Oleh: Fakhri Afif

Etika sebagai Jantung Cinta Relasional
Hari ini, kita hidup di zaman yang fasih berbicara mengenai cinta, namun gagap merespons ketika cinta berubah menjadi keputusan yang melukai. Hampir semua orang pernah merasakan, atau setidaknya pernah menyaksikan, versi adegan demikian, atau diam-diam memainkannya. Ada pasangan yang bersumpah tulus, lalu tiap notifikasi menjadi interogasi. Ada yang menyebut cemburu sebagai sebagai bumbu, padahal ia bekerja seperti pajak harian yang makin lama makin mencekik. Ada pula tuntutan moral yang terdengar suci: “kamu harus mengerti”, “kamu harus menyesuaikan”, “kamu harus membuktikan”; seakan-akan, cinta selalu punya sudang etiknya sendiri, dengan satu hakim yang kebetulan memegang palu. Apa yang bagi saya sangat aneh, intensitas emosi sering dijadikan bukti kebenaran. Semakin bergetar, semakin dianggap valid. Padahal, kita semua tahu, bahwa gempa juga memiliki getaran. Pada titik ini, saya mengimajinasikan bahwa pertanyaan yang sebetulnya layak untuk diketengahkan adalah apa yang membuat cinta itu baik atau bermoral, bukan apakah ia kuat atau tidak. Sebab, tulus saja tidak dapat dijadikan jaminan yang menggaransikan keselamatan. Ia hanya membuktikan bahwa mesin menyala, bukan arah perjalanan.
Budaya populer memuliakan emosi sebagai otoritas final, sehingga cinta kerap kali dibiarkan berjalan tanpa pedagogi moral. Kita diajari satu mantra yang sangat naif namun terdengar emansipatoris: ikutilah kata hatimu. Mantra ini tampaknya sederhana, instan, dan bahkan sangat instragrammable. Lalu, refleksi, dialog, pertukaran sudut pandang, maupun penjelajahan perspektif dipangkas seperti biaya operasional yang dianggap tidak perlu. Hasilnya saya pikir sangat mudah ditebak, di mana impuls diberi mahkota, kerusakan diberi narasi, dan tindakan yang merugikan orang lain mendapat ijazah kelulusan karena dibaptis sebagai cinta. Kalimat yang populer diungkapkan pun terdengar sangat mengalir, “aku melakukan ini karena sayang”. Seperti ada mesin cuci retorik yang sanggup memutihkan noda apa pun selama labelnya emosi atau perasaan. Di sinilah Susi Ferrarello memulai kegelisahannya. Dalam The Ethics of Love (2022), ia berusaha mengingatkan bahwa kita kekurangan pendidikan moral mengenai cinta, mulai dari cara membaca emosi, menimbang konsekuensi, dan memelihara hubungan tanpa meneggelamkan siapa pun. Melalui artikel ini, saya akan menguraikan poin-poin yang ia identifikasi sebagai badai-badai emosional yang paling sering membuat relasi menjadi “karam”.
Berdasarkan perjumpaan, dinamika, dan penghayatan terhadap relasionalitas yang saya alami, saya melihat bahwa etika dan moralitas sama sekali bukanlah merupakan polisi bagi cinta. Kontras dengan itu, ia sebetulnya merupakan jantung dari, sekaligus merupakan penentu kehidupan terhadap, cinta, sebagaimana logika membentuk dan mendisiplinkan nalar agar tidak menjadi liar. Dalam salah satu karya terkenalnya, The Therapy of Desire (1994), Martha Nussbaum berpendapat bahwa etika merupakan teknologi kehidupan yang ditujukan untuk menumbuh-kembangkan karakter moral manusia (eudaimonia). Hal tersebut, seperti yang jauh-jauh hari ditulis oleh Aristoteles (2004), dapat dicapai melalui komitmen untuk bertindak berdasarkan penalaran yang reflektif. Sehubungan dengan itu, Ferrarello kemudian merumuskan hubngan antara etika dengan cinta dengan kalimat yang sangat tajam, “logic is to reasoning in the same way as ethics is to loving (logika itu untuk berpikir sama seperti etika (yang memungkinkan, menuntun, dan memberi orientasi) untuk mencintai.” Logika tidak memusuhi pikiran, mengingat bahwa ia sejatinya melatih pikiran agar tidak menipu dirinya sendiri. Etika bekerja serupa pada cinta. Ia tidak mematikan emosi; ia mengajar kita cara membaca dan memahami emosi, menguji keyakinan kita yang mengendarainya, lalu mengarahkan tindakan agar tidak berubah menjadi kekerasan yang merasa benar.
