JAVID NAMA: MI‘RĀJ IQBAL, MI‘RĀJ MODERN (Bagian II)

Oleh: Bambang Q. Anees

Javidnama

Zinda-Rud memejamkan mata di bawah curahan air dan dalam sekejap ia telah dibawa ke langit lain: Mars.

Langit Keempat, Mars

Langit keempat menawarkan visi tentang masyarakat utopia di kota Marghadin, tempat berkembangnya teknologi luar biasa dengan tetap memiliki spiritualitas. Di Marghadin, tidak ada uang, tuan tanah, maupun pengangguran karena prinsip pengabdian lebih diutamakan daripada keuntungan pribadi. Kota Marghadin adalah tempat yang megah dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orangnya cantik, tidak mementingkan diri sendiri dan sederhana; mereka berbicara dalam bahasa yang terdengar merdu di telinga. Penduduknya tidak mengejar barang-barang materi; semua menjadi penjaga pengetahuan dan memperoleh kekayaan dari penilaian yang tepat.

Dipandu seorang ilmuwan dari observatorium Mars, Zinda-Rud diajak berkeliling. Di sela-sela itu, Zinda-Rud mendapat pelajaran tentang takdir. “Ubah dirimu! Seraya  takdirmu akan berubah bersamamu. Jika kau debu, kau akan dihamburkan oleh angin. Tetapi jika kau kokoh seperti batu, kau dapat memecahkan kaca. Ubah juga caramu memahami iman! Jika bagimu iman berarti menyesuaikan diri dengan orang lain, maka yang miskin akan bertambah miskin. Celakalah agama yang membuai-tidurkan dirimu!”

Ilmuwan Mars itu kembali memberi wejangan, “Tahukah kamu dari mana datangnya kearifan yang menembus lantang? Dari mana ilham yang masuk ke pondok lempung tempat kau menumpang? Dari mana kehebatan-kehebatan ini, keajaiban-keajaiban ini? Itu tak berasal dari dirimu. Adakah padamu nyala perbuatan? Itu tak berasal dari dirimu. Semua itu limpahan dari musim semi alam. Dan alam itu berasal dari Pencipta alam”.

Ilmuwan Mars memberi wejangan yang menguatkan nasihat Afghani mengenai kekhalifahan. “Hidup itu tambang permata, kau yang diberi kuasa, Tuhanlah pemiliknya. Alam yang gemilang menyambut insan wakil Tuhan dengan segala kehormatan.  Tujuannya agar kau mengabdi. Jalannya dengan menjadi khalifah. Kau yang tak dapat membedakan tujuan dan jalan, maka bagimu nilai sesuatu diukur menurut kepentinganmu sendiri. Hidup kalian di bumi selalu kalah dan miskin karena kau mengatakan apa yang menjadi milik Tuhan sebagai milikmu sendiri. Ubahlah cara pandangmu!”.

Ilmuwan itu mengajak ke bagian Mars lain tempat seorang Nabi perempuan mengajarkan pemahaman lain. Di Mars ini, ujar sang Ilmuwan, ada iblis penggoda bernama Farzmarz yang pernah merayu Adam-nya orang-orang Mars, Barkhiya. Farzmarz ditolak Barkhiya, karena itu Farzmarz menculik seorang wanita dari Eropa untuk menyebarkan ajaran baru. Wanita itu terlihat oleh Zinda-Rud sedang berpidato di tengah lapangan. Wanita itu berperawakan tinggi, wajahnya bercahaya namun tanpa pancaran spiritual, matanya kering tanpa cinta dan gairah hidup. Semangat muda hilang dari dirinya, ia seperti ekor kuda yang dibuang”.

