Oleh: M. Dede Rodliyana

19.45 WIB. Pada jarak yang terasa panjang dalam perjalanan pulang itu, entah kenapa obrolan seorang rekan terngiang. “Kita hidup di zaman yang aneh,” ucapnya. “Satu sapuan telunjuk, seluruh kabar dunia terpampang di pelupuk.” Tapi faktanya memang begitu. Google tahu lebih banyak daripada seorang Guru Besar. AI bisa memberikan argumen yang lebih runut daripada mahasiswa doktoral, dan semua bentuk rumus, kode, hingga ayat suci berserakan di dunia digital.
Ya, semuanya bisa sedia setiap saat dibaca, tinggal bagaimana kita. Pengetahuan dan informasi sudah tersimpan rapi di arsip-arsip maya. Namun, barangkali itulah masalahnya. Semakin mudah kita mengakses informasi dan pengetahuan itu, entah kenapa semakin jarang pula kita “memilikinya”. Hafalan dianggap cara usang, ingatan tak lagi dibutuhkan. Buat apa menghafal informasi jika setiap saat kita bisa mengaksesnya? Buat apa mengingat dalil jika semua persoalan bisa selesai dengan menyentuh layar?
Saya berpikir, logika digital itu bisa jadi sekilas benar. Tapi saya pikirkan lagi bahwa logika seperti itu bisa jadi berbahaya. Karena ketika orang memilih untuk lupa, ketika segalanya ada di luar kepala, maka kepala itu sendiri perlahan menjadi kosong dan hampa. Lalu saya ingat tentang fenomena “otak yang berkarat” itu. Karena jarang dipakai, otak semakin tak terlatih berpikir dan menghadapi persoalan-persoalan nyata. Padahal itulah fungsi utamanya.
Semua kemudahan di era keberlimpahan informasi ini sudah menciptakan ilusi bahwa “tahu” sama dengan “mampu membuka browser dan mengakses ilmu.” Padahal “tahu” yang sesungguhnya adalah ketika ilmu itu sudah menjadi bagian dari diri, menjadi darah yang mengalir di nadi, menjadi karakter yang menetap dalam setiap situasi. Saya ingat bait mahfūzhat di pesantren dulu: “Ilmu yang tidak dihafal ibarat buruan yang lepas ikatan.”
Hari ini kita bahkan tidak berburu apalagi meramu. Semua makanan sudah disediakan di depan pintu. Kita tinggal membuka, mengambilnya, lalu mengunyahnya! Tapi itupun masih berat bagi sebagian orang. Sebagian dari kita bahkan bangga bisa secepat kilat browsing dan menemukan jawaban, tapi lupa yang benar-benar mengubah hidup adalah yang menetap dalam dada. Pengetahuan yang sudah menjadi bagian diri, bukan yang bergantung pada ada sinyal atau tidak. “al-‘ilm fī al-shudūr lā fī al-suthūr”.
Lalu hafalan tiba-tiba dianggap sebagai penyakit mental bernama “overthinking.” Orang yang berusaha menyimpan banyak hafalan dilihat sebagai orang yang menyimpan banyak persoalan. Saya tegas menolak ini! Menghafal bukan semata menyimpan pengetahuan di kepala. Ia adalah proses sakral internalisasi pengetahuan dalam jiwa. Sebab “pengetahuan adalah wujud,” ucap Sadra. Ia berperan penting dalam proses panjang transformasi jiwa manusia.
Oleh karena itu, ketika seseorang menghafal ayat suci atau sabda Nabi, yang disimpan bukan hanya huruf dan bunyi, tapi juga kekhawatiran salah ingatan, kecintaan pada yang dihafalkan, rasa malu jika ajaran yang diingat tak sesuai dengan perilaku. Hafalan menjadi ibadah, menjadi cara untuk berubah. Bagaimanapun orang harus membentuk pekerti sebelum menata memori.
