Oleh: Bambang Q. Anees

“Attar berkelana melalui tujuh kota cinta, sementara kita baru saja berbelok di jalan pertama” (Jalaluddin Rumi)
“Jika Mi‘rāj-nya benar, buahnya transformasi sosial; jika Mi‘rāj-nya hanya cerita fantastis, kayaknya ketemu yang bukan-bukan”, demikian seorang teman mengomentari artikel Mi‘rāj 1 dan 2. Mungkin benar begitu, Rasulullah Muhammad-lah modelnya. Sejarah mencatat, setelah Mi‘rāj itu Rasulullah Muhammad jadi penuh semangat untuk mencari jalan keluar dari persoalan di Makkah. Ia bertemu dengan banyak utusan dari Yastrib, negosiasi segala kemungkinan, kemudian bergerak senyap melakukan hijrah ke Yastrib dan setelah itu sejarah mencatat, peradaban baru terbentuk. Di sini terlihat hijrah atau transformasi sosial sebagai buah dari Mi‘rāj.
Tapi transformasi sosial itu hanya mungkin terjadi oleh pribadi-pribadi yang sudah menemukan kepenuhan dirinya. Transformasi sosial tanpa pribadi yang sudah fulfillment hanya akan menjelma menjadi kerumunan yang tak tentu arah, seperti buih yang geraknya ditentukan oleh gelombang di bawahnya. Transformasi sosial dari kawanan gampang patah arang, lebih parah lagi, gampang diadu domba. Karena itu, urutannya memang Mi‘rāj dulu baru transformasi sosial. Nabi Muhammad pun demikian. Saat di Makkah, Nabi Muhammad dimulai dari iqra’, baru reformasi sosial. Demikian pun saat hendak ke Madinah, Mi‘rāj dulu baru hijrah dan Fathu Makkah.
Para Sufi dan Filsuf menggunakan tahapan itu: Mi‘rāj untuk transformasi diri sebagai urutan pertama, lalu buahnya melakukan transformasi sosial–jika bisa. Fariduddin Attar mendorong penyingkapan penemuan diri itu pada Kitab Mantiq At-Thayr.
Menyingkap Lembah-Lembah Kesadaran Diri
Burung-burung yang sudah berkumpul mendapat pencerahan dari Hud-Hud (burung yang pernah dipercaya Nabi Sulaiman untuk menjadi mata-mata). Hud-Hud mendorong para burung untuk tidak sekedar hidup biasa-biasa saja, hidup mulia hanya dapat dicapai ketika bertemu dengan asal-muasal mulia. Mari temui asal-muasal mulia, agar misi hidup menjadi jelas. Hidup yang tak dituntun oleh tujuan mulia akan terombang-ambing oleh kemauan orang lain. Haruskah hidup kita terus-menerus menjadi tontonan dan peliharaan pihak lain?
Para burung sepakat dengan sejumlah keraguan. Setelah Hud-Hud menyadarkan pentingnya pertemuan dengan Simurgh, Raja Burung, sejumlah burung bersedia terbang bersama melewati langit-langit kesadaran. Hud-Hud terus membimbing burung-burung lain. Para penafsir Attar menyebut Hud-Hud sebagai Mursyid yang mengajari, menuntun, menguatkan, menghibur dengan cerita, mengarahkan, dan memahami para burung pejalan itu. Lalu terbanglah burung-burung itu melewati tujuh gunung dan tujuh lembah.
Attar pada Mantiq At-Thayr menggambarkan perjalanan ribuan burung, yang mencoba terbang tinggi menuju Gunung Qaf, puncak tertinggi di dunia, untuk menemui Simurgh. Setelah banyak perdebatan tentang kesulitan jalan, burung-burung itu berangkat dan menyeberangi tujuh lembah cinta. Namun di tengah perjalanan, sebagian besar burung tersandung dan mati. Akhirnya, dari ribuan burung, hanya tiga puluh burung yang selamat dan tiba di istana Pangeran Semesta (Simurgh). Perjalanan burung-burung menuju Simurgh dapat menjadi simbol upaya umat manusia untuk mencapai kesempurnaan. Dengan kata lain, Attar menggambarkan jalan yang harus dilalui setiap pengembara untuk menyelesaikan tugas-tugas teosofisnya dan menjadi manusia yang sempurna.
Ketujuh lembah itu adalah (1) Lembah Pencarian (Thalab); (2) Lembah Cinta (‘Isyq), (3) Lembah Pengetahuan (Ma‘rifat), (4) Lembah Rasa Puas (Istighnā’), (5) Lembah Persatuan (Tauḥīd); (6) Lembah Kebingungan (Ḥayrat), dan (7) Lembah Faqīr dan Fana’.
Ada banyak interpretasi terhadap tujuh lembah yang dilewati burung-burung ini. Abdul Wahhab Azzam dalam At-Tasawuf Wa Fariduddin Attar memaknai ketujuh lembah sebagai perjalanan ruhani yang berujung pada penyatuan diri. Lembah Thalab bagi Azzam mengharuskan seorang pejalan untuk mengekang hawa nafsu dan mensucikan dirinya. Lembah Kedua, lembah ‘Isyq mengharuskan pejalan mencari-cari asal-usul keberadaan dirinya, sehingga merindukan jalan pulang ke diri sejatinya. Lembah ketiga, lembah ma’rifah, seorang pejalan akan melihat munculnya pancaran cahaya inspirasi ilahiah mengenai realitas. Lembah keempat, lembah Istighnā’, tempat yang aneh dan membingungkan yang tak dapat diukur oleh nalar. Lembah kelima, lembah Tauḥīd, kesatuan di luar bilangan dan batas yang tidak terdapat konsep awal dan akhir yang menggambarkan Allah yang muḥīthun bi kulli sya’i (melingkupi segala sesuatu). Lembah keenam, lembah Ḥayrat yang menampilkan hilangnya dunia dan segala yang berada di dalamnya. Lalu lembah ketujuh, lembah Faqīr dan Fana’, saat seorang pejalan tenggelam dalam kecintaannya pada Allah (Abdul Wahab Azzam, 72-76).
Sementara Ayfer Summermatter dari Marmara University dalam “Attar of Nishapur’s Seven Valleys and the Stages of Human Cravings from a Psychological Perspective” (Jurnal Spritual Psychology and Counseling, 2016) mengaitkan ketujuh lembah ini dengan Nafs Ammārah, Nafs Lawwāmah, Nafs Mulhimal, Nafs Muthmainnah, Nafs Rādliyah, Nafs Mardliyah, dan Nafs Kāmilah dengan pendekatan psikologi Humanistik.
Berdasarkan terjemahan Sholeh Wolpe, tentang “The Seven Valleys” saya akan mencoba menguraikan perjalanan melintasi tujuh lembah ini.
