Oleh: Saeful Anwar

Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah orang-orang. Orang-oranglah yang akan mengubah dunia.—Paulo Freire
Pada suatu pagi yang dingin di tahun 1899, di halaman pabrik Bethlehem Steel Company, Pennsylvania, seorang pria bernama Frederick Winslow Taylor berdiri tegak dengan sebuah stopwatch di genggamannya. Ia tidak sedang mengamati keindahan matahari terbit, melainkan menatap tajam ke arah seorang pekerja bernama Henry Noll—yang dalam catatan Taylor disebut sebagai Schmidt. Taylor sedang melakukan eksperimen yang kelak akan mengubah wajah peradaban manusia, ia menghitung detik demi detik waktu yang dibutuhkan Noll untuk mengangkat batang besi seberat 92 pon (sekitar 41 kg) ke atas gerbong kereta.
Taylor, sang bapak Manajemen Ilmiah, terobsesi dengan efisiensi. Baginya, setiap gerakan tubuh manusia yang berlebihan adalah dosa pemborosan. Ia mereduksi kompleksitas manusia—dengan segala kelelahan, emosi, dan jiwanya—menjadi sekumpulan variabel mekanis yang harus diberdayakan. Di bawah tatapan stopwatch Taylor, Henry Noll bukan lagi seorang manusia yang memiliki mimpi atau kecemasan (Angst) ia adalah komponen biologis dari sebuah mesin raksasa. Tujuannya hanya satu, produktivitas maksimal. Perencanaan (Planning), pengaturan (Organizing), pelaksanaan (Actuating), dan pengawasan (Controlling) lahir dari rahim industrialisasi yang berlumur oli, keringat dan darah. Logika pabrik ini menuntut kepatuhan total terhadap sistem demi output material.
Satu abad kemudian, semangat Taylor dan hantu stopwatch itu berkelana jauh, melintasi samudra dan zaman, hingga menyusup diam-diam ke dalam ruang-ruang sakral institusi Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Tanpa kita sadari, ketika seorang mahasiswa doktoral menulis disertasi tentang pesantren atau madrasah dengan kacamata tunggal POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), ia sedang mendudukkan Kyai dan Santri di posisi Henry Noll. Ia sedang membedah pesantren seolah-olah itu adalah pabrik baja. Ia mencari efisiensi administratif, namun kehilangan detak jantung spiritualitas yang justru menjadi raison d’être (alasan keberadaan) pendidikan Islam itu sendiri.
Reinterpretasi Makna Tadbir
Di sinilah letak tragedi epistemologis yang melanda kesarjanaan kita. Kita telah terlanjur beriman bahwa POAC adalah satu-satunya jalan kebenaran dalam mengelola pendidikan. Namun, mari kita hentikan sejenak detak stopwatch tersebut dan mengajukan sebuah interpretasi baru. Kita harus mengganti konsep “Manajemen” (yang berakar pada maneggiare—mengendalikan kuda dengan tangan) dengan konsep Islam yang jauh lebih purba dan mendalam “Tadbir”.
Dalam banyak disertasi PAI, kata Tadbir sering kali diterjemahkan secara sembrono sekadar sebagai pengaturan atau manajemen, sehingga dianggap sinonim dengan Organizing atau Planning dalam teori George R. Terry. Ini adalah reduksi makna yang fatal. Tesis alternatif yang saya ajukan adalah riset PAI harus meninggalkan obsesi pada POAC yang bersifat mekanistik-linier dan beralih pada paradigma Tadbir yang bersifat teleologis-transendental.
Mengapa? Karena secara etimologis, Tadbir berasal dari akar kata dubur, yang berarti “belakang” atau “akhir”. Dalam terminologi filosofis Islam, Tadbir bukanlah sekadar menyusun rencana kerja tahunan (seperti dalam Planning), melainkan kemampuan intelektual-spiritual untuk memandang kesudahan (akhir) dari segala urusan sebelum urusan itu dimulai. Seorang Mudabbir (pengelola) tidak hanya bertanya “bagaimana cara mengajar yang efisien?”, tetapi bertanya akan menjadi manusia macam apa anak didik ini di akhirat kelak?. Tadbir melampaui Planning; ia adalah visi eskatologis yang ditarik ke masa kini.
Keruntuhan Logika Pabrik dalam Ruang Ruhani
Mengapa interpretasi lama—penggunaan POAC sebagai pisau analisis utama—dinilai cacat secara logika dan filosofis untuk level disertasi?
