MI‘RĀJ EKOLOGIS: THE BIRDS WHO FLEW BEYOND TIME

Oleh: Bambang Q. Anees

Miraj Ekologis

Kisah Mi‘rāj benar-benar inspiratif. Setelah mengilhami Fariduddin Attar menjadi kisah burung-burung mencari dirinya, Manthiq ath-Thayr, menginspirasi publik Eropa. Dante konon terinspirasi tulisan Attar ini dan menuliskan Divine Commedy. Lalu Anne Baring mengadaptasinya menjadi buku anak-anak berjudul The Birds Who Flew Beyond Time (1993). Buku karya Anne Baring sangat istimewa karena mengadaptasi buku Manthiq ath-Thayr karya Attar menjadi Mi‘rāj Ekologis sekaligus penemuan diri sejati.

The Birds Who Flew Beyond Time adalah buku cerita anak -anak yang dimulai dari persoalan ekologis dan menjadikan Mi‘rāj burung-burung sebagai cara mengatasi persoalan ekologis. Adaptasi ini dapat dikatakan sebagai “Mi‘rāj Ekologis”, karena perjalanan ruhani diarahkan untuk penyelamatan bumi dari kerusakan.  Anner Baring adalah  seorang analis Jungian dan sejarawan yang mengkaji psikologi, mitologi, ekologi, dongeng, dan alkimia. Ia mengadaptasi kisah Manthiq ath-Thayr untuk menyoroti kebutuhan mendesak umat manusia untuk terhubung kembali dengan  sifat feminin ilahi (Ibu Pertiwi) dan dunia kehidupan. Karya-karya Anna Bering seperti The Myth of the Goddess: Evolution of an Image (1980), The Mystic Vision (1995), The Divine Feminine (1996), Soul Power: An Agenda for a Conscious Humanity (2009), dan The Dream of the Cosmos: a Quest for the Soul (2013). Minatnya pada mitos membuatnya mengadaptasi Manthiq ath-Thayr menjadi cerita anak-anak. Ia juga mengadaptasi kisah mitos lain seperti Cinderella, Puteri Tidur, untuk transformasi diri.

Sekarang mari kita lihat bagaimana Baring mengadaptasi kisah Manthiq ath-Thayr untuk tema Ekologi.

The Birds Who Flew Beyond Time

Kisah dimulai dari persoalan ekologis.  Suatu hari, Ibu Bumi merasa sangat sedih dan mengirim pesan kepada burung-burungnya di seluruh dunia untuk berkumpul. “Aku membutuhkan bantuan kalian. Kalian yang telah terbang ke mana-mana pasti sudah melihat apa yang akan kuceritakan ini. Kerusakan sudah dimana-mana, hutan gundul, sungai keruh, udara bau logam, panas tak menentu. Belum lagi perang terjadi dimana-mana, mencabik-cabik tubuhku dengan bom-bom. Jutaan anak kelaparan. Aku sangat sedih. Racun terkubur jauh di dalam tubuhku. Hanya sedikit yang mendengarkan seruanku minta tolong. Kalian, burung-burung, telah melihat semua ini. Maukah kalian membantuku?”.

Burung-burung itu merasa kasihan dan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Ibu bumi meneruskan perkataannya, “Kalian harus terbang ke tempat yang terletak di sebelah timur matahari dan sebelah barat bulan, di ujung waktu, di luar tujuh lembah.  Tempat ini bukan di sini maupun di sana. Untuk menuju tempat itu kalian harus mengalahkan para monster dari tujuh lembah. Lalu setelah itu kalian harus menyelam hingga ke dasar laut dan mencari taman tempat ‘Rumah Harta Karun Tersembunyi’.  Di rumah itu ada ‘Makhluk Agung’. Yang tidak pernah tua dan tidak pernah muda. Yang merupakan kehidupan dari semua kehidupan. Berbicaralah kepada Makhluk ini. Katakan bahwa aku, ibu Bumi,  dalam bahaya dan telah mengutusmu untuk meminta bantuan. Setelah itu, kutunggu pesan yang kau terima itu.”