Lembah Pertama, Lembah Pencarian (Thalab)
Lembah pertama, tempat berkumpulnya para burung, adalah titik awal perjalanan. Pada lembah ini, Hud-Hud mengajari para burung tentang niat yang benar. Niat harus tulus dan kuat, pertemuan dengan Raja yang Mulia harus benar-benar menjadi motivasi utama. Di sini niat dapat diumpamakan sebagai benih (nawat). Benih akan menentukan jenis pohon dan buah yang tumbuh. Benih yang baik akan menumbuhkan putik yang kuat melawan kegelapan tanah nan pengap.
Sebelum bergerak, niat harus diperbaiki. Apalagi kondisi awal semua manusia, dalam psikologi tasawuf, berada dalam nafs ammārah bi al-sū’i (diri yang cenderung pada ketidakbaikan).
Nafs al-ammārah adalah sifat yang menjadi tenang hanya dalam ketidakjujuran; menjadi tenang hanya oleh segala sesuatu yang selain Tuhan, nafs ini berakar pada yang material dan tidak akan pernah tunduk pada jalan Tuhan. Saat ada perintah Tuhan untuk berbuat baik, nafs ammārah mendorong untuk berbuat sebaliknya. Di bawah pengaruh nafs ini, perintah-perintah dari diri yang rendah lebih kuat dari perintah-perintah Tuhan. Seseorang yang berada dalam cengkeraman nafs al-ammārah akan merasa senang dengan pujian, dan sangat murka saat dihina; ia memuji orang lain, berpura-pura jujur di hadapannya.
Ringkasnya orang dalam nafs al-ammārah terobsesi dengan pendapat yang baik dari orang lain, tanpa peduli apakah Tuhan mungkin saja tidak menyetujuinya. Hasilnya adalah diri yang merasa memiliki dan terlalu bangga terhadap diri sendiri, juga keangkuhan, merasa penting, dan sikap memandang rendah orang lain. Orang seperti ini akan menghindari atau mengabaikan apapun yang tidak disukai oleh orang lain agar terus mendapat pujian orang lain, walaupun Tuhan menyenangi hal-hal tersebut.
Gambaran mengenai kondisi nafs al-ammārah ini sudah dikemukakan pada saat sejumlah burung (Merak, Ayam, Bebek, Gagak, Rajawali, dll.) mengajukan kelemahannya (lihat artikel Mi‘rāj ke-2). Walaupun demikian, nafs al-ammārah tetap akan menyelinap dalam perjalanan ruhani.
Di sini, di lembah ini, tidak ada tempat untuk kesombongan, atau keangkuhan,
Tak ada tempat bagi segala kau anggap berharga dan kau simpan.
Di sini, seseorang harus menempuh perjalanan melalui darahnya sendiri.
Di sini seseorang harus melucuti semua yang terkait dengan keakuan.
Berdirilah dengan tangan kosong, barulah pembersihan hatimu dimulai.
Bersihkan hatimu dari sifat-sifatnya, barulah kebajikan Ilahi terpancarkan.
Pembersihan niat adalah melepaskan kebiasaan pengetahuan berbasis indera. Pejalan harus memulai dengan menyingkirkan semua kebiasaan, kepercayaan, dan ketidakpercayaan. Kesombongan, keangkuhan, keakuan adalah sifat-sifat nafs ammārah yang harus disingkirkan. “Berdirilah dengan tangan kosong!”, ujar Hud-Hud, tak ada lagi yang harus diandalkan selain diri sendiri,
Di lembah ini, sang kekasih menyingkirkan semua ketakutan,
Untuk memahami Sang Kekasih yang Ilahi, singkirkan ketakutanmu.
Lazim pada perjalanan awal ada saja ketakutan akan apa yang terjadi di masa depan. Semua orang akan merasa enggan meninggalkan zona nyaman. Saat hendak melepaskan dari zona nyaman ini, ketakutan mulai merayap dengan munculnya sejumlah keraguan dan bayangan negative akan masa depan. Singkirkanlah, ujar Hud-Hud.
Ayfer Summermatter memaknai lembah pertama ini sebagai tahap mengatasi nafs ammārah, yakni kecenderungan diri memerintahkan kejahatan. Nafs ammārah memiliki keinginan yang menuntun manusia kepada kebutuhan tubuh dan memicu selera dan sensasi hawa nafsu. Nafs ammārah membuat manusia menikmati, menyembah, dan mengagumi diri sendiri; egois, manja, dan sombong. Nafs al-ammārah mendorong munculnya keinginan terhadap bagaimana penampilan kita di mata orang lain; karena alasan inilah kita FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan cemas, takut, atau khawatir ketinggalan tren, acara, kesempatan, atau pengalaman menarik yang dialami orang lain. FOMO mendorong Anda merasa kalah ketika orang lain mendapatkan kemuliaan, ketenaran, dan kekayaan.
Lembah pertama, bagi Ayfer Summermatter, dapat dilalui jika pejalan dapat mengendalikan nafs ammārah dengan memiliki keinginan yang benar. Perjalanan Mi‘rāj bisa terhenti di lembah ini jika nafs al-ammārah tak teratasi. Pejalan harus memperjelas keinginan dengan mengenali dan mengendalikan nafs ammārah bi al-sū’i yang ada pada dirinya. Attar memberi metode untuk mendisiplinkan, membongkar, dan memurnikan keinginan nafs, yakni dengan menata diri:
Menata keinginan manusia, bersabar, dan mencapai kedewasaan hanya mungkin dilakukan dengan mendisiplinkan diri.
Orang yang tidak mengarahkan pandangannya untuk bertemu Sultan tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Sultan (Attar, 2015b, hlm. 87).
Setelah niat dimurnikan, burung-burung itu terbang melintasi gunung yang tinggi. Rasa takut akan resiko perjalanan diatasi dengan bayangan bertemu dengan Sang Kekasih. Rasa lelah dapat ditahan dan dihibur oleh burung lain yang juga lelah. Kepakan sayap burung-burung itu akhirnya sampai ke lembah kedua.
Lembah Kedua, Lembah Cinta (‘Isyq)
Pada lembah kedua, burung-burung itu beristirahat dan menyiapkan diri untuk dapat terbang lagi. Apakah yang harus disiapkan pada lembah ini? Cinta, ujar Hud-Hud, “Jika kau bukan pencinta api, maka pergilah, karena seorang pecinta sejati menyatu dengan api; seorang pecinta sejati menyalakan, membakar, dan berkobar seperti api”.
Setelah benih niat ditanam, benih menerobos tanah gelap, keras, dan pengap di atasnya dengan sejumlah resiko yang tak kecil. Rasa cinta dan kerinduan benih pada cahaya matahari membuat putik lemah terus menerobos tanah gelap untuk dapat muncul, walaupun semula berbentuk putik yang rapuh. Inilah yang dibutuhkan, kesadaran bahwa tempat asal kita dipenuhi kegelapan dan bergerak yang dituntun oleh rasa cinta dan kangen akan mengantarkan kita pada Cahaya.