“Wahai perempuan! Para Ibu! Para saudari! Sampai kapan kita akan hidup sebagai kesayangan? Menjadi kesayangan sama dengan menjadi korban, dikuasai dan dirampas habis-habisan. Lelaki adalah pemburu yang menyamar sebagai binatang buruan. Lelaki berputar-putar di sekitar kalian untuk menjerat kalian. Cintanya yang berkobar-kobar itu hanya kecerdikan dan tipuan. Semua itu menyebabkan kalian menderita banyak kecemasan dan kesedihan,” ujar Wanita Ekor kuda itu. “Persahabatan dengan seorang pria menimbulkan kesengsaraan seumur hidup, persatuan itu fatal dan menjauhkan diri dari mereka alangkah menyenangkan. Lelaki itu penipu, hindari masalah ini dan jangan biarkan racunnya menginfeksi darahmu. Wajah seorang ibu menjadi pucat saat melahirkan, betapa indahnya hidup jika kalian bebas dari interaksi tubuh!  Ayo, bangkitlah dan lakukan perang dengan alam, agar dengan pergulatanmu sang gadis dapat dibebaskan!”.

Rumi berkomentar, “Lihatlah dasar kepercayaan zaman serba baru ini. Lihatlah hasil panen dari pendidikan yang meninggalkan agama cinta!”.

Langit keempat menunjukkan negeri impian bagi Iqbal. Maju secara ilmu pengetahuan dan teknologi, rakyatnya setara sekaligus sejahtera, dan hidup didasarkan akal-cinta. Lalu Iqbal menunjukkan paradoks feminisme radikal sebagai metafora peradaban kesetaraan berbasis akal tanpa cinta.

Perjalanan berlanjut pada planet yang penuh gurun ajaib. Setiap satu gurun terlewati dan ingin rehat, gurun lain muncul kembali. Tak kunjung sudah, realitas baru bermunculan. Itulah Yupiter.

Langit Kelima, Yupiter

Jupiter adalah planet tidak lengkap yang diorbit oleh beberapa satelit yang bergerak cepat. Buah anggurnya belum menghasilkan anggur, juga tanahnya tidak menimbulkan cinta dan kerinduan. Bulan-bulan satelit menerangi langit pada tengah malam dan memberikan cahaya sehingga semua waktu terasa siang hari. Angin sepoi-sepoi di sana tidak hangat atau dingin. Di planet ini, dekat, jauh, terlambat, dan awal semuanya menjadi kacau balau. Zinda-Rud melihat bintang-bintang di langit tampak begitu dekat, ia hampir kehilangan akal sehat karena ketakutan.

Langit kelima adalah tempat bagi roh-roh agung seperti Hallaj, Ghalib, dan Tahira yang memilih untuk terus mengembara daripada menetap statis di surga. Ketiganya melambangkan cinta yang bergelora dan pencarian abadi akan keindahan Ilahi yang tidak terhingga.

Hallaj menyeru, “Carilah dari fitrahmu sendiri api yang belum pernah kelihatan. Perwujudan lain tak layak kau dambakan … Waspadalah terhadap kesetiaan pada guru yang tak berjiwa resah!”. Ghalib ikut berkata, “Marilah kita ubah ketentuan langit wahai sahabat, mari kita ubah takdir … Kau dan aku terbilang Haidar, maka jangan heran sama sekali, jika kita putar kembali matahari ke Timur lagi”. Zinda-Rud mendapat pelajaran mengenai apa makna menjadi manusia, takdir, anā al-aqq, dan cinta.

Al-Hallaj mengajari Zinda-Rud bahwa takdir bukan penghalang atau paksaan, takdir adalah sarana. Takdir bukan penghalang, justru sebagai penyempurnaan kekuatan. Jiwa-jiwa yang matang menjadi semakin matang karena tekanan takdir. “Siapa memiliki takdir sebagai sarana, Iblis pun gemetar menghadapi kemampuannya yang perkasa. Bahkan maut pun gentar”, ujar Hallaj. “Jika kau berkata, ‘ini atau itu mestinya terjadi’, dan ‘karena ini ia terjadi’, itu artinya kau belum begitu paham akan arti takdir. Itu artinya kau belum menampakkan wajahmu sendiri, apalagi wajah Tuhan. Seorang mukmin adalah seorang  yang demikian akrabnya dengan Allah dan berkata kepada-Nya: “Kami bersama-Mu, hendaklah Engkau bersama kami”. Karena itu, ketetapan hati seorang mukmin adalah penyebab ketetapan Tuhan”.