Menurut saya, premis demikian memang sangat krusial untuk direnungkan, mengingat bahwa cinta, seperti yang ditegaskan William K. Frankena dalam konstruksi etika cintanya, itu merupakan predikat relasional yang memperoleh maknanya dalam praktik relasionalnya yang konkret (Frankena, 1973). Ia sama sekali tidak mengambil bentuk sebagai benda privat di dalam diri yang cukup dijaga agar tetap hangat. Saya banyak belajar dari pengalaman personal saya bahwa cinta itu terbukti dalam cara hadir, dalam pilihan kecil yang berulang, dalam pelukan yang tepat atau jarak yang sehat. Atas dasar itu, saya berargumen bahwa kita memerlukan kompas moral untuk mencintai. Dalam tulisan ini, saya akan mengajak pembaca untuk menelusuri lima dilema moral dalam mencintai: antara keberuntungan dan pilihan; antara marah dan integritas; antara cinta dan keadilan; antara tragedi dan kedewasaan; dan antara cinta tanpa syarat dan batas yang menyehatkan. Hingga saat ini, saya meyakini bahwa angin emosi, perbedaan pendapat, bahkan badai konflik itu akan merupakan komposisi alamiah yang akan selalu ada dalam setiap relasi. Akan tetapi, apa yang sebetulnya dipertaruhkan adalah kompas moralnya.
Lima Dilema Emosional
- Keberuntungan, Kehendak, dan Phronesis
Pernahkah anda mendengar pernyataan “ini takdir” yang diucapkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta? Atau jangan-jangan, anda pernah mendengarnya dari kawan anda yang sedang melakukan tindakan amoral terhadap pasangannya? Saya memahami bahwa frasa tersebut sering digunakan untuk mengagungkan cinta, atau untuk meloloskan diri dari tanggung jawab moral. Pada satu titik, cinta diperlakukan seperti reaksi kimia murni. Kita jatuh, lalu tinggal pasrah, seakan-akan hormon adalah kitab suci yang tidak bisa dibantah. Dari sini lahir kalimat-kalimat justifikasi yang terdengar bijak, padahal sebetulnya malas, seperti “aku memang seperti ini kalau sedang sayang,” “maaf jika kamu terluka, karena itu efek samping dari rasa sayangku.” Pada titik lain yang berseberangan secara diametral, cinta dibayangkan sebagai kehendak total. Relasi disusun seperti proyek arsitektur pribadi, lengkap dengan blueprint tentang pasangan ideal, jam operasional emosi, dan standar perilaku yang harus dipenuhi. Tidak jarang, referensinya diambil dari media sosial yang lebih banyak mengungkapkan citra yang dipoles demi popularitas, bukan menceritakan apa yang sebetulnya terjadi. Apabila realitas menolak, realitas yang dianggap kurang bahkan keliru. Sementara yang pertama membuat kita menjadi korban angin, yang kedua membuat kita jadi penguasa cuaca.