Apa yang harus dilakukan? “Jika kamu hanya membuka mata pikiran, kamu tidak akan pernah melihat cinta sepenuhnya,” begitulah ujar Hud-Hud. Letakkan pikiranmu, belajarlah menjadi cinta:
Di lembah ini, cinta adalah api, pikiran adalah asap.
Ketika cinta datang, pikiran melarikan diri.
Pikiran bukanlah ahli dalam seni cinta; cinta tidak dapat bekerja melalui otak.
Ketika penglihatan dianugerahkan kepadamu oleh Yang Tak Terlihat,
Kau akhirnya akan melihat hati cinta.
Pada lembah cinta ini, hatilah yang digunakan–bukan pikiran. Pikiran hanyalah asap dari rasa cinta, itu artinya pikiran itu muncul dan dikendalikan oleh cinta. Saat cinta begitu dominan seperti api biru yang sangat panas, asap atau pikiran tak akan muncul. Pada lembah kedua semua kategori pikiran yang membuat bimbang harus disingkirkan. Ikutilah apa yang diyakini oleh cinta, turutilah logika cinta! Seraya Hud-Hud menceritakan kisah Majnun yang rela menyamar sebagai domba agar dapat mendekati kemah Laila, kekasihnya. Begitulah cinta, tampak tanpa akal, bahkan menjadi domba pun dilakukan padahal hanya sekadar berdekatan tanpa pertemuan.
Di sini, benar dan salah adalah pasangan,
karena dalam cinta: dua menjadi satu.
Kau yang mencoba memisahkan pasangan, lembah ini bukan untukmu.
Bagi kau yang menyangkal, tempat ini tidak akan menarik bagimu.
Logika cinta bukan logika dualisme yang memandang realitas dalam logika dua-an dengan memposisikan yang satu lebih utama dari yang lainnya. Misalnya manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, lalu lelaki dianggap lebih utama dari perempuan. Itu logika akal yang dualism. Tinggalkanlah, karena dalam cinta dua yang tampak terpisah itu adalah satu. Logika dualisme akan membayangkan jarak yang memisahkan, tetapi Pecinta seperti Majnun tak peduli dengan jarak. Baginya menyebut nama kekasih adalah anugerah, menyebut nama kekasih sama dengan bercumbu dengan kekasih. Itulah logika cinta.
Hud-Hud kembali berkata,
Orang lain mungkin mencari keinginan mereka dalam rencana dan hari esok, tetapi para pecinta sejati tahu bahwa segala sesuatu yang mereka inginkan
ada di sini, di Lembah Cinta.
Orang yang memiliki rencana membayangkan hasil yang diperoleh di hari esok. Itu artinya ia masih memilah-milah sekarang dan besok, ia masih terjebak pada logika pikiran. Lepaskanlah, yang ada adalah hari ini, nikmatilah hari ini: itulah logika cinta. Lalu Hud-Hud mengingatkan hakikat perjalanan ruhani sebagai perjalanan kembali pulang:
Jika seekor ikan terdampar di pantai dari laut,
ia akan mengepakkan sayap dan berjuang sampai ia kembali.
Ikan yang terlempar dari asalnya, akan merasakan pengap dan sesak nafas. Ikan akan berusaha mencari jalan pulang sekuat tenaga, bahkan jika perlu dengan mengepakkan sayapnya –walaupun ia sadar ia tak punya sayap. Manusia pun demikian, dunia ini bukan rumah asal, karena itu harus berjuang kembali pulang. Seenak-enaknya hotel, itu bukan rumah Anda. Anda harus kembali pulang ke rumah Anda yang bisa jadi lebih kumuh. Namun saat Anda membuka pintu rumahmu, segera hati Anda akan merasakan kelegaan dan merasa berada pada tempatnya. Pulanglah, usahakan pulang dengan segala upaya!
Ayfer Summermatter memaknai lembah kedua ini sebagai tahap mengatasi nafs lawwāmah, yakni diri yang mengkritik situasinya. Untuk dapat mengatasi nafs lawwāmah, api cinta harus ditemukan agar asap pikiran semakin menipis. Sebelum cinta tumbuh, manusia terombang-ambing antara dunia materi dan Tuhan. Pikiran masih dominan sehingga terus-menerus memberikan kritik pada kesadaran. Itulah nafs lawwāmah (keinginan manusia untuk mengutuk diri sendiri). Dalam nafs ini, seseorang menyadari dan menyesali bahkan mengutuk hal-hal buruk yang telah mereka lakukan, seraya setelah itu mereka bertobat.
Nafs lawwāmah adalah tingkat diri yang diperoleh setelah mengendalikan dan meninggalkan kebiasaan nafs ammārah. Ada resiko yang harus dihadapi, yakni meninggalkan kebiasaan lama. Bagi yang sudah terikat dengan kebiasaan, perpisahan akan terasa menyakitkan. Resiko yang lain adalah pejalan tahu akan kejelekan dirinya, ia memahami kebejatan dirinya dan merasa jijik pada apa yang sudah dilakukan seraya menyesali perbuatan tersebut, kemudian kembali berbuat dosa, sadar lagi, demikian seterusnya.
Kondisi nafs lawwāmah ini bagaikan keberadaan lampu temaram di sebuah rumah yang semula gelap gulita. Kehadiran lampu temaram ini pada satu sisi memberikan penerangan, pada saat bersamaan Anda dapat segala kotoran dari anjing, babi, macan, harimau, keledai, kerbau, gajah yang ada pada rumah itu. Setelah mengamati situasi rumah yang kotor, Anda akan berjuang untuk membersihkan kotoran dan kehadiran binatang-binatang liar tersebut dari rumah dengan resiko kotoran yang sama akan muncul lagi. Dibutuhkan kekuatan yang sangat besar untuk dapat membersihkan rumah diri dari kekotoran, yakni cinta.
Sebelum cinta datang, pikiran masih lebih dominan sehingga niat awal perjalanan masih berorientasi material. Lembah pertama memberikan pengetahuan mengenai jalan hidup yang benar, lalu saat mulai menjalaninya muncul pikiran bahwa diri telah sampai pada jalan tersebut padahal baru saja memulai. Pada tahap mengendalikan nafs lawwāmah, lebih sering mengalami kegagalan daripada keberhasilan. Karenanya, kita berpura-pura seakan-akan kita telah memperoleh sesuatu, bahwa kita seorang yang arif, sudah mencapai tujuan perjalanan sebagai seorang yang saleh seperti yang kita cita-citakan. Pada tingkat ini pejalan bagaikan pencinta yang tidak jujur, yang mengaku mencintai spiritual dengan sepenuh hati namun masih melirik kemungkinan-kemungkinan lainnya. Karena itulah “masuklah dalam cinta, bakar semuanya!”
Pada lembah ini pejalan memeriksa perasaan sejati yang dimilikinya, apakah ia merasa nyaman terhadap dunia yang sementara ini atau pada Tuhan. Jika seseorang berorientasi materialistis (seperti cinta akan kemuliaan, ketenaran, kekuasaan, atau seksualitas), mereka tidak dapat melewati lembah ini. Pejalan yang tetap terperangkap di Lembah Cinta dan tidak mampu menemukan diri sendiri, akan menganggap lembah sebagai satu-satunya kebenaran. Jika seseorang berkobar dengan cinta kepada Tuhan, mereka bertobat untuk menerima persetujuan-Nya dan selalu berusaha untuk memperhatikan kekurangan mereka sendiri.