AL-Hallaj pun menceritakan makna anā al-aqq yang pernah diucapkan. “Saat itu, ada banyak orang yang berpaling dari kehidupan, jadi kuputuskan untuk membangunkan mereka. Orang-orang yang berpaling itu mengatakan bahwa mereka percaya pada Tuhan, namun mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri. Orang-orang itu terus-menerus berucap La ilaha illallah, sedang ia mengingkari diri mereka sendiri”. “Bagaimana bisa memiliki iman kepada Yang Mahakuasa tanpa memiliki kepercayaan pada diri sendiri?”, Al-Hallaj menyelingi ceritanya dengan pertanyaan dengan nada tinggi. “Orang-orang saat itu fasih mengucapkan qul al-rū min amri rabbī (Ruh itu atas perintah Tuhanku), tapi dalam kata-katanya semua tanpa makna, pucat pasi. Maka kunyalakan dalam diriku api kehidupan. Aku bentangkan rahasia hidup kepada orang-orang  tanpa ruh itu, ‘Lihatlah seluruh dunia bertumpu pada hakikat Aku’ … Dari Diri inilah dunia memperoleh bentuk yang tersusun dalam cinta dan takut’.”

Tahira ikut memberi nasihat pada Zinda-Rud, “Dunia baru lahir dari mereka yang cintanya melebihi akal sehat”. Ghalib tak mau ketinggalan memberikan pikirannya, “Cinta memiliki dampak yang berbeda pada setiap jiwa. Cinta seperti Itu mungkin menambah warna padamu atau mungkin membakarmu sampai mati. Itu tergantung bagaimana kau menerimanya.  Tahukan kau, bahwa dunia ini tempat berbagai warna dan wewangian. Tiap hati memperoleh bagiannya menurut kepekatan keluhannya. Ceburkan dirimu sepenuhnya, … hingga kau peroleh arti dari hati yang remuk duka!”

Zinda-Rud diminta untuk belajar menjadi ‘Hamba Allah’. “Pahami betul bahwa hamba Tuhan tidak terpisah dari Tuhan itu sendiri. karena ia manusia dan sekaligus hakikat Allah,  ‘Hamba Allah’ sangat berbeda dengan ‘hamba’.  Kita semua adalah ‘hamba’ yang menanti, ‘Hamba Allah’ itu dinantikan, ia berada  dalam waktu. Yang sekadar ‘hamba’ itu beraneka-warna, sedang ‘Hamba Allah’ melampaui warna dan aroma. ‘Hamba Allah’ itu berawal, namun tanpa akhir. Hamba Allah adalah rahasia dari La ilaha illallah. Jika kalimat La ilaha illallah itu pedang, mata pedangnya adalah ‘hamba Allah’. ‘Hamba Allah’ adalah sifat dan sebab penciptaan …“mengapa” dan “betapa” dari penciptaan segala sesuatu. Hai Zinda-Rud, kini cukuplah pembicaraan ini. Jangan berhenti di sini: Ceburkan dirimu dalam Wujud, dalam lautan hidup ini!”.

Zinda-Rud merasa sangat senang ditemani jiwa-jiwa yang berapi-api ini sehingga ia meminta mereka untuk tinggal bersama lebih lama. Namun perjalanan harus diteruskan. Zinda-Rud menutup mata, lalu muncullah seorang pria tua. Dia mengenakan pakaian hitam pekat dan dikelilingi oleh asap yang berbelit-belit. “Sssst… dia itu Setan, Iblis !”, Rumi berbisik, “Dialah tuan dari mereka yang akrab dengan rasa sakit perpisahan”. Jiwa Zinda-Rud gemetar dan menghela nafas panjang.

Setan itu menatap tajam dengan setengah mata terbuka, “Siapakah selain aku yang begitu bangga dengan perbuatannya? Siapa lagi yang lengkap dalam perbuatannya selain aku?”, Rumi mengucapkan kata “persatuan”,  Setan itu jadi gila. Ia pun berguling-guling sebentar dalam asapnya sendiri, lalu ia lenyap kembali dalam bentuk asap.