Sejumlah burung itu mengajukan keberatan dan menawarkan alasan rasional mengapa mereka harus dimaafkan. Beberapa meragukan keseriusan penderitaan Ibu Bumi dan keberadaan Makhluk Agung. Burung yang lain merasa tidak mampu menghadapi cobaan seperti itu dan enggan untuk melakukan apa yang bisa menjadi usaha yang sia-sia. Pada saat itu, muncullah Burung Hudhud—pemandu dari “dunia yang tak terlihat”. Burung Hudhud memiliki wawasan yang luas dan kebijaksanaan untuk menjawab semua keraguan dan menginspirasi sifat luhur para burung. Hudhud meneruskan penjelasannya, “Aku dapat membimbingmu ke tempat yang berada di sebelah timur matahari dan barat bulan. Aku telah terbang menempuh jalan yang sunyi dan berbahaya melalui tujuh lembah menuju harta karun tersembunyi di kedalaman laut. Aku telah melihat menembus ratusan ribu tabir cahaya dan kegelapan yang terbentang di antara kita dan Sang Maha Pencipta”.

Di antara burung itu bertanya, “Kenapa harus melakukan perjalanan aneh ini?”; Hudhud menjawab, “Dahulu kala, pada hari-hari pertama, Sang Maha Pencipta menjatuhkan ‘Bulu Emas’ ke Bumi. Setiap burung membawa Bulu Emas itu di dalam hatinya. Bulu Emas inilah yang menyebabkan para burung dapat terhubung dengan semua burung lainnya,  serta dengan Sang Maha Pencipta. Bulu Emas itu dapat membuat kita dapat mengatasi semua rintangan hidup. Sayangnya kita sudah lama melupakannya, karena itu kita harus ke rumah itu untuk menemukan kembali Bulu Emas.” Hudhud juga memberi tahu bahwa perjalanan ini dapat dilakukan dengan kerjasama dan terutama membutuhkan keberanian seekor elang, penglihatan malam seekor burung hantu, kebijaksanaan seekor gagak, dan kelembutan seekor merpati.

Perjalanan pun dilakukan, burung-burung itu harus melintasi tujuh lembah, masing-masing lembah dihuni oleh monster-monster. Pertama-tama harus melintasi lembah Keraguan (doubt), kemudian Mimpi Palsu (false dream), Iri Hati (envy), Kebencian (hate), Kekuatan (power), Kekejaman  dan Keputusasaan (cruelty and despair).

Lembah Pertama, Lembah Keraguan

Burung-burung itu terbang melewati satu gunung, lalu beristirahat di satu lembah dengan kabut tebal berwarna abu-abu. Bau air got yang bacin memenuhi hidung mereka. Kabut tebal dan keruh menyelimuti dan membungkus mereka, membutakan dan membuat mereka tersesat. Lembah itu dipenuhi lumpur yang basah, lengket, dan bau. Saat itu mendadak muncul keraguan di hati mereka mengenai perjalanan itu. “Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini. Sayap dan keberanian kita tidak cukup kuat untuk membawa kita melewati kegelapan ini dan kita gemetar ketakutan. Kita belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Jika kita terbang ke lembah ini, sudah pasti kita tidak akan pernah menemukan jalan keluarnya.” Beberapa burung jatuh ke tanah dalam tumpukan yang lusuh dan berkata bahwa mereka tidak ingin melanjutkan perjalanan. Beberapa burung lain ini terbang kembali ke Bumi.

Burung Hudhud membisiki mereka, “Di lembah ini memang ada monster keraguan. Ia menghembuskan keraguan dengan suara yang hampir tak terdengar. Saking lembutnya bisikan monster ini, kalian anggap bisikan itu berasal dari hatimu sendiri. Jangan dengarkan bisikan-bisikan ini. Itu bukanlah suara aslimu, melainkan suara monster yang berpura-pura menjadi dirimu dan akan mencoba membuatmu melupakan suara aslimu.” Kabut semakin menebal dan bau bacin tercium dimana-mana. Pandangan terasa lamur dan bulu-bulu burung itu terasa berat. Awalnya, mereka tidak mendengar apa pun, dan kemudian, begitu samar sehingga seperti jatuhnya daun, keraguan semakin menebal. Burung Hudhud berbisik, “Percayalah pada diri sendiri, karena itulah sihir yang akan mematahkan mantra Monster Keraguan. Ingatlah Bulu Emas yang kuceritakan,  ia bersinar seperti bintang di hatimu.  Tempat bulu itu adalah jimat yang akan melindungimu dari semua bahaya di tujuh lembah.”