Orang yang menghafal ayat suci atau sabda Nabi, sebenarnya sedang meresapkan berkah ajaran pada alam bawah sadarnya. Sehingga ketika ia dihadapkan pada persoalan tertentu di hidupnya, hatinya bisa terjaga. Bukankah ini seperti yang aku baca dari firman Tuhan? Bukankah soal ini sudah diingatkan oleh Nabi? Bayangkan jika orang ingin berbohong, mencuri, atau merusak hutan, lalu ada suara kecil di kepalanya, “Kamu pernah menghafal Rasulullah bersabda soal ini… dan kamu mau melanggar?” Oh, apa tak malu kita? Hafalan ibarat benteng terakhir diri, ketika semua tembok lain sudah tak berbentuk lagi.
Mencari Hikmah dari Kesempurnaan Ingatan para Muhaddis
20.14 WIB. Kemacetan masih tumpah ruah. Entah berapa lama lagi saya sampai ke rumah. Tubuh ini sudah terasa begitu lelah. Tapi pikiran masih asyik berkelana mencari hikmah. Mendadak saya ingat kisah-kisah kecil para muhaddis yang saya pelajari dulu.
Ingatan adalah segalanya. Begitu yang saya pahami ketika belajar bahwa “dhabth” (الضبط) alias ‘kecerdasan’ (baca: kekuatan hafalan) adalah kriteria penting bagi seorang perawi untuk dipercaya. Orang tidak cukup soleh (عادل) tapi juga harus cerdas (ضابط). Tidak cukup baik dalam perbuatan, tapi juga harus sempurna dalam ingatan. Karena itu, ketika orang pernah diceritakan “lupa,” maka tingkat keterpercayaannya pun akan turun di mata ulama.
Maka nama-nama kesohor dalam tradisi hadis, Malik, Bukhari, Muslim, Nasai, Tirmidzi, Dzahabi, semua adalah orang-orang dengan kapasitas otak yang bisa jadi melebihi Einstein atau Habibi. Seumur hidup mereka berjuang menjaga ingatan. Sebab dalam diri mereka ada kesadaran bahwa satu kesalahan kecil saja, satu kealpaan ringan, akan berefek besar pada kesucian ajaran. Tak ada celah untuk lupa, karena yang diingat adalah ajaran penting untuk orang bisa selamat di kehidupan kedua.
Kesadaran bahwa ilmu adalah amanah hidup-mati, ingatan mereka menjadi benteng untuk kemurnian ajaran, seperti yang ditunjukkan oleh para muhaddis itu menjadi tamparan buat saya. Sebab saya tak yakin ada kesadaran serupa pada generasi sekarang bahkan tak menjamin akan terus ada pada diri saya sendiri. Para muhaddis itu menjaga ingatan bukan dari kebetulan, punya otak besar misalnya; tapi dari kesadaran bahwa menjaga kalimat Nabi ﷺ lebih berat daripada mengangkat karung beras yang memenuhi pundak pak Menteri gunung merapi.
Dan karena kesadaran itu, mereka rela melakukan hal-hal yang bagi kita bisa jadi menggelikan, konyol, mustahil, bahkan jenaka. Tapi itu pula yang membedakan mereka dengan kita; saya dan Anda. Anda tak percaya? Sini, saya ceritakan.
Tes Seratus Hadits Palsu
Di usia yang masih belia, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari datang ke kota Baghdad. Kota ilmu pada zaman kekuasaan Abbasiyah. Para ulama senior yang sudah mendengar nama Bukhari, kemudian tertarik untuk mengujinya. Seberapa ajaib remaja yang dikatakan menghafal ribuan hadis ini.