Dari dalam asap itu membumbung suara ratapan,

Duhai malangnya diriku, malangnya, malangnya.

Watak manusia belum matang, ketetapan hatinya mudah guncang penuh ragu.  Lawanku ini tak dapat menahan satu pukulan saja dariku.

Aku butuh hamba Tuhan yang berpenglihatan lantang.

Kumohon dari-Mu seorang yang berani menolakku—tunjukkan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu.

Kumohon dari-Mu seorang yang berani menolakku—tunjukkan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu.

Aku butuh seorang yang akan berkata, “pergilah dari mukaku!”, seseorang yang di matanya dua butir jawawut pun tidak berharga diriku.

Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman walau seorang …

Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya.

Pada langit kelima, Iqbal mengambil spirit al-Hallaj. Konsep khalifah dari Afghani diperkuat dengan konsep anā al-aqq dari Hallaj. Modalnya adalah akal dan cinta, serta penghambaan pada Allah yang penuh iman. Pada bagian akhir di langit kelima, lagi-lagi Iqbal menampilkan negasi dari kisah sebelumnya, yakni pertemuan dengan Setan.

Perjalanan diteruskan menuju langit keenam: Saturnus.

Langit Keenam, Saturnus

Planet ini bergerak sangat lambat sehingga hampir tampak statis. Semua kebaikan menjadi buruk di sini. Ini adalah dunia yang ditolak oleh langit. Sinar matahari yang redup menggelapkan harinya. Ini  adalah tempat paling mengerikan bagi roh-roh jahat yang telah mengkhianati bangsa demi kepentingan pribadi. “Di sini, hiduplah dua Iblis kuno yang membunuh jiwa orang demi keuntungan pribadi”, kata Rumi. Roh-roh itu adalah Jafar dari Bengal dan Sadiq dari Deccan, dua bangsawan India abad kedelapan belas yang membantu Inggris menabur benih kolonialisme. “Berhentilah sejenak di luasan langit biru, agar kau dapat melihat pembalasan atas perbuatan mereka itu!”, seru Rumi.

Terlihatlah Jafar dari Bengal dan Sadiq dari Deccan berada di perahu kecil di tengah lautan darah, yang diliputi oleh badai di dalam dan di luar. Hiu-hiu perkasa menunggu dengan ganas. Ular bersayap dengan kepala hitam dan rambut perak berkeliaran mengintai di udara. Ombak menerjang seperti macan tutul. Sementara pantai terus-menerus melemparkan batu-batu gunung. Di tengah lautan yang menakutkan ini, dua pengkhianat bangsa itu berada di perahu yang terhempas-hempas naik dan turun tiada henti. Dua pengkhianat itu telanjang dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan.

Setelah itu, roh tanah air muncul berupa bidadari cantik tetapi dirantai dan dibelenggu. Roh tanah air mengeluh dengan ratapan yang menyayat hati. “Orang-orang sudah tidak peduli dengan reputasi bangsa mereka. Mereka adalah boneka manekin yang tidak menyadari rahasia diri, sehingga petikan riang jarang menyentuh gitar mereka. Orang-orang mencari kehangatan hati mereka dari api yang padam. Mereka tak kenal lagi akan martabat diri mereka, mereka buat penjara dari adat-adat lama. Kemanusiaan dirugikan oleh keberadaan mereka, dan zaman baru dirusak oleh nilai-nilai mereka. Bilakah malam akan digantikan dengan siang gemilang?”.

Kenapa jiwa tanah air begitu sedih ratapannya? Bukankah Jafar telah mati?

Jafar memang sudah mati, namun ruhnya masih hidup bertualang merasuk pada jasad lain. Kini ia bersepakat dengan gereja, membujuk kaum Brahmana dan kaum beragama lain, hingga syahadatnya, ibadahnya, tak lain hanya mencari untung semata.  Berhala dari masa lampau sekarang diganti dengan berhala negara. Orang seperti Ja’far mungkin tersenyum ramah, tapi keramahan seorang penjahat. Karena seekor ular tetaplah seekor ular meskipun ia tersenyum.

