MENUNDA KENIKMATAN SEBAGAI BENTUK KONKRET ETIKA TANGGUNG JAWAB

Oleh: Arip Budiman

Menunda Kenikmatan sebagai Bentuk Konkret Etika Tanggung Jawab

 

Pada suatu hari yang tidak sedang dalam keadaan cerah, namun hujan juga nampaknya masih terlihat malu-malu untuk turun, saya sedang membaca satu buku untuk dipersiapkan sebagai bahan presentasi di minggu berikutnya. Di tengah penjelajahan atas barisan kata-kata yang menenggelamkan kesadaran, tiba-tiba suara adzan menyadarkan saya untuk kembali mengingat “Ada”, yakni sebuah panggilan untuk menghadap “Wajah Yang Lain”, dengan melaksanakan shalat Jumat. Nampaknya, aktivitas memainkan mata di atas kertas ini, tidak jarang menjerumuskan saya akan sebuah peristiwa tentang “Lupa-akan-Ada” (Seinsvergessenheit). Sebuah peristiwa dimana manusia melupakan makna dan esensinya dari “Ada”, karena terlalu sibuk dan terlalu menikmati apa yang dianggpnya berguna.

Ngomong-ngomong tentang “Ada”, saya di sini tentu tidak akan menjelaskannya secara panjang lebar karena tema tersebut sebelumnya juga pernah diulas dengan cukup apik oleh Prof BQ. Kalau saya kemukakan ulang, khawatir akan mengalami tafsir yang dangkal, bahkan mungkin menyesatkan. Saya singgung di sini karena saat membaca artikel esai yang berjudul Heidegger, “Lupa-akan-Ada”, dan Goodhart’s Law, sepintas saya teringat lagu Iwan Fals yang dirilis tahun 1991, pada album Cikal yang berjudul “Ada”. Kurang lebih liriknya seperti ini:

Ada yang ada

Ada yang tak ada

Nyatanya ada

Nyatanya tak ada

 

Antara ada

Antara tak ada

Ada antara

di antara ada dan tak ada

 

Hanya tak terasa ada di sana

Hanya tak terasa ada di sini

Hanya tak terasa apa yang dirasa

Ada dan tak ada mungkin tak berbeda

 

Antara ada di sini

Nalar di sini

Ada antara di sana

Di mana nalar?

 

Ada dan tak ada

Nyatanya ada

Menari dan bernyanyilah

Langit dan bumi nyatanya ada

Tapi tersimpan di cakrawala

 

Lagu tersebut tentu tidak sedang menjelaskan konsep ontology-nya Martin Heidegger, karena ia jauh lebih kompleks, ditambah lagi dengan istilah-istilah teknis yang khas, yang mana bahasa Indonesia sendiri tidak mampu untuk mewadahi maknanya secara tepat, seperti; Sein-Seiendes, Dasein, Zeitlichkeit, dan sebagainya. Akan tetapi sebagai sebuah resonansi, lagu Iwan Fals ini bisa dibilang mencerminkan kegelisahan ontologis ala Heideggerian. Lagu Iwan Fals tersebut, mengungkapkan pengalaman manusia akan kegamangannya, antara “ada” dan “tak ada”, antara “terasa” dan “tidak terasa”. Aktivitas saya membaca, membuat tenggelam hingga mati rasa dan luput akan perhatian, ini sama artinya dengan seperti “Lupa-akan-Ada” bukan? Alangkah lebih baiknya pembaca menjelajahi tulisan Prof BQ, agar tidak lupa “Ada”.

Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin fokus pada ketersingkapan “Wajah yang Lain”, saat suara adzan, mengetuk ketenggelaman yang membuat lupa akan “Ada”. Saat itu, saya langsung bergegas untuk mengambil wudhu, dengan sebuah tindakan yang cukup santai. Kenapa tidak segera dan tergesa-gesa untuk menyambut “Ada” “Wajah yang Lain”? Di samping tergesa-gesa itu adalah perbuatan “Setan”, kebetulan di Masjid tempat saya bekerja, adzanya dilakukan dua kali. Pikir saya, masih memiliki waktu yang cukup untuk menuju tempat dilangsungkannya ibadah shalat Jumat.