Sepuluh orang syekh kemudian bergantian membacakan masing-masing sepuluh hadits, yang sengaja mereka acak sanad dan matannya. Setelah selesai, salah seorang dari ulama tersebut bertanya sambil tersenyum pada Bukhari: “Bagaimana, kamu sudah hafal tidak?” Bukhari menjawab tenang: “Tolong ulangi lagi dari awal.” Ketika diulang, Bukhari membetulkan satu per satu, matn dan sanad hadis-hadis itu. Hingga tak satu kesalahan pun yang tersisa.
Seratus hadits yang sudah dibuat salah itu dikoreksi oleh Bukhari muda dalam hitungan menit. Saya berpikir, jika seorang remaja seperti Bukhari rela menghabiskan tahun-tahun terbaiknya hanya agar tidak salah mengingat sabda Nabi, pantaskah kita menganggap “salah sedikit nggak apa-apa” ketika mengutip ayat atau hadis Nabi dalam story?
Pulang Ribuan Kilometer karena Lupa Wudhu
Imam Muslim, pernah melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendengar secara langsung satu hadis dari seorang syekh terkenal. Sesampainya di rumah syekh itu di subuh hari, Imam Muslim melihat syekh tersebut baru bangun tidur, dan langsung shalat sunnah qabliyah tanpa wudhu. Tanpa sepatah kata pun, Imam Muslim memutar badan, dan pulang.
Ketika Imam Muslim menceritakan itu, orang-orang yang belajar padanya bertanya: “Engkau wahai Imam, sudah susah payah datang jauh, kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pulang lagi?” Jawab Imam Muslim: “Orang yang bisa lupa wudhu untuk dua rakaat sunnah, bagaimana aku percaya dia tidak lupa satu kalimat dari hadits Rasulullah?”
Kisah ini menunjukkan bahwa ingatan itu mahal. Sebab ingatan yang terjaga tidak hanya dilihat dari benar atau tidaknya ucapan, tapi juga dalam perbuatan.
Nasa’i dan Pukulan di Masjid Damaskus
Menjelang akhir hayatnya, Imam Nasa’i pergi ke Damaskus. Beliau kemudian diminta penduduk Damaskus untuk membacakan hadis tentang keutamaan Mu’awiyah di atas Ali. Dengan tenang Imam Nasa’i menjawab: “Di kitabku tidak ada hadis shahih yang mengkhususkan keutamaan Mu’awiyah di atas Ali atau sahabat lainnya.” Orang-orang menjadi marah, memukulinya di masjid hingga hampir mati. Ketika diangkat ke tandu, Imam Nasa’i pelan berucap: “Tolong bawa aku ke Mekkah. Aku ingin meninggal di kota Rasulullah.”
Imam Nasa’i pun wafat di perjalanan. Kisah ini mengingatkan lagi bahwa menjaga ingatan bukan hanya soal memelihara ilmu, tapi juga merawat cinta pada apa yang diingat. Nasa’i menghafal hadis karena kecintaannya pada Nabi, bukan karena ingin lulus ujian akhir apalagi untuk pengakuan tertentu yang tak berarti.
Bukhari dan “Kuda yang Tak Pernah Lupa Jalan”
Suatu ketika Imam al-Bukhari melakukan perjalanan bersama kafilah dari Bukhara menuju Mekkah. Jaraknya cukup jauh, mencapai ribuan kilometer. Kafilah tersebut melewati padang pasir, bukit-bukit tandus, dan kota-kota kecil. Dalam rombongan ada seorang syekh tua yang terkenal pelupa. Setiap kali singgah di satu kota, syekh itu selalu bertanya kepada Bukhari: “Anak muda, kota apa ini? Bukhari selalu menjawab dengan tepat nama kota, jarak ke kota berikutnya, bahkan nama-nama syekh yang pernah mereka temui tahun-tahun sebelumnya di tempat yang sama.
Suatu hari, di tengah padang pasir, kafilah tersebut tersesat. Mereka berjalan tanpa arah, sampai perbekalan air menipis. Semua orang panik. Syekh tua itu berkata: “Kita pasti mati, tidak ada tanda apa-apa!”