Padahal angin pertama memang sering datang tanpa undangan. Namun, setelah angin itu lewat, selalu ada fase ketika kita memilih menahan diri, memilih mendengar, memilih merawat batas, atau memilih menekan orang lain dengan dalih demi hubungan. Pertanyaan saya, bagian mana dari cinta yang tetap pilihan kita, terutama setelah getaran awal mulai mereda? Takdir boleh jadi memulai cerita, namun moralitas amat sangat menentukan “genre” cintanya, apakah ia akan berakhir sebagai tragedi, komedi, atau horor. Ferrarello memosisikan cinta di antara keberuntungan dan pilihan, lalu memindahkan fokus dari asal-usul cinta menuju kualitas pengendaranya. Penting untuk diingat, keberuntungan memang memberi pertemuan, timing, dan ketertarikan yang kadang sulit dijelaskan secara rasional, layaknya arus yang membawa dua kapal ke teluk yang sama. Akan tetapi, kebaikan cinta tidak selalu diderivasi sebagai paket jadi yang tinggal kita konsumsi. Bagi saya, ia lahir sebagai kerja dan performasi aktif, penemuan yang terus diperbarui, lalu komitmen yang terus berusaha dijaga ketika suasana hati sedang tidak kooperatif. Pada titik ini, konsep etis dari tradisi Yunani, phronesis—kombinasi antara rasionalitas dan tindakan praktis, dapat memainkan peran sebagai kompas moral. Ia menimbang situasi, membaca batas, dan memproyeksikan berbagai konsekuensi sebelum kita menyebut tindakan impulsif sebagai kejujuran.
Menariknya, Phronesis justru lebih sering terlihat pada hal-hal kecil: memilih berhenti mengirim pesan pasif-agresif; memilih meminta maaf tanpa pidato pembelaan; memilih menunda keputusan besar sampai emosi reda. Integrasi phronesis dalam proses mencintai dapat mengubah perasaan impulsif menjadi sebuah proses pedagogis bagi batin seseorang. Sehubungan dengan ini, cinta ditempatkan sebagai developmental process di mana sang kekasih belajar untuk melakukan diskriminasi nilai—beralih dari sebatas ketertarikan pada keindahan fisik menuju apresiasi terhadap keindahan jiwa dan ilmu pengetahuan. Cinta yang dinavigasi oleh kebijaksanaan praktis kemudian bertransformasi menjadi sebuah penerangan terhadap hasrat. Di sini, cinta adalah upaya sadar untuk mendaki tangga nilai demi mencapai standar kesempurnaan diri yang lebih universal (Wagoner, 1997). Kesetiaan, dalam lensa ini, lebih menyerupai kebiasaan merawat jarak dan perhatian, bukan slogan heroik yang dipasang di Instagram bio atau WhatsApp status. Kita bisa menerjemahkannya ke dalam latihan kecil yang sangat sederhana. Silakan ambil kertas, lalu buat dua kolom. Di satu sisi, tulis apa yang menjadi harapan saya, sementara di sisi lain, tulis apa yang sanggup saya beri. Lalu, periksa apakah relasi ini sedang mengatur layar, atau diam-diam sedang memesan cuaca.
- Ate, Thumos, dan Kemarahan
Pada umumnya, marah dalam relasi mengaku sebagai bukti cinta. Padahal, ia bisa jadi merupakan cara paling cepat untuk mengubah cinta menjadi kekerasan yang tidak kasat mata. Terkadang, marah meledak terang-terangan: suara naik, pintu dibanting, lalu besoknya minta maaf dengan kalimat yang juga bernada perintah. Kadang pula, ia hadir lebih dengan gaya yang lebih kreatif: lewat sindiran yang implisit, lewat humor yang menyengat, lewat menghilang beberapa jam agar pasangan belajar merasakan marahnya. Ada yang memilih hukuman diam, ada yang memilih memata-matai, dengan dalih ingin tenang. Semua ini bisa dikemas dengan satu label yang terdengar sangat luhur, “aku peduli”. Pada titik inilah terjadi distorsi dalam relasi, di mana marah digunakan sebagai lisensi moral, bukan sebagai sinyal yang perlu ditafsirkan. Padahal, marah sering muncul karena ada batas yang dilanggar, ada rasa yang dipermalukan, ada emosi yang tidak dianggap, ada pengalaman yang tidak direkognisi. Poin yang perlu saya tekankan di sini, masalah utamanya berkaitan erat dengan kenyatan bahwa sinyal itu mudah disabotase oleh ego. Kita ingin disebut terluka, namun diam-diam juga ingin menang. Pertanyaan moral yang hendak saya tanyakan sangat sederhana, kapan marah sedang membela integritas, dan kapan ia hanya merupakan kompulsi untuk menguasai situasi? Ironisnya, menghapus marah total juga rapuh. Ia membuat kita pasif, menimbun luka, lalu suatu hari dapat meledak lebih liar dan mengerikan.