Attar menyatakan bahwa manusia perlu terus menerus memeriksa dan mengkritik diri sendiri sehingga dapat memperhatikan dan memperbaiki kesalahan. Demi kekalnya kemunculan cinta, Attar memberi nasihat untuk menemukan rasa malu, “Melihat sebutir rasa malumu sendiri lebih baik daripada melihat Yang Tak Terlihat atau ratusan cahaya yang menyimpan Yang Tak Terlihat” (Attar, 2015b, hlm. 340). Pada lembah ini pejalan harus menghargai pengetahuan yang berasal dari hatinya, bukan dari buku dan orang lain.
Setelah rehat di lembah kedua, burung-burung menyadari kekeliruannya seraya mengarahkan niatnya dengan cinta. Lampu temaram pada rumah gelap gulita lebih terang benderang, lalu sebagian kotoran sudah dapat terbersihkan.
Lembah Ketiga, Lembah Ma‘rifah
Setelah pejalan dapat memisahkan yang baik dari yang buruk dan bertekad untuk terus merujuk pada yang ilahi dengan penuh cinta, muncullah percikan ilham ilahiah. Pada tingkat ketiga ini, pejalan mulai merasakan kesenangan sejati di dalam berdoa, meditasi, dan kegiatan spiritual lainnya. Pejalan mulai mengalami sendiri kebenaran spiritual yang sebelumnya hanya didengar atau dibaca. Pejalan mulai merasakan cinta hakiki kepada Tuhan, dan kepada makhluk ciptaannya. Inilah tahap pencapaian nafs mulhimah.
Sebelum mencapai nafs mulhimah, seseorang hidup dengan pemahaman palsu sehingga ibadahnya hanya bersifat ritual semata. Pada nafs mulhimah, diri sudah dipenuhi oleh kearifan yang dikelola dengan cinta. Dari cinta ini muncullah sifat-sifat seperti kedermawanan, kepuasan terhadap hal-hal yang kecil, kepasrahan terhadap Tuhan, dan keinginan untuk kembali atau taubat.
Pada lembah Ma’rifah ini pejalan mengalami penemuan apa yang dicintai dalam bentuk pemahaman tertentu. Namun, apa yang ditemukan pejalan di lembah ini berbeda-beda, sesuai dengan kecenderungan asalnya.
Di sini, tidak ada jalan yang menyerupai jalan lainnya.
Di sini, pengembara tubuh berbeda dengan pengembara jiwa.
Di sini, baik tubuh maupun jiwa maju,mundur, menurun, dan bangkit,
masing-masing sesuai dengan nilainya sendiri.
….
Kita masing-masing menempuh jalan kita sendiri;
Tidak ada dua burung yang menempuh jalan yang sama.
Saat seseorang mencapai Nafs Mulhimah ia mulai mendengar suara nurani mereka dan dan diterangi oleh cahaya matahari kesadaran, sehingga ia mampu membedakan antara yang benar dan yang salah tanpa kritik (seperti pada Nafs Lawwamah). Pada Nafs mulhimah pejalan sudah menemukan suara batiniah dari hati nuraninya dari dirinya sendiri. Pejalan pada Nafs Mulhimah juga dapat mendengar suara syekh mursyid mereka di dalam hati bahkan mereka bahkan saat mereka dalam keadaan terpisah. Attar menyatakan “Perjalananmu di lembah ini dipermudah oleh ukuran dan kedewasaan Anda sendiri.”
Namun tingkat nafs mulhimah masih menyimpan bahaya. Walaupun keburukan-keburukan dari nafs ammārah dan nafs lawwāmah telah berlalu, kondisi diri belum aman. Ego negatif masih bekerja dan dapat membawa pejalan ke arah yang salah. Pada tingkat ini, untuk pertama kalinya pejalan mampu merasakan pengalaman dan pengetahuan spiritual yang sejati. Namun, jika pengalaman dan pengetahuan ini diterima oleh ego, maka pejalan akan menyombongkan dirinya secara berlebihan. Pada tahap ini pejalan dapat terjebak pada keakuan seraya memandang dirinya dengan kesombongan, lemah terhadap pujian, merasa diri penting, dan mempromosikan diri sendiri (‘ujub).
Inilah bahayanya, yakni menganggap dirinya sendiri sebagai sumber dari pengetahuannya. Bahaya lainnya meyakini bahwa perjalanan ruhani mereka sudah sampai puncaknya sehingga mereka tidak merasa butuh lagi ibadah dan latihan spiritual. Banyak dari para guru spiritual yang karismatik menjadi tersesat di tahap ini sehingga mereka menetapkan bahwa dirinya telah sepenuhnya tercerahkan.
Ketika matahari pengetahuan bersinar di langit Sang Kekasih yang agung,
setiap pejalan diberi penglihatan sesuai dengan ukuran dan bagiannya masing-masing;
setiap pengembara mendapatkan kembali kedudukan sejatinya.
Ukuran penemuan diri sangat menentukan. Pada lembah ma‘rifat ini inspirasi ilahiah mengalir pada pejalan dari banyak cara. Pada saat pemahaman baru muncul pejalan mendapatkan pemahaman mengenai pengetahuan akan dirinya. Hati yang penuh cinta akan mendapatkan pemahaman baru terhadap realitas. Sementara hati yang masih kotor akan menemukan diri baru yang menipu.
Pada pejalan yang hatinya penuh cinta, pengetahuan ilahiah akan terus-menerus bermunculan, satu persatu misteri alam semesta akan terungkap. Rahasia-rahasia akan terurai dengan sendirinya, seperti menyatakan maknanya pada pejalan. Rahasia setiap atom akan terungkap, pemahaman baru akan menumbuhkan makna bahkan dari yang dianggap tidak berharga bagi orang lain: dunia debu ini akan bertunas menjadi taman mawar. Lebih dari itu, pemahaman baru akan mengantarkan pejalan pada esensi:
Lalu Kau akan melihat melampaui cangkang hingga ke inti dari segalanya.
Kau akan melihat diri Anda sebagai ketiadaan,
Kau menjadi buta terhadap segala sesuatu kecuali Sang Kekasih.
Pemahaman baru yang bermunculan ini membangkitkan semangat para pejalan, menimbulkan rasa penasaran untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam lagi. Seraya inspirasi lain akan bermunculan lagi, demikian seterusnya. Di sini resiko lain akan dihadapi, yakni ketersesatan pada inspirasi, tersesat pada makna. Ketika seorang pejalan mengetahui esensi, ia akan terjebak pada rahasia itu, ia dapat meramalkan masa lalu dan masa depan, dan biasanya merasa bangga pada pencapaiannya.
