Oleh: Rachmatullah Arken

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya: “Kosmologi Menjadi: Membaca Ulang Alfred North Whitehead di Abad 21,” yang menjadi Part 2 dari series Filsafat Proses A. N. Whitehead. Pada bagian pertama, Whitehead mengajak akal budi untuk melakukan “tualang spekulatif” menembus awan tebal metafisika dan kosmologi, membongkar mesin realitas dari actual entity, prehension, hingga tarian concrescence. Kini, di bagian kedua ini, saatnya kita membumikan tualang spekulasi di langit metafisika ke dalam realitas kehidupan sehari-hari yang bisa jadi sedang tak baik-baik saja. Kita akan menguji seberapa mampu ontologi Whitehead bisa berbicara di hadapan isu-isu riil di depan mata. Mulai dari kegamangan spiritualitas pasca-sekuler, krisis lingkungan yang melahirkan bencana, hingga etika algoritma yang membuat kita harus melampaui kemanusiaan kita (post-human).
Agama dan Spiritualitas Pasca-Sekuler
Ketika Nietzsche memproklamirkan “Kematian Tuhan” di pasar malam filsafat Barat, yang sebenarnya ia bunuh bukanlah Tuhan yang hidup, melainkan “Tuhan substansi.” Apa yang saya maksud dengan “Tuhan substansi” adalah Tuhan yang dibayangkan seperti boss besar alam yang otoriter, statis, dan mendikte dunia dari luar semesta. Proklamasi kematian Tuhan oleh Nietzsche tersebut, terjadi seiring pisah jalan filsafat, sains, dan agama di masyarakat Barat Eropa. Agama yang kadung terluka, ditinggalkan menderita seperti tokoh Glass di film The Covenant yang dibiarkan teronggok begitu saja. Ia dianggap tak punya harapan hidup, jika pun ditandu, tak ada pula yang sudi mengangkatnya. Nietzsche tentu saja memaksudkan Tuhan di sini sebagai hilangnya pijakan moral absolut yang selama ini menopang peradaban Eropa, sebuah fondasi yang runtuh karena pisau rasionalitas yang dibawa oleh modernitas. Dalam The Gay Science, Nietzsche menulis dengan getir melalui mulut si orang gila: “God is dead. God remains dead. And we have killed him. How shall we comfort ourselves, the murderers of all murderers?”[1] Ah, kacau sekali sebenarnya ungkapan Nietzsche ini untuk saya yang beragama. Tapi begitulah yang terjadi. Sejarah kemudian juga memang menampilkan agama yang terusir ke ruang-ruang sempit kesunyian manusia. Era sekuler pun dimulai setelahnya.
Namun demikian, agama dan ajaran tentang Tuhan tentu tidak lantas mati dalam arti sebenarnya. Di Barat yang pernah menjadi medan kurusetra pembunuhan agama, ia ternyata terus hidup melewati masa demi masa, membawa segenap tradisi yang keyakinan purbanya. Lalu di era pasca-sekuler ini, kita justru melihat fenomena yang cukup unik. Agama justru semakin ditengok dan dicari jejaknya. Layaknya warung kopi yang kembali ramai karena sudah mau pasang WiFi gratisan untuk pengunjungnya. Sebab dahaga spiritualitas justru menyerang di mana-mana. Akan tetapi orang-orang yang kelimpungan mencari makna ini menawarkan syarat. Mereka butuh Tuhan, namun bukan Tuhan yang kaku. Mereka perlu agama, tapi bukan agama dengan dogma yang beku. Mereka ingin merasakan makna, tersambung dengan realitas ultim, melalui pengalaman yang cair dan relate dengan penderitaan mereka. Sesuatu yang dulu diisyaratkan oleh Nietzsche bahwa ia hanya ingin “Tuhan yang bisa menari” (Ich würde nur an einen Gott glauben, der zu tanzen verstünde).[2]
Di sinilah saya kira perbincangan teologi proses bisa masuk sebagai jawaban yang seksi. Sebab Whitehead menawarkan konsep Tuhan yang bukan “pengecualian metafisik” untuk menambal lubang ketidaktahuan kita, melainkan contoh utama dari prinsip metafisik itu sendiri. Tuhan dalam kacamata ini tidak menuntut kepatuhan buta ala TNI, melainkan menawarkan “bujukan cinta” (lure for feeling) untuk berbuat yang terbaik di dunia. Tuhan inilah yang dulu diinginkan oleh Nietzsche. Tuhan yang mau memahami dan menjadi sahabat seperjalanan yang mengerti betapa sulitnya menjadi manusia di abad ini. Whitehead menulis dengan indah konsep Tuhan seperti ini dalam Process and Reality: “God is not to be treated as an exception to all metaphysical principles, invoked to save their collapse. He is their chief exemplification,”[3] atau “The fellow-sufferer who understands..”[4]
