MEKARLAH! BERANILAH MEKAR!

Oleh: Bambang Q. Anees

Pada senja hari pertengahan Maret tahun 610 M, kegelapan melingkupi Mekah saat kota itu tertidur dalam keheningan. Duduk bersila di tepi gua di puncak gunung yang menghadap pemandangan di bawahnya, lelaki yang berusia empat puluh tahun duduk dengan tenang. Menghirup udara segar sebelum matahari terbit dengan mata tertutup, ia merasakan hembusan angin sejuk yang lembut menyentuh pipinya. Embun pagi memperkuat aroma bunga liar musim semi. Jauh di sana, kicauan jangkrik bergema di antara suara burung hantu dan serigala yang sesekali meraung.

Pagi buta memberikan momen ketenangan bagi Lelaki itu. Pengusaha sukses yang membangun kerajaannya sendiri itu memiliki kekayaan yang besar dan sebuah hunian indah, di mana istrinya yang setia dan empat putrinya tertidur pulas, menanti kembalinya. Sebagai anggota masyarakat yang dihormati, ia terkenal karena kemampuannya dalam mediasi yang bijaksana. Namun, kekayaan dan prestise terbukti tidak memuaskan. Selama empat tahun terakhir, Lelaki itu mengasingkan diri ke gunung untuk mencari tujuan yang lebih dalam. Setiap minggu, gua di puncak Gunung menjadi tempat meditasinya yang tinggi, sebuah tempat perlindungan dari keramaian Kota Dagang yang ramai.

Pagi itu tampak seperti ratusan pagi yang pernah dialami sebelumnya. Ia perlahan membuka matanya saat sinar matahari pertama menembus cakrawala, membelah kegelapan pekat. Pada saat itu, kontraksi mendadak mencengkeram dadanya dekat jantungnya. Ketegangan mengerikan menekan paru-parunya saat sebuah kata seolah bergema melalui jiwanya, memancar dengan kuat dan tak terhentikan seperti panggilan kosmik:

“Iqra!”

Namun begitu kata itu muncul, mengisi kekosongan yang luas, rasa sakit di dadanya menghilang secepat kilat seperti saat pertama kali muncul. Lelaki iyu duduk terengah-engah dalam keheningan yang membeku, menatap horizon dengan mata terbelalak. Ia gemetar dalam keheningan yang mendalam yang menyusul. Tepat ketika Lelaki itu mulai membiarkan dirinya rileks, tekanan lain mendera dirinya, dan kata itu kembali muncul: “Iqra!” Lelaki itu duduk terdiam. Lalu, tekanan yang lebih hidup lagi menggema melalui jiwanya; aliran kata-kata bercahaya mengalir seperti sungai yang dinyanyikan, penuh emosi yang intens. Lima kalimat pendek menghancurkan keheningan dan seolah bergema di pegunungan sekitarnya, memancarkan energi bergetar yang menerangi kegelapan.

Blossom forth,
Inspired by your rejuvenating Divine Mentor,
Who revives the dormant to forge empowering connections. Dare to blossom,
As your Divine Mentor provides spiritual comfort.
The Visionary One, who guides the unlocking of layers of learning, Elevates the stagnant to once-inconceivable heights.

 

Mekar lah,
Terinspirasi oleh Mentor Ilahimu yang menyegarkan,
Nan menghidupkan kembali yang terlelap untuk membentuk koneksi yang memberdayakan.
Beranilah untuk mekar,
Sebab Mentormu memberikan kenyamanan ilahiah.
Yang Visioner, yang memandu pembukaan lapisan-lapisan pembelajaran, Mengangkat yang diam-beku ke ketinggian yang tak terbayangkan.

Begitulah Muhammad Jebara, intelektual Muslim Kanada, memulai tulisannya dalam buku The Life of The Qur’an From Eternal roots to Enduring Legacy ((2025). Jebara memaknai Iqra dengan “mekar!”, bukan “membaca”. Tentu ada alasan yang ia buat. Ia memang ahli bahasa Arab dan Smit. Ia menulis: “In modern times, Iqra is frequently translated as “recite” or “read,” yet these are secondary connotations, ones not particularly relevant for an illiterate like Muhammad.” (hal. 4)

Jika Iqra diartikan sebagai membaca, menurut Jebara, tentu tidaklah relevan saat dikaitkan dengan kenyataan buta hurufnya Nabi Muhammad. Iqra lebih bisa dimengerti jika diartikan sebagai “mekar” atau “lahir”. Seraya Jebara merujuk penggunaan kata Iqra dan turunannya oleh orang Arab kuno. “The ancient Arabs would say Qara’a-til-Mar’ah (“the woman delivered a healthy birth”), Qara’a-tir-Riyah (“the winds fertilized fields sparking their blossoming”) and Qara’at-il-Azhar (“the flowers blossomed”).” (hal. 4). Jebara melakukan ta’wil, memilih arti kata lain dari yang lazim digunakan. Kata Iqra (dan turunannya) memiliki arti kata yang tidak tunggal, membaca hanya salah satunya; mekar dan lahir adalah arti yang lain. Lalu Jebara memilih arti “mekar!” ini. Muncullah nuansa baru, spirit yang mendorong kita untuk tidak sekadar “membaca”, namun “membaca yang bisa menumbuhkan”.

Iqra bagi Jebara adalah perintah untuk mengungkapkan apa yang telah dipelihara dengan cermat di dalam diri untuk dibagikan kepada dunia. Iqra adalah perintah yang memungkinkan kebenaran batin terungkap setelah periode inkubasi yang panjang—seperti kuncup yang akhirnya berani mekar dan terpapar pada elemen-elemen alam (like a bud finally daring to blossom and expose itself to the elements). Iqra adalah panggilan bagi makhluk baru untuk keluar dari kegelapan ketidakjelasan dan muncul ke dunia luar.

Saya merasakan dorongan untuk mekar itu kembali relevan. Di tengah dunia pendidikan terjebak pada manejerialisme (memilih unggul secara administratif tanpa perlu mengupayakan keunggulan akademik). Manajerialisme adalah kegelapan dunia pendidikan saat ini, di tengah kegelapan yang mencekam itu keberanian tumbuh dibutuhkan. Mari mulai ‘berani’ memekarkan diri, membaca dan menulis adalah dua hal yang bisa kita lakukan.

Mekarlah!

WhatsApp
Facebook
Email
Print