Zinda-Rud diam-diam berdoa ,“Tuhan selamatkan aku dari roh Jafar! Selamatkan aku dari Jafar saat ini!”. Perjalanan di lingkaran ini diakhiri dengan pemandangan kehancuran yang dahsyat yang menimpa perahu Jafar dan Sadiq.

Pada langit keenam, Iqbal kembali menampilkan hal negatif dari sejarah, yakni para pengkhianat persatuan bangsa. Jafar dan Sadiq adalah dua tokoh yang berpihak pada kolonial Inggris atau menjadi modern tanpa kritik. Ini persis seperti langit ketiga tempat bagi tokoh penentang Tuhan, Fir‘aun dan Kitchener.

Zinda-Rud terus melangkah menuju luar langit.

Di luar Batas langit

Di luar batas langit, Zinda-Rud melihat kehidupan menang atas kematian. Waktu mengalami percepatan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Setahun waktu duniawi akan berlalu seperti satu bulan di satu tempat di luar langit ini, dan pada posisi lain di langit ini sama seperti sekejap momen. Ia melihat hukum alam yang berbeda-beda mengatur setiap dunia.

Di sini, ia bertemu dengan Nietzsche, filsuf Jerman yang mengemukakan “Tuhan Telah Mati” (Gott ist tot). Rumi menjelaskan, “Ia ini musafir yang tersendat di jalan yang ditempuhnya. Ia memutuskan hubungan dengan Tuhan, dan akhirnya terputus juga dari dirinya sendiri. Ia mengucapkan “La”, tapi tak sampai pada “illa” karena tak kenal akan martabat ‘hamba Allah’. Meskipun ia memiliki visi yang tajam dan mencari hakikat manusia sejati, ia tetap menjadi orang asing bagi dirinya sendiri karena terputus dari akar spiritual yang benar. Penglihatannya hanya tertuju pada manusia. Kini tempat dia ada di antara langit dan bumi”.

Zinda-Rud melangkah keluar dan menginjakkan kakinya di dunia yang tidak memiliki dimensi dan terletak di luar angkasa. Dunia lain ini ada tanpa kiri dan kanan, atau siang dan malam. Zinda-Rud sampai ke Istana Sharaf al-Nisa, milik putri dari gubernur Punjab yang menghabiskan hidupnya dalam pengabdian murni. Sharaf al-Nisa adalah seorang wanita yang selalu memegang Al-Qur’an di satu tangan dan pedang di tangan lainnya. “Pandanglah pedang dan Quran itu, kedua kekuatan itu saling melindungi dan menjadi poros seluruh alam kehidupan ini,” ujar Rumi. Syaraf al-Nisa konon ingin dimakamkan di bawah naungan al-Quran dan pedang, Sayangnya, orang-orang kemudian merenggut pedang dan Quran dari makamnya dan kemudian di Punjab hancur, Islam pun jadi sirna.

Zinda-Rud terus berjalan dan sampailah ke tepian Kautsar, aliran surga yang mulia. Di sana terdengar nyanyian. Di sini ia bertemu Ghani (penyair terkenal dari Kashmir) dan Mir Syed Ali Hamadani (ulama yang mengubah Kashmir menjadi Persia kecil). Di sini Zinda-Rud memahami rahasia penciptaan setan sebagai cara Tuhan menumbuhkan kekuatan manusia. “Jiwa manusia menemukan kekuatan dengan menyangkal godaan Setan. Insan yang benar-benar sadar akan dirinya dapat mengambil keuntungan dari godaan. Kau pedang, dan dia batu asahan. Jadilah bertambah tajam, agar pukulanmu perkasa! Jika tidak, di kedua dunia kau akan sengsara!”. Ia juga mendapatkan petuah agar memihak jiwa dari debu. Orang yang memilih jiwa akan mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.

“Bangkitlah, marilah kita bersama-sama memecah ke pantai tepi. Hidup terikat pada batas-batas pantai ialah dosa; pantai kita hanya sebuah batu di jalan kita. Merasa cukup dengan pantai berarti kematian buat selamanya. Meskipun demikian, kau senantiasa bergulung-gulung di laut pagi dan senja; hidup ialah melompat-lompat di tengah gunung dan gurun. Wahai bahagialah ombak yang telah melampaui batas-batas pantai!”, itulah nasihat yang diterima Zinda-Rud dari penyair Ghani.