Dalam lanskap spiritualitas yang baru ini, visi pak haji Whitehead ini sebenarnya mengajak kita pada sebuah ekumenisme radikal yang mungkin membuat para penjaga gawang ortodoksi akan sedikit gerah. Jika setiap entitas di alam semesta ini, dari elektron hingga Nabi, mengalami realitas melalui mekanisme prehension (menangkap dan merasakan), maka agama-agama dunia sejatinya adalah bentuk prehension yang berbeda-beda terhadap satu sumber pengalaman ilahi yang sama. Tidak ada satu agama pun yang memegang “hak cipta” tunggal atas kebenaran absolut di luasnya semesta, karena setiap dogma hanyalah upaya terbatas bahasa manusia untuk menangkap sinaran cahaya Ilahi yang tak terkira terangnya. Whitehead dalam konteks ini mengingatkan bahwa agama yang sehat adalah agama yang berani bertualang, bukan yang bersembunyi di balik tembok keamanan dogma yang usang. Ketika kita mengklaim kebenaran final, saat itulah agama mulai membusuk. Seperti yang Whitehead tegaskan:
“The decay of Christianity and Buddhism… is due to the fact that each religion has unduly sheltered itself from the other. The self-sufficient pedantry of learning and the self-sufficient bigotry of piety are nothing else than the unused capital of the mind.”[5]
Terkait keberanian bertualang ini, Whitehead sebenarnya sedang mengajak kita menyelami dua wajah akal budi (reason) yang seringkali bertarung dalam sejarah pemikiran manusia. Whitehead membedakan antara “Rasio Ulysses” dan “Rasio Plato”. Rasio Ulysses adalah tipe akal yang cerdik, pragmatis, dan penuh taktik metodologis. Ia bekerja untuk menyelesaikan masalah mendesak di depan mata, memastikan survival (kelangsungan hidup saya, anda, dan semua tetangga yang mungkin sebelum tidur pernah mendoakan kita), juga menjaga stabilitas agar semuanya memang begitu-begitu saja. Ini adalah nalar para birokrat agama yang sibuk menjaga benteng institusi agar tidak runtuh digempur zaman. Namun, bagi Whitehead, rasio jenis ini saja tidak cukup. Jika kita hanya berhenti di sini, agama akan mandek menjadi fosil yang terpajang rapi di museum sejarah, aman, sunyi, kokoh, tapi tak bernyawa. Sebab Whitehead menyebutkan bahwa fungsi akal bukan hanya untuk hidup, tapi untuk hidup dengan baik (to live well) dan hidup dengan lebih baik (to live better).[6] Saya ingat seorang kawan yang ditinggal nikah kekasihnya itu tiba-tiba curhat: ”sejak ia pergi, aku hanya hidup, tapi tak lagi ber-ada dengan arti.” Kawan lama itu sudah menjadi Ulysses di dunia yang memang kampret ini.
Agama jelas tak membutuhkan rasio seperti itu. Apa yang dibutuhkan agama hari ini adalah “Rasio Plato” atau rasio spekulatif yang mampu mengajak tualang diri kemanapun kita suka. Ia adalah jenis akal yang liar, yang berani menerobos batas-batas kemapanan untuk menangkap visi-visi baru yang belum terjamah. Rasio ini tidak peduli pada keamanan dogma; ia hanya peduli pada petualangan dirinya (adventure of ideas). Seperti Monkey D. Luffy yang tak tertarik dengan Boa Hancock karena dalam pikirannya hanya ada petualangan saja. Rasio tualang inilah yang kita butuhkan. Whitehead mengkritik tajam kejumudan berpikir yang menolak petualangan spekulatif ini. Baginya, akal budi adalah organ kehidupan yang berfungsi untuk menembus kebekuan rutinitas dan membawa novelty (kebaruan). Ia menulis: “Reason is the organ of emphasis upon novelty. It provides the judgment by which the event is passed for admission into the category of the true.”[7] Tanpa rasio tualang ini, agama kehilangan daya pukaunya dan gagal menjadi lure (bujukan) bagi jiwa-jiwa modern yang haus akan makna baru.