Tiba-tiba, burung Bulbul bernyanyi dan burung Merpati mulai bersenandung  melagukan melodi yang begitu merdu. Semua burung-burung yang mendengarnya terpesona dan melupakan bisikan keraguan. “Ikutilah musik jernih burung Bulbul dan nyanyian lembut burung Merpati!”, seru Burung Hudhud. Burung-burung itu menemukan suara sejatinya dan berkata kepada monster itu, “Kau tidak bisa memenuhi diriku dengan kabut keraguan. Aku tidak akan mendengarkan kata-katamu. Aku cukup baik. Aku cukup pintar, aku cukup kuat untuk mencapai Makhluk Agung. Aku akan mengatasi kekuatan mantramu.” Saat ia mengucapkan kata-kata ini, sayapnya yang basah dan berat menjadi lebih ringan untuk terbang meninggalkan lembah itu.

Lembah Kedua, Lembah Mimpi Palsu

Burung-burung yang terlepas dari keraguan terbang kembali dan sampailah pada lembah kedua. Lembah itu redup dengan aroma yang membuat mereka mengantuk. Suara lembut terdengar berbisik, “Ikuti aku!”, katanya, “dan aku akan menunjukkan jalan yang lebih cepat dan mudah ke taman Sang Maha Agung. Ikuti aku dan aku akan memberimu minuman istimewa yang akan membuatmu berani dan kuat. Datanglah ke arahku dan aku akan memberimu mimpi yang membuatmu melupakan perlengkapan dan kesepianmu.” Lalu, cakar tak terlihat mengulurkan benda-benda aneh untuk mereka minum, yang berbau manis dan lezat.

“Jangan dengarkan suara ini!”, teriak burung Gagak, “Atau kau akan jatuh ke dalam tidur lelap, jangan minum apa yang ditawarkan monster itu kepadamu atau kau akan lupa siapa dirimu dan hidupmu akan hilang.” Burung Bangau menyesap obat mematikan itu. Lamat-lamat ia ingat pesan Hudhd dan berjuang keras untuk tetap terjaga,  ia meminta  bantuan burung-burung lain  ternyata mereka pun mulai tertidur.  Bangau mencoba menaikkan ingatannya pada Bulu Emas, segeralah hembusan udara segar yang jernih bertiup melalui lembah. Kini burung Bangau telah sadar, ia selamatkan teman-temannya dengan berteriak keras, “Kami tidak menginginkan Mimpi Palsumu. Kami tidak akan tinggal di lembahmu. Kami mencintai Bumi dan ingin membantunya. Kami mencintai dan mempercayai diri kami sendiri dan satu sama lain. Kami tidak akan melupakan siapa kami.” Bangau dan burung-burung lain yang tidak tertidur lelap melanjutkan perjalanannya.  Tetapi beberapa burung, yang telah minum terlalu banyak obat yang rasanya sangat manis, lupa siapa mereka dan tertidur di Lembah Mimpi Palsu. Dan, mereka tertinggal.

