa sebagai sesuatu yang “mekanik”. Alasannya yaitu, ikatan sosial di desa seperti cara kerja mesin; di mana setiap bagian dapat diganti dengan bagian yang lain karena sipatnya yang serupa. Misalnya, pada suatu kebun kopi, jika salah seorang buruh A sakit dan tidak bisa mengerjakan pekerjaannya, petani lain bisa menggantikan perannya tanpa menimbulkan perubahan besar pada struktur sosial masyarakat. Kohesi sosial di desa bersipat mekanik karena dijaga oleh tradisi dan hukum yang secara tidak langsung bersipat represif, demi mempertahankan kesatuan moral.

Sebaliknya, dalam masyarakat perkotaan modern, solidaritas yang terbentuk bagi Durkheim lebih bersipat organik. Alasan dari pernyataan tersebut, jika saya terjemahkan adalah bagaikan organ dalam tubuh; ada jantung, paru-paru, usus, lambung, dan seterusnya, meskipun berbeda, tetapi perbedaan itu menunjang untuk satu hal, yakni kehidupan. Kohesi masyarakat perkotaan tidak berangkat dari adanya kesamaan, melainkan karena adanya diferensiasi. Kota menjadi rumah yang mempertemukan individu-individu berbeda, seperti dosen, buruh, driver ojek online dan sebagainya, yang saling bergantung satu sama lain. Misalnya saja, saat rekan kerja saya malas untuk pergi keluar mencari makan, yang dilakukannya ialah pesan makanan melalui jasa gofood. Antara rekan saya dan driver gofood saling bergantung satu sama lain. Hukum yang berlaku pada kohesi sosial masyarakat perkotaan, lebih bersipat restitutif, yaitu menekankan pemulihan dan keseimbangan daripada hukuman keras.

 

Persilangan Pengertian Kesatuan atas Pandangan Tönnies dan Durkheim

Saat menyelami panorama desa dan dikaitkan pada pandangan kedua tokoh sosiologi tersebut, saya menangkap satu kunci yang cukup unik dan menarik, yakni istilah “Organik”. Tönnies menyebutnya dengan konsep Gemeinschaft sebagai organik karena kohesi sosial terbentuk secara alami, intim, dan kodrati. Sedangkan Durkheim menyebut solidaritas masyarakat perkotaan sebagai organik, karena adanya diferensiasi antar individu yang berfungsi saling melengkapi bagaikan organ dalam tubuh. Solidaritas yang ada di desa, bagi Tönnies adalah organik, karena menyatu secara alami, sementara bagi Durkheim bersipat mekanik dengan alasan ikatannya sangat homogen. Sedangkan kota, bagi Tönnies lebih mekanik (dalam bahasanya disebut gesellschaft) karena bersifat kontraktual, artifisial dan rasional, sementara bagi Durkheim justru itulah yang organik, sebab mampu mempertahankan kohesi sosial dengan fungsi yang berbeda, melalui pembagian kerja yang kompleks dan saling tergantung.

Dari Tönnies dan Durkheim kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana cara memahami tentang realitas kehidupan sosial. Mereka berdua memberikan semacam kacamata yang mengkerangkai kita untuk memahami bagaimana desa dan kota dalam menata kehidupan sosil. Tönnies lebih terkensan romantis dan melankolis, karena memandang ikatan alam dan masyarakat di desa sebagai keteraturan. Sementara Durkheim lebih bernuansa optimis, karena baginya modernisasi membawa bentuk kohesi baru yang tidak kalah kuat dalam ikatan sosial. Selanjutnya, pembaca tinggal memilih apakah ingin menjadi seorang yang melankolis atau optimis saat melihat realitas masyarakat perkotaan dan pedesaan. Tentu, dua pandangan ini seharusnya kita perlakukan sebagai kekayaan kacamata, tanpa terjebak pada kacamata mana yang lebih keren saat dipakai, apakah hitam atau putih. Saat di padang pasir yang suasananya serba silau, dan kita ingin mencari tutup pulpen yang jatuh, tentu kita akan kesulitan jika menggunakan kacamata bening yang tidak mampu menghalau kepenuhan cahaya. Sementara itu, jika saya ingin mencari tutup pulpen yang jatuh di kosan seorang teman yang suasananya serba gelap, karena sedang efisiensi listrik dengan menggunakan lampu 5 wat, saya akan merasa kesulitan untuk mencarinya jika menggunakan kacamata hitam. Secara pribadi, saya cenderung Tönniesian. Tapi posisi saya sebagai dosen, yang menyiapkan mahasiswa untuk hidup di zaman yang dirinya tidak lagi menjadi bagiannya, saya memilih Durkhemian. []

 

Bacaan:

Durkheim, E. (2019). The division of labor in society. In Social Stratification, Class, Race, and Gender in Sociological Perspective, Second Edition (pp. 178–183). Routledge.

Tönnies, F. (2012). Studien zu Gemeinschaft und Gesellschaft. Springer-Verlag.

WhatsApp
Facebook
Email
Print