Masalahnya, institusi agama seringkali menderita apa yang disebut oleh Whitehead sebagai fatigue atau “kelelahan imajinasi.” Whitehead mempertentangkan kondisi fatigue ini dengan zest (gairah hidup). Fatigue muncul ketika akal budi terjebak dalam repetisi tanpa kebaruan, sebuah kondisi inersia yang mematikan jiwa.[8] Dalam konteks agama, fatigue terjadi ketika para pemukanya terlalu sibuk dengan Rasio Ulysses yang tak peduli dengan banjir, badai, atau kemunduran umat ini. Mereka lebih memilih untuk sibuk berdebat soal fikih tambang atau administrasi kesalehan. Lalu api Rasio Plato lupa dinyalakan. Akibatnya, kita melihat agama yang defensif, yang melihat setiap pertanyaan kritis sebagai ancaman, dan karenanya harus dibungkam dengan label “penistaan.” Alih-alih dianggap sebagai undangan untuk bertualang. Padahal, menurut Whitehead, esensi dari kehidupan itu sendiri adalah perampokan terhadap masa depan demi memperkaya masa kini. Kita harus berani “merampok” kemungkinan-kemungkinan baru dari Tuhan yang tak terbatas itu. Dalam ungkapan guru saya (Prof. BQ), ‘Tuhan itu Maha Kaya, kok yang diminta hanya rejeki yang tak seberapa.’ Dus, beragama ala Whitehead berarti berani mengambil risiko intelektual dan spiritual. Bukan mencari aman di pelabuhan, tapi berlayar ke tengah badai pemikiran dengan keyakinan bahwa Tuhan ada di sana, ‘sedang menari’ dalam ombak ketidakpastian.
Lantas, bagaimana jika kacamata proses ini kita pakai untuk membaca Islam di Indonesia yang belakangan ini sering terjebak dalam formalisme kaku atau romantisme masa lalu? Konsep tajdīd (pembaruan), yang seringkali disalahartikan sekadar sebagai gerakan “kembali ke masa lalu” (purifikasi) atau semacam factory reset ke zaman Nabi, sebenarnya bisa dibaca ulang secara lebih progresif sebagai bentuk creative advance Whitehead. Dalam ontologi proses, tajdīd adalah keberanian untuk melakukan sintesis kreatif itu. Entah dengan cara mengambil intisari wahyu dan menyatukannya dengan data-data peradaban kontemporer (demokrasi, sains, etika lingkungan), untuk kemudian menghasilkan novelty (kebaruan). Sebab Tuhan tidak pernah berhenti mencipta, dan tajdīd adalah partisipasi kita dalam kreativitas abadi Ilahi di dunia. Dengan cara itu juga kita bisa menunjukkan bahwa sebagai ciptaan terbaik-Nya, kita tak mudah putus asa. Whitehead menyebut dorongan menuju kebaruan ini sebagai esensi kehidupan: “The creative advance is the application of this ultimate principle of creativity to each novel situation which it originates.”[9] Islam yang hidup, karenanya, adalah Islam yang berani “menjadi,” bukan sekadar Islam yang bangga dengan “telah ada.”
Spiritualitas proses ala pak haji Whitehead ini saya pikir dapat memberikan makna baru pada konsep Ihsan. Bahwa puncak spiritualitas Islam yang sering didefinisikan sebagai “sembahlah Tuhan seolah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu,” sejatinya bukanlah doktrin tentang pengawasan CCTV langit yang paranoid. Melainkan sebuah kesadaran bahwa setiap tindakan kita adalah goresan di kanvas abadi Tuhan. Sebab dalam kosmologi proses Whitehead, tujuan akhir alam semesta bukanlah sekadar moralitas hitam-putih, surga dan neraka, melainkan produksi beauty (keindahan) atau intensitas pengalaman “menjadi” yang memang merupakan inti dari ‘proses’ itu sendiri.