Pertama, Kekeliruan Kategori (Category Mistake). Filsuf Gilbert Ryle mengingatkan kita tentang bahaya kesalahan kategori. Menerapkan teori manajemen industri (POAC) untuk menganalisis pendidikan karakter (Akhlak/Adab) adalah seperti mencoba mengukur keindahan lukisan menggunakan timbangan beras. POAC diciptakan untuk benda mati atau proses yang terukur secara kuantitatif. Planning dalam POAC menuntut kepastian hasil, Controlling menuntut standar yang kaku. Sementara itu, pendidikan Islam berurusan dengan hidayah (petunjuk Ilahi) dan qalb (hati) yang fluktuatif. Proses transfer adab dari seorang Kyai kepada santri sering kali terjadi di luar struktur formal organisasi—melalui tatapan mata, keteladanan diam, atau keberkahan shalat malam—yang tidak bisa ditangkap oleh radar Actuating maupun Controlling. Ketika disertasi hanya sibuk menceklis apakah fungsi POAC berjalan, ia gagal menangkap “ruh” pendidikan yang tak kasat mata.
Kedua, Jebakan positivisme yang Mendangkalkan. POAC beroperasi dalam logika positivistik: terukur, terlihat, dan empiris. Disertasi yang menggunakan kerangka ini cenderung terjebak pada permukaan. Peneliti akan menyimpulkan bahwa “Pendidikan Islam di Madrasah X bermutu” hanya karena dokumen perencanaannya lengkap (RPP/Silabus ada) dan pengawasannya rutin (ada presensi). Padahal, di balik kelengkapan administrasi itu, mungkin terjadi kekeringan spiritual atau krisis keteladanan. Sebaliknya, konsep Tadbir menuntut peneliti untuk melihat melampaui dokumen. Tadbir menuntut justifikasi etis dan metafisik. Sebuah lembaga mungkin kacau secara administratif (kurang rapi dalam Organizing), namun memiliki Tadbir yang kuat sehingga melahirkan ulama-ulama besar. Teori Terry tidak mampu menjelaskan fenomena anomali ini, namun filsafat pendidikan Islam mampu.
Ketiga, Dehumanisasi Subjek Pendidikan. Dalam siklus POAC, manusia adalah sumber daya (resource) yang harus dikelola (Human Resource Management). Istilah ini sendiri sudah bermasalah. Manusia bukan bahan bakar. Dalam Islam, manusia adalah Khalifah. Pendekatan POAC cenderung menjadikan guru dan murid sebagai objek penderita dari sebuah sistem. Sementara pendekatan Tadbir atau Tarbiyah menempatkan mereka sebagai subjek yang sedang bertumbuh menuju kesempurnaan insani (Insan Kamil). Disertasi yang menggunakan POAC sering kali berakhir dengan rekomendasi teknis: “perbaiki SOP”, “tambah rapat evaluasi”. Ia jarang menyentuh aspek substansial: “perbaiki niat”, “sucikan jiwa pendidik”.
Ontologi Pendidikan Melampaui Mesin
Mari kita dalami makna Tadbir ini secara filosofis. Jika POAC adalah tentang How to do (bagaimana melakukan), maka riset PAI tingkat doktoral seharusnya tentang Why we exist (mengapa kita ada).
Filsuf Martin Heidegger dalam esainya The Question Concerning Technology, memperingatkan tentang bahaya melihat dunia sebagai Gestell (bingkai/cadangan). Ketika teknologi (dalam hal ini teknologi manajemen) mendominasi cara pandang kita, dunia hanya tampak sebagai cadangan energi untuk dieksploitasi. Hutan dilihat sebagai kayu, sungai sebagai tenaga listrik, dan dalam konteks kita: murid dilihat sebagai calon tenaga kerja atau angka akreditasi. Penggunaan POAC secara tidak kritis dalam riset disertasi memperparah Gestell ini. Ia membingkai pendidikan Islam sekadar sebagai “jasa layanan pendidikan”. Ia melupakan dimensi ontologis bahwa pendidikan adalah proses becoming (menjadi).
Dalam Discourse on Thinking (1959), Heidegger membedakan dua cara berpikir; Calculative Thinking (rechenhaftes Denken) dan Meditative Thinking (besinnliches Denken). POAC adalah manifestasi puncak dari Calculative Thinking. Ia sibuk dengan Planning (rencana besok) dan Controlling (evaluasi kemarin), sehingga kehilangan momen ‘kini’. Pendidikan Agama Islam membutuhkan Meditative Thinking—kemampuan untuk merenungi makna Tuhan dan kehidupan—yang justru dimatikan oleh kesibukan administratif POAC.
Dalam perspektif Tadbir, seorang peneliti disertasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan: Apakah Kepala Sekolah telah melakukan Actuating? Ia harus menggali lebih dalam: Apakah ‘penggerakan’ yang dilakukan Kepala Sekolah didasari oleh Hikmah (kebijaksanaan) yang membebaskan, atau sekadar instruksi birokratis yang membelenggu?