Seratus ribu misteri akan terungkap,
Dan untuk setiap seratus ribu orang yang tersesat,
hanya satu yang akan sampai.
Untuk itu dibutuhkan jiwa yang tenang pada lembah ini, jiwa yang teguh pada benih awal perjalanan. Pemahaman baru yang terus bermunculan dan dapat menjadi berhala yang menghalangi tujuan awal untuk bertemu Sang Kekasih.
Jika kau mencapai Singgasana Agung itu,
janganlah menyombongkan diri,
melainkan tanyakan: Apakah masih ada lagi?
Tenggelamkan dirimu dalam lautan pengetahuan itu,
atau gosokkan debu jalan di kepalamu.
Lembah pemahaman ini akan terus dialami oleh orang-orang yang memiliki kerendahan hati. Orang yang rendah hati akan menyadari bahwa seberapa banyak pun pengetahuan yang didapatkan, masih lebih banyak lagi lautan rahasia di tangan Sang Kekasih. Untuk itulah menenggelamkan diri dalam lautan ilmu harus diimbangi dengan laku merendahkan hati, menggosokkan debu pada kepala.
Lebih dari Attar mengingatkan agar pejalan selalu menempatkan diri sebagai ‘ābid (penyembah) yang menginginkan kegembiraan bersatu dengan Sang Kekasih, bukan menyombongkan pengetahuannya:
Jika kau tidak datang ke sini sebagai penyembah,
pergilah dan menangislah, wahai yang mengantuk.
Jika kau tidak bergembira dalam persatuanmu dengan Kekasihmu,
teruslah meratapi perpisahanmu.
Jika kau tidak melihat wajah Kekasihmu,
bangunlah! Apa yang kau tunggu? Pergilah!
Carilah! Malulah kau, jika kau tak tahu rasa hasrat.
Lembah pengetahuan terasa menyenangkan, ada banyak hal baru terungkap, ada banyak rahasia yang membingungkan akan terurai maknanya dengan sendirinya. Saking menariknya, ada banyak pejalan terjebak di jalan ini. Maka dengarkan pesan Hud-Hud ini, “Jangan hanyut seperti keledai yang malas dan tak punya tujuan!”.
Niat awal harus terus diingat agar proses pertumbuhan terus berlangsung. Burung-burung yang telah memahami kerendahan hati meneruskan perjalanannya, melewati gunung tinggi untuk sampai pada lembah selanjutnya.
Lembah Keempat, Lembah Istighnā’
Di sini, apa yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ lenyap.
Selanjutnya, burung-burung itu pada Lembah keempat, lembah istighnā’, lepasnya segala sesuatu. Lembah keempat adalah tempat semua keinginan dan keterikatan pada dunia dilepaskan. Pada lembah keempat, lembah ma‘rifat, pejalan menyadari bahwa pengetahuan duniawi menjadi sama sekali tidak berguna untuk digunakan menilai pengalamannya. Pada lembah keempat ini, apapun yang dianggap ‘kenyataan’ akan lenyap. Pada lembah keempat ini semuanya tampak aneh. Rasa cukup diri oleh pengetahuan dari lembah ketiga, akan hancur ketika memasuki lembah istighnā’ ini.
Attar menggambarkan lembah keempat ini sebagai lembah yang sangat paradox yang tidak lazim. Realitas benar-benar terlepas dari kebiasaan, sebab-akibat tak dapat ditemukan sama sekali:
Di sini, tujuh lautan hanyalah genangan air,
Tujuh planet hanyalah percikan api.
Delapan kenikmatan surga sama menyenangkannya dengan bangkai,
dan Tujuh neraka adalah es beku.
Di sini, tanpa alasan seekor semut memiliki kekuatan super seekor gajah.
Bayangkanlah jika Anda mengalami realitas seperti ini. Semua kategori benar-benar tidak berguna. Kenekatan menggunakan logika pikiran akan membuat para pejalan menjadi gila. Tapi itulah perjalanan ruhani, perjalanan yang ‘memaksa’ Anda untuk semakin tidak mengandalkan diri sendiri. Apa yang semula dianggap sebagai pendukung, tak akan berguna sama sekali.
Jika seribu nyawa binasa di laut,
di sini, seribu nyawa itu hanya setetes embun yang menetes ke samudera itu.
Jika langit runtuh dan bintang-bintang berjatuhan seperti hujan,
di sini, tidak lebih dari sehelai daun yang melayang dari pohon.
Pada sisi lain, pada saat pengalaman Mi‘rāj semakin mendalam, sejarah kehidupan manusia menjadi terbaca seperti satu bentangan di atas meja. Pejalan semakin mendapatkan pengalaman tentang hidup yang saling terkait, walaupun di luar nalar, karena di lembah istighna ini “baik yang baru maupun yang kuno tidak memiliki nilai”:
Di sini, seratus ribu malaikat berpakaian hijau terbakar dalam kesedihan sampai hati Adam diterangi. Seratus ribu tubuh dikosongkan dari jiwa sampai Nuh menjadi seorang pelaut.
Seratus ribu nyamuk membentuk pasukan sampai Ibrahim meraih kemenangan.
Seratus ribu bayi kehilangan kepala mereka sampai Musa menjadi Nabi Tuhan.
Seratus ribu orang berpegang teguh pada dogma-dogma lama sampai Isa menemukan misteri-misteri ilahi.
Seratus ribu orang menanggung penderitaan sampai Muhammad secara ajaib naik ke Surga.
Pengetahuan-pengetahuan di atas menunjukkan pemahaman lebih mendalam mengenai peristiwa sejarah. Kisah Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Rasulullah Muhammad tidak lagi sebagai tokoh dalam lintasan waktu sejarah, namun dalam terkait dengan peristiwa kosmik. Pada pemahaman ini, pejalan menemukan relasi dari paradoks. Pada jiwa yang sudah matang dan dewasa, pemahaman baru ini tidak akan mengganggu sementara pada jiwa yang belum dewasa, situasinya akan mengguncang.
Ayfer Summermatter memaknai lembah keempat ini sebagai tahap mengatasi nafs muthmainnah (diri yang tenang). Pada tahap ini pejalan akan lebih peka terhadap kedamaian jiwanya sendiri. Jika pada nafs mulhimah pejalan sudah mendapatkan percikan ilham ilahiah, pada tahap muthmainnah, ilham ilahiah lebih intens. Bagi yang sudah mengenakan logika cinta, pengalaman ini akan memunculkan kepuasaan dan ketentraman batiniah. Cahaya cinta dan ma’rifat bersinar sedemikian rupa sehingga ia mengusir seluruh sifat-sifat buruk dan menggantinya menjadi sifat-sifat mulia.