Lembah Ketiga, Lembah Iri Hati

Burung-burung itu, terbang terus, menuju kegelapan lembah ketiga, Lembah Iri Hati. Seketika itu juga mereka dapat merasakan mantra kuat dari monster lembah ini. Setiap burung mendambakan untuk menjadi seperti burung lain. Burung Kolibri ingin menjadi kuat seperti Elang; Elang ingin menjadi cerdas seperti burung Hantu; burung Hantu ingin menjadi cantik seperti Merak; Merak ingin bernyanyi seperti burung Tekukur; burung Tekukur ingin menjadi perkasa seperti Elang; dan Elang ingin menjadi lebih perkasa dari gabungan semua burung lainnya. Saat iri hati menyerang mereka, mereka merasakan bulu-bulu mereka terperangkap dalam jaring-jaring tak terlihat, seperti jaring para pemburu yang mereka takuti di Bumi. Lalu terdengarlah suara iri hati monster yang mengejek, “Kalian terlalu tak berdaya dan terlalu lemah untuk mematahkan mantraku. Kalian tidak akan membebaskan diri dari jaring Iri Hati karena jaring itu sekuat besi.” Burung-burung itu meronta dan berjuang di dalam jaring, sayap mereka robek dan memar, dan paruh mereka sakit karena mematuk terus-menerus.

Burung Hudhud kembali berbisik, “Ingatlah bulu di dalam hatimu. Ingatlah Bulu Emas, sehalus jaring laba-laba, selembut sayap kupu-kupu, bersinar seperti bintang, yang menghubungkanmu satu sama lain dan kepada Sang Maha Pencipta. Lepaskan keinginanmu untuk menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri dan jaring-jaring iri hati akan lenyap.” Saat mereka mengingat Bulu Emas di hati mereka, burung terkecil dan terlemah, burung Kolibri dan burung Pipit, menemukan cara untuk memotong benang jaring dan membuat lubang sehingga burung-burung yang lebih besar dapat menyelinap melewatinya dan terbang bebas. Tetapi beberapa burung telah rusak sayapnya hingga tak dapat diperbaiki dan tidak mampu terbang lagi. Burung lain yang bisa terbang harus meninggalkan mereka sambil menangis melihat teman-temannya yang terperangkap dalam jaring Iri Hati dan berharap mereka mampu menyelamatkan mereka.

Lembah Keempat, Lembah Kebencian

Burung-burung yang bebas terbang menuju kegelapan lembah keempat, Lembah Kebencian. Dari kejauhan mereka melihat gunung berapi memuntahkan api dari kerucutnya. Angin seperti tornado menderu ke arah mereka. Sungai-sungai lava cair yang menyala mengalir menuruni sisi gunung, menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya. Panasnya api itu membakar udara dan membuat mereka merasa lemas dan mual. Awan percikan api putih panas melesat ke arah mereka. Saat itu terdengar raungan yang menggelegar memenuhi seluruh lembah, “Tidak ada yang bisa melawanku. Di mana Kebencian berkuasa, tidak ada yang hidup. Jalanmu melewati aku dan kau akan terbakar menjadi abu saat kau terbang”.

Burung-burung itu gemetar ketakutan, sebagian terbakar api dan hangus.  Sebagian burung-burung itu mengikuti jalur yang dipimpin oleh Ayam Hutan dan selamat. Ayam Hutan terengah-engah kesakitan saat percikan api jatuh di bulunya, tetapi dengan berani ia terbang menembus api yang menakutkan itu. Meskipun ia telah menderita hebat dalam perang di Bumi, ia tidak menyerah pada mantra Kebencian. Keberanian Ayam Hutan ini  menginspirasi semua burung lainnya. Burung Hudhud menyemangati mereka, “Jika kalian selamat, kalian telah mematahkan mantra Monster Kebencian. Kalian adalah burung-burung yang luar biasa kuat dan berani karena telah melewati lembah ini dan banyak berkah akan datang kepada kalian.” Beberapa burung tergeletak mati di dasar lembah. Ketika burung-burung yang tersisa melihat mereka, mereka menangis sedih atas teman-teman mereka yang telah mati dalam kobaran api kebencian dan berharap mereka dapat menghidupkan mereka kembali.