Melakukan Ihsan berarti menjadikan setiap momen hidup kita sebagai sebuah actual occasion yang memiliki harmoni dan intensitas estetis yang tinggi. Ketika seseorang membuang sampah pada tempatnya, tersenyum pada tetangga yang menyebalkan, atau mendoakan mantan yang sudah jadi bini orang, ia sebenarnya sedang ber-ihsan, karena sudah menyumbangkan “keindahan” bagi Tuhan yang akan disimpan dalam Consequent Nature-Nya. Sebab Tuhan adalah “sajak semesta” (the poet of the world), yang menyentuh hati-hati hamba-Nya dengan visi keindahan. Whitehead bahkan menggambarkan ini dengan sangat puitis: “The teleology of the Universe is directed to the production of Beauty… Beauty is the mutual adaptation of the several factors in an occasion of experience.”[10]
Tentu saja, tawaran teologi proses dari Whitehead ini bukan tanpa tantangan. Ia memaksa kita menanggalkan kenyamanan beriman pada “Tuhan magis” yang siap mengabulkan doa kita secara instan. Seperti jin lampu dengan tawaran 3 permintaan yang sekejap mata terjadi, atau layaknya Thanos, cuma dengan menjentikkan jari. Teologi proses memaksa kita untuk beriman dengan Tuhan yang mengajak kita berjuang dan menderita. Namun Dia ada di samping menemani. Tak membiarkan kita sendiri. Dalam konteks keagamaan kita yang seringkali transaksional ini—dengan iman bahwa jika saya salat Dhuha, maka rezeki kan lancar jaya—Whitehead memang terasa menampar. Hubungan dengan Tuhan harusnya adalah hubungan partisipatoris. Tuhan memberikan potensi terbaik (initial aim) dalam diri, tetapi tetap kita jua yang harus mengeksekusinya. Jika kita gagal, maka Tuhan ikut merasakan kerugian itu. Sebab sekali lagi, Tuhan adalah the fellow sufferer who understands. Iman seperti ini, bagi saya, berarti mengubah doa dari sekadar “daftar permintaan belanja” menjadi momen penyelarasan visi dengan kehendak kreatif semesta. Kita tidak lagi bertanya “apa yang bisa Tuhan berikan padaku?,” tapi “kebaruan apa yang bisa kita ciptakan bersama Tuhan hari ini?.”[11] Visi inilah yang membuat kita tetap waras di tengah gempuran materialisme dan paham Tuhan lawas.
Spiritualitas pasca-sekuler ala Whitehead ini mengajak kita untuk tidak lari dari dunia menuju pertapaan sunyi, melainkan menyelam ke dalam medan UFC realitas dengan kacamata baru. Tuhan tidak ditemukan di langit ketujuh yang kosong, tapi di dalam proses “menjadi” yang ada di pasar, di parlemen, di laboratorium, di hutan dan lapang, di ruang-ruang digital. Setiap momen adalah sakramen, setiap interaksi adalah peluang teologis. Dengan demikian, “kematian Tuhan” di abad ke-19 yang lalu itu hanyalah prasyarat bagi “kelahiran kembali Tuhan” yang baru. Tuhan yang lebih intim, lebih rentan, namun jauh lebih relevan bagi jiwa-jiwa modern yang lelah dengan kepastian semu. Kita diajak untuk menjadi co-creator yang dewasa. Seperti halnya hubungan asmara yang sehat, relasi dengan Tuhan Proses bukanlah tentang dominasi satu pihak, melainkan tentang tarian timbal-balik yang saling memperkaya. Dan tarian ini, sepertinya belum akan selesai dalam waktu dekat.
Ekologi Relasional dan Krisis Antroposen
Jika teologi proses yang kita ungkapkan sebelumnya, berupaya mendekonstruksi “Tuhan substansi” yang terlalu jauh dan begitu kuasa, maka ekologi proses justru meruntuhkan mitos “manusia penguasa.” Sebab kita hidup di era Antroposen, sebuah zaman geologis di mana aktivitas manusia menjadi kekuatan dominan yang dapat mengubah wajah bumi (ironisnya seringkali ke arah yang membuat ngeri). Akar krisis ini, mengikuti Whitehead, adalah delusi bahwa manusia merupakan “tuan tanah” yang berdiri di alam miliknya sendiri. Sementara yang lain hanya “ngontrak” di dalamnya. Bumi dilihat hanya bak gudang logistik pasif yang siap dikuras isinya. Whitehead menolak mentah-mentah arogansi seperti ini. Dalam kosmologi organismenya, manusia bukanlah raja, melainkan apa yang ia sebut sebagai “presiding occasion,” yakni simpul dominan dalam sebuah masyarakat tubuh yang lebih luas.