Nafs muthmainnah muncul dalam rasa penerimaan dan syukur. Semuanya diterima, tak ada yang ditolak karena diri telah sadar bahwa realitas ini lebih luar biasa dari yang dibayangkan. Dalam proses penerimaan, diri yang berpikir disingkirkan dan dialihkan untuk terhubung dengan cinta yang dialami melalui diri yang melihat. Penerimaan ini membuat diri dapat mengamati perasaan yang dialami tanpa memikirkan sehingga tidak terjebak pada sifat pengalaman yang paradoks. Keberhasilan pada lembah ini ditentukan dari mengurangi perasaan terpisah dari Tuhan dan mulai mensinkronkan segala sesuatu yang dialami.
Pada tahap ini pejalan ego semakin menipis, semua asumsi sudah sama sekali tidak berguna, sehingga pejalan menerima proses perjalanan Mi‘rāj sebagai kehendak ilahi Tuhan. Jika mulanya perjalanan diawali oleh niat, pada lembah ini perjalanan terjadi karena Allah telah menghendakinya. Pejalan menjadi pasif sekaligus aktif. Pasif dalam arti hanya menerima Kebenaran yang dialami, aktif dalam arti terus mengembangkan diri dari pemahaman baru yang ditemukan.
Ini adalah tahap keempat dari keinginan manusia. Pada tahap ini, dorongan nista dari nafsu telah berakhir, hati telah menjadi cinta, di atas segalanya keyakinan akan kebenaran jalan sudah dirasakan. Hati pejalan semakin memiliki keinginan yang langsung tertuju kepada Tuhan. Pada tahap ini pejalan telah memperoleh sifat-sifat seperti kemurahan hati, kebenaran, kelembutan hati, keramahan, dan tutur kata yang manis. Pejalan semakin berada dalam keadaan yakin-percaya, menerima, pasrah, sabar, dan tanpa penolakan. Hati pejalan setiap saat berada dalam kedamaian dan ketenangan, bersyukur, menutupi kekurangan, memaafkan kesalahan, dan sama sekali tidak menyimpang dari perintah Tuhan. Dengan izin Tuhan, mereka telah memperoleh beberapa penemuan dan inspirasi. Selanjutnya, dengan kemajuan di jalan spiritual, mereka telah melewati fase eksistensial. Di lembah ini mereka menerima pengetahuan dan berusaha mencari makna yang lebih utuh.
Terkadang kekuatan spiritual ini bisa berbeda dari apa yang telah terlihat. Itulah sebabnya rasa syukur dan penerimaan adalah dua kualitas terpenting di lembah ini. Sesuatu yang tampak baik bisa jadi jahat, dan sesuatu yang tampak jahat bisa jadi baik.
Jika masih ada ketamakan dan ambisi, pejalan tidak akan dapat keluar dari lembah ini. Orang-orang yang tamak tidak dapat mengetahui atau mensyukuri kekuatan spiritual yang sudah ada di tangan mereka. Mereka selalu menginginkan lebih. Akibatnya mereka mulai kehilangan apa yang ada di tangan mereka dan tidak dapat memahami nilainya. Pejalan yang terlalu percaya diri, yang telah menjadi budak pengetahuan, atau yang tidak dapat memahami makna di balik apa yang terlihat, juga akan gagal melewati lembah ini.
Beberapa burung dapat terbang lagi meninggalkan lembah ini, mengepak jauh ke angkasa melintasi gunung tinggi di depannya. Burung-burung itu, setelah melewati jarak yang tinggi, berhasil memasuki lembah kelima.
Lembah Kelima, Lembah Tauḥīd
Burung-burung yang sampai pada lembah kelima mengalami realitas yang semakin berbeda. Pada lembah kelima ini segala sesuatu terhubung, harmoni. Apa yang sebelumnya tampak terpisah-pisah, pada lembah ini semuanya menjadi saling kait dan sinkron. Di sini, Attar memberikan panduan “Lepaskan segalanya kecuali yang mutlak”. Hud-Hud menjelaskan,
“Kau seterusnya harus melintasi Lembah Keesaan. Di Lembah ini segalanya pecah berkeping-keping dan kemudian menyatu. Segala yang menegakkan kepala di sini menegakkan kepala dari kerah yang satu itu juga. Meskipun kau seakan melihat wujud yang banyak, namun pada hakikatnya hanyalah satu. Semua merupakan esa yang sempurna dalam keesaannya. Dan sekali lagi, yang kaulihat sebagai keesaan tidaklah berbeda dengan yang tampak sebagai banyak. Dan karena Wujud yang kubicarakan itu mengatasi keesaan dan hitungan, jangan lagi memikirkan keabadian sebagai yang dulu dan yang kemudian, dan karena kedua keabadian ini telah lenyap, jangan lagi membicarakannya. Bila segala yang tampak menjadi tiada, apakah lagi yang tinggal untuk direnungkan?”
Lembah kelima adalah lembah Tauḥīd. Di lembah ini, tidak ada lagi perbedaan satu sama lain. Jumlah, baik banyak maupun sedikit, bersatu di jalan ini: semuanya satu. Keadaan menjadi satu ini adalah kondisi kemenyatuan tubuh dan jiwa. Jika lembah pertama pikiran masih dominan, lembah kedua memulai mengaktifkan cinta, lembah ketiga mendapatkan pemahaman cinta, lalu lembah keempat mengandalkan cinta untuk menerima realitas paradoks. Pada lembah kelima ini, diri sudah tidak memiliki pertentangan satu sama lain. pikiran, cinta, pemahaman, pengalaman yang dimiliki diri tidak lagi saling berbeda. Di lembah ini, ke arah mana pun pejalan berpaling, semua orang berpaling dengan cara yang sama.
Mari kita lihat penjelasan Hud-Hud selanjutnya:
“Bagian akan menjadi keseluruhan, atau lebih tepat, tak akan ada lagi bagian maupun keseluruhan. Dalam kelompok ini akan kau lihat ribuan orang dengan pengetahuan kecerdasan pikiran ternganga dalam diam. Apakah artinya pengetahuan kecerdasan pikiran mereka di sini? Ia terhenti di ambang pintu seperti bocah yang buta. … Wujud yang ku bicarakan itu ada tidak secara terpisah; segalanya ialah Wujud ini; ada dan tiada ialah Wujud ini.”
Lembah ini adalah pejalan mendapatkan anugerah berupa matahari kesadaran yang sangat terang benderang, sehingga tak ada lagi yang terlihat kecuali cahaya itu. Ibarat rumah rumah yang semula gelap gulita, awalnya mendapat sedikit cahaya dari lampu temaram yang membuat kotoran terlihat walau samar. Lalu cahaya lampu semakin terang, semua kekeliruan yang mengotori rumah itu terlihat seraya menggerakkan pemiliknya membersihkan rumah itu. Lalu pada tahap ini, di lembah kelima, rumah itu dipenuhi cahaya matahari yang sangat terang benderang sehingga rumah itu tak ada, yang ada hanya cahaya. Pemilik rumah itu pun, tak ada: hanya cahaya. Hudhud berkata:
Akan datang hari ketika Matahari akan menyingkapkan cadar yang menyelubunginya. Selama kau terpisah, baik dan buruk akan timbul dalam dirimu, tetapi bila kau meniadakan dirimu sendiri dalam Matahari Hakikat Keilahian ini, baik dan buruk itu akan teratasi oleh cinta. Selagi kau berlambat- lambat di jalan ini, kau akan tertahan oleh kesalahan-kesalahan dan kelemahan. Belumkah kau menyadari bahwa dalam dirimu ada kesombongan, kecongkakan, kebanggaan-diri, cinta-diri dan sifat-sifat lain yang kotor! Meskipun ular dan kalajengking mungkin mati tampaknya dalam dirimu, namun mereka hanya tidur; dan bila mereka tersentuh, mereka pun akan bangun dengan kekuatan seratus naga. Dalam masing-masing diri kita ada neraka ular. Bila kau dapat menyelamatkan dirimu dari makhluk-makhluk kotor ini, kau akan tinggal tenang; bila tidak, mereka akan menyakitkanmu dengan bisa meski kau di debu kubur sekalipun hingga hari perhitungan kelak.