Bukhari turun dari untanya, memegang tali kekang kudanya, lalu berkata pelan: “Biarkan kuda ini berjalan sendiri.”
Orang-orang menertawakan: “Kuda mana yang hafal jalan di padang pasir?!”
Tapi kuda itu mulai berjalan, belok kiri, belok kanan, melewati bukit kecil, lalu tiba-tiba terdengar suara air. Mereka sampai di sebuah sumur tersembunyi yang pernah mereka singgahi tiga tahun sebelumnya!
Syekh tua itu menangis, memeluk Bukhari, lalu berkata dengan suara bergetar: “Ya Allah, kuda ini saja Engkau beri hafalan yang lebih baik daripada kami semua. Kalau begini, apa yang Engkau berikan kepada anak ini yang menghafal sabda Kekasih-Mu?!”
Bukhari hanya tersenyum malu-malu, lalu menjawab: “Kuda ini cuma ingat jalan karena pernah dilewati sekali-dua kali. Saya cuma berusaha supaya sabda Rasulullah dilewati oleh hati saya setiap hari, sampai saya lebih hafal daripada kuda ini hafalnya jalan pulang.”
Kisah ini memang cukup menggugah. Kita sering tak khawatir tersesat karena punya gadget yang bisa membantu kita menunjukkan peta. Tapi lupa bahwa bahkan kuda di abad ke-4 Hijriah bisa lebih bertanggung jawab daripada kita dalam “mengingat jalan”. Kalau seekor binatang saja bisa mengingat jalan, apa alasan untuk kita tak mengingat apapun dari pengetahuan?
***
20.51 WIB. Saya akhirnya sampai di rumah. Ada rasa lega dalam dada ketika bisa kembali ke tempat tinggal ini. Rumah, sekecil dan seburuk apapun, memang memberikan rasa yang berbeda dari ruang yang lainnya. Kita tahu bahwa kita bisa mencintainya tanpa syarat dan sederhana. Karena itu, seberapa indahnya tempat lain, tak lantas kita melupakannya.
Mencintai dengan cara yang sederhana itulah yang saya pikir harus kita lakukan pada pengetahuan. Bisa jadi zaman digital menawarkan kemudahan akses informasi, namun itu hanya akan bermakna ketika kita memang memilikinya. Ilmu tak boleh hanya menjadi konten yang hanya diakses begitu ada keperluan. Sesuatu yang tak pernah kita simpan dalam diri akan terus menjadi asing. Dan takkan pernah kita cintai.
Para muhaddis yang kita ceritakan tadi, sebenarnya juga sedang mencintai ilmu dengan cara sederhana. Mereka menolak untuk hanya mengenal selewat lalu melupakan. Bagi mereka, sabda Nabi bukan konten yang bisa di-skip, di-screenshot, lalu terlupakan. Ia adalah amanah yang harus di-download, di-cache, di-backup berkali-kali di memori paling dalam. Mereka tahu bahwa suatu saat hidup akan membawa orang pada situasi hidup dan mati. Dan hanya ilmu yang bisa menjadi senjata bagi diri.
Maka, kalau hari ini kita masih membuka ponsel hanya untuk mencari dalil demi menang debat di grup WA, lalu menutupnya lagi tanpa satu ayat atau hadis pun yang menetap di dada, berarti kita sedang berjuang untuk ‘membunuh’ diri kita sendiri. Hafalan yang hilang adalah ironi pengetahuan yang membuat orang sulit untuk waras di tengah dunia yang gila ini. Sebab kita seakan memilih lupa agar tetap nyaman di tengah dunia yang sudah sinting.
Pada akhirnya, pada era ketika semua informasi ada dalam genggaman, yang membedakan manusia biasa dengan pewaris para nabi bukan seberapa cepat ia bisa mengakses informasi, tapi seberapa dalam ia mengingat ajaran dan memeliharanya dalam hati. Wallahu a’lam.