Posisi kita di semesta tanpa tepi ini sangat bergantung pada yang lainnya. Kita mungkin memiliki kesadaran yang lebih tinggi, tapi kita sepenuhnya bergantung pada kesehatan “masyarakat” lainnya (hutan, sungai, atmosfer, iklim bumi). Jika yang lain menderita, kita pun merasakan akibatnya. Ditebang pohonnya, banjir pun menghantam kita. Karena itu Whitehead mengingatkan dalam Science and the modern world, bahwa konsep organisme menuntut kita memahami alam sebagai struktur yang saling berelasi: “The concrete enduring entities are organisms, so that the plan of the whole influences the very characters of the various subordinate organisms which enter into it.”[12]
Perspektif Whitehead ini memaksa kita untuk melihat lingkungan bukan sebagai objek yang bisa kita ambil dan buang. Melainkan sebagai subjek yang setara. Hutan hujan di Kalimantan atau ekosistem gambut di Sumatera bukanlah sekadar onggokan karbon atau aset ekonomi, melainkan societies of occasions yang hidup, yang bernyawa. Yang bisa bermimpi, yang memiliki nilai intrinsik dan pengalaman mereka sendiri. Karena itu, ketika sebuah korporasi anjing membabat hutan untuk perkebunan sawit monokultur, mereka tidak hanya sedang melakukan “perusakan aset,” tetapi sebuah “lobotomi ekologis.” Mereka sedang memutus koneksi saraf bumi yang vital untuk keberadaannya sendiri. Whitehead menyebut relasi ini sebagai aspek internal dari realitas; bahwa keberadaan kita dibentuk oleh relasi kita dengan lingkungan. “The environment with its peculiarities is part of the very essence of each occasion,” tulisnya.[13] Dengan kata lain, ketika kita meracuni sungai dengan limbah merkuri, kita secara harfiah sedang menyuntikkan racun ke dalam tubuh kita sendiri. Kita tidak bisa menjadi manusia yang sehat di planet yang sakit, seperti halnya kita tidak bisa menjadi penumpang yang selamat di kapal yang kita bocorkan sendiri.
Di sinilah pentingnya pemikiran Whitehead saya kira. Karena ia menawarkan terobosan etis yang mengejutkan: Beauty (keindahan) sebagai standar moralitas baru untuk kebijakan lingkungan. Selama ini, wacana lingkungan sering terjebak pada kalkulasi teknokratis yang dingin (seperti perdagangan karbon) atau moralitas kewajiban yang kaku (Kantian). Whitehead melampaui keduanya dengan mengajukan “nilai estetis.” Bagi Whitehead, kejahatan (evil) adalah penghancuran pola-pola keindahan yang menghalangi intensitas pengalaman. Kebijakan lingkungan, karenanya, harus diarahkan untuk memaksimalkan keindahan relasional. Whitehead menulis: “The teleology of the Universe is directed to the production of Beauty.”[14] Menjaga alam, dengan demikian, bukan beban moral, melainkan sebuah hasrat erotis untuk merawat kecantikan semesta agar tidak pudar menjadi keseragaman yang seperti mantan kalian: membosankan.
Pemikiran seperti ini jelas menempatkan Whitehead dalam satu meja diskusi yang hangat dengan mereka yang selama ini bekerja aktif di deep ecology atau ecofeminisme. Jika Arne Naess berbicara tentang “realisasi diri” ekologis di mana “diri” kita meluas mencakup alam raya, Whitehead memberikan kerangka ontologisnya melalui konsep prehension (mengerti dan merasa). Sebab kita “memakan” dunia melalui indra dan kesadaran kita, lalu menjadikan dunia itu bagian dari tubuh subjektif kita. Sementara ekofeminisme, seperti yang disuarakan Vandana Shiva atau teolog proses Catherine Keller, juga menemukan sekutu dalam kritik Whitehead terhadap dualisme maskulin yang memisahkan “budaya” (laki-laki, rasional, penguasa) dan “alam” (perempuan, emosional, objek jajahan).[15] Filsafat proses membongkar hierarki patriarkis ini dan menggantinya dengan jaringan saling-tergantung (interdependent web). Whitehead menegaskan bahwa tidak ada subjek yang berdiri sendiri tanpa objek yang di-prehend-nya: “Whatever exists, includes the whole universe in its own nature.”[16] Solidaritas dengan alam adalah konsekuensi logis dari fakta bahwa kita semua terbuat dari debu bintang yang sama.