Perjalanan diteruskan, Zinda-Rud bertemu dengan Raja-raja Timur yang syahid saat melawan kolonial Barat. Di sana ada Nadir Shah (penguasa Persia dari dinasti Afsharid mendamaikan Sunni –Syiah, 1736–1747), Ahmad Shah Abdali (pejuang nasionalisme negara Afghanistan, 1722 –1772), dan Tippoo Sultan (penyair dan Raja yang melawan Inggris, 1751 – 1799). Para raja ini menyerukan agar bangsa Timur tidak lagi mencari kemajuan dari orang asing, melainkan kembali kepada kekuatan diri sendiri dan kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an. Nadir Shah berkata, “Ketahuilah, bahwa bagi yang tak beriman, baik pedang maupun pena tiada guna; bila iman tak ada, gelagah dan baja pun tak berharga. Iman amat berharga bagi yang arif, dan bagi yang tak tahu, iman itu tercela. Bagi yang tak tahu, iman seperti  bunga melati di muka seekor sapi. Iman seperti kain cita halus, setengah darinya akan menjadi sehelai kemeja bagi Ilyas, dan setengahnya lagi selembar kain kafan bagi orang Yahudi”.

Abdali membuat pernyataan yang mendalam tentang peradaban Eropa. “Kekuatan Eropa tidak terletak pada anggur, klub malam, dan pakaian wanita yang minim”, katanya, “Kekuatan mereka terletak pada pengetahuan dan pencerahan”. “Wahai Pemuda Timur! Pengetahuan datang dengan otak, bukan dengan pakaian Barat. Kekuatan Barat bukan berasal dari kecapi dan biola, bukan dari tari gadis-gadis yang tak bercadar mukanya. Kekokohan bukan berasal dari keadaan tak beragama, kejayaannya bukan berasal dari naskah Latin pula. Kekuatan Barat dari ilmu dan teknologi asalnya, dengan nyala itu juga lampunya terang bercahaya. Bagi ilmu dan teknologi, sorban bukan halangan. Diperlukan otak, bukan pakaian Eropa. Di jalan ini hanya penglihatan tajam yang diperlukan. Bila kau memiliki kecerdasan yang cekatan, cukuplah itu. Bila kau memiliki pikiran yang cermat mengamat, cukuplah itu. Sayangnya Bangsa Turki telah meninggalkan diri mereka sendiri, mabuk dengan Eropa, setelah mereguk racun bermadu dari tangan Eropa. Budak Eropa itu meminjam dari orang Barat musik dan tari-tarian lalu kalah dalam memperjudikan jiwanya dengan apa yang tak berguna”.

Nadir Khusro lalu berbisik, “Hidupkanlah hatimu. Bila hati mati, jasmani pun akan berubah. Bila hati mengejar kejayaan, keringat pun berubah menjadi darah. Bila hati busuk, jasmani pun tak berarti sama sekali. Maka pancangkan mata pada hati, dan jangan terikat pada yang lain lagi. Selama hati bebas, jasmani pun bebas. Jika tidak, maka jasmani hanya jerami di jalan angin melintas. Seperti juga jasmani, hati pun terikat pada hukum-hukumnya sendiri: Hati mati karena kebencian, Hati hidup karena kepercayaan.  Kekuatan kepercayaan asalnya dari kesatuan; bila kesatuan tampak nyata, jadilah suatu bangsa-bangsa.”

Tippoo Sultan memberikan pesan yang sangat kuat tentang filosofi hidup, aksi, dan pengorbanan. Ia berpesan bahwa hidup sejati adalah revolusi yang terus-menerus dan pencarian akan dunia baru. Salah satu ajarannya yang paling terkenal adalah bahwa lebih baik hidup satu saat sebagai singa daripada hidup satu abad sebagai domba. Baginya, kematian hanyalah salah satu stasiun dari ratusan stasiun perjalanan manusia, dan bagi hamba Tuhan yang bebas, kematian memberikan kehidupan yang baru. Teruslah bergerak dinamis, “Alam semesta ini berubah setiap saat, sebab hidup ialah perubahan sepanjang waktu, maka jadilah pengembara yang mencari tumpukan jerami untuk membuat api”.

