JEJAK DASEIN DALAM LINGKARAN EKSEGESIS ONTOLOGIS “HERMENEUTIKA YANG SAYA PAHAMI”

Oleh: Saeful Anwar

Essay saudara Arip Budiman yang berjudul “Hermeneutika yang Saya Pahami” bukan sekadar memoar intelektual seorang mahasiswa filsafat—Ia adalah sebuah testimoni fenomenologis yang murni tentang pergerakan eksistensial Dasein dalam menemukan cara beradanya di dunia (In-der-Welt-sein). Penulis, yang menarasikan dirinya sebagai subjek yang berangkat dari pinggiran—desa terpencil dan ketidaksukaan pada literasi—sebenarnya sedang melukiskan struktur fundamental dari apa yang disebut Heidegger sebagai Faktizität (faktisitas). Melalui analisis Heideggerian, kita akan menelusuri bagaimana narasi ini membongkar kesalahpahaman epistemologis tentang hermeneutika sebagai sekadar metode, menuju kesadaran ontologis bahwa pemahaman adalah modus fundamental dari keberadaan itu sendiri. Teks tersebut merupakan rekaman perjalanan dari keterlemparan yang mencemaskan menuju ketersingkapan akan makna.

Narasi dibuka dengan pengakuan akan sebuah keterasingan (Unheimlichkeit). Penulis menggambarkan dirinya “datang dari desa terpencil” dan memasuki jurusan filsafat yang “dikutuk oleh banyak orang.” Dalam terminologi Heidegger, ini adalah manifestasi telanjang dari Geworfenheit (keterlemparan). Penulis tidak memilih titik berangkatnya; ia mendapati dirinya sudah berada di sana, terlempar ke dalam situasi sosio-historis tertentu yang tidak dapat ia kendalikan. “Kutukan” yang disebut penulis—ketidakjelasan masa depan filsafat—dapat dibaca sebagai kecemasan (Angst) yang muncul ketika Dasein dihadapkan pada ketiadaan landasan yang pasti. Pada fase awal ini, penulis beroperasi dalam modus Uneigentlichkeit (ketidakotentikan). Ia melihat dirinya melalui mata das Man (kerumunan)—yakni pandangan umum yang melihat filsafat sebagai kesia-siaan. Hermeneutika, yang hadir sebagai “makhluk asing,” awalnya diperlakukan sebagai objek yang menakutkan yang mengancam kenyamanan pra-reflektifnya.

Namun, justru di dalam “kutukan” itulah potensi otentisitas muncul. Penulis menyatakan bahwa hermeneutika menyelamatkan dirinya untuk menjawab ketidakjelasan nasib. Di sini, hermeneutika bukan lagi sekadar mata kuliah, melainkan sebuah panggilan yang menarik Dasein keluar dari tenggelamnya dalam keseharian yang banal, memaksanya untuk menghadapi pertanyaan tentang arti hidup yang penuh misteri. Ini adalah momen ketika Dasein mulai mengambil alih keterlemparannya sendiri, mengubah nasib buta menjadi takdir yang mampu dipahami.

Bagian tengah narasi menandai sebuah titik balik kritis—pergeseran dari pemahaman epistemologis menuju ontologis. Penulis mengaku, “Saya masih memandang bahwa hermeneutika adalah semacam metode… diperlukan semacam aturan penafsiran yang ketat.” Dalam kacamata Heidegger, ini adalah kesalahan fatal modernitas yang memandang dunia sebagai Vorhandenheit (ketersediaan-di-hadapan-mata). Penulis awalnya terjebak dalam kerangka berpikir Cartesian: subjek yang terisolasi (penafsir) mencoba membedah objek yang bisu (teks) menggunakan alat (metode). Ia mencari objektivitas yang steril, seolah-olah makna adalah benda mati yang bisa diekstraksi dengan pisau bedah metodologis. Namun, teks tersebut bergerak maju dengan indah ketika penulis mulai meragukan kekakuan ini. Pertanyaan retorisnya, “Apakah ia hanya sebatas metode penafsiran saja?” menandakan keretakan pada pandangan teknis tersebut. Penulis mulai menyadari bahwa pemahaman bukanlah aktivitas kognitif yang terpisah dari kehidupan, melainkan struktur eksistensial. Ia mulai bergerak menjauh dari obsesi akan “ketepatan objektif” menuju kedalaman “keterlibatan eksistensial.”

Puncak fenomenologis dari teks ini terletak pada deskripsi tentang “Apel”. Ini adalah ilustrasi brilian tentang perbedaan antara objek ilmiah dan pengalaman eksistensial. Ketika penulis mendeskripsikan apel dari segi “warna merah, kilau kulit, sensasi renyah,” ia sedang mendeskripsikan apel sebagai Vorhanden—objek yang diamati secara teoretis, terlepas dari konteks kegunaannya. Namun, momen transformatif terjadi ketika apel itu hadir sebagai “manisan di pasar malam.”

