Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [25]

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah 25

 

TEKS #25

KETIKA KESALAHAN DIORGANISIR

 

وَهُمْ لَمْ يَقْتَصِرُوْا عَلىَ ذلِكَ بَلْ عَمِلُوْا جَمْعِيَّةً عَلىَ تِلْكَ اْلمَسَالِكِ، فَعَظُمَتْ بِذَلِكَ كَبْوَةٌ وَانْتَحَلَ اِلَيْهَا مَنْ غَلَبَتْ عَلَيْهِ الشَّقْوَةُ
“Dan mereka tidak hanya mencukupkan diri pada hal tersebut, melainkan mereka juga mendirikan sebuah perkumpulan/organisasi (jam’iyyah) di atas jalan (metode) tersebut. Akibatnya, terjadilah ketergelinciran (kabwah) yang besar, dan bergabunglah (intaala) ke dalamnya orang-orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan (syaqwah).”

Ini kelanjutan dari kritik tajam Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari pada serial sebelumnya. Teks kedua puluh lima ini seperti membedah anatomi gerakan.

Awalnya, Anda sudah tahu. Ada sekelompok orang yang melenceng. Pemikirannya menyimpang. Mereka memutarbalikkan fakta. Sunah dibuang, bidah dipeluk.

Tapi, di titik itu, skalanya mungkin masih kecil. Masih urusan personal. Paling-paling hanya jadi kasak-kusuk di warung kopi. Atau perdebatan di ruang-ruang privat.

Bencana baru benar-benar lahir ketika kalimat ini berbunyi:

“…lam yaqtairū ‘alā dzālika bal ‘amilū jam‘iyyatan…”

Mereka tidak berhenti di situ. Mereka melangkah lebih jauh. Mereka melembagakan penyimpangan itu. Bikin wadah. Bikin organisasi. Bikin jam‘iyyah.

Ini dia. Di sinilah hukum sosiologi berlaku.

Kekeliruan itu, kalau berjalan sendiri-sendiri, akan layu. Hilang ditelan zaman. Tetapi, bayangkan kalau kekeliruan itu diorganisir dengan rapi. Diberi struktur. Diberi manajemen. Punya garis komando.

Mendadak, kesalahan itu punya kekuatan raksasa. Kesalahan yang terorganisir akan terlihat rapi, profesional, dan tampak seperti sebuah “kebenaran baru” di mata orang awam.

Filosofi Kuda Tersandung

Mbah Hasyim menulis akibat dari pelembagaan itu dengan satu kata yang sangat dramatis:

“…fa-‘aumat bi-dzālika kabwah…” (Maka akibat pelembagaan itu, terjadilah ketergelinciran yang “mahabesar”).

Perhatikan kata Kabwah. Saya mencoba meresapi kata ini. Ini bukan sekadar jatuh atau tergelincir biasa.

Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kabwah itu gambaran yang sangat visual. Bayangkan ada seekor kuda pacu yang hebat. Kuda itu sedang berlari sekencang-kencangnya. Tiba-tiba, kakinya tersandung batu.

Kuda itu kehilangan keseimbangan. Terjerembab ke depan. Wajah dan hidungnya menghantam tanah dengan keras.

Gubrak!

Analogi ini luar biasa dalam. Ada tiga pesan psikologis yang ingin disampaikan Mbah Hasyim melalui analogi kuda tersandung ini:

Pertama, Kehilangan Kehormatan. Jatuh tersungkur dengan wajah menghantam tanah lebih dulu adalah simbol kehancuran reputasi paling klimaks. Ini bukan salah jalan biasa, melainkan kesalahan fatal yang membawa kehinaan spiritual.

Kedua, Ilusi Kecepatan. Kuda itu tersandung justru saat sedang berlari kencang. Ini sindiran telak. Ketika kelompok menyimpang itu sibuk mengembangkan jaringan dan merasa organisasinya sedang tumbuh pesat (speed tinggi), mereka merasa berada di puncak kejayaan. Padahal, fondasinya rapuh. Justru kecepatan itulah yang membuat benturan jatuhnya makin tragis.

Ketiga, Dampak Massal. Kalau individu yang tersandung, yang jatuh hanya satu orang. Tetapi ketika kesalahan itu sudah berwujud jam’iyyah, yang terjadi adalah “ketergelinciran massal”. Runtuhnya nilai kebenaran di tengah masyarakat secara sistematis.

Magnet Pengikat Jiwa-Jiwa yang Sengsara

Lalu, setelah organisasi menyimpang itu berdiri dan menciptakan kekacauan, apa yang terjadi selanjutnya?

Mbah Hasyim menulis:

“…wa-ntaala ilaihā man ghalabat ‘alaihi asy-syaqwah…”

Dan bergabunglah ke dalamnya orang-orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan batin. Di sini berlaku hukum tarik-menarik. Law of attraction. Sebuah wadah yang didirikan di atas spirit ketergelinciran, secara alami akan menjadi magnet bagi orang-orang yang memiliki masalah pada higienitas jiwanya.