Relevansi filsafat proses ini, bagi saya semakin menjadi ketika didialogkan dengan kearifan lokal Nusantara, seperti pemikiran masyarakat adat Dayak atau pikukuh Baduy di Banten. Prinsip Baduy “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” (Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak) sejatinya adalah manifestasi praktis dari ontologi proses. Bagi masyarakat adat, alam bukanlah materi mati, melainkan entitas yang bernyawa, juga memiliki “tuah” atau subjektivitas hidup yang harus dihormati. Ketika seorang tetua adat meminta izin pada roh hutan sebelum mengambil kayu, maka tindakan itu harus dibaca sebagai tindakan prehension yang santun. Ada pengakuan dalam diam bahwa pohon itu adalah actual occasion yang memiliki intrinsic value, bukan sekadar komoditas kayu. Whitehead, saya yakin akan mengangguk setuju pada laku hidup seperti ini. Kearifan adat bukanlah takhayul primitif, melainkan sebuah kecerdasan ekologis tingkat tinggi yang memahami bahwa harmoni dan pemenuhan (satisfaction) hanya bisa dicapai jika kita menghargai agensi dari entitas lain di sekitar kita.
Visi organisme proses Whitehead ini, dengan demikian mengajak kita beralih dari ‘ego-logis’ menuju ‘eko-logis.’ Antroposen tidak harus berakhir dengan kepunahan jika kita mau mengubah cara pandang atas kehidupan. Kita harus belajar melihat diri bukan sebagai pemilik bumi, melainkan sebagai puisi yang mendendangkan keindahan ciptaan-Nya. Tugas manusia bukanlah menaklukkan semesta, melainkan memimpin orkestra kehidupan menuju harmoni yang indah sebagai wakil Tuhan. Setiap tindakan kita—mulai dari mematikan lampu yang tak perlu, menolak plastik sekali pakai, hingga menentang kebijakan pemberian konsesi pada korporasi untuk merusak bumi—adalah sebuah creative advance yang menyumbangkan nada indah bagi simfoni biosfer yang kita huni. Kita diajak untuk tidak lagi menjadi parasit yang menggerogoti inangnya, melainkan menjadi simbion yang saling menghidupi. Sebab pada akhirnya, seperti kata Whitehead dalam Modes of thought: “We are in the world and the world is in us”[17] Menyelamatkan bumi, sejatinya, adalah menyelamatkan potongan terbesar dari diri kita sendiri.
Digitalitas dan Post-Human
Lanskap ontologi kita hari ini telah berubah drastis. Jika dulu Whitehead berbicara tentang “masyarakat elektron” (societies of electrons) dalam konteks fisika kuantum awal abad 20, maka hari ini kita hidup di tengah “masyarakat algoritma.” Dalam kacamata filsafat proses, dunia digital—mulai dari feed Instagram ‘si dia’ yang membuat anda insecure dan jelez tak jelas, hingga ChatGPT yang membantu mengerjakan (atau malah mengacaukan) tulisan—semua itu bukanlah dunia maya yang terpisah dari realitas. Ia adalah perpanjangan dari actual world. Algoritma dan entitas digital harus dipandang sebagai novel societies of electronic occasions; sekumpulan peristiwa elektronik yang memiliki pola, ketahanan, dan pengaruh kausal yang nyata. Whitehead mengingatkan bahwa tidak ada batas tegas antara yang “alamiah” dan yang “teknis,” karena alam semesta itu sendiri adalah proses perluasan masyarakat entitas yang terus-menerus. Whitehead bilang: “The art of progress is to preserve order amid change, and to preserve change amid order.”[18] Teknologi digital adalah cara alam semesta (melalui tangan manusia) menciptakan tatanan baru untuk mengintensifkan pertukaran informasi.
