Oleh: M. Rachmatullah Arken

Warung nasi padang (warpad) Takana Juo. Tentu saja ada banyak pilihan warpad di sekitar kampus dan kota Bandung ini. Dari grade warpad ceban paketan mahasiswa sampai grade premium ala Pagi Sore dan Garuda. Tapi yang dekat dengan kampus, yang harganya masih bersahabat, dan menurut saya rasanya enak, ya Takana ini. Karena itu, ketika perut lapar, kerjaan menumpuk, dan kemalasan untuk mikir makan apa hari ini sudah memenuhi kepala, alternatif yang tersisa adalah Takana. Tapi sekali lagi dan yang terpenting, ia enak.
Orang bilang masakan padang bisa enak itu karena bumbunya bercampur dengan ganja. Mitos lainnya, jika makanan berkuah, seperti sop kaki atau kuah kakap, maka di pancinya pasti ada celana dalam penjualnya. Apa benar? Ya ndak tahu. Pokoknya saya lapar, dan Takana bisa menjadi solusi sementara. Lalu sekadar info tak perlu, saya suka pesan nasi dengan ayam bakar dan telur balado, kuah kakap yang bercampur bumbu rendang, sambal merah dan sambal hijau, dan makan ketika sedang lapar-laparnya. Oh, nikmat mana lagi yang kamu dustakan wahai saya?
Apakah saya memikirkan ganja atau celana dalam itu ketika melahapnya? Rasanya hampir tidak pernah. Kepala saya terlalu cape untuk mencari kepastian terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan itu. Pokoknya yakini saja ini enak dan perut perlu diisi. Selesai makan artinya selesai satu urusan. Dan saya bisa mengurus hal yang lainnya lagi. Rasanya tak perlu uji coba dan pembuktian kecurigaan secara empiris untuk makanan yang sudah saya jadikan langganan ini. Itu pemborosan energi. Di luar kemungkinan bahwa saya bisa digebukin pemiliknya, jika dengan polos bertanya: Apakah uda naruh ganja di telur balado ini? misalnya.
***
Saya kira, urusan iman juga begitu. Tuhan, seperti halnya ganja dan celana dalam itu bisa ada, bisa juga tak ada. Tapi ketika rasa lapar memuncak, bukankah pilihan tersisa hanya meyakini bahwa semua yang ada di warpad ini baik-baik saja? Persis argumen untung-rugi nan lawas dari Pascal soal Tuhan itu. Jika kehidupan kedua itu ada, maka keyakinan kita pada Tuhan ini membuat kita selamat. Jika tak ada sekalipun, kita sudah berusaha hidup sebaik-baiknya. Bagi yang ateis agak repot. Jika Tuhan ternyata ada, akan repot sekali pertanggungjawabannya. Dan jelas mereka ga kebagian bidadari surga.
Beriman dalam usia hidup yang singkat, juga beban dan kewajiban diri yang banyak, seringkali membuat saya hanya perlu lompatan. Yakini Tuhan ada dan selesai. Agak sulit jika harus menerapkan prinsip sains atau teologi di sini. Bahwa saya perlu verifikasi empiris dan logis, atau saya perlu argumen mandiri untuk menunjukkan iman saya bukan hasil taklid buta. Lha gimana ceritanya saya bisa sampai pada pembuktian empiris atau argumen logis tak terbantahkan tentang Tuhan, jika selama ribuan tahun dan milyaran umat manusia tak ada yang pernah benar-benar bisa? Siapa saya? Bukankah lebih baik pake argumen untung-rugi dan melompat saja?
Apakah sesederhana itu? Sebenarnya tidak juga. Barangkali karena manusia itu satu-satunya makhluk yang punya hobi merumitkan segala sesuatunya, maka iman tak bisa sekedar membuat lompatan dan percaya. Ia tak pernah bisa setiap saat bertahan di sana. Hatinya bisa berbalik tak percaya, isi kepalanya bisa dipenuhi syak wasangka. Apalagi ketika bermacam persoalan dan musibah sedang menerpa, lalu berharap Tuhan menyelesaikan semuanya secepat sangka. Iman tak sesederhana makan.
Tapi ya itu uniknya iman. Dalam ingatan saya yang samar, Kierkegaard mengamini ini bahwa karena manusia itu tidak pernah bisa membuktikan secara objektif tentang Tuhan, sedang hasratnya begitu menyala di tengah gegap ragu dan ketakutan, maka ia harus membuat lompatan. Jika manusia sudah bisa membuat argumen dan menangkap Tuhan secara objektif dalam pengalaman, maka itu bukan lagi iman. Ia sudah membuat Tuhan menjadi fakta, menjadi pengetahuan. Bayangkan jika saya ternyata, entah sengaja atau tidak, bisa melihat sendiri ada ganja atau celana dalam di kuah kakap yang saya makan, hasrat saya untuk menyantapnya akan redup seketika.
Argumen apa ini… Entahlah, saya cuma ingin makan di Takana lagi siang ini. Duduk di meja yang sama, tanpa pikiran tentang ganja atau celana dalam di kepala. Cara terbaik untuk menikmati makan pada akhirnya adalah dengan menemuinya ketika lapar. Barangkali itu juga satu-satunya cara untuk beriman, dengan terus merasa perlu untuk memohon kepada-Nya. Dan di depan ayam bakar juga telur balado itu saya kembali bisa bergumam: “nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”
Cibiru, 2026