Perhatikan kata intaala. Maknanya ironis: mengklaim, menjiplak, atau menganut sesuatu secara fanatik tanpa dasar yang benar.

Mereka datang berbondong-bondong. Pakai baju organisasi baru itu. Berteriak lantang seolah-olah merekalah pemilik tunggal kapling kebenaran yang sah. Padahal, klaim itu palsu.

Identitas kelompok dan jualan jargon suci itu hanya mereka pakai sebagai topeng luar. Untuk menutupi kekosongan, dendam, atau kesengsaraan jiwa mereka sendiri.

Siapa mereka itu? Mbah Hasyim menyebutnya: man ghalabat ‘alaihi asy-syaqwah.

Kata Ghalabat artinya dikalahkan atau dikuasai. Menunjukkan bahwa orang-orang yang menjadi pengikut gerakan keliru ini sebenarnya adalah korban dari ego mereka sendiri.

Ketika seseorang membiarkan rasa benci, kesombongan, atau syahwat ingin dianggap paling suci menguasai dadanya, dia otomatis kehilangan kemampuan berpikir kritis. Logikanya mati. Akibatnya, mereka sangat mudah didikte, dicuci otaknya, dan dijadikan pion-pion setia.

Orang-orang ini dilingkupi oleh As-Syaqwah. Ini adalah lawan kata dari As-Sa‘ādah (kebahagiaan batin atau keselamatan spiritual).

Mereka ini sebenarnya orang-orang yang bernasib buruk secara batiniah. Hatinya bebal dari cahaya kebenaran yang santun. Tapi anehnya, mereka merasa nyaman, merasa cocok, dan menemukan “rumah” justru di dalam organisasi yang hobi memproduksi konflik, menyalahkan sesama, dan merusak tatanan yang sudah dibangun para ulama pendahulu.

Secara metaforis, Mbah Hasyim sedang memberikan kesimpulan yang menohok: wadah yang menyimpang itu, pada akhirnya, akan dipenuhi oleh orang-orang yang jiwanya sudah kalah oleh keburukan batinnya sendiri. Mereka berkumpul, berorganisasi, lalu saling menguatkan dalam kesalahan.

Memijam Analisis Psikologi Massa The Crowd

Setelah membaca urutan logika dari teks ini, saya membaca ulang analisis psikologi massa Gustave Le Bon. Lalu saya sandingkan dengan teks Mbah Hasyim Asy’ari tentang jam‘iyyah yang menyimpang itu.

Mengejutkan!

Dua tokoh dari dunia yang berbeda—satu ulama besar dari Jombang, satu lagi psikolog sosial dari Prancis—ternyata sedang membicarakan hal yang persis sama: bagaimana manusia kehilangan akal sehatnya ketika sudah melebur dalam sebuah kelompok.

Mari kita bedah teks tadi dengan pisau analisis Gustave Le Bon. Dengan gaya The Crowd-nya yang legendaris itu.

Awalnya, Anda sudah tahu. Ada sekelompok orang melenceng. Pemikirannya menyimpang. Sunah dibuang, bid‘ah dipeluk.

Di tahap awal ini, Le Bon akan tersenyum. Beliau akan bilang: “Ini belum berbahaya.” Mengapa? Karena skalanya masih personal. Masih kasak-kusuk di warung kopi. Masih berupa individu-individu yang terisolasi. Logika mereka—meski keliru—masih bersifat pribadi.

Bencana sesungguhnya baru lahir ketika kalimat ini berbunyi:

“…lam yaqtairū ‘alā dzālika bal ‘amilū jam‘iyyatan…” (Mereka tidak berhenti di situ … Mereka bikin organisasi).

Di sinilah, menurut Le Bon, terjadi transformasi psikologis yang mengerikan. Begitu wadah (jam’iyyah) itu dibentuk, individu-individu tadi melebur. Mereka tidak lagi menjadi diri mereka sendiri. Mereka membentuk apa yang disebut Le Bon sebagai Psychological Crowd (Massa Psikologis).

Begitu organisasi terbentuk, lahir pula Collective Mind (Pikiran/Jiwa Kolektif).

Sifatnya magis sekaligus merusak. Di dalam jiwa kolektif ini, kemampuan berpikir kritis individu mendadak lenyap. Orang pintar, orang berpendidikan, atau orang bodoh, begitu masuk ke dalam struktur organisasi yang menyimpang ini, level intelektualnya langsung merosot ke titik terendah yang sama.

Mereka tidak lagi digerakkan oleh otak, melainkan oleh impuls, sentimen, dan dogma kelompok.

Teks di atas menyebutkan: “Kesalahan yang terorganisir akan terlihat rapi, profesional, dan tampak seperti sebuah kebenaran baru di mata orang awam.”

Le Bon punya penjelasan ilmiah untuk itu: Contagion (Penularan) dan Suggestion (Saran/Doktrin).

Dalam sebuah jam’iyyah yang terstruktur rapi, opini tidak disebarkan lewat diskusi akademis yang sehat. Opini ditularkan seperti virus. Lewat pidato yang berapi-api, lewat jargon-jargon suci, dan lewat media propaganda yang masif.