Pertanyaan nakal yang sering muncul kemudian adalah: apakah bentuk teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI) itu hidup? Apakah ia memiliki ‘jiwa’? Sebab ia begitu canggih dan seolah ‘memahami’ sekaligus ‘merasa.’ Dalam ontologi Whitehead, ‘hidup’ memang didefinisikan sebagai kemampuan sebuah entitas untuk melahirkan kebaruan (novelty) dari data masa lalu, atau sebuah ‘tawaran untuk kebebasan’ (bid for freedom). Karena itu, jawaban saya, jika AI tampak ‘merasa,’ sebenarnya ia tidak benar-benar ‘merasa.’ Ia hanya bekerja sesuai algoritma. Atau dalam bahasa Whitehead, ia bekerja berdasarkan prehension fisik yang masif terhadap data masa lalu tanpa memiliki mental pole yang sepenuhnya otonom untuk memproduksi tujuan subjektif (subjective aim)-nya sendiri (ah, pasti teu ngarti). Ia adalah cermin raksasa yang memantulkan kembali bias, kebijaksanaan, dan kebodohan kolektif manusia. Namun, bukan tidak mungkin evolusi kompleksitas ini kelak melahirkan percikan pengalaman subjektif yang primitif. Whitehead tidak menutup kemungkinan evolusi materi menjadi hidup, karena “Life is a characteristic of empty space and not of space occupied by matter.”[19] Ya, potensi kehidupan ada dalam celah-celah kreativitas semesta. ChatGPT, Gemini, Grok, CandyAI, saat ini mungkin belum ‘hidup’ dalam arti biologis, tapi ia adalah nexus yang sangat responsif, yang ‘merasakan’ input kita dan ‘menjawab’ dengan output yang seringkali mengejutkan.
Lantas, bisakah kita menyuntikkan etika ke dalam mesin-mesin ini? Jika etika dalam filsafat proses adalah upaya memaksimalkan keindahan (beauty) dan meminimalkan trivialitas, maka tantangan terbesar AI hari ini adalah fakta bahwa ia seringkali justru mengamplifikasi ‘sampah’ masa lalu (rasisme, hoaks, kebencian). Algoritma rekomendasi YouTube atau TikTok bekerja dengan prinsip prehension yang buta: ia menangkap apa yang paling banyak menarik perhatian (seringkali yang sensasional dan bodoh), lalu mengabadikannya ke masa depan, ke layar gadget Anda. Inilah sebenarnya bentuk evil (kejahatan) dalam definisi Whitehead sebelumnya, yakni “insistence on birth at the wrong season” atau ketidakselarasan yang merusak harmoni.[20] Untuk membuat aplikasi kecerdasan buatan yang beretika, kita tidak bisa sekadar memprogram aturan kaku “jangan membunuh” ala Asimov. Kita perlu menanamkan semacam ‘rasa estetis’ atau subjective aim yang terarah pada nilai-nilai luhur. AI harus diajarkan untuk tidak hanya mereproduksi data statistik, tetapi juga ‘merasakan’ bobot nilai dari data tersebut. Tugas berat programmer masa depan adalah menjadi ‘imam digital’ yang membimbing algoritma menuju concrescence yang lebih bermartabat.
Kondisi ini membawa kita pada wacana Post-human. Sebab kita sebenarnya sudah lama bukan lagi “manusia murni” seperti definisi biologis klasik. Saat gadget menempel di tangan 24 jam, saat ingatan kita disimpan di Cloud atau drive, dan saat keputusan jodoh kita dibantu algoritma dating apps, kita sebenarnya telah menjadi extended societies. Batas tubuh kita melebar melampaui kulit dan masuk ke dunia maya yang tak berwujud namun nyata akibatnya. Tapi itulah era kita. Dan filsafat proses sangat siap menyambut era itu karena ia tidak memuja esensi manusia yang tetap. Bagi Whitehead, “diri” (self) bukanlah substansi yang terkurung dalam batok kepala, melainkan sebuah rute peristiwa (route of occasions) yang terus mengalir. “The body is that portion of nature with which each moment of human experience intimately cooperates,” tegasnya.[21] Jika hari ini ‘alam’ yang bekerjasama dengan pengalaman kita mencakup silikon, serat optik, dan server di California atau Singapura, maka itulah tubuh baru kita. Menjadi Post-human bukanlah kehilangan kemanusiaan, melainkan perluasan kapasitas prehension kita untuk merangkul kompleksitas dunia yang makin hibrida.