Saat itu kondisi masjid tidak terlalu penuh seperti biasanya, maklum mungkin karena akhir-akhir ini sering terjadi hujan, jadinya sebagian besar mahasiswa dan dosenpun melaksanakan perkuliahannya secara daring. Meskipun suasananya tidak terlalu ramai, anehnya para jemaat yang akan melangsungkan shalat jumat ini, lebih banyak memilih untuk duduk di luar, di pelataran masjid. Himbauan khatib untuk bertaqwa dan mendekatkan diri pada sang “Ada” pun, seolah sirna seperti kepulan asap rokok yang dihisap oleh sebagian Jemaah shalat jumat yang ada di pelataran Masjid tempat saya bekerja.

Dalam kondisi itu, saya selalu merasa heran, di tengah sang khatib menyerukan untuk bertaqwa dan mendekatkan diri pada Allah, selalu saja ada orang yang tidak mampu untuk menunda kenikmatannya dengan menghisap sebatang rokok. Definisi kita tentang manusia, tentu beragam. Tetapi, bagi saya yang membedakan kita dengan hewan yang lainnya adalah kemampuan kita untuk sekedar menunda sebentar saja dari kenikmatan yang kita inginkan. Itulah kenapa, ujung dari ibadah puasa ialah agar kita bertaqwa. Ujung dari puasa sebagai perilaku menunda kenikmatan yaitu sebuah tindakan etis untuk tidak mengabaikan “Ada” pada “wajah yang lain” yang tidak dapat menikmati megahnya hari raya, dengan mengeluarkan apa yang kita punya dan dibagikan pada kaum dhuafa.

 

Menunda Kenikmatan sebagai Pemenuhan Tanggung Jawab Etis atas “wajah yang lain”

Di pelataran masjid saat khutbah jumat berlangsung, ratusan sandal berjejer secara tidak beraturan, seseorang dengan asyiknya menghisap rokok lalu abunya dijentikkan begitu saja ke arah sandal. Di antara orang-orang yang merokok itu, salah satunya saya kenal. Ia pun menawarkan rokoknya kepada saya untuk dihisap. Namun, saya menolaknya dengan tegas seperti ini: “meskipun saya sekuler dan tidak sholeh-sholeh amat dalam beragama, untuk merokok di pelataran Masjid saat khutbah jumat berlangsung, saya tidak mau”. Lalu sang rekan pun berujar: “biasa aja wa, saya juga dulu waktu mesantren biasa seperti ini kok”. Sang rekan mencoba untuk meyakinkan saya, bahwa perilaku untuk tidak menunda nikmatnya menghisap rokok, tidaklah menyalahi aspek teologis dalam beragama.

Beberapa menit kemudian, khutbah jumat untuk menyerukan mengingat tentang “Ada” dan peduli terhadap “wajah yang lain” pun selesai. Sang muraqi berdiri dan melafalkan kalimat iqamat sebagai penanda bahwa shalat Jumat akan segera dilangsungkan. Setelah selesai shalat, para Jemaah berhamburan keluar untuk memulai aktivitas duniawinya kembali, setelah sejenak mencoba untuk mengingat “Ada” dan berjumpa secara imajinatif pada “Wajah yang Lain”. Setelah saya berada di pelataran masjid dan hendak memakai sandal, betapa kesalnya mendapati alas kaki yang saya gunakan telah bolong akibat dari aktivitas orang yang mengaku diri sebagai muslim yang tidak mampu menunda kenikmatannya dengan menghisap rokok, dengan membuang puntungnya yang masih menyala dan kebetulan hinggap di atas sandal yang saya gunakan.

Perilaku menunda kenikmatan seperti menghisap rokok, tentu bukan soal urusan “benar-salah”, tapi bagi saya lebih kepada tanggung jawab etis. Dimana bagi Levinas, etika adalah filsafat pertama karena kewajiban dan tanggung jawab terhadap “Yang Lain” (the others) mendahului dan menjadi dasar bagi semua bentuk pengetahuan dan pertimbangan rasional lainnya, seperti epistemology atau pun ontology.