Ferrarello lantas membedakan marah yang buta dan yang marah berani, di mana yang satu merusak relasi, yang lain bisa melindungi martabat tanpa membakar jembatan. Dalam bahasa Yunani yang ia pinjam dari Homer, ada ate—sebuah modus kemarahan yang membuat kita kehilangan ukuran, dan ada thumos—energi yang dapat diarahkan untuk berkata tegas tanpa menghancurkan. Thumos tidak selalu terdengar manis, namun ia tetap punya prientasi. Ia mampu berkata cukup tanpa menambah luka yang tidak perlu. Distingsi demikian terasa abstrak sampai kita bertanya hal yang lebih dekat dengan kita, keyakinan apa yang sedang menopang marah saya? Pada titik ini, saya melihat bahwa terapi Epicurean sangat membantu. Ada begitu banyak kemarahan yang ternyata kosong: ia lahir dari kepercayaan palsu tentang hak, gengsi, dan skenario bahwa orang lain wajib membaca pikiran kita. Saat keyakinannya dikoreksi, intensitasnya menurun, dan kita bisa memilih tindakan yang lebih bersih. Latihan dari Ferrarello yang saya suka justru yang sederhana. Tunda respons anda dua puluh menit ketika marah. Lalu tulis satu kalimat tentang yang sedang anda lindungi, dan satu kalimat tentang yang sedang anda takutkan. Tidak berlebihan jika saya tuliskan bahwa marah yang jernih menjaga integritas, sementara marah yang kabur lebih banyak menjaga ego.
- Amor Pius, Dica Cupido, dan Keberpihakan
Cinta merupakan pengalaman eksistensial yang sangat mudah berubah menjadi bias yang terasa suci. Kita berlaku tidak adil sambil merasa paling tulus. Contohnya sangat dekat dan seringkali dinormalisasi. Kita membela pasangan atau keluarga meski jelas salah, lalu menyebutnya sebagai loyalitas. Kita menutup mata pada korban karena “asalkan dia bahagia”. Kita memberi privilese kecil, di mana urusan kerja dipermudah, aturan diterobos, demi orang yang kita cintai. Cinta memang punya kecenderungan memusatkan dunia pada satu wajah, dan di situlah ujian moralnya justru berlangsung. Ada paradoks sosial yang menarik sekaligus memalukan untuk direnungkan. Bahwa, ketidakadilan yang dilakukan atas nama cinta sering dipuji sebagai romantik, heroik, bahkan matang. Film mengajarkannya, lagu merayakannya, dan tidak jarang, teman-teman satu circle membenarkannya. Seolah-olah, cinta punya pintu belakang moral yang selalu terbuka, asal kita datang sambil membawa perasaan. Persoalannya bagi saya tidak terletak pada cinta yang terlalu besar. Lebih dari itu, yang menjadi persoalan adalah ketika kompas moral kita mulai mengecil. Kita lalu dapat mengajukan pertanyaan yang relatif mengusik bagi keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari, apakah cinta yang baik dapat hidup berdampingan dengan keadilan? Atau justru cinta membutuhkan keadilan agar tidak berubah menjadi pemihakan yang brutal, hanya karena kita senang dengan satu pelabuhan?
Ferrarello menawarkan kepada kita sebuah cara untuk memisahkan cinta yang konstruktif dari hasrat kompulsif, lalu mengangkat care sebagai bentuk cinta yang kompatibel dengan keadilan. Ia membaca dua wajah cinta, amor pius dan dira cupido. Amor pius membawa ketertiban batin sekaligus menjaga relasi agar tetap manusiawi. Sementara itu, dira cupido membuat kita mabuk kepemilikan, lalu menyebut mabuk itu sebagai kedalaman. Dari sini muncul stance yang penting untuk saya tekankan, yaitu bagaimana agar kita belajar untuk menjadi sahabat bagi orang yang kita cintai. Sehubungan dengan ini, menjadi sahabat berarti apa yang Hannah Arendt (1958) sebut sebagai amor mundi; sebuah persahabat egaliter yang mencintai seseorang apa adanya, sekalipun ia dikelilingi oleh keterbatasan dan senantiasa dibersamai kerentanan. Amor mundi kemudian mengambil bentuk sebagai potensi cinta yang positif, di mana seseorang dapat menghendaki kebaikan pasangannya, termasuk ketika kebaikan itu menuntut koreksi, bukan sekadar menuntut kedekatan.