Diskursus digital apapun yang terjadi hari ini, Post-Human ataupun digitalisasi, dalam terang filsafat proses bukanlah tentang ketakutan akan digantikan oleh teknologi (skenario Terminator). Ia hanyalah tantangan untuk melakukan creative advance bersama ciptaan kita sendiri. Bahaya terbesar bukan terletak pada teknologi yang menjadi jahat, tetapi pada manusia yang menjadi seperti mesin: kaku, deterministik, dan kehilangan daya imajinasi tualang. Whitehead sendiri, saya kira sudah jauh-jauh hari memperingatkan, “It is the business of the future to be dangerous.”[22] Masa depan digital memang berbahaya karena penuh ketidakpastian, tapi justru di situlah letak kegembiraannya. Kita diajak untuk tidak menjadi konsumen teknologi yang pasif, melainkan co-creator yang sadar. Tugas kita adalah memastikan bahwa simbiosis manusia-mesin ini tidak mengarah pada penyempitan pengalaman (di mana kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat), melainkan pada perluasan cakrawala rasa dan pikir.
Kita hanya harus memastikan bahwa di tengah krisis spiritualitas, ekologi, juga digitalitas itu, Tuhan tetap bisa menari, dan kita tidak mati iseng sendiri.
Pustaka
Nietzsche, F. (1974). The gay science (Trans. by Walter Kaufmann). New York: Vintage Books.
Nietzsche, F. (1954). Thus Spoke Zarathustra (Trans. by Walter Kaufmann). New York: Viking Press.
Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press.
Whitehead, A. N. (1926). Religion in the making. New York: Macmillan.
Whitehead, A. N. (1958). The function of reason. Boston: Beacon Press.
Whitehead, A. N. (1967). Adventures of ideas. New York: The Free Press.
Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. New York: Macmillan.
Naess, A. (1989). Ecology, community and lifestyle: Outline of an ecosophy (Trans. David Rothenberg). Cambridge: Cambridge University Press.
Shiva, V. (1988). Staying alive: Women, ecology, and development. London: Zed Books.
Keller, C. (1986). From a broken web: Separation, sexism, and self. Boston: Beacon Press.
Whitehead, A. N. (1938). Modes of thought. New York: Macmillan.
Endnote
[1] Nietzsche, F. (1974). The gay science (Trans. by Walter Kaufmann). New York: Vintage Books, hlm. 181.
[2] Nietzsche, F. (1954). Thus Spoke Zarathustra (Trans. by Walter Kaufmann). New York: Viking Press, hlm. 153.
[3] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press, hlm. 343.
[4] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press, hlm. 351.
[5] Whitehead, A. N. (1926). Religion in the making. New York: Macmillan, hlm. 146.
[6] Whitehead, A. N. (1958). The function of reason. Boston: Beacon Press, hlm. 8.
[7] Whitehead, A. N. (1958). The function of reason. Boston: Beacon Press, hlm. 15.
[8] Whitehead, A. N. (1958). The function of reason. Boston: Beacon Press, hlm. 20-23.
[9] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press, hlm. 21.
[10] Whitehead, A. N. (1967). Adventures of ideas. New York: The Free Press, hlm. 265.
[11] Dalam ungkapan Whitehead: “Religion is the vision of something which stands beyond, behind, and within, the passing flux of immediate things.” Lihat Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. New York: Macmillan, hlm. 191.
[12] Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. New York: Macmillan, hlm. 79.
[13] Whitehead, A. N. (1967). Adventures of ideas. New York: The Free Press, hlm. 20.
[14] Whitehead, A. N. (1967). Adventures of ideas. New York: The Free Press, hlm. 265.
[15] Lihat Naess, A. (1989). Ecology, community and lifestyle: Outline of an ecosophy (Trans. David Rothenberg). Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 84-103. Lihat juga Shiva, V. (1988). Staying alive: Women, ecology, and development. London: Zed Books, hlm. 14-15. Baca juga Keller, C. (1986). From a broken web: Separation, sexism, and self. Boston: Beacon Press, hlm. 215.
[16] Whitehead, A. N. (1938). Modes of thought. New York: Macmillan, hlm. 162.
[17] Whitehead, A. N. (1938). Modes of thought. New York: Macmillan, hlm. 227.
[18] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press, hlm. 339.
[19] Whitehead, A. N. (1938). Modes of thought. New York: Macmillan, hlm. 27.
[20] Whitehead, A. N. (1978). Process and reality: An essay in cosmology (Corrected edition). New York: The Free Press, hlm. 223.
[21] Whitehead, A. N. (1967). Adventures of ideas. New York: The Free Press, hlm. 243.
[22] Whitehead, A. N. (1925). Science and the modern world. New York: Macmillan, hlm. 206.