Zinda-Rud terus berjalan dan memasuki gerbang istana yang dipenuhi bidadari cantik. Para Bidadari itu merayu untuk tinggal bersama. Zinda-Rud menolak, “Cinta sejati tidak berhenti sampai ia mencapai hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Cinta dimulai dengan kekaguman kecantikan fisik, selanjutnya harus naik melampaui semuanya.” Para bidadari itu menyerah, tak lagi merayu, “Tapi nyanyikanlah pada kami sebuah lagu!”. Zinda-Rud pun bernyanyi:

Kau belum mencapai insan, mengapa kau mencari Tuhan?

Kau telah lari dari hatimu sendiri, mengapa kau mencari kawan?

Di hadapan Yang Maha Indah

Pada puncak perjalanannya, Zinda-Rud mencapai Lautan Cahaya dan berhadapan langsung dengan Tuhan yang termanifestasi sebagai Keindahan Abadi. Zinda-Rud tenggelam dalam perubahan, hilang sirna di hati semesta. Zinda-Rud dengan berani mengajukan keluhannya, “Dunia-Mu telah dihamburkan oleh imprealisme, orang yang menyatakan laa ilaha illallah tidak berdaya. Umat-Mu perlahan-lahan sekarat, dikejar oleh empat kematian: lintah darat, gubernur, mullah, dan syaikh. Bagaimana dunia seperti ini layak bagi-Mu?”.

Tuhan tidak menyangkal, melainkan menantang kembali. Kehidupan adalah partisipasi dalam keindahan ilahi, sebuah hasrat untuk mencipta. Dunia yang ada tidaklah final. “Apakah engkau hidup? Jadilah bersemangat, jadilah kreatif, seperti Kami. Rangkullah semua cakrawala, hancurkan apa pun yang tidak selaras, dari lubuk hatimu hasilkanlah dunia baru. Sungguh menjengkelkan bagi hamba yang bebas untuk hidup di dunia milik orang lain. Siapa tak memiliki kesanggupan mencipta, tak lain dari seorang kafir penyembah berhala. Jadilah kau tajam bagai pedang wahai hamba Ilahi! Jadilah dirimu takdir duniamu sendiri!”.

Zinda Rud menanyakan hukum segala sesuatu, Suara Keindahan menjelaskan Tauhid. ”Lantaran Tauhid, pribadi insan menjadi Mahamulia. Lantaran Tauhid, bangsa menjadi Mahaperkasa. Maka, satukan penglihatan, sehingga Tuhan pun akan terungkap jelas, tak terselubung lagi. Kesatuan penglihatan mengubah debu menjadi matahari. Jangan remehkan kesatuan penglihatan ini. Inilah perwujudan Tauhid yang sejati. Ruh bangsa ada karena persatuan. Jadilah hidup karena kesatuan penglihatan. Jangan lagi buyar tak berinti, jadilah kokoh tak tergoyahkan. Ciptakan kesatuan pikiran dan perbuatan, sehingga di dunia ini dapat kau miliki kekuasaan!”

Zinda Rud menanyakan eksistensinya, makna hidupnya di dunia. Suara keindahan menjawab, “Bila kau hendak mencari hidup, kembangkan pribadimu, benamkan batas-batas luasan dunia dalam dirimu. Maka kau pun akan melihat siapa aku dan siapa kau kiranya, bagaimana kau mati di dunia itu, dan bagaimana kau hidup di sana”.

Terakhir, Zinda Rud meminta kejelasan tentang takdir Timur dan Barat. Tak ada  jawaban langsung. Dunia jadi berubah, berkuyup dalam cahaya fajar. Zinda-Rud tenggelam dalam kemabukan-ruhani, bagai Musa di bukit Thur Sina dulu. Cahaya fajar menyingkapkan segala rahasia yang terselubung bagiku, dan merenggutkan kemampuan bicara dari lidah. Dari hati dunia yang dalam tak terduga membersit keluar sebuah lagu yang berkobar penuh nyala:

Tinggalkan Timur, jangan pula terpikat Barat,

Segala yang sama dan baru tak berharga sedikitpun.