“Ketika apel itu berwujud manisan di pasar malam—dengan lampu berpendar dan riuh suara orang—yang hadir bukan sekadar rasa manis, melainkan nyala kenangan…”

Di sini, apel tidak lagi menjadi objek isolatif. Ia menjadi Zuhandenes. Apel itu bermakna bukan karena properti kimianya, melainkan karena tempatnya dalam jejaring referensi yang membentuk “Dunia” (Welt) si penulis. Pasar malam, lampu yang berpendar, dan riuh suara adalah totalitas peralatan (Zeugganzheit) yang memberikan makna pada apel tersebut. Heidegger menegaskan bahwa kita tidak pernah menjumpai objek secara telanjang; kita selalu menjumpainya dalam sebuah dunia yang bermakna. “Nyala kenangan” yang disebut penulis adalah bukti bahwa benda-benda di dunia ini selalu memuat jejak waktu. Dasein adalah makhluk yang mewaktu. Apel pasar malam itu menyatukan masa lalu (kenangan), masa kini (sensasi rasa), dan masa depan (harapan/kerinduan). Penulis menyadari bahwa pemahaman adalah peristiwa partisipatif: ia tidak sedang “mendeteksi” apel, ia sedang “berada-bersama” apel tersebut dalam sebuah struktur kepedulian (Sorge).

“Setiap pemahaman selalu dipijakkan di tanah konteks… lensa-lensa yang menyusup: pengalaman, keinginan, imajinasi.”

Kalimat ini adalah artikulasi sempurna dari apa yang disebut Heidegger sebagai Vorstruktur des Verstehens (Pra-struktur pemahaman). Heidegger mengajarkan bahwa setiap upaya memahami selalu didahului oleh tiga hal: Vorhabe (Pra-milik): Totalitas konteks budaya dan pengalaman “desa terpencil” yang dimiliki penulis. Vorsicht (Pra-lihat): Sudut pandang atau perspektif yang diambil penulis. Vorgriff (Pra-konsep): Kerangka konseptual awal yang digunakan untuk menangkap makna.

Penulis teks menyadari bahwa kacamata atau lensa ini bukanlah penghalang distorsif yang harus dibersihkan (seperti dalam positivisme), melainkan syarat kemungkinan (condition of possibility) bagi pemahaman itu sendiri. Tanpa dunia mikro yang ia bawa, apel itu tidak akan berarti apa-apa. Pengakuan penulis bahwa “pemahaman tak pernah seragam, tak pernah sepenuhnya universal” bukanlah relativisme nihilistik, melainkan pengakuan akan Finitude (kefanaan) manusia. Dasein selalu memahami dari suatu situatedness (kesituasian) tertentu. Kebenaran, karenanya, bukanlah kesesuaian abadi antara ide dan benda (adaequatio intellectus et rei), melainkan Aletheia—peristiwa tersingkapnya sesuatu bagi Dasein dalam cakrawala waktunya yang terbatas.

Refleksi penulis tentang Hermes dan asal-usul bahasa membawa kita ke lapisan ontologis terdalam. Penulis menyebutkan Hermes sebagai perantara yang mengolah pesan. Ini sejalan dengan pandangan Heidegger di periode kemudian yang melihat bahasa sebagai “Rumah Ada” (Haus des Seins). Bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk memindahkan informasi dari otak A ke otak B. Bahasa adalah medium di mana “Ada” menampakkan diri. Ketika penulis menyebut novel Dunia Sophie dan anjing bernama Hermes, ia menyentuh aspek mediasi yang tak terelakkan. Kita selalu berada “di antara”. Kita selalu berada di tengah perjalanan menafsir.

Penolakan penulis terhadap sentrumsentris (penulis-teks-pembaca) sebagai entitas yang terpisah mencerminkan runtuhnya subjek Cartesian. Dalam hermeneutika Heideggerian, kita tidak masuk ke dalam lingkaran pemahaman untuk keluar darinya dengan membawa makna objektif. Sebaliknya, sebagaimana dikatakan Heidegger, “Yang penting bukanlah bagaimana keluar dari lingkaran itu, tetapi bagaimana memasukinya dengan cara yang benar.” Penulis teks telah belajar cara memasuki lingkaran ini, bukan dengan arogansi metode, melainkan dengan keterbukaan eksistensial.

Bagian akhir teks, “Saya sedang memasuki peristiwa di mana dunia dan diri saling menyapa,” adalah sebuah kredo Heideggerian yang murni. Penulis tidak lagi melihat dirinya sebagai subjek yang menaklukkan objek bisu. Ia melihat pemahaman sebagai sebuah peristiwa (Ereignis) perjumpaan. Ia telah beralih dari keinginan untuk menguasai (Will to Power atas teks) menuju kesediaan untuk mendengarkan (Gelassenheit). Frasa “merawat jarak” dan “berjalan di jembatan yang mesti dibangun ulang” menunjukkan kesadaran akan temporalitas. Pemahaman bukanlah sebuah pencapaian statis yang bisa disimpan di saku. Ia adalah proses dinamis yang harus terus-menerus diperbarui seiring berjalannya waktu (Zeitlichkeit). Setiap kali penulis menggigit apel, setiap kali ia membaca teks, ia harus “membangun ulang jembatan” karena Dasein sendiri selalu dalam proses “menjadi” (becoming).

Teks “Hermeneutika yang Saya Pahami” adalah sebuah dokumentasi yang fasih tentang transformasi Dasein. Ia bergerak dari kecemasan akan ketidaktahuan, melewati kegagalan metode ilmiah, dan akhirnya tiba di tanah lapang ontologis di mana pemahaman diakui sebagai hakikat fundamental dari keberadaan manusia itu sendiri. Penulis tidak lagi sekadar belajar tentang hermeneutika; ia telah menjadi hermeneutis. Ia menyadari bahwa menjadi manusia berarti menjadi makhluk penafsir, yang terlempar ke dunia, namun memiliki kebebasan untuk memproyeksikan makna melalui keterlibatannya dengan hal-hal yang paling sederhana—seperti sebuah apel di pasar malam.[]

WhatsApp
Facebook
Email
Print