Ayfer Summermatter memaknai lembah kelima ini sebagai tahap mengatasi nafs rādliyah. Ridla artinya senang dan puas. Tak ada lagi pertanyaan, keraguan, atau Pada nafs tingkat ini tak ada lagi kecuali keinginan yang berasal dari Tuhan. Pada tahap ini, pejalan menyetujui segala sesuatu yang disajikan Tuhan dengan rasa puas. Pejalan pada tahap ini telah dapat melepaskan kehendak diri dan tunduk pada kehendak Kebenaran. Pada tahap ini, ego telah dikalahkan, dibebaskan dari perilaku, sehingga pejalan sepenuhnya tenggelam dengan perintah dan larangan dengan rasa puas.
Pada nafs ini, seseorang tidak pernah mengeluh tentang apapun. Kenapa bisa demikian? Jika seseorang telah disucikan dari semua sifat material, cahaya Tuhan mulai bersinar padanya. Jika kata-kata kotor atau kutukan datang, mereka bersabar dan menerima semua itu sebagai jalan mencapai Tuhan. Segala sesuatu dianggap jalan mendapatkan keridhaan Tuhan. Pada titik ini segeral muncul moralitas yang indah dalam diri. Terkadang, ia menerima tetesan nama dan sifat Tuhan pada dirinya. Pada titik tertingginya, orang dengan nafs radliyah memiliki kebaikan sebagai pribadinya.
Pejalan telah sampai pada lembah ini dengan melepaskan diri dari semua atribut dan pengetahuan. Jika ia terus berpaling ke arah spiritualitas, inti yang akan dicapai adalah cahaya yang telah dihembuskan Tuhan ke dalam diri. Namun, jika pejalan tidak dapat melampaui tubuh material, kejahatanlah yang akan mereka temukan, dan jalan spiritual akan mulai tampak sulit. Dengan demikian, para pejalan akan tetap terjebak di sini dan tidak dapat menyeberang ke lembah selanjutnya.
Beberapa burung yang dapat melampaui persoalan dalam dirinya terus terbang dan sampailah pada lembah keenam.
Lembah Keakjuban, Lembah Ḥayrat
Lembah ini lembah yang mempesona dipenuhi oleh keindahan Sang Kekasih. Burung-burung menjadi bingung dan tenggelam dalam kekaguman. Ketika burung-burung ini menyaksikan apa yang pada lembah keenam, mereka menyadari bahwa dirinya belum pernah mengetahui atau memahami apapun Pengalaman di lembah Tauḥīd mengantarkan pejalan memasuki lembah ḥayrat, lembah ketakjuban. Situasinya sangat jauh berbeda dari lembah tauhid, situasinya digambarkan sangat-sangat ajaib dan mengguncang
Di sini kau akan bertemu dengan rasa sakit dan sesal tak berujung.
Di sini, setiap desahan setajam pedang.
Di sini, setiap napas dipenuhi desahan.
Situasi lembah keenam lebih jungkir balik daripada lembah istighnā’. Jika pada lembah kelima, lembah tauhid, sebab akibat tidak berlaku, di lembah keenam ini bahkan realitas menjadi seperti tanpa sebab namun ada dan terasa menyakitkan.
Meskipun di sini tidak ada malam, tidak ada siang,
Kau merasakan sakit siang dan malam, rindu dan terbakar.
Meskipun kau tidak menderita luka,
darah masih menetes dari akar rambutmu dan menulis: Sayang sekali.
Di sini, ada api, tetapi membeku;
ada es, tetapi mendesis karena rasa sakit.
Ada api yang membeku, es yang mendesis panas menunjukkan realitas di luar realitas. Pikiran tak mungkin dapat menerimanya, karena itu sejak awal mata cinta yang dipersiapkan untuk mengalami hal-hal seperti ini. Pengalaman di lembah keenam ini sangat penuh sehingga tak mungkin didefinisikan.
Pengalaman di lembah ini dapat dihadapi bagi pejalan yang telah memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Segala sesuatu adalah karya-Nya dan karya-Nya tak pernah dapat ditakar dengan pemahaman manusia. Apalagi jika pejalan yang telah puas pada apapun yang dihidangkan Tuhan (nafs rādliyah) telah sadar dan tunduk pada apa yang disajikan Tuhan secara keseluruhan. Pejalan akan merasakan rasa puas dari penyerahan ini seraya cahaya Tuhan yang ada memancar. Karena segala sesuatu yang mereka ketahui telah hilang dan semua kekuatan spiritual telah berubah; para pejalan tetap bingung. Semua hal (bentuk kehidupan, proses kognitif, dan semua atribut) menjadi tidak berarti dan tidak menunjukkan jalan.
Jika mereka bertanya kepadamu:
Apakah kau mabuk atau tidak?
Apakah kau ada atau tidak?
Apakah kau di dalam atau di luar?
Apakah kau tersembunyi atau nyata?
Kau akan menjawab: Saya tidak tahu apa-apa,
bahkan tidak tahu seberapa luas ketidaktahuan ini.
Cinta semakin menggelora pada lembah ini, namun geloranya yang sangat kuat membuat yang terasa hanya cintanya saja. Cinta yang seharusnya membutuhkan objek, telah membakar objeknya; sehingga hanya cinta saja yang terasa.
Saya sedang jatuh cinta tetapi tidak tahu dengan siapa.
Saya tidak saleh maupun tidak beriman.
Saya tidak tahu siapa saya.
Saya juga tidak tahu tentang cinta saya sendiri.
Hati saya penuh sekaligus kosong akan cinta.
Lembah ini menurut Attar menyimpan bahaya yang berasal dari niat yang menyimpang. Seseorang yang mengalami lembah ini dapat semakin terbingungkan dan tersesat
Ketika kau tiba di sini dalam keajaiban,
Kau datang sudah tersesat dan akan semakin tersesat.
Dan jika kau membubuhkan cap kesatuan pada jiwamu,
Kau akan semakin hanyut dalam kesatuan itu.