Sampai di sini, ethics of care kemudian bekerja dengan memberikan peran penting bagi emosi, bergerak di wilayah kerentanan, melihat luka tanpa menjadikannya sandera, sekaligus berani bertanya apakah keputusan kita sedang merawat atau sedang menutup-nutupi (cf. Gilligan, 1982; Noddings, 1984; Tronto, 1995). Penting untuk saya klarifikas, emosi dalam promotor etika kepedulian dipahami sebagai mengandung penilaian yang tidak didasarkan pada doktrin moral apapun yang mendahului subjek; ia justru berakar kuat pada pengalaman hidup konkret setiap subjek moral. Lebih dari itu, cakupan penilaian dalam emosi juga memiliki konten evaluative yang menjadikan kepedulian itu menjamin keberlangsungan hidup manusia, demikian tegas Nussbaum (2013). Beralaskan itu, Ferrarello berargumen bahwa cinta dalam bentuk care harus menjadi prinsip moral bagi sosialitas kita, dan kita mesti diedukasi berdasarkan prinsip tersebut. Relasionalitas, pada akhirnya, adalah republik dalam bentuk kecil. Ia ikut membentuk cara kita memperlakukan orang lain di luar rumah (cf. Schoonheim, 2018). Lalu, ada satu langkah yang sering kita lewatkan karena telah menjadi candu akibat zat adiktif romantisisme, di mana kita tidak begitu peduli pada konsekuensi personal dan sosial dari tindakan yang kita ambil demi cinta. Ferrarello menawarkan sebuah latihan yang menarik sekaitan dengan ini. Sebelum memutuskan sesuatu yang mengatasnamakan cinta, tulis dua akibat sosial yang mungkin muncul, mulai dari siapa yang terdampak hingga siapa yang disingkirkan. Pendek kata, cinta yang adil selalu bertanggung jawab, sekalipun ia tidak selalu lembut.
- Sense of Tragedy dan Kerendahan Hati
Fantasi bahwa cinta itu bisa steril dari luka membuat kita tidak siap menghadapi hidup, sehingga relasi rentan runtuh ketika realitas tidak mengikuti scenario dalam benak kita. Ada mitos yang laris manis karena menenangkan para pecinta, bahwa cinta yang benar itu harusnya berjalan lancar. Apabila anda sudah menemukan orang yang tepat, konflik akan mengecil, penyakit dapat ditawar, dan kehilangan akan datang dengan penuh sopan santun. Lalu saat hidup memperlihatkan wataknya yang asli, karakternya yang paradoks, dan sifatnya yang tidak menentu, hubungan mulai mencari kambing hitam. Tidak sedikit dari yang berada di situasi ini kemudian menganggap pasangan sebagai kurang dewasa, kurang iman, kurang usaha, kurang romantis. Seakan-akan, tragedi selalu merupakan bukti bagi kegagalan karakter. Padahal, sejauh pengalaman saya, tragedi lebih menyerupai struktur keterbatasan yang menandai kondisi alamiah manusia. Kita terbatas dalam kontrol, terbatas dalam pengetahuan, terbatas dalam piliha, dan terbatas oleh waktu, dan. Ada hal yang tak bisa kita atur meski kita sudah menulis rencana lima tahun, membuat journaling, dan memasang himpunan kutipan motivasi di dinding kamar maupun di sticky notes. Ketika tragedi hadir dalam relasi, sebagian orang kabur, sebagian menyangkal, sebagian memaksa pasangannya untuk selalu kuat, seolah tangis adalah bentuk pengkhianatan. Pada titik ini, saya berpendapat bahwa sense of tragedy merupakan suatu kapasitas moral, bukan pesimisme. Bukankah laut memang tidak pernah berjanji bahwa cuacanya akan selalu cerah? Bukankah kedewasan pelaut itu dilihat dari kemampuannya dalam membaca musim?