Lembah Kelima, Lembah Kekuatan

Burung-burung yang selamat mengikuti Burung Hudhud ke dalam kegelapan lembah kelima. Lembah itu begitu dingin dan kosong seperti planet mati, kering seperti bubuk debu putih. Tidak ada warna hijau terlihat. Udara begitu kering dan tipis sehingga burung-burung itu terengah-engah. Ketakutan, seperti tangan besi yang tak terlihat, mencengkeram tenggorokan mereka. Tiba-tiba raungan monster terdengar seperti longsoran tanah, “Aku mengendalikan segalanya. Aku tahu kebenaran segalanya. Aku selalu benar. Jika kalian tinggal di lembahku, aku akan memberi kalian semua kekuatan, semua kendali, semua pengetahuan yang kalian inginkan, sehingga orang lain harus mematuhi kalian. Kalian tidak akan pernah lagi menjadi burung yang lemah, tak berdaya, dan bodoh. Kalian tidak akan pernah lagi perlu menderita.”

Burung-burung ini ragu-ragu. Mereka mulai merasa lumpuh oleh sinar hitam tak terlihat dari Monster Kekuatan. Burung Merak itu tidak bisa bergerak. Ia mencoba menjulurkan ekornya tetapi tidak berhasil. Ia merasa hatinya semakin berat dan dingin seolah-olah berubah menjadi batu. “Bangun!” teriak Burung Hudhud, sambil terbang bolak-balik dengan panik di depannya, berteriak memohon agar mantra itu patah. “Bangunlah sebelum terlambat atau kalian akan kehilangan hatimu selamanya. Monster Kekuatan sangat cerdas, seperti Monster Mimpi Palsu. Ia akan membujukmu untuk tetap tinggal di lembah ini dan melupakan pencarianmu akan Makhluk Agung dunia yang tak terlihat.” Burung Merak mendengar suara Hudhud seolah-olah datang dari jauh, dari dasar laut. Ia mengepakkan sayapnya sekuat tenaga dan melompat-lompat. Tetapi tidak dapat mematahkan mantra Monster Kekuatan sendirian. Merak pun berteriak meminta bantuan. Pada saat itu, ratusan burung pipit kecil terbang di antara dia dan sinar untuk melumpuhkan Monster Kekuatan. Akhirnya, burung Merak terbebas dari mantra mengerikan itu dan selamat. Beberapa yang tidak selamat berubah menjadi batu dan tidak dapat terbang keluar dari lembah.

Lembah Keenam, Lembah Kekejaman

Kini burung-burung yang tersisa mendekati kegelapan lembah keenam, Lembah Kekejaman. Burung Hoope memperingatkan mereka, “Kalian harus menemukan keberanian untuk menghadapi kekejaman kalian sendiri.” Saat mereka terbang ke Lembah Kekejaman, gelombang demi gelombang makhluk bersayap berteriak keluar dari gua-gua di gunung menyerang mereka. Setengah burung, setengah iblis, masing-masing dipersenjatai dengan cakar yang kejam dan tali setajam jarum. Racun mereka meracuni burung-burung sehingga banyak yang jatuh ke tanah seolah mati. Burung-burung gemetar ketakutan saat mereka meringkuk di hadapan makhluk bersayap ini. Saat itu mereka mendengar suara di hati mereka berkata, “Tidak apa-apa untuk menjadi kejam. Menyenangkan untuk menjadi kejam. Kejam itu membuatmu berani, dan itu keren!”

Burung Elang yang berpengalaman bertarung mencoba untuk melawan. Tiba-tiba, ia melihat bahwa beberapa dari mereka adalah hantu burung-burung yang telah ia bunuh dalam pertempuran. Ia berhadapan langsung dengan kekejamannya sendiri Elang menyerah dan berseru kepada monster lembah itu, “Aku tidak akan bertarung lagi. Hentikan makhluk-makhluk berbulumu ini! Bebaskan mereka dari mantramu! Biarkan aku berteman dengan mantan musuhku. Membunuh hanya membawa lebih banyak kematian!” Monster itu menjawabnya, “Wahai Elang, apakah kau pikir seekor burung dapat mematahkan kutukan sepuluh ribu tahun? Apa artinya kemauanmu yang lemah melawan kemauanku? Apakah kau pikir burung-burung iblis ini akan berhenti bertarung karena kau mengajak mereka berteman? Kau mungkin berani, tetapi kau bodoh!” Burung Elang itu berseru, “Aku sekarang adalah pejuang atas nama kehidupan. Aku memanggil kekuatan nama suci Sang Maha Pencipta, dan nama-nama burung di Bumi untuk berdiri bersamaku demi kehidupan melawan kematian. Kutukanmu telah patah.”