Tadbir melibatkan Isyraq (iluminasi/pencerahan). Sebuah sistem pendidikan mungkin terlihat semrawut di mata manajemen Barat, namun jika di dalamnya terdapat transmisi cahaya ilmu (Nur) yang kuat, maka secara hakiki ia sukses. Inilah variabel ghaib yang dibuang oleh POAC. Disertasi PAI seharusnya berani memasukkan variabel-variabel metafisik ini—keikhlasan, keberkahan, riyadhah—ke dalam analisis metodologisnya, bukan membuangnya hanya karena tidak bisa diukur dengan kuesioner skala Likert.
Kebaruan (Novelty) dalam disertasi PAI tidak akan lahir dari pengulangan siklus POAC di lokasi yang berbeda. Kebaruan hanya akan lahir jika kita berani membenturkan manajemen modern dengan filsafat Islam, mengkritik rasionalitas instrumental Weberian dengan rasionalitas profetik, dan menawarkan model tata kelola yang memanusiakan manusia, bukan memekanisasi manusia.
Kegelapan Modernitas Birokrasi Tanpa Jiwa
Kini, mari kita tarik gagasan ini ke dalam kegelapan zaman kita hari ini. Kita hidup di era yang oleh sosiolog George Ritzer disebut sebagai McDonaldisasi Masyarakat—sebuah dunia yang didewakan oleh efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol. Lihatlah sekeliling kita. Madrasah dan perguruan tinggi Islam kita semakin maju secara manajerial. Gedung-gedung bertingkat, ISO berjejer, akreditasi unggul, dan laporan kinerja tersusun rapi sesuai standar POAC. Namun, ironisnya, kita juga menyaksikan paradoks yang menyedihkan: korupsi moral merajalela, tawuran pelajar tak kunjung usai, dan hilangnya adab terhadap guru.
Kita mengalami apa yang disebut sebagai Inflasi Manajemen, Deflasi Pendidikan. Kita sibuk memanajemeni pendidikan, tapi lupa mendidik. Ribuan disertasi PAI diproduksi setiap tahun dengan pola seragam: Bab II Teori POAC, Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan (Penerapan POAC), Bab V Kesimpulan (POAC berjalan baik/kurang baik). Tumpukan disertasi ini menjadi monumen kertas yang tidak memberikan solusi apa-apa terhadap krisis moral bangsa. Mengapa? Karena mereka hanya memotret kulit luar (cangkang birokrasi) dan gagal menyentuh penyakit di dalam organ dalam (krisis makna).
Kegelapan zaman ini adalah kegelapan birokratisasi kesucian. Kita mengukur keberhasilan pesantren dengan standar korporasi. Kita lebih takut pada auditor eksternal daripada pertanggungjawaban ilahiah. Inilah relevansi mendesak untuk meninggalkan POAC sebagai satu-satunya dogma. Kita butuh riset-riset disertasi yang berani mengatakan: “Manajemennya rapi, tapi pendidikannya mati,” atau sebaliknya, “Secara manajerial kacau, tapi pendidikannya hidup.”
Hanya dengan kembali pada konsep Tadbir—yang mengintegrasikan visi langit dengan aksi bumi—riset PAI bisa memberikan obat bagi penyakit peradaban ini. Riset harus mampu merumuskan bagaimana nilai-nilai profetik bisa dioperasionalkan tanpa harus tergerus oleh mesin birokrasi.
Epilog
Wahai para cendekiawan dan calon doktor Pendidikan Islam, Berhenti menjadi juru tulis George R. Terry!
Berhenti mereplikasi logika pabrik ke dalam taman-taman surga ilmu. Robeklah selubung kenyamanan metodologis itu. Jangan biarkan disertasi Anda hanya menjadi laporan administratif yang tebal namun kosong makna.
Jadilah filsuf, bukan sekadar pelapor data. Jadilah Mujtahid metodologis yang berani menolak hegemoni stopwatch Taylor. Gali kembali khazanah intelektual Islam, sandingkan dengan teori kritis kontemporer, dan lahirkanlah teori manajemen baru yang berjiwa, yang memandang anak didik bukan sebagai angka, melainkan sebagai amanah abadi. Jika Paulo Freire mengingatkan kita bahwa pendidikan harus menjadi ‘praktik pembebasan’, maka sungguh ironis jika metodologi penelitian kita justru membelenggu dinamika pesantren dengan rantai kaku teori manajemen pabrik. Seperti kata Tan Malaka, pendidikan harus ‘memperhalus perasaan’, sebuah dimensi yang luput dari radar pengawasan POAC yang dingin dan mekanis.
Mulailah menulis dengan hati yang gelisah, karena dari kegelisahan itulah lahir kebaruan yang mencerahkan. []