Ayfer Summermatter memaknai lembah keenam ini sebagai tahap mengatasi nafs mardliyah. Seseorang telah sampai pada nafs mardliyah, jika sampai pada tahap keenam dari nafs. Pada satu saat, seluruh kehidupan terbebaskan karena rahmat yang berasal dari cinta. Pada tahap ini nafs telah dipuaskan dengan semua pemberian Tuhan, lalu Tuhan senang dengan kepuasan nafs ini. Nafs telah terbebas dari keinginan manusia dan memiliki tata krama yang baik terhadap Tuhan. Pada tahap ini, pejalan memiliki kebajikan yang indah seperti memaafkan kekurangan, biasa saja terhadap yang dianggap menyenangkan, penuh kasih sayang dan murah hati terhadap siapapun demi Tuhan, peka dan bijaksana. Pada nafs ini pejalan mengetahui beberapa rahasia tak terlihat atas izin Tuhan.
Pejalan di lembah ini telah menyadari tujuan eksistensial dalam segala hal. Pejalan tidak lagi gampang terpengaruh oleh fenomena, karena mereka memahami (dan tetap terpesona) bahwa bahkan hal terkecil pun memiliki makna. Dengan cara ini, mereka menempuh jalan lurus menuju lembah terakhir dalam perjalanan spiritual mereka.
Lembah Ketujuh, Lembah Faqīr dan Fana’
Lembah terakhir adalah Lembah Fana, kehancuran yang sama sekali tak terdefinisikan. Attar menyatakan, “Kata-kata tak mampu mengungkapkan misteri lembah ini”. Pengalaman pada lembah ini disebut fana’, yakni ketika diri benar-benar tidak ada apa-apanya, benar-benar debu. Di lembah ini diri menghilang ke dalam alam semesta dan Sang pejalan larut dalam waktu abadi, ada di masa lalu sekaligus di masa depan.
Esensi lembah ini adalah kelupaan—bisu, tuli, tak sadar.
Di sini, dalam pancaran matahari, seratus ribu bayangan lenyap.
Ini adalah lembah melupakan segalanya dan menemukan kembali diri sendiri. Ketulian, bisu, kekaguman, semuanya muncul di sini. Orang-orang merasakan kedamaian dan ketenangan di lembah ini. Setelah menemukan diri sendiri, seseorang menjadi terintegrasi. Seseorang mengenal dirinya sendiri, apa yang telah mereka lakukan, dan menyadari ciri-ciri mereka.
Realitas teralami secara murni, tanpa bayangan. Jika pada lembah keenam, yang tersisa adalah Cinta tanpa objek tanpa definisi, di lembah ini semuanya seperti tidak ada namun teralami. Seperti tidak ada, namun ada; seperti ada, namun tidak ada. Kategori yang saling bertabrakan ini hanya dapat dipahami ketika seseorang telah mengalaminya:
Kau akan ada dan tidak ada.
Bagaimana mungkin?
Itu di luar pemahaman pikiran.
Pada lembah ini, Attar mendorong pejalan untuk tidak mundur, untuk berani memasuki pengalaman ini lebih dalam lagi. Attar menyatakan, “Wahai Pengembara yang dewasa, yang pemberani, jika kau telah mengambil langkah pertama ke dalam arena penderitaan ini, tidak ada langkah kedua,” Untuk itu, Attar menyeru,
Hilangkan dirimu di lautan ini.
Temukan ketenangan dalam keadaanmu yang hilang,
seraya kelupaan yang menenangkan akan merangkul hati Anda.
Ketika jiwamu terserap ke dalam Lautan, ia diselamatkan dari kelupaannya sendiri.
Saat itulah kreativitas berlimpah dan misteri kehidupan mulai terungkap.
Pada pengalaman masuk ke lautan yang membuat fana ini, Attar memberikan peringatan agar memurnikan niat. Bisa saja, niat berubah, kesombongan tumbuh, dan keikhlasan bergeser. Proses memasuki lautan yang membuat pejalan semakin fana tidak serta merta membuat pejalan mendapatkan kebaikan, tergantung pada niat dan ketulusan hati:
Ketika kau adalah jiwa yang tercemar,
Samudra tidak akan menolakmu; kau hanya akan tenggelam
ke dasarnya dan tetap menjadi dirimu yang tercemar.
Tetapi jika kau datang kepadanya sebagai setetes air yang murni,
kau akan kehilangan dirimu di Samudra,
menjadi satu dengan airnya yang luas.
Arus Samudra akan menjadi milikmu juga
—keindahannya yang bersinar, milikmu.
Ayfer Summermatter memaknai lembah ketujuh ini sebagai tahap mengatasi nafs kāmilah, nafs yang telah matang. Pejalan pada nafs ini telah memperoleh ciri-ciri kematangan total dan telah mencapai keadaan pencerahan utuh. Inilah nafs orang suci, orang murni, dan orang yang bijaksana. Di sini manusia telah mendapatkan fitrahnya yang asli sehingga gagasan, moral, dan perilakunya berubah sesuai fitrahnya. Di titik ini Attar menggambarkan:
Aku adalah setetes air; aku telah mencapai rahasia laut dan menghilang. Sekarang tidak ada kesempatan untuk menemukan tetesan itu! (Attar, 2015a, hlm. 312)
Setelah itu para tiga puluh burung bermuka-muka dengan Simurgh yang digambarkan seperti cermin. Di hadapan cermin 30 burung itu melihat diri mereka sendiri, karena Simurgh dalam bahasa Persia berarti 30 burung. Jadi, hakikat perjalanan Mi‘rāj adalah menemukan diri sejati.
Refleksi: Di Lembah Apakah Posisi Kita?
Membaca perjalanan burung-burung dalam Manthiq ath-Thayr segera saya merasa terpukul, karena tak satupun lembah-lembah itu ku mukimi. Sangat beruntung jika saya berada di satu lembah saja dari ketujuh lembah itu, karena itu berarti saya sedang melakukan perjalanan menuju Yang Ilahi.
Lembah pertama belum ku mukimi, karena niat dalam diri ini tak diorientasikan menuju Tuhan. Niat dalam semua tindakan saya diorientasikan mencapai hasil berupa uang yang banyak, tindakanku menjadi viral sehingga ada banyak pujian dan follower, serta kuasa yang membuat saya dihormat-hormati. Apalagi lembah kedua, kepalaku masih dipenuhi oleh logika pikiran tanpa cinta. Jika pun ada cinta, itu sekadar birahi untuk pemuasan nafsu syahwat belaka. Lalu lembah ketiga, ma’rifat, sangat jauh sekali. Jika tampak muncul pengetahuan baru dari saya, itu berasal dari bacaan yang luas: pengetahuan dari buku, bukan ilham ilahiah. Jika tiga lembah pertama saja belum kulalui, apatah lagi keempat lembah berikutnya. Maka, seharusnya saya berkemas untuk Mi‘rāj.
Marilah mencari Hud-Hud agar dapat memandu perjalanan melewati tujuh lembah! Apakah seruan ini masih berguna bagi kehidupan kita saat ini?