Kemudian semua burung berteriak keras dan menghancurkan gunung tempat Monster Makhluk itu tinggal. Kutukan mengerikan Makhluk itu patah selamanya. Tapi, banyak burung telah mati dan mayat-mayat mereka berserakan di lembah. Dari celah gunung di atas lembah, Ayam Hutan menoleh ke belakang dan menangis dengan sedih. Tiba-tiba ia melihat hati emas bersinar di langit dan tahu bahwa cinta yang ia rasakan untuk teman-temannya yang hilang dalam pertempuran itu suatu hari akan menghidupkan mereka kembali.

Lembah Ketujuh, Lembah Keputusasaan

Beberapa burung yang selamat terus terbang menuju kegelapan lembah ketujuh. Sang Burung Hudhud berkata, “Hati-hati dengan suara monster di lembah ini. Jika kalian terpengaruh, kalian akan melupakan diri sendiri dan mati karena ketakutan. Dengarkan baik-baik suara burung Tekukur dan carilah ‘cahaya Rubi’ di dadaku. Ini adalah ujian terakhir kalian dan yang paling sulit!” Di lembah ini, burung-burung tidak dapat melihat apa pun. Kegelapan itu sehitam sayap burung gagak. Napas monster itu mencekik mereka seperti ular piton. Itu membuat mereka merasa mati rasa dan kedinginan dan begitu lemah dan lelah sehingga mereka ingin mati.

Burung hantu itu merasakan kekuatan monster itu mencengkeramnya seperti tentakel gurita, menariknya semakin dalam ke dalam kegelapan es yang lebih dingin daripada air terdingin yang pernah dia rasakan di Bumi. Suara monster terdengar, “Kau telah gagal dalam pencarian ini, perjalananmu sia-sia. Tidak ada gunanya melakukan apa pun. Kau tidak akan pernah meninggalkan lembah ini karena tidak ada apa pun di baliknya. Sekarang kau tidak akan pernah mencapai taman itu. Tidak ada taman. Tidak ada harta karun. Tidak ada Makhluk Agung di ujung waktu. Tidak ada pesan untuk membawa kembali ke Bumi. Kau akan lenyap dalam kegelapan selamanya.” Suara monster itu membuat burung hantu itu merasa mual karena ngeri, tetapi tepat ketika dia merasa dirinya hampir tergelincir ke dalam kegelapan dia mendengar suara burung Tekukur yang melambung tinggi, jernih dan nyaring.

Burung Hudhud berseru keras kepada semua burung, “Ayo! Ingatlah Bumi, demi siapa kalian telah melakukan perjalanan sejauh ini. Pejamkan mata kalian, kalian akan melihat seberkas cahaya putih, sekuat laser, mengalir ke lembah dari taman Sang Maha Agung. Cahaya itu melarutkan kegelapan. Ikuti berkas cahaya cemerlang ini dan kalian akan mematahkan mantra monster terakhir.” Saat ia berbicara, permata Rubi di dadanya bersinar seperti jantung yang berdenyut dalam kegelapan. Burung-burung yang hampir tak berdaya oleh keputusasaan mengingat Bumi dan cinta mereka padanya serta melihat berkas cahaya batu Rubi yang terang. Dipimpin oleh burung Hantu, mereka mulai terbang keluar dari jebakan. Lalu semua burung bernyanyi bersama, satu nyanyian yang membuat monster keputusasaan itu musnah.