Ferrarello menilai bahwa sense of tragedy memperluas penilaian moral seseorang dalam berelasi. Ia mengajari kita cara mencintai tanpa ilusi kontrol total. Ketika sense of tragedy hilang, yang tumbuh sering kali adalah kesepian, karena kita menuntut hidup mengikuti selera kita, lalu kecewa ketika hidup bertingkah tanpa peduli sopan santun. Bersamaan dengan itu, penilaian moral pun melemah, sebab kita menilai orang lain dengan standar manusia super yang selalu stabil, selalu siap, selalu kuat, selalu aktif, dan selalu menyelamatkan. Itulah mengapa, saya ingin menegaskan bahwa tragedi merupakan guru yang mendidik kita untuk mengkultivasi karakter moral berupa kerendahan hati. Ia membuat kita lebih realistis, lebih empatik, dan lebih sabar terhadap ambiguitas. Dalam kerangka ini, relasi pun bergeser dari logika menguasai menuju logika mendampingi. Ada momen yang bisa diperbaiki melalui komunikasi, terapi, atau perubahan kebiasaan. Namun, ada pula momen yang hanya bisa ditemani, seperti sakit berkepanjangan, duka, atau kegagalan yang tidak memilih tanggal. Jika hendak diterjemahkan dalam bentuk latihan, kita bisa memulai dengan membedakan mana yang dapat kita perbaiki dan mana yang harus kita bersamai. Penting untuk diingat, dua aksioma moral ini sama-sama penting. Berdasarkan itu, mencintai dengan matang berarti berani hidup bersama batas, bukan berpura-pura bahwa batas itu tidak ada.
- Unconditional Love dan Etika Batas
Salah kaprah yang paling populer di masyarakat kita adalah mengira bahwa cinta tanpa syarat berarti cinta tanpa batas. Padahal, hal tersebut lebih sering menjadi jalan pintas menuju penghapusan eksistensi. Kita sangat mengenal polanya: mulai dari memaafkan tanpa proses, karena takut kehilangan; menoleransi pelanggaran, karena ingin dianggap setia; hingga memikul semua beban rumah tangga, semua drama, semua kebohongan kecil, lalu menyebutnya sebagai komitmen. Pada titik tertentu, kata unconditional berubah menjadi alat manipulasi moral. Apabila anda benar-benar cinta, kamu akan mengerti. Apabila anda benar-benar sayang, kamu tidak akan mempermasalahkan. Kalimat semacam itu memang terdengar sopan di telinga kita, namun sebetulnya bekerja seperti “borgol yang dilapisi beludru”. Menurut saya, relasi yangsehat membutuhkan dua subjek yang sadar akan agensinya masing-masing. Apabila salah satu hilang, yang tersisa tidak lain kecuali ketergantungan, bukan kedekatan. Dan, ketergantungan memiliki kebiasaan yang sangat buruk, di mana ia mengubah rasa takut menjadi kebajikan palsu.
Pertanyaan yang dilematis yang sulit untuk dijawab secara cepat adalah bagaimana menerima tanpa mengizinkan kekerasan? Tidak jarang, pengorbanan sebetulnya hanya merupakan trauma yang menemukan baju puitis. Ferrarello menguraikan bahwa unconditional love itu tidak identik dengan tiadanya batas. Justru, batas merupakan bentuk tanggung jawab moral dalam mencintai. Alih-alih membuka semua pintu pada saat menghadapi badai relasi, unconditional love lebih adekuat dipahami sebagai sikap menerima martabat orang lain tanpa menjadikan diri sendiri korban permanen. Dalam konteks ini, batasan bekerja sebagai pelindung martabat, juga sebagai cara menjaga relasi agar tetap berlangsung secara dialogis. Tanpa batas, cinta mudah menjadi fusi, lalu bergeser menjadi dominasi, dari pihak yang menuntut atau dari pihak yang selalu mengalah.