Kau mengembaralah sendiri, namun jangan menyendiri.

Kau yang telah memancar lebih gemilang dari matahari: hiduplah,

agar kau dapat memerangi setiap butir debumu!

Catatan Refleksi

Begitulah Muhammad Iqbal, filsuf Islam modern, menggambarkan Mi‘rāj-nya. Perjalanan ke langit kesadarannya tak bertemu dengan para Nabi seperti yang dikisahkan sufi. Perjalanannya naik turun, bertemu dengan tokoh besar dan para pengkhianat. Dari keduanya itu, Iqbal belajar mengenai cara menjadi manusia dan membangun persatuan umat Islam. Mi‘rāj-nya Iqbal bermula dari kegelisahan mengenai nasib umat Islam di zaman modern, lalu dengan bimbingan Cinta dari Rumi, Iqbal mendapatkan pelajaran mengenai cara hidup dan bangkit umat Islam di tengah kemodernan. Di tangan Iqbal, kisah Mi‘rāj menjadi kisah perjalanan spiritual untuk kebangkitan umat Islam.

Sayangnya kisah dan spirit ini dilupakan. Pada zaman ini, Mi‘rāj hanya ritual yang didagangkan para penjaja (yang dikhawatirkan Halim Pasha di Langit kedua). Lebih banyak ilmuwan mukmin yang tidur sementara penyembah berhala giat berinovasi seperti dikhawatirkan Vashwamitna di langit pertama. Nyanyian dewa-dewa pagan menjadi kenyataan, fanatisme kelompok dan rasionalisme berlebihan telah menjadi “Tuhan” (langit ketiga). Impian mengenai integrasi akal dan cinta menguap dan yang tersisa hanya ultra-modernisme seperti feminism radikal (langit keempat). Semua individu mu’min semakin tidak percaya diri untuk menampilkan kebenaran Ilahiah dan memilih diam untuk menunggu entah sampai kapan (langit kelima). Lalu diam-diam, ada banyak orang yang memilih jalan Jafar yang berkolaborasi untuk diri sendiri tanpa pernah peduli pada kehancuran ummat (langit keenam). Kini, Timur dan barat semakin dipertentangkan.

Tak ada lagi spirit penemuan diri dan kebangkitan umat, semuanya dengan mudah dapat diperdaya Setan. Tuhan rupanya belum mengabulkan Doa Syetan, “Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman walau seorang. Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya”. Setan belum mendapat perlawanan berarti, karena kita yang mu’min memilih diam dalam kesadaran magis dan naif. Mudah-mudahan kita tak menjadi Jafar atau Kitchener.

Iqbal mungkin sudah mengira akan tanggapan negatif seruan Mi‘rāj untuk transformasi dalam Javid Nama. Karena itu 3 tahun setelah Javid Nama, ia menulis “Bal-i Jibril” (1935) dengan  keluhan getir:

Pikiranku tinggi menerawang mencapai langit.

Tapi di bumi aku terhina, gagal, dan dalam sekarat.

Aku tak mampu menangani masalah dunia ini,

Dan, tetap saja menghadapi batu penarung di jalan ini.

Mengapa urusan dunia terlepas dari kontrolku?

Mengapa si alim dalam agama bahlul dalam urusan dunia?

Lagi-lagi Rumi dimunculkan dalam puisinya, lalu menjawab dengan enteng: “Seseorang yang (mengaku mampu) berjalan di langit; Mengapa begitu sulit baginya berjalan di bumi?”

Di sini, Iqbal sedang mengajak orang-orang yang mendaku sudah mengalami perjalanan spiritual untuk dapat mengubah keadaan. Mungkin sebaiknya kita menyerah saja pada para penjaja itu, menjadikan Mi‘rāj sebagai ritual untuk mendapatkan uang.

Iqbal terlalu berlebihan!