Rumah Harta Karun

Beberapa burung yang lelah dan akhirnya tiba di “Rumah Harta Karun” (House of the Treasure) terkejut mengetahui bahwa Sang Maha Pencipta tidak akan memberikan pesan untuk menyelamatkan Bumi, “Kalian sendiri adalah pesan itu. Kalian telah mematahkan mantra monster dari tujuh lembah. Kalian bukan lagi burung-burung yang lemah, tak berdaya, dan bodoh. Kalian tahu bahwa Aku adalah hati dari setiap kalian, dan kalian berada di dalam Hati-Ku selamanya. Sekarang kalian dapat kembali ke Bumi dengan mengetahui bahwa setiap atom, setiap batu, setiap daun, setiap pohon di Bumi diterangi oleh satu cahaya rahasia yang memancar dari-Ku. Di mana pun kau berada, kau hanya perlu membayangkanku dan aku akan bersamamu. Jika kau cemas, aku akan memberimu kekuatan dan kebijaksanaan. Jika kau takut, kau hanya perlu membayangkan cahayaku dan cahaya itu akan bersinar di hadapanmu. Kau telah terbang melampaui batas waktu sehingga kau tahu tidak ada kematian, melainkan hanya satu kehidupan abadi. Ceritakan kepada semua anak-anak Bumi apa yang telah kau lihat agar mereka tidak takut mati. Pergilah sekarang, Burung-burungku yang terkasih, dan ceritakan kisahmu kepada Bumi.”

Saat mereka melakukan perjalanan kembali ke Bumi, sepenuhnya pulih, burung-burung menemukan bahwa lembah-lembah yang mematikan telah menjadi taman-taman yang indah dan rekan-rekan mereka yang gugur kini bebas untuk bergabung dengan mereka. Bumi pun pulih dan mekar sepenuhnya. Ia meminta burung-burung untuk menceritakan kisah mereka kepada anak-anak di mana pun; karena ia tahu bahwa ketika anak-anak muda mendengarnya, mereka akan ingin melestarikan Bumi untuk semua anak-anak-Nya di masa depan.

Refleksi

Anne Baring cukup indah mengadaptasi kisah Manthiq at-Tayr menjadi Mi‘rāj Ekologis. Burung (makhluk hidup) dan Bumi (rumah makhluk) tentu saja komponen utama dari ekologi. Bukankah ekologi berbicara tentang oikos (rumah, tempat tinggal) bagi makhluk hidup. Burung-burung itu dikisahkan Anne Baring melakukan misi penyelamatan bumi atas perintah Ibu Bumi. Sepintas kisah ini menguatkan biosentrisme, paham etika ekologi yang mendorong perubahan pusat dari manusia pada makhluk hidup. Etika  atau gampangnya kebaikan dalam kerangka ekologi sudah seharusnya tidak berpusat untuk kepentingan manusia (antroposentrisme), namun mempertimbangkan kebaikan makhluk hidup secara umum (biosentrisme).

Perjalanan burung-burungnya Anne Baring sepintas mirip dengan Attar, setelah melewati 7 lembah, burung-burung itu tidak menemukan apa-apa kecuali dirinya sendiri. Attar mengisahkan bahwa 30 burung tersisa akhirnya bertemu Simorgh. Kata Simorgh dalam bahasa Persia berarti 30 burung, jadi ke-30 burung-burung Attar itu sebenarnya menemukan dirinya sendiri. Sementara pada Anne Baring, perjalanan mengambil pesan dari Yang Maha Pencipta pada akhirnya tak berhasil. “Kalian sendiri adalah pesan itu,” begitulah yang disampaikan Yang Maha Pencipta saat bertemu burung-burung itu.