Di titik itulah saya teringat pada filsafat etika yang dikembangkan oleh Emmanuel Levinas. Baginya, etika tidaklah dimulai dari sesuatu atau aturan yang abstrak, seperti wacana yang oleh Talal Asad bersifat orthodoxy (kepatuhan pada tradisi yang dianggapnya benar saat di pesantren) atau heterodox (pemikiran yang berbeda dalam satu bidang agama). Etika tanggung jawab Levinas, berangkat dari “wajah lain” yang terluka, dari kehadiran mereka yang tanpa suara menuntut kita untuk bertanggung jawab. Sandal, meskipun harganya tidak seberapa dan bisa dibilang sebagai benda, telah membuat orang yang tidak mampu menunda kenikmatan menghisap rokok “Lupa-akan-Ada”. Lubang kecil pada sandal itu menjadi semacam kehadiran “wajah lain” yang polos dan rapuh, oleh perilaku seseorang yang tidak sanggup menunda kenikmatan hanya sebentar saja, demi penghormatan atas yang lain.

Dunia pendidikan kita sudah terlampau modern. Salah satu paradigma yang berkembang dalam era modern adalah positivisme, yaitu aliran yang menempatkan status ontologis realitas hanya pada sesuatu yang teramati dan terukur. Meskipun mungkin orang yang membuang puntung rokok sembarangan itu belum pernah belajar filsafat Barat yang dikritik Levinas sebagai corak berfilsafat yang “egois”, sepertinya ia tetap hidup dalam pola pikir yang sama: tindakan-tindakan yang ia lakukan seolah hanya menggugurkan perasaan keislamannya pada salah satu rukun Islam saja. Misalnya, ia merasa berdosa saat meninggalkan shalat, puasanya masih sering godin (sering batal dengan sengaja), sementara aktivitasnya yang merugikan orang lain, seperti membuat sandal orang lain menjadi bolong, menjilat atasan, mungkin juga korupsi, seakan tidak menggugurkan status keislamannya. Maka tidak heran, banyak koruptor setelah tertangkap, dengan tidak malunya, justru mengenakan pakaian Muslim. Seakan tindakan korupsinya tidak menggugurkan status ke-Islamannya. Ukuran Islami dan tidak, disempitkan pada ukuran modern, seperti hanya merujuk pada kelima rukun Islam saja. Apabila terlalu fokus pada ukuran saja, “ukurang menjadi target, ukuran tersebut berhenti menjadi ukuran yang baik, ketika ukuran menjadi target, ukuran itu kehilangan makna”. Seperti yang dikemukakkan oleh Prof BQ, ini seperti tindakan “Lupa-akan-Ada”.

Emmanuel Levinas pernah menyinggung pada bukunya yang berjudul Totality and Infinity, bahwa kehidupan manusia memang dipenuhi dengan “kenikmatan”, seperti; makan, minum, rasa nyaman, yang membuatnya merasa betah dengan diri sendiri. Masalahnya, ketidak mampuan menunda kenikmatan seperti merokok (salah satunya), memiliki kecenderungan untuk mengabaikan “wajah yang lain” yang rapuh. Si penikmatnya larut dalam “aku”, lupa bahwa di luar asap yang dihirupnya dan dari api puntung rokoknya, ada orang lain yang bisa saja tersakiti (lupa “ada” antara “tak ada” dan tidak “terasa” seperti lagu yang dilantunkan Iwan Fals). Dalam kasus ini, Levinas seolah berbisik: sebelum saya menikmati rokok yang ada di tangan saya, sudah ada “wajah lain” yang menatap saya untuk berhenti dan bilang “jangan sakiti saya”.

Sejak saat itu, saya mulai menyadari bahwa kebiasaan kita dalam ketidakmampuan menunda kenikmatan seperti menghisap rokok, entah di pelataran masjid, bahkan saat berkendara, bukan hanya soal adab, tetapi gejala paling sederhana dari krisis etika yang digambarkan Levinas. Ketidakmampuan kita untuk menghadirkan orang lain dalam ukuran senang “aku” bukan hanya membuat kita “Lupa-akan-Ada”; lebih dari itu, ia menyeret kita ke dalam rutinitas aktivitas keagamaan yang kering, seperti kutbah jumat yang menyeru untuk bertakwa, tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi takwa, karena pesannya sirna oleh asap rokok yang membumbung angkasa tanpa perasaan dosa. [ ]

WhatsApp
Facebook
Email
Print