Pada momen inilah kita perlu membedakan batas dari, dan tidak menyamakannya dengan, hukuman. Batas tidak datang sebagai ancaman; ia hadir sebagai definisi safe place (ruang aman), agar relasi memili tempat untuk bernapas. Dalam ungkapan yang berbeda, batas adalah bentuk tanggung jawab moral dalam mencintai yang tanpanya, hubungan akan kehilangan sifat dialogisnya dan pada akhirnya terjebak dalam dominasi. Di lain tempat, Ferrarello mengingatkan bahwa suara transendental intimasi menuntut kebebasan dari kendala moral sosial yang dangkal agar kita bisa menjalin dialog yang lebih jujur dengan faktisitas atau keterbatasan diri sendiri (Ferrarello, 2018). Kita bisa belajar dari hal yang tidak rumit dengan merumuskan satu kalimat batas yang tenang, terukur, dan tidak menyerang, seperti saya peduli, dan karena itu aku tidak bisa menerima X. Setelah itu, kita berusaha menahan diri dari meromantisasinya agar terdengar indah. Sebab, batas yang sehat jarang berbentuk puitis; Ia efektif dalam menata hubungan. Ingatlah, pintu kapal ditutup bukan untuk membenci laut, namun untuk tetap melangsungkan pelayaran.
Refleksi dan Catatan Penutup
Etika cinta yang adekuat tidak berhenti pada, dan dibatasi oleh, aturan atau hitung-hitungan hasil, namun membentuk pribadi moral yang benar-benar loving (Frankfurt, 2004). Etika yang hanya mengandalkan kalkulasi konsekuensi rentan akan tergelincir: demi tujuan yang dianggap baik, seseorang merasa berhak melukai, lalu menyebut luka tersebut sebagai ongkos produksi yang mesti dibayar. Sebaliknya, etika formal sering memberikan prinsip yang tertata rapi, namun kurang menyentuh pembentukan karakter ketika dilema hadir dalam bentuk wajah yang kita cintai, bukan dalam soal pilihan ganda. Ferrarello membentangkan horizon moral kepada kita untuk memahami orientasi Kebajikan dalam mencintainya. Kita lantas dapat menggeser pertanyaan kita dalam berelasi dari “siapa saya sedang menjadi” menuju “bagaimana cara saya mencintai”.
Di sini, konsep love-values menemukan signifikansinya. Nilai-nilai cinta muncul dari kedalaman diri, lalu menyuarakan kewajiban moral untuk peduli pada diri sendiri dan pada yang-lain dalam keberlainannya. Nilai demikian, tidak jarang saling bertabrakan satu sama lain. Dan benturan yang mengambil bentuk sebagai antinomi moral seperti itu tidak otomatis menandakan bahwa cinta itu gagal. Kontras dengan itu, saya berpendapat bahwa ia menandakan kebutuhan untuk mengimajinasikan, menalar, dan mengklarifikasi mana yang saya lindungi, mana yang saya korbankan, dan apakah pengorbanan itu sungguh diperlukan (cf. Hartmann, 2017). Maka dari itu, pertanyaan mengenai etika cinta tidak terbatas pertanyaan normatif terkait apa saja yang boleh/tidak boleh dilakukan, melainkan menjangkau pertanyaan moral-eksistensial mengenai siapa yang sedang kubentuk.
Apabila cinta benar-benar merupakan relasi seperti yang sudah saya tegaskan di awal, maka latihan etika cinta harus berangkat dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjaga relasionalitas tersebut agar tetap menjadi manusiawi. Kelima dilema yang sudah saya paparkan sebelumnya dapat diringkas ke beberapa gerak sederhana yang apabila dilatih secara berulang, memang terkadang membosankan, namun sejatinya akan menyelamatkan sebuah hubungan. Pertama, membaca emosi sebagai sinyal, lalu menguji keyakinan di baliknya, supaya kita tidak menjadikan marah sebagai lisensi dan takut sebagai kebajikan. Kedua, merawat dua-subjek lewat batasan moral, agar cinta tidak berubah menjadi kepemilikan yang dibungkus kepedulian.