Anne Baring telah mengubah kisah Manthiq ath-Thayr yang semula hanya tentang pencarian eksistensi diri, diubah menjadi pencarian eksistensi diri sekaligus penyelamatan ekologi Bumi. Tujuh lembah pada Attar, seperti pada artikel Mi‘rāj Attar, adalah representasi dari 7 tingkatan nafs (Ammārah, Lawwāmah, Mulhimah, Muthma’innah, Rādliyah, Mardliyah, dan Kāmilah). Pelampauan ketujuh nafs ini menunjukkan pencapaian kesempurnaan diri. Sementara pada Anne Baring, ketujuh lembah itu adalah Keraguan (doubt), kemudian Mimpi Palsu (false dream), Iri Hati (envy), Kebencian (hate), Kekuatan (power), Kekejaman dan Keputusasaan (cruelty and despair). Ketujuh monster ini adalah penyebab kerusakan ekologi, jika manusia telah menolak memiliki ketujuh sifat ini maka alam niscaya lestari. Pada sisi lain, secara bersamaan, ketiadaan ketujuh sifat ini juga menjamin seseorang menjadi pribadi yang utuh (fulfillment) seperti dikemukakan oleh Yang Maha Pencipta pada burung-burung itu “Aku adalah hati dari setiap kalian, dan kalian berada di dalam Hati-Ku selamanya”. Jadi, Anne Baring seperti sedang menyatakan, siapa yang mencapai pengalaman puncak ruhani niscaya akan menjaga alam ini. Di sini Anne Baring seperti sedang mengampanyekan eco-spiritual.

Pada sisi lain, Anne Baring menggunakan kekuatan Bumi untuk membicarakan Ekologi. Bumi digambarkan berduka dan mendorong terjadinya perbaikan ekologi. Ini tentu mirip dengan Deep Theology yang berpusat pada Gaia (dewi Bumi, atau Ibu Pertiwi). Pilihan perspektif Anne Baring ini bukan tak disengaja, Anne Baring memang meyakini perlunya persatuan antara aspek maskulin dan feminin. Pada tulisan “A Crucial Time of Choice” Baring mengemukakan,

As a Jungian analyst and a historian, I would like to offer an archetypal overview of why the current crisis may have come into being; showing when, where and how the masculine and feminine archetypes–reflected in the image of a God or Goddess–became separated, and why this separation has had such a deep impact on Western civilization.

[Sebagai seorang analis Jungian dan sejarawan, saya ingin memberikan gambaran arketipal tentang mengapa krisis saat ini mungkin terjadi; menjelaskan kapan, di mana, dan bagaimana arketipe maskulin dan feminin—yang tercermin dalam gambaran seorang Dewa atau Dewi—menjadi terpisah, dan mengapa pemisahan ini telah memiliki dampak yang begitu mendalam pada peradaban Barat.]

Anne Baring menjadikan tujuh lembah sebagai tujuh sifat negatif yang dimiliki manusia, lalu mengandalkan Burung Hudhud sebagai pemandu sampai lembah ketujuh. Jika merujuk pada tingkatan jiwa, Keraguan (doubt), Mimpi Palsu (false dream), dan Iri Hati (envy), Kebencian (hate), Kekuasaan (power), Kekejaman  dan Keputusasaan (cruelty and Despair) adalah sifat-sifat nafs ammārah, lawwāmah, dan mulhimah awal. Jadi puncak yang dibayangkan Anne Baring dalam kerangka Attar sebenarnya baru sampai pada nafs mulhimah atau paling jauh pada muthma’innah. Apapun itu, apa yang dilakukan Anne Baring perlu diacungi jempol, ia menjadikan kisah Attar menjadi hidup dan kontekstual.

Kita yang Muslim sudah saatnya belajar kembali menghargai masa lalu dengan cara kreatif seperti Anne Baring. Kisah Mi‘rāj menjadi menarik di tangan Anne Baring, namun di tangan kita masih berputar-putar mengenai pengalaman mistis yang bertumpu pada kehebatan yang mengalami. Iqbal sebenarnya sudah memulai dekonstruksi pengalaman Mi‘rāj itu. Mi‘rāj di tangan Iqbal bukan bertemu dengan para Nabi namun dengan pemikiran yang menggugah untuk mencipta peradaban baru.

Kita, selagi masih ber-nafs, tentu punya peluang lain yang lebih baru dan seru. Entah untuk mengutuhkan spiritualitas kita atau untuk menolong Ibu Pertiwi yang juga menangis karena bencana ada di mana-mana. Sebagai burung-burung ruhani, jiwa kita bisa memberikan pesan pada negeri ini bahwa pencapaian spiritualitas ditentukan dari ekologi yang sehat.

Wallahu A’lam!