Bagi orang awam, sesuatu yang ditularkan secara massal dan seragam akan menciptakan ilusi kebenaran. “Tidak mungkin mereka salah, lihat itu pengikutnya kompak, manajemennya rapi, anggotanya ribuan!”, begitu pikir orang awam.

Massa tidak pernah haus akan kebenaran, kata Le Bon. Massa hanya haus akan ilusi. Dan organisasi yang menyimpang ini menyediakan ilusi itu dengan kemasan yang sangat profesional.

Sekarang mari kita lihat bagian yang paling dramatis: Filosofi Kuda Tersandung.

“…fa-‘aumat bi-dzālika kabwah…” (Maka terjadilah ketergelinciran yang mahabesar).

Le Bon jika membaca analogi kuda pacu yang berlari kencang lalu tersandung ini, pasti akan mengangguk-angguk setuju. Mari kita bedah tiga pesan psikologisnya lewat kacamata psikologi massa.

Ilusi Kecepatan (Speed Tinggi). Mengapa kelompok menyimpang itu bisa berlari kencang seperti kuda pacu? Karena massa dalam organisasi memiliki sifat Invincibility—merasa tidak terkalahkan.

Ketika individu bergabung dalam kelompok besar, rasa tanggung jawab pribadinya hilang. Berganti menjadi keyakinan buta bahwa kelompok mereka sedang memegang kunci masa depan. Mereka bergerak cepat, agresif, dan merasa berada di puncak kejayaan.

Namun, Le Bon mengingatkan: massa itu emosional, bukan rasional. Karena digerakkan oleh emosi, “kecepatan” mereka sebenarnya tidak memiliki rem. Mereka berlari kencang tanpa tahu ada batu sandungan di depan.

Dampak Massal (Ketergelinciran Massal). Jika satu individu tersandung, yang jatuh hanya satu orang. Tetapi ketika kesalahan itu sudah berwujud jam’iyyah, jatuhnya adalah musibah massal.

Mengapa? Karena dalam psikologi massa, tidak ada tindakan yang sifatnya individual. Begitu pemimpinnya atau struktur atasnya tersandung batu realitas—entah itu karena skandal, kesesatan yang terbongkar, atau konflik internal—maka seluruh pengikut di bawahnya akan ikut terjerembab. Mereka jatuh bersama-sama dalam kondisi trance (hilang kesadaran kritis).

Kehilangan Kehormatan. Kuda yang jatuh tersungkur dengan wajah menghantam tanah. Tragis.

Bagi Le Bon, ini adalah fase akhir dari gerakan massa yang ekstrem. Begitu ilusi kelompok itu pecah, runtuhlah seluruh bangunan reputasi yang selama ini dicitrakan rapi. Pengikutnya yang dulu fanatik mendadak linglung, kehilangan pegangan, dan meninggalkan kehinaan spiritual yang mendalam di tengah masyarakat.

Pilihan Kita Hari Ini

Pesan utama dari teks ini menjadi sangat benderang bagi kita hari ini.

Kekeliruan itu, kalau dibiarkan mengorganisir diri, dia akan menjelma menjadi malapetaka sosial yang mengerikan. Ia akan menghimpun orang-orang bermasalah untuk bergerak dalam satu barisan yang merusak.

Organisasi memiliki kekuatan raksasa untuk membalikkan logika manusia. Jika organisasi itu dibangun di atas kesesatan, ia akan melahirkan singa-singa fanatik yang siap merusak tatanan sosial dengan keyakinan bahwa mereka sedang berbuat baik.

Itulah alasan mutlak mengapa orang-orang baik tidak boleh memelihara sikap apatis. Orang-orang baik tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dengan kesalehan individualnya yang egois.

Jika kaum penyimpang saja begitu bersemangat mendirikan jam’iyyah untuk melembagakan kesalahannya, maka para pemilik sanad ilmu yang sah—para ulama, habaib, dan kaum mukmin yang lurus—harus seribu kali lebih bersemangat dalam merapatkan barisan di dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Kesimpulannya jelas, sahabat.

Menghadapi gerakan massa yang kehilangan akal sehat seperti ini, kita tidak bisa melawannya sendirian. Gerakan massa yang menyimpang hanya bisa dibendung oleh gerakan massa yang waras. Jiwa kolektif yang merusak harus dilawan dengan jiwa kolektif yang menjaga.

Kita harus mengorganisir kebenaran dengan manajemen yang rapi, agar perahu umat ini tidak karam dihantam oleh gerakan kaum yang sedang tersandung massal.

Itulah esensi mengapa merapatkan barisan di dalam jam’iyyah yang lurus, yang punya sanad ilmu jelas, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Sebab, jika orang-orang waras memilih bubar, panggung sejarah akan dikuasai oleh kawanan kuda yang sedang berlari kencang menuju batu sandungan berikutnya.

Pilihan kita hari ini menentukan: mau ikut merapikan barisan komando, atau membiarkan panggung dikuasai oleh mereka yang hatinya sedang sengsara?