Ketiga, menimbang dampak sosial tindakan cinta, karena hubungan bukan pulau privat yang hanya dimiliki oleh dua konglomerat. Ia punya efek pada orang lain, pada cara kita membangun keadilan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan seperti ini tidak membuat cinta steril; ia membuat cinta lebih bertanggung jawab. Pada akhirnya, cinta tetaplah angin, kadang ia lembut, tidak jarang ia ganas. Akan tetapi, dari eksposisi di atas, kita sudah memiliki kompas, juga peta untuk membaca cuaca. Hal penting yang harus selalu diingat, kita tidak memesan cuaca; kita mengatur bagaimana cara kita berlayar dalam menghadapi cuaca Samudra yang tidak menentu.
Sebagai catatan penutup. cinta yang baik adalah cinta yang tetap tahu arah ketika badai datang, bukan yang tidak menghadapi badai sama sekali. Lima dilema yang telah kita ulas di atas tidak boleh dilihat sebagai kejadian langka yang hanya menimpa orang “kurang beruntung” atau “kurang dewasa”. Ia merupakan pola hidup. Ada saat kita bersembunyi di balik takdir, ada saat kita ingin mengendalikan segalanya. Ada hari ketika marah terasa seperti satu-satunya bahasa yang tersedia, lalu kita menamainya kepedulian. Ada musim ketika tragedi datang dan mengagetkan kita, seolah hidup melanggar kontrak yang tidak pernah ia tanda tangani. Ada juga salah kaprah paling populer yang mengira cinta tanpa syarat berarti menutup mata pada pelanggaran, lalu menyebutnya sebagai kesetiaan.
Saya ingin mengulangi tesis sederhana dari tulisan ini, bahwa etika adalah cara mencintai yang belajar dari, dan bertumbuh melalui, dilemma moral, bukan teknik strategis untuk menghindari dilema. Sejalan dengan salah satu penafsiran neo-Platonik, kita dapat memahami bahwa mencintai secara etis berarti membuka diri terhadap kemungkinan perubahan diri yang radikal, di mana kehadiran orang yang dicintai menjadi kekuatan yang “menghancurkan” ego lama untuk membangun kedewasaan baru (Clausen, 2022). Alih-alih bekerja sebagai pagar pembatas, etika memainkan peran krusial sebagai kompas yang menunjukkan arah bagi para pecinta. Kendati kompas tidak menjanjikan bahwa laut akan tenang, ia dapat mengingatkan kita ragam pilihan terkait arah masih dapat diambil ketika ombak mengacaukan koordinat.
Daftar Pustaka
Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press.
Aristotle. (2004). Nicomachean Ethics (R. Crisp, Ed. & Trans.). Cambridge University Press.
Clausen, G. T. (2022). Love and Death in Plato’s Symposium. In A. Grahle, N. McKeever, & J. Saunders (Eds.), Philosophy of Love in the Past, Present, and Future (pp. 7–20). Routledge.
Ferrarello, S. (2018). Phenomenology of Sex, Love and Intimacy. Routledge.
Ferrarello, S. (2022). The Ethics of Love: Emotional Dilemmas for a Relational Life. Routledge.
Frankena, W. K. (1973). The Ethics of Love Conceived as an Ethics of Virtue. The Journal of Religious Ethics, 1, 21–36.
Frankfurt, H. G. (2004). The Reasons of Love. Princeton University Press.
Gilligan, C. (1982). In A Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development. Harvard University Press.
Hartmann, N. (2017). Moral Values. Routledge.
Noddings, N. (1984). Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education. University of California Press.
Nussbaum, M. (1994). The Therapy of Desire. Cambridge University Press.
Nussbaum, M. (2013). Political Emotions. Harvard University Press.
Schoonheim, L. (2018). Among Lovers: Love and Personhood in Hannah Arendt. Arendt Studies, 2, 99–124.
Tronto, J. C. (1995). Care as a Basis for Radical Political Judgments. Hypatia, 10(2), 141–149. https://doi.org/10.1111/j.1527-2001.1995.tb01376.x
Wagoner, R. E. (1997). The Meanings of Love: An Introduction to Philosophy of Love. Praeger.